Hembusan angin malam yang terasa begitu menusuk tulang tak membuatnya beranjak. Ia masih terus asyik menatap langit. Entah hal apa yang selalu menarik minatnya memandangi angkasa yang begitu luas.
Queenara Sheeva gadis mungil yang sedari tadi begitu asyik menatap langit itu bahkan tak menyadari dirinya pun sedari tadi ada yang memperhatikan. Dia begitu asyik dengan dunianya sendiri.
Sudah lima tahun berlalu, akan tetapi kebiasaannya duduk menyendiri di atas ayunan ini tak pernah dia tinggalkan. Tak ada yang dia lakukan, dia hanya berdiam diri sembari menatap langit. Bahkan jika tidak ada yang menegurnya, dia bisa sampai pagi berada di sana.
" Sayang ..!" Usapan lembut di pundaknya membuat sheeva mengalihkan pandangannya. Siapa lagi yang berani menegurnya jika bukan bunda Wijayanti pengasuh panti asuhan tempat Sheeva mengasingkan diri.
" Masuk yuk, sudah sangat larut. Anginnya juga sangat dingin." Ucap perempuan yang sehari-hari di panggil bunda Aya oleh anak-anak asuhnya.
Kalau boleh berkata jujur. Sebenarnya teramat menyakitkan bagi seorang Wijayanti. Dia setiap hari harus menyaksikan putri dari sahabat baiknya ini terus menenggelamkan diri dalam duka. Akan tetapi, apalah daya dia pun tak mampu berbuat banyak. Sheeva selalu berkata " Izinkan aku menikmati luka ini sejenak saja bun " Setiap kali dia mencoba membawa gadis manis itu bangkit.
" Sebentar lagi ya bun, aku masih mau di sini " Jawab Sheeva sembari memejamkan matanya.
" Bukankah kakak besok mau pindahan ke ruko ?" Sheeva mengangguk.
" Kalau masih bergadang begini bisa-bisa kesiangan lho " Bunda Aya mencoba merayu Sheeva dengan alasan itu supaya Sheeva mau kembali ke kamarnya.
" Bun..!"
" Apa sayang ?" Wijayanti mengelus surai hitam legam milik Sheva dengan penuh kasih sayang.
" Mama sedang apa ya di atas sana ?" Satu pertanyaan yang selalu sukses membuat tenggorokan seorang Wijayanti tercekat.
" Apa mama di sana juga merasakan apa yang Sheeva rasakan saat ini ya bun, Sheeva kangen mama bun ?" Ucap Sheeva sembari menenggelamkan kepalanya di atas lututnya yang di tekuk.
" Tentu sayang, saat ini mama juga pasti sedang rindu bisa memeluk kamu. Mama pasti sedang memperhatikan kamu dari atas sana, beliau sedang menatap anak gadisnya ini penuh kerinduan " Jawab bunda Aya dengan suara berat. Air matanya pun sudah meluncur tanpa mampu beliau cegah.
" Maaf ya bun, aku selalu saja membuat bunda sedih dan menangis " Tanpa kata-kata bunda Aya membawa Sheeva masuk kedalam dekapannya. Keduannya sama-sama menangis.
Sudah lima tahun nyatanya luka itu tak benar-benar bisa sembuh.
" Terima kasih banyak bun, sudah menampung aku di sini dan menjadi rumah ternyaman buat aku pulang saat mereka yang seharusnya menjadi tempat aku berlindung bahkan tak mengharap kehadiranku " Dengan lembut bunda Aya mengusap pungung Sheva.
" Ini rumah kamu juga sayang. Mamamu mendirikan panti asuhan ini sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran kamu waktu itu." Jawab bunda Aya.
" Nggak nyangka aku malah sekarang jadi salah satu penghuninya ya bun ?" Bunda Aya terlihat menghela nafas.
" Kakak jadi pindah ke ruko besok ?" Bunda Aya mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Jadi bun, semua sudah siap kok. Izin aku bawa mbak Misya ya bun ?"
" Iya, biar mbak Misya temani kamu nanti."
" Terima kasih bu,tolong jangan beri tau om David dan bang Jagad ya bun "
" Sama-sama, bunda ikut saja bagaiman mau mu kak. Sekarang masuk yuk bunda kedinginan " Sheeva mengalah, dia tak mau perempuan yang sudah menjaganya selama ini jatuh sakit.
Sheeva kini duduk di bangku kelas 11 menengah atas. Terhitung sudah lima tahun gadis ini tinggal di panti asuhan yang didirikan mamanya dan di jaga oleh sahabat baik mamanya ini.
Sheeva sebenarnya terlahir dari keluarga yang sangat berada. Dia putri dari Maharani Syailendra dan Pandu Hutama. Mamanya seorang bisnis Woman. Beliau sukses dengan bisnis supermarket yang menyebar di beberapa kota besar negeri ini. Bisnis yang dia rintis sejak sebelum menikah. Sayang kini dalam penguasaan sang papa dan istri keduanya.
Alih-alih menerima fasilitas dari keluarganya Sheeva yang saat itu baru duduk di bangku kelas 8 menengah pertama memilih tinggal di panti asuhan ketimbang tinggal dengan nyaman bersama keluarganya.
Bahkan Sheeva menanggalkan kemewahan selama dia hidup di panti. Dia bahkan memilih bekerja paruh waktu ketimbang mengandalkan uang dari orang tuanya. Konyol bukan?
Akan tetapi jika kita tau alasan seorang Sheeva melakukan ini semua pasti kita akan berucap "Pantas dia melakukan itu "
Banyak hal yang membuat seorang gadis kecil seperti Sheeva memutuskan keluar dari zona nyamannya. Dan memilih bekerja meras memenuhi kebutuhannya sendiri.
Sejak pindah ke panti Sheeva benar-benar memangkas uang jajannya. Dia bahkan hidup layaknya anak panti yang lain. Mulai kelas 9 menengah atas Sheeva susah ikut bantu-bantu di salah satu cafe milik kakak dari teman sekolahnya.
Sedikit-demi sedikit dia menabung dari hasil dia bekerja di cafe tersebut. Lalu saat dia memasuki bangku menengah atas keberuntungan seolah mulai berpihak padanya. Hobi mendisain perhiasannya di mintai salah satu perusahaan usai dia memenangkan perlombaan desain yang di selenggarakan perusahaan tersebut. Sheeva bahkan di rekrut menjadi desainer tetap meskipun dia tidak pernah datang ke kantor. Hanya sesekali saja dia datang jika di perlukan.
Dari gaji desain dia itulah Sheeva berhasil membeli sebuah ruko. Sesuai rencana dia akan membuka toko sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya di sana. Sesuai saran dari Misya dan beberapa kakak asuhnya di panti lah dia membuka toko sembako itu. Jika sudah ada modal kembali Sheeva berencana mengembangkan tokonya itu menjadi grosir sembako yang lebih besar lagi.
Dia berharap dari usahanya ini dia bisa membantu bunda Aya dalam memenuhi keuangan panti yang tak jarang keteteran. Dia mau semua adik-adiknya bisa sekolah tinggi, agar mereka kelak bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Dia juga berharap dengan usaha ini bisa menciptakan lapangan kerja untuk teman-temannya di panti yang susah lulus sekolah menengah atas dan tidak bisa berkuliah.
Bagaimanapun dia merasa punya tangung jawab atas keberlangsungan panti yang dulu didirikan dan di biayai oleh mamanya ini. Sayang semenjak lini usaha mamanya di pengang oleh papanya tak lagi ada sokongan untuk panti asuhan dengan alasan kebijakan pimpinan yang baru. Sheeva sempat di buat geram oleh kelakuan papanya itu.
Sejak itu dia bertekad harus mandiri dan mapan soal finasial agar panti tak perlu mengemis belas kasian orang lain terutama papanya.
SMA Harapan Bangsa , sekolah elit dimana tempat Sheeva menimba ilmu saat ini. Sekolah yang kebanyakan siswanya adalah anak dari pembisnis dan kaum elit di negeri ini. Hanya sedikit siswa yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Itupun mereka bisa masuk karena beasiswa, termasuk dengan Sheeva.
JIka siswa lain harus berjuang cukup keras demi bisa mendapat beasiswa tersebut, lain halnya dengan seorang Sheeva. Sheeva justru beruntung karena dialah yang di pinang oleh Harapan bangsa ketika dia bahkan masih duduk di bangku kelas 8 menengah atas.
Bukan tanpa alaan Sheeva mendapat kesempatan luar biasa itu. Prestasi Sheeva lah yang membuat sekolah unggulan itu begitu tertarik dengan seorang Sheeva. Sheeva pun tidak menyia-nyiakan kesempatan luar biasa itu.
Sheeva bahkan langsung masuk kelas unggulan. Bahkan kini dia menjabat sebagai wakil ketua osis. Seharusnya dia mendapat mandat menjabat ketua osis, akan tetapi Sheeva tolak dengan halus. Maka mau tak mau dia harus menjabat sebagai wakil ketua osis. Padahal dia sebenarnya enggan ikut berorganisasi begini.
Kalau di tanya soal popularitas seorang Sheeva di Harapan Bangsa jangan di ragukan lagi. Sedari awal masuk saja dia sangat mencuri perhatian. Tubuhnya yang mungil dengan rambut hitam legam sebahu yang selalu dia tata dengan rapi, walau sesekali dia urai. Belum lagi parasnya yang begitu cantik dan senyumnya yang sedikit irit membuat orang penasaran ingin mengenal lebih dekat dirinya.
Sayang Sheeva seolah menarik diri dari riuhnya pergaulan. Sheeva terkenal teramat pendiam cenderung dingin. Dia seolah menghindari percakapan dengan siswa lain terlebih jika tidak ada hubungannya dengan urusan sekolah.
Hanya Nindi gadis manja dan cenderung berisik yang mampu membuat seorang Sheeva mencair. Maklum mereka sudah berteman sejak sekolah dasar. Jadi hanya Nindi juga yang ambung bertahan dengan keacuhan Sheeva.
Selain Nindi ada juga Bisma yang juga akan sedikit di tanggapi ketika mengajak Sheeva berbicara. Itupun kalau ada hubungannya dengan kegiatan osis, karena Bisma adalah ketua osis Harapan bangsa membuat Sheeva mau tak mau ering berurusan dengan Bisma. Itu saja sangat terlihat Bisma lah yang mendominasi percakapan.
Hari senin seperti ini Sheeva selalu melakukan tugasnya berdiri di dekat gerbang sekolah memastikan kerapian seluruh siswa yang hadir. Dia tak sendiri, ada 2 anggota osis perempuan dan dua angota osis laki-laki yang ikut bertugas. Seharusnya ada Bisma pula sebagai ketua osis, sayang hari ini BIsma pagi-pagi sudah di minta menghadap kepala sekolah.
" Pagi Sheevaku yang cantik jelita tiada tara !" suara melengking Nindi yang masih nangkring di atas motor pacarnya membuat Sheeva mendesah malas.
" Tumben pagi-pagi sudah di depan gerbang, mau menyambut tuan putrimu ini ya ?" goda Nindi dengan gaya centilnya.
" Pelankan suaramu Nin, ini bukan hutan " Nindi terbahak, dia senang bisa memancing Sheeva.
Sheeva memeriksa kerapian Nindi, mulai dari atribut sampai kerapian rambut.
" Aman kan ?" Ucap Nindi setelah Sheeva selesai memeriksa.
" Jangan lupa ikat rambut kamu saat pelajaran kalau nggak mau di potong paksa sama bu Marta " NIndi memanyunkan bibirnya.
" Udah sana masuk ke dalam barisan "
" Ay-ay kapten " Ucap Nindi sembari ngacir menuju lapangan tempat para siswa dan guru akan melaksanakan upacara rutin.
" Sheev bisa bantu bagian siswa nggak, kita kuwalah ini. " Sheeva mengangguk, terlebih sebentar lagi akan memasuki jam masuk mereka.
" Maaf ijin saya periksa " Ucap Sheeva
" Silahkan ..!" Sheeva mendongak merasa familiar dengan suara itu. Sesuai dugaannya yang kini berdiri di hadapannya adalah most wantednya Harapan bangsa.
" Bajunya bisa tolong di masukan dan jas nya tolong dikenakan " Semua meoleh kearah Sheeva. Bukan hanya keberanian seorang Sheeva yang membuat semua orang terkejut. Akan tetapi jawaban dari seorang Zalindra kay Aditama lah yang membuat semua orang menganga tak percaya.
" Oke !" tanpa perintah untuk kedua kalinya Kay menuruti kemauan Sheeva. Ini rekor, seorang kay mau menuruti perintah seseorang, perempuan lagi.
" Kedepannya tolong lebih tertib saat memasuki lingkungan sekolah " Imbuh Sheeva. Dan di anguki oleh seorang Kay.
Sheeva melanjutkan tugasnya hanya tinggal beberapa siswa saja.
" Hari ini ada lima pelanggaran sekaligus, silahkan jam istirahat nanti menemui sei kesiswaan " Ucap Sheeva tegas. Mendengar itu Kay yng sedang sibuk merapikan bajunya tersenyum. Ini yang dia suka, sifat tegas Sheeva.
Sayang telinganya harus mendengar sikap tak sopan siswa yang sedang d perika oleh Sheeva.
" Kejam amat sih loe. Loe nggak takut pa gue laporin bokap gue. Hangus bisa-bisa bea siswa andalan loe itu " Kay hendak bertindak tapi, urung begitu melihat Sheeva terlihat tenan.
" Laporkan saja, maka jika beliau datang kemari. Akan aku tunjukan rentetan cacatan pelanggaran kamu " ucap Sheeva tak kalah tegas.
" Lihat penampilan kamu. Ini sekolah berkelas tapi penampilan kamu sungguh tidak mencerminkan itu. Baju tidak dimasukkan, atribut tidak lengkap, mulut bau asap rokok, sepatu berwarna merah dan rambut kamu sudah saatnya dirapikan. Jika kamu tidak mau mengikuti peraturan Harapan bangsa, silahkan cari sekolah yang bisa kamu permainkan peraturannya. Harapan bangsa hanya untuk siswa yang patuh pada aturan bukan untuk orang yang mengandalkan nama orang tua seperti kamu "
" Cacat saja toh nanti juga bakalan di hapus BK."
" Dan saya akan pastikan itu tidak terjadi. Sekolah ini memiliki martabat dan tidak akan tunduk pada orang tua yang siswanya tidak tau aturan semacam kamu "
" masuk kedalam barisan seelah tiang bendera seperti yang lain. Jangan membuat keributan atau konsekuensi yang akan kamu terima bisa lebih dari ini "
Sheeva memang begitu tegas jika menyangkut peraturan. Dia tak mau ada siswa yang seenaknya sendiri.
Dari jauh Kay menatap Sheeva dengan kebangaan. Sejauh dia mengamati Sheeva memang memegang teguh tugasnya. Tidak akan yang luput jika Sheeva yang bertugas di depan gerbang.
Sementara para guru pun juga sama. Meski terkenal pendiam Sheeva selalu mengemban tugasnya dengan baik. Tak ada yang pernah minus jika sudah ada di tangan Sheeva. Itulah kenapa kepala sekolah sempat merekomendasikan dia menjadi ketua osis. Sayang Sheeva tak berkenan. Dan lebih menerima jabatan sebagai seorang wakil ketua osis. Itupun dia terpaksa karena kepala sekolah mengacam akan meng hapus beasiswanya. Padalah itu hanya agar Sheeva mau menerima mandat tersebut.
Hari ini aku bisa berangkat lebih awal dari hari biasanya. Tak perlu lagi ku pacu si coklat motor matic yang kubeli setahun lalu. Tiga bulan terakhir aku terpaksa berangkat agak siang karena harus membantu mbak Miysa buka toko sembakoku terlebih dahulu.
Alhamdulillah setelah tiga bulan buka tokoku mulai ramai dan jika hanya berdua sama mbak Misya saja kami kewalahan melayani pembeli.Akhirnya mulai hari ini aku merekrut dua kakak asuh ku di panti untuk membantu mbak menjaga toko.
Awalnya mbak Misya selalu menolak saat aku bilang mau membuka lowongan katanya kita berdua saja cukup. Tapi, karena semakin kesini semakin ramai dia nyerah juga akhirnya.
" Sheev, usul kamu kemaren kayaknya memang benar deh ?" Ucap mbak May dua hari lalu.
" Usul yang mana mbak ?" Ucapku dengan masih sibuk menghitung penghasilan kami hari itu.
" Cari pegawai " Aku terkekeh.
" Lha siapa coba yang kemaren bilang masih bisa handle semua sendiri ?" Mbak Misya hanya tersenyum.
" Makin hari pelangan kita makin banyak Sheev, suka kewalahan kalau pas kamu nggak ada. Kasian pada ngantri pelangan kita "
" Kira-kira mbak ada pandangan tidak ?"
" Kemaren sih Mutia sama Andi yang cerita lagi cari pekerjaan " Aku menoleh ketika nama kak Andi di sebut. Karena setau aku kak Andi sudah tiga bulan kerja jadi OB di salah satu perusahaan swasta.
" Lho bukannya kak Andi katanya kerja di perusahaan jadi OB mbak ?" Aku tanya saja dari pada penasaran.
" Udah nggak di perpanjang kontraknya. Kamu tau kan Andi itu kelawatan rajinnya. Ada seniornya yang nggak suka. "
" Ada orang kerja rajin kok malah nggak suka gimana ceritanya itu ?"
" Ya begitulah dunia kerja Sheev "
" Oya rencana mau ambil berapa orang kamu ?"
" Gimana kalau dua-duanya biar di sini mbak, soalnya aku ada rencana buat beli armada buat kirim barang. Jadi pembeli yang beli dalam partai besar bisa mendapat jasa antar begitu mbak "
" Kak Andi bisa nyetir nggak ya mbak ?"
" Bisa kayaknya. Kalau boleh saran Sheev, jangan dulu beli mobil. Bisakan motor roda tiga dulu."
" Yang ada gerobak belakangnya gitu mbak ?' mbak Misya mengangguk.
" Iya Sheev soalnya yang buat parkir an juga belum ada"
" Ya udah itu dulu juga tidak apa-apa mbak "
Jadilah mulai pagi ini kak Andi dan mbak Mutia sudah mulai aktif di toko. Jadi aku bisa berangkat sekolah lebih awal dan lebih tenang.
Sekolah masih terlihat sepi, maklum baru pukul 06.30 pagi. Biasa anak-anak baru akan datang di pukul 06.45. Kebanyakan siswa memilih datang mepet jam masuk, bahkan tidak sedikit yang jadinya terlambat.
" Pagi Sheeva tumben sudah sampai jam segini ?" Langkahku terhenti sejenak, karena sapaan dari Bisma.
" Pagi juga Bis, iya jalanan agak lenggang tadi."
" Aku duluan Bis " aku melangkah tanpa menunggu jawaban dari Bisma.
Kelasku masih terasa lengang, banyak bangku yang masih kosong. Ku putuskan membuak buku desaiku yang selau ku bawa kemana-mana. Lumayan sembari menunggu jam masuk setidaknya satu desai baju bisa aku selesaikan.
Menjelang jam masuk kelas ku mulai ramai. Akau masih fokus dengan gambar milikku. sampai...
" Hay Sheevaku tumben sudah sampai ?" Nindi sepertinya terkejut melihatku sudah berada di kelas.
" Iya mbak Misya sudah ada yang bantuin di toko, jadi aku bisa berangkat lebih awal. Nggak perlu bantu mbak Misya buka toko dulu "
" Wah bu bos kita bisa santai dong sekarang ? "
" Kalau begitu balik sekolah nanti bisa dong mampir ke kafe sebentar, mama sama kak Agung kangen kamu katanya."
" Lihat nanti ya Nin, soalnya hari ini ada suplayer mau datang." Nindy mengacungkan ibu jarinya lalu beralih duduk di bangkunya sendiri.
Bel tanda jam pelajaran pertama akan dimulai sudah berbunyi. Kelasku mendadak riuh saat bu Sari wali kelas kami masuk bersama seorang siswa baru.
Aku terkejut begitu mengetahui yang masuk bersama bu Sari adalah Pamungkas saudara tiriku. Jantungku berdetak tak karuan. Kenapa dia harus pindah ke sekolah ini, bagaimana kalau nanti dia harus bertemu dengan papa dan saudara tiriku yang lain ?
" Kamu kenapa Sheev, kenal sama anak baru itu ?" Nindy rupanya begitu peka. Aku hanya bisa menjawab dengan angukan.
" Siapa ?"
" Anak papaku " Nindy pun sepertinya juga terkejut. Dia menatap sendu kearahku.
" Are you ok ? " Aku mengeleng lemah.
Anehnya pamungkas tak terkejut melihat keberadaanku. Dia malah terlihat menunduk saat kamitak sengaja saling tatap. Ada apa dengan anak ini, bukankah dia biasanya selalu membuat onar ?
Aku sudah mencoba fokus dengan pelajaran akan tetapi, konsentrasiku benar-benar sudah pecah. Bahkan sampai bel tanda jam istirahat berbunyi.
" Sheev ke kantin yuk ?" Ucap Nindy.
" Kamu duluan aja Nin, aku mau ketoilet dulu "
" Ya mana seru Sheev ?"
" Kan ada ayang kamu Nin, itu sudah di jemput "Nindy hanya tersenyum.
" Ya sudah aku duluan. Langsung nyusul ke kantin ya ?" Aku hanya menjawab dengan anggukan.
Tanpa ku duga setelah kepergian Nindy dan kelas mulai kosong, Pamungkas mendekat kearahku dan langsung duduk di depanku.
" Sorry !" Aku terkejut.
Seorang pamungkas yang hanya tau membuat onar mengucap maaf, demi apa ini ?
" Untuk apa ?"
" Untuk sikap burukku di masa lalu " Aku semakin heran di buatnya. Ini benar Pamungkas bukan sih ?
" Yang sudah berlalu ya sudah biarkan saja berlalu. Aku hanya minta satu hal sama kamu ?"
" Apa itu ?"
" Tolong jangan sampai ada yang tau kalau aku saudara tirmu "
" Why ?"
" Aku hanya ingin hidup tenang. Anggap saja Queen kalian sudah mati " Pamungkas nampak keberatan dengan ucapanku.
" Dan satu lagi, jangan sampai ada keluargamu yang tau kalau aku di sini "
" Jangan risau gue udah lama keluar dari rumah itu " aku dapat melihat dengan jelas ada amarah dari sorot mata Pamungkas.
" Kenapa ? " jujur aju penasaran, anak mami seperti dia milih keluar dari rumah nyamannya.
" Sama kayak loe, gue nggak nyaman disana "
" Loe tau kan bang Jagad dan bang Erlan masih selalu mengawasi loe ?" aku mengangguk.
" Papa sehat kan ?"
" Sehat badanya, tapi, mentalnya seprtinya nggak "
" Loe nggak mau ambil apa yang sebenarnya menjadi hak loe ?" Aku lagi-lagi di buat terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan pamungkas.
" Buat apa ?"
" Toh tanpa itu semua aku masih bisa hidup sampai saat ini "
" Queen.."
" Please jangan panggil aku dengan panggilan itu "
" Sorry !"
Aku memilih keluar kelas lebih dulu. Sesak rasanya dadaku jika harus berlama-lama ada bersama seseorang yang membuat kenangan pahit itu berputar kembali.
Lima tahun aku menjauh, mencoba menyembuhkan luka itu sendiri. Menutup segala akses dengan orang-orang yang bergelar keluargaku. Walau ku tahu bang Jagad dan bang Erlan tidak pernah lepas mengawasiku.
" Mah kenapa masih sesakit ini " bulir air mataku tak mampu ku bendung.
Bayangan ketika mama harus meregang nyawa di hadapku kembali menari-nari di atas kepalaku.
Aku baru kelas 7 waktu itu dan harus meyaksikan mamaku mengalami insiden kecelakan persis di depan mataku.
Siang itu mama menjemputku saat pulang sekolah karena bang Jagad harus menghadiri pesta ulang tahun mama kadungnya. Yang tak lain adalah mama tiriku.
Mama yang baru keluar dari mobil tiba-tiba di tabrak dengan keras oleh sebuah sepeda motor yang melaju dengan kencang. Mama terpental jauh, tubuhku bergetar hebat waktu itu. Bahkan sampai sekarang aku masih selalu begitu jika mengingat hal itu.
Dari segala kejadian itu hal yang membuat ku sakit adalah papa yang tak kunjung datang meskipun sudah aku kabari sejak awal. Bahkan dia baru datang saat kami sudah selesai menguburkan jasad mama. Hanya bang Jagad yang lansung datang. Dan hanya om David dan bunda Aya lah yang mendampingiku sedari awal.
Tak menaruh rasa benci, hanya masih sakit jika bertemu dengan mereka. Untuk itu kau pergi ke panti asuhan bunda Aya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!