"Huhu... Huhu.."
Suara Isak tangis seorang wanita samar-samar terdengar di telinga Zhang Tiangxia.
"Anakku, anakku kenapa kamu berakhir seperti ini?" Sebuah tangan halus namun sedikit kasar mencengkram kuat tepi tempat tidur. Ini adalah Su Wanyue, ibu dari Zhang Tiangxia.
Melihat anaknya yang terbaring di atas tempat tidur dengan luka memenuhi sekujur tubuhnya, ia tak kuasa menahan tangis. Hatinya terasa sakit seperti teriris pisau, selain itu juga ada kemarahan dan rasa tidak rela.
Anak laki-lakinya yang sebelumnya di anggap jenius harus berakhir menyedihkan seperti ini, nantinya dia bukan hanya akan di anggap sampah, tapi kemungkinan akan menjadi orang cacat selamanya.
"Sudahlah, kamu sudah menangis selama tiga hari, bagaimana Zhang kecil bisa istirahat dengan tenang jika kamu terus menangis seperti ini." Di samping wanita itu, seorang pria berusia 40 tahun dengan raut wajah pucat dan rambut putih menegur wanita tersebut.
Hati lelaki itu juga terasa berat, ada ketidakberdayaan di wajahnya, namun dia sadar bahwa tidak ada yang bisa dia lakukan.
"Tapi.. Aku.." Wanita itu masih ingin membantah, namun dia segera di sela kembali..
"Sudahlah, mari kita kembali. Biarkan Zhang kecil beristirahat dulu." Zhang Zhenfeng, Ayah Zhang Tiangxia menarik istrinya lalu beranjak keluar dari kamar.
Meskipun sedikit tidak rela, Su Wanyue tetap dengan patuh mengikuti suaminya keluar dari kamar tersebut.
. . .
Klik..
Saat suara pintu di tutup terdengar, Zhang Tiangxia membuka matanya..
Sebenarnya dari awal dia sudah sadar, namun karena dia terus mendengar suara wanita terus menangis, dia memutuskan untuk tetap berpura-pura belum sadar.
Bagaimana pun dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia juga merasa aneh, karena seingatnya, dia sebelumnya sudah mati setelah terkena sambaran petir malapetaka langit saat akan menerobos alam penghancur fana.
Tapi sekarang tiba-tiba terlahir kembali ke tubuh seorang pemuda berusia 7 tahun yang juga bernama Zhang Tiangxia.
Setelah menyadari beberapa hal, Zhang Tiangxia menatap ke arah langit sambil tersenyum, "Sepertinya langit masih berbelas kasih padaku dengan memberikan kehidupan kedua."
Samar-samar, dia mendapatkan kenangan dari pemilik tubuh ini..
Pemilik tubuh ini bernama Zhang Tiangxia, ayahnya bernama Zhang Zhenfeng. Dulu dia anggap sebagai jenius di keluarga Zhang, tapi terkena racun yang tidak bisa di sembuhkan, kultivasinya merosot dan di anggap sampah keluarga sendiri.
Ibunya bernama Su Wanyue, wanita berusia 30 tahun.
Juga adik perempuan bernama Zhang Yuer yang berusia 6 tahun.
Di usia 7 tahun pemilik tubuh ini sudah bisa membangkitkan jiwa beladiri tingkat delapan yang langka, hal ini membuat beberapa orang merasa iri.
Saat itu dia berlatih di hutan gunung Tuanling seorang diri. Namun tiba-tiba banyak gelombang monster yang berkeliaran di sekitar hutan tempatnya berlatih.
Zhang Tiangxia hendak berlari menyelamatkan diri namun dia di hadang oleh dua orang pria bertopeng yang langsung menyerangnya tepat di tulang belakang, langsung menghancurkan jiwa beladiri nya.
Tidak ada satupun orang keluarga Zhang yang mengetahuinya, semua orang berfikir ini ulah serangan monster.
Seluruh desa Cansu mengetahui bahwa Gunung Tuanling di penuhi dengan monster, jadi serangan monster di anggap hal wajar.
Namun Zhang Tiangxia tau siapa mereka, karena sebelum dia meninggal, dia mendengar suara yang familiar. Itu adalah suara Sepupunya bernama Zhang Ziyi dan ayahnya Zhang Wugao.
"Pemilik tubuh ini begitu menyedihkan," Zhang Tiangxia menghela nafas, dia merasa cukup prihatin padanya.
Karena terlalu berbakat itu justru mengundang kebencian dari keluarga sendiri.
"Beristirahatlah dengan tenang di surga," Zhang Tiangxia berkata sambil menatap ke atas, "Aku pasti akan membalas dendam pada orang yang bernama Zhang Ziyi dan ayahnya itu." Mata Zhang Tiangxia menjadi dingin, "Aku akan membuat mereka menyesal pernah hidup di dunia ini."
Zhang Tiangxia mencoba bangkit dari tempat tidur, namun yang dia rasakan adalah rasa sakit yang membuat dagingnya seolah akan terkoyak.
"Umm!"
Zhang Tiangxia memeriksa tubuhnya yang di penuhi dengan luka. Yang paling menyakitkan adalah tulang belakangnya patah, ini membuatnya tidak bisa berjalan lagi, bahkan duduk pun mustahil.
"Sial, apakah aku akan hidup menjadi cacat seumur hidup?" Zhang Tiangxia mengumpat, "Jika seperti ini, lebih baik aku mati saja agar bisa bereinkarnasi lebih cepat."
"Ehh, tunggu." Zhang Tiangxia seolah merasakan sesuatu. Dia samar-samar bisa merasakan fluktuasi Qi langit dan bumi.
Tanpa banyak berfikir, Zhang Tiangxia mulai menjalankan teknik Taixu yang dia latih di kehidupan sebelumnya. Dan hal yang luar biasa terjadi, Qi langit dan bumi masuk ke tubuhnya tanpa hambatan atau kebocoran.
Ini menandakan satu hal, dia bisa berlatih kembali.
Lalu dia mulai mengeluarkan jiwa beladirinya untuk membuktikan dugaannya.
Sesaat kemudian, seekor makhluk hitam dengan tinggi seukuran tiga meter perlahan-lahan muncul di atas kepalanya.
Bukan hanya itu, makhluk ini juga memiliki mahluk lain yang seperti ular yang berwarna perak gelap melilit tubuhnya dari lengan hingga ke belakang punggung, namun jika di amati dengan teliti, ada sedikit benjolan di atas kepalanya.
"Jiwa beladiri apa ini?" Zhang Tiangxia menatap makhluk di atas kepalanya dengan kebingungan.
Di kehidupannya di bumi sebelumnya, teknik beladiri juga mirip seperti di tempat ini, setiap orang membangkitkan jiwa beladiri di usia 7 tahun. Di kehidupan sebelumnya dia memiliki jiwa beladiri kelas sembilan naga bumi cakar empat sementara pemilik tubuh sebelumnya memiliki jiwa beladiri Harimau emas bermata tiga kelas delapan.
Jelas, beladiri kali ini bukan jiwa beladiri di antara keduanya.
Setelah lama berfikir, samar-samar dia mengingat satu adegan saat jiwanya berada dalam sebuah pusaran sebelum di hancurkan oleh petir malapetaka langit.
Saat itu dia melihat bayangan hitam setinggi tiga meter dan hewan kecil seperti ular yang melingkari tubuhnya. bayangan itu tidak jelas apa bentuknya, namun bersamaan jiwanya di tarik kembali, bayangan itu langsung meresap dalam tubuhnya.
"Ini.. Apakah ini sosok di tempat itu?" Zhang Tiangxia terperanjat kaget.. "Bagaimana bisa makhluk yang aku lihat sebelumnya justru menjadi jiwa beladiri ku?"
Tapi keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat sebelum akhirnya Zhang Tiangxia kembali tenang. "Tidak perduli apapun jiwa beladiri ini, yang jelas aku masih bisa menapaki jalan beladiri. Dan dari perasaan yang di berikan, jiwa beladiri milikku sepertinya bukan jiwa beladiri biasa."
Setelah menenangkan diri, dia kembali fokus lalu mulai menatap ke arah selatan keluarga Zhang. "Zhang Ziyi, kau dan ayahmu tunggu saja."
Zhang Tiangxia menutup mata lalu lanjut menjalankan teknik Taixu yang dia latih di kehidupan sebelumnya. Teknik ini adalah teknik tingkat tinggi yang melawan langit, juga termasuk teknik kelas atas di kehidupannya sebelumnya.
Adapun teknik di keluarga Zhang semuanya jauh lebih rendah, oleh sebab itu Zhang Tiangxia memilih melatih teknik miliknya sebelumnya daripada melatih teknik milik keluarga Zhang.
Beberapa waktu kemudian, aliran udara yang kaya akan Qi langit dan bumi berbondong-bondong masuk dalam tubuhnya.
Saat merasakan Qi langit dan bumi yang masuk ke tubuhnya, Zhang Tiangxia seperti tanaman kering yang kembali merasakan hujan. Dia menyerap energi Qi dengan gila-gilaan.
Tiga jam kemudian terdengar suara pecahan dari dalam tubuh Zhang Tiangxia.
klik..
"Tingkat pertama alam pemurnian tubuh."
Zhang Tiangxia membuka matanya dengan semangat. Kemudian dia kembali fokus lalu memusatkan dirinya untuk menyerap Qi langit dan bumi.
Enam jam kemudian kembali terdengar suara klik.
Beberapa waktu berlangsung sebelum akhirnya Zhang Tiangxia mengakhiri latihannya.
Zhang Tiangxia membuka matanya lalu merasakan kultivasinya.
"Aku sekarang langsung naik ke tingkat tiga alam pemurnian tubuh." Zhang Tiangxia begitu bersemangat.
Namun semangat itu dengan cepat di tekan kembali, sebab saat ini dia masih berbaring, tulang belakangnya masih patah.
Dia kembali mengingat ingatan di kehidupan sebelumnya, ada satu teknik bernama regenerasi tulang. Namun meskipun terdengar luar biasa, teknik ini adalah teknik yang membuat penggunaanya serasa di siksa dalam neraka.
Teknik regenerasi adalah teknik kelas atas yang bertujuan meregenerasi tulang patah, selagi tulang itu tidak hancur menjadi bubuk itu bisa di regenerasi
Rasa sakit tulang yang di patahkan, lalu di sambung ulang kembali itu jauh lebih menyakitkan daripada terkena sayatan pedang.
Tapi, meskipun rasa sakitnya tidak manusiawi, dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak ingin menjadi manusia cacat. Dia ingin cepat berdiri agar orang tua barunya di dunia ini tidak khawatir.
Sebab dia mengetahui betapa sulitnya kehidupan mereka, jika dia harus berbaring di tempat tidur terus menerus, maka kehidupan mereka akan semakin terpuruk.
Setelah menghafal kembali teknik regenerasi tulang dia menggertakkan gigi, kemudian dia mengedarkan Qi di dalam tubuhnya ke tulang belakangnya.
krak... Krakk.. krakk.
"Uhh!"
"Uhh!"
Di dalam ruangan yang kecil, suara tulang yang berdecak tersambung ulang terdengar terus menerus. Bersamaan dengan itu suara orang menahan rasa sakit juga samar-samar terdengar parau.
Saat ini, wajah Zhang Tiangxia terpelintir karena rasa sakit, urat-urat menonjol di leher hingga dahinya.
Sakit kuatnya dia menggigit giginya, tanpa sadar ada darah yang keluar di antara bibirnya. Namun dia tidak perduli soal ini, sebab rasa sakit yang di alaminya terlalu sakit.
Dia ingin berguling-guling, namun dia sadar jika dia bergerak, regenerasi tulangnya akan gagal, jadi dia tetap harus mempertahankan posisi tidurnya yang terlentang.
Disini waktu satu menit pun terasa seperti satu jam, satu jam seperti satu hari lamanya.
Berkali-kali dia terus memaki dalam hati, namun ketika mengingat kesempatan hidup kembali, dia terpaksa harus bertahan.
Delapan jam kemudian, kamar itu kembali sunyi. Zhang Tiangxia tertidur di kasur dengan nafas terengah-engah. Dia benar-benar kelelahan seperti lari mengelilingi lapangan sepanjang hari.
Saat nafasnya mulai stabil dia membuka matanya lalu coba menggerakkan tubuhnya.
Saat itulah ekspresi kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang kecil.
"Haha, berhasil, akhirnya aku sembuh." Zhang Tiangxia hampir melompat kegirangan.
Jika bukan karena takut mengagetkan orang tuanya, dia mungkin sudah berteriak kegirangan.
. . .
Zhang Tiangxia mengangguk puas saat mengamati tubuhnya.
Qi di dalam tubuhnya mengalir tenang seperti sungai yang baru saja menemukan alirannya. Tulang-tulangnya terasa lebih padat, ototnya lebih kokoh meski tubuh ini masih milik seorang bocah 7 tahun.
Awalnya Zhang Tiangxia ingin berlatih kembali, namun dia menahan diri. Bukan karena tubuhnya tidak mampu menyerap Qi lebih banyak, justru tubuhnya sekarang seperti tanah kering yang haus, siap menelan sebanyak apapun Qi yang diberikan.
Tapi Zhang Tiangxia tidak ingin terlalu terburu-buru menaikan tingkat kultivasinya, dia ingin fondasinya stabil.
Di kehidupan sebelumnya dia hampir mencapai alam penghancur fana, dan satu hal yang paling dia sesali bukanlah kegagalan menerobos malapetaka langit, melainkan fondasi yang dia bangun terlalu terburu-buru karena ingin mengejar gelar jenius di antara semua generasi muda.
Masalah ini yang membuat fondasinya tidak stabil dan harus di hancurkan petir malapetaka langit. Saat itu dia terlalu mengejar kenaikan kultivasinya dan mengabaikan kekuatan fisiknya, padahal fisik adalah fondasi bagi seorang kultivator.
Selain itu dia juga sadar satu hal saat ini, dia tidak boleh terlalu mencolok atau menarik perhatian. Belum sekarang. Jika sampai dia ceroboh, dia takut hal yang menimpa dirinya akan kembali terulang.
Zhang Tiangxia menatap langit-langit kamar yang retak di sudutnya. Pikirannya mulai menyusun apa yang dia tahu tentang sistem kultivasi di dunia ini.
Tahap paling dasar adalah tahap pemurnian tubuh, dibagi menjadi sembilan tingkat.
Setiap tingkat terbagi menjadi tingkat dasar, menengah dan puncak.
Di sinilah para kultivator membangun tubuh mereka, memperkuat tulang, memadatkan otot, memperluas kapasitas Qi dan menguatkan organ tubuh.
Kebanyakan orang di Desa Cansu menghabiskan bertahun-tahun tertahan di tingkat lima atau enam alam pemurnian tubuh.
Setelah itu ada tahap pembuka meridian. Tahap yang jauh lebih rumit, di mana seorang kultivator harus membuka satu per satu saluran meridian di tubuhnya agar Qi bisa mengalir lebih bebas dan kuat.
Meridian di tubuh manusia ada seratus meridian besar dan tiga ratus lima puluh Meridian kecil.
Setiap sepuluh Meridian besar yang terbuka itu adalah terobosan satu tingkat alam. Jika semua Meridian terbuka barulah seseorang bisa naik ke alam berikutnya.
Kemudian tahap pemurnian Qi. Alam pemurnian Qi juga terbagi menjadi sembilan tingkat, setiap tingkat juga terbagi menjadi dasar, menengah dan puncak.
Dan di puncak dari semua itu adalah alam penghancur fana.
Zhang Tiangxia mengerutkan dahi saat nama itu melintas di benaknya.
Alam penghancur fana adalah batas nyata antara manusia biasa dan kultivator sejati. Di bawah alam itu, seseorang tetaplah manusia fana, umur mereka paling lama hanya seratus hingga seratus lima puluh tahun, tubuh mereka pada akhirnya tetap tunduk pada hukum alam.
Tapi begitu seseorang menembus batas itu, usia mereka bisa naik dua hingga tiga kali lipat. Tubuh mereka bukan lagi sekadar daging dan tulang biasa.
Namun harganya tidak murah. Untuk menerobos ke alam penghancur fana, seseorang harus bertahan dari ujian malapetaka langit. Tidak semua orang bisa melewati sambaran petir yang turun dari langit seolah langit sendiri tidak ingin manusia melampaui batasnya sebagai manusia.
Zhang Tiangxia di kehidupan sebelumnya gagal di ujian itu. Petir kesembilan menyambarnya hingga menjadi abu.
Kali ini, janjinya dalam hati, "Di kehidupan kedua ini, aku tidak akan gagal."
Dan di atas alam penghancur fana, konon ada sesuatu yang lebih tinggi lagi, ini adalah alam yang dianggap legendaris oleh semua orang. Alam kebangkitan Dao. Tidak ada yang tahu persis seperti apa alam itu, sebab belum ada seorangpun yang diketahui berhasil mencapainya sehingga ini hanya menjadi sebuah legenda dari mulut ke mulut orang di desa Cansu.
Namun meskipun itu hanya di anggap legendaris, semua kultivator bermimpi ingin mencapai alam itu suatu saat dan berdiri di antara seluruh makhluk hidup.. Termasuk Zhang Tiangxia sendiri juga berharap bisa menyentuh alam kebangkitan Dao nantinya.
"Kebangkitan Dao.." Zhang Tiangxia memejamkan mata sejenak kemudian bergumam. "Entah alam seperti apa itu."
Setelah pikirannya kembali jernih, Zhang Tiangxia duduk bersila kembali, bukan untuk menaikkan tingkat, tapi untuk memperkuat fondasinya hingga maksimal.
Dengan sabar, dia mulai mengalirkan Qi secara perlahan ke seluruh tulang-tulangnya. Ini semata-mata untuk memperkuat fondasi, dia tidak ingin bernasib sama seperti kehidupan sebelumnya.
Zhang Tiangxia memadatkan setiap tulang dari ujung jari kaki hingga ke tulang punggung dengan aliran Qi langit dan bumi, mengisi setiap celah kecil tulangnya yang mungkin rapuh.
Ini adalah latihan yang memakan waktu. Namun meskipun memakan waktu, Zhang Tiangxia bisa merasakan bahwa tulang-tulang di tubuhnya meningkat sedikit demi sedikit.
Latihan kali ini berlangsung hampir satu hari sebelum dia mengakhiri latihannya.
Saat matahari mulai condong ke barat Zhang Tiangxia membuka matanya.
Sesaat kemudian pikirannya beralih ke hal lain yaitu Keluarganya.
Dia menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang sederhana ini. Dindingnya sedikit kusam, furnitur nya sangat usang, ini rumah yang di berikan pada mereka setelah ayahnya terkena racun.
Zhang Zhenfeng, ayahnya di tubuh ini, dulunya dia di anggap seorang jenius, tapi setelah terkena racun, kultivasinya merosot dari yang sebelumnya tahap pembuka Meridian tingkat lima lalu saat ini merosot ke alam pemurnian tubuh tingkat enam akibat akumulasi racun bertahun-tahun.
Kini ayahnya menjadi bahan tertawaan saudaranya dan seluruh orang-orang keluarga Zhang, bahkan seorang pelayan pun sekarang berani menghina ayahnya.
Racun itu menggerogoti kultivasinya selama puluhan tahun tanpa ada perhatian dari keluarga, Zhang Feng yang menjadi kepala keluarga Zhang di desa Cansu pun enggan membayar tabib untuk menyembuhkan racun di tubuh ayahnya.
Cabang utama keluarga Zhang di kota Linbao juga tidak peduli tentang nasib keluarga mereka yang berasal dari cabang keluarga kecil.
Apa yang terjadi pada ayahnya saat ini adalah ulah Zhang Wugao, dialah yang terlibat dalam racun yang menimpa ayahnya, juga dia yang merencanakan penghancuran jiwa beladiri dirinya di gunung Tuanling demi mencegah keluarga mereka masuk ke keluarga utama dan mendapat perhatian lebih.
Yang membuatnya muak adalah Zhang Ziyi, dia bahkan rela mengorbankan nyawa saudaranya demi mempertahankan posisinya sebagai jenius keluarga Zhang di desa Cansu.
"Keluarga yang biadab," ucap Zhang Tiangxia dengan mata dingin.
"Aku harus memastikan diriku aman sebelum aku mulai membalas dendam."
"Langkah pertama adalah tidak menarik perhatian. Bersembunyi di balik kelemahan sementara tumbuh dalam kegelapan, jika terlalu mencolok mungkin balasan selanjutnya dari mereka akan lebih kejam." Gumamnya kecil.
Dia tau dengan jelas, sebelum memiliki kekuatan, dia tetap harus rendah hati. Untuk saat ini tidak masalah orang tau jika dia kembali hidup, karena bisa saja mereka salah mengira dia sudah mati sebelumnya, namun jika tiba-tiba dia menjadi kuat setelah bangkit dari kematian itu akan menimbulkan kecurigaan.
Di luar kamar, suara ibunya samar-samar terdengar berbicara pelan dengan ayahnya.
Zhang Tiangxia mendengarkan sejenak, lalu berjalan keluar..
"Anakku..."
Melihat Zhang Tiangxia ternyata masih hidup di depan mata mereka, alih-alih ketakutan dan mengira dia hantu, ibunya justru sangat bahagia dan langsung memeluknya.
"Nakk.. Kamu baik-baik saja kan?"
Dengan cemas ibunya mulai memeriksa seluruh tubuhnya untuk memastikan bahwa anaknya memang masih hidup bukan hantu.
Zhang Tiangxia tersenyum kecil, "Bu, aku baik-baik saja, aku hanya sedikit lapar," ucapnya sambil mengelus perutnya yang sedari tadi berbunyi.
Zhang Zhenfeng juga hampir menangis ketika melihat putra satu-satunya ternyata masih hidup dan sekarang justru meminta makan.
"Ayoo, biarkan ayah memasak makan malam untuk kalian.."
Akhirnya batu yang mengganjal di hati Zhang Zhenfeng sudah tidak ada lagi, jadi dia buru-buru berlari ke dapur lalu mulai memasak sup bebek dan membakar dua ekor kelinci.
Setelah kultivasinya jatuh hingga ke tingkat enam pemurnian tubuh, lalu melihat anaknya yang bernasib seperti dirinya, dia merasa hampir gila. Ini sebabnya dia menjadi jauh sedikit lebih tua seperti orang berusia 80 tahun meskipun usianya baru 40 tahun.
Tapi kali ini, ada harapan untuk anaknya kembali, meskipun dia mungkin tidak bisa berlatih lagi, tapi anaknya masih hidup.
. . .
Tak lama kemudian seorang gadis yang baru berusia 6 tahun berjalan masuk dengan wajah yang sedikit kesal.
"Sialan.. Aku benci.." Teriak gadis kecil itu dengan kesal sambil menghentakkan kaki.
Melihat hal ini, Zhang Tiangxia mengerutkan kening.
Su Wanyue bertanya pada Zhang Yuer, "Yuer, apa yang terjadi padamu, Kenapa wajahmu begitu kesal?"
"Ibu, itu Zhang Lei menghentikan pemberian pil bulanan pada keluarga kita. Katanya jika pil pil itu di berikan pada keluarga kita, itu hanya menghambur-hamburkan sumberdaya keluarga." Zhang Yuer kemudian menjelaskan apa yang terjadi di area bendahara keluarga dan kejadian dia di dorong oleh Zhang Lei saat memaksa meminta jatah pil bulanan untuk keluarga mereka.
Mendengar hal ini, meskipun ada kemarahan di hati Su Wanyue, dia juga merasa tak berdaya. "Yuer, sudahlah, tidak perlu memaksa mereka. Mari sini makan, kakakmu juga sudah sadar."
Baru saat itulah gadis kecil itu mengalihkan pandangannya ke arah Zhang Tiangxia.
"Kakak, kamu sudah sadar.." Dia langsung berlari merangkul lengan kakaknya dan bersikap manja.
"Kak, kamu tahu tidak, semenjak kamu tak sadarkan diri, semua orang di keluarga Zhang mengatakan kamu sudah mati, dan Zhang Lei itu terus membully ku."
"Huh, mentang-mentang ayahnya adalah penanggung jawab bendahara keluarga, dia bisa berperilaku semena-mena ketika memberikan sumberdaya keluarga."
"Kak, nanti kamu harus membantuku memberi dia pelajaran okey?" Zhang Yuer menatap kakanya dengan mata besar sambil memohon.
Hal ini membuat Ibu mereka khawatir pun langsung berkata, "Nak, kakakmu baru saja siuman. Dan kamu juga tahu, jiwa beladiri kakakmu hancur ketika gelombang monster, jadi mustahil memberikan pelajaran pada Zhang Lei."
Seketika wajah Zhang Yuer yang tadinya bersemangat langsung menjadi lesu.
Melihat adiknya yang seperti ini, Zhang Tiangxia merasakan sakit di hatinya. Dari kedalaman matanya ada niat membunuh.
Namun itu dengan cepat hilang lalu di gantikan senyum ramah, sambil mengusap kepala kecil Zhang Yuer, Zhang Tiangxia berkata, "Tenang saja, nanti kakak akan membantumu membuat perhitungan dengan mereka."
"Benarkah?" Zhang Yuer menatap kakaknya dengan mata bulatnya.
"Tentu saja benar," Angguk Zhang Tiangxia, "Sejak kapan kakakmu ini berbohong."
Zhang Yuer merasakan manis di hatinya, "Ini baru Kakaku yang hebat."
Tak lama kemudian, makanan pun di sajikan lalu keluarga yang berisi empat orang makan dengan lahap.
Setelah makan malam, Zhang Tiangxia kembali ke kamarnya untuk berlatih.
Dia menjalankan Teknik Taixu.
Tak lama, gelombang Qi langit dan bumi bergolak dengan liar memasuki tubuhnya dengan gila-gilaan.
Setelah berlatih hingga dua jam, Zhang Tiangxia diam-diam berjalan keluar rumah lalu menuju gunung belakang.
Dia ingin melatih teknik bertarung, tapi rumah yang mereka tempati terlalu kecil, tidak ada halaman. Jadi dia harus melatih teknik dari kehidupan sebelumnya di tempat lain. Selain itu ini juga agar tidak di ketahui siapapun kalau dia bisa berlatih lagi.
Sesampainya di gunung Tuanling, Zhang Tiangxia memasang pose aneh di udara.
Tubuhnya condong kedepan seperti udang rebus, lututnya mengarah ke depan, sementara tangannya membuat gerakan tinju di udara.
Saat ini dia melatih teknik Tinju Segala Arah.
Tinju segala arah adalah teknik tinju kelas bumi tingkat tinggi di kehidupan sebelumnya, ini adalah teknik tinju yang memiliki beberapa gerakan dan di padukan dengan teknik tendangan.
Gerakannya bukan hanya mengacu pada tinju dan tendangan, tapi juga siku, kepala, dan apapun yang ada di tubuh adalah senjata. Inilah kenapa di sebut sebagai Tinju Segala arah.
Saat melatih Tinju Segala arah hingga putaran kesepuluh selesai, Zhang Tiangxia menurunkan tangannya perlahan, napasnya sedikit memburu namun terkontrol. Keringat mengalir di pelipisnya, jatuh satu per satu ke tanah berbatu di bawah kakinya.
Tubuh bocah ini memang jauh lebih lemah dari kehidupan sebelumnya. Sepuluh putaran Tinju Segala Arah saja sudah membuat ototnya sedikit gemetar. Tapi tidak apa-apa, fondasi dibangun selangkah demi selangkah.
Dia sedang hendak mengatur napas ketika sebuah suara melengking tajam memecah kesunyian hutan.
"Kyuuu!"
Zhang Tiangxia membalikkan badan dengan cepat, tangan kanannya refleks siap dalam posisi bertarung.
Di hadapannya berdiri seekor rubah.
Rubah ini sedikit berbeda dari rubah pada umumnya.
Tubuhnya diselimuti bulu ungu pekat yang berkilau samar di bawah sinar bulan. Di sekitar matanya, bulunya warna putih keemasan.
Sepasang matanya bisa terlihat jelas bahwa binatang ini sangat cerdas.
Di bagian ekornya juga berwarna ungu namun ada garis panjang berwarna putih keemasan.
Zhang Tiangxia mengernyit.
"Rubah Roh."
Dia mengenali makhluk ini. Di kehidupan sebelumnya dia pernah melihat beberapa ekor, ini binatang tingkat lima yang sudah memiliki kecerdasan sendiri. Bukan sekadar binatang buas yang bergerak berdasarkan naluri. Rubah Roh bisa berpikir, bisa memahami, dan dalam beberapa kasus, bisa berkomunikasi dengan caranya sendiri.
Rubah itu tidak menyerang. Tidak juga melarikan diri.
Ia hanya menatap Zhang Tiangxia dengan mata emasnya, lalu berbalik dan berjalan beberapa langkah ke arah kedalaman hutan. Kemudian berhenti. Menoleh. Memekik sekali lagi.
"Kyuuu..!"
Zhang Tiangxia memiringkan kepalanya.
"Kamu ingin aku mengikuti mu?" tanya Zhang Tiangxia dengan aneh.
Rubah itu memekik lagi seolah menjawab, lalu kembali berjalan mengisyaratkan Zhang Tiangxia untuk mengikutinya.
Zhang Tiangxia terdiam sejenak. Seekor Rubah Roh tidak akan mendekat ke manusia tanpa alasan, umumnya rubah sangat menjauhi manusia namun rubah ini membuat Zhang Tiangxia penasaran.
"Kyu.."
suara rubah itu kembali terdengar.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu." Dia pun mengikuti rubah itu ke kedalaman hutan Tuanling.
Hutan Gunung Tuanling semakin rapat semakin dalam mereka masuk. Pohon-pohon di sini jauh lebih besar dari yang ada di area luar, batangnya sebesar tiga atau empat orang dewasa yang berpelukan, akarnya mencuat dari tanah seperti tulang-tulang raksasa yang membelit bumi.
Zhang Tiangxia melewati beberapa rumpun pohon besar yang menutup langit hingga malam yang sudah gelap pun semakin gelap.
Beruntung kali ini dia sudah mencapai tahap keempat pemurnian tubuh, jadi pandangan matanya jauh lebih jernih daripada orang biasa. Selain itu, bulan juga cukup terang jadi tetap ada sedikit sinar yang masuk.
Sebelum makan malam, dia sudah berada di puncak ke ketiga tahap pemurnian tubuh, jadi setelah berlatih selama dua jam, dia kembali melakukan terobosan tingkat dasar ke empat alam pemurnian tubuh.
Saat terus berjalan, di sela-sela akar pohon dan di atas batu-batu lumutan, berserakan tulang-tulang binatang buas. Beberapa masih besar dan utuh. Beberapa sudah hancur menjadi serpihan.
Rubah Roh itu terus berjalan tanpa ragu memimpin di depan, dan Zhang Tiangxia mengikutinya dengan waspada.
Tak lama kemudian, vegetasi hutan tiba-tiba terbuka.
Di hadapan mereka terbentang sebuah lembah yang cukup luas.
Zhang Tiangxia berhenti di tepian dan mengamati. Lembah itu cukup dalam, diapit dua dinding tebing yang menjulang. Udara di sini lebih lembab dan lebih dingin, dan ada aroma aneh yang samar-samar menggelitik hidungnya.
Aroma ini terasa tua, seolah tempat ini sudah ada jauh sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di gunung ini.
Dan di depan pintu masuk lembah itu, terdapat beberapa tengkorak manusia.
Sudah sangat lama. Tulangnya menghitam, sebagian sudah ditumbuhi lumut hijau tua.
Zhang Tiangxia menatap tengkorak-tengkorak itu sebentar.
Rubah Roh berjalan masuk ke lembah tanpa sedikit pun ragu mengabaikan tengkorak di tanah.
Zhang Tiangxia mengikutinya.
Di dalam lembah, suara gemericik air terdengar cukup keras. Dan tak lama kemudian, di ujung lembah muncul sebuah air terjun.
Air terjun ini tidak terlalu tinggi, tapi arusnya deras, airnya jernih kehijauan seperti giok cair yang jatuh menghantam bebatuan di bawahnya.
Rubah Roh berhenti. Lalu mengangkat satu cakarnya, menunjuk ke arah tebing di samping air terjun sambil melompat-lompat dengan gembira.
Zhang Tiangxia mengikuti arah yang di tunjukan rubah itu.
Di celah tebing, di antara retakan batu yang basah oleh percikan air terjun, tumbuh beberapa batang tanaman dengan buah-buah kecil berwarna biru kemerahan. Ukurannya sebesar kepalan tangan seorang anak kecil, tapi aroma yang keluar darinya membuat Zhang Tiangxia merasa sangat nyaman.
"Buah Roh." Matanya menyipit.
Dia paham sekarang kenapa Rubah Roh itu membawanya ke sini.
Buah roh adalah buah langka yang tumbuh di wilayah yang di penuhi dengan energi roh langit dan bumi, jika di jual, satu buah roh itu bernilai puluhan ribu keping perak.
Rubah itu butuh bantuannya untuk memetik buah-buah itu, posisi tebingnya terlalu sempit dan licin untuk tubuh seekor rubah, tapi baginya ini tentu adalah hal yang mudah.
Zhang Tiangxia menatap buah-buah itu sejenak, disana terdapat sembilan buah. Lalu ia melirik Rubah Roh yang kini duduk menunggu dengan tenang.
"Binatang ini tidak bisa memanjat, lalu menyuruhku kesini agar menjadi babunya, benar-benar menarik." Gumamnya pelan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!