Matahari sore menyelinap masuk melalui jendela bus yang buram, menerpa wajah Asha yang sedang serius. Gadis kelas 12 itu tampak seperti "pustakawan cilik" dengan rambut dikepang satu yang rapi dan kacamata tebal yang hampir merosot ke ujung hidung.
Di pojokan bus yang pengap, Asha memeluk sebuah buku pemberian temannya.
"Duh, Dark Romance pula. Apa nggak makin mumet ini otak abis dijejali rumus Fisika?" gerutu Asha pelan.
Sebagai pencinta garis keras novel romantis yang manis-manis tipe cowok CEO baik hati atau pangeran berkuda putih tema gelap seperti ini sebenarnya bukan gayanya. Tapi, rasa penasaran menang. Asha mulai membalik lembaran demi lembaran, tenggelam dalam alur cerita yang penuh obsesi dan konflik kelam, sampai tak sadar bus sudah sampai di halte dekat .
Begitu sampai di depan pagar rumah, jiwa "petakilan" Asha langsung kumat.
"EMAAAKKK! EMAAAKKK! BUKAIN PINTU! ANAKMU YANG CANTIK JELITA INI SUDAH PULANG!" teriak Asha sambil menggedor-gedor pintu kayu rumahnya seperti sedang menagih hutang.
Ceklek.
Pintu terbuka dengan sentakan kasar, menampakkan sesosok wanita paruh baya dengan daster motif bunga dan sutil di tangan kanan.
"Iya, iya! Kagak usah teriak-teriak nape! Budek kuping tetangga dengar suara lu yang cempreng itu!" semprot Emak tanpa aba-aba.
Asha menyengir tanpa dosa, "Yee, si Emak. Dipanggil sekali nggak nyahut, makanya Asha gas pol."
"Heh, anak durhaka lu ya! Lu pikir Emak ini jin yang dipanggil sekali langsung HAP muncul di depan pintu? Emak lagi goreng ikan, telat sedetik aja itu ikan gosong sama kayak masa depan lu kalau malas belajar!" cerocos Emak sambil menjewer pelan telinga Asha.
"Aduh, duh! Ampun, Mak! Iya, Asha masuk! Jangan dikutuk jadi ikan goreng dulu!"
Malam harinya, niat Asha untuk belajar sirna ditelan rasa penasaran. Di bawah selimut, dengan bantuan cahaya senter ponsel, Asha terus membalik halaman novel Dark Romance itu. Napasnya tertahan, jantungnya berdegup kencang mengikuti alur cerita yang makin lama makin kacau.
Sampai pada halaman terakhir...
"HAH? APA-APAAN INI?!" pekik Asha tertahan.
Ia melirik jam di dinding. Pukul 03.00 pagi.
"Bejirr! Jam tiga pagi? Mana sekolah jam enam nanti! Gue belum tidur sama sekali!" Asha merutuki kebodohannya. "Mana ini ending-nya begini amat? Nggak ada yang bahagia? Tokoh antagonisnya mati, pemeran utamanya gila? Ah, kacau!"
Asha melempar buku itu ke samping bantalnya. Rasa kantuk yang luar biasa menyerang seperti dihantam palu besar. Tanpa sempat mencuci muka atau mengganti baju, ia langsung jatuh terlelap ke alam mimpi.
Bising.
Suara tawa, gesekan meja, dan obrolan riuh rendah mulai menusuk indra pendengaran Asha.
"Woi, Melody! Bangun lu! Mau tidur sampai kapan? Guru bentar lagi masuk!"
Asha tersentak. Suara itu bukan suara Emak yang sedang mengomel. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat. Namun, saat penglihatannya mulai fokus, jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Loh... ini di mana?"
Asha ternganga. Ia tidak berada di kamarnya yang berantakan dengan poster K-Pop di dinding. Ia berada di sebuah ruang kelas yang sangat mewah, luas, dan bersih.
Lebih mengejutkan lagi, semua anak di sekelilingnya memakai seragam SMA yang sangat asing—bukan putih abu-abu, melainkan seragam dengan jas elegan bergaya sekolah elit di luar negeri.
"Melody? Siapa itu Melody?" gumam Asha linglung.
"Lu lah! Siapa lagi? Makanya kalau malam tuh jangan begadang ngerjain hal nggak guna, muka lu jadi kayak zombi tahu nggak!" sahut seorang gadis cantik di sampingnya.
"Lah, elu siapa bejir?" tanya Asha dengan nada bingung yang sangat natural. Matanya mengerjap, menatap gadis di depannya seolah-olah orang itu baru saja turun dari piring terbang.
Gadis itu justru mendecit, meletakkan tangannya di pinggang. "Beneran stres nih anak. Kayaknya saraf lo putus satu gara-gara ditolak mentah-mentah kemarin," sahut perempuan itu dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat.
Asha refleks tertawa remeh. "Prett! Gue? Ditolak? Gue aja kagak pernah nembak orang, mana ada sejarahnya Asha nembak cowok sampai mewek!"
Perempuan di depannya memutar bola mata malas. "Melody, dengerin gue ya. Elo harus berkaca sekarang! Liat tuh, seberapa hancur dan berantakan maskara elo gara-gara nangis bombay kemarin. Apa otak lo beneran kegeser gara-gara patah hati?"
Asha tertegun. Melody? Dia manggil gue Melody?
Refleks, Asha mencoba membetulkan posisi kacamata tebalnya yang biasanya melorot ke hidung. Tapi jarinya hanya menyentuh kulit wajah yang mulus. Kosong. Tidak ada bingkai kacamata di sana.
"Loh? Kok... kacamata gue nggak ada?" Asha mulai panik, tangannya meraba-raba area matanya seperti orang buta.
"Yee, mabuk cinta ya begini! Elo emang nggak minus, Mel. Cuma kalau soal cowok, mata lo emang katarak! Makanya sadar!" sahut perempuan yang asyik mengoles lip balm itu. "Gue, Rere, sahabat lo yang paling cantik ini, saranin lo mending cuci muka deh."
Rere? batin Asha. Jantungnya mulai berdegup kencang. Nama itu terasa seperti sengatan listrik di ingatannya. Rere? Melody? Nama-nama ini... kok kayak di buku novel semalam?
"Duh, mules! Gue mau ke kamar mandi!" ucap Asha tiba-tiba, perutnya mendadak melilit karena panik bercampur bingung. "Anterin dong, sak berak nih!"
Gadis lain yang duduk di kursi sebelah—yang sejak tadi asyik dengan ponselnya—akhirnya berdiri. "Yaudah deh, gue yang temenin. Ribet amat lu, Mel."
"Ghea?" tebak Asha ragu-ragu saat melihat nametag di seragam gadis itu.
"Ya iyalah, emang muka gue berubah jadi bidadari dalam lima menit?" sahut Ghea jutek sambil menarik lengan Asha.
Asha menurut saja, kakinya melangkah lunglai mengikuti tarikan Ghea menyusuri koridor sekolah yang super mewah itu. Lantainya mengkilap, dindingnya penuh dengan piagam penghargaan, dan setiap siswa yang lewat tampak seperti model majalah.
Rere... Ghea... Melody... gumam Asha dalam hati. Bulu kuduknya meremang saat potongan plot novel dark romance yang ia baca semalam berputar di kepalanya.
Jangan bilang gue jadi Melody? Tokoh figuran yang nasibnya paling tragis karena cintanya ditolak si antagonis gila itu?!
"Gak mungkin, gak mungkin! Gue pasti cuma kecapekan gara-gara begadang, terus ini bunga tidur doang. Iya, bener, ini mimpi!" gumam Asha, mencoba menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdisko.
Ia mencoba bersikap santai, meski kakinya terasa gemetar saat menginjak lantai marmer kamar mandi yang dingin.
"Ehh, Mel! Gue kagak mau ya nemenin elo sampai ke dalam bilik. Ntar bau tai lo nyebar ke baju gue, ogah banget!" cetus Ghea sambil menutup hidungnya, berhenti tepat di depan pintu masuk area wastafel.
"Iyee, bawel! Elo boleh pergi, hush-hush!" usir Asha sewot.
"Yaudah, jangan lama-lama. Tapi... gue ngerasa elo hari ini agak aneh deh, Mel," ucap Ghea sambil menyipitkan mata, menatap Asha dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Asha menghentikan langkahnya. "Aneh kenapa?"
"Gak tahu ya, lo kerasa lebih... aktif? Kek satwa liar aja rasanya," celetuk Ghea tanpa dosa.
"Ehh, monyet! Sembarangan lo!" pekik Asha mendelik.
Tapi Ghea hanya tertawa terbahak-bahak dan langsung melesat lari meninggalkan area kamar mandi sebelum kena amuk.
Asha menarik napas panjang, lalu melangkah pelan menuju cermin besar yang terpasang di dinding. Begitu ia mendongak dan menatap pantulan di kaca, matanya hampir melompat keluar.
"Busetttt! Dempul amat ini muka!" teriaknya tertahan.
Ia meraba wajahnya yang terasa berat. "Perasaan gue kagak bisa makeup deh, kok ini malah kayak badut begini?"
Wajah di cermin itu memang cantik, tapi riasannya terlalu tebal. Maskara yang luntur di bawah mata—bekas tangis kemarin—membuatnya terlihat seperti panda yang depresi. Asha kemudian menunduk, menatap nametag yang tersemat di dada sebelah kanannya dengan gemetar.
Melody Fanyera.
Asha tertegun. Otaknya mendadak berputar cepat, memanggil kembali memori tentang bab-bab novel yang ia baca semalam.
"Eh, bentar deh..." gumamnya lirih. "Keknya ini nama figuran yang sempat gue kasihani pas baca semalam. Si Melody yang nasibnya tragis, mati di tangan cowok psiko itu demi nyelamin tokoh utama?"
Asha menggeleng kuat-kuat. "Enggak, enggak mungkin! Gak mungkin itu gue!"
PLAK!
Ia menampar pipinya sendiri dengan keras.
"Aduh, buset! Sakittt!" Asha merintih sambil memegangi pipinya yang memerah. Rasa perih itu terasa sangat nyata, sangat panas, dan sangat bukan mimpi.
Matanya kembali menatap pantulan Melody di cermin dengan ngeri. "Jadi... beneran? Gue transmigrasi ke novel dark romance sampah ini?!"
"Yang bener aja, gilaaa!" Asha menjambak rambutnya sendiri di depan cermin. "Mimpi gue itu masuk ke novel jadi istri CEO atau pangeran berkuda putih yang hobi hambur-hamburin duit! Bukannya jadi korban amarah antagonis! Mumet dah ini otak, mumet!"
Ia menghela napas kasar sampai poninya terbang. Jadi, dua gadis tadi benar-benar Rere dan Ghea, sahabat setia si Melody yang sama-sama hobi dandan menor.
"Terus sekarang gimana? Gue harus di sini nunggu ajal menjemput? Apa gue kabur ke Zimbabwe aja? Atau... bunuh diri?" Asha bergidik sendiri. "Tapi kalau gue beneran meningsoy dan nggak balik ke pelukan Emak, malah pindah ke alam baka, bisa berabe urusannya!"
Asha merengek kecil, meratapi nasibnya yang jauh dari kata estetik. "Oke, oke, tarik napas, Asha. Satu-satunya jalan cuma lanjutin alur. Biasanya kan kalau cerita tamat, gue bisa balik ke dunia asli. Fiks, bener banget!"
Dengan semangat baru, ia menyalakan keran dan mencuci wajahnya sampai bersih dari "dempul" tebal yang menempel. Begitu wajahnya kering, ia tertegun melihat pantulan dirinya.
"Widih... glowing banget muka gue! Ternyata si Melody ini spek bidadari kalau nggak dandan kayak ondel-ondel," pujinya pada diri sendiri.
Namun, baru saja ia ingin tersenyum, tiba-tiba kepalanya terasa seperti dihantam palu. Zing! Ingatan demi ingatan milik Melody masuk secara paksa ke otaknya.
Asha tersentak, memegangi pinggiran wastafel. "Anjirrrr! Ternyata ceritanya udah jalan? Dan kemarin gue... NEMBAK SI ANTAGONIS?!"
Asha ingin sekali menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ternyata kemarin Melody menyatakan cinta di tengah lapangan dan dipermalukan satu sekolah karena nembak pangeran kegelapan sekolah mereka: Kaisar.
"Gue telat dateng! Kenapa nggak dari kemarin aja gue pindah ke sini sebelum kejadian itu!" gerutunya.
Otaknya mulai memetakan alur spoiler yang ia ingat. Tokoh utamanya adalah Zoya, si gadis cantik nan suci yang disukai oleh Galen (si protagonis). Tapi, Kaisar—si antagonis psiko—juga suka sama Zoya karena pernah ditolong saat kecil. Lalu ada Natasya yang terobsesi sama Galen.
"Dan gue?" Asha menunjuk dirinya di cermin. "Gue malah jadi fans garis kerasnya Kaisar? Si anak mafia yang bakal jadi bos mafia berdarah dingin? Mana nggak ada yang tahu rahasia itu kecuali gue sang pemegang spoiler!"
Asha mendadak berdiri tegak, menyugar rambutnya dengan bangga. "Dia anak terkaya nomor satu, tapi gayanya misterius kayak cowok miskin penyendiri. Oke, tenang. Meskipun dia psiko, tapi kalau dia kaya dan ganteng... eh, tetep aja bahaya bejir! Gue harus muter otak gimana caranya biar nggak dibantai sama itu orang!"
Asha menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. Ia memutuskan untuk membuka kepangan rambutnya, lalu mencepolnya asal ke atas. Beberapa helai rambut jatuh membingkai wajahnya, menampakkan kecantikan alami yang selama ini terkubur di balik makeup tebal.
Wajahnya ternyata sedikit chubby dengan pipi yang minta dicubit, hidung mancung yang mungil, dan bibir merah muda yang menggemaskan. Benar-benar jauh dari kesan ondel-ondel pasar malam.
"Gue pengen lanjutin alurnya, tapi masalahnya... di bab tengah kan gue disiksa sampai meningsoy!" Asha bergidik ngeri, membayangkan nasib tragis Melody di tangan Kaisar. "Gue kagak mauuuu mati konyol! Pokoknya gue harus cari cara biar tetep hidup tapi alur tetep jalan!"
Sambil mengomel kecil, ia merogoh saku roknya. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan singkat dari Rere.
Rere Cantik: Mell, gue sama Ghea udah di kantin. Buruan beraknya! Jangan sampai itu tai lo jadi fosil di dalem!
Asha meringis membaca pesan itu. "Duh, temen gue kenapa pada ajaib begini sih mulutnya?"
Ia memasukkan kembali ponselnya dan menatap cermin untuk terakhir kali. "Oke, Melody... eh, Asha! Ayo semangat! Mari jalani hidup di dunia halu ini sampai akhir dengan semangat 45! Pokoknya, misi utama: Jangan sampai dipenggal si Kaisar!"
Dengan langkah mantap—meskipun hatinya jedag-jedug tak karuan—Asha melangkah keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menyusuri koridor menuju kantin. Sepanjang jalan, beberapa siswa yang berpapasan dengannya tampak melongo. Mereka bisik-bisik melihat si "pemuja rahasia Kaisar" yang biasanya tampil menor, kini terlihat sangat segar dan cantik natural.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!