Ciiiiit.
Bunyi rem bus tua itu berderit nyaring memecah keheningan jalan tanah yang berdebu. Pintu bus terbuka dengan suara berderak kasar, memperlihatkan engselnya yang sudah karatan.
Lin Ye melangkah turun sambil membawa satu koper besar berwarna hitam di tangan kanannya dan sebuah tas punggung lusuh. Dia berdiri di tepi jalan, menatap hamparan sawah dan perbukitan yang mengelilingi Desa Qingshui. Angin sore meniup rambutnya yang sedikit berantakan, membawa aroma tanah basah dan jerami yang terbakar dari kejauhan.
"Terima kasih, Paman," kata Lin Ye kepada supir bus yang duduk di balik kemudi sambil menyeka keringat.
"Sama-sama, anak muda. Kamu yakin mau turun di sini? Ini ujung Desa Qingshui. Jarang ada orang kota yang datang ke bagian ini. Rumah-rumah di depan sana kebanyakan sudah kosong dan halamannya dipenuhi semak belukar," kata supir bus itu sambil mematikan rokoknya di asbak kecil dekat kemudi.
"Saya yakin, Paman. Ini tempat tinggal kakek saya dulu. Saya ingin melihat kondisinya setelah belasan tahun tidak kemari," jawab Lin Ye dengan senyum tipis.
Supir itu mengangguk pelan, matanya menatap Lin Ye dengan sedikit rasa kasihan. "Kalau begitu hati-hati. Kudengar tanah di sekitar sini sering jadi sengketa warga sejak orang tua yang punya ladang besar itu meninggal puluhan tahun lalu. Jangan sampai kamu bermasalah dengan orang lokal, apalagi kamu sendirian."
"Saya mengerti. Terima kasih banyak atas peringatannya, Paman," balas Lin Ye.
Brummm.
Bus tua itu kembali melaju, meninggalkan kepulan asap tebal dan debu jalanan yang berterbangan. Lin Ye terbatuk pelan sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya. Dia memutar tubuhnya dan mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi rumput liar di sisi kanan dan kirinya. Suasana di sini sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik yang mulai bernyanyi menyambut senja.
"Sudah lima belas tahun berlalu sejak terakhir kali aku ke sini bersama ayah dan ibu," batin Lin Ye sambil menatap jalanan berbatu di depannya. "Rasanya sangat sepi, sangat berbeda dengan hiruk-pikuk pusat kota."
Langkah kakinya terdengar pelan bergesekan dengan kerikil jalan. Di kota besar, dia terbiasa dengan suara klakson mobil yang memekakkan telinga, dering telepon kantor yang tidak pernah berhenti dari pagi hingga malam, dan omelan atasan yang selalu menuntut target pekerjaan tanpa mempedulikan jam istirahat.
Menjadi budak korporat selama lima tahun telah menguras semua energi dan kewarasannya. Kematian mendadak kedua orang tuanya dalam kecelakaan mobil beruntun satu bulan lalu menjadi titik balik hidupnya. Lin Ye merasa hidupnya hampa. Dia memutuskan berhenti bekerja, menguras tabungannya untuk menutupi biaya pemakaman dan sisa hutang keluarga, lalu kembali ke satu-satunya tempat yang tersisa atas namanya. Ladang warisan kakeknya.
Tap. Tap. Tap.
Lin Ye berhenti berjalan. Di depannya berdiri sebuah pagar kayu yang sudah lapuk, patah di beberapa bagian, dan miring seakan bisa rubuh hanya dengan tiupan angin kencang. Di balik pagar itu, terdapat sebuah rumah kayu tradisional bergaya pedesaan dengan atap genteng yang banyak berjatuhan ke tanah. Halamannya tertutup tumbuhan liar dan alang-alang setinggi dada orang dewasa. Jendela rumahnya tertutup debu tebal dan beberapa kacanya pecah. Ini sama sekali tidak terlihat seperti tempat yang layak untuk ditinggali manusia.
Baru saja Lin Ye hendak meletakkan kopernya untuk membuka gerbang kayu itu, sebuah suara teguran kasar terdengar dari arah ladang sebelah kiri.
"Hei. Siapa kamu? Jangan sembarangan masuk ke tanah orang yang sudah mati."
Lin Ye menoleh dengan tenang. Seorang pria paruh baya dengan kulit gelap terbakar matahari berdiri di perbatasan ladang. Pria itu memakai kaus lusuh berlubang di bagian bahu dan membawa cangkul bergagang panjang di pundaknya. Matanya menatap Lin Ye dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik dan penuh kecurigaan.
"Saya Lin Ye. Ini rumah mendiang kakek saya, Lin Tian. Saya cucunya yang datang dari kota," jawab Lin Ye dengan nada datar, tidak terintimidasi oleh tatapan pria itu.
Pria itu melebarkan matanya sejenak, lalu mendengus pelan dan tertawa meremehkan. "Cucu Lin Tian? Oh, anak dari kota itu rupanya. Pantas saja pakaianmu bersih dan kulitmu pucat begitu. Kenapa kamu ke sini? Tanah ini sudah lama ditinggalkan. Ayahmu bahkan tidak pernah kembali untuk mengurusnya."
"Saya adalah pemilik sah tanah ini sekarang karena ayah saya sudah meninggal. Tentu saja saya datang untuk melihat properti saya sendiri. Anda siapa dan ada urusan apa ikut campur urusan pribadi saya?" tanya Lin Ye balik dengan tatapan tajam.
"Saya Zhao He. Ladang jagung saya tepat di sebelah tanah berantakan ini." Zhao He menunjuk ke arah petak tanah yang ditanami jagung yang tumbuh cukup subur. "Karena kamu sudah ada di sini, kebetulan sekali. Lebih baik kamu jual saja tanah ini padaku sekarang juga."
"Menjual tanah ini?" Lin Ye mengerutkan keningnya.
"Benar. Kamu orang kota, tanganmu terlalu halus, kamu tidak akan bisa hidup sehari pun di desa ini. Tanah ini sudah mati. tumbuhan liarnya tebal dan akarnya dalam, tanahnya sekeras batu, rumahnya hampir rubuh dan bocor di mana-mana. Kamu butuh puluhan ribu yuan hanya untuk menyewa alat berat dan orang untuk membersihkannya. Jual saja padaku seharga sepuluh ribu yuan. Aku akan membayarnya tunai besok pagi. Kamu bisa pakai uang itu untuk ongkos pulang dan bersenang-senang di kota."
"Sepuluh ribu yuan?" Lin Ye tertawa pelan, tawanya terdengar dingin. "Saya mungkin lama tinggal di kota, tapi saya bukan orang bodoh yang buta huruf. Harga pasaran tanah sekecil apa pun di desa ini setidaknya menyentuh angka lima puluh ribu yuan, apalagi tanah ini cukup luas membentang sampai ke kaki bukit. Anda mencoba menipu saya karena saya baru datang dan terlihat kelelahan?"
Zhao He memajukan langkahnya, wajahnya terlihat kesal karena triknya terbongkar. "Anak muda, jangan sombong. Tanah kakekmu ini berbatasan langsung dengan hutan bukit liar. Sering ada babi hutan turun dan merusak tanaman. Tidak ada orang desa ini yang mau membelinya darimu. Aku menawari sepuluh ribu yuan karena aku kasihan melihatmu terlantar. Kebetulan aku butuh tambahan lahan untuk menanam lebih banyak jagung demi melunasi biaya rumah sakit istriku di kota yang sangat mahal."
"Masalah rumah sakit istri Anda itu bukan urusan saya," jawab Lin Ye tegas. "Saya tidak akan menjual tanah ini kepada siapa pun dengan harga berapa pun. Saya akan tinggal di sini dan mengurusnya sendiri."
"Tinggal di sini?" Zhao He tertawa keras sambil memukul gagang cangkulnya ke tanah. "Jangan bercanda. Kamu tidak akan bertahan tiga hari. Tanpa air bersih yang mengalir karena sumurnya sudah kering, tanpa listrik yang memadai, dan rumah yang penuh tikus, kamu akan lari menangis kembali ke kota sebelum akhir pekan."
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan menangis. Sekarang, tolong menyingkir dari hadapan gerbang rumah saya. Anda menghalangi jalan," kata Lin Ye sambil mengangkat kopernya kembali.
Sebelum Zhao He bisa membalas ucapan Lin Ye dengan makian, suara langkah kaki yang lebih berat terdengar mendekat dari arah jalan utama desa.
"Zhao He. Apa yang kamu lakukan di sana? Jangan mengganggu tamu desa kita yang baru datang."
Seorang pria tua dengan rambut beruban penuh dan kemeja lengan panjang yang rapi berjalan menghampiri mereka. Dia memakai kacamata dengan bingkai tebal dan berjalan menggunakan tongkat kayu. Wajahnya penuh keriput namun memancarkan wibawa yang tenang.
"Kepala Desa Wang," sapa Zhao He dengan nada suaranya yang tiba-tiba melunak dan menundukkan kepalanya sedikit. "Aku tidak mengganggu siapa-siapa. Aku hanya menyapa cucu Lin Tian ini. Dia bilang mau tinggal di gubuk reot ini."
Kepala Desa Wang mengabaikan Zhao He dan menoleh ke arah Lin Ye. Wajah tuanya menunjukkan senyum ramah yang terlihat sangat tulus. "Kamu Lin Ye? Anak dari Lin Fan?"
"Benar, Kepala Desa. Saya Lin Ye," jawab Lin Ye sambil menunduk hormat.
"Turut berduka cita atas kecelakaan kedua orang tuamu, Nak. Ayahmu sering mengirim surat kepadaku menanyakan kabar desa ini dan keadaan rumah kakekmu. Keputusanmu untuk pulang sudah tepat, meski kondisinya mungkin jauh dari apa yang kamu harapkan." Kepala Desa Wang menghela napas panjang sambil melihat ke arah rumah kayu yang rusak parah itu.
"Terima kasih banyak, Kepala Desa. Saya sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi kondisi yang paling buruk sekalipun," kata Lin Ye.
Zhao He menyela pembicaraan itu dari samping dengan raut wajah tidak sabar. "Kepala Desa, kamu tahu sendiri aturan desa kita. Lahan yang terbengkalai lebih dari lima belas tahun dan menimbulkan sarang hama tikus serta ular bisa diambil alih oleh balai desa untuk dikelola ulang. Tanah ini sudah sangat kotor. Desa harus menyerahkannya padaku agar aku yang bersihkan dan kelola, daripada dibiarkan mati di tangan anak kota ini."
Kepala Desa Wang menggeleng pelan, menatap Zhao He dengan tegas. "Aturan itu berlaku hanya jika ahli warisnya tidak ada, menolak mengurusnya, atau tidak bisa dihubungi. Sekarang ahli waris sahnya, Lin Ye, ada di sini secara langsung. Hak kepemilikan tanah ini mutlak miliknya seutuhnya. Tapi Lin Ye, Zhao He benar soal satu hal. Aturan lingkungan desa tetap berlaku."
"Aturan lingkungan seperti apa, Kepala Desa?" tanya Lin Ye.
"Jika kamu tidak segera membersihkan ladang ini dan mulai menanam sesuatu yang berguna dalam waktu satu bulan, warga desa bisa mengajukan protes resmi. Hama dari tanahmu yang dipenuhi semak belukar bisa menyebar ke ladang mereka dan merusak panen. Jika protes itu terjadi dan terbukti benar, balai desa terpaksa harus turun tangan menyita sebagian lahanmu untuk dibersihkan secara paksa."
"Saya mengerti aturan itu, Kepala Desa," jawab Lin Ye tanpa ragu. "Saya akan mulai membersihkan rumah dan ladang ini mulai hari ini juga. Saya pastikan dalam batas waktu satu bulan, tanah ini akan bersih dan tidak akan mengganggu ladang milik tetangga mana pun." Lin Ye melirik tajam ke arah Zhao He. "Termasuk ladang jagung di sebelah."
Zhao He mendengus kasar, wajahnya merah menahan marah. "Baiklah kalau begitu. Kita lihat seberapa hebat tenaga pekerja kantoran sepertimu. Jangan menangis mencari bantuan saat tanganmu melepuh dan kapalan besok pagi. Aku tidak akan meminjamkan alat apa pun padamu."
Zhao He memutar tubuhnya dengan kasar dan berjalan pergi menyusuri pembatas ladang menuju rumahnya sendiri.
Kepala Desa Wang menepuk bahu Lin Ye dengan pelan dan hangat. "Jangan terlalu diambil hati ucapan Zhao He tadi. Istrinya sedang sakit parah di rumah sakit yang ada di kota. Dia sedang sangat tertekan mencari uang untuk biaya operasi yang tidak murah. Tapi tabiatnya memang sedikit keras dan kadang menghalalkan segala cara. Kamu harus ekstra hati-hati bertetangga dengannya."
"Saya sangat mengerti, Kepala Desa. Di kota besar, saya sering menemui orang yang jauh lebih licik dari dia. Setiap orang punya masalahnya sendiri. Tapi saya tidak akan membiarkan masalah orang lain dijadikan alasan untuk merebut hak milik saya," jawab Lin Ye.
"Pemikiran yang bagus dan dewasa. Kakekmu pasti bangga melihatmu berpendirian teguh. Jika butuh bantuan alat bersih-bersih seperti sapu atau ember, datang saja ke rumahku di tengah desa. Kakekmu dulu adalah teman baikku saat kami masih muda. Masuklah dan istirahatlah dulu hari ini, perjalanan dari kota pasti sangat melelahkan."
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Kepala Desa Wang. Saya akan mampir jika butuh sesuatu."
Setelah Kepala Desa berjalan pergi menjauh, Lin Ye kembali berdiri sendirian. Dia menarik napas panjang, mengumpulkan tekadnya, lalu mendorong gerbang kayu yang reyot itu.
Kreeek.
Engsel gerbang yang berkarat menjerit nyaring memecah keheningan. Gerbang itu hampir copot saat Lin Ye mendorongnya masuk. Dia menyeret kopernya melewati rerumputan tinggi dan semak berduri, harus berhati-hati agar celananya tidak robek. Dia berjalan menuju pintu depan rumah. Pintunya terkunci dari luar, tapi gemboknya sudah sangat berkarat hingga berwarna cokelat kemerahan. Lin Ye mengambil sebuah batu berukuran sekepalan tangan dari tanah dan memukul gembok itu dua kali.
Klak.
Gembok itu patah dan terlepas. Pintu kayu berderit saat dibuka. Udara pengap yang bercampur bau kayu lapuk dan kotoran debu langsung menyambutnya. Di dalam rumah yang remang-remang karena cahaya matahari terhalang jendela kotor, hanya ada perabotan kayu tua yang diselimuti debu setebal satu sentimeter. Meja makan bundar di tengah ruangan, dua kursi kayu yang salah satu kakinya patah, dan sebuah tempat tidur kayu keras di sudut ruangan.
"Kakek, ayah, ibu, aku pulang," batin Lin Ye dengan rasa sesak di dadanya. "Maaf baru datang mengurus tempat ini sekarang."
Dia meletakkan koper dan tas punggungnya di atas meja makan yang tampaknya masih cukup kokoh menahan beban. Suhu di dalam ruangan terasa sangat gerah. Lin Ye melepaskan jaketnya, menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, dan melangkah menuju pintu belakang. Dia ingat dari cerita masa kecil yang sering didongengkan ayahnya, kakeknya memiliki sumur tua yang airnya sangat jernih dan ladang sayur luas di halaman belakang rumah.
Saat dia menendang terbuka pintu belakang, pemandangan yang terlihat di luar jauh lebih buruk dari halaman depan. Ladang kakeknya benar-benar hancur lebur dimakan alam. Bukan hanya tumbuhan liar biasa, tapi semak berduri beracun tumbuh liar merambat menutupi seluruh permukaan tanah. Sisa-sisa pagar kayu pembatas kandang ayam sudah rata dengan tanah, kayunya membusuk dan hancur dimakan koloni rayap. Tanah yang dulunya subur kini terlihat kering kerontang dan pecah-pecah di beberapa bagian.
Namun, di ujung halaman belakang, tepat di dekat perbatasan dengan hutan bukit yang mulai menggelap, mata tajam Lin Ye menangkap sesuatu yang sangat janggal dan tidak masuk akal.
Di tengah semua kematian, tanah gersang, dan tanaman liar yang membusuk itu, berdiri kokoh menjulang sebuah pohon raksasa.
Batang pohon itu sangat besar, Lin Ye memperkirakan butuh setidaknya tiga orang pria dewasa bergandengan tangan untuk bisa memeluk batang tersebut. Kulit kayunya berwarna cokelat kehitaman dengan guratan-guratan aneh menyala yang terlihat seperti pola aliran sungai dari kejauhan. Tapi hal yang paling mencolok dan aneh adalah dedaunannya. Daun-daun pohon raksasa itu sangat rimbun dan berwarna hijau zamrud yang sangat cerah, seolah memancarkan cahayanya sendiri di bawah langit senja. Sama sekali tidak ada satupun tanda-tanda daun layu, penyakit, atau ranting kering seperti tanaman liar di sekelilingnya.
Wushhh.
Angin sore kembali bertiup pelan, menggerakkan daun-daun zamrud pohon raksasa itu. Entah mengapa, saat melihat gerakan dedaunan itu, Lin Ye merasa pohon tersebut seolah memanggil namanya dari kejauhan. Rasa penasaran yang kuat mengalahkan rasa lelah di sekujur tubuhnya. Lin Ye tanpa sadar melangkah maju, kakinya menerobos semak berduri yang menutupi jalan setapak menuju ke arah pohon misterius tersebut.
Srrk. Srrk.
Kakinya beberapa kali tersangkut akar liar yang menyembul dari dalam tanah. Semakin dekat jaraknya dengan pohon itu, udara di sekitarnya terasa semakin berubah. Udara yang pengap menjadi sangat sejuk dan segar memenuhi paru-parunya. Bau busuk dari kayu lapuk dan tanah mati perlahan menghilang, sepenuhnya digantikan oleh aroma manis dan menenangkan, persis seperti wangi bunga teratai yang baru mekar setelah diguyur hujan deras.
Lin Ye akhirnya berdiri tepat di bawah bayangan dahan pohon itu. Dia mendongakkan kepalanya ke atas, melihat betapa besar dan megahnya mahkota pohon ini menutupi sebagian langit.
"Aneh sekali. Sangat tidak masuk akal. Di daerah tanah gersang dan penuh tumbuhan liar perusak seperti ini, bagaimana mungkin ada pohon sebesar dan sesubur ini bisa bertahan hidup puluhan tahun tanpa ada satu orang pun yang merawat atau menyiramnya?" batin Lin Ye penuh tanda tanya.
Didorong rasa penasaran, dia mengulurkan tangan kanannya perlahan untuk menyentuh kulit batang pohon itu. Tanpa dia sadari, ada sebuah duri tajam berukuran besar dari semak liar merambat yang melilit kuat di dasar batang pohon tersebut.
Sret.
"Aw," keluh Lin Ye secara refleks.
Duri tajam itu menggores telapak tangan kanannya cukup dalam. Darah merah segar langsung menetes deras dari lukanya. Karena terkejut dan kehilangan keseimbangan, dia secara refleks menekan tangannya yang berdarah itu kuat-kuat ke kulit batang pohon raksasa untuk mencari pegangan agar tubuhnya tidak jatuh terjungkal ke belakang.
Darah segar dari telapak tangannya menempel tebal di kulit kayu pohon raksasa itu.
Tiba-tiba, kejadian yang sangat tidak masuk akal dan di luar nalar terjadi di depan matanya. Darah yang menempel di kulit kayu kasar itu tidak menetes jatuh ke tanah. Darah itu justru tersedot masuk dan meresap dengan cepat ke dalam guratan-guratan kayu. Sedetik kemudian, guratan kayu itu menyala terang dengan cahaya merah redup yang berdenyut seperti detak jantung.
Lin Ye terbelalak kaget. Dia merinding ketakutan dan mencoba menarik tangannya sekuat tenaga, tapi telapak tangannya terasa lengket menempel pada kayu, seolah ditarik paksa oleh daya hisap yang sangat kuat dari bagian dalam inti pohon.
Cahaya merah yang berdenyut di batang pohon perlahan berubah warna menjadi cahaya hijau terang yang menyilaukan mata. Seluruh daun zamrud di atas pohon itu berdesir sangat hebat menciptakan suara gemuruh, meskipun pada saat itu sama sekali tidak ada hembusan angin yang bertiup di sekitar mereka.
Sringgg.
Sebuah suara mekanis yang datar, namun anehnya terdengar sangat alami seperti gema tetesan air di dalam gua bawah tanah, tiba-tiba muncul dan bergema tepat di dalam kepala Lin Ye.
"Inisialisasi Darah terdeteksi."
"Menganalisis kemurnian garis keturunan biologis..."
"Garis keturunan cocok dikonfirmasi: Keturunan langsung dari generasi kedua dari Pemilik Sistem Pertama, Lin Tian."
"Membuka kunci segel. Mengaktifkan Sistem Warisan Alam tahap awal."
"Pemilik baru berhasil didaftarkan ke dalam inti: Lin Ye."
Daya hisap di tangan Lin Ye menghilang tiba-tiba. Lin Ye terhuyung mundur ke belakang hingga akhirnya jatuh terduduk keras di atas tanah berlumpur. Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Jantungnya berdebar sangat kencang seakan mau melompat keluar dari dadanya.
"Apa itu tadi? Suara siapa yang baru saja bicara di kepalaku?"
Dia menatap sekeliling halaman belakang dengan panik dan napas terengah-engah. Tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya dan ladang yang hancur. Dia kemudian melihat ke arah telapak tangan kanannya yang tadi tergores duri tajam hingga berdarah. Matanya melebar sempurna. Lukanya hilang tak berbekas. Kulit telapak tangannya kembali mulus, tidak ada bekas goresan sama sekali, yang tersisa hanya noda sisa darah yang sudah mengering.
"Sistem Warisan Alam berhasil diikat secara permanen ke jiwa pengguna. Selamat datang kembali di Ladang, Lin Ye."
Suara gema air itu muncul lagi di dalam kepalanya, kali ini terdengar lebih jelas. Bersamaan dengan suara misterius itu, sebuah layar panel cahaya tembus pandang yang melayang secara ajaib muncul tepat setengah meter di depan wajah Lin Ye. Layar itu bersinar dengan warna hijau muda, sangat mirip seperti tampilan antarmuka menu status di dalam permainan video simulasi yang sering dia mainkan semasa kuliah.
Lin Ye mengusap kedua matanya dengan kasar berulang kali. Dia memukul pipinya sendiri. Dia merasa mungkin pikirannya sudah gila karena kelelahan perjalanan jauh atau dia sedang berhalusinasi parah karena menghirup gas beracun dari tanaman liar. Tapi rasa sakit di pipinya terasa nyata, dan layar bercahaya itu tetap tidak hilang dari pandangannya. Layar itu bahkan mengikuti arah gerakan kepalanya.
"Apa-apaan benda ini? Sihir? Teknologi alien?" tanya Lin Ye dengan suara bergetar pelan.
Layar di depannya menampilkan beberapa baris tulisan dengan huruf bercahaya yang sangat jelas untuk dibaca.
Nama Pengguna: Lin Ye
Level Sistem: 1 (Pemula)
Saldo Koin Alam: 0
Status Ladang: Hancur Total (Level Kritis)
Status Energi Pohon: Kritis (Mati secara permanen dalam 24 Jam jika tidak ada aktivitas penanaman)
"Tunggu dulu, mati dalam dua puluh empat jam?" Lin Ye membaca sebuah tulisan peringatan berwarna merah yang berkedip-kedip terang di bagian paling bawah layar panel tersebut.
"Peringatan Darurat: Energi kehidupan Pohon Ajaib sangat lemah setelah masuk ke mode tertidur selama lima belas tahun tanpa nutrisi. Pengguna diwajibkan segera melakukan proses penanaman bibit pertama di sekitar area terluar akar pohon dalam batas waktu 24 jam untuk memulihkan sirkulasi energi kehidupan. Jika gagal melakukan penanaman, Pohon Ajaib akan mengering dan mati. Sistem Warisan Alam akan hancur selamanya dan tidak bisa diwariskan lagi."
Lin Ye terdiam kaku di atas tanah. Kepanikan awalnya perlahan mereda, digantikan oleh otak analitisnya sebagai mantan pegawai kantoran yang terbiasa memecahkan masalah dalam kondisi tertekan. Berbagai teori mulai terbentuk di kepalanya. Dia teringat kembali cerita aneh mendiang ayahnya saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Ayahnya pernah bercerita dengan suara berbisik bahwa kakek memiliki rahasia besar di ladangnya. Rahasia itulah yang membuat hasil panen kakek selalu berukuran lebih besar, rasanya jauh lebih enak, dan selalu diburu serta dibeli dengan harga sangat mahal oleh para bos besar dan orang-orang kaya dari ibu kota. Rahasia yang membuat seluruh tetangga, terutama Zhao He, sangat iri dan menginginkan tanah ini dengan segala cara.
"Apakah ini yang dimaksud rahasia kakek selama ini? Sebuah sistem ajaib di dunia nyata, persis seperti alur cerita di dalam novel web fiksi fantasi yang sering kubaca lewat ponsel saat bosan menunggu kereta komuter pulang kerja?" batin Lin Ye, mencoba mencerna realita baru di depannya.
"Misi Pemula Diaktifkan: Buka Jalan Baru Menuju Kejayaan."
"Tugas Utama: Bersihkan tumbuhan liar di lahan seluas dua meter persegi tepat di dekat akar utama pohon dan tanam Bibit Kubis Energi."
"Hadiah Penyelesaian Misi: 10 Koin Alam, 1 Botol Mata Air Murni, dan Pembukaan Fitur Toko Sistem Level 1."
"Apakah Anda ingin menerima Paket Hadiah Bantuan Pemula sekarang?"
Sebuah tombol bercahaya bertuliskan YA dan TIDAK muncul di tengah layar cahaya itu, berkedip pelan menunggu jawaban.
Lin Ye menatap lekat-lekat pohon raksasa di depannya. Daun zamrudnya terlihat sangat indah. Dia mengalihkan pandangannya melihat hamparan ladang luas yang hancur lebur, mengingat wajah sombong dan nada meremehkan dari Zhao He, dan memikirkan rumah reyot bocor yang harus dia jadikan tempat bernaung mulai malam ini. Dia tidak punya banyak uang tersisa di tabungan. Dia tidak punya koneksi kenalan orang hebat di desa ini. Jika benda melayang di depannya ini benar-benar nyata dan bukan halusinasinya, ini adalah satu-satunya jalan keluar baginya untuk bangkit dari keterpurukan.
Lin Ye menarik napas panjang. Dia mengangkat tangan kanannya perlahan, mengarahkan jari telunjuknya yang gemetar ke layar cahaya tembus pandang itu, dan menekan tombol YA dengan mantap.
Ting.
"Paket Hadiah Bantuan Pemula berhasil dibuka."
"Pengguna Memperoleh: 1 buah Cangkul Kayu Besi Hitam (Alat Pertanian Level 1 - Efek Pasif: Meringankan beban kelelahan kerja fisik hingga 50%), dan 5 butir Bibit Kubis Energi Kualitas Rendah."
Sebuah pusaran cahaya hijau kecil tiba-tiba melintas berputar di udara kosong tepat di depan dada Lin Ye. Saat cahaya itu meredup, sebuah cangkul dengan gagang kayu berwarna cokelat yang sangat halus dan mata cangkul terbuat dari besi hitam pekat yang mengkilap jatuh dari udara, mendarat tepat di atas rumput di dekat kakinya. Benda itu disusul oleh jatuhnya sebuah kantong kain kecil berwarna cokelat yang berisi biji-bijian.
Lin Ye menelan ludahnya yang terasa kering. Dia mengulurkan tangan dan meraih gagang cangkul aneh itu. Ajaibnya, beratnya terasa sangat pas dan seimbang di genggamannya. Dan saat telapak tangannya memegang erat gagang kayunya, ada sensasi aliran energi hangat yang menjalar pelan dari cangkul itu, naik menyusuri lengannya, dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Rasa lelah, pegal di punggung akibat duduk berjam-jam di bus, dan rasa gerah yang tadi menyiksanya seketika berkurang drastis seolah dia baru saja selesai mandi air hangat.
"Ini benar-benar gila. Semua ini nyata dan benar-benar gila," gumam Lin Ye berbicara pada dirinya sendiri, tapi sebuah senyum tipis yang penuh antusiasme mulai terbentuk di sudut bibirnya.
Dia memungut kantong bibit kain itu dan menyimpannya ke dalam saku celananya. Lin Ye berdiri tegak, membusungkan dadanya, dan menatap hamparan gulma tebal yang mengepung pohon raksasa tersebut. Kedua tangannya menggenggam gagang cangkul erat-erat.
"Zhao He bilang aku tidak akan bisa bertahan hidup di sini selama tiga hari," ucap Lin Ye dengan nada menantang kepada udara kosong. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan benar-benar menangis memohon saat panen pertamaku tiba."
Srrk.
Lin Ye mengangkat cangkul hitam itu tinggi-tinggi di atas bahunya dan mengayunkannya dengan tenaga penuh. Mata cangkul besi itu membelah tanah keras dan memutus akar rumput liar setebal ibu jari dengan sangat mudah, seringan memotong balok tahu. Kehidupan barunya sebagai petani di desa terpencil resmi dimulai pada detik ini juga.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!