Langit malam di atas Kota Kekaisaran Chang An terlihat gelap dan sunyi. Bulan purnama bersinar samar tertutup kabut tipis, memantulkan cahaya keperakan di atas atap-atap genteng kuno yang berjajar rapi. Angin berhembus dingin, membawa aroma bunga plum yang harum, namun bercampur dengan bau besi tajam yang menusuk hidung—aroma yang selalu hadir sebelum pertumpahan darah terjadi.
Di sebuah gang sempit yang gelap, diapit oleh dua tembok tinggi yang menjulang seperti tembok penjara, suasana mencekam.
Sepuluh orang pria berbadan kekar, mengenakan pakaian hitam legam dan wajah tertutup kain, sedang mengepung satu sosok tunggal di tengah lingkaran maut. Di tangan masing-masing, mereka menggenggam golok berkarat yang panjangnya hampir satu meter. Mata pisau itu berkilau ganas, seolah sudah haus akan nyawa.
"Kau pikir dengan baju putih lusuh itu kau bisa lolos dari tangan kami, bocah sialan?" geram ketua kelompok itu. Ia adalah pria bertubuh raksasa dengan bekas luka memanjang dari dahi hingga ke dagu, membuat wajahnya terlihat semakin mengerikan.
"Kami dari Sekte Darah Hitam tidak pernah melepaskan mangsa kami. Hari ini... adalah hari kematianmu!"
Sosok yang dikepung itu tidak bergeming sedikitpun. Ia hanya berdiri santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam lengan bajunya yang lebar, seolah tidak peduli dengan ancaman nyawa yang mengintai di depannya.
Ia adalah seorang pemuda yang tampan luar biasa. Wajahnya bersih, kulitnya putih bersih, dan rambut hitam pekatnya diikat rapi dengan pita kayu sederhana. Namun, yang paling mencolok adalah ekspresi di wajahnya.
Ia tersenyum.
Bukan senyum ketakutan, bukan pula senyum marah. Melainkan senyum santai, bahkan terlihat sedikit ceroboh, seolah-olah ia bukan sedang dikepung oleh pembunuh bayaran, melainkan sedang duduk santai di taman menikmati secangkir teh hangat.
Namanya Mo Fei.
Di dunia persilatan yang luas ini, nama Mo Fei mungkin tidak setenar Pendekar Pedang Naga atau Raja Tombak yang gagah berani. Tapi bagi mereka yang hidup di dunia bawah tanah, bagi para pembunuh dan penjahat, nama Mo Fei adalah sinyal kematian yang nyata.
"Kalian ini... berisik sekali," ucap Mo Fei pelan. Suaranya lembut, namun terdengar jelas sampai ke telinga sepuluh orang itu, memotong suara angin yang menderu.
"Malam ini seharusnya tenang dan damai. Kenapa harus ada yang merusak suasana dengan amarah yang tak berguna?"
"Berisik!!" teriak si Ketua Luka Pipi, emosinya meledak mendengar jawaban santai itu. "Kau berani menertawakan kami?! Serang!! Bunuh dia!! Cincang tubuhnya jadi seribu potong!! Jangan biarkan satu tulang pun utuh!!"
WUUUSSS!!!
Sepuluh golok diayunkan serentak dengan kekuatan penuh. Udara terbelah, mengeluarkan suara menderu ganas seperti raungan binatang buas. Sepuluh senjata mematikan itu bergerak begitu cepat, menutup segala celah yang bisa dilalui oleh tubuh manusia.
Dalam serangan itu, tidak ada ampun. Hanya ada niat membunuh yang membara.
Para penjahat itu yakin seyakin-yakinnya. Meskipun lawannya adalah pendekar tingkat tinggi, mustahil ada orang yang bisa selamat dari hujan golok sepadat ini. Tubuh bocah berbaju putih itu pasti akan hancur lebur dalam sekejap.
Namun...
Tepat saat senjata-senjata itu tinggal sejengkal lagi dari tubuh Mo Fei, saat jarak antara hidup dan mati tinggal sehelai rambut...
Ting... Ting... Ting-ting-ting!!!
Serentak terdengar bunyi berdenting halus.
Bunyi itu sangat cepat, begitu rapat dan berurutan, hingga terdengar seperti satu bunyi panjang yang memecah keheningan malam. Bunyinya bukan suara besi berbenturan keras dan kasar, melainkan seperti suara kaca berdering halus, atau... suara jarum yang bernyanyi di tengah angin.
Seketika...
Waktu seolah berhenti berputar.
Angin pun seakan berhenti berhembus.
Sepuluh orang penyerang itu membeku kaku di posisi mereka masing-masing. Tangan mereka masih terangkat menggenggam gagang golok, mulut mereka masih terbuka lebar seolah baru saja berteriak mengerikan, tapi... tidak ada satu pun suara yang keluar dari kerongkongan mereka.
Mata mereka terbelalak besar, bola matanya menonjol keluar, penuh dengan keterkejutan dan ketakutan yang tak terlukiskan. Wajah mereka pucat pasi seperti mayat hidup.
Satu per satu...
Plak!
Golok-golok besar yang tadinya terangkat tinggi itu terlepas begitu saja dari genggaman tangan mereka yang tiba-tiba menjadi lemas, jatuh menghantam tanah berbatu dengan suara berisik.
Lalu, tubuh mereka pun ikut robohur.
BUM! BUM! BUM!
Suara benturan keras terdengar bergantian saat tubuh-tubuh kekar itu ambruk ke tanah tanpa daya, tak bergerak lagi.
Hening.
Kembali hanya ada suara angin yang berhembus pelan.
Di tengah tumpukan tubuh yang tak bernyawa itu, Mo Fei masih berdiri tegak. Baju putihnya masih bersih, tak seujung rambut pun tersentuh, tak setetes darah pun menempel. Ia perlahan mengeluarkan tangannya dari dalam lengan baju, lalu menepuk-nepuk bahunya seolah ada debu halus yang menempel.
Ia melirik santai ke arah tubuh si Ketua Luka Pipit yang paling besar itu.
Tepat di antara kedua alis pria itu, tepat di titik pertemuan antara kehidupan dan kematian, tertancap sebuah benda kecil yang berkilauan memantukan cahaya bulan.
Sebuah jarum emas.
Panjangnya tidak lebih dari satu jari jempol, tipisnya seperti helai rambut, namun tajamnya bisa menembus baja keras.
Hal yang sama terjadi pada kesembilan orang lainnya. Di titik vital yang sama, tepat di antara alis, semua tertancap satu jarum emas yang sama persis.
Tidak ada darah yang menetes. Tidak ada luka yang mengerikan.
Mereka mati begitu cepat, begitu bersih, sebelum sempat merasakan sakit, bahkan sebelum sempat menyadari bahwa mereka sudah terkena serangan mematikan.
"Sayang sekali," gumam Mo Fei sambil menghela napas pendek, senyumnya masih mengembang manis di bibirnya. "Aku sudah bilang kan... jangan berisik. Jarum-jarumku ini sangat sensitif. Mereka tidak suka orang yang suka berteriak-teriak tak jelas dan mengganggu ketenangan malam."
Ia melangkah santai berjalan melewati tubuh-tubuh itu. Saat ia berjalan, terlihat kilatan-kilatan kecil berwarna emas terbang keluar dari tubuh para penjahat itu. Gerakannya anggun seperti kupu-kupu, melayang kembali dengan patuh masuk ke dalam lengan baju Mo Fei.
Seribu jarum itu, kembali ke sarangnya.
Di kejauhan, di atas atap sebuah kuil tua yang runtuh, dua sosok pendekar topeng sedang menyaksikan seluruh kejadian itu dari tadi. Tangan mereka gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh punggung mereka meskipun udara malam tidak terlalu dingin.
"Apakah... apakah kau melihat gerakannya tadi?" bisik salah satu dari mereka dengan suara parau dan tertahan.
"Tidak... Aku tidak melihat apa-apa," jawab temannya dengan napas memburu. "Aku hanya melihat kilatan cahaya emas sekilas lewat di depan mataku, dan... semuanya sudah berakhir. Itu bukan kecepatan yang bisa dicapai oleh manusia biasa."
"Padahal senjatanya hanya jarum kecil... tidak gagah, tidak menakutkan... tapi kenapa kekuatannya..."
"Itu bukan sekadar senjata. Itu adalah Seni Maut," potong temannya dengan nada penuh hormat bercampur ketakutan yang luar biasa. "Dia tidak melempar jarum. Dia menembakkan niat membunuh yang terkonsentrasi pada satu titik terkecil. Di tangannya, benda sekecil apa pun bisa menjadi senjata paling mematikan di dunia."
Mereka berdua tahu betul, jika tadi mereka turun dan ikut menyerang, nasib mereka pasti tidak akan berbeda dengan teman-temannya di bawah sana.
"Siapa dia sebenarnya? Pendekar dari Sekte Mana?"
"Dia Mo Fei," jawab temannya. "Orang-orang menyebutnya Pengamat Malam. Orang yang datang tanpa suara, dan pergi tanpa meninggalkan jejak, kecuali mayat-mayat yang tertancap jarum emas."
Mo Fei sudah sampai di ujung gang. Ia berhenti sejenak, mendongak menatap ke arah bulan purnama yang bersinar terang di langit tinggi.
"Dunia persilatan ini semakin hari semakin ramai dan berisik ya," gumamnya pelan, bicara pada angin dan bulan. "Banyak sekali serigala berbulu domba yang merasa diri mereka raja hutan. Mungkin... sudah waktunya aku membersihkan sedikit tempat ini supaya lebih teduh."
Ia tersenyum lagi, kali ini senyum itu terlihat lebih lebar, sedikit nakal, namun menyimpan bahaya yang tak terbayangkan bagi siapa saja yang berani menjadi musuhnya.
"Siapa tahu... sambil bekerja membersihkan dunia, aku bisa menemukan seseorang yang layak menerima salah satu jarumku... atau mungkin... seseorang yang bisa membuatku berhenti tersenyum sendirian di tengah malam yang sepi ini."
Dengan langkah ringan seperti melayang di atas awan, sosok berbaju putih itu menghilang lenyap di balik kabut malam, meninggalkan misteri dan legenda baru yang akan segera bergema di seluruh penjuru dunia persilatan.
Setelah meninggalkan gang sempit yang penuh dengan aroma kematian, Mo Fei berjalan melangkah ringan menyusuri jalanan kota Chang An yang mulai sepi. Bayangannya yang panjang tertarik di atas jalan batu, bergerak selaras dengan cahaya bulan yang bersinar temaram.
Ia tidak terburu-buru. Bagi seorang ahli jarum, ketenangan adalah kunci segalanya. Hati yang goyah akan membuat sasaran meleset, dan satu milimeter kesalahan saja bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati.
"Tugas malam ini selesai," gumamnya pelan sambil membenarkan posisi ikat rambutnya. "Sekarang... waktunya mencari tempat istirahat yang nyaman."
Namun, baru saja ia hendak berbelok menuju penginapan kecil di sudut kota, tiba-tiba indranya yang tajam menangkap sesuatu.
Wusss!
Angin berubah arah. Tercium aroma wangi bunga yang sangat harum, namun bercampur dengan aura yang... tegang dan berbahaya.
Di kejauhan, dari arah Taman Kekaisaran, terlihat sekelompok orang berkuda dengan cepat. Di tengah barisan itu, terdapat sebuah kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda putih. Pengawal-pengawal yang mengelilinginya mengenakan baju besi mengkilap dan membawa tombak panjang.
Itu adalah iring-iringan keluarga kerajaan.
Namun, mata tajam Mo Fei segera menyadari ada yang salah.
Di atap-atap rumah di sepanjang jalan, terlihat bayangan-bayangan hitam bergerak cepat seperti kelelawar. Mereka mengikuti iring-iringan itu dari atas, bersiap menerkam kapan saja.
"Ah... ternyata malam ini masih ada pekerjaan rumah lain ya," Mo Fei tersenyum lebar, matanya berbinar penuh semangat. "Seru nih!"
Tanpa berpikir dua kali, ia melompat. Tubuhnya melayang ringan, mendarat dengan sempurna di atas atap sebuah toko obat, lalu terus melompat dari satu bangunan ke bangunan lain, mengikuti iring-iringan kerajaan itu dari jarak aman.
Sementara itu, di dalam kereta kencana yang mewah itu, duduklah seorang gadis muda.
Wajahnya cantik jelita dengan kulit seputih salju, namun alisnya terkerut dan ekspresinya sangat kesal. Ia memainkan sebuah kipas sutra berwarna merah muda dengan kasar, sesekali menghentakkan kakinya ke lantai kereta.
Ia adalah Putri Lian Er, putri kesayangan Kaisar yang terkenal memiliki sifat keras kepala dan berani mati.
"Membosankan! Sungguh membosankan!" gerutunya dengan nada tinggi. "Hanya karena ada sedikit kabar bahaya, Ayah melarangku keluar bebas? Apa aku ini burung yang harus dikurung dalam sangkar emas?!"
"Tuanku... Mohon tenang," bisik dayang yang menemaninya dengan wajah pucat. "Ini demi keselamatan Putri. Belakangan ini banyak pendekar jahat yang berkeliaran mencari masalah."
"Ah, sudahlah! Kalau ada yang berani datang, suruh saja pengawal itu memenggal kepalanya!" seru Lian Er dengan angkuh. "Aku tidak percaya ada orang di dunia ini yang berani melawan kekuatan Kekaisaran!"
Baru saja kalimat itu keluar dari mulutnya...
SYUUUUUT!!!
Puluhan anak panah hitam tiba-tiba meluncur deras dari segala arah! Mereka datang dari atap rumah, dari balik pohon besar, menembus hujan ke arah kereta kencana dengan niat membunuh!
DUNG! DUNG! DUNG!
Suara benturan keras terdengar saat panah-panah itu menghantam pelindung kereta. Meskipun kereta itu terbuat dari kayu keras dan berlapis besi tipis, serangan sepadat itu lama-lama bisa jebol juga!
"Serangan!! Musuh menyerang!!" teriak salah satu pengawal.
"Lindungi Putri!! Benteng Pertahanan!!"
Para pengawal segera membentuk formasi melingkar, mengangkat perisai mereka. Namun, para penyerang itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah pendekar-pendekar tingkat tinggi yang disewa untuk pembunuhan.
Dari atas atap, lima orang pria bertopeng melompat turun. Di tangan masing-masing, mereka membawa sabit berantai yang mematikan.
"Hahaha! Putri kecil yang manis... ayo ikut kami!" teriak salah satu penyerang dengan suara serak. "Kami akan membawamu ke tempat yang jauh lebih 'menyenangkan'!"
Lian Er terkejut hingga wajahnya pucat. Ia baru sadar, bahaya itu nyata. Ia mundur ke sudut kereta, tubuhnya gemetar bukan main. Keberaniannya tadi lenyap seketika melihat darah mulai tumpah di luar sana.
Para pengawal satu per satu robohur tertusuk senjata musuh. Situasi semakin genting.
"Ini... ini kiamat ya?" bisik Lian Er dengan air mata berlinang. "Apa aku harus mati di sini?"
Tepat saat seorang penyerang besar mengayunkan sabitnya untuk menghancurkan atap kereta...
Ting!
Suara halus terdengar lagi.
Pria itu tiba-tiba berhenti bergerak. Sabitnya terlepas dari tangan, dan ia roboh tersungkur ke tanah dengan mata terbelalak. Tepat di lehernya, tertancap satu jarum emas yang sangat kecil.
"Hah? Ada apa dengan Boss?" tanya anak buahnya bingung.
Belum sempat mereka memproses apa yang terjadi, suara ting-ting-ting terdengar lagi bertubi-tubi, lebih cepat dari kedipan mata.
Satu per satu para penyerang itu roboh tanpa suara. Dalam hitungan detik, lima orang pembunuh yang tadi terlihat begitu garang dan menakutkan, kini sudah tergeletak tak bernyawa di jalanan.
Semua terjadi begitu cepat hingga para pengawal yang tersisa hanya bisa melongo tak percaya.
"Siapa... siapa yang melakukan ini?!" seru kepala pengawal dengan panik.
Dari atas atap rumah tertinggi, turunlah sebuah sosok berbaju putih. Ia melayang turun perlahan seperti kepingan salju, mendarat dengan anggun tepat di tengah jalan, di antara puing-puing pertarungan.
Itu adalah Mo Fei.
Ia masih tersenyum santai, tangannya kembali dimasukkan ke dalam lengan baju. Ia melangkah mendekati kereta kencana yang rusak sebagian.
"Waduh... waduh... ramai sekali ya," ucap Mo Fei dengan nada bercanda. "Maaf ya aku baru datang. Tadi sempat mampir makan bakpao dulu di jalan. Hehe."
Kepala pengawal segera menghunus pedang dan menodongkannya ke arah Mo Fei. "Kau! Kau siapa?! Apa kau kaki tangan mereka?!"
Mo Fei mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, senyumnya tak pernah hilang. "Aduh, jangan marah-marah dong, Om. Kalau aku musuh, kalian semua pasti sudah jadi mayat dari tadi lho."
Ia lalu menoleh ke arah jendela kereta yang terbuka. Di sana, terlihat wajah cantik Lian Er yang masih ketakutan, namun kini juga bercampur rasa penasaran.
Mata mereka bertemu.
"Nah, Nona Putri," sapa Mo Fei dengan ramah. "Malam-malam begini bahaya lho jalan-jalan sendirian. Untung ada 'Pangeran Penolong' lewat sini. Kalau tidak... hmm, mungkin Nona sudah jadi hidangan malam para hantu."
Lian Er menatap pemuda aneh itu. Tampan, tapi tingkahnya lucu dan santai sekali padahal baru saja membunuh banyak orang.
"Kau... kau yang membunuh mereka semua?" tanya Lian Er dengan suara pelan.
"Ya, sayalah yang melakukannya," jawab Mo Fei bangga. "Dengan ini... Nona Putri berhutang nyawa padaku lho. Gimana? Mau kasih hadiah apa buat pahlawanmu ini?"
Lian Er tiba-tiba mendengus kesal, menyembunyikan rasa takutnya dengan sikap angkuh. "Hah! Pahlawan apanya?! Cuma pakai trik curi-curi! Kalau berani lawan satu lawan satu pakai pedang yang gagah! Jangan pakai benda-benda kecil yang tidak jelas itu!"
Mo Fei tertawa keras mendengar jawaban itu. "Hahaha! Dasar gadis kecil yang tidak tahu terima kasih! Baiklah, terserah kamu mau bilang apa. Yang penting nyawamu selamat kan?"
Ia lalu menatap langit, wajahnya sedikit berubah lebih serius.
"Tapi ingat ya, Putri. Musuhmu bukan cuma mereka tadi. Bau darah yang kuat sudah tercium ke mana-mana. Mulai malam ini... duniamu tidak akan pernah sama lagi."
Tiba-tiba, dari arah hutan di luar kota, terdengar suara terompet panjang yang menusuk telinga. Suara itu bergema mengerikan, seolah memanggil seluruh kekuatan jahat untuk berkumpul di Chang An.
Wajah Mo Fei menjadi sungguh-sungguh.
"Permainan baru saja dimulai..." bisiknya.
Keesokan harinya, di sebuah kedai teh sederhana di sudut kota Chang An.
Suasana pagi itu cerah dan hangat. Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kayu, menerangi debu-debu halus yang berterbangan di udara. Namun, suasana tenang itu sedikit terganggu oleh kehadiran dua orang tamu istimewa.
Di satu meja, duduklah Mo Fei yang sedang menikmati semangkuk bakpao daging dengan lahapnya. Wajahnya tampak sangat bahagia dan santai, seolah kejadian mengerikan semalam hanyalah mimpi biasa.
Di hadapannya, duduklah seorang gadis cantik berpakaian mewah namun wajahnya manyun luar biasa. Itu adalah Putri Lian Er.
"Dasar pemuda aneh!" gerutu Lian Er sambil memukul meja pelan. "Aku ini Putri Kekaisaran lho! Biasanya orang-orang sujud hormat kalau melihatku, tapi kau malah menyuruhku duduk di tempat kotor begini dan makan makanan rakyat biasa?!"
Mo Fei menelan bakpaonya lalu tersenyum lebar. "Hehe, santai saja Putri cantik. Di sini makanannya enak dan murah. Lagipula, kalau kau pakai kereta kencana dan pengawal banyak, kita bakal dikerubungi orang dan musuh baru. Kan repot?"
"Alasan saja kau!" dengus Lian Er. "Dan jangan panggil aku cantik! Aku tidak suka!"
Sebenarnya, hati Lian Er penasaran setengah mati. Semalam, pemuda di depannya ini telah membunuh belasan pembunuh bayaran hanya dalam sekejap mata. Tapi yang membuatnya bingung, ia sama sekali tidak melihat senjata apa yang dipakai.
"Hei... Kau itu sebenarnya pakai sihir apa semalam?" tanya Lian Er akhirnya, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi. "Kenapa mereka bisa mati begitu cepat tanpa terluka parah?"
Mo Fei meletakkan makanannya, lalu menyeka mulutnya dengan kain sapu tangan sutra. Matanya berkilat jenaka.
"Pengen tahu ya?" godanya.
"Iya! Coba tunjukkan! Apa senjatamu itu tersembunyi di lengan baju? Atau kau punya alat tiup rahasia?" Lian Er mendekatkan wajahnya, matanya berbinar penasaran.
Mo Fei tertawa kecil. "Bukan sihir, Putri. Ini adalah ilmu tertinggi dunia persilatan. Kalau kau ingin melihat... lihatlah ke arah itu."
Mo Fei menunjuk ke arah sebuah tiang kayu besar di sudut ruangan yang agak gelap. Di sana, terbang seekor lalat hijau besar yang sedang hinggap dengan tenang.
"Apa yang harus kulihat? Lalat?" tanya Lian Er bingung.
"Tepat. Lihatlah baik-baik. Jangan kedip, karena kalau kau kedip... kau akan melewatkan segalanya."
Belum sempat Lian Er bertanya lagi, tiba-tiba jari telunjuk Mo Fei bergerak sedikit.
Hanya gerakan sangat kecil, hampir tidak terlihat oleh mata telanjang.
Ting!
Suara halus terdengar.
Seketika, lalat hijau itu yang tadi hidup dan sehat, kini jatuh melayang ke meja. Ia mati seketika.
Lian Er terbelalak. Ia buru-buru mengambil tubuh lalat itu dan memeriksanya dengan teliti.
"Gila... Tidak ada luka! Tidak ada darah! Bagaimana bisa?!" serunya kaget.
"Itulah kehebatan Jarum Emas," ucap Mo Fei dengan nada bangga namun tetap santai. "Aku tidak perlu menusuk atau menebas keras-keras. Cukup satu titik kecil yang tepat, aliran energi di tubuh musuh akan terputus seketika. Jantung berhenti berdetak, napas tertahan... dan tamatlah riwayat mereka."
Ia lalu mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah jarum emas yang berkilau di ujung jarinya. Jarum itu sangat tipis dan kecil, hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan sungguh-sungguh.
"Pedang itu kasar, Putri. Ia merusak keindahan. Tapi jarum... elegan, bersih, dan pasti. Di tanganku, benda sekecil ini lebih mematikan daripada pedang sepanjang tiga meter."
Lian Er menelan ludah. Ia baru sadar, pemuda di depannya ini bukan sekadar pendekar biasa. Ia adalah monster yang sangat berbahaya, namun bersembunyi di balik wajah tampan dan sifat yang ceria.
"Jadi... semalam kau menembakkan sepuluh jarum sekaligus?"
"Bukan sepuluh," jawab Mo Fei sambil tersenyum misterius. "Aku menembakkan sepuluh jarum dalam satu waktu, tapi masing-masing jarum itu bergerak dengan kecepatan dan sudut yang berbeda. Itu namanya teknik 'Jarum Seribu Bayangan'."
Lian Er terdiam. Ia mulai merasa hormat, meskipun gengsi untuk mengakuinya.
"Kau... benar-benar hebat ya," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
"Hah? Apa katanya? Aku tidak dengar," Mo Fei mendekatkan telinga dengan jahil.
"Aku bilang KAU HEBAT!!" teriak Lian Er dengan wajah memerah karena malu dan marah. "Puasss?! Dasar menyebalkan!"
Mo Fei tertawa terbahak-bahak melihat wajah merah gadis itu. "Hahaha! Ya sudah, jangan teriak-teriak dong. Telingaku mau pecah nih."
Namun, tawa itu berhenti seketika.
Senyum di wajah Mo Fei lenyap perlahan. Matanya tajam menatap ke arah pintu keluar kedai teh. Aura di sekitarnya tiba-tiba berubah drastis. Dari yang santai dan hangat, kini menjadi sedingin es dan penuh tekanan mematikan.
"Putri..." panggil Mo Fei pelan, namun suaranya terdengar berat.
"Ada apa lagi?" tanya Lian Er kaget melihat perubahan wajahnya yang begitu cepat.
"Sepertinya... makanan pagi kita belum selesai," ucap Mo Fei sambil perlahan merapatkan lengan bajunya, bersiap mengambil stok jarumnya. "Tamu tak diundang... sudah datang."
WUSSS!
Tiba-tiba tirai pintu kedai teh terbelah terbuka lebar oleh angin kencang.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria tinggi besar mengenakan jubah ungu tua. Wajahnya tertutup topeng besi berbentuk wajah hantu yang menyeramkan. Di punggungnya, terselip sebuah gada besi raksasa yang beratnya pasti puluhan kilogram.
Di belakangnya, puluhan pasukan bersenjata lengkap berdiri rapat.
"Hahaha... Akhirnya ketemu juga kau, bocah penjual jarum!" suara pria bertopeng itu bergema keras, menggetarkan kaca-kaca jendela. "Kau berani membunuh anak buah Sekte Ungu? Hari ini... akan kubuat kau memohon mati!"
Lian Er pucat pasi melihat jumlah musuh yang begitu banyak dan aura jahat yang begitu kuat.
"Mo Fei... Mereka banyak sekali! Itu Pendekar Gada Hantu! Dia sangat kuat!" bisik Lian Er ketakutan.
Mo Fei hanya tersenyum lagi, kali ini senyum yang penuh tantangan.
"Banyak? Tidak masalah. Semakin banyak... semakin seru kan?" ucapnya santai.
Ia berdiri perlahan, angin di ruangan itu seakan berputar mengelilingi tubuhnya. Ribuan jarum emas di dalam bajunya seakan bergetar penuh semangat, siap untuk melenyapkan segala yang menghalangi jalan mereka.
"Silakan masuk... Tuan Hantu. Mari kita mainkan permainan... siapa yang bisa berdiri tegak di akhir cerita."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!