Indonesia
NovelToon NovelToon

Bukan Mesin Atm Keluarga Mu

01

"Maira,,,!". Suara teriakan sudah terdengar memekakkan telinga.

Maira yang sedang mengaduk nasi goreng di wajan segera mematikan kompor, dan berlari ke arah sumber suara.

"Ada apa Ma?" Tanya Maira ibu mertua nya yang sedang berkacak pinggang.

"Kamu lelet banget ya, sarapan belum siap. Ayu bisa terlambat ke sekolah kalau seperti ini!" Bentak Mama Wina, ibu mertua nya Maira.

"Maaf ma, sebentar lagi juga siap!" Jawab Maira dengan kepala tertunduk.

"Maka nya kalau bangun itu lebih pagi, biar tidak kesiangan!" Bentak Mama Wina lagi.

"Buruan sana, muak aku melihat wajah mu!" Bentak Mama Wina dengan kasar.

"Baik Ma!" Maira bergegas ke belakang menyelesaikan pekerjaan nya membuat sarapan.

Di rumah ini, Maira tinggal bersama suami nya Azam serta adik ipar nya, Lara. Tapi Nia dan anak nya Ayu, setiap pagi selalu datang ke sini sekedar untuk sarapan. Nia adalah istri nya Damar, kakak nya Azam, putra pertama Mama Wina. Damar sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan, sehingga Nia dan anak nya, menjadi tanggung jawab Azam.

Sebenar nya sebelum meninggal, Damar sudah punya rumah sendiri, rumah itu sekarang di tempati oleh Nia dan putri nya. Jarak nya hanya beberapa rumah dari rumah ini, tapi Nia dan anak nya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ini.

Maira menata makanan yang sudah di masak nya di atas meja, Mama Wina memandangi Maira dengan tatapan sinis.

"Ayu, cepat makan nak. Nanti kau bisa terlambat ke sekolah!" Mama Wina berkata dengan lembut pada cucu nya.

"Baik nek!" Jawab gadis kecil berusia 7 tahun itu.

"Kamu juga Nia, segera sarapan jangan sampai kamu sakit!" Mama Wina bisa bicara dengan lembut pada Nia, tapi tidak pada Maira.

Maira segera kembali ke kamar nya, dia harus mandi dan bersiap. Karena Maira juga harus pergi bekerja. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, Lara memanggil nya dengan suara lantang.

"Mbak Maira, mana baju kemeja biru ku? Kenapa tidak ada di kamar ku?" Tanya Lara dengan suara yang melengking.

"Mungkin masih di keranjang pakaian bersih, aku belum sempat menyetrika nya!" Jawab Maira.

"Apa? Mbak keterlaluan banget ya, baju itu mau aku pake hari ini!" Bentak Lara dengan nada tinggi.

"Ada apa sih, pagi - pagi udah ribut?" Tanya Azam yang sedang berjalan menuju meja makan.

"Itu tu Mas, istri mu tidak becus banget kerjaan nya. Masa baju aku belum dia setrika!" Adu Lara pada kakak nya.

"Maira, benar yang di katakan oleh Lara?" Tanya Azam.

"Benar mas, tapi aku gak sempat buat setrika. Aku juga harus kerja!" Jawab Maira memberikan alasan.

"Alah, dasar kamu saja yang pemalas!" Dengan cepat Mama Wina berkata.

Maira hanya menarik nafas berat, percuma dia menjawab ucapan ibu mertua nya. Yang ada di semakin di salah kan.

Maira langsung pergi ke kamar nya, dia harus bersiap untuk pergi ke kantor. Dia tidak ingin terlambat jika harus berdebat dengan mereka semua.

Maira tinggal di rumah nya sendiri, tapi di sini dia di perlakukan seperti pembantu. Harus melayani mertua dan adik ipar nya, selain itu juga dia harus melayani Kania, istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.

Maira mandi dengan cepat, setelah itu langsung bersiap. Maira bergegas ke meja makan untuk sekedar mengisi perut nya, tapi saat berada di meja makan semua nya sudah bubar. Maira hanya menatap sedikit sisa nasi goreng untuk diri nya.

'Ya Allah tega sekali mereka, padahal aku yang memasak untuk mereka semua!' Batin Maira di dalam hati.

Maira langsung memakan nasi goreng yang tersisa, setelah itu dia membereskan meja makan secepat kilat. Dia tidak sempat mencuci semua piring kotor, karena hari ini dia ada meeting penting di kantor nya.

"Ayo mas kita berangkat!" Ajak Maira pada Azam.

Azam sedang bicara dengan Mama nya dan juga Nia, tapi Maira tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

"Maira, hari ini kita antar Ayu dulu ke sekolah. Mbak Nia harus mengantarkan ibu, jadi tidak bisa mengantar kan Ayu!" Azam berkata pada istri nya .

"Ya udah deh mas, buruan jangan sampai telat. Ayo Ayu!" Maira langsung menggandeng tangan keponakan nya itu dan menuntun nya masuk ke dalam mobil.

Azam bergegas masuk di kursi kemudi, sedang Maira duduk di sebelah nya. Ayu duduk di bangku tengah sendirian, Azam melajukan roda empat itu menuju ke sekolahan nya Ayu.

Mobil itu adalah mobil milik Maira, Maira membeli nya sebelum dia menikah dengan Azam. Tapi setelah dia menikah dengan Azam, Mama Wina malah mengklaim mobil itu sebagai milik putra nya. Maira tidak pernah mempermasalahkan hal itu, Azam yang mengantar dan menjemput nya sepulang kerja.

Mobil itu berhenti di depan sekolahan nya Ayu, gadis kecil itu langsung turun setelah berpamitan pada Azam dan Maira.

"Sekolah yang rajin ya nak, biar jadi orang sukses!" Nasihat Maira pada Ayu sebelum dia turun.

"Iya tante!" Jawab Gadis kecil itu.

Setelah memastikan Ayu memasuki gerbang sekolah nya, Baru lah Azam dan Maira pergi dari sana.

Azam langsung mengantar kan Maira ke kantor nya, dia yang membawa mobil ini tempat kerja nya. Azam memamerkan mobil ini pada semua orang sebagai mobil nya, begitu pula dengan Mama Wina. Di komplek perumahan nya, Mama Wina selalu mengatakan pada semua orang, bahwa putra nya seorang manajer.

Padahal sebenar nya, Azam hanya lah staf biasa. Maira merahasiakan semua itu agar Azam tidak kehilangan harga diri nya di depan semua orang, khusus nya di depan keluarga nya sendiri. Tanpa mereka ketahui bahwa Maira lah sebenar nya seorang manager, tapi tidak ada dari mereka yang tahu, termasuk Azam. Bu Wina selalu menghina dan merendah kan Maira sebagai staf biasa, tapi kenyataan nya semua itu justru terbalik.

"Mas, nanti sore jangan telat lagi jemput aku ya!" Maira berkata saat mobil berhenti di depan gerbang kantor nya.

"Iya, aku gak akan telat!" Jawab Azam singkat.

Maira segera keluar dari dalam mobil nya, dia melangkah kan kaki nya memasuki lobi kantor. Di lobi dia berpapasan dengan Arini, sahabat jya sekaligus rekan kerja nya.

"Masih di antar kan suami mu, Mai?" Tanya Arini.

"Iya, mobil di bawa sama mas Azam!" Jawab Maira singkat.

"Mai, itu kan mobil mu. Kok jadi suami kamu yang menguasai nya?" Tanya Arini lagi.

"Udah lah Rin, biarin aja. Kan mas Azam memang gak punya mobil, jadi apa salah nya dia pake mobil istri nya!" Jawab Maira lagi sambil tersenyum.

Arini hanya menggeleng kan kepala melihat sikap Maira, menurut nya Maira terlalu memanjakan suami nya. Padahal suami nya adalah tipe laki - laki yang di setir ibu nya.

02

Waktu sudah menunjukkan jam 16.00 Wib, sudah waktu nya para karyawan pulang dari kantor nya. Tidak terkecuali Maira, dia pun segera membereskan meja nya. Maira segera turun ke lobi, dia akan menunggu suami nya datang menjemput.

"Belum datang suami mu, Mai?" Tanya Arini yang kebetulan juga ingin pulang.

"Belum Rin, mungkin sebentar lagi!" Jawab Maira sambil tersenyum.

"Ya udah deh, barengan aku aja. Aku anter kamu sampai rumah!" Arin menawarkan batuan nya pada Maira.

"Gak usah kok Rin, makasih ya. Aku tunggu mas Azam saja!" Tolak Maira dengan lembut.

"Ini udah sore loh Mai, yakin kamu mau nunggu?" Tanya Arini lagi.

"Yakin kok, udah deh pulang sana!" Usir Maira sambil bercanda.

"Ya udah, aku pulang. Bye,,,!" Gadis bertubuh ramping itu melambai kan tangan nya pada sang sahabat.

Maira duduk sendirian di lobi, satu persatu para karyawan sudah pulang. Tinggal OB dan OG yang tengah membersihkan kantor dan satpam yang berjaga di depan. Sudah hampir setengah jam Maira menunggu, tapi tidak ada tanda - tanda bahwa Azam akan datang menjemput nya.

Maira mengeluarkan ponsel nya, dia menghubungi Azam. Tapi tidak tersambung, berulang kali dia menelepon tapi yang terdengar hanyalah suara operator saja.

"Kemana sih mas Azam? Udah sore gini!" Maira kesal sendiri.

Maira mengirim kan pesan pada suami nya, tapi hanya centang satu berwarna abu- abu. Maira masih tetap menunggu suami nya datang menjemput nya, tapi hingga lebih dari satu jam Azam tidak kunjung datang.

Maira segera memsan taksi online dari ponsel nya, dia tidak bisa menunggu lagi tanpa kepastian seperti ini. Tidak berselang lama, taksi online yang di pesan oleh Maira datang. Maira langsung pulang ke rumah nya.

Taksi itu berhenti di depan rumah, Maira segera turun dan dia melihat tidak ada mobil nya di halaman rumah. Rumah juga dalam keadaan sepi, seperti nya tidak ada orang di rumah.

Maira langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia bawa, benar saja dugaan Maira, mereka semua tidak ada du rumah.

"Astagfirullah hal adzim, bisa - bisa nya ibu membiarkan rumah berantakan seperti ini!" Guman Maira sambil mengusap dada nya sendiri.

Keadaan rumah seperti kapal pecah, sampah bungkus cemilan berserakan diatas meja dan sofa ruang tamu. Begitu pula dengan remahan cemilan yang bertaburan di mana- mana, pemandangan yang menjijikkan menurut Maira.

Maira langsung mengganti pakaian nya dengan pakaian rumahan, dia tidak bisa melihat rumah nya dalam keadaan seperti ini. Rumah ini masih dalam proses kredit, baru berjalam 3 tahun. Maira lah yang membayar uang muka dan membayar cicilan nya selama 3 tahun ini, tapi Mama Wina menganggap ini adalah rumah putra nya.

Setelah selesai membereskan ruang tamu, Maira langsung beranjak ke dapur. Keadaan dapur dan ruang tamu tidak jauh berbeda, piring kotor menumpuk di wastafel. Tidak ada yang mau mencuci nya, kecuali Maira sendiri.

Mau tidak mau, Maira sendiri yang membereskan semua nya. Setelah selesai mencuci piring, Maira bergegas mandi dan sholat magrib. Karena saat ini memang sudah memasuki waktu sholat magrib, tapi Azam dan yang lain nya belum ada tanda - tanda mau pulang.

"Kemana mas Azam dan yang lain nya? Di hubungi juga tidak bisa!" Maira berkata pada diri nya sendiri.

Setelah menyelesaikan 3 rakaat nya, Maira merasa lapar. Membereskan seluruh kekacauan di rumah nya telah menguras banyak energi nya, tapi dia merasa sangat lelah sehingga dia malas untuk memasak.

"Badan ku rasa nya lelah sekali, aku pesan saja makanan dari luar. Mereka juga tidak tahu kapan pulang, aku pesan untuk diri ku sendiri saja. Nanti jika mereka pulang, baru pesan lagi!" Maira bermonolog pada diri nya sendiri.

Maira langsung memesan makanan secara daring, dia berselancar di dunia maya sambil menunggu pesanan nya datang. Tapi tanpa di sengaja, di beranda nya muncul postingan Nia, sebuah foto di mana mereka semua sedang makan di sebuah restoran.

"Jadi mereka semua ada di sini, mereka keluar tanpa mengajak ku!" Maira mengelus dada nya sendiri.

Ada satu foto yang membuat dada Maira terasa sesak, sebuah foto di mana Nia dan Azam sedang mengapit Ayu di tengah nya. Caption yang di tuliskan oleh Nia benar - benar membuat darah nya mendidih.

'Terima kasih untuk hari ini, sudah mau mengusahakan aku dan Ayu, semoga tetap seperti ini selama nya' Begitu lah bunyi caption yang di tulis oleh Nia.

Orang yang tidak tahu hubungan mereka, akan menilai bahwa mereka adalah keluarga bahagia. Mereka pasti mengira bahwa Azam adalah suami nya Nia. Ada banyak komentar di dalam unggahan tersebut, rata - rata dari mereka mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang serasi, keluarga yang bahagia.

Tapi ada satu komentar yang memuat Maira semakin geram, komentar itu datang dari Mama Wina, ibu mertua nya.

'Semoga kalian bahagia selama nya, akan tetap seperti ini ke depan nya!' Tulis Mama Wina di kolom komentar.

"Apa - apaan Mama ini, kenapa dia bisa bicara seperti itu!" Maira menghela nafas berat.

Orang lain yang melihat nya akan menyangka bahwa Nia dan Azam adalah pasangan suami istri, padahal sebenar nya mereka adalah saudara ipar. Nia Adalah istri dari Damar, kakak nya Azam yang sudah meninggal dunia.

Suara bel berbunyi, makanan pesanan Maira sudah datang. Bergegas Maira mengambil nya, dan dia pun makan sendirian.

"Aku baru ingat, hari ini mas Azam kan gajian!" Tiba - tiba Maira teringat hari ini adalah tanggal gajian nya Azam.

"Setelah gajian, mas Azam berfoya - foya bersama mereka. Setelah ini mas Azam akan meminta uang pada ku untuk memenuhi semua kebutuhan nya, termasuk uang bulanan untuk Mama Wina, Lara, dan juga Nia. Sedang kan aku sendiri tidak pernah tahu sepeser pun gaji suami ku!" Maira bermonolog sendirian.

Azam sendiri tidak tahu jika Maira adalah seorang manager, dia tidak perduli dari mana Maira mendapat kan uang untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga nya. Yang terpenting, semua keinginan keluarga nya di turuti, itu sudah cukup.

"Tega sekali kamu mas, kamu dan keluarga nu sibuk makan - makan di luar tanpa mengajak ku. Setelah ini aku juga yang harus memenuhi semua kebutuhan kalian semua, keterlaluan kau mas!" Maira tidak bisa membendung air mata nya.

Maira menangis terisak sendirian, kesabaran atas pengabdian nya selama ini mulai goyah. Sedikit demi sedikit logika nya mulai berjalan, bukan lagi hati yang bicara.

"Baik lah mas, jika kau bisa seperti ini pada ku, maka aku pun bisa. Kita akan lihat seperti apa kau tanpa dukungan dari ku!" Guman Maira sambil menghapus sisa air mata nya.

03

Pagi ini masih seperti sebelum nya, Maira bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang. Tadi malam, mereka semua pulang sudah larut malam. Maira tidur lebih awal, dia sengaja tidak menunggu suami nya pulang.

"Mai, hari ini kamu gajian kan. Jangan lupa transfer sama mbak Nia, kebutuhan nya dan Ayu banyak!" Azam berkata pada nya saat sedang sarapan.

"Iya, jangan lupa uang bulanan buat Mama. Siang nanti Mama ada arisan sama teman- teman!" Mama Wina ikut menimpali.

"Uang jajan ku jangan lupa sekalian, mbak!" Lara ikut bersuara.

"Hemmm!" Maira hanya berdehem, dia malas untuk berdebat pagi ini.

"Transfer nya jangan terlalu siang ya Mai, mbak harus beli kebutuhan nya Ayu. Udah pada habis lagi!" Nia ikut bicara seolah -olah Maira adalah pohon uang nya.

Maira tidak menjawab perkataan mereka semua, dia meneruskan sarapan nya hingga selesai. Dia tidak ingin menghancurkan mood nya, jika dia harus meladeni mereka semua.

Seperti biasa nya, mereka semua langsung pergi setelah selesai sarapan. Maira lah yang harus membereskan meja makan sebelum berangkat ke kantor.

Pagi ini, Maira lebih banyak diam, berbeda dari hari - hari sebelum nya. Entah kenapa, acara makan malam mereka tadi malam, masih terasa mengganggu di fikiran nya.

"Mai, jangan lupa uang bulanan untuk mbak Nia!" Kembali Azam mengingat kan sebelum dia turun dari dalam mobil.

Maira tidak menjawab, dia langsung pergi begitu saja. Azam keheranan melihat sikap istri nya, begitu cuek dan dingin pagi ini.

"Kenapa tuh orang, kok diam saja sejak tadi?" Azam bertanya pada diri nya sendiri.

"Apa dia sedang marah ya? Tapi kenapa?" Azam bahkan tidak menyadari kesalahan nya terhadap istri nya.

"Ah sudah lah, ngapain juga mikirin Maira. Yang penting kan semua orang bahagia!" Azam kembali fokus pada kemudi mobil nya.

Sementara itu, Maira langsung memasuki ruangan nya dengan wajah lesu. Arini yang melihat nya merasa heran, dan langsung masuk begitu saja tanpa permisi.

"Kamu kenapa Mai? Kok lesu banget?" Tanya Arini dengan heran.

"Gak papa kok, Rin!" Jawab Maira yang masih berusaha menyembunyikan semua nya.

"Suami mu dan keluarga nya berulah lagi ya?" Tanya Arini penasaran.

Maira tidak menjawab nya, dia hanya tersenyum sambil menatap mata sahabat nya. Arini yang sudah cukup lama mengenal Maira, dia bisa menebak apa yang terjadi dengan sahabat nya itu .

"Coba katakan pada ku, apa lagi yang mereka lakukan pada mu?" Tanya Arini dengan geram.

Maira menghela nafas berat, dia tidak ingin orang lain tahu aib di dalam rumah tangga nya. Tapi dua juga tidak mau terbebani dengan semua ini. dengan curhat pada Arini setidak nya dada nya akan terasa sedikit lebih lega.

"Kemarin mas Azam gak jemput aku Rin, dia juga tidak bisa di hubungi. Ternyata dia dan semua orang makan - makan di luar, mas Azam sudah gajian kemarin!" Maira menceritakan semua nya kada sahabat nya.

"Ya Ampun Mai, mereka makan di luar tanpa kamu. Padahal kamu kan istri nya Azam, benar - benar keterlaluan tuh orang!" Arini geram sekali mendengar cerita sahabat nya.

"Rin, apa aku salah dan durhaka jika sekarang aku mulai memikir kan diri ku sendiri?" Tanya Maira pada Arini.

"Mai, tidak ada salah nya kau mulai memikir kan diri mu sendiri, toh suami mu tidak pernah perduli pada mu. Dia hanya perduli pada uang mu dan semua kebutuhan keluarga nya saja, sudah terlalu lama kau terjebak di dalam hubungan yang toxic itu Mai, ini saat nya kau harus bertindak!" Arini bicara panjang lebar pada Maira.

"Tadi mas Azam meminta aku mengirim kan uang gaji ku pada mbak Nia, aku yang harus memenuhi semua kebutuhan mbak Nia dan anak nya. Sedang kan mas Azam sendiri, tidak pernah memberikan aku nafkah!" Maira berkata sambil menarik nafas berat.

"Mai, apa kau mau selama nya menjadi sapi perah bagi mereka? Apa kau mau menjadi mesin Atm bagi semua orang di keluarga suami mu?" Tanya Arini dengan nada yang berapi - api.

Maira terdiam, semua yang di katakan oleh Arini ada benar nya. Dia tidak ingin di jadikan mesin Atm oleh keluarga suami nya, sementara sang suami tidak pernah memberikan nafkah pada diri nya.

"Kamu benar Rin, sudah cukup selama 5 tahun ini aku berkorban untuk mereka. Jika memang mas Azam menyayangi mereka semua, biarkan dia berusaha sendiri untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga nya.

"Bagus, aku suka dengan Maira yang sekarang. Ku harap kau tidak lagi menjadi budak cinta untuk suami mu dan keluarga ny!" Arini ikut bahagia melihat Maira yang sudah mulai bangkit dari jurang kebodohan itu.

"Baik lah, hari ini aku akan menghentikan semua aliran dana untuk mereka semua. Mereka bukan lah tanggung jawab ku, mereka harus muali terbiasa dengan semua ini!" Sebuah senyuman terbit di sudut bibir Maira.

Arini melompat kegirangan seperti anak kecil yang di berikan permen, dia ikut senang melibat sahabat nya mulai menggunakan logika nya, bukan lagi hati

"Sekarang pergi lah, sebentar lagi jam kerja akan di mulai!" Maira mengusir Arini dari ruangan nya.

"Baik lah, aku akan pergi. Nanti siang kita akan rayakan kembali nya akan sehat manager Maira!" Ujar Arini sambil tertawa.

"Udah pergi sana!" Maira melempar kan sebuah map pada Arini.

Arini keluar dari ruangan Maira dengan senyum bahagia, setidak nya ini adalah awal yang baik untuk sahabat nya.

Setelah Arini keluar dari ruangan nya, Maira tersenyum pada diri nya sendiri. Hari ini logika nya sebagai wanita yang tertindas sudah bekerja, dia sudah tidak mau lagi di jadikan mesin Atm oleh suami dan juga keluarga nya.

"Sudah cukup mas, mulai hari ini aku tidak akan pernah memberikan uang gaji ku untuk ipar mu. ibu dan juga adik mu. Aku bukan mesin Atm keluarga mu, keluarga mu bukan tanggungan ku!" Maira berkata pada diri nya sendiri.

Maira langsung membuka laptop nya, fikiran nya fokus pada pekerjaan nya. Maira melupakan tentang perintah merak tadi pagi, dia berhenti jadi donatur keluarga suami nya.

Marsya memeriksa M-Banking nya, dan uang gaji nya sudah masuk ke rekening nya. Dia tersenyum puas, mulai hari ini hanya diri nya sendiri yang akan menikmati uang itu.

Dreetttt, dreeett, dreettt.

Ponsel Maira berbunyi, Marsya melihat nya sambil tersenyum sinis. Nama Nia terpampang di layar ponsel nya, dia tahu Nia akan menanyakan uang bulanan yang sudah dia hentikan mulai hari ini.

"Maaf mbak, aku bekerja bukan untuk mu. Aku tidak akan memberikan uang ku lagi pada mu!" Maira berkata sambil mematikan ponsel nya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!