M
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 6: CAHAYA DI UJUNG LORONG
Hari-hari berlalu dengan tetap perlahan. Ria tetap rajin sekolah dan membantu ibunya, namun ada satu hal yang kini selalu menghiasi pikirannya: FORMULIR YANG SUDAH DIKIRIM.
Setiap kali ada notifikasi di HP pinjaman, atau setiap kali ada orang lewat membawa amplop cokelat, jantung Ria selalu berdegup kencang. Ia berharap itu adalah kabar baik untuk mereka.
"Ibu, kira-kira kapan ya jawabannya datang?" tanya Ria suatu sore sambil membantu menjemur anyaman bambu.
Ibu tersenyum sabar. "Sabar ya, Nak. Menunggu itu bagian dari ujian. Kalau sudah waktunya, pasti tahu sendiri. Yang penting kita tetap berusaha, jangan cuma menunggu."
Ria mengangguk, meski rasa penasaran itu tetap ada.
Hingga pada suatu siang yang panas terik... tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, yang cukup keras.
Tok! Tok! Tok!
"Nak Ria! Bu Merina! Cepat keluar sebentar!" suara itu milik Pak RT. Suaranya terdengar agak keras dan bersemangat.
Ria dan ibunya kaget, langsung berlari ke depan pintu.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Bu Merina dengan napas sedikit terengah.
Pak RT tersenyum lebar, wajahnya memancarkan kebahagiaan.
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu! Selamat ya, Nak Ria! Data kalian di formulir online itu LOLOS! DITERIMA!"
Deg...
Telinga Ria terasa berdenging, matanya seketika membelalak tak percaya. "Be... benar, Pak? Benaran?"
"Benar dong! Ini saya dapat pesan dari kantor desa. Nama Ibu masuk dalam daftar penerima bantuan, nanti uangnya akan masuk lewat jenas saya lewat rekening atau kartu. Nanti tunggu diambil saja, lumayan besar lho. Bisa buat beli beras, obat, dan mungkin bisa sedikit diperbaiki ATAP RUMAH yang bocor itu."
"Jelas ya, Pak? Benaran?" tanya Bu Merina masih tak percaya.
Air mata Ria meluncur deras. Bukan air mata sedih, melainkan air mata bahagia. Ia menatap wajah tuanya, tak sanggup menahan rasa syukur.
"Ya Allah... akhirnya..." ucapnya terbata-bata.
Bu Merina langsung menutup wajahnya dengan ujung kerudung, bahunya berguncang menahan isak tangis. Pak RT hanya tersenyum haru melihat pemandangan itu.
Ria langsung memeluk ibunya erat sekali. Tubuh mereka bergetar karena tangis bahagia. Mimpi yang selama ini hanya ada di angan-angan, kini menjadi nyata. Jalan yang tadinya terlihat gelap dan sempit, kini terbuka lebar dengan cahaya yang terang benderang.
"Ibu... kita berhasil, Bu..." isak Ria di bahu ibunya. "Nanti atapnya bisa diperbaiki, Ibu bisa makan daging sesekali..."
Ibu mengusap air mata dengan jarinya yang kasar. "Ini semua karena kamu, Nak Ria. Karena kamu rajin berdoa. Kalau kamu tidak bantuan isi formulir itu sampai bisa kemarin, mungkin kita belum dapat kesempatan ini."
Pak RT pun ikut terharu melihat pemandangan itu. "Iya, Nak. Bersyukurlah. Gunakan uangnya sebaik-baiknya ya. Ini rezeki dari Allah lewat pemerintah."
Setelah Pak RT pamit, Ria dan ibunya masih berdiri di depan pintu. Angin sore berhembus pelan, membelai rambut mereka. Rumah itu mungkin masih terlihat sederhana, dindingnya masih papan, dan lantainya masih tanah, tapi entah kenapa, hari itu rumah itu terasa hangat sekali. Lebih hangat dari istana mana pun.
Ria tersenyum, senyum lebar yang pertama kali muncul setelah sekian lama.
"Ternyata benar ya, Bu," batin Ria. "Selama kita tidak menyerah dan tetap berusaha, lewat pasti akan memberikan bantuan lewat jalan yang pernah kita duga."
Mereka tak lagi merasa sendirian. Dunia mungkin keras, tapi selalu ada kebaikan yang selalu siap menjemput mereka yang sabar.
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 7: PERASAAN YANG MULAI BERGEMBIRA
Pagi itu, sinar matahari mulai menyelinap masuk melewati celah-celah jendela kayu rumah sederhana itu, menerangi setiap sudut ruangan yang terasa dingin dan sepi. Arefin terbangun lebih awal dari biasanya, hatinya terasa tak tenang, ada sesuatu yang mengganjal dan membuatnya sulit untuk kembali memejamkan mata. Bayangan wajah adik perempuannya, Ria, terus terbayang jelas di benaknya — wajah yang selalu tampak lelah, sedih, dan tertunduk lesu, seolah tak pernah mengenal arti bahagia dan tawa riang.
Perlahan ia bangkit dari pembaringannya, berjalan melangkah pelan menuju dapur, berniat mengambil air minum sekaligus melihat keadaan di sekitar rumah. Namun, langkah kakinya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok kecil yang sedang duduk mematung di sudut dapur yang paling gelap dan sempit. Itu Ria. Gadis kecil itu duduk bersila di lantai tanah yang dingin, memeluk kedua lututnya yang kurus kering dengan kedua tangannya yang terlihat begitu kecil dan lemah. Di hadapannya hanya ada sepiring nasi yang sedikit sekali jumlahnya, dengan lauk sisa sayur lodeh yang tinggal kuahnya saja, dan sedikit sambal yang terlihat sangat pedas.
Ria makan dengan sangat pelan dan hati-hati, seolah takut ada suara suapan yang terdengar, takut ada yang marah atau menegurnya. Matanya berkaca-kaca, sesekali ia menyeka air mata yang jatuh menetes perlahan membasahi pipi pucatnya, berusaha menahan isak tangis agar tak ada yang mendengarnya. Tubuhnya tampak semakin kurus, bajunya sudah lusuh dan berlubang di sana-sini, sepatu sekolahnya pun sudah tak beralas lagi, solnya sudah habis karena terlalu lama dipakai.
Melihat pemandangan itu, dada Arefin terasa sesak sekali, seolah ada benda berat yang menimpanya, membuat napasnya terasa sulit dan perih. "Ya Allah... apa yang sudah kami lakukan selama ini? Bagaimana kami bisa membiarkan adik kami sendiri, satu-satunya perempuan di rumah ini, hidup seperti orang buangan di rumahnya sendiri?" batinnya menjerit pilu, air matanya mulai menggenang dan berlinang di pelupuk mata. "Ini adik kita, darah daging kita sendiri, satu-satunya bunga di tengah keluarga kami yang kering dan keras ini. Mengapa kami tega membiarkannya menderita sendirian, makan sisa-sisa makanan kami, tidur di tempat yang sempit dan dingin, sementara kami tidur nyenyak dan makan enak dengan kenyang?"
Perasaan bersalah dan penyesalan mulai merayap masuk ke relung hati terdalamnya, perasaan yang selama dua tahun ini tertutup oleh rasa egois, rasa benci yang salah, dan sikap dingin yang keliru. Ia teringat betapa seringnya ia dan saudara-saudaranya membentak, mengusir, dan memarahi Ria hanya karena hal-hal kecil yang tak berarti. Ia teringat betapa seringnya mereka membiarkan Ria menangis sendirian di pojokan, membiarkannya bekerja berat mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri tanpa pernah menawarkan bantuan sedikit pun.
"Tuhan... ampuni kami... kami sudah salah besar. Kami telah menyakiti hati gadis kecil yang polos dan tak berdosa ini. Kami sudah menjadi kakak yang buruk, kakak yang tak punya hati nurani," batin Arefin lagi, tangisnya mulai tak terbendung lagi, jatuh berderai di pipinya yang mulai memerah menahan emosi yang meluap-luap.
Dari kejauhan, Hamza dan Ardiansyah yang kebetulan juga bangun dan hendak pergi ke luar rumah, ikut berhenti dan diam terpaku melihat pemandangan yang sama. Mereka pun sama merasakan apa yang dirasakan Arefin. Hati mereka terasa sakit, perih, dan hancur lebur menyadari betapa besar kesalahan yang telah mereka perbuat selama ini. Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara, tak ada yang berani melangkah maju, karena rasa malu dan rasa bersalah yang begitu besar menyelimuti hati mereka.
Mereka mengamati setiap gerak-gerik Ria yang begitu hati-hati, begitu takut, dan begitu rendah diri. Saat Ria hendak berangkat sekolah, mereka melihat Ria memakai baju seragam yang warnanya sudah pudar, kainnya sudah tipis dan hampir sobek di bagian lengan dan pinggangnya. Baju itu sudah tak layak pakai lagi, terlihat begitu sederhana dan menyedihkan dibandingkan dengan baju saudara-saudaranya yang masih terlihat bagus dan layak. Sepatu yang dipakainya pun sudah tak ada lagi bentuknya, jari-jarinya sampai terlihat keluar karena sol dan bagian depannya sudah rusak parah.
"Baju ini... sudah berapa lama dia pakai? Dua tahun? Tiga tahun? Padahal kami sering beli baju baru dan kami sama sekali tidak pernah memikirkan keadaan dia," batin Hamza sambil menahan amarah pada dirinya sendiri, jemarinya mengepal kuat menahan rasa marah dan kecewa atas kelakuannya sendiri.
Di sekolah pun, mereka tahu betapa berat dan sulitnya hari-hari yang harus dilalui Ria. Mereka sering mendengar bisik-bisik tetangga, atau melihat sendiri betapa Ria sering diejek, dikucilkan, dan disakiti oleh teman-temannya hanya karena dia anak miskin, hanya karena dia terlihat lusuh dan sendirian. Dan yang paling menyakitkan: mereka, kakak-kakaknya sendiri, justru menjadi orang pertama yang membuatnya merasa paling sendirian di dunia ini.
Ria berjalan meninggalkan rumah dengan langkah kecil dan pelan, punggungnya tampak menunduk dalam, seolah memikul beban yang sangat berat di bahu kecilnya. Ia berjalan sendirian di pinggir jalan, tak ada teman bicara, tak ada yang menemaninya. Di sepanjang jalan menuju sekolah, ia sering menyingkir ke pinggir jika ada orang lewat, takut disapa atau diajak bicara, karena ia merasa dirinya tak berharga dan tak pantas dianggap ada.
Setelah sosok kecil itu hilang di tikungan jalan, Arefin, Hamza, dan Ardiansyah masih berdiri diam terpaku di tempatnya, menatap kepergian adik mereka dengan hati yang penuh luka dan penyesalan mendalam.
"Kita salah... kita sudah salah besar, Bang..." ucap Hamza pelan dan parau, suaranya bergetar menahan tangis yang hampir pecah. "Selama ini kita kira kita benar, kita kira kita punya alasan untuk membenci dan menjauhinya. Tapi ternyata... kita adalah penjahat terbesar dalam hidupnya."
Arefin mengangguk berat, menyeka air matanya dengan kasar namun wajahnya masih tampak sangat sedih dan gundah. "Iya, Hamza... Kita baru sadar sekarang, padahal sudah terlambat dua tahun lamanya. Lihatlah dia... dia masih kecil, tapi dia sudah harus merasakan penderitaan yang seharusnya tidak dirasakan oleh anak-anak seusianya. Dia satu-satunya perempuan kita, satu-satunya bunga yang Allah titipkan di keluarga ini untuk kita jaga dan sayangi, tapi malah kita injak-injak dan kita biarkan layu begitu saja."
Ardiansyah yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan nada tegas namun penuh penyesalan. "Mulai hari ini, semuanya harus berubah. Kita harus menebus semua kesalahan kita, sekecil apa pun. Kita harus buktikan bahwa kita memang pantas disebut kakaknya. Kita harus membuat dia tersenyum kembali, membuat dia merasakan kasih sayang saudara yang selama ini hilang dari hidupnya."
Hati mereka pun mulai bergembira dengan perasaan yang berbeda — gembira karena akhirnya mata hati mereka terbuka, gembira karena mereka sadar dan berniat berubah, meski dibalut rasa sakit dan perih yang mendalam. Mereka sadar, perjalanan menebus kesalahan itu takkan mudah, luka di hati Ria mungkin butuh waktu lama untuk sembuh. Namun mereka berjanji dalam hati, berjanji sepenuh jiwa dan raga: mereka takkan pernah lagi membiarkan Ria menangis, takkan pernah lagi membiarkannya sendirian, dan akan menjaganya mati-matian sebagai satu-satunya bunga yang paling berharga di tengah hutan keluarga mereka.
Matahari semakin tinggi dan bersinar terang, seolah ikut menyaksikan dan merestui perubahan hati yang indah itu. Di sudut rumah yang tadi sepi dan dingin, kini mulai tumbuh secercah harapan baru, harapan akan kasih sayang yang akan kembali tumbuh subur dan mekar indah, demi Ria, putri kecil mereka yang terkasih.
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 8: AIR MATA TOBAT DAN JANJI SEHIDUP SEMATI
Hati mereka hancur berkeping-keping. Rasa sesal itu begitu besar, menyesakkan dada hingga tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah kini sadar, dua tahun lamanya... selamanya dua tahun itu mereka memperlakukan Ria dengan dingin. Mereka mengucilkan adik kandung sendiri.
Malam itu, saat mereka sedang bersujud di atas sajadah yang tipis, air mata mereka tak henti menetes basahi lantai.
"Ya Allah... ampunilah hamba..." isak Bang Hamza dengan tubuh bergetar. "Hamba durhaka pada adik sendiri. Hamza biarkan Komariah hidup sendiri. Di luar rumah dia jadi bahan olok-olok orang, tapi di dalam rumah pun dia dapat tatapan kebencian dari saudara-saudaranya sendiri. Ya Allah, sungguh kejam kami ya Allah..."
Bang Arefin pun menangis sejadi-jadinya. "Kenapa kami bisa sejahat itu? Kami benci dia tanpa alasan yang jelas. Kami buat dia merasa tidak berharga, merasa tidak diinginkan di rumah sendiri. Dua tahun... dua tahun adik kami sakit hati, merasa dibenci keluarganya sendiri. Maafkan kami ya Allah... maafkan kami, Dik Komariah..."
Mereka menyesal, sangat menyesal. Semua kebencian itu muncul karena kekecawaan mereka pada ayah yang pergi meninggalkan keluarga. Mereka salah paham, dan mereka menyalahkan keadaan, padahal Ria yang tak bersalah. Tak hanya ketiga kakaknya, Dimas, Bagas, dan Fajar pun ikut menangis sedih dan menyesal. Mereka masih kecil, tapi mereka mengerti bahwa mereka juga ikut menyakiti hati kakak Ria.
"Kami minta maaf, Kak..." ucap adik Dimas dengan suara terbata sambil menangis. "Dulu Abang Hamza sama Abang Arefin suruh kami benci sama Kakak. Kami ikut-ikutan saja, padahal Kakak tidak pernah jahat apa-apa, adik selalu menyakiti hatimu. Kami lihat Kakak kurus kering, sedih terus, tapi kami diam saja... maafkan kami ya Kak."
"Maafkan Abang juga ya Dimas, Bagas, Fajar..." kata Bang Arefin lembut namun penuh penyesalan. "Abang yang salah. Abang yang ajarkan kalian benci Kakak Ria. Nu semua salah Abang, ayah yang jahat meninggalkan kita, tapi jangan salahkan Kakak Ria."
Mereka semua berkumpul di tengah ruangan yang remang-remang itu. Ria berdiri di sana, menatap satu per satu wajah saudara-saudaranya yang basah oleh air mata.
Bang Hamza melangkah maju, memegang kedua bahu Ria dengan lembut, matanya menatap dalam ke manik adiknya.
"Dik... Komariah... maafkan kami semua ya..." suara Bang Hamza parau. "Maafkan dia tahun ini kami buat hidupmu menderita. Kami janji, mulai detik ini, semuanya akan berubah."
Bang Arefin dan Bang Ardiansyah pun ikut memeluk Ria dari samping kanan dan kiri.
"Kamu itu satu-satunya bunga di tengah hutan keras ini, Ria..." kata Bang Ardiansyah. "Kami para laki-laki ini adalah diri dan akar yang akan melindungimu. Kamu putri satu-satunya, kamu permata kami."
"Kalau ada siapa saja yang berani mengolok-olok, menghina, atau menyakitimu di luar sana..." Bang Arefin berjanji dengan tegas, matanya menyala penuh rasa ingin melindungi. "Biarkan Abang yang akan lindungi kamu dengan nyawa Abang. Sekalipun tidak akan ada yang berani menyakiti bunga kecil kami lagi."
Mendengar semua itu, air mata Ria jatuh lagi, tapi kali ini adalah air mata kebahagiaan yang luar biasa. Rasa sakit selama dua tahun itu seakan terobati seketika oleh kasih sayang yang meluap-luap saat ini.
Ria mengangkat wajahnya ke langit-langit rumah, berbisik dalam hati penuh syukur.
"Terima kasih ya Allah... Engkau kabulkan doa hamba selama ini... terima kasih karena sudah memeluk hamba lewat tangan-tangan mereka. Terima kasih karena hamba tidak sendirian lagi."
"Terima kasih... terima kasih semuanya..." isak Ria di tengah pelukan enam orang yang kini sangat menyayanginya.
Malam itu, ikatan keluarga mereka menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Penyesalan telah berubah menjadi janji setia sehidup semati. Ria bukan lagi anak yang terbuang, melainkan ratu yang dipeluk erat oleh enam ksatria pelindungnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!