Angin musim semi bertiup dari timur, membawa aroma dedaunan basah dan tanah yang habis diguyur hujan semalam.
Seharusnya terasa menenangkan.
Namun di halaman asrama murid magang Sekte Pedang Giok, tidak ada yang peduli dengan angin.
Yang ada hanyalah hawa panas yang menghimpit, lingkaran penonton yang haus tontonan, dan di tengah semuanya—
Qin Xiang berdiri.
Berdarah. Terluka. Namun belum tumbang.
Bugh!
Tubuhnya kembali terpental beberapa meter sebelum menghantam tanah berbatu dengan keras. Debu beterbangan tinggi, dan rasa sakit menjalar seperti aliran listrik dari tulang rusuknya ke seluruh sisi tubuh.
Dari sudut bibirnya yang pecah, darah segar menetes perlahan ke tanah.
Napasnya kacau.
Pandangannya sedikit buram di tepinya.
Setiap kali ia mencoba menarik napas, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa ikut terjepit—seperti tulang yang protes keras karena sudah terlalu banyak dihajar.
Namun kedua lututnya yang gemetar tetap mendorongnya ke atas.
Ia bangkit.
Pelan. Goyah. Tetapi bangkit!
"Masih belum mau menyerah, Sampah?"
Xiao Jing mencibir dari tempatnya berdiri, mengayunkan pedang kayunya dengan santai seperti orang yang mengusir lalat. Wajahnya memancarkan kesenangan yang menjijikkan—kesenangan seorang pengecut yang menikmati pertunjukan yang tidak berisiko apa-apa bagi dirinya sendiri.
"Aku akui, ketekunanmu memang mengagumkan. Sayang sekali ketekunan saja tidak bisa menggantikan bakat."
Di belakangnya, para pengikut meledak dalam tawa.
"Hahaha! Dasar sampah keras kepala!"
"Pemurnian Qi tahap satu selama bertahun-tahun, tapi masih bermimpi jadi kultivator hebat?"
"Bahkan anjing penjaga sekte mungkin bisa berkultivasi lebih cepat dari dia!"
Kata-kata itu menghantam seperti palu besi yang dipukulkan bertubi-tubi tanpa jedah. Dan yang paling menyiksa dari semuanya—
Qin Xiang tidak mampu membantah satu pun.
Karena semuanya benar.
Di Sekte Pedang Giok yang dipenuhi para jenius berbakat, ia hanyalah noda hitam di atas kain putih bersih. Bakatnya buruk sejak lahir, dan kultivasinya nyaris tidak bergerak satu langkah pun selama bertahun-tahun—terjebak di Pemurnian Qi tahap satu seperti batu yang tertancap di lumpur.
Sementara Xiao Jing sudah menjejak Qi Fondasi tahap dua.
Jurang di antara mereka bukan lagi sekadar perbedaan.
Ia adalah penghinaan yang terwujud nyata.
Namun...
Qin Xiang mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia tidak mau berlutut.
Tidak di hadapan Xiao Jing. Tidak di hadapan siapa pun.
"Haaaah—!"
Dengan raungan rendah yang lahir dari kedalaman harga diri yang tersisa, ia kembali menerjang maju. Tidak ada teknik pedang yang indah, tidak ada langkah kaki yang mengalir.
Yang ada hanyalah tubuh yang menolak rebah dan jiwa yang terlalu keras kepala untuk menyerah.
Sayangnya, di mata seorang kultivator Qi Fondasi—
Itu tidak lebih dari pemandangan yang menyedihkan.
"Menyedihkan," gumam Xiao Jing.
Ia bahkan tidak perlu mundur. Satu miring kecil ke samping, sangat malas, sangat santai—dan pukulan Qin Xiang hanya membelah udara kosong.
Detik berikutnya, Xiao Jing membalas.
BUGH!
Tendangan yang dibalut Qi menghantam tulang rusuk Qin Xiang secara telak. Suara retakan samar terdengar jelas—krak—dan Qin Xiang merasakannya sebelum otaknya sempat memproses rasa sakitnya.
Tubuhnya terangkat dari tanah.
Melayang sesaat di udara seperti boneka yang dilempar.
Lalu terhempas dengan keras, berguling tiga kali di atas kerikil tajam, meninggalkan jejak darah tipis di tanah berdebu.
Sistem sarafnya menjerit.
Namun jauh di kedalaman dadanya, rasa malu terasa jauh lebih menyakitkan dari itu semua.
"Hahaha! Lihat ekspresinya! Persis anjing liar yang masih ingin menggonggong padahal sudah tidak punya gigi!"
Gelak tawa memenuhi halaman dari segala penjuru.
Xiao Jing berjalan mendekati dengan langkah yang pelan dan teratur.
Tap... tap... tap...
Setiap langkahnya seperti paku yang ditancapkan ke dalam dada Qin Xiang—menghancurkan apa yang tersisa dari harga dirinya, sedikit demi sedikit, perlahan dan metodis.
Tepat saat Xiao Jing berhenti di hadapannya, pemuda itu berjongkok dengan gerakan yang terlalu santai—seperti orang yang sedang mengamati serangga yang lucu.
Jarinya meraih rambut Qin Xiang yang berlumuran debu.
Lalu memaksanya mendongak dengan kasar.
Kedua mata mereka bertemu.
"Kau tahu apa bagian paling menyedihkan darimu?" ujar Xiao Jing dengan suara rendah, hampir berbisik. "Bukan karena kau lemah. Bukan karena bakatmu yang buruk. Tetapi karena kau masih berpura-pura punya harga diri."
Mata Qin Xiang menatap balik.
Bergetar, tapi tidak memalingkan pandang.
Sorot itu membuat Xiao Jing mendadak kesal dengan cara yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu di tatapan itu yang menolak dihancurkan—seperti nyala api kecil yang terus bertahan di tengah hujan deras.
Menyebalkan.
"Bajingan..." Xiao Jing menggertakkan giginya. Tangannya bergerak hendak membanting wajah itu ke tanah—
"Hentikan."
Suara itu tidak keras. Tidak berteriak.
Namun ia menggema di seluruh halaman seperti lonceng langit yang berdentang—dingin, tajam, dan penuh otoritas yang tidak bisa ditawar.
Semua kepala serentak menoleh.
Seorang gadis muda berjalan cepat dari arah lorong timur. Jubah putihnya bergerak mengikuti angin yang seolah sengaja mengiringinya, rambut hitam panjangnya mengalir bebas, wajahnya cantik dengan kemarahan yang tidak disembunyikan.
Dan dari tubuhnya—aura Inti Formasi menyebar pelan namun pasti.
Seperti tangan tak kasat mata yang mencengkeram tengkuk setiap orang yang ada di sana.
"S-Senior Hu Xia—!"
Wajah para pengikut Xiao Jing seketika berubah pucat pasi.
Hu Xia bukan sekadar gadis cantik dari sekte dalam. Ia adalah murid inti dengan bakat langit yang telah mencapai ranah Inti Formasi di usia yang membuat para senior muda pun merasa malu. Namanya disebut dengan hormat oleh orang-orang yang bahkan tidak berani menatap bayangannya secara langsung.
Xiao Jing segera melepaskan rambut Qin Xiang dan mundur beberapa langkah. Ia berusaha terlihat tenang—dan hampir berhasil—kecuali rahangnya yang sedikit mengencang.
"Tsk."
Ia meludah ke samping dengan gaya yang dipaksakan, lalu melirik Qin Xiang dengan tatapan yang mengandung jijik sekaligus kepuasan.
"Dasar sampah. Bahkan sekarang pun masih harus diselamatkan oleh seorang wanita."
Kalimat itu menghujam lebih dalam dari tendangan mana pun yang ia layangkan hari ini.
Karena Qin Xiang tahu—
Itu benar.
"Pergi!"
Hanya satu kata dari Hu Xia, diucapkan dengan nada dingin seperti permukaan batu di tengah malam. Aura Inti Formasi-nya mengembang perlahan, dan tekanan yang ditimbulkannya langsung menghimpit pundak Xiao Jing beserta para pengikutnya—tidak kasat mata, namun tidak bisa diabaikan.
Tanpa satu pun berani membuka mulut, mereka bergerak pergi.
Namun di ambang jalan keluar, Xiao Jing sempat menoleh satu kali dengan sebuah senyum dingin yang tersungging di sudut bibirnya.
"Keberuntunganmu tidak akan bertahan selamanya, Qin Xiang!"
Kemudian mereka menghilang, dan halaman itu kembali sepi.
Hu Xia akhirnya sampai dan berlutut di samping Qin Xiang tanpa berkata apa-apa dulu.
Tangannya yang lembut membantu pemuda itu duduk perlahan, kemudian ia mengeluarkan sapu tangan sutra—putih bersih, beraroma bunga yang samar—dan mulai membersihkan darah serta debu di wajah Qin Xiang dengan gerakan yang hati-hati dan tidak tergesa-gesa.
"Kenapa kau selalu membiarkan mereka melakukan ini padamu..."
Suaranya lirih. Hampir seperti bicara pada diri sendiri.
Di sudut mata Hu Xia, ada kilatan sesuatu yang terlihat seperti air mata yang belum memutuskan untuk jatuh.
Melihat itu, Qin Xiang justru ingin tertawa pahit.
Gadis seperti Hu Xia—berbakat, kuat, dikagumi seluruh sekte—tidak seharusnya berlutut di tanah kotor demi mengusap darah dari wajah seorang pecundang sepertinya.
Tenggorokannya terasa tercekat sesaat. Ia ingin menjawab, namun rasa malu telah menumpuk terlalu berat di dalam dadanya hingga tidak ada ruang tersisa untuk kata-kata.
Ia membenci ini.
Ia membenci dirinya sendiri yang harus terus-menerus diselamatkan oleh gadis yang bagaikan langit tinggi di atas kepalanya.
Tanpa sepatah kata pun, Qin Xiang memaksakan dirinya berdiri dan berjalan pergi—langkahnya berat dan goyah, langkah seseorang yang tubuhnya hampir tidak mampu lagi menopang beban harga diri yang ia pertahankan.
"Qin Xiang..."
Suara Hu Xia mengikutinya dari belakang, lirih dan penuh sesuatu yang tidak terucapkan.
Namun pemuda itu tidak berhenti.
Ia tidak punya keberanian untuk menoleh dan menatap wajah itu.
...
Langkah kaki yang berat itu akhirnya membawa Qin Xiang sampai di depan gubuk tua di pinggiran wilayah sekte—jauh dari paviliun-paviliun indah tempat para murid berbakat tinggal.
Gubuk tua itu bahkan hampir tidak layak disebut tempat tinggal.
Atapnya bocor di beberapa bagian. Dinding kayunya dipenuhi retakan yang membiarkan angin malam masuk dengan bebas. Udara lembap yang menetap di dalam ruangan sempit itu terasa seperti pelukan dari sesuatu yang sudah mati lama.
Tidak ada kehangatan di sini.
Hanya kesunyian yang dingin dan abu-abu.
Qin Xiang menjatuhkan tubuhnya di atas kasur jerami, tatapannya kosong ke arah langit-langit reyot di atasnya.
Tulang rusuknya terus berdenyut dengan ritme yang menyakitkan, namun rasa sakit itu hanyalah debu kecil jika dibandingkan dengan kehancuran yang menggerogoti jauh di dalam dadanya.
'Kenapa hidupku bisa jadi seperti ini...' batinnya sedih hingga tanpa sadar air mata mengalir perlahan tanpa suara.
Bukan air mata anak kecil. Bukan pula air mata yang dramatis.
Hanya air mata seseorang yang sudah terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja.
'Tidak...'
Di suatu sudut gelap dalam dirinya, sebuah suara kecil berbisik untuk menyerah—untuk berbaring dan tidak lagi bangkit. Namun di sudut lainnya, sesuatu yang lebih tua dan lebih keras menolak mendengarnya.
Dua kekuatan yang saling bertarikan itu perlahan menguras sisa tenaganya, hingga akhirnya kelelahan yang telah menumpuk bertahun-tahun menyeret kesadarannya turun, semakin dalam— ke dalam kegelapan yang hangat dan tak berbentuk.
Dan di sanalah segalanya berubah.
WOSHHH—!!!
Dunianya berputar.
Saat Qin Xiang membuka mata kembali, ia tidak lagi berada di gubuk reotnya.
Langit darah menggantung di atas sana, dipenuhi awan hitam yang berputar seperti pusaran neraka. Di bawahnya, lautan mayat membentang ke segala arah—tidak bisa dihitung, tidak bisa diukur. Sungai darah mengalir di antara celah tanah yang retak dan hangus. Bau besi dan abu memenuhi udara seperti kabut yang pekat.
Dan di setiap sudutnya, aura kematian menggantung berat.
Di atas cakrawala, ratusan ribu kultivator bertarung seperti dewa yang ada dalam catatan-catatan dongeng. Setiap benturan mereka meruntuhkan puncak gunung seperti tanah lempung. Setiap teknik yang dilepaskan merobek langit merah seperti kertas tipis. Petir hitam terus-menerus memenuhi cakrawala, dan di tengah semuanya, hujan darah turun tanpa henti di seluruh penjuru dunia—seperti ratapan langit itu sendiri.
Namun Qin Xiang tidak merasa takut.
Yang ia rasakan justru sesuatu yang jauh lebih aneh, seolah tanah berdarah ini sudah lama mengenalnya.
"Kaisar Xiang!!!"
Suara itu menggelegar dari langit seperti petir yang berbicara, membelah seluruh kebisingan medan perang dengan satu teriakan tunggal.
"TERIMA KEMATIANMU!!!"
Dari kegelapan awan, seorang raksasa turun dengan zirah perak yang memancarkan aura kehancuran. Di tangannya, kapak berukuran gunung diayunkan ke bawah—dan gelombang energi dari ayunan tunggal itu saja sudah meretakkan tanah sejauh ribuan meter.
Qin Xiang tidak sempat berpikir, tetapi tubuhnya bergerak sendiri tanpa perintahnya.
Sebilah pedang hitam kuno tiba-tiba telah berada dalam genggamannya—dingin, berat, dan familiar seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Di sepanjang bilahnya, rune emas berpendar hidup, berdenyut seperti jantung yang baru terbangun dari tidur panjang.
DENTANGGG—!!!
Benturan antara kapak dan pedang itu bukan sekadar suara keras. Melainkan getaran yang mengguncang ruang dan waktu, meratakan seluruh pegunungan di radius belasan kilometer menjadi dataran dalam sekejap, mengangkat debu yang menutupi langit seperti badai kosmik.
Dan di tengah kehancuran itu, Qin Xiang merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Kekuatan.
Aura.
Hukum langit.
Dominasi yang tidak meminta persetujuan siapa pun untuk menjadi nyata.
Pertarungan itu berlangsung tiga hari tiga malam. Raksasa berzirah perak yang memanggul kekuatan penghancur dunia dikalahkan perlahan hingga akhirnya tumbang. Namun begitu tubuhnya jatuh, para penggantinya sudah menunggu di cakrawala.
Puluhan, bahkan ratusan.
Semua menatap ke arah tubuh berjubah hitam itu dengan tatapan yang sama—campuran ketakutan dan ambisi yang tidak bisa disembunyikan.
"Sekelompok semut..."
Bukan Qin Xiang yang berkata, suara itu keluar dari mulut tubuh itu dengan sendirinya—rendah, berat, terdengar seperti goresan batu kuno yang dibaca setelah ribuan tahun terkubur.
Tidak ada kemarahan di dalamnya.
Hanya fakta yang diucapkan dengan cara yang terasa lebih dingin dari kemarahan mana pun.
Pedang hitam itu mulai bergerak lagi.
Menari di antara jari-jari tangan itu seperti naga kuno yang baru terbangun dari dasar samudra—perlahan pada awalnya, lalu semakin cepat, semakin liar, namun tidak pernah kehilangan kendali.
Satu tebasan membelah lautan manusia seperti pisau panas yang mengiris lilin.
Satu langkah mengguncang langit hingga awan-awan terbelah.
Dan satu lirikan dari mata emas dingin itu membuat barisan kultivator di garis terdepan mundur tanpa sadar karena jiwa mereka menjerit dalam bahaya.
Di tengah hujan darah dan kehancuran itu, Qin Xiang akhirnya melihatnya.
Sebuah wajah.
Atau lebih tepatnya—wajah yang persis seperti dirinya sendiri.
Pria berjubah hitam dengan rahang yang tegas dan sepasang mata emas yang terasa seperti bintang-bintang dingin di langit. Mata yang menyimpan jutaan tahun kejadian di dalamnya. Mata yang bisa membuat jiwa siapa pun membeku hanya dengan satu lirikan tak sengaja.
Wajah yang sama dengan wajahnya, namun dengan kedalaman yang tidak terukur di baliknya.
Puluhan ribu musuh terus mengalir dari cakrawala tanpa henti, dan tubuh berjubah hitam itu perlahan mengambil posisi—kaki kiri maju, pedang hitam terangkat diagonal, rune emas di bilahnya menyala semakin terang hingga sinarnya memotong kabut merah di sekeliling.
"Pedang Agung Menebas Langit..."
Suara itu bergema berat di seluruh penjuru medan perang, menakuti seluruh jiwa yang mendengarnya.
Aura hitam dan emas meledak keluar seperti fajar yang tiba-tiba lahir di tempat yang salah—memenuhi dunia, menekan langit, membuat tanah di bawah kaki ribuan kultivator retak hanya karena kehadiran energi itu saja.
"...Fase Ketiga!"
SUUUUNGGG—!!!
Langit merah darah terbelah.
Bukan sedikit. Bukan retak.
Terbelah—dari satu ujung cakrawala ke ujung lainnya, seperti tirai raksasa yang dirobek oleh tangan yang tidak peduli pada batas-batas dunia.
Gelombang pedang hitam pekat menyapu seluruh langit, melumat ribuan kultivator yang ada di jalurnya menuju alam baka—dalam waktu yang bahkan tidak cukup untuk sebuah jeritan terdengar.
Tanah berguncang sekali lagi.
Lautan darah terbelah menjadi dua, memperlihatkan kerak hangus di dasarnya.
Gunung-gunung yang tersisa di kejauhan runtuh satu per satu seperti orang tua yang kehilangan kekuatan untuk berdiri tegak.
Hanya sosok berjubah hitam itu yang tetap berdiri di tengah semua kehancuran.
Tidak bergerak. Tidak tergores. Jubahnya bahkan tidak berkibar.
Seperti penguasa absolut yang keberadaannya sendiri sudah cukup untuk menekan seluruh era di bawah kakinya.
"Guru Kaisar!"
Seorang pemuda berzirah rusak berlutut di tengah lautan mayat, wajahnya mendongak dengan ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan kekaguman yang menyeluruh—kekaguman yang lahir dari kedalaman tulang, bukan dari bibir.
"Kita menang! Para saudara yang lain juga telah mengamankan wilayah timur dan barat!"
Sosok Kaisar Agung berbalik perlahan, sebuah senyum tipis terpancar dari pembawaannya yang terkenal dingin dan kejam.
"Bagus." Suaranya rendah, tenang, dan penuh wibawa yang tidak membutuhkan volume untuk memenuhi ruang. "Bersihkan sisanya dan ayo pulang ke Puncak Surgawi, muridku."
"Ya, Guru Kaisar."
Pemuda itu menangkupkan kedua tangan dengan hormat yang dalam dan tulus.
Namun tepat saat Kaisar Agung berbalik untuk berjalan pergi—
Jiwa Qin Xiang merasakan kecemasan.
Bukan suara. Bukan penglihatan.
Sebuah firasat yang dingin dan mutlak, seperti keinginan batin yang ingin menghindari maut.
Ia mencoba menggerakkan tubuh itu. Mencoba memaksanya berhenti, membalik, bersiap.
Tetapi tidak bisa, semuanya telah terlambat.
'Tidak—'
Tsuk.
Suara tusukan itu terdengar sangat pelan.
Hampir terlalu pelan untuk sebuah momen yang kelak akan mengubah segalanya.
Dan dalam sekejap, seluruh medan perang—seluruh dunia—jatuh ke dalam keheningan yang mematikan.
Sebilah pedang putih bermandi api suci telah menembus dada Kaisar Agung dari belakang.
Dari ujung bilahnya, darah emas menetes jatuh perlahan. Setiap tetesnya memukul tanah dengan berat yang tidak proporsional, dan di tempat jatuhnya, ruang di sekitarnya bergetar samar—seolah alam semesta sendiri menolak menerima kenyataan itu.
Langit merah yang retak mendadak terasa sunyi.
Angin berhenti tanpa suara.
Bahkan gemuruh pertarungan yang masih tersisa di kejauhan seolah tercekik oleh ketidakpercayaan.
Kaisar Agung menundukkan pandangan ke bilah yang menembus dadanya.
Lalu—ia menoleh ke belakang.
Pemuda berzirah yang kini berdiri di belakangnya menggenggam gagang pedang itu dengan tenang. Wajahnya datar. Matanya dingin. Dan di kedalaman kedua matanya, ambisi yang sudah lama disembunyikan akhirnya muncul ke permukaan tanpa malu-malu.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada rasa bersalah.
Hanya ketamakan yang sudah terlalu lama sudah disembunyikan.
"Murid ini sudah menunggu hari ini sangat lama, Guru."
Suaranya tenang. Teratur. Hampir sopan.
Tetapi ketenangan itulah yang terasa lebih dingin dari pisau mana pun.
Tatapan Kaisar Agung tidak lepas dari wajah muridnya. Sepasang mata emas yang sudah menyaksikan ribuan tahun dan ratusan ribu pertempuran kini menatap satu wajah yang selama ini ia percaya, seolah mempertanyakan segalanya saat ini.
"Murid ini tidak akan pernah bisa melangkah lebih jauh selama Guru masih berdiri di atas langit."
Darah emas terus menetes.
Di atas tanah merah, bunga-bunga cahaya kecil bermekaran—lahir dari tetesan darah sang Kaisar, bercahaya indah selama beberapa detik, lalu layu dan padam dalam sekejap, membuatnya terasa seperti perpisahan yang ditulis oleh alam semesta itu sendiri.
Indah... dan tragis.
Kaisar Agung terus memandang muridnya cukup lama. Lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk menerima pengkhianatan. Hingga akhirnya, dengan perlahan, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.
Senyum itu tidak mengandung kemarahan.
Tidak pula tangisan.
Hanya sebuah kekecewaan yang begitu dalam dan matang hingga ia tidak lagi terasa seperti emosi—melainkan seperti kesimpulan.
"Jadi begitu..."
Suaranya pelan dan berat, seperti angin terakhir sebelum badai tiba.
"Rupanya aku telah membesarkan seekor serigala di sisiku sendiri."
Murid itu tidak menjawab.
Tatapannya tetap datar. Tangannya justru mendorong pedangnya lebih dalam.
Tsuk...
Aura Sang Kaisar Agung—yang bahkan di ambang kematian masih terasa seperti gunung yang tidak mau rubuh—mulai perlahan melemah.
Namun tidak satu pun dari ribuan orang yang masih hidup di medan perang itu berani bergerak, bahkan untuk bernapas terlalu keras..
Karena bahkan di saat seperti ini, dengan pedang di dadanya dan darah di kakinya—sosok itu masih terasa seperti penguasa tertinggi dunia.
Kaisar Agung mulai memejamkan matanya yang terlihat lesuh.
Punggung yang selama ribuan tahun tidak pernah membungkuk, perlahan—untuk pertama dan terakhir kalinya—mulai condong dan jatuh ke bawah dengan lambat, seperti pohon berusia seribu tahun yang akhirnya memutuskan untuk beristirahat di tengah hujan darah yang tidak berhenti, sementara langit merah di atasnya merekahkan retakan-retakan baru seolah ikut berduka dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh alam.
DHUARRR!!!
Qin Xiang tersentak bangun.
Napasnya memburu kasar dan tidak beraturan. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin, dan jantungnya berdegup keras dengan ritme panik yang tidak kunjung mereda.
Tangan pemuda itu dengan cepat menangkap dadanya sendiri—merasakan detak di balik tulang rusuk yang masih nyeri—seolah memastikan bahwa ia masih utuh, bahwa tidak ada pedang yang menembus dari belakang.
Kemudian semuanya datang. Segala sesuatu yang telah terkubur jauh di dalam jiwanya.
Ingatan yang tidak terhitung jumlahnya mulai membanjiri otaknya sekaligus bak sebuah bendungan raksasa yang jebol— ratusan teknik pedang yang dilupakan ribuan tahun, hukum langit yang tersembunyi di ruang-ruang buta dunia kultivasi, rahasia-rahasia yang bahkan para dewa tidak ketahui keberadaannya.
Dan di antara semuanya—
Wajah seorang pemuda berzirah dengan pedang di tangan dan ambisi di matanya.
Wajah yang tidak akan pernah ia lupakan.
"Arghhhh—!!!"
Qin Xiang menekan kepalanya dengan kedua tangan, berlutut di lantai gubuk yang dingin dengan gigi terkatup menahan teriakan. Rasa sakit di kepalanya bukan sakit fisik biasa—ia seperti cangkir kecil yang dipaksa menampung samudra, setiap detiknya terasa seperti tengkorak yang hendak dibelah dari dalam.
Di sekelilingnya, udara mulai bergetar.
Jerami-jerami di lantai terangkat satu per satu tanpa disentuh, melayang dalam pola yang melingkar. Retakan kecil muncul di dinding kayu yang sudah reyot. Angin yang tidak ada sumbernya mulai berputar di dalam ruangan sempit itu, membawa debu dan serpihan dalam pusaran yang semakin rapat.
Lalu perlahan—sepasang mata Qin Xiang terbuka.
Di kedalaman pupilnya, kilatan emas samar berpendar.
Bukan seperti cahaya lilin yang hangat. Lebih seperti bintang yang sudah mati ribuan tahun lalu namun cahayanya baru sampai sekarang—dingin, jauh, dan mengandung kedalaman yang tidak bisa diukur oleh ukuran manusia biasa.
Tatapan yang dulu lemah dan penuh ketakutan serta rasa malu yang tersimpan rapat, kini terasa seperti sesuatu yang berbeda sepenuhnya. Seperti monster tua yang baru saja terbangun dari tidurnya di dalam tubuh yang terlalu muda.
"Aku..."
Suaranya keluar pelan. Berat. Tidak bergetar.
Bukan suara seorang pecundang yang terbiasa dihantam. Bukan pula suara murid magang yang tidak punya tempat di sekte ini. Melainkan suara seseorang yang pernah berdiri di puncak langit dan menatap ke bawah dengan tatapan yang tidak membeda-bedakan antara semut dan dewa.
"Aku adalah Kaisar Agung."
Kata-kata itu jatuh di dalam kegelapan gubuk itu seperti batu yang dilempar ke dalam sumur yang sangat dalam.
Sederhana, namun bergema jauh melampaui ukurannya.
Di luar, langit malam yang sebelumnya cerah mendadak dihembus angin kencang yang tidak punya asal usul yang jelas. Bintang-bintang berkedip seolah terganggu. Dan di dalam gubuk reot yang tidak pernah dipandang siapa pun dengan hormat itu—
Seorang pemuda yang lemah, terluka, dan terhina baru saja menemukan kembali sesuatu yang sudah hilang selama ini.
Malam itu akan menjadi awal dari sesuatu yang tidak akan bisa dibendung oleh apapun.
Sang Kaisar Agung yang pernah menaruh langit di bawah kakinya kini telah kembali.
Dan kali ini, semua akan mulai berubah!
....
Bersambung!
Urutan ranah & tingkatan:
- Kultivasi:
Pemurnian Qi
Qi Fondasi
Inti Formasi
Kesengsaraan Ilahi
???
Setiap ranah memiliki 9 tingkatan, tahap 1-3 (awal), 4-6 (menengah), 7-9 (tinggi).
- Artefak (senjata, pelindung, dan lain-lain), Teknik, dan Pil Obat:
Rendah
Menengah
Tinggi
Misterius
Bumi
???
- Binatang Buas:
Tingkat 1
Tingkat 2
Tingkat 3
Tingkat 4 (RAJA MONSTER)
???
Setiap tingkat terbagi menjadi tiga tahap: Awal, Menengah, Tinggi.
Kegelapan malam masih memeluk seluruh penjuru sekte ketika Qin Xiang duduk bersila di tengah gubuknya.
Sunyi.
Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi oleh sesuatu—aliran-aliran tipis yang merayap di udara, di dinding lapuk, di sela-sela lantai tanah yang lembap. Energi langit dan bumi yang selama ini tak pernah ia perhatikan.
Kini ia bisa melihat semuanya.
Tatapannya bukan lagi tatapan remaja yang terbiasa menunduk.
Ada kedalaman di sana—
kedalaman yang lahir bukan dari usia tubuh ini, melainkan dari ribuan tahun yang pernah dilaluinya di kehidupan lain.
Tenang.
Berat.
Seperti danau yang tidak beriak di permukaannya, namun menyimpan arus bawah yang bisa menelan apa saja.
Ia habiskan berjam-jam menelusuri setiap inci meridiannya.
Dan akhirnya—ia sampai pada sebuah kesimpulan.
"Tubuh ini... cacat. Namun tidak sepenuhnya tak berguna."
Suaranya pelan, lebih seperti gumaman seseorang yang berbicara dengan dirinya sendiri setelah merenungkan sesuatu yang panjang.
Meridian dalam tubuh ini rapuh dan tipis seperti benang sutra yang sudah lapuk—satu tekanan berlebih bisa membuatnya retak.
Hal ini yang selama bertahun-tahun membuat Qin Xiang terjebak di Pemurnian Qi tahap satu, tidak mampu berkembang meski telah berusaha keras.
Namun, ada yang menarik.
Dantian-nya—pusat penyimpanan energi di pusar bawahnya—adalah hal yang sama sekali berbeda.
Ukurannya dua kali lipat manusia normal.
Paradoks yang kejam sekaligus menarik.
Seperti saluran air kecil yang hampir buntu yang dipaksa mengisi danau raksasa—bisa dilakukan, tapi membutuhkan waktu yang tidak masuk akal panjangnya.
Senyum pahit muncul di sudut bibirnya.
"Jika mengikuti metode biasa dunia ini, setidaknya butuh setahun lagi hanya untuk menembus Pemurnian Qi tahap kedua."
Namun ia bukan kultivator biasa.
Senyum pahit itu perlahan bergeser—dingin, tipis, dan mengandung sesuatu yang terasa jauh lebih tua dari wajah muda ini.
Qin Xiang memejamkan matanya.
Napasnya mulai berubah—bukan ritme orang yang bermeditasi biasa, melainkan pola kuno yang sudah tidak dikenal dunia ini sejak ribuan tahun lalu.
Setiap tarikan napas terasa seperti suara alam semesta yang menarik dirinya sendiri ke dalam satu titik.
"Teknik Pernapasan Langit dan Bumi."
Tidak ada suara ledakan. Tidak ada cahaya yang menyilaukan.
Yang terjadi justru sebaliknya—keheningan yang makin dalam, dan kemudian, tekanan.
Seluruh udara di dalam gubuk itu seolah bergerak serentak ke arahnya.
Pori-pori di kulitnya terbuka seperti pintu-pintu kecil yang selama ini terkunci, dan energi yang melayang-layang di atmosfer sekitar mulai mengalir masuk—
Tidak menetes, tidak mengalir, melainkan tersedot dengan kekuatan yang tidak proporsional dengan ukuran tubuh ini.
Energi itu kemudian dipaksa masuk.
Dikompresi.
Dimurnikan berkali-kali lipat.
Lalu dialirkan ke dalam Dantian yang luas itu seperti air bah yang menemukan muaranya.
Jerami-jerami di lantai bergetar pelan.
Retakan-retakan di dinding kayu mendadak mengeluarkan desiran angin meski di luar sana tidak ada angin yang bertiup.
Dan di dalam keheningan itu, di balik kelopak mata yang tertutup rapat—kilatan emas berpendar samar di kedalaman pupil yang tidak bisa dilihat siapa pun.
Malam berlalu.
Semburat keemasan pertama matahari baru saja menembus celah-celah atap yang bocor ketika Qin Xiang membuka matanya.
Tidak ada kelelahan.
Ia bangkit berdiri, melangkah keluar dari gubuk, dan menghirup udara pagi yang dingin dan berbau tanah.
Lalu, dalam kesunyian halaman belakang yang masih diselimuti kabut tipis, ia mulai bergerak—bukan meditasi, bukan teknik pedang, melainkan gerakan-gerakan fisik yang lambat dan penuh kendali, membangun kembali koneksi antara jiwa kuno yang baru saja terbangun ini dan tubuh muda yang belum sepenuhnya siap menampungnya.
Tubuh ini harus ditempa.
Sebelum bisa memikul kembali beban langit, ia harus bisa berdiri tegak di atas bumi dulu.
"SAMPAH! KE SINI KAU!"
Teriakan itu membelah ketenangan pagi seperti batu yang dilempar ke kolam.
Qin Xiang berhenti bergerak.
Ia tidak terkejut.
Ia tidak menoleh dengan terburu-buru.
Hanya membalikkan badan dengan perlahan—
sangat perlahan seperti orang yang punya waktu tak terbatas di dunia ini.
Xiao Jing berdiri di ujung halaman dengan wajah merah padam, menggenggam pedang kayunya dengan kepalan yang terlalu erat.
Di belakangnya, dua pengikut setia berdiri seperti biasa.
Namun kali ini bukan hanya mereka—puluhan murid sekte luar berkerumun di belakang, berbisik-bisik dengan wajah yang antusias.
Rupanya kabar ini sudah tersebar.
Qin Xiang akan dihajar untuk kesekian kalinya.
Tontonan gratis. Tentu saja mereka tidak ingin melewatkannya.
"Xiao Jing."
Suara Qin Xiang keluar datar, tidak tinggi, tidak gemetar.
Namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat bisik-bisik di kerumunan belakang mendadak terhenti sejenak.
"Apa, sampah?"
Xiao Jing terkekeh.
Suaranya mengandung kepuasan yang tidak disembunyikan—kepuasan seorang penindas yang merasa kedudukannya tidak tergoyahkan.
"Hoh? Kau menjadi berani sekarang?"
Ia melangkah maju dengan angkuh, matanya menjelajahi sosok Qin Xiang dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang tidak menyembunyikan penghinaannya.
"Apa karena pelukan Senior Hu Xia kemarin telah menumbuhkan nyali di tubuh sampahmu?"
Tawa antek-anteknya pecah di belakang.
"Sayang sekali," lanjut Xiao Jing, senyumnya semakin melebar dengan cara yang menjijikkan, "dewi pelindungmu itu sedang pergi menjalankan misi sekte yang sangat jauh. Kali ini, tidak ada yang akan menyelamatkanmu."
Ia berhenti melangkah, jarak mereka kini hanya beberapa meter.
"Tikus kecil."
Di tempat lain dan di waktu lain—mungkin dua kata itu sudah cukup untuk membuat lutut Qin Xiang gemetar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Sebuah senyum muncul di sudut bibir Qin Xiang.
Bukan senyum gugup.
Bukan senyum yang dipaksakan untuk menyembunyikan rasa takut.
Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang lucu di tengah situasi yang seharusnya serius: senyum kaisar yang sedang menonton badut mencoba tampil di istananya.
Xiao Jing menyipitkan matanya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Naluri yang sudah sering ia abaikan mendadak berteriak pelan di sudut pikirannya. Namun kesombongannya, seperti biasa, lebih keras dari suara naluri itu.
"Auramu..."
Xiao Jing mengerutkan kening, mencoba membaca energi yang dipancarkan tubuh Qin Xiang.
"Pemurnian Qi tingkat kedua? Hah."
Tawanya terdengar seperti ejekan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.
"Jadi setelah bertahun-tahun menjadi limbah, kau akhirnya berhasil merangkak naik satu tingkat? Tidak heran kau begitu sombong pagi ini."
Ia meludah ke tanah di depan kakinya sendiri.
"Satu tingkat di atasku adalah gunung yang tidak bisa kau panjat. Kau tetaplah semut di bawah kakiku, Qin Xiang. Itu tidak akan pernah berubah hanya karena kau tidur semalam."
"Apa kau ingin mencobanya?"
Kalimat itu keluar pelan.
Sangat pelan.
Namun menggantung di udara dengan berat yang tidak wajar, seperti langit mendung yang menahan hujan besar.
Xiao Jing membeku selama satu detik.
Lalu amarahnya menyapu semua sisanya.
"Mati kau!"
Ia menerjang maju dengan raung yang beringas, kepalan tangannya diselimuti energi Qi kebiruan yang berpendar redup—kekuatan seorang kultivator Qi Fondasi tahap dua yang tidak main-main jika menghantam tubuh biasa.
Qin Xiang tidak bergerak mundur.
Tidak satu langkah pun.
Ia tidak mengeluarkan teknik.
Tidak membacakan mantra.
Tidak mengambil kuda-kuda yang rumit.
Ia hanya memusatkan seluruh energi yang diserap sepanjang malam ke dalam satu kepalan tangan kanannya—memadatkannya, menekannya, sampai udara di sekitar kepalan itu mendadak terasa lebih berat dari seharusnya.
Saat Xiao Jing memasuki jarak serang—
Qin Xiang melangkah satu langkah ke depan dan melepaskan tinjunya.
BAMMM!!
Dentuman itu menggema di seluruh halaman seperti batu besar yang dijatuhkan dari langit.
Xiao Jing tidak sempat menyadari apa yang terjadi.
Tinju itu mendarat tepat di tengah wajahnya dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk tubuh sekecil Qin Xiang.
Tidak ada trik, tidak ada siasat, hanya kekuatan mentah yang telah dimurnikan semalaman penuh, dipadatkan dalam satu serangan tunggal.
Tubuh Xiao Jing terangkat dari tanah di atas tatapan semua orang dan terpelanting ke belakang.
Meluncur bermeter-meter di atas tanah yang keras sebelum akhirnya menghantam kerumunan penonton yang tidak sempat menghindar, menjatuhkan dua orang sekaligus sebelum tubuhnya berhenti bergerak.
Sunyi.
Keheningan yang sempurna menyelimuti seluruh halaman itu seperti selimut berat yang dijatuhkan sekaligus.
Puluhan pasang mata menatap tubuh Xiao Jing yang tergeletak tidak bergerak, lalu secara bersamaan mengalihkan pandangan ke sosok yang berdiri tenang di tempat yang sama—kepalan tangan yang perlahan dibuka, tatapan yang tidak mencerminkan kepuasan berlebihan maupun kemarahan yang membara.
Hanya dingin.
Seperti orang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang tidak terlalu menarik perhatiannya.
"Bos—!"
Kedua pengikut Xiao Jing berlari mendekati tubuh bos mereka dengan wajah pucat.
Namun saat mereka membalikkan tubuhnya—nyali mereka runtuh seketika.
Xiao Jing yang selama ini bertingkah seperti predator tak tertandingi kini pingsan dengan hidung yang remuk dan separuh wajahnya sudah membiru.
Pukulan itu begitu berat hingga menghancurkan kesadaran seorang kultivator Qi Fondasi dalam satu serangan saja.
"Ba-bagaimana mungkin..." bisik salah seorang penonton dengan suara yang bergetar hampir tidak terdengar. "Dia hanya sampah Pemurnian Qi—"
"Apa kalian berdua juga ingin merasakan hal yang sama?"
Suara Qin Xiang memecah keheningan itu seperti pisau.
Ia melangkah maju—satu langkah, dua langkah—dengan tenang.
Tidak terburu-buru, tidak menunjukkan amarah.
Tetapi di setiap langkahnya, ada sesuatu yang tidak kasat mata namun bisa dirasakan oleh kulit dan tulang siapa pun yang berdiri di sana.
Tekanan.
Bukan tekanan Qi yang besar—Qin Xiang belum memiliki kekuatan sebesar itu di tubuh ini.
Melainkan tekanan yang lahir dari sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar energi kultivasi.
Tekanan dari tatapan seseorang yang pernah berdiri di puncak langit dan menatap ke bawah, yang sudah melihat terlalu banyak pertempuran dan terlalu banyak kematian untuk takut pada ancaman kecil seperti ini.
Glup...
Kedua pengikut Xiao Jing menelan ludah secara bersamaan.
Pikiran mereka hanya menyisakan satu kata.
Lari.
"L-Lari! Bawa Bos dari sini—!"
Mereka merangkul tubuh pingsan Xiao Jing dengan terburu-buru, nyaris tersandung satu sama lain dalam kepanikan untuk menjauh secepatnya. Salah satu dari mereka mencoba menoleh dan berteriak, "Qin Xiang! Kau akan menyesal! Kami tidak akan melupakan penghinaan ini!"
Namun teriakan itu terdengar seperti gonggongan anjing yang berlari dari kucing—keras di mulut, namun kosong dari kekuatan.
Qin Xiang tidak menggubrisnya.
Ia berpaling ke arah kerumunan yang masih berdiri mematung.
Puluhan murid sekte luar menatapnya dengan berbagai campuran ekspresi—keterkejutan, kebingungan, ketakutan, dan sedikit rasa ingin tahu yang belum berani menunjukkan dirinya secara terang-terangan.
Qin Xiang menjelajahi mereka satu per satu dengan tatapan yang tidak tergesa.
Lalu, dengan sangat tenang, ia bertanya: "Apa kalian semua juga menunggu giliran?"
Wush—!
Dalam hitungan detik, halaman itu bersih.
Mereka berlarian ke segala arah seperti burung yang diusir dari pohon, saling sikut dan saling dorong dalam kepanikan yang sama sekali tidak anggun.
Qin Xiang menatap kepergian mereka.
Tidak tertawa. Tidak merasa puas secara berlebihan.
Hanya berdiri dengan tenang di tengah halaman yang kini sunyi, membiarkan angin pagi yang dingin menyapu debu yang beterbangan.
...
Beberapa saat kemudian, berita itu menyebar seperti bara yang ditiup angin—dalam hitungan jam, seluruh asrama murid sekte luar sudah membicarakannya.
Di kedai teh, di paviliun latihan, di lorong-lorong asrama yang sempit.
Sebagian memuji, tetapi lebih banyak yang meragukan.
Xiao Jing pasti sedang sakit.
Qin Xiang pasti menggunakan racun terlarang.
Tidak mungkin dia menang dengan cara yang jujur.
Bisik-bisik itu mengambang di udara dan akhirnya menghilang, karena tidak ada satu pun yang berani mengucapkannya langsung di hadapan orang yang bersangkutan.
Qin Xiang kini berdiri di depan gubuknya.
Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang masih menyimpan getaran energi yang meluap dari Dantian yang belum terbiasa dengan aliran sebesar ini.
Tangan yang lemah.
Tangan yang cacat.
Jika ia sedikit memaksa lagi, niscaya tangannya akan remuk saat memukul Xiao Jing barusan.
"Ini baru langkah pertama," gumamnya pelan—bukan kepada siapa pun, bukan untuk didengar siapa pun. Hanya pernyataan yang ia buat untuk dirinya sendiri, untuk jiwa tua yang baru saja memulai perjalanan panjang di dalam tubuh yang terlalu muda dan terlalu lemah ini.
Langkah yang sangat kecil.
Menuju jalan yang sangat panjang.
Ia tahu, dengan Hu Xia pergi menjalankan misi sekte, musuh-musuh yang lebih berbahaya dari Xiao Jing akan segera mendeteksi kekosongan itu dan datang mencari gara-gara.
Namun kali ini... ia tidak akan menunduk.
Tidak akan mundur.
Dan Tidak akan menunggu diselamatkan.
Qin Xiang mengangkat wajahnya, menatap langit pagi yang membentang luas di atas sana.
Langit yang sama yang pernah tunduk di bawah telapak tangannya.
Langit yang akan ia raih kembali—tidak peduli berapa lama, tidak peduli berapa jauh.
Sang Kaisar Agung telah kembali.
Dan kali ini, tidak akan ada pengkhianat yang dibiarkan hidup untuk menikamnya dari belakang.
...
Bersambung!
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden yang mengguncang asrama murid magang.
Di dalam gubuk tua yang remang-remang itu, Qin Xiang masih duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin. Napasnya naik turun secara perlahan, membentuk ritme kuno yang terasa menyatu dengan denyut langit dan bumi.
Udara di sekitarnya bergetar samar.
Energi spiritual tipis yang tersebar di pegunungan mulai bergerak pelan menuju tubuhnya, lalu tersedot masuk melalui pori-pori yang terbuka lebar. Energi itu mengalir melewati meridian yang sempit dan rapuh, terasa seperti banjir besar yang dipaksa melewati sungai kecil yang nyaris runtuh kapan saja.
Namun anehnya—
Tubuh Qin Xiang justru bertahan.
Bahkan Dantian raksasa di dalam tubuhnya terus melahap seluruh energi itu tanpa henti seperti jurang tak berdasar.
Wushhh...
Aura Qi perlahan berputar di sekeliling tubuhnya.
Lantai kayu di bawahnya mulai retak sedikit demi sedikit akibat tekanan energi yang terus meningkat.
Entah sudah berapa lama berlalu, hingga akhirnya mata Qin Xiang perlahan terbuka.
Kilatan cahaya samar melintas di kedalaman pupil hitamnya, diiringi napas panjang yang keluar dari bibirnya.
“Pemurnian Qi tahap keempat...” gumamnya pelan sambil mengepalkan tangan. “Kecepatan tubuh ini jauh lebih baik dari perkiraanku.”
Senyuman tipis perlahan muncul di wajahnya.
Beberapa hari lalu, tubuh ini bahkan nyaris tidak mampu menyerap energi spiritual dengan baik. Namun sekarang, dantiannya telah terisi hampir penuh oleh Qi murni yang padat.
Jika orang lain mengetahui kecepatan kultivasinya, mereka mungkin akan menganggapnya monster.
Tetapi bagi Qin Xiang—Ini masih terlalu lambat.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah berdiri di puncak langit sebagai Kaisar Agung yang membuat ribuan dunia tunduk di bawah kakinya. Dibandingkan kekuatan masa lalunya, kultivasi saat ini bahkan tidak lebih dari setetes air di lautan luas.
Namun justru karena itulah...
Tatapan Qin Xiang perlahan berubah dingin.
Ia tahu lebih baik dari siapa pun bahwa fondasi adalah segalanya.
Semakin kuat fondasi seseorang di awal kultivasi, semakin tinggi pula langit yang mampu mereka capai di masa depan.
Dan kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Qin Xiang perlahan berdiri lalu berjalan keluar dari gubuk untuk menghirup udara pagi yang terasa segar setelah berhari-hari hanya berkultivasi tanpa henti.
Sinar matahari pagi menyinari wajahnya.
Angin gunung bertiup lembut, membuat ujung rambut hitamnya bergerak perlahan.
Untuk sesaat, Qin Xiang hanya berdiri diam sambil memandang pegunungan luas di kejauhan.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia menikmati ketenangan seperti ini.
Di kehidupan sebelumnya, hari-harinya dipenuhi darah, perang, dan pengkhianatan. Bahkan saat berdiri di puncak dunia, tidak pernah ada kedamaian yang benar-benar nyata.
Namun sekarang—
Ia kembali menjadi manusia biasa.
Dan anehnya... perasaan itu tidak terlalu buruk.
“Sudah waktunya bergerak,” gumamnya pelan.
Tanpa membuang waktu lagi, Qin Xiang segera berjalan menuju Aula Misi Sekte Pedang Giok.
...
Aula Misi masih seramai biasanya.
Puluhan murid sekte keluar masuk sambil membawa gulungan tugas di tangan mereka. Beberapa tampak terluka setelah berburu monster, sementara yang lain sibuk membanggakan hasil misi mereka kepada teman-temannya.
Namun begitu Qin Xiang melangkah masuk—
Suasana langsung berubah sedikit aneh.
Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar samar dari berbagai arah.
“Itu Qin Xiang, kan?”
“Bukannya dia sampah sekte?”
“Aku dengar dia menghajar Xiao Jing sampai pingsan hanya dengan satu pukulan...”
“Mana mungkin?”
Tatapan penuh rasa penasaran mulai tertuju kepadanya. Tetapi Qin Xiang sama sekali tidak memedulikannya. Langkahnya tetap tenang saat berjalan menuju meja pendaftaran murid.
Tetua penjaga aula yang sedang membaca gulungan tua perlahan mengangkat kepala. Namun begitu merasakan fluktuasi energi dari tubuh Qin Xiang—
Kedua matanya langsung sedikit menyipit.
“Pemurnian Qi tahap keempat?”
Nada suaranya mengandung keterkejutan yang sulit disembunyikan.
Qin Xiang menyerahkan plat identitas lamanya tanpa banyak bicara.
Tetua itu memeriksanya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil.
“Dari tahap pertama menuju tahap keempat hanya dalam beberapa hari...” gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala. “Entah kau menyembunyikan bakatmu selama ini atau memang mengalami keberuntungan besar.”
Qin Xiang hanya tersenyum tipis.
Ia tentu tidak mungkin menjelaskan bahwa dirinya adalah reinkarnasi seorang Kaisar Agung.
Tak lama kemudian, tetua itu menyerahkan sebuah plat perak baru kepadanya.
“Mulai hari ini, kau resmi menjadi murid pintu luar.”
“Terima kasih, Tetua.”
Qin Xiang menerima plat itu dengan tenang sebelum berjalan menuju papan misi besar di tengah aula.
Ratusan gulungan tugas tertempel di sana.
Sebagian besar hanyalah misi biasa seperti berburu monster tingkat rendah, mengumpulkan herbal, atau mengawal pedagang.
Tatapan Qin Xiang bergerak cepat menyapu semuanya.
Hingga akhirnya—
Matanya berhenti pada sebuah gulungan tua di sudut papan.
“Mengumpulkan Mawar Giok Darah...” lirihnya pelan.
Senyuman samar langsung muncul di sudut bibirnya.
Bagi murid lain, misi itu terkenal berbahaya karena lokasi Mawar Giok Darah berada di dalam gua yang dipenuhi binatang buas berbahaya. Namun bagi Qin Xiang—
Yang ia lihat bukanlah bahaya.
Melainkan kesempatan.
Esensi Mawar Giok Darah mampu memperkuat meridian dan memurnikan kotoran yang telah menumpuk lama di dalam tubuh. Itu adalah sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini.
Tanpa ragu, Qin Xiang langsung mengambil gulungan misi tersebut lalu membawanya menuju meja persetujuan.
Tetua penjaga aula sempat mengernyit saat membaca nama misi itu.
“Kau yakin ingin mengambil tugas ini?” tanyanya sambil menatap Qin Xiang dalam-dalam. “Murid pintu luar biasa saja belum tentu berani memasuki gua itu.”
“Maksud Tetua tentang Kelelawar Pelahap Aura?” Qin Xiang tersenyum tipis. “Bukan masalah besar.”
Tetua itu langsung terdiam.
Tatapannya berubah semakin aneh.
Biasanya murid seusia Qin Xiang akan pucat pasi hanya dengan mendengar nama monster itu. Namun pemuda di depannya justru terlihat terlalu tenang.
Seolah ancaman itu hanyalah lelucon kecil.
“Dasar bocah aneh...” gumam sang tetua sebelum akhirnya menstempel gulungan misi tersebut. “Pergilah kalau begitu. Tapi jangan salahkan siapa pun kalau kau mati.”
Qin Xiang hanya mengangguk ringan sebelum berbalik meninggalkan aula.
...
Beberapa jam kemudian, Qin Xiang akhirnya tiba di Kota Giok yang berada di kaki gunung sekte.
Kota itu jauh lebih hidup dibanding wilayah sekte yang dingin dan penuh aturan.
Teriakan pedagang saling bersahutan di sepanjang jalan utama. Aroma daging panggang dan roti hangat memenuhi udara. Anak-anak kecil berlarian di sela kerumunan sambil tertawa riang tanpa memedulikan kerasnya dunia kultivasi.
Qin Xiang berjalan perlahan menyusuri jalanan kota sambil membiarkan suasana ramai itu memenuhi indranya.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia melihat dunia fana seperti ini.
Di kehidupan sebelumnya, orang-orang yang berada di sekelilingnya hanyalah penguasa dunia, kultivator tertinggi, dan monster tua yang telah hidup ribuan tahun.
Tidak ada tawa ringan.
Tidak ada kehidupan sederhana.
Yang ada hanyalah intrik, pembantaian, dan perebutan kekuasaan tanpa akhir.
Untuk sesaat, Qin Xiang benar-benar menikmati suasana itu.
Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama.
Plak!
Seseorang tiba-tiba menabrak bahunya cukup keras dari belakang.
“Heh! Apa kau buta?!” bentak suara arogan yang terasa sangat familiar di telinganya.
Qin Xiang perlahan memutar tubuh, matanya langsung mengunci sosok yang menabraknya itu.
Wajah orang di depannya langsung membeku.
“Qi-Qin Xiang?!”
Qin Xiang mengangkat alis sedikit sebelum senyum mengejek perlahan muncul di wajahnya.
“Oh?” katanya santai. “Xiao Jing.”
Tubuh Xiao Jing langsung menegang.
Ingatan tentang satu pukulan Qin Xiang beberapa hari lalu masih terasa jelas di kepalanya. Hidungnya bahkan belum sepenuhnya pulih sampai sekarang.
Qin Xiang melangkah maju satu langkah.
“Aneh,” ujarnya pelan. “Aku sedang menikmati suasana kota dengan cukup baik beberapa saat lalu.”
Tatapannya perlahan menyipit.
“Tapi begitu melihat wajahmu... suasana hatiku langsung memburuk.”
Mendengar pernyataan pihak lain, wajah Xiao Jing langsung berkedut marah.
Namun saat menyadari banyak orang mulai memperhatikan mereka, matanya tiba-tiba berputar licik, sebuah solusi jahat muncul di benaknya.
Detik berikutnya—
Ia langsung membusungkan dada sambil berteriak keras.
“Kita adalah murid Sekte Pedang Giok yang terhormat!” katanya lantang dengan ekspresi penuh kebenaran palsu. “Apa kau tidak tahu malu mengancam sesama murid di tengah kota seperti ini?! Kau ingin mempermalukan nama sekte kita?!”
Kerumunan mulai berhenti berjalan.
Beberapa penduduk memandang Qin Xiang dengan tatapan tidak suka, membuat Qin Xiang sendiri sampai terdiam beberapa saat.
Bukan karena takut.
Tetapi karena benar-benar kagum melihat betapa tidak tahu malunya Xiao Jing.
Di kehidupan sebelumnya, Qin Xiang pernah melihat pengkhianat, iblis, bahkan dewa licik yang bermain di balik layar dunia.
Namun entah kenapa...
Bocah seperti Xiao Jing justru terasa jauh lebih menyebalkan.
Melihat orang-orang mulai berpihak padanya, Xiao Jing langsung semakin percaya diri.
“Hmph! Jika kau memang punya kemampuan, temui aku di arena sekte!” katanya keras sambil mundur perlahan. “Jangan bertindak seperti preman jalanan!”
Setelah berkata begitu, ia segera berbalik dan pergi dengan langkah cepat sebelum Qin Xiang benar-benar kehilangan kesabaran.
Qin Xiang hanya memandangi punggungnya yang semakin menjauh di tengah keramaian kota.
Untuk sesaat, ia benar-benar kehilangan kata-kata.
Sudut bibirnya akhirnya terangkat tipis sebelum ia menggelengkan kepala pelan. “Benar-benar badut kecil yang menyebalkan...” gumamnya.
...
Bersambung!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!