...➶➶➶➶➶ 𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 ➷➷➷➷➷...
𝐻𝑢𝑗𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢 𝑖𝑛𝑖 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑙𝑒𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝐴𝑡ℎ𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑝𝑎𝑘𝑠𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑑𝑎𝑚𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑘.
𝑃𝑒𝑚𝑎𝑑𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑙𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑜𝑠𝑎𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖 𝑠𝑢𝑙𝑎𝑝 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑎𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑜𝑛𝑔𝑒𝑛𝑔 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑆𝑎𝑑𝑖𝑝𝑡𝑎. 𝐴𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑘𝑖𝑛𝑖 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑖𝑡𝑢 𝑑𝑖𝑙𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑔𝑎 𝑝𝑢𝑡𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑛𝑒𝑔𝑒𝑟𝑖.
"𝑃𝑖, 𝑔𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑐𝑎𝑟𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑡𝑒𝑚𝑢? 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑘𝑎𝑦𝑎𝑘 𝑎𝑝𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟? " 𝑃𝑒𝑟𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑏𝑒𝑔𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑢𝑙𝑢𝑡 𝐴𝑡ℎ𝑎𝑦𝑎. 𝑃𝑒𝑟𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎ℎ 𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝐴𝑡ℎ𝑎𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑘𝑢 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑘𝑢𝑡. 𝑀𝑒𝑛𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑛𝑖𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑖𝑠𝑒𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑚𝑎𝑡𝑎.
"𝐸𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚..... 𝑔𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑝𝑎𝑝𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑎𝑑𝑑𝑦 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢 𝑦𝑎🤔" 𝑅𝑒𝑣𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑒𝑑𝑎 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑚𝑎𝑡𝑛𝑦𝑎, 𝑏𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑅𝑎𝑗𝑒𝑛𝑑𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑖𝑛𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑖 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑙𝑎𝑛𝑦𝑎. "𝐻𝑎ℎ𝑎..... 𝑖𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑗𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑢𝑐𝑢 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑟𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑠𝑖ℎ" 𝑙𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡𝑛𝑦𝑎.
𝐴𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑟 𝑖𝑡𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑎𝑡𝑎𝑝 𝑏𝑖𝑛𝑔𝑢𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑝𝑖𝑛𝑦𝑎. 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑅𝑎𝑗𝑒𝑛𝑑𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑚𝑏𝑢𝑛𝑦𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑤𝑎𝑗𝑎ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑖 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘 𝑙𝑒ℎ𝑒𝑟 𝑗𝑒𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑅𝑒𝑣𝑎𝑛, 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖𝑔𝑢𝑠 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑙𝑖𝑚𝑢𝑡𝑖𝑛𝑦𝑎. 𝐵𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑢𝑝𝑖𝑛𝑔𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑟𝑎ℎ.
"𝐽𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑙𝑖𝑠𝑠𝑠. " 𝑃𝑖𝑛𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑅𝑒𝑣𝑎𝑛. 𝐼𝑎 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑚𝑎𝑙𝑢 𝑎𝑝𝑎𝑏𝑖𝑙𝑎 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖 𝑠𝑖𝑘𝑎𝑝𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑢𝑙𝑢 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑏𝑒𝑏𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑘𝑒𝑙𝑎ℎ𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑡𝑟𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎.
"𝐿𝑜ℎ 𝑙𝑜ℎ... 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑑𝑖 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑟𝑢 𝑙𝑜ℎ. 𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑔𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑡𝑎𝑢 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑔𝑖𝑙𝑎-𝑔𝑖𝑙𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑎𝑑𝑑𝑦 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑎𝑝𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑖𝑛𝑖? " 𝐿𝑒𝑑𝑒𝑘 𝑅𝑒𝑣𝑎𝑛. 𝑅𝑎𝑗𝑒𝑛𝑑𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒𝑙𝑒𝑛𝑔 𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡, 𝑛𝑎𝑚𝑢𝑛 𝑅𝑒𝑣𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑖𝑟𝑎𝑢𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎.
𝐼𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑖𝑛𝑔𝑘𝑖𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ 𝑅𝑎𝑗𝑒𝑛𝑑𝑟𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎. 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑛𝑗𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑡𝑢.
𝑇𝑎𝑘 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑖𝑎 𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑏𝑢𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑑𝑖𝑎𝑟𝑦 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑘𝑢𝑠𝑎𝑚. 𝑀𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑠𝑖𝑎, 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑢𝑙𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑢𝑠𝑎𝑛𝑔, 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠𝑛𝑦𝑎 𝑝𝑢𝑛 𝑛𝑎𝑚𝑝𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑢𝑛𝑖𝑛𝑔.
"𝐼𝑡𝑢 𝑏𝑢𝑘𝑎 𝑑𝑖𝑎𝑟𝑦 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑝𝑎𝑝𝑖? " 𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛. 𝑅𝑒𝑣𝑎𝑛 𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖 𝑑𝑖 𝑝𝑜𝑠𝑖𝑠𝑖𝑛𝑦𝑎. 𝑀𝑒𝑚𝑏𝑢𝑘𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑢𝑙 𝑖𝑡𝑢, 𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑎𝑟𝑖𝑘 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚-𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑜𝑘𝑠𝑖𝑔𝑒𝑛 𝑑𝑖 𝑠𝑒𝑘𝑖𝑡𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎. 𝑀𝑒𝑛𝑦𝑖𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑘𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎.
"𝐼𝑛𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑑𝑖𝑚𝑢𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑎𝑎𝑡..................
...❏❏❏...
Matahari hari itu begitu cerah, seolah-olah menyambut seseorang yang baru mengingatkan kakinya di SMA Bimantara.
" Hello everyone, my name is Revandra Argantara. I'm from South Korea, but i'm stay in Now York for ten years. And my nickname is Revan. " Ujar Revan yang diminta memperkenalkan diri. Dirinya sebenarnya bisa menggunakan bahasa Indonesia, namun masih belum terlalu lancar. Mengingat ia baru pindah ke Indonesia dua minggu yang lalu.
Setelahnya, bisik-bisik pun mulai terdengar dari mulut para penghuni kelas.
"𝚆𝚘𝚠... 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚕𝚞𝚊𝚛 𝚗𝚎𝚐𝚎𝚛𝚒"
"𝙿𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚙𝚒𝚗𝚝𝚎𝚛 𝚋𝚊𝚗𝚐𝚎𝚝"
"𝙿𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚓𝚞𝚊𝚛𝚊"
Dan masih banyak lagi bisikkan-bisikkan dari mereka.
Hingga suara-suara itu membangun seorang murid yang tengah tertidur di samping jendela.
"DIEM LU SEMUA. ORANG CUMAN MURID DOANG SEHEBOH INI, GANGGU BANGSAT." Kesalnya.
Seketika suara-suara yang bergemuru kian menghilangkan, digantikan dengan keheningan.
Revan berdiri kaku di tempatnya. Ada rasa takut menggerogoti hatinya. Ia tak pernah suka dengan suara kencang, setiap kali mendengarnya badannya akan membeku, matanya terkadang mulai memburam.
"Rajendra, tolong perhatian volume suaramu." Tegur bu Maya selaku wali kelas.
Bu Maya menepuk pelan bahu Revan, menampakan senyum yang lembut seolah-olah berkata "𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 aman". " Kamu duduk di samping Rajendra ya." Suaranya yang biasa keras kini melembut, membuat penghuni kelas termenung.
Revan berjalan perlahan menuju bangkunya. Kepalanya terus terduduk, bahkan saat sudah duduk pun matanya tak sama sekali menatap ke arah papan tulis.
...➶➶➶➶➶ 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈 ➷➷➷➷➷...
...➶➶➶➶➶ 𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 ➷➷➷➷➷...
Revan terus-menerus memegang perutnya yang tak henti-hentinya berbunyi. Seharusnya tadi pagi ia tak melewatkan sarapan, namun karena alarm telat bersuara. Ia melewatkannya.
Saat sedang meratapi nasib. Sebuah bayangan berhenti tepat di depannya, ia mengangkat kepalanya guna melihat siapa orang itu.
"Hai, gw Dimas Danantya. Biasa dipanggil Dimas. " Ucap seorang siswa yang ternyata bernama Dimas.
Tangannya senantiasa terulur kehadapan Revan, menanti balasan. Namun saat ingin membalas, suara kencang terdengar dari perut Revan.
Suara tawa berbarengan dengan semburan mereka keluar dari pipi Revan dan bibir Dimas.
"Apakah kamu lapar? " tanya Dimas yang diangguki Revan.
"I missed my breakfast 😞. " Mendengar itu, tanpa satu patah kata lagi. Dimas menarik perlahan tangan Revan dan membawanya keluar kelas. Beruntung kelas mereka sedang tak ada guru.
...❏❏❏...
Revan dan Dimas menatap sekeliling sambil memegang erat nampan berisi makanan. Kantin sedikit ramai karena para murid sedang tak ada kelas, guru-guru tengah bertukar opini di ruang guru.
"Kita duduk di sana aja." Ajak Dimas setelah menemukan tempat kosong.
Saat tengah berjalan, keduanya sambil berbincang sedikit. Meski Dimas terkadang bingung dengan apa yang dikatakan Revan.
Namun kegiatan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba seluruh makanan dinampan Revan jatuh mengenai lantai. Di depannya berdiri seorang Siswa bertubuh kekar.
"Sorry, I didn't mean to." Revan langsung meminta maaf saat melihat sipa yang bertabrakan dengan dirinya.
"Jaket gw jadi kotorkan, bocah aneh." Ujar Rajendra dengan marah. Ia melepas jaket yang ia gunakan, melemparnya ke arah Revan lalu berbisik. "Cuciin, dan besok harus udah bersih."
Rajendra pergi dengan kesal. Meninggalkan hiruk-pikuk kantin yang dipenuhi lantunan-lantunan pelan orang-orang.
Revan duduk dengan lemas didepan Dimas. Perutnya masih lapar dan kini ia sedikit kesal dengan Rajendra.
"That guy is rude, a jerk, and has no manners. He's the one at fault, so why am I the one affected." Umpat Revan dengan kesal.
"Wow wow, Chill bro. Mending lu turutin kemauan dia daripada di gangguin sama dia." Dimas memutar nampannya. Memberikan makanan lezat itu untuk Revan yang kelaparan.
“Who is he?” tanya Revan sambil memakan makanan yang diberikan oleh Dimas.
"Dia Rajendra Sadipta atau biasa dipanggil Rajendra. Dia anak emas sekolah sekaligus bandungnya SMA Bimantara.... " Jelas Dimas, ia menatap sekeliling sebelum melanjutkan ucapannya. "Dan dia itu seorang play boy. Katanya juga nih ya, meski baru duduk di kelas sebelas tapi hobinya tuh minum minuman beralkohol." Dimas membisikan Revan.
Ia tak ingin orang lain mendengarnya, bisa-bisa ia akan dipanggil Rajendra lalu dihabisi.
“Does that guy think this school belongs to him? He looks so free, as if his family has millions of wealth. And what was that? Lots of girlfriends? He’s crazy—totally insane.” Revan kembali mengumpat dengan suara lantang.
Tanpa ia ketahui, ada seseorang yang mengincarnya karena mendengar perkataan itu.
"Suttt 🤫Jangan keras-keras Revan. Nanti lu diabisin sama Rajendra baru tau rasa loh." Dimas meletakkan jarinya tepat dibibir Revan. Membuat Revan yang tengah mengunyah berhenti sesaat.
...❏❏❏...
Revan meregangkan otot-ototnya setelah sampai dirumah. Hari keduanya di sekolah baru terasa sangat melelahkan, padahal lebih banyak jam kosongnya dari pada kemarin.
“Damn. I haven’t washed that crazy guy’s jacket yet.” Gumam Revan saat sadar ada sesuatu yang ia lupakan.
...➶➶➶➶➶ 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈 ➷➷➷➷➷...
...➶➶➶➶➶ 𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 ➷➷➷➷➷...
"𝐷𝑎𝑑𝑑𝑦 𝑗𝑎ℎ𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑒𝑡. 𝐾𝑎𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑎𝑢." 𝐺𝑎𝑙𝑒𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑜𝑠𝑒 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑡𝑒𝑛𝑔𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑝𝑢𝑠 𝑎𝑖𝑟 𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝐼𝑎 𝑡𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑑𝑎𝑑𝑑𝑦 𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑒𝑗𝑎𝑚 𝑖𝑡𝑢 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑝𝑖, 𝑝𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑙 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑛𝑒𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑜.
"𝐼𝑡𝑢 𝑑𝑢𝑙𝑢 𝑦𝑎 𝑠𝑖𝑎𝑙𝑎𝑛. 𝑆𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎ℎ..... 𝑑𝑎𝑑𝑑𝑦 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎 𝑚𝑎𝑡𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑎𝑝𝑖." 𝑆𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑗𝑒𝑛𝑑𝑟𝑎. 𝐼𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑔𝑜𝑑𝑎 𝑅𝑒𝑣𝑎𝑛 𝑛𝑎𝑚𝑢𝑛 𝑚𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑚𝑝𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎.
"𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡. 𝐵𝑖𝑎𝑟𝑖𝑛 𝑎𝑗𝑎 𝑑𝑎𝑑𝑑𝑦 𝑓𝑟𝑒𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖." 𝑅𝑒𝑣𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑡𝑎 '𝑓𝑟𝑒𝑎𝑘'. 𝑀𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑎𝑤𝑎.
"𝐿𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑝𝑎𝑝𝑖!!!!! " 𝑆𝑒𝑟𝑢 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎 𝑝𝑢𝑡𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑢𝑎𝑛𝑦𝑎..
𝑅𝑒𝑣𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑘𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑛. 𝐼𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑢𝑡𝑛𝑦𝑎, 𝑚𝑒𝑛𝑎𝑟𝑖𝑘 𝑛𝑎𝑝𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖𝑎𝑝 𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎....
...❏❏❏...
Keringat pecah saat anak-anak kelas sebelas MIPA-1 berdiri tegap dilapangan.
Mereka tak sengaja membuat kegaduhan saat jam pelajaran berlangsung. Menyebabkan satu kelas dihukum berdiri menghadap tiang bendera selama jam pelajaran berlangsung, mereka baru bisa meninggalkan lapangan saat jam istirahat selesai.
"Why isn't the sun on our side? it's so hot." Gerutu Revan. Namun sayangnya semua orang tak ada yang bisa memahaminya.
Ia memutar bola matanya malas. Ada rasa kesal karena dirinya dimasukkan kedalam kelas yang tak pandai berbahasa Inggris.
"Be quite. Your voice is annoying." Tiba-tiba saja Rajendra menyahuti perkataan Revan dari arah depan.
"You're really annoying—especially when you keep speaking in English as if no other language exists. It's not that speaking English is bad, but this is Indonesia, bro. Use Indonesian as our nasional language. If you can't, then go learn it—don't be ignorant." Tegur Rajendra.
ia sudah muak mendengarkan ucapan Revan dalam bahasa Inggris. Bukan berarti ia bahasa Inggrisnya Revan jelek, ia hanya jengkel karena semua yang ingin berbicara dengan Revan harus menggunakan translate.
Revan menundukkan wajahnya, ada rasa bersalah hingga di hatinya. Ia merasa apa yang di katakan Rajendra ada benarnya.
"I'm sorry if made you uncomfortable, I will try to learn Indonesia. I'm truly sorry 😞. " Revan memegangi ujung seragamnya dengan kencang. Berusaha menahan butiran-butiran bening di matanya.
Mungkin buat orang lain ini biasa saja, tapi buat Revan ini adalah hal yang menakutkan.
...❏❏❏...
Dimas menatap sendu Revan. Sedari tadi setelah hukuman selesai, Revan tak mengeluarkan sepatah katapun. Membuat Dimas cemas.
Rajendra memang dikenal bermulut pedas dan berhati dingin. Itu menjadi salah satu alasan kenapa Rajendra selalu dijauhi murid-murid sekolah, bahkan guru pun tak ada yang berani dengannya.
"Revan, jangan masukin ke hati ya omongan si Rajendra Rajendra itu." Dimas mengelus punggung Revan pelan, berusaha menenangkannya.
Revan hanya diam, tak ingin membalas.
Hatinya masih terasa sakit atas perkataan Rajendra, kepalanya dipenuhi dengan suara-suara bising. Ia ingin menangis tapi tak bisa mengeluarkannya, ia ingin meraung kencang tapi suaranya tertahan di pita suara.
"huft.... Rajendra emang kayak gitu, makanya dia gak keliatan deket sama orang. Tapi jangan khawatir, dia pasti gak bermaksud ngomong kayak gitu ke kamu..... "Ucap Dimas berusaha menyalurkan positif vibes.
...❏❏❏...
Sementara itu, di sisi lain....
" Seharusnya lu gak sekasar itu kedia dra." Tegur seorang siswa kepada Rajendra. Ia kesal dengan temanya karena membuat takut murid baru di hari ketiganya bersekolah disini.
"Diem!!!! Gak usah ikut campur sama apa yang gw lakuin ras." Rajendra menggebrak meja karena risih dengan temannya.
...➶➶➶➶➶ 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈 ➷➷➷➷➷...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!