Indonesia
NovelToon NovelToon

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Bab 1

“Kartika,” ucap Deva pelan, tetapi tegas. “Mulai bulan ini kebutuhan rumah tangga kita bagi dua.”

Tangan Kartika berhenti tepat di depan mulut Kaivan. Anak kecil itu membuka mulutnya lebar-lebar, menunggu suapan yang tak kunjung datang.

Kartika mengangkat wajah perlahan. “Loh, kenapa, Mas?”

Deva menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Ibu mau bantu beli rumah buat Gavin. Jadi tiap bulan aku harus setor tiga juta setengah lagi.”

Semua orang terdiam, saling melirik. Ruang keluarga mendadak sunyi, hanya terdengar hanya suara kipas angin tua berdecit di sudut ruangan.

Mata Kartika bergerak pelan menatap satu per satu wajah keluarga suaminya yang duduk memenuhi ruangan. Bu Hania tampak santai menyeruput teh. Iriana sibuk memainkan ponsel bersama putri kecilnya, Delisa. Gavin menunduk sambil menggaruk tengkuknya sendiri.

Sementara Kartika menelan ludah pahit. Selama lima tahun menikah, dia tidak pernah sekalipun mempersoalkan ke mana uang suaminya pergi. 

Selama ini dia menjadi ibu rumah tangga mengurus suami, kedua anaknya, dan rumah. Tidak pernah protes dengan uang bulanan yang sangat terbatas, walau tahu gaji Deva tiap bulannya sebanyak 25 juta.

Kartika juga tidak pernah melarang suaminya untuk memenuhi kebutuhan kehidupan orang tua dan adik-adiknya. Setiap bulan Deva memberi uang kepada ibunya sebanyak 6 juta karena punya bayaran kredit rumah. Iriana, adik perempuannya yang seorang janda diberi jatah bulanan sebanyak 3 juta. Lalu Kenzie, adik bungsunya yang baru masuk kuliah, setiap bulan diberi 2 juta untuk biaya kuliah dan 1 juta untuk setor kredit motor.

Biasanya Kartika mendapatkan jatah 8 juta tiap bulannya dari Deva, 2 juta diantaranya untuk biaya sekolah Kalingga yang bersekolah di sekolahan swasta. Dengan uang 6 juta itu, Kartika mengatur untuk makan, bayar listrik, air, susu dan diapers untuk Kaivan, serta bayaran iuran RT.

Sementara itu, Deva sendiri kebagian 3 juta untuk kebutuhannya sebulan, beli bahan bakar dan jajan. Sisanya, 2 juta disimpan jadi tabungan bersama, jika sewaktu-waktu butuh biaya tak terduga.

“Kenapa rumah itu juga harus dibayar oleh Mas Deva? Bukannya Gavin kerja dan punya gaji setiap bulannya?” ujar Kartika pelan, berusaha menjaga nada suara tetap tenang. “Kenapa malah kebutuhan rumah tangga kita yang harus dikurangi?”

Kaivan mulai merengek karena suapannya tertunda. Kartika otomatis kembali menyuapi anak itu, meski pikirannya mulai dipenuhi sesak.

Belum sempat Deva menjawab, Bu Hania lebih dulu mendecakkan lidah keras. “Heh! Gaji Gavin itu kecil,” katanya tajam. “Cuma cukup buat kebutuhan dia sendiri. Bulan depan dia juga sudah punya istri.”

Kartika memandang wanita paruh baya itu beberapa detik. Lalu, tersenyum tipis. Senyum yang justru terlihat lebih dingin dan menahan amarah.

“Kalau begitu, kurangi saja jatah setiap orang dari keluarga Mas Deva. Karena uang bulanan yang diberikan sama Mas Deva saja kadang suka kurang,“ balas Kartika menyindir. Sudah sejak lama dia menahan rasa kesal. Karena keluarga Deva terlalu mengandalkannya. 

Suasana mendadak membeku. Iriana langsung mengangkat kepala. Kening Bu Hania berkerut tajam.

“Masa uang yang diberikan sama Deva, kurang. Kamu itu jadi istri terlalu boros,” ucap Bu Hania sinis.

Kartika menghela napas, suaranya kini lebih jelas. “Harga bahan pokok naik terus, Bu. Uang bulanan dari Mas Deva sering kurang. Aku masih harus bayar sekolah Kalingga, beli susu dan diaper untuk Kaivan, listrik, air, lalu—”

Meja digebrak dengan keras sampai bergetar. Gelas teh sampai tumpah membasahi taplak.

Kaivan tersentak kaget, lalu menangis keras. Tubuh kecil itu langsung memeluk dada Kartika gemetar.

“Hiks ... Mama, Nenek celem!”

“Ssst, Sayang ... jangan takut, ada Mama.” Kartika buru-buru menggendong anaknya sambil mengusap punggungnya. Namun, matanya tetap menatap lurus pada Bu Hania.

“Heh, Kartika! Deva itu punya tanggung jawab sama keluarganya. Jadi, sudah seharusnya dia membantu adik-adiknya yang kesusahan,” bentak wanita paruh baya itu, marah.

Kartika berdiri perlahan sambil menggendong Kaivan. Meski satu tangannya menopang anak kecil yang menangis, tubuhnya tetap tegak.

“Bu, aku dan anak-anak lah yang menjadi tanggung jawab utama Mas Deva,” ucap Kartika tegas, lalu tatapannya beralih ke Deva. “Bukan adik-adiknya.”

Deva tersentak kecil. Ada sesuatu dalam mata istrinya hari itu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sebuah keberanian melawan keluarganya.

“Mbak Kartika jangan sombong!” sahut Iriana sinis. “Kesuksesan Mas Deva sekarang itu karena doa dan dukungan kami, keluarganya.”

“Iya!” timpal Bu Hania cepat. “Kamu cuma numpang enak!”

Pak Dimas yang sejak tadi diam ikut bersuara. “Kalau pelit sama saudara, rezeki kamu bisa seret, Kartika.”

Kartika tertawa kecil. Namun, cukup membuat semua orang terdiam. Tawanya bukan karena lucu. Melainkan karena akhirnya dia sadar satu hal, selama ini pengorbanannya dianggap kewajiban, sementara bantuan Deva kepada keluarganya dianggap kemuliaan.

“Kamu itu harusnya kerja,” sindir Bu Hania lagi. “Jangan cuma mengandalkan uang anak saya!”

“Iya,” sambung Iriana sambil melipat tangan di dada. “Kerjanya cuma duduk di rumah. Mas Deva banting tulang tiap hari sampai lembur.”

Kartika menatap dua wanita itu bergantian. Tatapannya turun pada kuku Iriana yang baru dicat. Lalu, gelang emas di tangan Bu Hania. Kemudian pada dirinya sendiri, tangannya kasar terkena sabun cuci. Ujung kukunya patah. Bajunya bahkan terkena noda bubur Kaivan. Dan mereka bilang dia hanya duduk diam di rumah?

Pelan-pelan Kartika meletakkan Kaivan kembali di kursi. Lalu, dia menarik napas panjang.

“Oke.” Suara Kartika tenang. “Kalau menurut kalian aku tidak bekerja dan hanya ongkang-ongkang di rumah,” katanya sambil menatap satu per satu wajah mereka. “Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah.”

Deva mengernyit. “Maksud kamu?”

Kartika tersenyum tipis. “Aku akan minta bayaran untuk setiap pekerjaan yang aku lakukan di rumah.”

***

Assalamualaikum, semuanya. Kembali aku dengan karya baru. Semoga suka. Ambil sisi baiknya dan jangan tiru sisi buruknya cerita ini. Atas perhatiannya aku ucapkan terima kasih banyak.

Bab 2

Hari itu keadaan ruang keluarga rumah Deva semakin menegang. Karena tak satu pun orang di ruangan itu benar-benar nyaman setelah ledakan emosi Kartika sebelumnya. Siapa sangka istri yang selama ini tidak banyak protes, kini berani melakukan perlawanan.

Kaivan duduk anteng di lantai dengan piyama dinosaurusnya sambil memainkan mobil-mobilan plastik. Sesekali anak kecil itu melirik wajah orang-orang dewasa di sekitarnya dengan bingung, seolah ikut merasakan ketegangan yang memenuhi ruang keluarga.

Sementara itu, Deva duduk kaku di sofa, rahangnya mengeras. Kartika menatap sebentar dengan sinis, lalu membawa Kaivan ke kamar Kalingga karena merasa pembicaraan kali ini sangat panas.

Begitu kembali Kartika duduk dengan posisi tegak seakan siap berdebat. Itu membuat Deva tidak nyaman. Biasanya setelah bertengkar, Kartika akan pergi di dapur menyibukan diri dengan pekerjaan atau memilih diam mengalah lebih dulu. Namun, hari ini berbeda. Wanita itu seperti batu karang yang siap menahan amukan ombak.

“Mengurus rumah dan semua pekerjaan rumah itu tugas seorang istri. Termasuk memasak ...,” ucap Pak Dimas memecah keheningan di antara mereka. Matanya melirik ke arah Bu Hania.

Kartika hendak membuka mulut, Deva memberi isyarat untuk diam. Dan lagi-lagi hatinya terasa diremas. Sang suami selalu menekan dirinya harus mengerti dengan keadaan keluarganya.

“Sudah ... sudah!” seru Bu Hania tiba-tiba, memecah keheningan. Dia paling tidak suka jika suaminya menyinggung dirinya.

“Mana uang bagian Ibu?” Nada suaranya terdengar biasa saja. 

Seperti biasa Bu Hania akan minta jatahnya jika Deva sudah gajian. Seolah pertengkaran tadi hanyalah angin lalu. Bahkan setelah melihat rumah tangga anaknya retak di depan mata, hal pertama yang dipikirkan wanita itu tetap uang.

Deva mengusap wajah kasar sebelum mengambil beberapa amplop dari tas kerjanya. Satu amplop cokelat diberikan pada Bu Hania. Satu untuk Iriana. Satu lagi untuk Kenzie.

Seperti ritual bulanan yang selalu sama. Bu Hania langsung membuka amplopnya cepat-cepat, menghitung lembar demi lembar uang dengan ujung jari yang sudah dipenuhi cincin emas.

Iriana pun melakukan hal yang sama. Takut kurang. “Sebentar ... kok, enggak pas,” gumamnya sambil menghitung ulang. “Satu, dua, tiga ....”

Kartika memperhatikan tanpa suara. Tak ada satu pun dari mereka yang bertanya apakah uang belanja rumah cukup. Tak ada yang bertanya apakah anak-anak Deva makan dengan layak. Bagi mereka itu yang penting jatah uangnya lengkap.

Beberapa detik kemudian, wajah ketiganya berubah cerah. Senyum puas merekah seperti baru memenangkan undian.

“Jumlahnya sudah pas,” ucap Bu Hania lega.

Kartika menunduk pelan. Dadanya terasa sesak. Bukan karena uang itu, tetapi karena baru malam ini dia benar-benar melihat dirinya selama ini hanya seperti bayangan di rumah tangganya sendiri.

“Kalau begitu aku pulang dulu,” ujar Iriana sambil memasukkan amplop ke tas cantik yang baru dibelinya bulan lalu. 

Kartika menatap tas itu beberapa detik.Tas yang harganya hampir sama dengan uang belanja dapurnya sebulan. Ironis sekali.

“Takut kemalaman di jalan,” lanjut Iriana.

Rumah Iriana jaraknya agak jauh dari rumah Deva. Dahulu, Kartika sengaja beli rumah agak jauh dari mertuanya, walau masih satu kecamatan. Siapa sangka, orang tua Deva memberikan rumah mereka setelah Iriana menikah lima tahun lalu. Gantinya, membeli perumahan yang dekat dengan rumah Deva. Dan, Deva lah yang membayarnya tiap bulan.

“Ayo, Pak. Kita pulang juga,” ajak Bu Hania sambil berdiri santai.

Tak ada permintaan maaf kepada tuan rumah. Tak ada rasa bersalah. Mereka pergi begitu saja.

Pintu rumah tertutup dan mendadak rumah itu terasa sunyi sekali. Deva menghela napas panjang lalu mengambil satu amplop terakhir dari tasnya.

“Ini uang bulanan buat kamu, Yang.” Amplop itu diletakkan di meja.

Kartika melirik sekilas. Amplop itu terlihat lebih tipis dari biasanya. Ia tidak perlu menghitung untuk tahu jumlahnya berkurang banyak.

“Mulai sekarang jatahnya empat juta setengah,” ucap Deva datar.

Kartika tersenyum kecut. “Sebaiknya Mas saja yang pegang uang itu.”

Deva mengernyit. “Apa maksud kamu, Yang?”

Kartika mulai menghitung dengan jari. “Jangan lupa nanti bayaran sekolah Kalingga. Bayar listrik. Bayar air. Beli susu Kaivan. Pampers. Belanja dapur. Gas habis minggu depan. A, lupa ... iuran tambahan sekolah Kalingga karena ada kegiatan bulan ini.”

Kartika menatap lurus mata suaminya. “Jangan lupa belanja stok sebulan.”

Wajah Deva berubah kaku. “Kartika.” Nada suaranya mulai berat. “Tadi aku sudah bilang kebutuhan rumah sekarang ditanggung berdua. Jadi—”

Kartika tertawa pelan. Tawa yang membuat dada Deva terasa tidak nyaman.

“Itu kebutuhan anak-anak Mas.” Tatapan Kartika tajam. “Dan anak-anak itu tanggung jawab Mas.”

Kalimat itu menghantam ego Deva telak. “Oke!” bentaknya sambil berdiri kasar. “Kalau begitu biar aku saja yang belanja!”

Kartika tidak menjawab. Ia memilih sikap diam. Justru itu terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.

Keesokan paginya rumah terasa asing. Biasanya sejak subuh aroma bumbu masakan sudah memenuhi dapur. Suara piring dan gelas saling beradu. Kartika mondar-mandir menyiapkan sarapan sambil membangunkan anak-anak. Namun, pagi ini suasana sangat sunyi.

Deva keluar kamar dengan kemeja kerja yang rapi dan dasi setengah terpasang. Langkahnya melambat ketika melihat meja makan kosong. Tak ada nasi goreng. Tak ada kopi panas. Tak ada kotak bekal. Hanya ada botol susu Kaivan di atas meja.

Kartika berdiri di dapur merebus air dengan ekspresi tenang.

“Sayang,” panggil Deva sambil mengernyit. “Sarapan aku mana?”

Kartika menoleh pelan. Tatapan mereka bertemu.

Deva merasa ada jarak dingin di mata istrinya.

“Kalau Mas mau aku buatkan sarapan,” ucap Kartika tenang, “Mas harus bayar.”

Deva melongo. “Apa?”

Kartika mematikan kompor. “Bukannya memasak itu bukan pekerjaan?” tanyanya lirih. “Katanya aku cuma ongkang-ongkang kaki di rumah.”

Nada suaranya tenang. “Jadi mulai sekarang,” lanjut Kartika sambil menyandarkan tubuh di meja dapur, “aku tidak akan melakukan pekerjaan rumah apa pun kalau tidak dibayar.”

Ekspresi Deva berubah keras dan tatapan matanya tajam. “Jadi sekarang kamu mau hitung-hitungan sama aku?”

Kartika tersenyum tipis. “Bukannya Mas dan keluarga Mas yang mulai?”

“Kamu keterlaluan.”

“Keterlaluan?” ulang Kartika pelan. Ia berjalan mendekat. “Aku bangun jam empat pagi setiap hari. Lalu, aku tidur paling akhir. Karena melakukan banyak pekerjaan di rumah ini.”

Mata Kartika mulai memerah. “Tapi semua itu dianggap tidak ada nilainya di mata kalian.”

Selama ini Kartika tidak banyak menuntut kepada Deva. Karena pria itu bisa berperan baik sebagai suami dan ayah untuk kedua anaknya. 

Hal yang tidak disukai Kartika dari Deva adalah terlalu memanjakan dan selalu menuruti keinginan keluarganya. Dengan dalih berbakti kepada orang tua dan menjaga hubungan baik dengan saudara. Masalahnya, semua keluarga Deva selalu manfaatkan dirinya dan bergantung kepadanya.

“Mereka tidak hitungan-hitungan seperti yang kamu tuduhkan. Mereka ingin kamu membantu keuangan keluarga dengan bekerja,” bantah Deva yang selalu saja membela keluarganya.

“Aku tanya sama Mas. Apa pekerjaan Iriana? Apa pekerjaan Ibu?” Kartika yang biasanya nurut suami, kini terus saja membalas ucapan Deva.

“Iriana punya anak kecil yang tidak bisa ditinggal-tinggal. Ibu sudah tua untuk bekerja,” balas Deva dengan nada tegas.

“Mas, Delisa itu sudah berusia empat tahun dan bisa bermain sendiri. Sedangkan aku mengurus Kaivan yang berusia dua tahun. Lalu, Ibu tidak bisa bekerja, tapi tiap hari kerjanya shoping, jalan-jalan, dan senam dengan ibu-ibu komplek.”

Untuk pertama kalinya, Deva tidak langsung bisa membalas.

Kartika melangkah lebih dekat lagi. “Mas tahu kenapa aku marah?” Suara wanita itu mulai bergetar. Air matanya mulai menggenang.

Bab 3

Ruang dapur yang biasa terasa hangat dan penuh tawa, kini terasa tegang. Kartika berdiri berhadapan dengan Deva, dengan menahan amarah dan sedih.

Kartika berdiri di dekat wastafel sambil melipat kedua tangan di dada. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi, tetapi wajahnya tampak jauh dari segar. Ada lingkar samar di bawah matanya, tanda kurang tidur yang sudah terlalu sering terjadi.

Sementara Deva berdiri di seberangnya dengan rahang mengeras. Kemeja kantornya sudah rapi. Jam mahal melingkar di pergelangan tangannya. Wangi parfum maskulin memenuhi dapur kecil itu.

Namun, semua kesan rapi itu runtuh saat matanya bertemu dengan tatapan Kartika. Tatapan yang biasanya lembut, kini penuh luka.

“Seharusnya Mas paham kenapa aku marah,” ucap Kartika pelan, tetapi penuh tekanan.

Deva diam.

“Aku rela capek. Rela enggak tidur nyenyak. Rela enggak punya waktu buat memanjakan diri sendiri. Demi apa? Demi keluarga ini.” Suara Kartika mulai bergetar. “Tapi, keluarga Mas memperlakukanku seperti pengangguran yang numpang hidup.”

Kalimat itu menghantam tepat di dada Deva. Pria itu menelan ludah. Entah kenapa, pagi ini untuk pertama kalinya dia benar-benar memperhatikan wajah istrinya. Wajah yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum, kini terlihat lelah. Bukan lelah karena sehari dua hari mengurus rumah, melainkan lelah yang menumpuk bertahun-tahun tanpa pernah diberi ruang untuk mengeluh.

Deva menarik napas pelan, mencoba menahan emosinya sendiri. “Tapi ... nyatanya memang cuma aku yang kerja cari uang.”

Kartika tertawa kecil. Tawa getir yang menunjukan luka di hatinya.

“Dan kamu harusnya bisa mengelola uang yang aku kasih dengan baik,” lanjut Deva lagi. Nada suaranya lebih rendah. Ia malas bertengkar pagi-pagi. Kepalanya sudah pening membayangkan pekerjaan kantor yang menumpuk.

Kartika memejam mata sesaat. Seolah sedang menahan sesuatu agar tidak meledak. Lalu, ia berjalan menuju meja makan, mengambil amplop cokelat tipis yang tadi malam diberikan Deva.

Amplop itu diketuk pelan ke dada suaminya. “Coba Mas yang kelola.”

Deva mengernyit.

Kartika menatap lurus mata suaminya. “Uang empat juta setengah, aku yakin baru dua minggu juga sudah habis,” ucap Kartika dengan datar. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti tamparan.

Deva mengembuskan napas panjang dengan kasar. Tangannya bertolak pinggang, wajahnya terlihat mulai lelah menghadapi bantahan Kartika yang sejak tadi tidak mau mengalah.

“Makanya aku ingin kamu juga kerja bantu aku cari uang untuk kebutuhan keluarga kita.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Deva. Seolah tidak ada yang salah.

Namun bagi Kartika, ucapan itu seperti sesuatu yang menghantam tepat di tengah dada. Wanita itu membeku. Jari-jarinya yang tadi sibuk membereskan botol susu Kaivan perlahan berhenti bergerak. Dadanya terasa sesak tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang menekan kuat dari dalam. Matanya menatap Deva tidak percaya.

Kerja? Bukankah dulu justru Deva yang paling keras melarangnya bekerja?

Ingatan Kartika langsung melompat jauh ke beberapa tahun lalu. Saat mereka baru menikah. Saat semuanya masih terasa hangat dan penuh cinta.

Deva datang dengan senyum lembut dan tatapan penuh sayang. Pria itu menggenggam kedua tangannya erat sambil berkata pelan,

“Aku mau istriku tinggal di rumah.”

“Aku enggak mau anak-anak kita diasuh orang lain. Aku pengin mereka tumbuh dengan kasih sayang ibunya sendiri.”

Kalimat sederhana itu dulu terdengar begitu indah di telinga Kartika. Ia merasa dicintai, merasa dibutuhkan, dan merasa dihargai sebagai seorang istri dan calon ibu.

Dan karena rasa cinta itu, Kartika rela melepaskan semuanya. Ia tinggalkan semuanya tanpa banyak berpikir. Karena waktu itu Kartika percaya, pengorbanannya akan dihargai. 

Namun sekarang, malah ada ucapan, “Biar enggak dikatakan istri yang cuma habisin uang suami,” tambah Deva lagi.

Ucapan itu membuat sesuatu dalam diri Kartika seperti runtuh perlahan. Kalimat itu terdengar begitu menusuk dan merendahkan dirinya. Seolah semua yang selama ini ia lakukan di rumah tidak ada nilainya sama sekali.

Kartika menatap suaminya lama. Matanya mulai memerah, tetapi bukan karena ingin menangis. Ada rasa kecewa yang terlalu besar sampai air mata pun seperti tertahan.

Lalu perlahan bibirnya tersenyum kecil. Namun, senyum itu hambar. Tidak ada kehangatan di sana.

“Kalau begitu, apa bedanya aku punya suami dan tidak?” Suara Kartika lirih, tetapi terdengar tajam di telinga Deva. 

Deva langsung diam. Kalimat itu membuat dadanya seperti ditusuk sesuatu.

Kartika melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.

“Kalau aku tetap harus cari uang sendiri buat memenuhi kebutuhan rumah tangga, sementara suamiku lebih sibuk menafkahi keluarga lain dibanding anak dan istrinya sendiri,” lanjut Kartika dengan suara bergetar menahan emosi. Ia tertawa kecil. Tawa pahit yang justru terdengar menyakitkan.

“Lalu untuk apa aku punya suami?”

Deva terpaku di tempatnya. Ia tahu dan sangat paham apa maksud ucapan Kartika barusan. Wanita itu sedang mengatakan satu hal yang selama ini tidak pernah berani diucapkannya secara langsung.

Kartika bisa hidup tanpa dirinya. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak menikah, Deva merasa takut. Rasa takut itu muncul tiba-tiba, menyelinap pelan ke dalam dadanya. Dia takut kehilangan istrinya. Takut kalau suatu hari Kartika benar-benar lelah dan memilih pergi.

Selama ini Deva terlalu yakin istrinya akan selalu bertahan. Selalu mengalah dan menurut, bahkan selalu diam.

Namun, pagi ini berbeda. Kartika berdiri di hadapannya bukan sebagai istri penurut seperti biasanya. Melainkan seorang wanita yang sudah terlalu lama menahan kecewa.

Jantung Deva berdetak lebih cepat. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia katakan. Namun, gengsi dan egonya menahan semuanya di tenggorokan. Pada akhirnya pria itu hanya meraih tas kerjanya dengan kasar.

“Aku berangkat kerja.” Nada suaranya terdengar dingin. Bukan karena tidak terluka. Justru karena terlalu bingung menghadapi perasaannya sendiri.

Kartika tidak menjawab. Wanita itu hanya berdiri diam sambil memalingkan wajah.

Deva melangkah menuju pintu dengan langkah berat. Biasanya Kartika akan mengantarkannya sampai depan rumah, membawakan bekal atau sekadar mengingatkan hati-hati di jalan. Tidak lupa pelukan dan ciuman sebagai bentuk penyemangat. Namun, hari ini semua itu tidak ada.

Pintu rumah tertutup keras. Suara itu menggema memenuhi rumah. Lalu, semuanya kembali hening.

Kartika memejamkan mata perlahan. Tangannya naik memijat pelipis yang terasa berdenyut sejak tadi. Baru beberapa menit bertengkar, tetapi tubuhnya terasa sangat lelah.

Lebih lelah daripada saat mencuci setumpuk pakaian. Lebih lelah daripada saat begadang menjaga anak sakit semalaman. Karena ternyata melawan suami yang selama ini selalu ia hormati jauh lebih menguras hati daripada pekerjaan rumah apa pun.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!