Hujan gerimis membasahi bumi malam ini, susah pukul satu malam namun penghuni rumah yang paling ujung sama sekali tidak bisa tertidur karena mereka seolah merasakan sesuatu yang aneh sehingga untuk memejamkan mata terasa begitu sulit, semua penghuni itu masih terdiam dengan pikiran masing-masing dan tidak ada niat untuk tertidur sama sekali.
Suara gerimis yang ada di luar membuat mereka merasa itu adalah sebuah pertanda buruk sehingga untuk memejamkan mata seolah tidak memiliki nyali sama sekali, tidak tahu rasa takut itu berasal dari mana namun yang jelas ada ketakutan tersendiri di dalam hati mereka sehingga semua tetap terjaga dengan ponsel di tangan.
Ini semua berawal dari kepala keluarga yang bernama Sayuti, pria berdarah Jawa itu menghidupkan musik-musik lama sehingga para anak-anak yang tinggal di rumah ini merasa ikut seram dan musik itu seolah memanggil sesuatu yang tak kasat mata, untuk melarang mereka juga tidak mungkin berani karena Sayuti pasti akan sangat marah.
Setiap malam Jumat dia memang selalu memutar lagu itu seolah menjadi peringatan bahwa mereka adalah penyembah Jawa kuno yang tidak akan pernah pudar, bahkan di dalam kamar Sayuti yang tersendiri selalu saja ada sesaji yang dia berikan kepada orang tua mereka sendiri yang sudah meninggal dunia.
Sayuti mengatakan bahwa orang yang meninggal juga butuh makanan sehingga setiap malam Jumat dia akan menyediakan makanan tersebut, padahal sang istri pernah menentang namun akhirnya mereka justru bertengkar sehingga Nurjanah memilih untuk diam saja serta tidak mempermasalahkan lagi hal itu agar tidak terjadi pertengkaran di antara mereka berdua.
Sebab watak Sayuti juga begitu keras sehingga dia tidak bisa dicegah sama sekali, apa yang menurut dia benar maka itu akan selalu benar dan tidak akan pernah menerima masukan dari orang lain, para anak-anak yang sudah di era modern ini sebenarnya juga merasa muak dengan tingkah Sayuti namun mereka sama sekali tidak memiliki kuasa untuk berbicara.
"Aku beneran jadi tidak bisa meminjamkan mata ini." anak sulung Sayuti membuka suara.
"Lah apa kau lihat sejak tadi aku sudah memejamkan mata, lagi pula setiap malam Jumat selalu memutar lagu itu sehingga aku merasa sangat muak." Riko menjawab ucapan sang saudara.
"Entah tujuan dia itu sebenarnya apa sehingga selalu memutar lagu seperti itu, Ayah tidak pernah bisa diajak berbicara baik." Ricky juga membuka suara.
"Ngomong sama Ayah itu sangat menghabiskan tenaga karena kita juga tidak pernah bisa mendapat kemenangan." ucap Riko kembali.
"Dia adalah pemegang kuasa dalam rumah ini sehingga tidak mungkin kita bisa membantah." Ridho juga setuju dengan ucapan adik dia.
Braaaaak.
Baru saja mereka selesai berbicara untuk menggosip orang tua mereka sendiri, mendadak saja ada suara berisik seperti barang yang terjatuh dan menghantam lantai begitu keras sehingga mereka bertiga segera keluar untuk mengecek keadaan tersebut, takut kalau sesuatu terjadi pada Ibu mereka bertiga.
"Aaaghhhhkk!"
"Ayah!" Riko berteriak kaget ketika melihat Sayuti sudah di atas lantai dengan bergelimang darah.
"Apa yang terjadi kepada, Ayah?" Ricky juga segera menghampiri karena dia sangat cemas.
"Di mana Ibu sekarang?" Ridho ingin berlari untuk mencari keberadaan Ibu mereka.
"Cari Ibu dan biar kami saja yang mengurus Ayah." Riko terlihat sangat panik dan sedih.
Ridho segera berbalik untuk mencari keberadaan Ibu mereka bertiga, namun belum sempat dia menemui malah saat ini terkena hantaman balok yang begitu kencang pada bagian kepala sehingga mau tidak mau pemuda ini jatuh tersungkur karena tidak sanggup menahan rasa sakit yang sedang menghantam pada bagian kepala dia.
Braaaaaak.
"Siapa kau?!!" Riko kaget melihat rombongan orang yang sudah datang memasuki rumah mereka malam ini.
"Apa mereka adalah anak-anak dari Sayuti?" bos besar memakai jas hitam menatap para anak buah.
"Ya, mereka bertiga adalah anak Sayuti." jawab sang istri.
Braaaaaak.
"Ini Ibu yang kalian cari itu?" istri bos besar melemparkan tubuh Ibu mereka bertiga.
Riko dan yang lain sama sekali tidak paham apa yang telah terjadi ini sehingga mereka kedatangan orang yang tidak dikenal dan langsung melakukan pembunuhan, Ibu mereka meninggal dunia dalam keadaan di gorok sehingga leher itu menghancurkan darah segar dan kelihatan hampir putus dari sana nya.
Ini menerima berbagai macam luka di tubuh dia, mulai dari tusukan dan beberapa robekan dan yang paling parah adalah pada bagian punggung karena dari atas hingga pinggang terlihat sangat menganga, mungkin saja mereka tadi melakukan dengan pedang sehingga terlihat begitu memanjang luka tersebut di punggung Sayuti.
Dieeeeek.
"Bunuh anak-anak mereka juga!" bos besar memberi perintah kepada para bodyguard.
"Jangan sampai ada yang tersisa karena aku tidak ingin ada pembalasan dendam di akhir nanti." istri bos besar juga memberi perintah.
"Siapa kalian sebenarnya Dan kenapa kalian melakukan ini kepada keluarga kami?" Ricky panik dan ketakutan namun dia juga bingung.
Namun pertanyaan pemuda itu sama sekali tidak dihiraukan oleh para bodyguard, dengan lincah memainkan pisau dan menggores leher Ricky dengan pisau tersebut sehingga pemuda itu menggelepar di lantai dengan darah mengucur, seperti ayam yang terkena potong sehingga Riko yang melihat hal itu tentu saja menjadi tambah ketakutan.
"Ric!" Riko ingin menggapai tangan sang adik namun dia tidak bisa.
Taaaap.
"Ini anak kedua mereka dan sebenarnya sebentar lagi akan lulus kuliah, tapi ternyata lebih cepat disusul oleh maut." bos besar menatap Riko dengan pandangan mengejek.
"Itu sudah menjadi perjanjian namun dia mengingkari sehingga kita harus mengambil tindakan seperti ini." istri bos besar tersenyum simpul.
Riko sama sekali tidak paham dengan pembicaraan mereka berdua itu, entah perjanjian apa yang telah Sayuti buat sehingga orang-orang aneh ini mendatangi keluarga mereka di malam hari dan langsung melakukan pembunuhan keji seperti sekarang, sungguh tidak mengerti dan saat ini rasa takut yang timbul di dalam hati jauh lebih besar.
"Bila kau penasaran kenapa kami membunuh maka lebih baik kau bertanya kepada malaikat maut." istri bos besar berjongkok di depan Riko.
"Si... siapa kalian sebenarnya?" Riko bertanya dengan nada yang mulai lemah karena dia sudah kesakitan.
"Kami adalah malaikat maut dan kau tidak perlu marah kepada kami, kau harus marah kepada Sayuti karena dia yang telah mengingkari janji." jawab istri bos besar.
Jleeeeep.
Setelah Dia berbicara seperti itu maka langsung menusuk leher Riko menggunakan pisau yang ada di tangan, sungguh Dia tidak memiliki rasa ibadi dalam hati dan ini adalah malam pembantaian yang begitu mengerikan ada di rumah ujung.
Hallo ketemu lagi sama author Novita Jungkook, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita ya.
Seminggu berlalu.
Para warga yang kebetulan lewat untuk menuju sawah mendadak saja mencium aroma yang sangat masuk dari dalam rumah yang paling ujung itu, rumah yang begitu mewah namun selama ini pemilik rumah jarang sekali keluar untuk bersosialisasi dengan para tetangga sehingga bisa dikatakan mereka agak kurang kenal dengan penghuni rumah tersebut.
Hanya beberapa kali saja pernah melihat Sayuti dan itu pun mereka jarang berbicara satu sama lain, bahkan Pak RT juga kurang mengenal keluarga tersebut karena mereka yang sangat tertutup dan jarang sekali berkumpul dengan para warga yang lain sehingga mereka tidak tahu bagaimana saya tak terjangkau keluarga yang tinggal di rumah paling ujung.
Ini malah mendadak saja rumah tersebut mengeluarkan aroma yang begitu busuk ketika ada orang yang lewat ingin menuju sawah, rumah Sayuti memang ada di dekat sawah karena dia sengaja memilih tempat tersebut sebagai lokasi yang paling nyaman, pas di rumah dia besar namun memang ada di pinggiran sawah.
Jadi orang yang ingin pergi ke sawah bisa mencium aroma tidak enak dari rumah tersebut, bahkan bau itu begitu mengeluarkan mana-mana sehingga mereka tidak sanggup untuk bertahan lama ketika melewati rumah tersebut, rasa tidak sanggup itu membuat mereka jadi penasaran juga apa yang telah terjadi dan apa yang sangat bau di dalam rumah.
"Apa kita lapor saja pada Pak RT untuk mencari tahu?" Andi bertanya kepada sang teman untuk memastikan.
"Bisa juga kita lapor kepada Pak RT saja karena ini sudah sangat bau." Davin setuju dengan ucapan Andi.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita datangi saja rumah Pak RT, terlebih lagi mereka juga tidak pernah terlihat selama seminggu ini." Andi berkata dengan nada cemas.
"Tapi lagi pula selama ini mereka memang jarang keluar dan wajar saja bila kita tidak melihat mereka." sahut Davin.
"Ya tapi setidaknya kita masih melihat mobil mereka keluar dari garasi dan kita tahu bahwa mereka masih hidup." jawab Andi.
Andi dan Davin segera menuju rumah Pak RT untuk memberitahu apa yang telah mereka cium di rumah paling ujung, sebab bau itu sangat tidak biasa dan sangat kuat sehingga mereka memutuskan untuk melihat saja ke rumah tersebut karena takut juga nanti ada sesuatu yang tidak enak.
Walau selama ini Sayuti juga jarang berkumpul dengan mereka namun tetap ada rasa cemas di dalam hati ketika ada tetangga yang menghilang mendadak, Sayuti hanya tidak ingin berkumpul dengan mereka bukan karena dia adalah orang jahat dan selalu mengeluarkan ucapan pedas kepada para tetangga yang ada di sekitar sini.
Satu satunya masalah dia hanya tidak mau berkumpul dengan para tetangga dan juga jarang menegur, jadi mereka memang dikatakan tidak dekat namun hubungan yang ada tetap berjalan dengan baik meski tidak saling bertegur sapa dengan orang yang ada di sekitar desa ini, bisa dikatakan mereka semua adalah orang asing.
"Mungkin cuma bangkai ayam atau bangkai tikus saja." ucap pak RT ketika sudah mendapat laporan.
"Tapi tidak mungkin itu hanya bangkai ayam atau tikus, Pak! sebab terasa sangat menyengat di hidung." Andi tetap kekeh mengatakan itu bangkai manusia.
"Ini memang sebaiknya kita datangi saja untuk melihat keadaan yang asli di sana, Pak." Davin memberi usul kepada Pak RT.
"Ya sudah kalau memang begitu mari kita datangi mereka saja." Pak RT akhirnya setuju untuk mendatangi rumah ujung.
"Aku takut kalau mereka semua malah mendadak saja mati di dalam rumah itu secara bersamaan." celetuk Andi.
"Heh kau ini kalau berbicara sembarangan saja!" Pak RT dan Davin sontak menoleh kepada Andi.
Andi reflek tutup mulut karena tadi yang keluar dari mulut dia adalah yang terpikirkan di dalam otak, sebab memang bau itu sangat mencolok sehingga otak Andi langsung berpikiran bahwa mungkin saja itu adalah jasad mereka semua yang meninggal secara mendadak di dalam rumah itu.
"Nah dari sini saja sudah tercium aroma yang tidak enak, Pak." Andi menutup hidung dengan tangan.
"Loh Kenapa sangat bau seperti ini?" Pak RT juga bingung karena ini aroma yang sangat tidak biasa.
"Maka nya aku takut kalau ternyata yang menjadi sumber bau ini adalah mayat mereka semua." Andi masih sangat yakin dengan pikiran dia.
"Kau jangan membuat orang takut seperti itulah, Andi!" sentak Davin karena dia juga mulai merasa cemas.
"Assalamualaikum." Pak RT mulai mengetuk pintu rumah Sayuti.
"Hening dan sepi seolah tidak ada tanda kehidupan di rumah ini." gumam Andi sambil memperhatikan sekitar rumah yang terasa begitu dingin.
"Kok tidak ada yang menjawab sampai sekarang ya?" Pak RT berusaha mengintip dari jendela.
"Ini sangat sunyi dan sepi, apa mereka pergi ke kota atau pergi ke mana ya?" Davin juga ikut mengintip dari jendela untuk melihat keadaan yang di dalam.
"Yang di bagian samping sana jendelanya agak terang, mungkin kita bisa melihat dari sana." Andi segera menuju rumah bagian samping.
Andi memang sempat melihat dan dia segera menuju tempat tersebut untuk memastikan apa memang ada sesuatu yang perlu dia lihat di dalam sana, sebab jendela yang bagian samping memang lebih terang sehingga tidak sulit untuk melihat bagian dalam rumah.
"Astagfirullah!" Andi menjadi keras ketika sudah melihat apa yang ada di dalam rumah itu.
"Heh ada apa sehingga kau berteriak sampai seperti itu?!" Davin berlari menghampiri karena teman dia berteriak dengan wajah pucat.
"K..kau lihat aja sendiri bagian dalam rumah itu." Andi sudah gugup dan juga ketakutan.
Davin dan Pak RT segera mengintip ke dalam rumah dan mereka berdua juga langsung pucat karena kaget melihat apa yang terjadi di dalam rumah tersebut, ternyata ucapan tadi yang di keluar dari mulut Andi adalah hal yang benar sehingga mereka sekarang saling pandang dan tidak tahu harus bagaimana untuk menangani masalah ini.
Satu keluarga tampak bertumpuk di ruang tengah dalam keadaan tubuh sudah tidak bernyawa dan juga darah bergelimang di atas lantai, bau busuk ini berasal dari tubuh mereka dan kemungkinan sudah cukup lama mereka meninggal dunia namun tidak ada yang mengetahui tentang kematian itu sehingga mereka sudah membusuk.
Ini mau tidak mau mereka harus melapor polisi terlebih dahulu agar para polisi bisa menangani masalah ini sampai selesai, Pak RT juga tidak berani bila mau langsung masuk ke dalam rumah karena nanti justru dia bisa menjadi tersangka, lebih baik mereka pulang saja terlebih dahulu dan melaporkan ini kepada polisi setempat.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
Semua harga saling berbisik satu sama lain ketika semua sudah berkumpul untuk melihat keluarga Sayuti yang mati terbunuh semua, sungguh sangat tidak disangka bahwa keadaan Sayuti sungguh mengerikan karena terlihat semua tubuh sudah membusuk sama sekali tidak ada yang tersisa sehingga orang yang melayat terus menutup hidung akibat bau itu.
Seminggu mayat dibiarkan begitu saja sehingga wajar bila aroma busuk sudah menyebar ke mana-mana, anda saja aroma busuk itu tidak keluar maka Davin dan Andi sama sekali tidak akan pernah tahu bahwa keluarga Sayuti sudah meninggal dunia dengan cara yang begitu tragis sekali, ini saja semua para warga masih bingung apa penyebab kematian orang kaya itu.
Mereka tidak pernah kenal Sayuti secara langsung dan hanya mengenal beberapa waktu sekilas dan itu juga tidak secara akrab, jadi silsilah keluarga Sayuti memang tidak pernah mereka ketahui dengan jelas, bahkan nama anak Sayuti mereka juga tidak mengetahui yang mana Riko dan mana Ricky.
Ini semua akan langsung di kubur begitu saja tanpa di mandikan terlebih dahulu, karena keadaan tubuh mereka yang sudah membusuk sehingga tidak mungkin bisa untuk di mandikan lagi. yang penting mereka akan menguburkan secara layak dan tidak ada rasa kemarahan di dalam hati, bahkan mereka tidak ada menggerutu walau selama ini Sayuti juga tidak pernah beramah tamah.
Keadaan desa terasa begitu mencekam sekali sehingga siapa saja yang melintas pasti akan bertanya apa yang telah terjadi, sebab mereka tidak tahu kenapa bisa ada seluruh keluarga mati dalam keadaan penuh misteri, yang jelas mereka menemukan sudah dalam keadaan membusuk semua seperti ini.
"Kenapa mereka mendadak saja ditemukan dalam keadaan meninggal dunia seperti?" para warga saling berbisik Karena penasaran.
"Tadi Andi dan Davin lewat dan mereka mencium aroma yang tidak sedap dari rumah itu." jawab yang lain.
"Kalau kena rampok tapi tidak mungkin karena keadaan rumah masih begitu rapi dan sama sekali tidak ada barang yang hilang." Pak RT juga terlihat begitu bingung.
"Kemungkinan pembunuh itu masuk dalam keadaan baik-baik, sebab memang tidak ada pintu yang rusak atau jendela kena congkel." Pak Lurah juga setuju dengan hal tersebut.
"Nah kami juga berpikir seperti itu karena saat tiba di sana memang semua pintu terkunci rapat." jawab Andi.
"Namun Kenapa mereka hanya membunuh saja tanpa mengambil barang? apa motif mereka membunuh keluarga Pak Sayuti." ujar Pak RT dengan nada bingung.
"Kita harus mencari tahu lebih dalam lagi kenapa bisa terjadi pembunuhan seperti itu." Andi bersemangat ingin mencari tahu bagaimana keluarga Sayuti meninggal dunia.
"Ah untuk apa kita mengurus keluarga dia sampai sedalam itu, sedangkan selama ini dia saja tidak pernah mau berbicara dengan para warga." bantah Yanto dengan sangat cepat.
"Benar, mereka jarang bersosialisasi dengan para tetangga dan tidak pernah menegur kami yang ada di dekat rumah." Muslihin juga setuju dengan hal itu.
Keluarga Sayuti memang sangat jarang berbicara dengan para warga yang ada di desa ini, Mereka sibuk dengan dunia sendiri dan tidak pernah mau berbicara bila tidak ada yang sangat penting, jangan kan untuk berbicara bahkan untuk tersenyum saja terasa berat bagi mereka semua yang tinggal di dalam rumah tersebut sehingga para warga tidak pernah ada yang mengenal.
"Tidak boleh bersikap seperti itu karena biar bagaimana mereka juga penduduk desa ini." Pak Lurah berkata dengan sangat bijak.
"Tapi kalau menurut saya maka tidak perlu untuk dibongkar lagi dan biar saja semua ini berjalan seperti ini, toh Kita juga sudah tidak tahu saudara yang mereka miliki." ucap pak RT.
Para warga banyak yang setuju dengan ucapan Pak RT tadi bahwa memang walau telah mereka bongkar siapa yang telah melakukan pembunuhan itu, tetap saja mereka tidak akan pernah bisa mengadukan kepada para keluarga, sebab saat ini keluarga Sayuti sudah tidak ada di desa ini lagi.
"Siapa tau saja di kota sana ada keluarga mereka." Andi berkata pelan.
"Lah yang ada di desa kita saja kita tidak saling mengenal, bagaimana yang ada di kota sana!" sinis Davin.
"Iya, lebih baik kita diam saja dan tidak perlu lagi ikut campur dalam urusan kematian mereka itu." Yanto setuju dengan ucapan Davin.
Pak Lurah hanya diam saja karena dia masih mempertimbangkan dan apa memang benar bahwa mereka lebih baik diam dan tidak usah ikut campur lagi, sebab kalau mau diungkit sampai mana saja maka mereka tidak akan pernah bisa melaporkan kepada keluarga yang di miliki oleh Sayuti di kota sana.
"Kita biarkan saja semua itu dan tidak usah ikut campur lagi." Pak Lurah akhirnya membuka suara.
"Nah benar apa yang dikatakan oleh Pak Lurah dan sebaiknya kita diam!" Pak RT juga membuka suara.
"Dengan begini kita hanya membantu menguburkan mayat yang telah kita temukan, tidak perlu lagi untuk mencari tahu tentang apa atau bagaimana mereka meninggal dunia." putus Pak Lurah.
Jadi para warga akhirnya setuju dan mereka tidak akan pernah mencari tahu tentang kematian Sayuti sekeluarga, membiarkan saja bagaimana keluarga itu meninggal dunia tanpa ada niat untuk mengusik lagi karena juga ini bukan urusan untuk mereka semua.
"Rumah itu nanti pasti akan sangat berhantu karena seluruh keluarga meninggal di sana." Muslihin berkata pelan.
"Eh iya ya, mana kalau kita mau pergi ke sawah pasti lewat rumah itu dulu." Yanto baru sadar.
"Kan, kadang aku malam juga ke sawah karena ada babi yang memakan padi." Muslihin mengusap wajah karena takut memikirkan hal itu.
Takut bila nanti dia pergi malam menuju sawah namun malah bertemu dengan sosok mengerikan di dalam rumah milik Sayuti, jadi ini para warga pasti merasakan takut ketika nanti akan melewati rumah Sayuti untuk menuju sawah milik mereka semua, rumah Sayuti memang paling ujung sehingga siapa saja yang perlu kesalahan harus lewat rumah itu terlebih dahulu.
"Ah tapi kan belum tentu juga kalau dia akan menjadi arwah gentayangan." Yanto berusaha menyangkal.
"Benar, siapa tahu itu tidak terjadi dan mungkin kita tidak perlu merasa takut." Muslihin berusaha untuk tetap tenang juga.
Yanto mengangguk pelan walau di dalam hati ada sedikit rasa keraguan tapi tetap saja dia berusaha untuk tidak takut, sebab Dia juga perlu ke sawah bila malam hari untuk menjaga padi, kadang-kadang memang ada babi yang ikut memakan padi milik mereka semua di sawah sehingga sebagian besar petani memilih untuk tidur di gubuk kecil agar bisa menjaga.
Selamat malam, jangan lupa like dan komen kalian semua ya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!