Indonesia
NovelToon NovelToon

MENANTU IBU 2

1. Kembali Hangat

..."Jika kamu sering mengalami nyeri sendi, bisa jadi itu efek karena selama ini kamu masih SENDI-rian."...

...~ Cantya Lova, S.T.RONG ~...

Kembali bisa membuat motivasi dan quote sesat adalah hiburan tersendiri bagi Tya yang sudah pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama dua hari satu malam. Selanjutnya masa pemulihan bisa di rumah dengan catatan jangan melewatkan resep antibiotik yang harus diminum sampai habis.

"Gue kesindir," komentar Devan.

"Relate euy. Ahaha," komentar Ikram.

Itu adalah perwakilan komentar dari orang-orang terdekat Diaz. Dan masih banyak lagi komentar follower lainnya yang membuat Tya cekikikan sendiri di sofa kamar sambil menunggu Diaz yang sedang berbincang dengan Ibu di lantai bawah.

Baru tiba di rumah pukul lima sore, Tya dilarang Suri naik turun tangga untuk sementara waktu. Alhasil, harus tetap berada di area lantai dua. Bahkan makan malam pun diantar ke kamar.

"Bey, aku bisa jalan. Lari juga bisa. Tapi Ibu perlakukan aku seperti orang yang baru melahirkan. Anu ku nggak dijahit. Ibu khawatirnya berlebihan deh."

Tapi jawaban Diaz yang dengan santainya menyahut. "Nikmati aja dimanja jadi menantu kesayangan." Ditutup dengan memagut bibir yang cemberut.

Jempolnya tak sengaja menyentuh pop up chat yang baru saja muncul di layar. Otomatis pesan dari Rizky itu langsung terbaca.

[Malam, Tya. Maaf kalo ganggu]

[Niat mau ngasih oleh-oleh jadi lupa gara-gara syok 🙂]

[Besok aku mau ke Bekasi. Udah teleponan. Alhamdulillah masih dianggap adik sama Kak Bisma. Oleh-oleh buatmu mau aku titipkan aja sama Kak Bis. Maaf udah lancang chat malam 🙏]

Tya mendesah. Menggumam lirih. "Iky, kenapa berubah jadi canggung."

[Makasih ya, Ky. Sehat selalu]

Setelah mengirim balasan yang juga terbawa canggung, Tya beranjak dari sofa. Waktu menunjukkan hampir pukul sembilan. Badannya memang belum 100% fit ditambah pengaruh obat membuat mulutnya sudah tiga kali menguap. Langkahnya bukan ke arah ranjang, tetapi menuju pintu walk in closet. Rindu berbaring di sofa bed.

Suara ayam berkokok memecah sunyi. Tya menggeliat dengan punggung terasa berat serta ada tangan yang melingkari perutnya. Jelas itu tangan Diaz. Matanya membelalak begitu sadar tidurnya bukan lagi di sofa tetapi di ranjang. Kok bisa.

"Alarm matiin, Yang. Masih ngantuk." Diaz bergumam dengan mata tetap terpejam.

"Oke-oke. Awas tangannya. HP nya jauh di sofa." Tya mengangkat tangan yang semakin mempererat pelukan dari belakang. Tetapi tangan yang berotot itu berat untuk diangkat.

"Bey, aku kan tidur di sofa bed. Kenapa jadi di sini?"

"Aku gendong. Tidurmu kayak orang pingsan susah dibangunin."

"Hm. Efek obat kayaknya. Awas tangannya, Bey." Tapi lagi-lagi tangan yang kekar itu berat dipindahkan. Ide nakal muncul di benaknya.

Diaz mendesah lalu menggeram saat burungnya mendapat usapan lembut dari luar sangkar. Menggeliat seperti cacing kepanasan. "Yang...ughhh arghh jangan mancing-mancing, Sayang."

Tya cekikikan. Berhasil melepaskan diri dan segera turun dari ranjang ketika tangan Diaz hendak menariknya lagi. Pukul 04.15, alarm si Joko kembali berkokok mengingatkan waktunya bangun sebelum azan subuh berkumandang.

Diaz menyusul Tya yang sedang berada di kamar mandi. Kedatangannya tentu mengagetkan sang istri yang sedang mengguyur tubuh di bawah kucuran shower. Tampak berusaha menutupi dada dan merapatkan kaki dengan wajah bersemu malu.

"Aku kan udah liat semuanya dari ujung rambut sampai ujung kaki, sayang. Ngapain malu." Diaz terkekeh lalu menurunkan tangan Tya. Berganti memeluk tubuh yang polos dan terasa hangat karena guyuran air. Tubuhnya ikut basah. Gairahnya turut membuncah.

"Tapi aku nggak tanggung jawab kalau Abey pusing."

"Salah sendiri tadi usap-usap burung yang lagi tidur. Jadinya tegak terus. Nggak bisa aku tidur lagi." Tangan Diaz meremas bokong Tya. Meski ia pun menyadari tindakannya salah. Niat mau membalas keisengan sang istri, malah kini kepala atas dan bawah berdenyut-denyut. Menuntut lebih.

"Ya maaf." Tya terkikik. Terlanjur sudah berhadapan dengan Diaz yang tak malu menunjukkan keseluruhan tubuh polosnya, ia membantu menyabuni punggung suaminya itu.

Ritual mandi yang harusnya selesai 10 menit bertambah durasi dua kali lipat. Tya harus berulang kali mengingatkan untuk berhenti di tengah rasa terbuai oleh permainan sentuhan tangan dan bibir Diaz.

"Masih bengkak, nggak?" Diaz berjongkok untuk memeriksa gang sempit yang sudah digempur habis-habisan berulangkali. Tak perlu menunggu persetujuan. Ia membuka kedua kaki Tya. Memeriksa dengan jeli.

"Udah ah geli. Masih bengkak itu."

"Pantes aja ya disuruh puasa dua minggu." Diaz mendongak dengan ekspresi menyedihkan.

Tya tertawa. Mentertawakan nasib Diaz yang harus merana untuk sementara waktu. "Apa kata Ibu bilang. Slow, Bey. Slow!"

***

Tya meyakinkan Diaz jika kondisinya semakin membaik. Tidak ingin terus-terusan berada di area lantai dua. Ingin menyiapkan sarapan untuk sang suami yang akan mulai ke kantor lagi. Akhirnya, keinginannya terkabul.

Tetapi begitu menuruni tangga, Ibu Suri yang baru yang baru saja lewat, menghentikan langkah dan menatap heran. "Tya sayang, kau jangan dulu naik turun tangga."

"Udah sembuh, Bu. Sungguh." Tya mengangkat dua jari di samping bahu. "Aku mau siapin sarapan buat Mas Diaz, buat kita bertiga."

"Tapi jangan dulu capek-capek ya, Nak. Biar Bi Saroh yang masak."

"Iya, Bu. Aku cuma bikin kopi sama mau bikin salad buah."

Kehangatan kembali hadir di meja makan. Bisa duduk bersama lagi bertiga setelah 15 hari lamanya sang nyonya rumah melaksanakan umrah plus Mesir. Tak ada percakapan berat selama sarapan berlangsung. Tya maupun Diaz lebih banyak menjadi pendengar cerita pengalaman Ibu Suri selama umrah.

"Waktu naik perahu di sungai Nil, Ibu lihat orang yang mirip Pak Husain lho. Adanya di perahu depan Ibu. Tapi nggak yakin juga sih soalnya agak jauh lihatnya. Bisa jadi halusinasi kali ya atau emang mirip," ujar Suri yang menikmati salad buah buatan Tya.

"Nggak Ibu pastiin pas di dermaga?" sahut Diaz. Pembahasan yang menurutnya menarik.

"Perahu yang depan Ibu itu duluan naik. Jaraknya beda 10 menit. Sepertinya halusinasi aja soalnya di perahu itu dominan orang arab campur bule. Lagian sebelumnya Ibu kan chattingan sama Husain bahas sopir baru."

Pembahasan tentang Husain menguap seolah terbawa angin berganti tema random lainnya hingga waktunya Diaz siap berangkat ke kantor.

"Diaz, Ibu masih ingin istirahat di rumah. Anwar pakai aja jadi sopir mu dulu daripada dia nganggur."

Diaz berpikir sebentar. Hari ini memang ada agenda meeting di luar kantor. Biasanya Jordan yang akan menyetir. Tidak ada salahnya jika Anwar dijadikan sopir. Karena banyak yang harus didiskusikan dengan sang asisten dengan konsentrasi penuh.

"Oke deh."

Mulai hari ini, bukan hanya Ibu yang dipeluk setiap kali pamit kerja. Bertambah satu orang wanita yaitu kehadiran Tya yang dipeluk dan dikecup bukan sekadar akting berbuah denda seperti dulu. Bagi Diaz, dua wanita itu adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya yang harus dijaga.

Seleng beberapa menit kemudian, Suri mengajak Tya ke kamar. Mau menunjukkan oleh-oleh yang belum dibongkar di dalam koper yang terpisah dengan pakaiannya.

"Kalau oleh-oleh umrah kayak kacang, kurma, itu bisa beli online di toko oren banyak. Ibu mau bagi oleh-oleh yang langsung dibeli dari Mekkah sama dari Kairo. Ada buat Bisma dan Susan juga. Bagusnya disuruh datang ke sini atau dipaketin ke Bekasi?"

"Aku sama Mas Diaz ada rencana mau ke Bekasi kok, Bu. Katanya sih seminggu lagi. Belum pasti harinya."

"Oh ya udah. Berarti disimpan aja sama Tya oleh-olehnya. Nah, ini buat anak dan menantu kesayangan Ibu." Suri menyerahkan satu persatu barang-barang untuk Diaz dan Tya.

Tya tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Masya Allah, cakepnya."

Kebahagiaan dan kehangatan yang tercipta di dalam kamar terganggu oleh suara ketukan di pintu. Tya yang beranjak setelah mendengar suara Tuti, membukakan pintu.

"Ada apa, Mbak Tuti?"

"Kata Ajat ada Bapak Hilman di luar pengen masuk."

Tya tidak menjawab. Justru menoleh pada sang mertua Yang sepertinya mendengar jelas ucapan Tuti. Ia sudah tahu aturan baru yang berlaku. Jika Ayah Hilman diperlakukan sama seperti Selly dan anak-anaknya. Tidak bisa bebas masuk. Harus izin dulu di pos sekuriti.

...🌹🌹🌹🌹🌹...

...1 Mei 2026...

Welcome back di Menantu Ibu musim kedua, Bestie. Jangan lupa dukung bacaan gratis ini semampunya ya. Jangan lewatkan 'like; ramaikan kolom komentar meskipun cuma dengan satu kata. Biar hidup terasa lebih hidup.

Dan harap sabar menanti update yang jadwalnya tidak tentu, disesuaikan dengan kesibukan di real life.

2. Tidak Ada Kesempatan Kedua

Sebagai menantu yang baik, Tya menyambut kedatangan Hilman dengan bertanya kabar dan mencium tangan penuh takzim. Lama tak berjumpa ada yang berbeda dari penampilan bapak mertuanya itu. Tak menyangka dirinya mendapat usapan di kepala dan lemparan senyum yang tak selaras dengan ekspresi wajah—suram dan lesu.

"Diaz ke kantor?"

"Iya, Ayah."

"Kalau Ibu ada, kan?"

"Ada, Yah. Sebentar aku panggilkan Ibu dulu." Tya memang diperintahkan oleh Suri untuk lebih dulu menyambut pria paruh baya yang kini dianggap tamu. Tak mau menyambut langsung. Karena yang namanya Hilman Kavian sudah berstatus mantan.

"Biar Ayah ke dalam." Hilman merasa keberatan hanya berdiri tertahan di ruang tamu. Ia bukan tamu. Menurut egonya, ia masih bagian dari penghuni rumah ini karena dirinya yang membangun meski sertifikat hak milik sudah diserahkan atas nama Granada Suri. Setiap istrinya diberi hak rumah.

"Duduknya di ruang tamu aja."

Bukan Tya yang menjawab. Tetapi Suri yang muncul dengan tampilan mengenakan jilbab. Untuk beberapa detik, Hilman menatap tanpa kedip pada sang istri pertama yang tampak semakin cantik dan menyejukkan pandangan. Ah, rasanya ingin menghambur memeluk istrinya yang sabar dan tak banyak menuntut itu.

"Hm, aku buatkan minum dulu. Ayah mau minum apa?" Tya merasakan hawa yang berubah tak nyaman begitu menatap sorot tajam ibu mertua di balik ekspresinya yang tenang.

"Kopi gula aren aja, Tya."

"Baik, Ayah."

"Biar Mbak Tuti aja yang bawanya. Tya lanjutin packing barang-barang yang tadi aja sekalian kasih nama ya, sayang."

"Iya, Bu." Tya tentu setuju dengan perintah sang ibu mertua. Tujuan menawarkan minuman juga sebetulnya adalah alasan untuk meninggalkan ruang tamu dengan cara baik. ayah mertua pastinya ingin bicara empat mata.

Dua insan yang dulunya adalah sepasang suami istri itu masih sama-sama berdiri, saling melempar tatapan dengan sorot berbeda makna. Yang satu menyiratkan rindu, yang satu lagi menyiratkan malas bertemu.

"Sepulang umrah, kau makin cantik, Suri."

"To the point aja, ada apa Abang ke sini? Aku baru pulang umrah kemarin, masih capek." Suri lebih dulu duduk di sofa tunggal. Duduk dengan punggung tegak dengan dagu mendongak. Bukan hanya kepercayaan diri yang ditampilkan, tetapi juga karisma.

"Abang masih suamimu ..." Hilman sengaja tidak langsung mengungkit gugatan cerai Suri. Berharap kelembutan sikapnya menjadi awal baik untuk menyentuh hati Suri agar mau rujuk kembali.

"Kita udah cerai, Bang. Abang jangan lupa itu. Pengadilan udah ketok palu. Tinggal nunggu akta cerai terbit. Tidak ada lagi yang meski kita bahas. Semua kesalahanmu udah tertulis dan terekam, suaraku udah diwakili pengacara. Tidak ada kesempatan kedua!"

Hilman mengatupkan bibir. Suri memang seorang wanita yang tegas dalam menentukan sikap, dalam membuat keputusan. Seorang wanita cerdas dan bertangan dingin dalam mengelola bisnis. Teman diskusi yang selalu memberikan solusi. Berbeda dengan Selly yang tak mau ambil pusing urusan bisnis. Istri keduanya punya keahlian lain, yaitu permainan ranjang yang membuatnya mabuk kepayang. Cintya istri ketiga, tentunya daun muda yang bukan hanya cantik tetapi juga semanis madu saat direguk. Bisnis yang besar berbanding lurus dengan tingkat stres yang tinggi. Maka bagi Hilman, pelepasan stres terbaik adalah bercinta dengan beda-beda wanita. Bukan 'jajan' tetapi memajang banyak istri.

Namun, prinsipnya itu mulai diragukan setelah Hilman menandatangani surat cerai. Ada ruang hampa yang menganga. Malah kehilangan gairah bercinta. Itu karena terlepasnya istri pertama.

"Kau mau minta apa, permaisuriku? Akan ku kabulkan asal kita kembali bersama. Kehadiranmu sangat berarti buat ku."

Mual. Itu yang dirasakan Suri sekarang. Bukan isi perut yang ingin dimuntahkan. Akan tetapi kata-kata kasar dan makian yang ingin dimuntahkan dari mulut, sudah menyesak di tenggorokan.

Laki-laki egois, penipu, pengkhianat, pembohong.

Tidak. Suri memilih menelan kembali tumpukan kata bercampur emosi itu. Tetap mempertahankan sikap tenang meski dada bergemuruh marah. Istighfar berulang dalam hati mampu meredam api emosi.

"Aku tidak butuh apa-apa. Aku sangat bersyukur dan bahagia punya Diaz dan Tya, dan lepas dari poligami."

Tak perlu membanggakan dan menyombongkan tentang harta. Bisnisnya dan bisnis sang putra sudah lebih dari cukup untuk dipakai keliling dunia. Namun, Suri adalah wanita yang tak haus validasi. Tak seperti Selly yang setiap belanja dan rekreasi akan dipajang di story.

"Pikirkan ulang, Bu."

"Aku sudah cukup berpikir, Pak Hilman. Hanya Diaz alasan aku bertahan sampai menunggu haknya diberikan. Saran aku, mending didik Boby dan Leony biar jadi anak berguna."

Hilman diam. Helaan napasnya berembus berat. Sama sekali tidak marah saat menyinggung anak-anak Selly yang memang belum tampak bakat menjadi pewaris bisnis.

***

Tya sedang larut menerima telepon dari Diaz yang sebelumnya diberi kabar jika ada Ayah Hilman di rumah. Ia menjawab kekhawatiran sang suami dengan kalimat menenangkan jika di rumah sama sekali tidak ada keributan. Ruang tamu tetap tenang.

"Aku akan suruh Pak Ajat waspada di teras. Prepare aja kalau-kalau Ayah ngamuk karena tidak terima sama keputusan Ibu. Soalnya di dalam rumah kan cewek semua."

"Boleh deh kalau Abey khawatir."

"Ayang posisinya di mana?"

"Deket tangga. Ditemenin Cumi and Luna. Aku juga posisi waspada kok."

Sambungan telepon dengan Diaz berakhir setelah Diaz berucap akan menghubungi Ajat sang sekuriti. Tya memaklumi kecemasan sang suami. Tetapi ia pun bersikap waspada dengan memasang telinga meski sama sekali tidak mendengar percakapan yang sedang berlangsung. Memang tujuannya buat mau menguping. Hanya khawatir terjadi perang mulut dalam tensi tinggi.

Akhirnya, kekhawatiran Tya tidak terbukti setelah mendengar Suri memanggil namanya. Bergegas meninggalkan dua anabul yang rebahan di sisi kakinya. Malah kemudian mengikuti langkahnya setelah menggeliat.

"Ayah Diaz mau pulang, Tya."

Hm ...panggilannya jadi beda ya, Bu.

Tya menghampiri bapak mertua yang ibarat tanaman kurang disiram air—layu kekuningan. Ikut mengantar sampai teras. Ibu mertuanya tentu saja tidak ikut. Langsung pergi meninggalkan ruang tamu.

"Ayah nyetir sendiri atau ada sopir?" tanya Tya setelah mencium tangan Hilman. Pertanyaannya bukan sekadar basa-basi. Itu karena ia tak melihat adanya orang lain selain Ajat yang terperanjat bangun dari duduknya di teras lalu pergi ke arah pos jaga.

"Sama Yandi. Ke mana ya dia?" Hilman menyapukan pandangan ke sekitar pekarangan yang asri dan nyaman tetapi harus ditinggalkan. Ia bukan lagi tuan rumah.

Yang dicari tak lama datang dari arah samping kiri karena Hilman meneleponnya. Kemungkinan habis dari kamar mandi yang biasa digunakan sekurti dan sopir.

"Ayah pergi dulu, Tya."

"Sehat selalu ya, Ayah," sahut Tya setelah mencium tangan sang bapak mertua.

Kalau gini liatnya kasian. Tapi kalau ingat kelakuan Ayah Hilman, ih pengen dicubit ginjalnya. Kemaruk.

Tya menatap langkah lesu Hilman yang berjalan dengan kepala menunduk. Tak sampai menunggu mobil keluar dari pintu gerbang yang sudah dibuka, ia memutar badan menuju pintu. Menutup pintu dengan rapat.

"Ibu, baik-baik saja, kan?" Tya duduk di hadapan Ibu Suri yang tengah memangku Luna si kucing abu. Tangan mengusap-usap tetapi tatapan tampak kosong.

Suri mengerjap. Lantas bibirnya menyunggingkan senyum manis penuh kelembutan. "I'm okay, Tya. Ibu lagi berpikir sambil melamun. Soal bom. Baiknya dilempar kapan ya? Udah nggak sabar lihat si Selly dan anak-anaknya syok."

3. Akhir Tugas Pengacara

Hal yang dilakukan Diaz begitu pulang sore hari adalah bertanya pada ibunya tentang apa saja yang dikatakan Ayah Hilman saat tadi pagi datang ke rumah. Secara tidak langsung, Tya yang tengah menikmati teh bersama ibu mertuanya itu menjadi tahu detail percakapan sesungguhnya.

"Mandi dulu sana! Nanti abis maghrib Ibu mau diskusi hal lain."

"Soal lempar bom ya?" Tebak Diaz. Tanpa canggung merengkuh bahu Tya. Padahal jika diingat-ingat awal kontrak nikah berjalan, selalu menjaga jarak aman kecuali jika dalam situasi akting. Nempel kayak perangko yang lama-lama jadi dinikmati.

"Itu diantaranya. Ada tema lainnya juga."

Diaz mengangguk.

"Abey mau minum teh dulu? Aku ambilkan gelas." Tya menatap Diaz yang masih belum beranjak. Seperti masih betah bercengkerama.

"Punyamu aja." Diaz mengambil gelas di meja yang masih berisi teh tawar hangat setengah gelas. Diminum sampai habis lalu mengajak Tya menemaninya ke atas.

Suri tersenyum simpul setelah anak dan menantunya pamit. Binar di matanya refleksi kebahagiaan yang memenuhi rongga dada. Pengorbanan moral dan material yang sudah dilakukan sebagai seorang ibu, sebagai seorang dalang, terobati dengan cita-cita yang terwujud menjadi nyata. Ia pun menyusul beranjak karena waktu maghrib akan segera tiba.

Di kamar luas yang terletak di lantai dua, Diaz yang selesai mandi lalu salat berjamaah dengan Tya, menarik tangan istrinya itu menuju sofa bed. Menyuruh duduk sebentar sementara ia mengambil sesuatu dari dalam tas kerja.

Tya memperhatikan Diaz yang kembali sambil senyum-senyum. Belum bisa ditebak kertas atau kartu apa yang berada di tangan suaminya itu. Belum terlihat jelas meski Diaz duduk dan mengecup bibirnya.

"Ayang pilih dari tiga kartu ini mau pilih negara mana buat destinasi honeymoon kita?" Diaz menjajarkan tiga kartu seukuran KTP dala

Tadi di kantor, Diaz mengisi waktu rehat dengan searching tempat bulan madu berikut membaca beberapa ulasan. Dari lima negara yang masuk dalam bucket list, dua diantaranya dengan tegas dicoret.

"Mana aku lihat!"

"No. Ayang tinggal cabut salah satu kartu. Gunakan feeling."

"Duh. Terserah Abey aja deh." Tya menggeleng dengan perasaan riang dan juga merinding. Honeymoon gitu lho.

"Tiga negara ini udah hasil seleksi. Untuk final, Ayang yang tentukan. Ayo cepat! Aku lapar dalam perut dan bawah perut."

Tya tertawa melihat wajah yang merajuk. Sejak unboxing di Bandung, Diaz jadi sering berucap kosakata mesum.

"Lapar dalam perut, makan. Lapar bawah perut, tahan dulu. Puasa 12 hari lagi."

"Dokternya ngadi-ngadi ini sih. Masa puasanya 2 minggu. Aku mau banding!"

Tya terkikik. Menangkup wajah yang berubah masam, lalu mengecup bibir yang cemberut. Gemes dengan gaya merajuk anak mertuanya itu.

"Bey, emang mau kapan honeymoon nya?"

"Itu dibahasnya nanti. Sekarang pilih dulu destinasinya. Ayo tunjuk!"

"Bismillah." Tya menggosokkan kedua tangan. Kemudian tanpa ragu menunjuk kartu.

"Kenapa Ayang pilih kartu pertama?" tanya Diaz sebelum menyerahkan kartu yang dipilih Tya.

"Karena aku ingin jadi yang pertama dan satu-satunya. Entah nyambung atau tidak tapi anggap saja ini curhat." Tya tersenyum miring.

"Hm, curhat diterima. Silakan diambil dan baca, Nyonya."

Tya membalikkan kartu yang diterimanya. Sepasang matanya melebar. "Wow. Swiss!"

"Fix ke Swiss ya. Ayang udah punya paspor belum?"

Tya menggeleng. "Belum."

"Nanti kita urus paspor dan visa. Berangkat Februari kayaknya pas. Tinggal Ayang pilihin tanggal. Jangan sampai pas datang bulan."

"Siap, Yang Mulia. Ibu diajak ya?"

Diaz menaikkan sebelah alisnya. "Nanti Ibu jadi wasit?"

Tya terkikik. Otaknya tiba-tiba membayangkan seandainya Ibu jadi wasit.

"Bukan gitu, Bey. Waktu Ibu umrah, kita tinggal berdua. Kalau kita honeymoon, Ibu tinggal sendiri. Kesepian dong nggak ada teman ngobrol. Nanti aku kayaknya bakal inget terus sama Ibu. Diajak aja ya. Kita bertiga ini udah satu paket kan, Bey. Dalang sama dua wayang harus sama-sama. Ibu ajak, please. Booking dua kamar. Judulnya 'Honeymoon Dikawal Ibu'."

Diaz mencium kening Tya dalam dan lama. Lalu turun mencium bibir ranum merah muda yang menggoda. "Makasih my wife, udah care dan sayang pada ibuku. Oke, kita honeymoon dikawal Ibu."

***

Setelah makan malam bertiga, Suri mengajak Diaz dan Tya berpindah duduk ke ruang tengah. Diawali membahas tentang tiga bom yang tinggal dilempar menunggu waktu yang pas.

"Ada kabar terbaru dari pengacara, besok siang akan ke sini nganterin akta cerai. Alhamdulillah bisa diurus cepat."

"Ibu, jujur. Perasaan Ibu sedih atau happy? Jangan ada dusta di antara kita bertiga." Diaz menunjukkan keseriusan ucapannya melalui tatapan tajam tanpa senyum.

"Happy, Nak. Sangat happy. Rasanya merdeka. Ibu pengen merayakan dengan liburan bersama kalian. Pas banget cerainya Desember. Tutup tahun sekaligus tutup cerita sebagai Nyonya Hilman."

Tya tersenyum simpul melihat ibu mertuanya berbicara dengan wajah semringah. Mata adalah jendela hati. Cahaya yang berkilat pada manik mata mewakili kejujuran lisan.

"Terus bomnya mau diledakkan kapan, Bu?"

"Semingguan lagi deh. Sebelum kita pergi liburan. Diaz, Tya, punya rekomendasi pantai mana? Ibu pengen ke pantai yang tenang tidak banyak pengunjung meskipun bentar lagi masuk musim liburan."

Tya menggeleng. "Aku nggak punya rekomendasi. Abey?"

"Nanti deh searching dulu."

"Oke. Masih ada waktu buat prepare. Satu lagi yang ingin Ibu bahas. Ibu mau libatkan Tya di bisnis yang Ibu handle. Ingin ada keluarga yang bisa dipercaya. Diaz ngizinin nggak Tya berbisnis bareng Ibu?'

"Kalau kerja bareng Ibu, aku ngizinin. Kalau kerja di di perusahaan lain, tidak boleh. Buat apa? Karena kalau kerja tujuannya uang, aku bisa kasih Tya berapa pun. Kalau Ibu dan Tya selalu sama-sama, aku bakal tenang."

Tya mengangguk paham. Baru kemarin saat pillow talk Diaz menawarkan jika ingin berkegiatan tinggal bilang. Asal jangan mencari kesibukan dengan bekerja di kantor orang lain.

Keesokan harinya, pengacara datang di jam dua siang. Tya ikut menemani Suri menerima tamu karena sang mertua memintanya. Akta cerai diserahkan Anton. Setelah bertamu selama setengah jam, sang pengacara pamit pulang sekaligus pamit dari tugasnya yang sudah selesai.

Joko, kau harus tahu. Ibu mertuaku udah jadi janda makin cantik deh. Shiny.

"Tya, besok kondisimu udah fit belum?"

"Sekarang juga udah fit, Bu." Tya menunggu apa yang sang mertua ingin sampaikan karena menurutnya ini baru kalimat pembuka.

"Besok kita ke salon. Waktunya memanjakan diri dari ujung rambut sampai ujung kaki."

Ini bukan pertanyaan tetapi ajakan tegas yang tidak bisa ditawar. Tapi memang sayang kalau dilewatkan. Perawatan tubuh itu bagian dari self care sekaligus self healing. Apalagi ini pasti biayanya ditanggung sang mertua.

"Aku sih siap. Tapi mau izin dulu sama Mas Diaz ya, Bu."

"Iya, Nak. Harus selalu izin. Eh, ngomong-ngomong Diaz, Ibu beneran kepo deh. Abey itu artinya apa sih? Ibu dengernya aja sweet gitu, tapi juga lucu." Suri tertawa kecil. Map pemberian pengacara masih dibiarkan tergeletak di meja.

Tya terkekeh melihat Ibu Suri menatapnya sambil mengerling. "Awalnya kan waktu di Bandung diancam sama Mas Diaz harus ganti panggilan 'Mas' sama panggilan spesial. Nggak mau pasaran katanya. Kalau tidak, check in diperpanjang semalam lagi padahal besoknya mau jemput Ibu ke bandara kan. Dalam hitungan menit harus mikir. Jadi Abey itu terinspirasi dari ..."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!