Ruangan Hotel ini begitu terasa panas, padahal pendingin ruangan menyala tanpa henti. Suara desa*han yang tak tertahankan memenuhi setiap sudut ruangan. Bantal yang tergeletak di lantai, selimut tebal yang sebagian menjuntai ke atas lantai, seprei yang berantakan. Dua insan sedang menikmati malam mereka tanpa mengenal satu sama lain. Tidak, sebenarnya bukan tidak saling mengenal, tapi hanya satu belah pihak yang mengenal.
"Ahhhhh...."
Suara desa*han panjang terdengar nyaring dari keduanya setelah menyelesaikan. Tubuh pria jatuh di sampingnya, napas terengah-engah dari keduanya, sebelum akhirnya tidur dengan saling membelakangi. Sama sekali tidak ada obrolan apapun lagi diantara keduanya setelah apa yang terjadi.
Hingga pagi datang, rasa remuk redam di rasakan gadis itu. Dia menoleh pada pria yang berada di sampingnya, masih terlelap dengan tubuh tengkurap. Mengingat kejadian tadi malam, Viona tentu dalam keadaan yang cukup sadar, meski dia terpengaruh alkohol, tapi masih bisa mengingat apa yang terjadi dan siapa yang tidur dengannya.
"Untunglah dia masih tidur"
Berusaha untuk turun dari tempat tidur, meski dengan sedikit kesulitan karena tubuhnya yang sakit semua. Ketika dia menunduk, tidak sengaja melihat tanda-tanda kemerahan di bagian dada hingga ke perutnya. Melirik kembali pada pria di belakangnya.
"Pantas dia mendapatkan julukan cassanova tingkat tinggi. Ternyata memang se-bringas itu" Dia bergidik ngeri mengingat apa yang sudah dia lakukan semalam dengan pria yang terkenal pemain wanita ini. Namun, dia tetap harus melakukan ini. "Aku berjanji akan pergi dari hidupnya dan tidak akan menuntut tanggung jawab apapun, karena aku tahu jika dia hanya menjalani cinta satu malam saja dengan wanita mana pun"
Mengambil ponsel dari atas nakas dan mengambil foto dirinya yang setengah telan*jang dengan pria yang masih terbaring di belakangnya. Sengaja menunjukan bekas kemerahan di bagian dada yang tidak tertutupi selimut itu.
Mengirim foto itu pada nomor seseorang dengan sengaja. Lalu dia mengambil pakaiannya yang berserak di lantai dan memakainya kembali. Segera pergi dengan membawa tas dan ponselnya. Meninggalkan pria itu yang masih terlelap.
Ketika dia kembali ke rumah, suasana terasa mencekam. Tatapan keluarga yang begitu dingin, Mama mertua dan Ayah mertua yang semakin menatapnya penuh benci. Dan disana, berdiri suaminya yang berjalan mendekat padanya dan menariknya dengan kuat. Tubuhnya sampai terjatuh ke atas lantai karena hempasan tangan suaminya yang begitu kasar.
"Apa ini? Kau tidur dengan pria lain? Dasar wanita tidak tahu diri!" Sebuah ponsel terlempar ke depannya, sebuah foto terlihat jelas disana. "Berani sekali kau, Viona!"
Ketika melihat foto itu, bibir Viona tersenyum tipis. Seperti puas dengan hasilnya. Sebuah jambakan di rambutnya membuat kepala Viona mendongak, itu adalah tangan Ibu mertuanya.
"Anak saya kurang apa untuk kamu? Dia kaya, dan bisa memberikan apapun. Memang salahnya karena dulu mau memungut anak terlantar sepertimu!"
Viona menatap Ibu mertuanya dengan senyuman tipis, hampir tak terlihat. "Biarkan semuanya impas, dia juga tidur dengan temanku sendiri. Bahkan sudah menjalin hubungan cukup lama. Dan kalian pikir aku tidak pernah tahu tentang itu? Aku tahu semuanya, hanya saja aku berpura-pura tidak tahu apa-apa"
Viona menghempaskan tangan Ibu mertuanya dari rambutnya, lalu dia berdiri dan menatap semua orang. "Sekarang kenapa kalian harus marah melihat foto itu? Bukankah anak kalian juga melakukan hal yang sama di belakangku. Ini impas harusnya!"
Plak... Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kirinya. Bekas tangan memerah. Dani, suami yang menikahinya selama 5 tahun lamanya, ternyata menjalin hubungan dibelakang Viona bersama teman Viona sendiri. Bahkan mereka sudah tidur bersama entah berapa kali. Viona tahu tentang ini, namun dia masih mencari waktu yang tepat untuk membongkarnya. Awalnya, dia hanya berharap suaminya akan kembali padanya, menganggap itu hanya kesalahan sesaat saja. Tapi ternyata, Dani tetap melakukannya sampai sekarang.
"Seharusnya kau yang tahu diri, Viona! Jika kau bisa hamil dan memberikan keturunan untuk keluargaku, mana mungkin aku sampai selingkuh dengan Tari"
Viona menatap pria di depannya ini, yang menjadi suaminya namun tega melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan. "Masalah mempunyai anak bukan harus hanya menyalahkanku, selama ini hanya aku yang harus terus di periksa, dan kamu juga tahu jika semuanya normal, dan aku sehat. Tapi, kamu bahkan tidak pernah mau diperiksa. Seharusnya jangan hanya menyalahkan aku!"
"Tapi itu semua salahmu! Karena sebagai wanita, bahkan kau tidak bisa sempurna untuk menjadi seorang istri!" tekan Ibu mertua.
Tes... Air mata akhirnya lolos, mencoba untuk tetap kuat. Tapi nyatanya setiap ucapan yang keluar dari suaminya maupun mertuanya, adalah hal yang paling menyakitkan.
"Buktikan saja, apa Tari juga hamil? Kalian bahkan berhubungan sudah cukup lama, tapi dia tidak...."
"Aku hamil"
Suara itu memecah suasana tegang di ruangan ini. Viona menoleh dan melihat temannya yang berjalan ke arah mereka. Tari, temannya yang dulu terlihat sangat mendukung dia untuk menikah dengan Dani. Tapi akhirnya dia malah berkhianat bersama suaminya itu.
"Aku baru kembali dari rumah sakit, dan ini hasilnya" Tari memberikan sebuah kertas hasil pemeriksaan dari rumah sakit dan juga hasil USG pada Dani.
"Ya ampun Nak, kamu beneran hamil? Anaknya Dani 'kan itu?" ucap Ibu Mertua yang langsung memeluk Tari dengan hangat. Hal yang bahkan tidak pernah Viona dapatkan selama menjadi menantunya.
Viona menatap pelukan Ibu mertua pada Tari, tangannya mengepal kuat, rasanya dendam dalam dirinya begitu besar. Viona hanya di anggap sampah tidak berguna di keluarga ini. Sementara pengabdiannya selama 5 tahun pada suami dan mertuanya, tidak pernah mereka pedulikan.
"Sudahlah Dani, daripada kau terus mempertahankan dia, sebaiknya kau usir saja dia dan nikahi Tari"
Ucapan yang begitu kejam keluar dari mulut Ayah mertua. Seorang pria yang berperan sebagai Ayah, namun malah mendukung sebuah kesalahan yang dilakukan anak laki-lakinya.
"Tanpa kalian melakukan itu, aku juga akan pergi dari rumah ini. Karena aku sudah muak berada di dalam rumah yang seperti neraka ini. Satu hal yang perlu kalian tahu, aku tidak akan pernah melupakan apa yang pernah kalian lakukan padaku!"
Viona pergi ke kamarnya, menutup pintu dengan keras dan dia bersandar di pintu itu. Tangisnya benar-benar pecah, dadanya sesak dan dunianya benar-benar hancur.
"Sejahat itu mereka padaku, bahkan temanku yang aku anggap sangat peduli padaku, ternyata hanya seorang pengkhianat besar. Ya Tuhan, kenapa sakit sekali.. Hiks..."
Viona hanya seorang anak yang selamat dari sebuah kecelakaan orang tuanya. Dia hidup mandiri seorang diri, hingga bertemu dengan Dani yang mengajaknya menikah. Pria yang baik, memberikan perhatian lebih padanya, tentu membuat Viona terbuai, karena sejak orang tuanya pergi, maka dia hanya hidup kesepian tanpa seseorang yang memberikan perhatian seperti itu padanya.
Namu, pernikahan terjadi tanpa adanya restu dari orang tua Dani. Karena sejak awal, orang tua Dani tidak pernah suka padanya. Namun, Dani begitu memaksa untuk menikahinya, dan Viona merasa di perjuangkan saat itu, hingga rasa cintanya cukup besar pada Dani.
Tapi, seiring berjalannya waktu dan Viona yang tidak kunjung hamil, maka sikap Dani mulai berubah. Viona yang awalnya hanya menghadapi sikap sinis dari orang tua suaminya, berubah harus menghadapi sikap Dani yang juga terus menuntut seorang anak darinya.
Dan hingga akhirnya Viona mengetahui perselingkuhan Dani dan Tari, teman baiknya sendiri. Membuat Viona mulai lelah untuk terus bertahan dan diam dalam luka yang mendalam.
"Aku bersumpah tidak akan memaafkan mereka!"
Bersambung
Yuhuu.. cerita bayu akhirnya rilis.. Jangan lupa ramaikan, jangan pada nabung bab ya. Awas aja!!
Bayu Rangga Alexander, seorang pengacara terkenal dan juga pemilik sebuah Restoran bintang 5 ternama. Bisnisnya pun mulai berkembang pada perhotelan juga. Namanya selalu ternama, terpampang di majalah bisnis dan berita, atas kesuksesannya di usia yang masih terbilang muda.
Namun, berita yang lebih sering muncul adalah tentangnya yang masih sendiri di usia 32 tahun. Yang sering Bayu hanya bermain wanita, menyewa hanya untuk satu malam saja. Setelah itu semuanya selesai tanpa ada tuntutan tanggung jawab atau sejenisnya. Semua wanita yang mendekatinya hanya untuk bisa tidur dengannya, sudah tidak akan berani meminta lebih, karena Bayu hanya butuh kepuasan sesaat tanpa ingin terikat.
Pagi ini, dia terbangun dengan kepala yang terasa pusing. Ingat tentang kejadian semalam, seorang wanita yang tiba-tiba menciumnya di depan banyak orang di saat Bayu sedang mabuk. Bayu juga mengira jika wanita itu juga mabuk. Hingga mereka akhirnya berakhir di kamar ini. Mengingat kejadian semalam, membuat Bayu langsung menoleh ke sampingnya yang kosong.
"Kemana dia? Apa masih di kamar mandi" Bayu perlahan turun, mengambil celana boxernya yang tergeletak di lantai dan memakainya. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi. "Kau di dalam? Keluarlah"
Bayu mengetuk pintu kamar mandi, tapi tidak mendapat jawaban apapun dari dalam sana. Baru menyadari jika suara keran pun tidak terdengar, seperti tidak ada kehidupan di dalam sana. Membuat Bayu akhirnya memutar gagang pintu dan ternyata memang terbuka. Pintu kamar mandi tidak terkunci. Bayu masuk ke dalam kamar mandi dan tidak menemukan siapapun disana. Membuatnya cukup terkejut.
"Apa dia pergi sebelum aku beri uang?"
Bertanya pada dirinya sendiri dengan nada bingung. Karena setiap perempuan yang tidur dengannya, sudah pasti akan menunggunya bangun untuk mendapatkan bayaran. Atau mereka akan menyimpan nomor rekening untuk Bayu transfer uangnya. Mengingat itu membuat Bayu langsung mencari ke atas nakas di samping tempat tidur, membuka laci dan mengangkat bantal, mencari sesuatu seperti kertas kecil yang bertuliskan nomor rekening untuknya membayar atas kejadian semalam pada wanita itu. Namun, dia tidak menemukan apapun disana.
"Hah? Dia benar-benar pergi begitu saja tanpa meminta bayaran? Ini aneh, apa dia bukan wanita bayaran di Klub itu?"
Bayu merasa heran dengan wanita yang dia tiduri malam ini. Sungguh tidak seperti yang biasanya. Dia ingin mengambil baju dan celananya yang berserak di lantai, tapi sebuah benda kecil berada disana tergeletak begitu saja. Bayu mengambilnya, sebuah gantungan kunci dengan foto wanita berambut panjang yang duduk anggun seperti di sebuah Cafe.
"Haha.. Kau membuatku bingung karena tidak meninggalkan apapun untuk aku membayarmu, tapi begini caranya ternyata. Meninggalkan fotomu hanya untuk aku mencarimu? Cara yang kotor sekali"
Bayu memakai kemeja dan celananya, mengambil ponselnya juga. Berjalan ke arah tempat sampah dan ingin membuang gantungan kunci foto itu, namun tiba-tiba tangannya urung melakukannya. Dia mengenggam kembali gantungan kunci itu dan tersenyum tipis, memasukannya ke dalam saku celana, lalu pergi dari Hotel itu.
Telepon berdering saat dia masih berjalan menuju lift. Menerima panggilan itu dengan sedikit terburu-buru. "Hallo, ya aku sebentar lagi pergi kesana. Tunggu setengah jam lagi"
Bayu menghela napas pelan saat asistennya mengatakan jika dia ada persidangan hari ini. "Sial, semalam terlalu lama aku melakukannya. Sampai bangun kesiangan, wanita itu juga kenapa tidak membangunkanku"
Bayu pergi dengan terburu-buru. Sidang hari ini cukup penting karena dari kliennya yang cukup terkenal. Memberikan bayaran yang besar asal Bayu bisa memenangkan kasus ini.
Keluar dari ruangan sidang dan selalu dengan senyuman kemenangan. Hampir semua kasus yang dia tangani akan berakhir dengan kemenangan. Itulah yang membuatnya semakin dicari oleh beberapa Pengusaha ternama untuk menjadikannya sebagai pengacara pribadi.
"Ranti, malam ini aku tidak pergi kemana pun. Aku mau istirahat di rumah, lelah juga"
"Tumben sekali? Biasanya tidak ada hari tanpa kau pergi keluyuran malam"
Bayu hanya mendengus pelan, dia menatap asisten pribadinya dengan datar. "Memangnya tidak boleh aku istirahat sebentar"
"Aku pikir karena wanita semalam, membuatmu tobat dan ingin berhenti bermain wanita"
"Haha, tidak mungkin"
Bayu masih mengingat kejadian sebelum dia tidur dengan wanita tadi malam. Bayu yang sedang berkumpul dengan teman-temannya di sebuah meja dengan sudah setengah mabuk. Tiba-tiba tanpa aba-aba apapun seorang wanita datang menghampirinya, duduk di atas pangkuannya dan menciumnya. Bayu terkejut, tentu saja. Karena wanita ini benar-benar tidak ada aba-aba sama sekali, tidak menunjukan menggoda dengan kedipan mata, atau berbasa-basi sedikit dengan sapaan. Pertama kali Bayu menemukan wanita seperti ini.
"Dia memang cukup menarik, tapi aku tidak pernah tertarik pada siapapun"
"Hah... Aku berharap suatu saat kau akan tertartik pada wanita dan ingin memilikinya seutuhnya"
Bayu hanya diam saja, dia mengeluarkan benda kecil dari saku jasnya. Entah apa yang membuatnya masih membawa gantungan kunci berbentuk foto itu. Foto wanita semalam masih jelas.
*
Semua barang sudah dia masukan ke dalam tas dan koper besar. Dengan tekad yang kuat, Viona memilih untuk pergi dari rumah ini. Dia ingin bebas dari kehidupan yang seperti penjara di rumah ini. Semua orang masih berada di ruang tamu, termasuk Tari. Temannya itu bahkan sudah tidak punya malu sedikit pun ketika dia mengakui telah berkhianat.
Langkah kaki yang terasa berat, memikirkan kemana dia akan pergi sekarang, dada yang masih berdebar sesak. Viona melangkah mendekati mereka, dia membuka cincin pernikahan di jari manisnya dan menyimpannya di atas meja. Suara dentingan cincin yang beradu dengan meja kaca, terdengar cukup nyaring.
"Aku pergi, semoga kalian mendapatkan apa yang kalian mau. Dan untuk kamu, Tari" Tatapannya beralih ke arah temannya, wajah Viona begitu datar. "Semoga kau tidak mengalami apa yang aku alami selama ini. Kau merebut suamiku, dan demi Tuhan aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua!"
"Terserah kau mau bilang apa, sekarang sebaiknya segera pergi dari rumah ini, dasar wanita tidak berguna!" Ibu mertua mencaci dan mengusirnya seolah memang Viona tidak berharga sedikit pun.
Viona melangkahkan kaki keluar dari rumah itu dengan perasaan yang campur aduk. Menyesal karena dia sudah mencintai pria seperti Dani yang ternyata mudah berpaling. Sekarang Viona baru sadar, jika selama ini dirinya yang terlalu bodoh karena mencintai terlalu tulus pada suaminya. Sementara Dani, dia hanya mencintainya dalam sesaat, setelah ada kekurangan dalam diri Viona, maka dia langsung berpaling pada wanita lain.
Viona berhenti saat sudah sampai di teras rumah. Menoleh ke belakang dan menatap rumah itu dengan tatapan penuh luka dan kebencian.
"Tuhan, aku terluka dengan orang-orang di rumah ini. Hatiku benar-benar sakit, jika suatu saat ada kesempatan untuk aku bisa membalas semua perbuatan mereka, maka jadikan aku kuat setelah ini"
Hati yang terluka begitu dalam, akan sulit untuk di pulihkan. Viona menyadari jika saat ini dirinya sedang dipenuhi kebencian dan dendam.
Bersambung
Seperti kehilangan arah, Viona tidak tahu harus pergi kemana setelah pergi dari rumah suaminya. Bahkan rumahnya yang dulu sudah dia jual untuk menutupi hutang orang tua. Selama ini Viona hanya tinggal di sebuah Apartemen kecil yang dia sewa. Tapi sejak menikah sewa di hentikan, Apartemen itu sudah di isi oleh orang lain.
Ketika turun dari taksi dengan koper dan tas besar miliknya, Viona masih bingung harus pergi kemana. Tidak ada tempat untuknya kembali. Tatapannya kosong, bahkan seperti tidak ada lagi tujuan hidup. Semuanya hancur karena sebuah pengkhianatan, rasa sakit yang tidak bisa di jelaskan apapun.
Rintik hujan yang perlahan turun, seperti langit sedang ikut bersedih akan takdirnya. Di bawah derasnya hujan, Viona berjalan sambil menyeret kopernya. Air mata mengalir tersamarkan air hujan, isak tangis yang hampir tidak pernah terdengar lagi karena derasnya hujan.Terus berjalan di trotoar sampai sebuah mobil membunyikan klakson dan berhenti.
Viona menoleh, kaca mobil yang hitam membuatnya tidak dapat melihat siapa yang berada di dalam mobil itu. Sampai kaca jendela terbuka, Viona cukup terkejut melihat pria di dalam mobil.
"Vio, kenapa kamu ada disini dan hujan-hujanan seperti ini?"
"Rendi"
Pria itu turun dengan membuka payung, berjalan cepat ke arah Viona dan memayunginya. "Cepat masuk ke mobilku, hujannya semakin deras. Kau bisa sakit"
Viona sedikit di tarik oleh Rendi, membawanya masuk ke dalam mobilnya. Rendi juga memasukan koper dan tas Viona ke dalam bagasi mobil. Saat dia sudah kembali duduk di balik kemudi, Rendi menatap Viona yang duduk terdiam di kursi penumpang dengan tubuh yang basah kuyup.
"Kamu ikut pulang ke rumahku saja ya"
Viona menoleh, menatap Rendi dengan tatapan sendu yang seperti tidak ada pilihan lain. "Bagaimana dengan istrimu? Nanti dia akan salah paham dengan kamu membawaku kesana"
"Nanti biar aku jelaskan pada istriku, lagian aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendirian di jalan dalam keadaan seperti ini"
Viona hanya menunduk diam, bahkan untuk mengungkapkan semuanya, rasanya sulit sekali. Dadanya begitu sesak, sakit yang tidak bisa dijelaskan. Dunia sedang memberikan sebuah perjalanan hidup yang tidak baik-baik saja padanya.
"Vio, dimana suamimu?" Akhirnya Rendi bertanya juga, meski awalnya dia ingin menahan diri untuk tidak bertanya dulu. Tapi dia tidak bisa, melihat keadaan Viona tentu membuatnya penasaran. "Kenapa kamu berjalan sendirian di tengah hujan, dan membawa koper dan tas? Sebenarnya kamu mau kemana?"
Tangan Viona saling bertaut erat di atas pangkuannya. Melipat bibirnya ke dalam dengan mata terpejam sebelum siap menjawab, mencoba untuk mempersiapkan diri untuk menjelaskan semuanya pada Rendi.
"Aku akan berpisah dengan suamiku, Ren. Dia ... dia selingkuh dengan Tari, bahkan sekarang Tari sedang hamil. Emm... Mungkin Mas Dani melakukan itu karena aku tidak kunjung hamil dan memberinya keturunan"
Suaranya begitu parau, seperti tercekat di tenggorokan. Air mata tertahan di pelupuk, dada yang sesak sudah tidak bisa di abaikan lagi. Sakitnya luar biasa, sampai dia merasa dadanya hanya berdetak untuk rasa sakit itu.
"Tari teman kamu itu?" tanya Rendi, masih seolah tidak percaya dengan ucapan Viona.
Viona mengangguk, mengusap air matanya yang menetes begitu saja. Isak tangis tidak bisa ditahan lagi. "Mereka sudah lama menjalin hubungan. Aku bahkan sudah tahu, namun belum ada waktu yang tepat untuk bisa pergi meninggalkan Mas Dani. Sampai hari ini, akhirnya aku bisa lepas darinya"
Rendi memegang kemudi dengan erat, tatapan matanya menajam, hembusan napas juga terasa begitu berat. "Jadi ini akhir dari janji dia yang akan membahagiakanmu itu? Sialan, pria seperti apa dia ini sampai berani selingkuh dengan teman istrinya sendiri"
Viona tidak menjawab, dia hanya sibuk mengendalikan kembali dirinya. Mengusap air mata yang terus mengalir. "Rendi, bolehkah aku minta bantuanmu?"
Mendengar suara parau karena menahan tangisan itu, membuat Rendi semakin merasa iba pada Viona. "Bantuan apa? Aku pasti membantumu"
"Bantu urus perceraianku dengannya"
"Baiklah, aku akan membantumu"
Ketika mereka sampai di rumah Rendi, Viona merasa ragu untuk ikut masuk. Tahu jika Rendi sudah mempunyai istri, dan takut kehadirannya akan membuat masalah dalam rumah tangga mereka.
"Tenang saja, aku yang akan berbicara dengan istriku"
Akhirnya Viona ikut saja untuk masuk ke dalam rumah Rendi. Sesuai dugaannya ekspresi istri Rendi sangat jelas tidak suka dengan kehadiran Viona.
"Mas, ada apa ini? Kenapa kamu membawa mantan kamu ke rumah?"
Pertanyaan penuh waspada dan kekhawatiran itu, tentu Viona maklumi, karena seorang istri hanya takut suaminya berpaling dan pernikahan mereka akan hancur. Viona menunduk dengan perasaan tidak enak pada istri dari Rendi ini.
"Maaf Raisa, aku tidak bermaksud untuk mengganggu kalian, tapi-"
"Sayang, aku bertemu Viona di jalan tidak sengaja. Dia sedang kesulitan dan butuh bantuanku"
"Tapi kenapa harus kamu Mas? Apa kamu gak mikir perasaan aku? Kalian itu pernah pacaran, dan istri mana yang bisa terima suaminya pulang membawa mantan pacarnya ke rumah"
Raisa langsung pergi begitu saja tanpa memberikan kesempatan untuk Rendi dan Viona menjelaskan apapun.
"Ren, sebaiknya aku pergi saja"
Rendi langsung menahan tangan Viona yang sudah berbalik dan ingin melangkah pergi. "Tidak Vio, kau mau pergi kemana malam-malam begini dalam keadaan pikiran yang kacau. Sudah, kau tinggal saja dulu disini. Masalah Raisa, biar aku yang bicara padanya"
Rendi membawanya ke kamar tamu di rumahnya. Membiarkan Viona beristirahat dan berganti pakaian. "Istirahat saja dulu, nanti jam makan malam aku panggil ya"
Viona mengangguk dengan perasaan tidak enak. "Terima kasih Ren"
Setelah Rendi pergi, Viona menutup pintu dan bersandar di pintu kamar itu. Tatapannya kosong, masih bingung dengan apa yang akan dia lakukan setelah ini. Semuanya benar-benar hancur.
"Rendi, kamu masih sebaik itu dan sangat peduli padaku. Kenapa bukan kamu yang jadi suamiku... Hiks.. Kenapa hubungan kita harus terhalang restu?"
Bayangan masa lalu kembali menghantuinya. Kegagalan dalam hubungan dan komitmen atas cinta berulang kali Viona rasakan. Dengan Rendi, mereka bahkan berpacaran dari masa sekolah hingga kuliah. Namun, hubungan tetap tidak bisa berjalan jika restu tak di dapat. Membuat Viona mundur perlahan, meski rasa cintanya masih begitu besar pada Rendi. Tapi dia sadar, hubungan tanpa restu tidak akan bisa terus berjalan.
Di saat hatinya sedang kosong, sedang berusaha menata kembali, menjalani kehidupan yang baru setelah patah hati ketika mendengar kabar perjodohan Rendi dan istrinya sekarang. Viona mulai menata hati dan perasaannya, mulai menjalani kehidupan yang baru tanpa hadirnya Rendi dalam hidupnya. Saat itulah, Dani datang sebagai pahlawan. Menemaninya, membantu menyembuhkan lukanya, sampai akhirnya memberinya ruang untuk kembali menjalin komitmen itu.
Dan sekarang, kedua kalinya Viona terluka karena cinta. Semua hubungannya kandas tanpa sisa, yang tertinggal hanya sakitnya saja.
"Apa aku memang tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan? Apa aku setidak pantas itukah untuk dicintai, Ya Tuhan? Hiks..."
Tangisnya benar-benar pecah, tubuhnya perlahan luruh ke lantai dengan air mata yang mengalir deras. Dunia terasa kejam padanya, di saat Viona bahkan tidak punya sandaran untuk berlindung.
Bersambung
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!