Suara ritmis dari mesin bedside monitor menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi kesunyian ruangan VVIP itu. Darren berdiri tegak di samping ranjang, tangannya bersedekap dengan raut wajah tegang. Bahkan dalam suasana sekelam ini, kemeja putih yang dikenakannya tetap tampak rapi tanpa kerutan sedikit pun, khas seorang pria perfeksionis.
Di atas ranjang, Jonathan Callister tampak begitu lemah. Pria yang selama ini menjadi panutan Darren itu kini terlihat sangat rapuh dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya. Namun, mata tua itu masih menatap Darren dengan tatapan yang sangat penuh harap.
"Darren..." suara Jonathan terdengar parau, hampir menyerupai bisikan.
Darren segera mendekat dan sedikit membungkukkan tubuh tingginya.
"Ya, Grandpa? Aku di sini. Grandpa butuh sesuatu?"
Jonathan menggeleng pelan. Ia meraih punggung tangan Darren dengan sisa tenaga yang ada, menggenggamnya dengan penuh penekanan.
"Menikahlah dengan Daniela. Itu... satu-satunya permintaan terakhir Grandpa."
Darren membeku. Rahangnya mengeras seketika. Nama itu adalah simbol terlarang bagi dirinya dan yang paling ia benci.
"Grandpa, please don't bring that up again! Grandpa tahu sendiri bagaimana Daniela. Dia itu hanya gadis malam. Bagaimana mungkin aku menikahi wanita yang bahkan sudah menjajakan tubuhnya pada setiap lelaki berkantong tebal. Dia bukan wanita yang cocok untuk aku. Lagi pula aku sudah punya Crissie."
Mendengar nama Crissiana disebut, Jonathan justru memejamkan mata sesaat, seolah tidak ingin mendengar nama itu. Pegangannya pada tangan Darren semakin erat, meski jari-jarinya mulai gemetar.
"Bukan wanita itu... harus Daniela. Hanya dia, Reen..." Jonathan terbatuk kecil, membuat grafik di mesin monitor naik-turun tidak beraturan.
"Grandpa tidak bisa pergi dengan tenang sebelum kamu bersedia menjaga dan menikahinya."
"Tapi tidak harus dengan menikahinya, Grandpa! Aku bisa menjamin keuangannya supaya dia tidak menjadi wanita malam lagi," bantah Darren dengan nada tertahan. Kepalanya berdenyut membayangkan hidupnya yang sempurna harus hancur karena gadis liar seperti Daniela.
Jonathan tidak menjawab lagi. Beliau justru mulai tersengal-sengal, menatap Darren dengan pandangan memohon yang begitu dalam. Sebuah tatapan yang membuat pertahanan Darren akhirnya harus runtuh.
"Berjanji pada Grandpa, Darren... menikahlah dengan Daniela, bukan wanita yang kamu pacari itu..." Suara itu semakin menipis, nyaris hilang.
Darren panik saat melihat detak jantung di monitor semakin melemah. Di detik-detik kritis itu dan rasa baktinya pun telah mengalahkan egonya.
"I-iya, Grandpa. Aku janji. Aku akan menikahi Daniela," ucapnya cepat, lebih karena ingin menenangkan sang Grandpa.
Mendengar ucapan itu, sebuah senyum tipis terukir di bibir pucat Jonathan. Napasnya yang sempat memburu perlahan mulai melambat, semakin tenang... hingga akhirnya berhenti sepenuhnya bersamaan dengan bunyi panjang dari mesin monitor.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.
Darren mematung. Genggaman tangan itu kini mulai mendingin. Dan ia baru saja menggadaikan hidupnya yang sempurna demi sebuah permintaan terakhir yang akan membawanya ke dalam kekacauan bernama Daniela.
***
Langit mendung seolah ikut berduka di hari pemakaman Jonathan Callister. Darren berdiri kaku di depan pusara sang kakek yang masih basah, mengenakan setelan hitam yang sangat pas di tubuhnya. Rapi dan tetap elegan. Di sampingnya, Crissiana berdiri anggun dalam balutan dress hitam formal.
Para pelayat terus berdatangan, dari kerabat sampai relasi bisnis almarhum. Seorang pemuka agama baru saja selesai melafazkan doa-doa sebagai pengantar jenazah menuju alam keabadian, menghadap Sang Pencipta.
Di tengah kekhusyukan doa, Daniela Arden Atmaja muncul dengan mengenakan dress hitam yang menonjolkan lekuk tubuh seksinya. Dipadukan kacamata hitam besar dan rambut tergerai sedikit acak-acakan tertiup angin. Kecantikan wanita itu memang luar biasa, sanggup mengalihkan perhatian hampir seluruh pelayat dalam sekejap.
Di belakang Daniela, seorang pria muda dengan gaya santai mengikutinya. Darren mengepalkan tangan di samping tubuhnya.
"Berani-beraninya dia datang ke pemakaman Kakek dengan gaya seperti itu? Dan siapa pria itu?" batin Darren geram.
Langkah Daniela berhenti tepat di hadapan Darren.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya Grandpa Jo," ucapnya cukup sopan.
Darren menatapnya dengan pandangan dingin dan sinis.
"Terima kasih."
Daniela mengangguk, lalu melangkah menuju anak-anak dan cucu-cucu almarhum yang lainnya untuk sekadar mengucap salam dan belasungkawa. Setelah itu, barulah ia mendekat ke arah pusara dan berdoa dalam hati.
Sementara itu, Darren tetap berdiri kaku. Di matanya, kecantikan dan keseksian Daniela tidak mengubah fakta bahwa wanita itu adalah kekacauan yang tidak ia inginkan.
Tak berapa lama setelah upacara sakral itu selesai, para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman, termasuk Daniela dan teman prianya.
Sambil menggenggam tangan Crissiana, Darren pun melangkah di antara para pelayat. Dalam hati, Darren terus mengikrarkan kalau Crissiana-lah satu-satunya wanita yang pantas menjadi pasangannya. Tak ada yang lain, terlebih Daniela Arden!
Crissiana adalah sosok yang sangat sesuai dengan standar Darren. Seorang pramugari maskapai penerbangan internasional di Singapura yang elegan, berkelas, dan selalu tahu cara membawa diri. Sementara Daniela, tak lebih dari wanita malam, suka hura-hura, dan segala keburukan lainnya yang membuat Darren bergidik ngeri.
***
Beberapa minggu setelah meninggalnya Jonathan Callister, Darren tidak pernah benar-benar tenang. Permintaan terakhir sang kakek terus menghantui pikirannya. Meski merasa muak, rasa bakti yang besar memaksa Darren melangkah menuju kontrakan Daniela.
Sebenarnya gadis itu masih memiliki beberapa keluarga yang kaya raya, yaitu om-om dan tante-tantenya. Tapi ia tak pernah benar-benar merasakan kasih sayang mereka. Apalagi sejak kedua orang tuanya meninggal saat ia masih kecil dan disusul kakeknya yang meninggal saat ia memasuki usia dewasa. Makanya Daniela lebih memilih untuk hidup sendiri daripada harus menumpang pada mereka dengan menelan segala caci maki dan hinaan.
Mobil mewah Darren berhenti tepat di depan gerbang sebuah kos-kosan khusus wanita. Suasana kos-kosan itu cukup tenang dan teratur jika dibandingkan dengan kos-kosan pada umumnya yang selalu ramai dan berantakan.
Darren kini sudah berada di ruangan khusus tempat menerima tamu. Karena memang tamu laki-laki dilarang masuk kamar. Menurutnya sedikit tidak masuk akal mengingat pekerjaan Daniela sebagai wanita malam. Seharusnya kan dia lebih memilih kosan yang bebas tanpa aturan. Tapi entahlah, sepertinya Daniela hanya ingin menjaga citranya supaya terlihat lebih terhormat, mungkin. Pikir lelaki itu.
Darren duduk dengan tegak serta menunjukkan raut wajah sedingin es. Tak berapa lama, Daniela muncul memakai pakaian santai berupa tank top putih dan celana pendek. Penampilan itu membuat Darren semakin mempersempit tatapannya.
"Tumben sekali seorang Darren Arkhanio Callister mau menginjakkan kaki di sini. Ada apa?" sindir Daniela sambil menyandarkan tubuh di sofa dengan santai.
Darren menatap Daniela dingin, seolah yang ada di hadapannya bukan seorang gadis penuh pesona.
"Aku ke sini bukan tanpa tujuan," ucap Darren memulai bicaranya.
"Grandpa memberikan satu permintaan terakhir sebelum beliau wafat. Sayangnya, permintaan itu melibatkanmu."
Daniela tersenyum tipis. Ia tidak tampak terkejut dan tetap berusaha tenang.
"Apa itu?" tanyanya pura-pura tidak tahu. Padahal ia sudah mengetahui tujuan Darren ke sini. Karena Jonathan pun sudah meminta Daniela untuk menikah dengan cucunya itu dan meninggalkan dunia malam.
Darren menarik napas pendek. Ia merasa kata-kata yang akan diucapkan adalah racun.
"Beliau memintaku untuk menikahimu."
Hening sejenak. Daniela masih terlihat santai. Namun kemudian terdengar tawa renyah dari mulutnya sampai mengeluarkan air mata. Tentu saja Darren tidak membiarkan tawa gadis itu terus menggema.
"Jangan salah paham," sela Darren cepat melalui nada bicara penuh penekanan.
"Secara pribadi, aku sangat keberatan menikah karena paksaan, apalagi denganmu!" katanya tegas tanpa ditutup-tutupi.
"Tapi demi memenuhi amanat terakhir beliau, aku TERPAKSA harus melamar kamu untuk menjadi istriku." Lanjutnya sambil menyebut kata TERPAKSA dengan penuh tekanan.
Setelah berkata begitu, Darren berdiri sambil memperbaiki letak jasnya. Ia masih menatap Daniela melalui sorot dinginnya.
"Pikirkan itu. Aku tidak butuh jawaban penuh drama. Aku hanya menjalankan amanat," ucap Darren dingin.
"Jika kamu setuju, kita akan segera menikah di catatan sipil tanpa rame-rame dan secara rahasia!" lanjutnya. Kemudian berbalik pergi tanpa menunggu respons dari Daniela.
Suara deru mesin mobil Darren perlahan menghilang, meninggalkan Daniela yang masih duduk di sofa dengan bertumpang kaki. Tawa renyah yang sempat meledak tadi kini lenyap tanpa bekas.
Dia teringat, semasa hidupnya Grandpa Jo sudah sering memintanya untuk mau menikah dengan Darren.
"Menikahlah dengan cucu Grandpa, Nak. Kamu akan aman bersamanya," pinta Jonathan suatu hari saat mereka tengah berziarah ke makam Surya Atmaja, kakek Daniela sekaligus sahabat Jonathan.
"Tapi Grandpa, aku dan Darren itu sangat berbeda. Bagaimana mungkin dia mau menikah sama aku?"
Daniela terkekeh membayangkan bagaimana reaksi naik pitamnya Darren saat melihat ia pulang pagi habis dari club.
"Grandpa tahu siapa kamu, Nak. Kamu tidak seperti yang orang-orang kasak-kusukkan. Kamu tetap menjaga martabatmu sebagai perempuan. Grandpa juga tahu, itu hanya pekerjaan bagimu, meski Grandpa sudah berulang kali memintamu berhenti menjadi Disc jockey di klub malam. Kamu juga selalu menolak bantuan Grandpa." Lelaki paruh baya itu menatap Daniela dengan lekat.
Jujur, Daniela terkejut Jonathan mengetahui pekerjaan yang sebenarnya. Tapi kemudian raut wajahnya kembali normal. Dia cukup paham siapa Jonathan.
"Kalau begitu Grandpa tak usah khawatir, Grandpa tahu aku bisa jaga diri."
"Ada hal yang tak kamu mengerti, Nak. Tak semua orang di dunia ini berhati tulus. Grandpa tetap khawatir jika suatu saat tak bisa lagi mengawasi kamu. Grandpa sudah tua dan sakit-sakitan. Cuma Darren yang Grandpa percayai bisa menjagamu."
Tapi ia tetap menolak permintaan sahabat dari kakeknya itu. Baginya Darren bukan tipe orang yang mau mengerti keadaannya. Bahkan tuduhan keji demi tuduhan keji ia terima dari laki-laki itu tanpa ada kebenarannya sama sekali. Tapi Daniela tak pernah mengklarifikasi. Dia tetap cuek, toh lelaki itu bukan siapa-siapanya!
Tapi sekarang... Takdir mengharuskannya menikahi lelaki itu.
Dan Darren benar-benar datang menemuinya dan mengungkapkan semuanya.
"Grandpa Jo benar-benar membuktikan ucapannya. Apa aku harus menerima tawaran Darren? Lalu bagaimana dengan pacarnya, Crissiana? Dan apa yang dia maksud tak akan saling merugikan?"
Pikiran Daniela terus berkecamuk. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa sambil menatap langit-langit ruang tamu. Lalu menarik napas dalam.
"Menikah karena wasiat? Kayak judul sinetron." gumam Daniela sambil tersenyum miris pada dirinya sendiri.
"Andai saja Kakek Surya dan Grandpa Jo tidak bersahabat, ini tak akan mungkin terjadi."
Daniela kembali mengembuskan napas, lalu berdiri dan meraih ponselnya. Ia menelepon teman prianya untuk meminta izin nanti malam dia tak masuk kerja karena ada kepentingan mendesak..
***
Keesokan harinya Daniela seperti biasa pergi ke kampusnya. Meski di tengah keprihatinan dia tak pernah mengesampingkan pendidikan. Baginya ilmu yang sedang ia tekuni yaitu, Desain Interior, adalah harta untuk masa depannya.
"Dani..." Sebuah suara cempreng memanggilnya.
Gadis itu menoleh. Haruni sahabatnya berlari kecil menghampiri.
"Lo ada kelas pagi?"
Daniela mengangguk. Di dekapannya ada beberapa buku paket.
"Iya Run, tapi gue abis ini ada yang harus diurus. Lo free nggak?"
"Kenapa emang? Mau minta anter ya?"
Daniela cuma terkekeh, melihat bibir sahabatnya mencebik. Mereka memang bersahabat meski tidak satu jurusan. Daniela di jurusan Desain Interior, sementara Haruni di jurusan Manajemen.
"Ada yang harus gue urus, Run."
"Urusan apa sih?"
"Kayaknya gue... gue mau married."
"Apa?!" pekik Haruni kaget dan langsung mulutnya dibungkam Daniela.
"Pelan-pelan dodol! Lo mau bikin pengumuman?" semprot Daniela sambil melotot.
"Sorry..." cengir Haruni.
"Oke, gue free. Gue siap anterin kemana pun lo mau," lanjutnya dengan wajah yang lebih serius.
"Oke, thanks ya, gue ke kelas dulu."
Dan beberapa jam kemudian, tepat jam makan siang, mereka sudah berada di mobil Haruni.
"Kemana kita?" tanya sahabatnya itu yang sudah bersiap menyalakan mesin mobil.
"Wait a minute, gue telpon dulu orangnya."
Daniela pun mengeluarkan ponsel dan mengutak-atik sebentar, mencari nama 'si perfeksionis' di daftar teleponnya. Lalu mengkliknya.
Beberapa saat menunggu akhirnya telepon pun mendapat jawaban.
"Halo, ada apa?"
Terdengar suara tegas dan dingin di telinga Daniela.
"Aku mau bicara penting, sekarang juga di Everlasting Cafe!"
Setelah itu dia langsung menutup teleponnya sepihak. Kalau Darren bisa tak menghargainya, maka Daniela pun, bisa!
"Jadi ke EC sekarang?"
Daniela mengangguk.
"Oke."
Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di tempat tujuan. Kehadiran Daniela dan Haruni, tentu saja mendapat perhatian lebih dari pengunjung Everlasting Cafe lainnya. Selain karena kecantikan mereka, tentu saja ditunjang penampilan modis dan eye catching yang membuat mata para lelaki fresh seperti habis dikompres pakai boorwater.
"Kita duduk di sana." Tunjuk Daniela ke meja yang ada di sudut. Cafe memang cukup ramai, mungkin karena sudah saatnya jam makan siang.
Tapi Daniela tak menyadari kalau Darren sudah ada di situ. Ia hanya menatap sinis saat Daniela masuk dan menjadi pusat perhatian.
Baru saja bokongnya menempel di kursi, ponselnya bergetar. Saat dilihat ternyata dari Darren. Daniela pun langsung mengangkatnya.
"Aku ada di jajaran meja kamu, pojok sebelah kanan," katanya. Daniela menolehkan wajahnya ke sebelah kanan. Benar saja, lelaki itu sudah duduk di sana dengan gaya khas seorang eksekutif, sempurna tanpa cacat.
"Run, gue ke sana dulu ya. Si tuan sempurna gak bakalan mau nyamperin ke sini," kata Daniela sambil menunjuk dengan dagunya.
"Oke."
"Kamu pesan aja duluan," lanjutnya sambil berlalu untuk menghampiri Darren.
Setelah tiba di meja pria itu, tanpa dipersilakan Daniela langsung menarik kursi dan duduk di hadapannya.
"Mau bicara apa?" tanya Darren tanpa basa-basi. Daniela tak langsung menjawab. Dengan santai kaki jenjangnya yang terekspos saling bertumpang. Sementara matanya melirik makanan di meja. Ternyata Darren sudah memesan beberapa makanan. Salah satunya french fries kesukaannya dan salah satu best seller di cafe ini. Karena rasanya yang gurih ditambah saus kejunya yang lezat.
Refleks Daniela mencomot satu potongan kentang itu lalu dicoelkan ke saus kejunya. Hup, langsung masuk mulutnya.
Darren hanya bisa melotot dan melongo melihat tingkah gadis itu yang menurutnya bad attitude. Daniela baru tersadar dengan apa yang dilakukannya. Tapi karena merasa kepalang tanggung akhirnya dia pun berlagak cuek.
"Minta satu doang, pelit banget!" cibirnya, sekaligus untuk sekedar menepis rasa grogi diperhatikan seperti itu.
"Cepat katakan, mau bicara apa?"
Darren tak menggubris.
"Kapan jadinya kita menikah?" tanya Daniela. Ia kembali mencomot kentang goreng. Kepalang tanggung, hehehe...
Laki-laki itu terdiam sesaat.
"Pernikahan kita hanya di catatan si..."
"Sipil tanpa pesta, tanpa diketahui oleh siapapun! Memang itu mauku," sambar Daniela cepat.
"Tapi ada beberapa yang harus kamu patuhi."
"Apa?"
"Kamu tidak boleh lagi keluar malam, tidak boleh mencampuri urusanku, terutama saat aku sedang bersama kekasihku. Dan kita tak akan pernah melakukan hubungan suami istri. Camkan itu! Kita pun akan pisah kamar. Tapi aku akan tetap membiayai seluruh hidupmu." Ucap Darren. Cepat, tegas dan mutlak!
"Yeay, emang itu yang kumau! Meski banyak banget aturannya, tapi it's okay, lumayan dapet donatur. Hehehe..." kekeh gadis itu.
"Nanti semua aturan itu akan tertuang dalam sebuah surat perjanjian." Kata laki-laki itu mempertegas.
Mata Daniela membulat sambil bibirnya membentuk bulatan kecil.
"Kenapa kita nggak pisah rumah aja?"
"Tidak bisa! Kamu harus tetap berada di bawah pengawasanku. Karena itu pokok utama wasiat Grandpa."
Akhirnya gadis itu mengedikkan bahu.
"Baiklah," katanya. Dan kembali mencomot potongan kentang itu.
"Besok akan ada orang ke kosan kamu untuk mengambil kelengkapan data pribadimu. Setelah semua beres, kita langsung menikah. Dan sekarang, silakan pergi dari mejaku, aku tak ingin ada yang tahu kita saling mengenal!"
Daniela mendelik kesal mendapat pengusiran secara tidak halus itu. Dia pun berdiri sambil menggerutu.
"Siapa juga yang mau duduk lama-lama sama beruang kutub!"
Daniela bersiap pergi tapi suara Darren menghentikannya.
"Tunggu, bawa saja kentang goreng itu!"
Tanpa menjawab Daniela langsung mengambil makanan itu dan segera pergi dengan gerutuan panjang kali lebar.
"Dasar cowok sinting, dia juga sama aja gak punya attitude!"
"Oke Daniela yang cantik like a Goddess, lo utang penjelasan sama gue!"
Todong Haruni saat Daniela baru saja kembali ke kursinya.
"Gak usah nanyain itu dulu, lo gak lihat tuh matanya natap ke sini ampe mo loncat gitu?" cibir Daniela sambil mendelik ke arah Darren. Meledaklah tawa Haruni sampai memegangi perutnya.
"Tapi suer takewer-kewer Dan, dia itu ganteng banget! Kalah tuh si Gavien, most wanted kampus kita."
"Cih, ngapain ganteng kalau gak bisa menghargai orang."
"Nah lo, ngapain mau-mauan kewong ma dia?"
Daniela tak langsung menjawab, raut wajahnya berubah sendu.
"Gue terpaksa, Run. Ini amanat terakhir dari almarhum kakeknya dia yang juga sahabat kakek gue."
Daniela melirik lagi ke arah Darren. Terlihat laki-laki itu sedang mengobrol melalui telepon. Dia sempat takjub saat melihat pria itu tersenyum. Satu hal yang tak pernah ia lihat selama mengenalnya. Beberapa saat ia terhipnotis dengan senyum menawan itu.
"Woyyy, malah bengong."
Haruni mengikuti arah mata Daniela. Langsung mengembangkan cuping hidungnya.
"Bilang aja lo terpesona kan sama dia, kaaannn? Ngaku, lo!"
"Ya enggaklah! Kalau lo tau dia itu kayak apa, jangankan kawin sama dia, kenal juga ogah gue."
"Yang bener..."
Haruni masih menggoda. Tapi Daniela menepis-nepiskan tangannya.
"Udah ah, balik yok!"
Haruni mengangguk. Dia tahu Daniela tidak bohong. Malahan muncul rasa iba di hatinya.
Keduanya pun akhirnya pergi dari situ tanpa menoleh lagi pada Darren.
***
"Daniela, lo semalam nggak ke klub ya? Padahal gue udah niat mau booking lo."
Bagas yang terkenal tengil dan sok ganteng cengangas-cengenges sambil menghalangi langkah Daniela yang akan menuju kelasnya. Perut Daniela sampai mual melihat lagaknya yang petantang-petenteng. Apalagi mimik wajahnya itu, bikin darah langsung naik ke kepala.
"Minggir, gue mau lewat!" Desis Daniela ketus dan dingin.
Bagas menoleh pada teman-temannya lalu tertawa meremehkan.
"Halah sok suci lo! Mentang-mentang habis dapat booking-an dari om-om tajir. Jangan-jangan semalam lo gak kerja karena ada job sampingan kan? Hahaha..."
"Tutup mulut busuk lo! Lagian gue mau ngapain juga ya terserah gue, emang ngerugiin lo?"
Bagas mendekat beberapa langkah, lalu mengelilingi Daniela dengan tatapan yang masih merendahkan. Lalu berhenti di sampingnya dan mendekatkan mulutnya ke telinga Daniela.
"Nggak ngerugiin gue, tapi mencoreng nama baik kampus ini!"
"Hahaha..."
Tawa Daniela meledak lalu tatapannya jatuh di wajah menjijikkan itu.
"Perlu gue beliin kaca?! Gue di kampus ini benar-benar untuk menuntut ilmu. Bahkan lo juga tau kalau gue mahasiswi berprestasi. Nah, lo sendiri? Cuma berandalan tengil, tanpa prestasi dan bisanya cuma ngabisin duit orang tua. Menggelikan!"
Daniela berdecih sinis.
Wajah Bagas langsung merah padam mendengar kata-kata frontal gadis itu. Tangannya sudah terangkat dan sepersekian detik lagi siap mendarat di pipi mulus Daniela. Tapi ada tangan lain yang menahannya.
Bagas menoleh pada si pemilik tangan itu.
Gavien!
Wajahnya semakin menggelap, lalu menepis kasar tangan pria itu yang masih menahan pergelangan tangannya.
"Nggak usah ikut campur! Urusin tuh cewek-cewek lo!" ucapnya beringas. Tapi Gavien tak menanggapinya.
"Daniela, mau ke kelas kan? Ayok bareng!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya, meraih tangan Daniela. Meski bagas mencoba menghalangi, tapi saat Gavien menegakkan kepala dan memberikan tatapan tajam pada lelaki tengil itu, perlahan Bagas menolehkan wajahnya ke arah lain. Lalu mengajak teman-temannya pergi dari situ.
Sementara Daniela dan Gavien melangkah beriringan menuju kelas gadis itu. Setelah agak jauh dan sosok Bagas tak terlihat lagi, Daniela segera melepaskan genggaman tangan Gavien.
"Kenapa?"
"Gak apa-apa. Gak enak aja dilihatin orang-orang."
Gavien mengembuskan napasnya.
"Coba saja kalau kamu mau jadi pacarku," gumam laki-laki itu sangat pelan. Tapi Daniela masih bisa mendengarnya.
"Gue takut dikeroyok sama fans garis keras lo!" kelakar gadis itu sambil terkekeh, lalu berhenti di depan kelasnya.
"Thanks ya Vien, gue masuk dulu."
"Mmm, Daniela..."
Gadis itu menghentikan langkahnya dan kembali menoleh.
"Yup?"
"Kelar jam berapa? Pulang bareng ya?"
"Cuma dua mata kuliah, tapi sorry banget, gue lagi ada kepentingan. Lain kali ya?" jawabnya dengan mimik menyesal. Akhirnya pria itu hanya bisa mengangguk lesu lalu berpamitan ke kelasnya di jurusan Arsitektur.
Daniela menatap punggung lebar itu menjauh. Dia tau, dari awal masuk kuliah, Gavien sudah menunjukkan ketertarikan padanya. Tapi Daniela sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih fokus pada kuliahnya sampai ia berhasil. Meski sekarang terpaksa harus menikah dengan Darren. Tapi ini kan nggak akan melibatkan hati.
***
Hari yang TIDAK ditunggu Daniela pun tiba. Ini adalah hari yang akan membuat perubahan di hidupnya. Ya, ini adalah hari pernikahannya dengan Darren.
"Dan, gue rias dikiiittt aja ya, wajah lo? Lo kan mau married, masa tampil polos gitu," rayu Haruni sambil memegangi alat riasnya.
"Nggak Run, gue kan cuma nikah di catatan sipil aja. Cuma tanda tangan, tanda tangan doang. Abis itu balik."
Daniela sibuk menepis-nepiskan tangan Haruni yang coba memulaskan ini itu ke wajahnya.
"Diem Kudanil! Biar si Darren itu klepek-klepek liat pesona lo."
Haruni tetap memaksa. Akhirnya Daniela mengalah. Tapi dia tetap protes kalau riasannya itu dirasa berlebihan.
Setengah jam kemudian, mereka sudah selesai dan siap berangkat ke catatan sipil dimana Darren sudah menunggunya.
"Lo yakin gak mau pake kebaya?"
Haruni menyorot penampilan Daniela yang hanya mengenakan kemeja putih dan celana kain warna hijau emerald. Tapi tetap terlihat mempesona.
"Nggak, ngapain? Udah ah, ayo berangkat!"
Sepanjang perjalanan, Daniela lebih banyak menatap ke luar jendela dengan wajah datar. Alih-alih cemas, ia justru merasa bosan dan ingin momen ini segera berlalu. Baginya, hari ini tak lebih dari sekadar urusan administrasi yang harus ia selesaikan agar janji pada 'leluhur' terpenuhi.
Ketika mobil Haruni sampai di halaman kantor Catatan Sipil, suasana tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Darren di area parkir maupun pintu masuk.
"Kok dia nggak ada? Apa dia telat?" tanya Haruni sambil mematikan mesin mobil.
"Mana mungkin orang kayak dia telat. Paling udah di dalam, duduk manis sambil nunggu berkas siap," sahut Daniela santai. Ia meraih tasnya lalu keluar dari mobil tanpa keraguan.
Begitu melangkah masuk ke dalam gedung, Daniela langsung menangkap sosok Darren yang duduk tegap di salah satu kursi tunggu di depan ruang administrasi. Pria itu tampak sibuk dengan ponselnya, tidak menoleh sedikit pun meski Daniela sudah berada di dekatnya.
"Aku sampai," ucap Daniela singkat saat sudah berdiri di depan Darren.
Darren mendongak, menatap Daniela dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai.
"Duduk. Sebentar lagi nama kita dipanggil," jawabnya dingin, lalu kembali fokus pada ponselnya.
Daniela hanya mengangkat bahu, lalu duduk di kursi sebelah Darren dengan jarak yang cukup lebar.
Tidak butuh waktu lama sampai seorang petugas memanggil nama mereka. Daniela dan Darren bangkit bersamaan, lalu berjalan menuju meja besar yang penuh dengan tumpukan dokumen dan map berisi akta perkawinan.
"Silakan duduk. Bapak Darren Arkhanio Callister, Ibu Daniela Arden Atmaja?" Tanya petugas itu dengan nada formal. Keduanya pun mengangguk.
Di depan mereka, dua saksi yang dibawa Darren sudah berdiri. Petugas mulai mengecek data dengan membacakan nama lengkap, tempat tanggal lahir, serta nama orang tua kedua mempelai berdasarkan berkas yang ada. Daniela hanya mengangguk singkat setiap kali ditanya untuk memastikan data tersebut benar.
"Jika semua sudah sesuai, silakan tanda tangan di sebelah sini. Dimulai dari mempelai pria, lalu mempelai wanita," instruksi petugas sambil menyodorkan map tersebut.
Darren merogoh pena perak dari saku kemejanya, langsung menandatangani kertas itu. Lalu disusul Daniela yang juga membubuhkan tanda tangannya dengan cepat.
Setelah kedua saksi ikut menandatangani berkas, petugas mengambil stempel dan menekannya di bagian tertentu.
"Selamat, sekarang kalian sudah sah secara hukum sebagai suami istri. Ini akta aslinya, silakan disimpan," ujar petugas sambil menyerahkan dokumen tersebut.
Petugas itu kemudian berdehem kecil, melirik ke arah tangan mereka yang masih polos. "Apa ada cincin yang mau dipasangkan?"
Darren terdiam sejenak, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Ia membuka kotak itu dan memperlihatkan dua cincin emas putih yang simpel. Lalu meraih tangan kanan Daniela dan menyematkan cincin tersebut ke jari manisnya. Ternyata ukurannya pas, padahal jarinya sama sekali belum diukur sebelumnya.
Sesaat Daniela menatap cincin yang sekarang melingkar di jarinya. Ia pun meraih cincin satunya dan melakukan hal yang sama ke jari manis Darren, tanpa menunggu laki-laki itu memintanya.
setelah iru, tidak ada tatapan penuh cinta apalagi ciuman romantis.
"Sudah. Ayo pergi. Saya ada rapat satu jam lagi," kata Darren datar. Dia langsung berdiri dan merapikan jasnya.
Daniela hanya mendengus kecil. Ia pun segera memasukkan akta miliknya ke dalam tas.
"Kamu pergi aja duluan, aku juga mau balik ke kampus. Urusan di sini sudah beres, kan?"
Daren terdiam sejenak, lalu menatap Daniela.
"Kamu sudah membereskan barang-barangmu di kosan kan? Nanti sore orangku akan menjemput kamu." Katanya. Setelah itu pergi tanpa menoleh. Membuat Daniela melongo.
"Dih, dasar nggak jelas!"
Gerutu gadis itu, lalu melepas cincin yang tadi baru disematkan dan dimasukkan ke dalam tasnya. Setelah itu iapun ke luar menuju mobil Haruni di parkir.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!