Indonesia
NovelToon NovelToon

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

BAB 1

Di depan cermin toilet, Nisa menepuk-nepuk puff bedak ke pipinya. Gadis manis berlesung pipi itu senyum-senyum sendiri membayangkan akan mendapatkan kejutan istimewa di hari anniversary ke-8 nya dengan sang kekasih, Sandi. Jika tahun kemarin ia mendapat janji, semoga tahun ini janji itu ditepati, Sandi akan melamarnya.

Hari itu, tepatnya 1 tahun silam, Sandi memberinya hadiah sebuah gelang titanium. "Pengennya ngasih cincin, sekaligus ngiket kamu, tapi...tabunganku masih belum cukup untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Do'ain ya, semoga rezekiku makin lancar. InsyaAllah, tahun depan aku lamar kamu."

Meksi hanya janji, tapi sudah bisa membuat hati Nisa melambung tinggi. Mereka pacaran sejak SMA. Saat mereka jadian, Nisa kelas 2, sementara Sandi kelas 3. Hingga hari ini, tepatnya 8 tahun, hubungan itu tetap terjalin, meski beberapa kali ada masalah, tapi tak sampai putus.

"Cie, cie...yang mau dilamar." Dinda menyenggol bahu Nisa.

"Sialan kamu, Din!" Nisa melotot, menunjukkan lip creamnya yang belepotan, keluar dari garis bibir gara-gara disenggol Dinda.

"Gak boleh marah, nanti aura calon pengantinnya hilang." Goda Dinda sambil menahan tawa.

Di toilet hanya ada mereka berdua karena hampir seluruh staff sudah pulang lebih dulu. Sebagai offlice girl, jam pulang mereka memang bisa dibilang paling akhir, beda setengah jam dari staf. Belum lagi, hari ini mereka lembur, jadi pulang jam 7 malam.

"Belum dilamar, Din." Nisa mengusap lip cream yang belepotan mengunakan tisu.

"Kan udah OTW. Buruan, jangan lama-lama touch up, Pak Sandi pasti udah nunggu di kafe tempat kalian janjian. Tadi aku lihat, dia udah pulang jam 6."

Nisa mengambil sisir di tas, melepas kunciran rambutnya lalu merapikannya. Pengennya sih digrai, tapi ada bekas ikat rambut, jadinya ia kuncir balik.

"Udah cantik." Dinda sampai geleng-geleng melihat Nisa yang lagi dan lagi memastikan penampilannya.

"Beneran, Din?" Mungkin karena mau bertemu pujaan hati, Nisa jadi butuh validasi.

"Beneran. Yakin deh, Pak Sandi bakalan langsung bilang, Nisa, maukah kamu menikah denganku?"

Nisa menutup mulut, tertawa cekikikan melihat Dinda cosplay jadi Sandi.

"Pak Sandi beruntung banget dapat cewek cantik plus pekerja keras kayak kamu." Dinda menyentuh bahu Nisa. Mereka sudah kenal lama, sejak bekerja di perusahaan ini, kurang lebih 6 tahun yang lalu.

"Shutt!" Nisa meletakkan telunjuk di depan bibir. "Jangan kenceng-kenceng, nanti ada yang denger."

"Semua udah pulang."

Di kantor ini, tak ada yang tahu jika Nisa adalah kekasih Sandi. Sandi meminta Nisa merahasiakan itu dengan alasan privasi.

Nisa meninggalkan gedung tempat ia bekerja, mengambil motornya di tempat parkir lalu melesat menuju sebuah kafe yang memorable bagi mereka. Sejak kafe itu berdiri, disanalah tempat favorit mereka untuk ngobrol dari hati ke hati atau sekedar makan. Dan ini tahun ketiga mereka merayakan anniversary disana.

Memasuki halaman kafe, senyum Nisa langsung mengembang. Ia melihat mobil putih milik Sandi, mobil yang tahun lalu dibeli kekasihnya itu secara kredit, yang sebagian DP nya, menggunakan uangnya. Tapi ia tak mempermasalahkan soal itu, toh nanti saat mereka sudah menikah, mobil itu akan dipakai bersama.

Sebelum masuk, Nisa kembali mematut wajah di cermin spion, merapikan rambut yang sedikit berantakan akibat helm dan angin jalanan yang lumayan kencang malam ini. Setelah dirasa cukup, ia melangkah menuju pintu masuk. Situasi di dalam tak terlalu ramai, cocoklah, tak terlalu bising untuk yang sedang merayakan anniversary.

"Nis." Sandi mengangkat tangan sambil sedikit berdiri melihat Nisa celingukan.

Gadis berlesung pipi yang namanya baru dipanggil itu, langsung menghampiri sang kekasih dengan senyuman manisnya. Meski sudah 8 tahun, rasanya tak ada yang berkurang, ia masih sering tersipu malu di depan Sandi, jantungnya juga masih kerap berdebar saat ditatap oleh cinta pertamanya itu.

"Nunggu lama ya, maaf." Nisa memasang ekspresi bersalah, menarik kursi tepat di hadapan Sandi lalu duduk. Ia meletakkan tas selempangnya di kursi sebelah yang kosong, tas yang berisi hadiah anniversary yang telah ia siapkan jauh-jauh hari. Baginya, anniversary itu adalah sesuatu yang wajib dirayakan, dan hadiahnya wajib spesial, meski harus merogoh kocek dalam-dalam.

"Lumayan." Sahut Sandi dengan wajah sedikit canggung, beda dengan biasanya.

"Kenapa, Kak?" Sebagai orang yang telah lama menjalin hubungan, Nisa bisa membaca bahasa tubuh Sandi. Ada yang beda dengan kekasihnya itu.

"Enggak kok." Sandi menggeser satu gelas ice matcha latte ke hadapan Nisa, minuman yang sudah ia pesan saat baru datang tadi.

"Makasih." Nisa langsung mengaduk lalu menyedot minuman favoritnya tersebut. "BTW, happy anniversary," ujarnya sambil tersenyum lebar.

"Ha, happy anniversary."

Senyum Nisa perlahan memudar, keningnya mengernyit, merasa seperti ada yang beda dengan Sandy. Kekasihnya itu terlihat seperti ada beban berat. "Ada apa sih, Kak? Kamu kok kayak gak nyaman gitu. Kayak ada masalah. Ini anniversary kita ke 8 loh, kamu gak happy?"

Sandi hanya tersenyum sambil mengusap tengkuk, terlihat seperti sedang mengurangi kegelisahan.

"Udah pesen makanan belum? Aku pesenin ya." Nisa mengambil buku menu yang ada di tengah-tengah meja.

"Aku gak usah."

"Hah!" Nisa mengangkat wajah, menatap Sandi dengan mulut setengah terbuka.

"Aku gak lama."

"Ma, maksudnya?" Kegelisahan mulai menyelimuti hati Nisa. Ia mencoba untuk berfikiran positif, mungkin Sandi mau mengajaknya ke tempat lain yang lebih romantis. Iya, mungkin seperti itu.

"Nis, aku mau kita putus."

Deg

Nisa terperangah, terdiam beberapa saat untuk mencerna ucapan Sandi barusan.

"Kita...sampai disini saja."

Tubuh Nisa mulai gemetar, wajahnya pias, kedua tanganya memegang pinggiran kursi, seperti sedang mencari kekuatan disana. Sandi terlihat sangat serius dengan ucapannya. "Alasannya?" tanyanya dengan suara tercekat.

"Orang tuaku tidak merestui hubungan kita."

Nisa tertawa pelan, sekaligus pengen nangis. Kenapa alasan itu terdengar seperti sangat dibuat-buat. Bukan satu atau dua tahun, 8 tahun mereka pacaran. Bukan satu dua kali juga ia diajak ke rumah Sandi, beberapa kali ia kesana, meski setahun terakhir ini, hampir tidak pernah sama sekali. Orang tuanya terlihat biasa saja, tidak membencinya, tapi juga tidak bisa dikatanan menyukainya sangat.

"Orang tua ku menginginkan jodoh yang setara untukku. Kamu fahamkan maksudku?" Sandi gelisah, tak berani menatap wajah Nisa. Ia tahu, keputusannya ini pasti menghancurkan hati gadis itu.

Nisa menggigit bibir bawah, menahan tangis.

"Mereka menginginkan menantu yang setidaknya, juga lulusan sarjana, dan memiliki pekerjaan yang setara denganku," lanjut Sandi.

"Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah 8 tahun?" Suara Nisa bergetar, menahan tangis.

"Aku sudah berusaha membujuk mereka, Nis. Tapi sayangnya, mereka tetap tak setuju." Sandi mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu berdiri. "Sekali lagi, aku minta maaf, Nis. Minumannya sudah aku bayar. Aku pergi dulu."

Seperti pengemudi yang tiba-tiba kehilangan arah, Nisa bergeming dengan tatapan kosong. Ia masih diam untuk waktu yang lama, bahkan sampai mobil Sandi meningalkan halaman kafe.

Enggak, ini pasti hanya mimpi. Sandi mencintainya, mereka akan menikah. Iya, ini mimpi. Nisa menampar pelan pipinya sendiri.

"Gak sakit, cuma mimpi." Tubuhnya gemetar, dadanya sesak, berusaha membohongi diri sendiri.

Ia menampar sekali lagi, lebih keras, dan akhirnya, tangisnya pecah. Nisa meremat dada. Ya, dada, karena sakit di pipinya tak sebanding dengan sakit di dadanya. Jantungnya serasa seperti ditikam dengan belati hingga tembus ke punggung, sakit sekali. Ia datang dengan harapan besar, namun kenyataan yang terjadi justru berbanding terbalik, ia dihempaskan dengan begitu kejam, tanpa perasaan.

Nisa membenamkan wajah di atas meja, menumpahkan air mata disana. 8 tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak sekali momen yang tercipta di antara mereka. Banyak juga mimpi yang ingin ia wujudkan bersama Sandi, salah satunya mimpi untuk membina rumah tangga. Tapi, semua yang dibangun selama 8 tahun, kini telah kandas, dan meninggalkan luka yang teramat dalam.

BAB 2

Jika berangkat ke kafe tadi wajahnya full senyum, berbanding terbalik dengan kondisi saat meniggalkan kafe. Sepanjang jalan menuju rumah, Nisa mengendarai motor dengan kecepatan rendah sambil menangis. Beruntung saat ini malam, kegelapan menyamarkan pipinya yang basah, sedangkan deru mesin kendaraan menyamarkan isakannya. Saat berhenti di lampu merah, ia tak bisa menahan bahunya yang berguncang akibat, semoga saja tak ada pengendara lain yang menyadari jika ia tengah sesenggukan sekarang.

Mungkin karena terlalu lama berpacaran, setiap sudut tempat meninggalkan kenangan diantara mereka. Seperti saat ini misalnya. Biasanya saat pulang barengan dengan motor masing-masing, setiap berhenti di lampu merah, Sandi akan membentuk jari jempol dan telunjuknya menjadi simbol love, lalu mengarahkan padanya. Hal kecil, tapi mampu membuatnya tersipu.

"Pelan-pelan, Sayang, jangan ngebut."

Kalimat yang kerap kali Sandi lontarkan saat motor mereka bersisihan di jalan raya juga terus terngiang di telinga Nisa. Sekarang, tak akan ada lagi yang mengingatkannya seperti itu.

Saat melihat jembatan di depan yang akan dilewati, kenangan dengan Sandi kembali melintas. Dulu, mereka pernah membuat konten disana, konten untuk tugas kuliah Sandi.

Air mata Nisa semakin deras mengalir, apalagi saat menunduk sekilas, tas selempangnya membuat ia makin banjir air mata. Bukan hanya karena tas tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari Sandi, tapi juga karena di dalamnya ada kemeja yang ia siapakan untuk hadiah anniversary.

Nisa menepikan motornya di sisi trotoar jembatan. Melepas helm lalu turun dari motor, berjalan ke pinggir jembatan, dekat pembatas. Sungai di bawah sana tak terlalu kelihatan karena gelap, namun suara arusnya yang deras, terdengar di telinga. Jalan ini memang tak terlalu ramai, jadi tak terlalu bising oleh suara mesin kendaraan.

"Nisa gak pengen lanjut kuliah?" Tanya Erika, ibunda Sandi, sekitar 5 tahun yang lalu saat ia diajak main ke rumah lelaki itu.

"Enggak, Tante."

"Loh kenapa? Kamu kan udah kerja sekarang, kata Sandi gajinya juga lumayan, UMR. Kenapa gak lanjut kuliah, kerja sambil kuliah maksud Tante?"

"Pengennya sih gitu Tante, tapi adik lulus SMA tahun ini, dan dia keterima di salah satu universitas negeri ternama di Jakarta. Ibu nyuruh aku bantu biaya kuliah adik. Kalau gak kuliah sayang, kan sudah keterima."

"Sayang sekali ya Nisa, padahal kalau tahun lalu kamu mau ikut tes perguruan tinggi, Tante yakin kamu pasti keterima. Kata Sandi kamu juara terus meski jak satu sih, kadang dua kadang tiga."

Nisa tersenyum kecut. "Iya sih Tante, tapi mau gimana lagi, tahun lalu Ibu sama Bapak masih harus biayain adik SMA, jadi gak sanggup kalau satu SMA, satu kuliah." Ayah Nisa hanya pekerja di salah satu toko bangunan yang tak jauh dari rumah mereka.

"Kenapa tahun lalu kamu gak coba nyari beasiswa? Sayang loh Nisa, kamu siswa berprestasi."

"Kondisi ekonomi keluarga sedang buruk Tante, jadi Nisa musti bantu dengan bekerja."

Erika menghela nafas panjang sambil manggut-manggut. "Padahal kamu pintar, cantik, tinggi, kalau saja kuliah, pasti bisa dapat pekerjaan bagus."

Senyum getir tersungging di bibir Nisa saat sekelebat ingatan masa lalu melintas di benaknya. Harusnya sejak dulu ia sadar, jika Erika menginginkan jodoh yang setara untuk Sandi. Wanita yang berpendidikan tinggi dan punya karier bagus. Seluruh anggota keluarga Sandi lulusan sarjana, termasuk kedua orang tua dan kakak kakaknya. Ibunya guru SMP, sementara ayahnya jadi ASN di salah satu BUMN, mereka pasti malu punya menantu hanya lulusan SMA.

Nisa membuka tas selempang yang ia pakai, menatap bungkusan kado berisi kemeja mahal yang ia beli dengan uang gajinya bulan ini, meski resikonya, bulan ini ia tak bisa nabung.

"Jangan, Mbak!"

Nisa hendak menoleh saat mendengar orang teriak, namun tiba-tiba, lenganku ditarik kasar hingga tubuhnya jatuh. Tapi ia tidak jatuh ke trotoar yang keras, melainkan ke sesuatu yang lebih empuk.

Nisa panik, buru-buru ia bangun saat menyadari ia jatuh di atas tubuh seseorang.

"Apa-apaan sih?" Nisa bangkit dengan ekspresi kesal, menatap laki-laki berjaket hijau khas ojol yang masih terbaring di trotoar sambil meringis.

"Jangan bunuh diri Mbak, dosa." Laki-laki itu perlahan bangkit sambil membersihkan pakaiannya yang kotor karena debu trotoar.

"Bunuh diri?" Nisa mengernyit.

"Lagi patah hati ya Mbak? Patah hati ya patah hati, tapi jangan sampai bunuh diri. Dosa. Bunuh diri gak akan menyelesaikan masalah, yang ada menambah masalah. Kamu bakal dihajar di liang lahat oleh malaikat Munkar Nakir."

"Gak usah sok tahu, emang kamu sudah pernah mati?" Nisa mendengus kesal. Ia kembali ke pinggir jembatan, mengambil kado di dalam tas.

"Mbak, jangan!" Ojol itu kembali menarik lengan kiri Nisa menjauhi pembatas jembatan.

"Apa sih?" Nisa menarik lengan kirinya hingga lepas. "Aku mau buang ini, bukan mau bunuh diri." Ia menunjukkan kado di tangan kanannya.

"Oh, bukan mau bunuh diri ya." Driver ojol bernama Januar yang biasa dipanggil Ojan itu, garuk-garuk kepala.

"Makanya jangan sotoy jadi orang." Nisa mendelik kesal.

"Maaf, Mbak. Baru tahu kalau sungai punya tanggal lahir."

"Maksudnya?"

"Lagi ulang tahunkan sungainya." Menunjuk kado di tangan Nisa. "Ah, rugi kemarin aku ke barber shop potong rambut biar ganteng, ternyata kalah sama sungai yang ilalang di samping-sampingnya gak pernah dipotong. Aku ulang tahun, gak ada yang ngasih kado."

Nisa membuang nafas kasar. Ia lalu menepuk kado tersebut ke dada Ojan. "Nih ambil, aku kasih."

"Beneran, Mbak?" Ojan memegang kado yang dibungkus kertas warna biru tersebut.

Nisa tak menjawab, ia berjalan menuju tempat motornya diparkir.

"Mbak, makasih banget loh." Ojan berjalan mengekori Nisa. "Oh iya, kenalin, aku Ojan." Ia mengulurkan tangan pada Nisa yang sedang mengenakan helm. Merasa tangannya di anggurin, ia mengelap ke celana jeansnya. "Bersih kok, Mbak."

Nisa tetap tak peduli, ia naik ke atas motor, lalu menyalakan mesin.

"Mbak, kamu namanya siapa?"

Pertanyaannya tak digubris, Nisa malah melesat pergi dengan motor maticnya.

Nisa kembali menyusuri jalan menuju rumah, berusaha untuk tidak menangis lagi agar nanti sesampainya di rumah, tak ada orang yang bertanya soal matanya yang bengkak. Tapi ternyata untuk tidak menangis saat patah hati itu terlalu sulit, air matanya tak bisa diajak kompromi, terus saja mengalir. Berhenti di lampu merah, ia menaikkan kaca helm, menyeka air mata.

"Mbak."

"Astagfirullah!" Nisa kaget saat Ojan tiba-tiba ada di sebelah, duduk nyaman di atas motor matic besarnya sambil tersenyum.

BAB 3

Nisa mulai gelisah, dari tadi ia berkali-kali menatap kaca spion, memastikan apakah motor putih itu masih membuntutinya. Sialnya iya. Ia jadi ngeri kalau gini. Gimana kalau ternyata dia adalah begal? Tapi...sepanjang jalan yang ia lewati sampai rumah, adalah jalanan ramai, masa iya ada yang berani begal? Dan lagian, motornya jelek, motor matic sejuta umat yang kembarannya ada dimana-mana, dan tahunnya juga sudah lama banget, body udah baret-baret, dulu ia belinya second.

Ia menambah kecepatan motor, tapi apalah daya, motor bututnya mana bisa bersaing dengan motor kekinian Ojan.

"Pelan-pelan, Mbak." Teriak Ojan yang sengaja mensejajari Nisa.

Nisa menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan. Enggak, dia gak mau kayak gini terus, ketakutan. Melewati jalanan yang lumayan terang dengan banyaknya lampu jalan dan kursi besi di trotoar, Nisa menepikan motornya lalu berhenti. Tanpa melepas helm, langsung turun, menemui Ojan yang berhenti di belakangnya.

"Kamu ngikutin aku?"

"Enggak." Ojan menggeleng cepat. Pria itu masih tetap duduk di atas motornya. "Aku mau pulang, kebetulan jalannya sama. Ini jalan umum Mbak, gak usah kegeeran."

Nisa mendengus kesal. "Kalau memang enggak, kenapa aku berhenti kamu ikut berhenti?" tanyanya ketus.

"E... e...Ketahuan deh, hehehe." Ia tertawa garing sambil memasang wajah tanpa dosa yang nyebelin banget, bikin Nisa pengen nampol. "Maaf Mbak, gak ada niat buruk kok. Aku cuma mau mastiin kamu selamat sampai tujuan. Itu aja."

"Emang kamu siapa?"

"Aku." Ojan menunjuk dirinya. "Namaku Abrisam Akhasia Januar, panggilannya singkat padat dan jelas, Ojan. Tadi kan udah kenalan."

"Gak nanyak!" Nisa melotot.

"Loh, tadi nanya."

Nisa membuang nafas kasar. "Maksudku, kamu siapa aku? Bukan siapa-siapa kan. Jadi gak perlu repot-repot mastiin aku selamat sampai tujuan segala."

"Aku cuma gak bisa aja Mbak, ngebiarin cewek yang nangis sepanjang jalan, sendirian. Takut kenapa-kanapa."

"Kamu..." Nisa tak menyangka kalau Ojan tahu.

"Mata kamu gak bisa bohong, Mbak." Ojan melepas helm, mencantolkan ke kaca spion. "Pas aku ngeliat kamu di jembatan tadi, mata kamu bengkak, kayak habis disengat sejuta lebah."

Nisa mendengus mendengar ejekan Ojan. Tapi apa iya, matanya sebengkak itu, sampai orang langsung tahu.

"Hehehe, becanda Mbak. Tapi yang jelas, kalau seorang cewek berani berdiri sendiri di jembatan tadi, udah pasti sedang punya masalah. Konon ceritanya, banyak orang yang liat penampakan Mbak kunti disana. Ngeri kan." Ojan bergidik.

"Tahu gak, penelitian membuktikan, kalau orang yang sedang dalam masalah, menjadi lebih pemberani," lanjut Ojan. "Semakin besar masalah, semakin berani dia. Contohnya, orang yang punya banyak masalah, berani minum pembersih lantai atau obat nyamuk. Coba yang gak punya masalah, mana berani. Jangankan minum obat nyamuk, gak sengaja pas mangap kena semprot dikit aja, kumur-kumurnya langsung ribuan kali, takut mati."

"Tenang aja, aku belum sepemberani itu." Nisa memutar kedua bola matanya malas.

"Bagus kalau gitu. Tapi tetap saja, biarkan saya ngintilin Mbak sampai rumah. Takutnya di jalan pikiran Mbak tiba-tiba kosong, kerasukan Mbak Kunti, oleng, terus nabrak, bahayakan. Orang kalau ada masalah, kalau bisa jangan bawa kendaraan sendiri, mending naik ojol aja, aman."

"Promosi, Mas?" Nisa nyengir.

"Anggap aja gitu," Ojan cekikian. "Sambil menyelam minum air dan sekaligus kalau bisa nyari ikan sekalian."

Nisa menghela nafas panjang, lalu balik badan. Bukan kembali ke motornya, melainkan menuju salah satu kursi kosong yang ada di trotoar. Ia duduk disana, menatap nanar kendaraan yang berlalu lalang. Matanya tiba-tiba kembali berkaca-kaca. Dulu, Sandi sering ngajak dia duduk di trotoar seperti ini. Ngobrol hal-hal receh, tapi rasanya menyebabkan sekali.

Ojan beranjak dari motornya, menghampiri Nisa, duduk di sebelahnya. "Semua orang punya masalah Mbak, bukan hanya kamu sendiri. Dan Allah ngasih cobaan itu sesuai kemampuan, jadi jangan pernah mikir itu terlalu berat atau kamu merasa gak sanggup."

Nisa meletakkan helm di sebelah kaki bangku, menutup wajah dengan kedua telapak tangan lalu menangis.

"Haduh, malah nangis."

"Hwaaa!"

Tangis Nisa makin kencang, membuat Ojan panik. "Mbak, jangan kenceng-kenceng, nanti dikira orang, kamu hamil tapi aku gak mau tanggung jawab."

"Kenapa sih, cowok itu jahat banget?"

"Enggak Mbak, aku gak jahat kok." Ojan menggeleng cepat.

"Apa 8 itu gak berarti apa-apa?"

Ojan garuk-garuk kepala, bingung.

"Kamu tahu, hari ini aku diputusin cowokku setelah pacaran 8 tahun." Nisa tiba-tiba ingin curhat pada orang yang tak dikenal. Ingin mengurangi sesak di dada, tanpa merasa malu karena tak kenal dan mungkin ini pertemuan pertama sekaligus terakhir.

Mulut Ojan langsung menganga lebar. "Gak salah Mbak, pacaran 8 tahun? Itu kalau buat nyicil mobil, udah dapat 2 loh."

Ngomongin soal nyicil mobil, Nisa menangis sekaligus tertawa. Tahun lalu, uangnya dipinjam Sandi untuk tambah DP mobil.

"Lagian sabar banget sih, nungguin kepastian sampai 8 tahun," Ojan tersenyum sambil geleng-geleng.

Nisa tersenyum kecut, benar yang dikatakan Ojan. 8 itu terlalu lama untuk ukuran orang pacaran. 8 tahun jagain jodoh orang, 8 tahun buang-buang waktu, energi, dan uang.

"Dia punya yang lain?" Ojan jadi penasaran, menoleh pada Nisa yang wajahnya merah padam karena menangis.

"Mungkin, aku juga gak tahu. Tapi alasan yang dia katakan, tidak setara." Tersenyum simpul.

"Gak setara?" Ojan mengerutkan kening. "Maksud dia kaya kamu miskin gitu?"

Nisa auto melirik tajam. Dia memang miskin, tapi apa iya harus disebutkan sejelas itu.

"Maaf Mbak, gak menghina." Ojan mengusap tengkuk, tersenyum keki. "Cuma menebak."

"Menurut kamu, lulusan SMA itu memalukan ya?" Nisa bertanya, tapi tatapannya lurus ke depan.

"Enggaklah. Pemerintah aja mewajibkan sekolah 9 tahun, itu artinya sampai SMP aja. Berarti lulusan SMA ya udah termasuk bagus."

"Sayangnya, gak semua orang pemikirannya kayak kamu. Masih banyak orang yang mikirnya, kalau anaknya sarjana, jodohnya juga harus sarjana, anaknya kerja kantoran, jodohnya juga musti seimbang." Nisa mengambil tisu di dalam tas, menyeka air matanya.

"Enggaklah. Aku yakin gak semua orang pikiranya gitu."

"Mereka fikir, aku gak pengen kuliah apa? Mereka fikir, aku gak pengen kerja kantoran? Aku juga pengen." Nisa makin sesenggukan, bahunya berguncang hebat. "Tapi kadang kondisi yang tidak memungkinkan. Andai disuruh milih, aku juga pasti milih kuliah, milih kerja kantoran."

"Sabar, Mbak." Ojan pengen mengusap bahu Nisa, tapi takut dianggap gak sopan.

"Kamu sendiri, pasti kamu kalau bisa milih, gak mau kan, kerja jadi ojol. Kamu pasti juga pengen kerja kantoran, duduk di tempat ber AC tanpa harus panas-panasan di jalan," menoleh pada Ojan.

"Ini pilihanku kok, aku suka jadi ojol." Namun smua itu hanya diucapkan Ojan dalam hati. Di depan Nisa, ia hanya tersenyum simpul.

"Siapa sih yang bikin dongeng Cinderella, aku pengen protes. Jangankan orang miskin dapat jodoh pangeran, dapat jodoh staf kantor saja gak bisa." Nisa kembali menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menangis.

"Gak ada yang tidak mungkin Mbak. Positif thinking, mungkin Allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik untuk kamu."

"Gak usah ngedongeng."

"Diaminin napa, Mbak."

"Aamiin." Ujar Nisa ogah-ogahan.

"Yang kenceng dong, kayak orang belum makan 7 tahun aja."

"AAMIIN!" teriak Nisa kencang hingga beberapa pengemudi motor menoleh ke arahnya.

Ojan menutup mulut, tak bisa menahan tawa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!