Indonesia
NovelToon NovelToon

Pesona Si Gadis Badas

Awal

Huaaaa...

Nenek gayung...

Kenapa tinggalin Mika sih? Nanti yang Mika ajak ribut siapa lagi dong?

Ini semua gara-gara si tua itu. Sudah tua tapi malah bikin oranglain mati,

Aku akan balas kematian Nenek gayung ini dengan tanganku sendiri. Sekali pun aku harus melawan keluarga sendiri,

Seorang gadis kelas 3 SMP yang baru saja pulang dari acara kelulusan, menangis meraung-raung di atas pusara Omanya. Dia adalah Mikayla Rasyida Rayn atau biasa dipanggil Mika, yang tiba di pemakaman pada saat detik-detik Omanya dimasukkan ke dalam liang lahat. Tanah yang basah itu menjadi saksi betapa hancurnya perasaan keluarga Roberto, terutama Mika. Apalagi setelah Ontynya menikah, Mika lah yang tinggal bersama Omanya, Mama Martha.

Mama Martha, selaku Nyonya Besar dari keluarga Roberto telah meninggal dunia setelah dua hari koma di rumah sakit. Cucunya, Ronand sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat obat bagi Mama Martha. Namun usahanya tidak berhasil karena penyakit jantung yang diderita Mama Martha sudah parah. Sedangkan Mika, dia menyesali dirinya yang tak berada di samping Mama Martha di saat-saat terakhirnya.

Semua keluarga inti masih ada di sana setelah para pelayat membubarkan diri. Terlihat gurat kesedihan pada mata dan wajah mereka. Namun apa boleh buat, semua sudah terjadi dan Mama Martha telah tenang di alam sana. Suami Mama Martha, Papa Fabio yang duduk di kursi roda itu hanya bisa menatap kosong pada gundukan tanah basah di depannya. Walaupun sangat menyebalkan, tapi Mama Martha adalah sosok istri yang baik baginya.

"Mika..." panggil sang Onty, Rachel sambil mengelus punggung Mika. Dia pun sama sedihnya, tapi berusaha untuk tegar. Dia sudah menangis selama dua hari karena melihat kondisi Mama Martha terus menurun.

"Mika jahat, Onty boncel. Mika ndak ada di samping Nenek gayung. Pasti Nenek gayung cari Mika tadi pagi. Seharusnya Mika nggak usah ke sekolah aja sih tadi," seru Mika membuat Rachel segera bersimpuh di samping keponakannya itu.

"Ini sudah takdirnya Nenek gayung. Beliau sudah bahagia di atas sana. Kalau dia ada di sini, pasti Nenek gayung bakalan ngomel lho. Masa cicitnya yang biasa cerewet sama dia, nangis begini. Mana nangisnya di pemakaman begini? Ganggu teman-temannya Nenek gayung yang lagi tidur," ucap Rachel sambil merangkul bahu Mika.

"Biarin... Asalkan Nenek gayung hidup lagi. Lagian teman-temannya Nenek gayung suka suara tangisan Mika," seru Mika dengan asal sambil terus menggelengkan kepalanya. Mika masih menolak untuk percaya bahwa Mama Martha sudah tiada.

"Kamu nggak kasihan sama Nenek gayung? Nanti berat lho di sana kalau ditangisin terus," ucap Rachel sambil menghela nafasnya pelan. Sepertinya Rachel mulai menyerah membujuk dan menenangkan Mika yang sama keras kepalanya dengan dia.

"Lebih baik kita buat Nenek gayung bahagia. Kita buat orang yang menyakitinya dan membuat dia kena serangan jantung itu menyesal," lanjutnya sambil berbisik.

Onty benar,

Mika yang tadinya menangis meraung-raung di atas tanah pusara Mama Martha, kini langsung terdiam dan menegakkan badannya. Mika menghapus pipinya yang basah oleh air mata itu dengan kasar. Tatapannya berubah tajam, seakan ada dendam dan kebencian yang telah lama dipendamnya. Janice selaku orangtua dari Mika langsung mendekat pada anaknya setelah melihat perubahan itu.

"Mika, kita pulang sekarang ya. Kamu pasti capek habis..."

"Mental dan perasaan Mika jauh lebih capek dibandingkan fisik," sela Mika yang kemudian berdiri. Tanpa mengucapkan apapun, Mika pergi menjauh dari makam Mama Martha.

"Sabar, Janice. Mika masih butuh waktu untuk mencerna keadaan dan situasi ini," Chiara langsung memeluk keponakannya itu dengan lembut.

"Semua salahku, seharusnya aku bisa melawan. Malah aku diam saja yang membuat Oma kena serangan jantung," ucap Janice sambil terisak.

"Semua sudah takdir Tuhan, jangan terus menyalahkan dirimu terus-terusan. Oma juga pasti tidak mau kamu begini terus. Mulai sekarang, jaga anak-anakmu. Jangan sampai dia menyakiti anak-anakmu lagi," ucap Chiara memberi tahu.

Janice pun menganggukkan kepalanya mengerti. Semua keluarga pergi dengan langkah yang begitu berat. Kursi roda yang digunakan oleh Papa Fabio pun didorong oleh Julian untuk keluar dari area pemakaman.

Aku akan membantu Kak Mika untuk membalas perbuatan si tua itu,

Enak saja membuat Omaku kena serangan jantung dan meninggal,

Oma juga lemah amat sih. Dibentak dan diancam gitu aja udah langsung kena serangan jantung,

Huh...

Ralia, ayo pulang. Ngapain kamu masih di situ? Mau jadi satpam makamnya Oma?

Berisik, Angga.

***

Dor... Dor... Dor...

Ganti apelnya,

Dor... Dor...

Berhenti, Mika.

Dor... Dor...

Bukannya berhenti, gadis yang ditegur itu malah semakin brutal dalam menembakkan pistolnya ke arah target. Mika saat itu sedang meluapkan kekesalannya dengan pergi ke halaman belakang rumah yang ada tempat untuk latihan menembak. Dengan air mata yang masih mengalir pada kedua pipinya, Mika terus menembakkan pistolnya ke arah target dengan dibantu salah satu bodyguard. Bahkan teguran dari sang Uncle tak dihiraukannya.

Grepp...

Tak...

Hiks... Hiks...

"Uncle, kenapa Nenek gayung ninggalin Mika? Padahal Mika udah tobat lho buat Nenek gayung senam jantung," seru Mika yang kini berada di dalam pelukan Unclenya, Ronand. Pistolnya terjatuh karena pelukan tiba-tiba dari Ronand. Padahal di makam tadi dia sudah mulai tenang, tapi saat di rumah tetap saja Mika merasa kehilangan.

"Tobat apanya? Setiap hari juga bikin jantungan Oma karena ulahnya di sekolah sudah mirip Achel dulu. Bahkan ini lebih parah," batin Ronand sambil menghela nafasnya pelan.

"Mika, kamu boleh sedih tapi jangan berlarut-larut. Emangnya kamu mau arwah Oma gentayangan di kamarmu karena ditangisin mulu?" ucapnya mencoba menenangkan Mika. Melihat semua orang takut mendekati Mika yang menembak secara brutal, membuat Ronand harus turun tangan menghentikannya.

"Uncle kira Mika ini gampang dibohongi. Mana ada cicit kesayangannya ini digentayangi? Tapi bisa juga sih kalau Nenek gayung nggak rela jauh-jauh dari Mika," ceplos Mika sambil mengerucutkan bibirnya sebal.

"Ayo masuk dan bersihkan badanmu itu. Bau sekali. Masa anak perempuan bau begini, nggak ada cowok yang dekat baru tahu rasa." ucap Ronand sambil melepaskan pelukannya dari Mika.

Mika yang mendengar ucapan dari Ronand pun langsung mengerucutkan bibirnya sebal. Ronand merangkul bahu Mika dan membawanya pergi dari halaman belakang rumah. Sedangkan keluarga lainnya hanya bisa menatap Mika dengan senyum sendu. Terutama Janice yang terus menyalahkan dirinya.

Uncle, pokoknya ajarkan Mika buat racun yang paling mematikan. Kalau bisa, baru masuk mulut saja langsung kejang-kejang selama satu tahun nggak berhenti.

Buat apa? Nggak ada ya racun begitu,

Buat meracuni si tua itu. Dia harus merasakan penderitaan yang lebih,

Eh...

Rencana Sekolah

"Mika mau masuk di SMA Genta Bumi, Ma." ucap Mika dengan yakin mengatakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah dimana.

"Kamu yakin, Mika? Di sana itu terkenal siswanya yang suka tawuran dan geng-gengan lho. Terus mereka juga dikenal dengan siswa ban..."

"Jangan lihat sesuatu dari luarnya saja, Ma. Mama tidak tahu dalamnya itu seperti apa. Mika yakin kalau di sana tuh Mika malah jadi kaya dapat pengalaman baru. Lagi pula itu sekolah favorit dan prestasinya juga banyak," sela Mika yang sudah kekeh dengan keinginannya.

Beberapa hari setelah meninggalnya Mama Martha, semua sudah kembali ke aktifitasnya masing-masing. Mika sudah kembali seperti biasanya, walaupun saat sendiri tak ada yang mengetahui bagaimana sedihnya dia. Yang tinggal di rumah utama keluarga Roberto itu saat ini adalah Mika, Angga, dan kedua orangtuanya. Namun setiap pagi, Chiara akan datang untuk menemani Papa Fabio sampai sore hari.

"Kenapa nggak sekolah di SMA-nya Onty dan Unclemu dulu saja? Di sana peraturannya juga tidak terlalu ketat, tapi siswanya banyak yang berprestasi. Setidaknya tidak ada tuh tawuran atau geng begitu. Siapa tahu kamu jadi punya motivasi untuk mau belajar dan bersaing dengan yang lainnya kalau di SMA itu," ucap Janice dengan hati-hati. Bagaimana pun juga, hubungannya dengan Mika sedang renggang karena meninggalnya Mama Martha.

"Nggak mau, kurang menantang." Mika menolak mentah-mentah usulan Janice tentang dia diminta sekolah di SMA yang dulu Rachel dan Ronand menempuh pendidikan.

"Di sana juga kebanyakan cowoknya lho. Mama ngeri sendiri," ucap Janice mengatakan kekhawatirannya. Apalagi seorang perempuan yang masuk sarang buaya, istilahnya begitu menurut Janice.

Walaupun sekolah itu termasuk SMA favorit, tetap saja Janice khawatir dengan Mika. SMA Genta Bumi dengan mayoritas siswanya laki-laki. Hobby siswanya tawuran dan banyak geng terbentuk di sana. Bahkan beberapa siswa juga masuk dalam geng motor. Namun prestasinya memang dikenal bagus, walaupun secara kelakuan bikin geleng-geleng kepala. Janice tak mau Mika sampai salah dalam bergaul dan membuat dia seperti perempuan nakal.

"Mama nggak lihat selama ini Mika jago beladiri, menembak, memanah, dan mera..."

"Iya... Iya... Mama tahu, tak perlu diteruskan lagi."

"Baik lah, kamu boleh sekolah di sana. Asalkan kamu tidak boleh melakukan kriminal atau kejahatan. Kamu juga harus jaga diri baik-baik. Setiap ada masalah atau apapun, cerita sama Mama." sela Janice yang hanya bisa menghela nafasnya pelan.

"Nah... Gitu dong, Ma. Maacih, Mama." Mika pun langsung memeluk lengan tangan Janice dengan erat sebagai ucapan terimakasih. Ada sesuatu yang dia rencanakan kenapa harus bersekolah di sana.

"Papa pulang kapan, Ma?" tanyanya saat merasa bahwa Papanya ini terlalu sibuk bekerja.

"Bulan depan mungkin. Lebih baik Papamu di luar kota daripada di sini. Yang ada nanti orang-orang pada memanfaatkan kepolosan Papamu itu kalau di sini," ucap Janice dengan santai.

Kedua anaknya sudah mengetahui tentang dia dan suaminya yang menjalani LDM (Pernikahan jarak jauh). Itu sudah kesepakatan antara Janice dan suaminya tentang ini. Suaminya yang terlalu polos itu selalu dimanfaatkan keluarganya, sehingga Janice meminta lebih baik dia berada di luar kota saja. Pasalnya jika sudah di luar kota, suaminya takkan bisa bertemu dengan keluarganya.

"Lagian itu Kakak dan adik iparnya Mama lho, pada pemalas semua. Maunya minta duit mulu," ucap Mika dengan sindirannya.

"Alasannya pernah masuk penjara, susah cari kerja. Kalau cerdas mah bisa buka usaha kecil-kecilan sendiri. Nggak perlu tuh pakai syarat SKCK," lanjutnya.

"Maafkan Mama yang membuatmu dan Angga berada di dalam keluarga bermasalah," ucap Janice sambil menghela nafasnya kasar.

"Jangan menyalahkan diri sendiri, Ma. Papa baik dan tidak pernah kasar sama Mama, hanya keluarganya saja yang tak tahu diri." ucap Mika menenangkan Janice.

Mika mau main sama empus dulu, Ma.

Astaga... Itu semua anak ular dikasih nama empus.

***

Mika... Mika...

Es klimnya Callie mana? Katanya tadi telfon Mamanya Callie mau dikasih es klim sama Mika,

Nyenyenye...

Mika... Mika...

Baru juga Mika rebahan di atas kasur, bisa-bisanya ada seseorang gadis cilik cadel yang memanggilnya. Dia adalah sepupunya, anak dari Rachel dan Lucky. Callie Noura Eleanor, anak kedua Rachel dan Lucky yang paling berisik. Gadis cilik berusia 3 tahun itu sangat mirip dengan Rachel saat kecil. Tingkahnya selalu membuat pusing semua anggota keluarga.

"Kak Mika, kali. Nggak sopan kamu ya," sindir Mika tapi Callie hanya mengerjapkan matanya berulangkali sebagai respons.

"Nama Callie juga butan kali. Ndak bisa bahasa plindapan ya Mika ini? Oh lupa... Sekolah saja ndak pelnah masuk," ucap Callie dengan santainya.

"Sabar... Orang sabar..."

"Duitnya banyak sekebon," sela Callie sebelum Mika menyelesaikan ucapannya.

"Terserah... Kamu mau apa ke sini sama si muka tembok itu?" tanya Mika sambil menunjuk ke arah Ralia.

Callie melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mika itu dengan tatapan polosnya. Bahkan Callie langsung membandingkan tembok kamar Mika dengan wajah Ralia. Tangannya menunjuk berulangkali ke arah tembok dan wajah Ralia dengan raut wajah begitu serius. Semua itu terlihat jelas di mata Mika. Bahkan Mika langsung merebahkan badannya kembali ke atas kasur. Sudah lelah hati dan pikiran, harus dihadapkan dengan Callie yang super duper aktif.

"Apa Nenek gayung dulu juga begitu ya saat menghadapiku dan Onty boncel?" gumam Mika sambil menghela nafasnya pelan.

"Plastik Mika, ndak ada tuh tembok di muka Kak lalia. Tembok ndak ada hidung, mata, dan bibilnya lho. Mukanya Kak lalia ada semua itu," seru Callie di depan muka Ralia membuat gadis cilik itu hanya bisa menghela nafasnya sabar. Teriakan Callie membuat air ludahnya menerpa wajahnya.

Hiiii...

"Enak nggak, Ralia? Kena sembur air ludah naga," ucap Mika saat melihat Ralia meraup wajahnya yang sedikit basah. Mika sama sekali tak peduli protesan dari Callie tentang perbedaan tembok dan wajah Ralia.

"Enak, mau nyobain?" tanya Ralia dengan senyum misteriusnya.

Eng... Enggak lah, ngap...

Serang plastik Mika, Callie.

Aaaaa...

Hahahaha...

Lasain...

Cup... Cup... Cup...

Callie yang disuruh oleh Ralia pun langsung berlari dan naik ke atas ranjang. Walaupun harus dibantu naik oleh Ralia karena kasurnya cukup tinggi. Entah kenapa, Callie ini sangat penurut jika bersama Ralia. Berbeda ketika dengan Mika, Callie selalu menjadi partner debat. Bahkan berulangkali Callie tak setuju dengan perkataan Mika. Callie menciumi seluruh wajah Mika sampai basah.

Suka bohong sih jadi olang,

Olang wajahnya Kak lalia itu cantik lho masa disamakan dengan tembok,

Ndak benal ini olang,

Hahahaha...

Awas kamu ya, Ralia.

Biar kamu nggak sedih-sedih lagi,

Eh...

Geng Motor?

"Kali, jangan duduk di pangkuannya Opa. Astaga... Itu kan kaki Opa lagi sakit. Nanti bisa tambah kram itu," seru Mika dengan raut wajah paniknya saat melihat Callie duduk di pangkuan Papa Fabio.

"Callie ndak belat lho, kaya kapas begini kok. Santai saja, kaki Opa ndak akan sakit kalau cuma pangku Callie yang kecil dan lingan kaya kapas ini. Malah lasanya kaya dipijat itu kakinya," celoteh Callie sambil makan biskuitnya, tak peduli dengan teguran dari Mika.

"Nggak sadar diri emang si kali ini. Sama timbangan sendiri aja udah kaya lihat setan kok bilangnya ringan kaya kapas," gerutu Mika yang ingin sekali memulangkan Callie ke rumahnya agar tak membuatnya bertambah pusing.

Bahkan remahan biskuitnya sampai berada di celana Callie karena bocah cilik itu makan dengan berantakan. Callie duduk di atas pangkuan Papa Fabio yang berada di kursi roda. Tentu saja hal itu membuat Mika tampak panik karena Callie yang badannya berat. Apalagi semenjak Papa Fabio jatuh dari kamar mandi waktu itu, kakinya sering sakit jika digerakkan atau memangku benda berat.

"Nggak papa, Mika. Justru Opa senang masih bisa pangku cicit Opa," ucap Papa Fabio sambil terkekeh pelan walaupun dia sedikit meringis nyeri jika Callie bergerak.

"Opa salah sudah menyukai sesuatu yang teramat berat. Mana Callie ini makannya tiga kali lipat porsinya Mika lagi," Mika sampai menggelengkan kepalanya jika mengingat porsi makan besar dan cemilan Callie.

"Kamu ini suka lupa, Mika. Dulu waktu kecil kamu juga begitu. Waktu lulus SD aja udah ngerti kalau makan itu secukupnya saja," sindir Papa Fabio sambil tertawa.

"Benal, plastik Mika suka lupa. Sudah pikun itu Opa. Yang tua kan Opa jadi wajal kalau pikun, ini lho masih muda sudah pelupa. Kasihannya plastik Mika ini," Ucapan yang Callie yang ceplas-ceplos itu membuat Papa Fabio tertawa. Dia sangat terhibur dengan celotehan polos itu.

"Minum vitamin itu lho bial tambah daya ingat. Apa ya Opa namanya?"

Callie menatap Papa Fabio dengan tatapan bingungnya. Callie berusaha mengingat nama vitamin yang sering diberikan padanya oleh Rachel. Namun otak kecilnya tetap lupa dengan nama vitamin itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini, vitamin untuk tubuhnya adalah makanan. Papa Fabio menatap gemas pada cicitnya yang tampak serius mengingat sesuatu.

"Opa nggak tahu. Kan setiap kali ke sini, Callie nggak pernah bawa vitamin." ucap Papa Fabio sambil membersihkan pipi Callie dari remahan biskuit.

"Oh... Callie ingat lho, vitamin bial ndak cepat lupa buat plastik Mika. Baygon lho, Opa. Cepat belikan itu vitaminnya, Opa." seru Callie dengan antusiasnya.

Pfft...

"Jadi nggak ingat dunia selamanya itu, kali." seru Mika dengan raut wajah kesalnya.

"Masa? Coba dulu minum, telus nanti dileview." ucap Callie dengan polosnya.

"Kamu aja sana yang minum. Buat nyawa kok coba-coba. Dipikir nyawa Mika ada sembilan," Mika mengelus dadanya sabar saat mendengar ucapan Callie yang asal ceplos.

Papa Fabio hampir tersedak air ludahnya sendiri mendengar ucapan Callie. Bisa-bisanya Callie memintanya membelikan obat nyamuk untuk diminum Mika sebagai vitamin. Yang ada, nyawa Mika bisa melayang. Astaga... Cicitnya ini selain menggemaskan juga bisa membuatnya pusing. Sedangkan Ralia, sedari tadi sibuk dengan robot dan remotenya. Tanpa peduli dengan keriuhan dari kedua sepupunya.

"Kak lalia cocok jadi tukang selvis lho, Opa. Besok buka jasa pelbaikan TV, ladio, dan kipas angin di depan lumah saja. Telus yang kelja itu Kak lalia. Nanti yang telima uangnya ya Callie buat jajan bubul ayam di depan," celoteh Callie membuat Papa Fabio tertawa.

"Itu kan hobbynya Kak Ralia, bukan untuk bekerja. Kesukaannya Kak Ralia itu robot dan alat elektronik kaya Papanya. Kalau Callie sukanya apa?" tanya Papa Fabio yang ingin tahu kesukaan cicitnya ini.

Dolal dong. Callie suka dolal bial bisa beli pulau kapuk,

Eh... Iler dong,

Dasar bocah aneh,

***

Pletak...

Awwwww...

Kaleng siapa nih yang kena jidat seksiku?

Pagi ini Mika tengah bersepeda di taman kota. Namun saat dia sedang bersepeda santai, ada seseorang yang melempar kaleng tepat mengenai dahinya. Mika menghentikan laju sepedanya dan mengelus dahinya sambil mengerucutkan bibir. Mika melihat ke arah sekelilingnya dan terlihat ada dua orang remaja laki-laki yang tengah memainkan beberapa kaleng di tangannya.

"Pasti dua cecunguk itu tuh yang lempar kaleng ke jidat seksiku," gumam Mika yang kemudian memarkirkan sepedanya. Mika segera mendekati dua orang remaja laki-laki yang tampaknya seumuran dengan dia.

"Heh... Kalian ya yang lempar kaleng ya?" tuduhnya langsung saat sudah berada di depan keduanya.

"Eh... Emangnya kena ya? Perasaan dari tadi kalengnya ada di tangan kita," tanya salah satu dari mereka sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Lihat nih jidatku merah karena kaleng ini,"

Mika memperlihatkan kaleng yang tadi mengenai dahinya. Bahkan dia menunjukkan dahinya yang terlihat merah. Padahal tadi mereka hanya iseng melempar asal kaleng bekas itu. Namun malah membuat oranglain terluka. Keduanya pun memilih minta maaf daripada masalahnya semakin melebar. Lagi pula mereka tadi sebenarnya juga sedang bingung akan melakukan apa.

"Kalian anak geng motor ya?" tanya Mikanya tiba-tiba dengan suara pelan.

Hah?

"Kalian pasti lagi nungguin teman buat balapan nanti malam kan?" tanyanya lagi membuat dua pemuda itu melongo tak percaya. Apalagi keduanya tak mengenakan atribut atau pakaian dari geng motor tertentu. Namun tiba-tiba Mika menduga bahwa keduanya merupakan anggota dari geng motor.

"Jujur aja atau aku teriak nih biar warga di sini tahu. Nanti kalian malah dipanggilkan polisi biar di..."

"Iya... Iya... Kami memang anggota geng motor. Jadi jangan macam-macam," ucap salah satu dari mereka dengan pelan.

Cih...

Mika berdecih sinis mendengar ancaman dari mereka. Dia tak takut, tidak seperti mereka yang baru diancam akan dilaporkan saja sudah langsung mengaku. Padahal Mika juga tidak berniat untuk melaporkan mereka. Justru Mika akan memanfaatkan mereka. Mika adalah pengamat yang handal. Walaupun dua orang remaja di depannya ini tidak memakai atribut geng motor, tapi Mika bisa mengetahuinya. Hal kecil yang mungkin tidak oranglain lihat. Tato kecil berbentuk serangga di belakang telinga, itu lah lambang salah satu geng motor terkenal.

Aku nggak takut,

Turuti keinginanku atau aku teriak dan hajar di sini,

Beraninya cewek ini ngancam kita,

Biarkan saja. Kita cari tahu maunya apa,

Apa maumu?

Ajak aku balapan nanti malam,

Apa? Tubuhmu itu pendek. Naik motor biasa aja belum tentu kakinya sampai,

Bodo amat. Pokoknya jemput aku di sini nanti malam atau tempat balapan kalian bakalan digrebek polisi.

Oke... Oke...

Kita jemput malam ini di sini,

Kok kita jadi takut sama perempuan sih?

Dia bukan remaja perempuan biasa, El.

Ha?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!