Indonesia
NovelToon NovelToon

Bangkitnya Pelayan Terbuang

AIR MATA DI ATAS DEBU

​Di bawah hamparan langit yang luas, terbentang sebuah wilayah yang dikenal sebagai Daratan Bawah, atau bagi para penghuni langit, disebut sebagai "Tanah Pembuangan". Daratan ini terbagi menjadi tiga kekaisaran besar yang terus bersaing memperebutkan energi alam yang kian menipis. Di pinggiran Kekaisaran Awan Biru, berdirilah Sekte Pedang Langit, sebuah sekte kelas tiga yang menjadi penguasa regional atas belasan kota kecil di sekitarnya.

​Dunia ini tidak mengenal belas kasihan. Di sini, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Mereka yang memiliki bakat kultivasi disebut sebagai "Manusia Setengah Dewa", sementara mereka yang tidak memiliki bakat hanyalah "Debu Daratan"—makhluk yang keberadaannya hanya untuk diinjak.

​Dan di antara ribuan debu yang bertebaran di Sekte Pedang Langit, terdapat satu pemuda yang nasibnya jauh lebih rendah dari itu.

​"Lihat si sampah itu! Beraninya dia menunjukkan wajahnya di jalur utama!"

​Sebuah tendangan keras mendarat tepat di perut Han Feng. Tubuhnya yang kurus terpental, menghantam pilar batu sebelum akhirnya jatuh ke kubangan lumpur sisa hujan semalam. Han Feng tidak berteriak. Dia hanya meringkuk, berusaha melindungi organ vitalnya, sebuah gerakan defensif yang sudah dia pelajari dengan sangat baik selama tiga tahun terakhir.

​"Wajah yang memuakkan," ludah seorang pemuda berpakaian sutra biru—pakaian resmi murid luar Sekte Pedang Langit. Namanya adalah Li Wei, seorang pemuda dari keluarga kaya yang merasa terhina setiap kali melihat Han Feng.

​Mengapa? Karena Han Feng terlalu tampan.

​Bahkan dalam kondisi babak belur, kotor, dan mengenakan pakaian pelayan yang compang-camping, garis wajah Han Feng tampak seperti diukir oleh pengrajin surgawi. Alisnya yang tegas, hidungnya yang mancung sempurna, dan mata yang—jika tidak redup karena penderitaan—pasti akan mampu memikat siapa pun. Di dunia di mana para kultivator berusaha memperbaiki fisik mereka melalui energi Qi, Han Feng memiliki ketampanan yang alami tanpa setetes pun bakat kultivasi di tubuhnya.

​Bagi Li Wei dan murid-murid lainnya, ketampanan Han Feng adalah sebuah "kesalahan alam". Bagaimana mungkin seorang pelayan tanpa bakat, yang nadinya tersumbat total, memiliki wajah yang lebih menawan daripada mereka yang terlahir mulia?

​"Tuan Muda Li... mohon ampuni saya... saya hanya ingin mengambil air..." suara Han Feng terdengar serak dan bergetar. Dia tidak berani menatap mata lawan bicaranya. Ketakutan telah menjadi kulit keduanya.

​"Mengambil air dengan wajah seperti itu? Kau membuat para murid perempuan terganggu konsentrasinya!" Li Wei menginjak tangan Han Feng ke dalam lumpur, menekannya hingga terdengar suara tulang yang retak.

​Han Feng meringis, air mata mulai mengalir, namun dia tetap diam. Di kejauhan, di atas balkon paviliun, seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu panjang berdiri memperhatikan. Dia adalah Tetua Mo, penanggung jawab disiplin murid luar. Matanya yang dingin hanya melirik sekilas ke arah penyiksaan itu sebelum dia menyesap tehnya kembali. Bagi Tetua Mo, Han Feng bukanlah manusia. Dia hanyalah seekor serangga yang keberadaannya tidak lebih berharga daripada semut di bawah kakinya. Keadilan? Itu hanya berlaku bagi mereka yang bisa mencapai Ranah Pengumpulan Qi. Untuk seorang pelayan tanpa bakat, keadilan adalah dongeng sebelum tidur.

​Penderitaan Han Feng tidak berhenti di sana. Sore itu, Li Wei dan kawan-kawannya menyeret Han Feng menuju Hutan Kematian, sebuah wilayah hutan biasa di pinggiran sekte yang jarang dilewati orang karena banyaknya binatang buas.

​"Mereka bilang kau sangat mencintai wajahmu, bukan?" Li Wei menarik rambut Han Feng, memaksa pemuda itu menengadah. "Bagaimana kalau kita lihat, apakah binatang buas di dalam sana juga menyukai wajahmu?"

​Dengan satu dorongan kasar, Han Feng dilemparkan ke dalam jurang dangkal yang dipenuhi semak berduri di tengah hutan. Tubuhnya menghantam batu tajam, mematahkan beberapa tulang rusuknya. Darah segar merembes dari pakaian pelayannya yang abu-abu.

​"Jangan pernah kembali ke sekte. Jika aku melihat wajahmu lagi, aku akan mengulitinya inci demi inci," ancam Li Wei sebelum pergi dengan tawa meremehkan bersama pengikutnya.

...***...

​Han Feng terbaring diam. Langit mulai menggelap, dan suhu hutan turun drastis. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Dia membenci dunia ini. Dia membenci para kultivator. Tapi yang paling dia benci adalah dirinya sendiri—dirinya yang lemah, yang penakut, dan yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.

​"Mengapa... mengapa aku harus lahir?" bisiknya dengan napas yang makin memendek. "Jika hidup hanya untuk diinjak, lebih baik aku menjadi tanah saja."

​Pandangannya mulai kabur. Kesadarannya perlahan menghilang saat dinginnya maut mulai menyelimuti. Namun, tepat saat jantungnya berdenyut lemah untuk terakhir kalinya, sesuatu yang mustahil terjadi.

​KEBANGKITAN SUTRA DEWA

​Tepat di bawah tempat Han Feng terbaring, di balik lapisan tanah dan akar pohon tua, sebuah benda yang telah terkubur selama jutaan tahun bereaksi. Sebuah cahaya keemasan yang redup tiba-tiba meledak menjadi terang benderang.

​Sebuah buku kuno yang tampak seperti terbuat dari giok putih tiba-tiba melesat keluar dari tanah. Buku itu tidak memiliki judul yang terlihat oleh mata manusia biasa, namun auranya membuat seluruh hutan seketika menjadi sunyi. Binatang buas yang tadinya mengintai Han Feng langsung lari ketakutan seolah melihat penguasa langit turun ke bumi.

​Buku itu adalah Sutra Dewa yang Terbuang. Pusaka tertinggi dari dunia dewa yang jatuh ke dunia bawah setelah sebuah pengkhianatan besar di langit tertinggi.

​Buku itu melayang di atas tubuh Han Feng yang sekarat. Halamannya terbuka dengan sendirinya, mengeluarkan suara seperti ribuan dewa yang sedang merapal mantra. Tiba-tiba, buku itu hancur menjadi debu cahaya keemasan yang sangat murni.

​Cahaya itu tidak menghilang, melainkan menyerbu masuk ke dalam tubuh Han Feng melalui setiap pori-pori kulitnya.

​"AAAGHHH!"

​Han Feng yang tadinya hampir mati tiba-tiba melengkungkan punggungnya. Matanya terbuka lebar, namun tidak ada warna hitam dan putih di sana—hanya ada emas murni yang bersinar.

​Di dalam tubuhnya, sebuah revolusi sedang terjadi. Cahaya Sutra Dewa mengalir seperti sungai lava, menghancurkan semua nadi yang tersumbat dan membangunnya kembali dengan material yang lebih kuat dari baja purba. Tulang-tulangnya yang patah menyambung kembali, namun kini warnanya seputih perak dan sekeras berlian.

​Namun, perubahan yang paling mengerikan terjadi di otaknya.

​Ribuan tahun pengetahuan—teknik bela diri yang bisa membelah bintang, rumus alkimia yang bisa menghidupkan orang mati, taktik perang yang telah menghancurkan kerajaan dewa—semuanya dipaksa masuk ke dalam kesadarannya. Ingatannya yang dulu penuh dengan ketakutan dan hinaan kini tertutup oleh kebijakan dan kedinginan seorang penguasa.

​KELAHIRAN KEMBALI

​Hening.

​Cahaya keemasan itu perlahan memudar, menyisakan Han Feng yang berdiri di tengah kegelapan hutan. Pakaiannya masih compang-camping, namun aura yang terpancar darinya sangat berbeda.

​Dia tidak lagi gemetar. Dia tidak lagi menunduk.

​Han Feng mengangkat tangannya, melihat telapak tangannya yang kini bersih dari lumpur dan luka. Dia mengepalkan tinjunya, dan udara di sekitarnya seolah bergetar hebat. Di dalam kepalanya, sebuah suara bergema, suara yang dingin dan berwibawa: “Dunia telah membuangmu, maka kau akan menjadi penguasa dunia.”

​Han Feng perlahan berdiri tegak. Dia melihat ke arah Sekte Pedang Langit yang terlihat di kejauhan. Wajahnya yang tampan kini tidak lagi memancarkan kelemahan, melainkan sebuah kedinginan yang bisa membekukan jiwa siapa pun yang melihatnya.

​"Han Feng yang pengecut sudah mati di hutan ini," suaranya terdengar sangat tenang, namun mengandung nada yang tajam seperti pedang dewa.

​"Li Wei... Tetua Mo... Sekte Pedang Langit..." Dia menyebutkan nama-nama itu satu per satu tanpa emosi, seolah-olah dia sedang menghitung daftar barang yang akan dihancurkan.

​Dia tidak lagi merasakan kemarahan yang meledak-ledak. Yang dia rasakan hanyalah kedinginan yang absolut. Berkat Sutra Dewa, otaknya kini bekerja ribuan kali lebih cepat. Dia bisa melihat setiap kesalahan dalam gerakan kultivasi para murid sekte dalam ingatannya. Dia tahu betapa bodoh dan rendahnya mereka semua.

​"Kalian menganggapku sampah karena aku tidak memiliki bakat?" Han Feng tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat licik dan menakutkan.

​"Maka aku akan menunjukkan pada kalian, apa artinya dibantai oleh sampah."

​Dengan langkah yang ringan namun pasti, Han Feng berjalan meninggalkan hutan. Dia tidak lagi berjalan seperti seorang pelayan yang memohon nyawa. Dia berjalan seperti seorang dewa yang sedang menuju panggung pembalasannya.

​Malam itu, bintang-bintang di atas Daratan Bawah bersinar lebih terang dari biasanya, seolah menyambut kembalinya sang penguasa yang telah lama hilang. Badai besar akan segera datang ke Sekte Pedang Langit, dan badai itu bernama Han Feng.

DEBU YANG BERUBAH MENJADI KARANG

​Matahari pagi menyusup di sela-sela rimbunnya Hutan Kematian, membawa kehangatan yang tidak pernah dirasakan Han Feng sebelumnya. Biasanya, pagi hari baginya adalah pengingat akan tulang yang pegal dan tugas-tugas berat yang menanti. Namun hari ini, setiap partikel udara yang masuk ke paru-parunya terasa seperti aliran madu yang murni dan bertenaga.

​Han Feng berdiri di tepi sungai kecil yang membelah hutan. Tubuhnya yang kemarin hancur kini terasa asing—bukan karena sakit, tapi karena kekuatannya. Dia mengepalkan tangan, merasakan kepadatan otot dan struktur tulang yang kini lebih menyerupai giok daripada daging manusia.

​Sutra Dewa yang Terbuang.

​Han Feng memejamkan mata. Di dalam benaknya, sebuah hamparan perpustakaan cahaya tak terbatas terbuka. Jutaan gulungan teknik, resep alkimia, dan rahasia semesta tersusun rapi, menunggu untuk disentuh. Dengan satu pemikiran, dia memanggil sebuah teknik dasar pernapasan: "Napas Sunyi Dewa Langit".

​Seketika, seluruh pori-porinya seolah menghisap energi Qi dari alam sekitar. Di Daratan Bawah, seorang kultivator butuh waktu berjam-jam untuk menyerap satu tetes energi alam. Namun bagi Han Feng, energi itu datang seperti pelayan yang rindu pada tuannya, berebut masuk ke dalam nadinya yang kini seluas samudra.

​Wush!

​Dia melayangkan satu pukulan lurus ke arah sebuah pohon besar berdiameter dua meter di depannya. Gerakannya lambat, hampir malas. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada teriakan heroik. Namun, saat tinjunya berhenti beberapa inci sebelum menyentuh kulit pohon, udara di depannya meledak.

​BRAK!

​Batang pohon itu hancur berkeping-keping, menyisakan lubang besar yang tembus ke belakang. Han Feng melihat tangannya sendiri dengan tatapan datar.

​"Hanya sepuluh persen dari kekuatan fisik murni tanpa energi Qi," gumamnya. Suaranya tidak lagi serak ketakutan; suaranya kini memiliki resonansi yang dalam dan menenangkan, seperti denting lonceng di kuil kuno. "Dunia ini... ternyata jauh lebih rapuh dari yang aku ingat."

...***...

​Han Feng berjalan keluar dari hutan dengan langkah santai. Jubah pelayannya yang abu-abu robek di sana-sini, memperlihatkan kulitnya yang kini putih bersih tanpa bekas luka sedikit pun. Wajahnya yang luar biasa tampan tidak lagi ditutupi oleh ekspresi memelas, melainkan ketenangan yang sangat mengintimidasi.

​Saat dia mendekati gerbang belakang Sekte Pedang Langit, dua penjaga pelayan yang sedang bersandar di tombak mereka mendongak. Salah satunya adalah Zhang Hu, pelayan senior yang sering mencuri jatah makan Han Feng.

​"Eh? Mata hariku pasti sedang rusak," Zhang Hu mengucek matanya. "Si Sampah itu... bukankah kemarin Li Wei melemparnya ke Hutan Kematian untuk dimakan serigala?"

​Han Feng terus berjalan tanpa mengubah kecepatannya.

​"Hei! Berhenti!" Zhang Hu melangkah maju, menghalangi jalan Han Feng dengan tombaknya. "Berani-beraninya kau kembali tanpa izin? Dan lihat wajahmu itu... kenapa kau terlihat begitu... sombong?"

​Han Feng berhenti tepat di depan ujung tombak Zhang Hu. Matanya yang keemasan menatap langsung ke pupil mata Zhang Hu. Tidak ada kemarahan di sana, hanya kekosongan yang membuat Zhang Hu tiba-tiba merasa kedinginan, seolah dia sedang menatap jurang yang tak berdasar.

​"Minggir," ucap Han Feng pendek.

​Zhang Hu tertegun. Suara itu... sejak kapan pelayan ini punya keberanian untuk memerintah? "Kau... kau mencari mati! Berlutut dan minta maaf sekarang, atau aku akan—"

​Sret.

​Sebelum Zhang Hu bisa menyelesaikan kalimatnya, Han Feng melangkah maju. Gerakannya sangat efisien, seolah dia tahu persis ke mana arah tombak itu akan bergeser bahkan sebelum Zhang Hu bergerak. Han Feng melewati Zhang Hu seolah-olah pria besar itu hanyalah udara kosong.

​"Aku bilang minggir. Aku sedang tidak ingin mengotori tanganku dengan sampah sepertimu di pagi hari yang cerah ini," suara Han Feng bergema di telinga Zhang Hu, dingin dan tajam.

​Zhang Hu berdiri mematung. Dia ingin berteriak, ingin memukul, tapi tubuhnya gemetar tanpa alasan. Ada sesuatu dalam diri Han Feng yang membuatnya merasa bahwa jika dia bergerak satu inci saja, nyawanya akan melayang.

......................

​Han Feng kembali ke barak pelayan. Ruangan itu bau, lembap, dan penuh dengan debu. Di atas mejanya, menumpuk belasan kuali alkimia bekas yang berkerak hitam—tugas dari kepala pelayan yang sengaja ingin menyiksanya. Kerak itu berasal dari sisa pembakaran herbal tingkat rendah yang sangat sulit dibersihkan bahkan dengan asam kuat sekalipun.

​Biasanya, Han Feng akan menghabiskan tiga hari tiga malam untuk menggosok kuali-kuali ini sampai tangannya berdarah.

​Tapi sekarang?

​Han Feng melirik ke arah sudut ruangan di mana tumbuh beberapa rumput liar dan lumut karena kelembapan. Dia mengambil beberapa lembar daun rumput tersebut, memeras sarinya ke dalam sebuah ember air, dan menambahkan sedikit abu dari tungku.

​"Reaksi netralisasi alkimia dasar tingkat satu," gumamnya.

​Bagi para master alkimia di sekte ini, membersihkan kuali adalah pekerjaan fisik. Tapi bagi otak Han Feng yang berisi pengetahuan Dewa, itu adalah soal memanipulasi struktur molekul. Dia menuangkan air racikannya ke dalam kuali-kuali tersebut.

​Sssss...

​Dalam hitungan detik, kerak hitam yang membatu itu mengelupas dengan sendirinya, memperlihatkan permukaan logam kuali yang mengkilap seperti baru. Han Feng hanya perlu membilasnya sekali. Pekerjaan tiga hari selesai dalam tiga menit.

​Dia kemudian duduk di atas tempat tidur kayunya yang keras, lalu mulai memejamkan mata. Dia tidak bermeditasi untuk naik level; dia sedang menyusun strategi. Balas dendam terbaik bukan sekadar membunuh, tapi menghancurkan fondasi kebanggaan musuhnya.

​"Han Feng! Keluar kau, sampah!"

​Suara teriakan dari luar memecah keheningan. Itu adalah suara salah satu pengikut setia Li Wei, seorang pelayan yang baru saja naik pangkat menjadi murid luar tingkat satu bernama Xiao Bo.

​Han Feng berjalan keluar dengan tenang. Di depannya, Xiao Bo berdiri dengan angkuh, dikelilingi oleh beberapa pelayan lain yang ingin menonton tontonan gratis.

​"Kau berani mengabaikan Zhang Hu di gerbang? Kau pikir karena kau selamat dari hutan, kau menjadi hebat?" Xiao Bo meludah ke tanah. "Aku baru saja mencapai tahap pertama Body Refining. Bagiku, mematahkan lehermu semudah mematahkan ranting pohon!"

​Xiao Bo menerjang maju. Pukulannya membawa sedikit angin Qi, cukup kuat untuk meretakkan tembok bagi standar manusia biasa. Para penonton sudah membayangkan Han Feng akan terpental dengan wajah hancur.

​Namun, Han Feng tetap berdiri dengan tangan di belakang punggung.

​Saat tinju Xiao Bo hanya berjarak satu inci dari hidungnya, Han Feng sedikit memiringkan kepalanya. Gerakan itu sangat tipis, sangat presisi. Tinju Xiao Bo melewati udara kosong.

​"Kau meleset," ucap Han Feng datar.

​"Sialan!" Xiao Bo kembali menyerang dengan tendangan memutar.

​Han Feng tidak menghindar jauh. Dia hanya menggeser kakinya satu inci ke samping. Di mata orang lain, seolah-olah Xiao Bo sengaja menendang ke arah yang salah. Tapi bagi Xiao Bo, dia merasa Han Feng selalu berada di luar jangkauannya, seolah dia sedang mengejar bayangan di atas air.

​"Lambat. Terlalu banyak lubang. Napasmu tidak stabil," Han Feng mulai memberikan komentar, suaranya terdengar seperti seorang guru yang sedang mengajar murid yang sangat bodoh.

​"TUTUP MULUTMU!" Xiao Bo murka. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk pukulan terakhir.

​Han Feng hanya mengulurkan satu jari telunjuknya. Dengan ketepatan yang mustahil, jari itu menyentuh pergelangan tangan Xiao Bo tepat di titik saraf utamanya.

​Tuk.

​Seketika, seluruh lengan Xiao Bo menjadi mati rasa. Keseimbangannya hilang, dan karena momentumnya sendiri, dia terpelesat di atas tanah yang licin dan jatuh tersungkur dengan wajah mendarat tepat di kubangan lumpur di depan kaki Han Feng.

​PLOK!

​Keheningan menyelimuti area barak. Para pelayan yang menonton ternganga. Xiao Bo, seorang kultivator tahap satu, jatuh hanya karena satu jari?

​Han Feng menunduk, menatap Xiao Bo yang berusaha bangkit dengan wajah penuh lumpur dan kotoran. Tatapan Han Feng begitu dingin, membuat nyali semua orang yang melihatnya menciut.

​"Lumpur itu cocok untukmu," ujar Han Feng pelan. "Setidaknya di sana kau tidak perlu khawatir tentang jatuh lagi, karena kau sudah berada di tempat paling rendah."

​Han Feng kemudian berbalik dan berjalan masuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Xiao Bo yang gemetar karena malu dan takut. Dia tahu, berita ini akan sampai ke telinga Li Wei dengan cepat. Dan memang itulah yang dia inginkan.

​"Biarkan mereka datang," bisik Han Feng sambil menatap langit dari jendela kecilnya. "Aku baru saja mulai merapikan papan catur ini."

​Di kejauhan, di puncak gunung sekte, Tetua Mo yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka matanya. Dia merasa ada riak kecil dalam energi alam di sekitar barak pelayan—sesuatu yang sangat murni, namun sangat asing. Dia mengerutkan kening, tidak menyadari bahwa serangga yang dia abaikan kemarin kini telah berubah menjadi naga yang siap menelan seluruh sektenya.

PISAU TERSEMBUNYI DI BALIK BAYANGAN

​Matahari pagi di Sekte Pedang Langit selalu dimulai dengan suara dentuman lonceng perunggu yang berat. Bagi ribuan murid, itu adalah tanda dimulainya pengejaran keabadian. Namun bagi Han Feng, itu adalah tanda untuk memulai rutinitas paling membosankan: membelah kayu bakar di dapur belakang.

​Han Feng berdiri di depan tumpukan kayu Zhen yang terkenal keras. Biasanya, seorang pelayan butuh waktu sepuluh menit untuk membelah satu batang kayu ini menggunakan kapak tumpul. Namun, Han Feng tidak memegang kapak. Dia hanya meletakkan telapak tangannya di atas permukaan kayu yang kasar.

​Di dalam benaknya, struktur molekul kayu itu terlihat jelas seperti jaring-jaring rapuh. Melalui Sutra Dewa yang Terbuang, dia mempelajari teknik "Getaran Penghancur Atom".

​Wush...

​Tanpa suara ledakan, tanpa percikan api. Han Feng hanya memberikan sedikit getaran frekuensi tinggi melalui ujung jarinya. Detik berikutnya, batang kayu itu terbelah menjadi dua dengan potongan yang sangat halus, seolah-olah dipotong oleh laser surgawi.

​"Napas yang stabil, energi yang tersembunyi," gumam Han Feng.

​Dia tidak terburu-buru meningkatkan level kultivasinya secara fisik. Di kepalanya, Sutra Dewa memperingatkan bahwa pondasi yang terburu-buru akan retak di masa depan. Dia memilih untuk membangun "Dantian Emas"—sebuah wadah energi yang berlapis-lapis. Jika seorang kultivator tahap Body Refining biasa memiliki energi setebal kertas, Han Feng memadatkan energinya hingga setebal dinding benteng, namun tetap menyembunyikannya di balik nadi yang sengaja dia buat terlihat "kacau" agar tidak menarik perhatian para Tetua.

...****************...

​Siang hari, ketenangan Han Feng terganggu. Seorang pelayan suruhan Li Wei datang dengan wajah angkuh, melemparkan sebuah kantong kosong ke wajah Han Feng.

​"Sampah! Tuan Muda Li akan menghadapi ujian promosi murid dalam besok pagi. Dia butuh Ramuan Pengumpul Qi murni dari gudang obat bawah. Ambilkan sekarang, dan pastikan kau tidak menyentuhnya dengan tangan kotormu!"

​Han Feng menangkap kantong itu dengan gerakan yang terlihat kikuk, sengaja menjaga aktingnya sebagai pelayan penakut. "Ba-baik, segera saya laksanakan."

​Han Feng berjalan menuju gudang obat. Di sana, dia menerima botol porselen berisi cairan berwarna hijau jernih. Bagi mata biasa, ini adalah ramuan kelas satu. Namun bagi mata Han Feng yang memiliki pengetahuan Alkimia Dewa, ramuan ini penuh dengan kotoran yang tidak murni.

​Di sebuah lorong sepi yang gelap, Han Feng berhenti. Dia memegang botol itu. Jarinya mengeluarkan cahaya keemasan yang sangat tipis, hampir tidak terlihat.

​Dia tidak memasukkan racun. Racun akan meninggalkan jejak yang bisa dilacak oleh tabib sekte. Sebagai gantinya, dia menggunakan teknik "Inversi Energi". Han Feng hanya mengubah sedikit urutan partikel energi di dalam cairan itu. Ramuan tersebut kini akan tetap memberikan dorongan tenaga yang besar di awal, namun akan menciptakan "sumbatan" mendadak di jalur meridian tepat saat pengguna mengerahkan kekuatan penuh.

​"Selamat menikmati ujianmu, Tuan Muda Li," bisik Han Feng dengan senyum tipis yang dingin.

​Setelah mengantarkan ramuan itu—dan menerima tendangan di debu dari Li Wei sebagai 'ucapan terima kasih'—Han Feng dikirim ke tugas berikutnya: membersihkan Paviliun Kitab, tempat penyimpanan teknik beladiri sekte.

​Paviliun ini dijaga oleh Tetua Lin, seorang pria tua yang hampir selalu tertidur sambil memegang botol arak. Karena status Han Feng sebagai "sampah tanpa bakat", dia dibiarkan bebas keluar masuk rak buku. Bagi Tetua Lin, Han Feng tidak lebih berbahaya daripada seekor kucing yang membersihkan debu.

​Namun, saat Han Feng menyapu lantai, matanya bekerja seperti pemindai (scanner) surgawi.

​Setiap kali dia melewati rak, judul-judul buku seperti Pedang Awan Mengalir atau Langkah Angin Cepat terserap ke dalam otaknya. Han Feng membedah teknik-teknik itu dalam hitungan detik.

​“Terlalu banyak gerakan sia-sia di jurus ketiga... Aliran Qi di teknik ini akan merusak paru-paru dalam jangka panjang... Sampah, semuanya sampah,” batin Han Feng.

​Di sudut paling gelap, dia menemukan sebuah gulungan tua yang sudah berjamur berjudul Langkah Bayangan Tanpa Jejak. Teknik ini dianggap gagal oleh sekte karena sangat sulit dipelajari dan tidak memberikan daya serang. Tapi Han Feng melihat potensi lain. Dia memodifikasi teknik itu di kepalanya dengan pengetahuan Sutra Dewa.

​Dalam satu sapuan, teknik itu kini berubah menjadi "Langkah Kosong Ilahi". Dia bisa bergerak di antara ribuan orang tanpa ada satu pun yang menyadari keberadaannya, seolah-olah dia adalah bagian dari udara itu sendiri.

​Han Feng terus menyapu, wajahnya tetap datar dan tunduk, sementara di dalam kepalanya dia baru saja "mencuri" seluruh ilmu pengetahuan Sekte Pedang Langit dan memperbaikinya menjadi versi yang sempurna.

​Sore harinya, lapangan latihan sekte dipenuhi sorak-sorai. Li Wei sedang melakukan demonstrasi kekuatan di depan para murid baru dan beberapa murid perempuan yang dia kagumi.

​"Perhatikan baik-baik!" seru Li Wei dengan sombong. Dia meminum ramuan yang dibawakan Han Feng tadi, merasakan energi besar mengalir di tubuhnya. "Ini adalah teknik kebanggaan keluargaku, Telapak Pemecah Gunung!"

​Li Wei mengumpulkan seluruh energinya ke telapak tangan. Cahaya biru memancar kuat. Dia ingin menghancurkan sebuah batu ujian besar untuk pamer.

​Di kejauhan, Han Feng berdiri sambil memikul keranjang cucian yang berat. Dia berhenti sejenak, melihat ke arah panggung latihan.

​Sekarang, batin Han Feng.

​Tepat saat Li Wei akan menghantamkan tangannya ke batu, struktur energi ramuan yang telah dimodifikasi Han Feng bereaksi. Aliran Qi yang tadinya deras tiba-tiba berbalik arah (backlash) di dalam nadinya.

​BUM!

​Bukan batu yang hancur, melainkan Li Wei yang terpental ke belakang. Aliran energinya tersumbat di ketiak, menyebabkan otot lengannya kejang seketika. Tubuhnya melintir di udara dan jatuh terjerembap ke dalam bak air pembersih kaki di pinggir lapangan.

​BYUR!

​Keheningan seketika melanda. Murid-murid perempuan yang tadinya bersorak kini menutup mulut mereka untuk menahan tawa. Li Wei merangkak keluar dari bak air dengan rambut acak-acakan dan jubah basah kuyup, terlihat sangat memalukan.

​"Apa yang terjadi?! Ramuan itu... ada yang salah dengan ramuannya!" teriak Li Wei dengan wajah merah padam karena malu.

​Tabib sekte segera berlari mendekat dan memeriksa denyut nadi Li Wei. "Aneh... nadimu hanya sedikit kacau karena terlalu bersemangat. Ramuannya bersih, tidak ada racun. Mungkin Tuan Muda Li terlalu terburu-buru dalam mengerahkan tenaga."

​Li Wei menggeram frustrasi. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun. Dia tidak akan pernah menyangka bahwa pelayan yang dia tendang tadi pagi adalah penyebab kehancurannya.

​HARTA DI BALIK LUMPUR

​Han Feng melanjutkan langkahnya menuju tempat pembuangan sampah di belakang sekte. Di sana, di dekat tembok yang retak dan berlumut, dia berhenti. Matanya menangkap sesuatu yang tidak akan disadari oleh siapa pun di sekte ini.

​Di antara rumput liar yang bau, tumbuh sebuah tanaman kecil dengan tiga daun berwarna hitam kusam. Orang-orang di sini menyebutnya "Rumput Gagak", tumbuhan pengganggu yang tidak berguna.

​Namun, di memori Dewa milik Han Feng, itu adalah "Rumput Penelan Jiwa" yang legendaris. Jika diolah dengan benar, tanaman ini bisa menyembunyikan level kultivasi seseorang secara total, bahkan dari mata seorang Kaisar sekalipun.

​"Sekte ini benar-benar sekumpulan orang buta," gumam Han Feng.

​Dia memetik tanaman itu dengan gerakan halus, memasukkannya ke dalam saku jubahnya. Dengan tanaman ini, dia bisa terus tumbuh menjadi naga di balik bayangan tanpa ada yang curiga.

​Malam itu, Han Feng duduk di atap barak pelayan yang sepi. Dia melihat ke arah paviliun mewah tempat para Tetua tinggal.

​"Kalian menikmati kemewahan kalian di atas penderitaan orang lain," bisik Han Feng sambil menatap tangannya yang kini memancarkan cahaya keemasan redup. "Nikmatilah selagi bisa. Karena saat debu ini bangkit sepenuhnya, tidak akan ada tempat bagi kalian untuk bersembunyi."

​Han Feng memejamkan mata, membiarkan energi semesta mengalir masuk ke dalam dirinya. Dia adalah pelayan yang terbuang, namun dia juga adalah badai yang sedang tenang. Dan besok, dia akan kembali menyapu lantai, membelah kayu, dan menundukkan kepala—sambil mempersiapkan langkah selanjutnya untuk menghancurkan mereka semua dari dalam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!