Indonesia
NovelToon NovelToon

Putri Penguasa Yang Terlupakan

Prolog

Sebuah ruangan kecil berukuran tiga kali empat meter, dengan kamar mandi di dalamnya. Cukup sempit untuk seorang putri di istana yang dilayani pelayan pribadi.

Namun, tidak bagi Pia. Bagi dia, ruangan kost ini adalah surga jika dibandingkan kamarnya di desa—tempat yang hanya cukup untuk kasur dan lemari kecil di sudut ruangan. Keluarganya hanya buruh tani, dan dia sangat beruntung bisa kuliah dengan mendapatkan beasiswa.

Meskipun dikenal sebagai anak yang cukup jenius, Pia cukup malas ketika harus mengerjakan tugas. Baru saat ini dia menyadari bahwa ada tugas presentasi yang harus diselesaikan esok hari, dan semua pekerjaan itu menumpuk di atas meja belajarnya.

Namun, saat ini perhatiannya lebih tertuju pada sebuah buku cerita yang sedang populer belakangan ini—khususnya di kalangan perempuan yang menyukai karakter utama laki-laki bernama Lucas Alexandro, yang digambarkan sangat sadis di dalam buku itu.

"Cukup gila! Dia mengurung pemeran wanita, ini pelecehan namanya, kau tahu tidak pelecehan," ucap Pia melempar buku yang berjudul Love Obsession itu ke sebelahnya tepat di atas kasurnya.

"Kalau aku jadi wanita itu, aku pasti kabur bersama uang dan anak-anak ku!" lanjutnya saat berdiri dari posisi terlentang, kemudian meregangkan tangannya yang kaku.

"Sudahlah Pia... mereka cuma tokoh fiksi, tidak akan terjadi apa-apa padanya dan kamu tidak bisa merubah apa-apa. Mereka tak berbentuk nyata kan?" gumamnya seolah mencoba menenangkan diri sendiri agar tidak terus menggerutu.

Pia meninggalkan kasur menuju ke sudut lain yang cukup berantakan. Ya, itu meja belajar Pia yang penuh dengan tumpukan buku, tas kuliah yang berantakan serta bekas makanan cepat saji di mana-mana sebab dia tidak sempat untuk memasak karena sibuk kuliah.

Dia memegang pinggangnya memikirkan yang harus dia lakukan terlebih dahulu, Pia kemudian teringat akan presentasi penting yang akan menentukan nasib beasiswanya akan dilanjutkan atau tidak nantinya.

"Pia! Apa yang kamu lakukan... presentasinya besok, dan sekarang sudah jam dua belas malam! Yah... Aku harus begadang lagi malam ini," gumam Pia menepuk jidatnya kasar.

Namun, dia tidak punya waktu lagi untuk mengeluh dan langsung mengambil laptop yang tertutup buku-buku di atas meja itu. Dan mulai mengerjakan tugas yang diperintahkan dengan sistem kebut semalam.

Setelah cukup lama bekerja, Pia meregangkan tubuhnya yang kaku kemudian melihat cahaya yang masuk di ventilasi kostnya yang tentunya saja sudah menunjukkan matahari sudah meninggi, dan tidak ada waktu untuk tidur lagi.

Perempuan itu tidak perduli sebab dia sudah terbiasa seperti ini bahkan hingga tujuh hari berturut-turut tanpa tidur sama sekali. Dia tidak perduli dengan kesehatan jantungnya yang penting tugas proyeknya bisa selesai dengan waktu kebut semalam.

Pia mengambil tas yang kini penuh dengan berkas dan laptop, dia tidak sempat lagi untuk berdandan. Pia hanya bergaya seadanya, hanya menyempatkan diri untuk mandi agar tidak perengus saja.

Dia kemudian berlari menuju lorong gedung demi menuju persentasi yang akan di mulai beberapa detik lagi, selepas mendorong kasar pintu. Terlihat seorang dosen sudah berada di dalam menolehnya dengan tatapan datar, begitu juga dengan teman-temannya.

"Pia, dari mana kamu, kenapa terlambat?" tanya dosen wanita itu melihat Pia, dengan mata cekung nya yang menghitam dan baju kemeja nya yang terlihat berantakkan.

Pia masih terengah-engah berdiri di ambang pintu, tangannya masih mengenggam erat gagang pintu yang baru saja dia dorong. Rambutnya nampak kusut sebab terus berlari dan menaiki tangga agar bisa segera sampai ke kelas.

"Maaf Bu Lana... saya... saya terlambat karena ada kendala di jalan," bohongnya, padahal sebenarnya karena dia masih mengerjakan tugasnya tadi.

"Kalau ada kendala kenapa tidak berangkat lebih pagi, Ya sudah duduk sana. Kalau kamu ulangi lagi saya beri nilai E," geram Bu Lana.

Pia menghela nafasnya kasar padahal Ibu Lana terdengar killer dan tidak segan-segan memberikan E pada murid yang tidak taat peraturan seperti Pia saat ini.

Pia mengendap-endap menuju kearah kursinya yang sepertinya sudah di siapkan oleh temannya, sebab terlihat jelas ketika teman nya itu menujuk kursi kosong yang ada di sebelahnya, Pia kemudian duduk disana dan meletakkan tasnya.

"Pia, ngapa lo terlambat?" tanya temannya.

"Biasa lah gue ngerjain deadline," sahutnya mengambil bukunya berada di dalam tas.

"Eh, lo tuh kebiasaan ya, lo tau nggak ada kating kita yang meninggoy gara-gara kecapekan ngerjain skripsi, kurang-kurangin dah begadang. Contoh gue, gue ngerjain dari jauh-jauh hari. Lagian kita ini bukan anak Arsitek, apalagi DKV," bisik temannya menatap fokus kedepan memperhatikan temannya yang lain sedang memasang proyektor.

"Iya.. Iya..." jawabnya terlihat cukup jengah mendengar celotehan temannya.

"Pia, sini maju tunjukkan persentasi mu," panggil Bu Lana, membuat Pia menoleh padahal baru saja dia ingin sedikit bernafas lega tenyata sudah di panggil oleh dosennya.

Dengan berat hati Pia mengambil flashdisk yang berada di dalam tasnya, kemudian berjalan dengan gontai menuju kearah laptop yang sudah siapkan oleh temannya tadi.

Pia langsung mencolokkan flashdisk itu pada laptop dan Pia sedikit mengotak-atik laptop itu agar bisa menampilkan PPT yang dia sudah buat semalaman.

Terpampang lah di layar monitor berjudul, 'Tugas PPT Filsafat Pia,'. Bu Lana nampak mengangguk selepas melihat layar itu seolah sangat A-plus pada Pia karena mengerjakan tugas dengan susah payah.

"Hem... Hem.. " Pia berdehem sebelum memulai persentasi nya.

"Teman-teman semua, saya Pia, akan memaparkan persentasi yang saya buat," ujar Pia seraya tersenyum.

Teman-teman nya terlihat bersiap, beberapa menganggukkan kepala dengan antusias, sebab Pia selalu membuat persentasi bagus dengan jawaban-jawaban yang spektakuler.

Namun, selepas membuka slide kedua, semua orang nampak terdiam saling menoleh, "Lucas Alexandro - Manusia yang tak punya hati, hanya mengikat seorang perempuan di kediamannya yang mewah," Pia membaca dengan datar seolah belum memahami apa yang dia tulis di slide PPT itu.

Ibu Lana yang sejak tadi masih menunggu Pia berbicara dengan lantang, langsung menoleh pada Pia yang berbisik seolah penasaran dengan tulisannya sendiri.

"Pia, apa yang sedang kamu bahas itu? ini bukan review novel sadis ya," geram Lana menatap nyalang pada Pia dari atas ke bawah, dia mungkin tidak membaca buku itu. Namun, dia mendengar desas-desus betapa menjijikkan nya novel itu.

Pia menutup mulut dengan kasar, dia tidak sengaja menulis karakter Lucas Alexandro yang merupakan Villan dari buku Love Obsession. Dia membulatkan matanya dan menoleh pada monitor yang menampilkan sampul bukunya.

"Aish... tidak menyangka ya, Pia suka hal seperti itu," bisik seorang mahasiswa yang duduk pojok tengah ruangan itu.

"Iya, padahal kesannya kayak kalem dan terpelajar," sinis nya yang tentu nya terdengar di penjuru kelas.

Bertahan Hidup

Pia nampak panik dan buru-buru mencoba mematikan layar monitor itu, "Ish... bagaimana bisa aku melakukan dengan tidak sengaja... apa otak ku konslet sedikit tadi," geramnya dalam hati.

"PIA! apa maksud kamu ini sebenarnya? kamu menganggap kuliah lelucon kalau begini terus saya tidak segan-segan memberikan kamu E?" Ibu Lana makin geram lihat tingkah Pia yang kelabakan.

"B-bukan begitu bu, saya akan coba perbaiki... saya tidak tau kenapa file nya bisa salah," ujar Pia masih mengotak-atik laptop itu.

"Saya tidak mau..."

Ucapan Lana terpotong melihat Pia mencengkram dadanya dengan kuat, keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya. Seperti manahan sesuatu yang sangat membuatnya tidak nyaman.

"Kenapa kamu Pia? kamu berpura-pura sakit agar saya iba, saya tidak perduli, saya sering menemukan mahasiswa bandel seperti kamu,"

Pia tidak menjawab apapun, malah mencengkram sisi meja yang berisi proyektor dan laptop itu. Suasana mulai tegang, menoleh ke arah Pia.

Pia tidak tau mengapa dadanya begitu sesak seolah di tusuk-tusuk sesuatu dengan punggung yang terasa dingin menusuk. Pia merasa pandangan di depan memburam dengan wajah-wajah panik yang mulai menghampirinya.

Namun, entah siapa itu, temannya yang menasehati nya, dosennya yang killer itu, atau temannya yang mengutuknya tadi. Tapi, yang dirasakan Pia saat ini hanya sakit.

*

"Bangun kamu bocah tengik! berani kamu tidur sedangkan aku stress!"

Teriak seseorang yang menganggu tidur Pia, rasa suara itu seperti monster yang jahat siap menerkam nya kapan saja.

Pia mengerjapkan mata singkat, rasanya ruangan itu tidak sama dengan ruangan kelasnya bukan kah dia tadi pingsan di kelas. begitupun dengan klinik kampus juga tak sama persis. Tempat nya sekarang seperti gudang barang bekas.

"Bangun kamu... ctar..."

Teriak wanita itu lagi memberikan sabetan kemoceng tepat di punggung nya membuat Pia terbangun dengan paksa dan merayap ke ujung ranjang kotor itu tanpa aba-aba.

"Hahaha... bangun juga kamu sekarang," ujarnya dengan hidung kembang kempis dan mata merah menyala seperti banteng matador yang siap menyerang nya.

"Ampun... ampun, jangan sakiti aku," rintih sembari mengangkat kedua tangannya untuk menutup wajahnya.

Pia nampak keheranan dengan apa yang dilakukan oleh dirinya saat ini padahal dia sudah berusia dua puluh tahun dan, 'sangat tidak estetik menurut nya,'

"Bangun juga kamu akhirnya," seringainya dengan menaiki ranjang dan mencengkram dagu Pia dengan kasar.

"Ctar..." wanita mengayunkan lagi kemoceng itu ke arah Pia, "Kamu tau, aku gagal lagi dalam berjudi, dan anak ku gagal diterima jadi abdi negara, ini semua karena kamu dan ayah mu yang kotor itu," ujarnya makin mencengkram dagu Pia dengan kasar, serta tatapan nyalang nya.

"Maka, terima lah ini!" pekiknya memberikan sentuhan yang menyakitkan di tubuh Pia hingga wanita itu puas dan meninggalkan kamar itu.

Pia merasakan tubuhnya mati rasa, lemah tak berdaya hingga terlelap kembali dalam gelap yang tak dapat dideskripsikan.

Beberapa jam kemudian dia terbangun dengan tubuh yang masih sakit, Pia kemudian melihat di sekitar nya yang terlihat berbeda dari bagian mana pun hidupnya dulu.

"Aku tidak pernah merasa tinggal di tempat ini sebelumnya, rumah Sri, Dewi, Desi, Nadia, Laras juga tidak seperti ini," gumam Pia mencoba mengingat teman-teman dekat nya di kampus.

"Aish..." ucapnya menggeram pelan selepas merasakan rasa nyeri akibat dari wanita yang dia tidak kenali itu.

Pia mencoba merangkak turun dari ranjangnya, dan merasakan jaraknya dari lantai sedikit jauh. Tidak seperti biasanya, sebab dia orang dewasa, tapi kenapa dia bagaikan anak kecil yang baru tumbuh.

Pia tetap berusaha menjadi orang yang positif, kemudian berjalan mencari kamar mandi. Meskipun sedari tadi dia cukup aneh sebab lantai yang dia pijaki terasa dekat.

"Ya ampun, Tuan Lucas ternyata akan mengadopsi seorang anak,"

Suara itu membuat Pia terhenti dan bersembunyi untuk memastikan percakapan para pelayan yang memakai kemeja dengan celemek di pinggang nya itu.

"Ya, anak itu pasti tidak akan di perdulikan,"

"Tapi, setidaknya kita masih mendapatkan gaji,"

"Heh.. gaji kata mu, wanita tua itu sering membuat kita telat dapat gaji. Mending kita pindah saja, atau kita menjilat saja pada anak angkat Tuan, agar bisa mendapatkan tempat yang layak, tidak disini dengan keadaan kumuh,"

"Hahaha... benar juga, dari pada membuat dosa dengan menghardik anak itu terus, lebih baik kita melayani orang yang benar-benar dia anggap anak oleh Tuan," tawa pelayan itu memenuhi ruangan dan terdengar jelas oleh Pia.

Pia nampak memegangi dagunya dan masih mendengar perbincangan mereka yang sedang menggosipkan atasan mereka dan mengutuk anak Tuan mereka sendiri.

"Oh jadi aku ini kemungkinan anak Lucas..." ujar Pia terhenti.

"Hah! Anak Lucas Alexandro! yang benar saja," bisik Pia dengan cukup lantang, namun tidak terdengar jelas oleh para pelayan.

"Siapa itu?" panggil salah satu pelayan penasaran dengan suara siapa yang didengarnya.

"Paling juga tikus, kan sebentar lagi villa ini akan rubuh... hahaha," sahut temannya itu.

"Iya, kamu mungkin ada benar juga... hahaha," jawab nya kemudian tertawa dan menggandeng temannya itu mereka pun berjalan meninggalkan lorong itu.

Pia masih tercengang dengan percakapan yang baru saja dia dengar, jika benar perkataan dari kedua pelayan itu. kemungkinan besar dia adalah anak dari Lucas Alexandro yang membuang anak kandung nya.

"Aku tidak mau mati," ujar Pia menatap wajah kecil yang ada di dalam cermin di atas wastafel.

"Apa ya kira-kira yang harus aku lakukan untuk melewati nya sampai aku dewasa, menjilat pada Lucas?" gumam Pia sembari menyentuh pipinya yang tembem itu.

"Tidak, tidak aku akan mati konyol, bagaimana kalau dia langsung membunuh aku ketika berlagak manja di dekat nya,"

"Kalau aku bertahan disini, mungkin aku akan mati juga dengan wanita itu, atau aku coba dekati... " Pia menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak aku tidak akan selamat dari apapun,"

"Kruuuk..."

Pia menyentuh perutnya yang saat ini terasa sakit, mungkin dia belum makan apapun karena matahari sudah semakin meninggi dan sejak tadi Pia hanya tertidur.

Pia menuruni tangga wastafel itu kemudian memberanikan diri keluar dari villa itu untuk mencari makanan yang mungkin bisa didapat dari komplek rumah besar itu.

Tiba-tiba Pia berhenti ketika seseorang sedang bersantai di sebuah taman dengan kolam teratai yang indah di hadapannya. Dengan cepat Pia menghampiri berharap orang itu akan memberikan sedikit kue yang ada di atas sana.

"Halo, Tuan Muda, apakah kamu ingin memberikan sedikit kue yang ada di atas sana," ujar Pia dengan gugup.

Pria yang sedang duduk bersandar di sofanya itu, lalu menatap balik ke arah Pia dengan tatapan dingin dan mengintimidasi seperti orang yang kejam. Mata elang nampak menelusuri Pia dari atas ke bawah.

Jatuh ke Kolam

Melihat tatapan mata yang dingin itu membuat Pia ketakutan sedikit, dan tersentak mundur dari tempatnya. Namun, seketika dia teringat dia sudah dua puluh tahun dan sudah lama menghadapi orang seperti Lucas.

"Hem... Tuan, tangan mu terluka ya, sini aku tiup. Katanya kalau di tiup pasti sembuh," ujar Pia mencoba mengalihkan perhatian dengan meniup tangan Lucas yang menunjukkan keloid di tangannya yang seperti telah lama sembuh.

"Apakah ini sakit?" kata Pia dengan mata berkaca-kaca.

Lucas tidak perduli dan malah menepis tangan Pia dengan dingin. Lucas kemudian menaikkan satu kakinya ke kaki lainnya dan mulai bersantai kembali tanpa memperdulikan Pia.

"Kau ingin kue ini?" tanya Lucas dengan dingin.

"Ehmmm..." angguk Pia singkat.

"Kalau begitu ambilah," ujar Lucas kemudian melemparkan kue itu ke kolam teratai.

Pia nampak memejamkan kedua matanya dan merasa bingung harus mengambil kue itu atau bertahan dengan perut lapar, tapi Pia tidak tahu seberapa dalam kolam teratai yang ada di depannya itu.

Pia ingin mencoba, "Ah, sudah lah yang penting mati dalam keadaan kenyang," gumamnya dalam hati.

Tanpa aba-aba Pia berlari dengan kaki kecil, demi mendapatkan sepotong kue yang tak seberapa itu. Beberapa Ajudan Lucas nampak ingin menghampiri Pia karena terkejut dan juga khawatir serta sedikit memiliki sisi manusiawi.

Namun, Lucas menahan mereka dengan mengangkat tangannya, agar mereka tidak bergerak. Dia ingin melihat bagaimana Pia mendapatkan makanan itu.

Pia tanpa basa-basi menyeburkan diri pada kolam teratai yang ternyata tidak dangkal sama sekali. Sebelum menyentuh kue yang telah masuk kedalam air itu, dia sudah hampir tenggelam.

Ternyata air kolam itu lebih dalam dari apa yang Pia duga. Tanpa kemampuan renang yang memadai dan juga tubuhnya yang kecil, membuat tubuhnya tenggelam dengan perlahan.

Tangan dan kakinya meronta-ronta tanpa arah, mencari sesuatu untuk dijangkau.

Dari mulut kini mulai mengeluarkan gelembung udara dan matanya masih terpaku pada kue yang mulai mengabur sebab kesulitan bernafas.

Beberapa Ajudan sudah siap untuk melompat, namun Lucas hanya melihatnya dengan dingin dan tanpa ekspresi.

Dan ketika Pia benar-benar hampir hilang di dalam air, Lucas perlahan mengangkat tangannya dengan datar.

"Bantu dia,"

"Aku tidak ingin seseorang mati di kolam ku,"

Sesudah mendengar titah, dua Ajudannya terjun kedalam kolam, kemudian menarik tubuh Pia yang sudah tak sadarkan diri keluar dari dalam air.

Mereka memberikan pertolongan pertama hingga Pia terbatuk dan mengeluarkan air dari paru-parunya.

Setelah melihat Pia sudah selamat dengan masih terbatuk, Lucas memalingkan wajahnya dari Pia kemudian berdiri dari duduknya. Tanpa melihat ke arah Pia lagi, Lucas meninggalkan tempat itu dan berkata dengan nada yang dingin.

"Bawa dia kembali ke villa, dan pastikan dia tidak berkeliaran di sekitar ku, aku tidak suka tungau kecil mengusik hidup ku," tegas Lucas sembari melirik tajam pada Pia, kemudian pergi dari sana.

Pia pun menatap sinis ke arah Lucas yang tidak perduli padanya, bahkan sekedar handuk usang saja dia tidak akan memberikannya. Pia kemudian menatap ke arah dua Ajudan Lucas.

"Om, boleh tidak ya, aku ambil kue, aku lapar sekali belum makan dari tadi. Kalau tidak diizinkan oleh Tuan Muda itu, tidak apa-apa," ucap Pia dengan memelas.

Kedua Ajudan itu saling melirik seolah mengatakan, ada yang tidak beres dengan Nona Sophia. Sebab setiap bulan Sophia mendapatkan jatah belanja bulanan dari rumah utama, tapi kenapa Nona Sophia tidak punya baju yang layak dan makanan.

"Om kalau tidak boleh, tidak papa Om, Pia sudah biasa kok menahan lapar," ujar Sophia memiringkan kepalanya sedikit, melihat kedua Ajudan itu melamun.

"Memangnya Nona Sophia tidak dimasakkan Bibi?" tanya salah satu Ajudan.

"Bibi, aku tidak ada yang seperti itu, ada Mama yang suka marah-marah," ucap Sophia memegang dagunya.

"Mama?... bukannya istri Tuan sudah lama meninggal karena melahirkan Nona," bisik salah satu Ajudan pada temannya.

Ajudan itu langsung menepuk punggung temannya itu, seolah mengatakan tidak boleh membahas di hadapan Nona Sophia.

Ajudan itu kemudian tersenyum ke arah Sophia, "Nona, sepertinya Tuan tidak akan menyentuhnya lagi, Anda boleh ambil sepuasnya," jawab Ajudan itu mengambilkan kue yang berada di atas piring keramik itu.

Sophia langsung mengenggam dan memeluknya dengan erat melihat satu persatu kue yang diberikan Ajudan Lucas dengan gembira.

Sophia kemudian menoleh pada wajah Ajudan Lucas, "Terima kasih Om, aku akan menghematnya," ujar Sophia tersenyum simpul.

Jidat kedua Ajudan itu terlihat berkerut dan saling menatap merasa iba dengan anak Tuan mereka, meskipun begitu mereka tak dapat berbuat banyak sebab Tuan mereka yang memiliki hati sekeras batu.

"Iya Nona, kalau begitu ayo kita kembali ke Villa," ujar Ajudan Lucas mengulurkan tangannya di hadapan Sophia.

Dan dengan senang hati, Sophia meraih tangan itu meskipun harus kembali ke tempat yang menyeramkan itu. Dia harus menerima karena tempat satu-satunya dia bisa berteduh hanya tempat itu.

Tidak berselang lama akhirnya mereka sampai di depan Villa itu. Kedua Ajudan itu melihat ke sekelilingnya, tempat itu jauh dari kata layak. Halaman tidak dibersihkan bahkan tembok villa terdapat banyak jamur hitam, seakan kediaman para Ajudan lebih layak dibanding tempat Sophia.

"Apa kita laporkan saja pada Tuan?" tanya temannya.

"Memang Tuan akan mendengar kita, nanti malah kita yang kena masalah. Yang penting Nona Sophia sudah kita antar pulang, tugas kita selesai," sahut Ajudan yang menggandeng Sophia.

"Kau ada benar juga," jawab temannya itu sembari memegang bibirnya seolah telah salah bicara.

"Terima kasih ya, Om-om semua, Pia masuk dulu. Jangan lupa berak ya nanti biar sehat," ujar Sophia melambaikan tangannya dan tersenyum simpul tanpa ada beban.

Kedua Ajudan itu menyipitkan matanya sebab perkataan terakhir Sophia yang nyeleneh, "Ah, kasihan sekali Nona padahal dia lucu,"

"Sudahlah, ayo kita pergi," ujar temannya itu merangkul leher sang Ajudan, kemudian meninggalkan villa itu.

Di sisi lain, pengasuh sudah menunggunya di dalam dengan tatapan merah membara. Sedangkan Sophia tak sempat lagi menyembunyikan kue-kue nya dan hanya beberapa yang telah melewati tenggorokannya.

Sophia menelan ludah kasar, matanya terbelalak melihat Linda telah siap dengan kemoceng di tangannya, "Kemana saja kamu anak sialan? orang tuanya saja sudah bikin sial," ujar Linda mencoba menyebutkan Ibu Sophia.

"Ctar..."

Cambuk Linda membuat kue-kue di tangan Sophia berjatuhan di lantai. Sophia memandangi kue-kue itu dengan berkaca-kaca. Padahal baru saja dia bisa merasakan apa itu kenyang, tapi semua langsung jatuh di hadapan nya dengan keadaan menyedihkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!