Bau dupa melati yang menyengat langsung menusuk hidung Alesia. Kepalanya pusing bukan main, seperti habis dihantam kompor gas melon tiga kilo. Samar-samar, telinganya menangkap suara isak tangis yang mendayu-dayu dan sangat berisik.
"Ya Tuhan, Yang Mulia Permaisuri... Sadarlah! Jangan tinggalkan kami!"
Alesia mengernyitkan dahi. Siapa sih yang berisik banget? Orang lagi pusing juga!
Ingatan terakhirnya berputar cepat. Sore itu di pinggiran Jakarta, ia sedang asyik makan bakso urat. Tiba-tiba tawuran antar-STM pecah di depan matanya. Sebagai anak kandung Abah—jawara silat Betawi tulen—darah Alesia mendidih melihat anak-anak ingusan saling tebas pakai celurit. Ia pun maju melerai pakai jurus silat warisan bokapnya.
Sialnya, saat ia berhasil melumpuhkan tiga bocah, sebuah gerobak gorengan yang lepas kendali meluncur bebas dari turunan jalan dan langsung menghantam tubuhnya sampai terpental.
Alesia mencoba membuka mata. Begitu pandangannya jelas, ia tidak melihat plafon tripleks kamarnya yang penuh stiker klub bola. Alih-alih, ia menatap langit-langit ranjang raksasa yang dihiasi tirai sutra emas dan ukiran kayu yang luar biasa mewah.
"Buset dah... Gue di mana nih? Rumah sakit mana yang kamarnya begini mentereng? Ganti rugi BPJS gue tembus berapa puluh juta emangnya?" gumam Alesia dengan suara serak.
"Yang Mulia! Anda sudah sadar?! Syukurlah kepada Dewa!"
Seorang gadis remaja dengan pakaian ala pelayan Eropa abad pertengahan tiba-tiba menubruk pinggiran kasurnya. Matanya sembap dan merah.
Alesia melongo. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Putih, mulus, dan jarinya lentik-lentik tanpa ada bekas kapalan akibat latihan memukul samsak.
"Heh, Neng! Lu siapa? Ini daerah mana? Jatinegara bukan?" tanya Alesia blak-blakan dengan logat Betawinya yang kental.
Gadis pelayan itu terbengong-bengong. Air matanya berhenti mengalir seketika. "Yang Mulia... Apa yang Anda bicarakan? Ini hamba, Lily. Pelayan setia Anda di Istana Mawar Kerajaan Orizon!"
"Kerajaan Orizon?! Lu jangan ngadi-ngadi ya. Lu lagi syuting drakor kolosal apa gimana nih?"
"Syu... syuting? Drakor? Apa itu, Yang Mulia? Anda baru saja keguguran untuk kelima kalinya, hamba mohon jangan banyak bergerak dulu!" Lily histeris memegangi selimut Alesia.
Alesia menyentuh perutnya yang terasa nyeri dan kosong. Ingatan dari pemilik tubuh asli mendadak mengalir deras ke otaknya bagai air bah. Alessia yang asli adalah wanita bangsawan lemah lembut yang dinikahi sang raja hanya demi melahirkan penerus. Dan yang lebih parah, keguguran berulang ini bukan karena rahimnya lemah, tapi karena racun yang sengaja ditaruh di makanannya oleh para selir licik!
"Buset dah, nasib amat badan begini cakep tapi hidupnya merana bener..." gumam Alesia prihatin.
Belum sempat Alesia mencerna keadaan lebih jauh, pintu kamar raksasa itu didobrak kasar dari luar. BRAAAK!
Seorang pria jangkung dengan jubah hitam berbulu melangkah masuk. Wajahnya luar biasa tampan, rahangnya tegas, dan matanya setajam elang. Tapi sayang, mukanya ditekuk sedemikian rupa seperti orang yang belum bayar utang sepuluh tahun. Dingin dan kaku.
Pria itu adalah Raja Magnus. Sang suami yang paling ditakuti seantero kerajaan.
"Kau sudah bangun, Alessia?" tanya pria itu dengan suara berat yang sangat dingin, tanpa ada nada khawatir sedikit pun.
Alesia refleks bangkit dan duduk tegak di kasur. Ia menatap pria itu dari atas sampai bawah. Wah, ini lakinya nih. Tampang sih spek dewa, tapi kok mukanya kayak kanebo kering begini ya?
"Iya, udah bangun. Kagak liat mata gue melotot begini?" jawab Alesia ketus tanpa saringan.
Magnus sempat tertegun sesaat mendengar nada bicara istrinya yang mendadak tidak tahu aturan. Namun, ia dengan cepat mengembalikan ekspresi datarnya. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping ranjang dengan angkuh.
"Baguslah kalau kau tidak mati. Tapi kau gagal lagi, Alessia. Ini sudah kelima kalinya kau keguguran dan gagal melahirkan ahli waris untukku. Apakah rahimmu itu memang selemah itu?" ujar Magnus tajam, tanpa perasaan.
Darah anak jawara silat di dalam diri Alesia langsung mendidih sampai ke ubun-ubun mendengar ucapan suaminya yang luar biasa tidak punya empati tersebut.
Alesia langsung menyibak selimutnya dan berdiri di atas ranjang. Ia berkacak pinggang menatap lurus ke arah mata Raja Magnus yang tingginya menjulang.
"Eh, denger ya, lu cowok kaku!" semprot Alesia dengan suara menggelegar. "Gue baru aja siuman dari maut, bukannya ditanya 'lu gapapa?' malah langsung nagih anak! Lu pikir gue mesin cetak batako yang bisa keluarin anak tiap jam?!"
Lily, sang pelayan, langsung menutup mulutnya dengan syok sampai hampir pingsan di lantai. "Ya ampun, Yang Mulia... Jaga bicara Anda di depan Yang Mulia Raja!"
Raja Magnus melebarkan matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh wibawa, ada seorang wanita—bahkan istrinya yang biasanya selalu menangis ketakutan—yang berani membentaknya tepat di depan muka.
"Kau... berani bicara seperti itu padaku, Permaisuri?!" desis Magnus dengan aura membunuh yang dingin. "Sepertinya kepalamu terbentur sangat keras saat pingsan tadi!"
"Kagak ada yang kebentur ya! Otak gue masih lempeng!" balas Alesia kencang. Ia justru maju selangkah di atas kasur yang empuk itu, membuat wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja.
"Apa kau tidak tahu batasanmu? Tugasmu di istana ini hanyalah melahirkan seorang pangeran untuk mengamankan takhta Orizon! Hanya itu!" bentak Magnus yang mulai tersulut emosi.
"Dih, maksa! Kalau lu mau anak buru-buru, noh sono suruh gundik-gundik lu yang hamil! Kenapa kudu nuntut gue mulu?!"
"Karena kau adalah Ratu yang sah! Anak dari selir tidak akan pernah bisa menduduki takhta utama! Kau harus tahu kewajibanmu!"
Alesia tertawa mengejek, "Kewajiban ndasmu! Lu dengerin gue baik-baik ya, Tong! Rahim gue keguguran mulu itu karena diracun, bukan karena lemah! Lu jadi laki mending buka mata lebar-lebar, selidiki dulu tuh bini-bini simpanan lu yang bermuka dua! Jangan cuma bisanya nyalahin bini doang! Paham lu?!"
Ruangan megah itu mendadak hening seketika. Magnus terpaku menatap mata Alesia yang menyala-nyala penuh amarah dan keberanian. Belum pernah ada manusia yang mengatainya "Tong" seumur hidupnya, apalagi menuduh adanya konspirasi racun di istananya yang dijaga ketat.
"Apa katamu? Diracun? Jangan mencari alasan yang konyol untuk menutupi ketidakmampuanmu, Alessia!" sahut Magnus dengan nada yang merendah, tapi penuh ancaman.
"Konyol kata lu? Sini lu deketan!" Alesia menarik kerah jubah berbulu milik Magnus dengan kasar sampai tubuh kekar sang raja sedikit membungkuk.
Lily di pojokan sudah menangis tanpa suara melihat ratunya menjambak pakaian sang penguasa tertinggi.
"Lu cium nih bau dupa di kamar ini!" Alesia menunjuk wadah dupa di sudut ranjang. "Ini namanya dupa melati dicampur ekstrak akar darah. Kalau dihirup bumil tiap hari, janin di perut auto wassalam! Lu kate gue bego apa kaga tahu herba ginian?!"
Magnus terdiam. Ia menatap wadah dupa itu dengan kening berkerut. Sebagai ksatria yang sering berperang, ia memang tahu beberapa jenis racun, tapi ia tidak pernah mendalami urusan herba khusus wanita di dalam harem.
"Jika apa yang kau katakan adalah sebuah kebohongan untuk menarik perhatianku, aku tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara bawah tanah, Alessia," ucap Magnus dingin, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Alesia dari kerah jubahnya.
"Lepaskan tanganmu dari bajuku, Alessia!" seru Magnus lagi.
"Gue kaga bakal bohong soal nyawa anak gue sendiri ya, Bambang! Eh, sori, nama lu siapa tadi? Mangnus? Magnus? Bodo amat lah ya. Pokoknya kalau lu emang pinter jadi raja, lu buktiin omongan gue! Panggil tabib paling jujur di luar istana, suruh periksa nih dupa!" tantang Alesia seraya melepaskan cengkeraman tangannya dengan dorongan kuat.
Magnus terhuyung selangkah ke belakang. Ia benar-benar syok. Istrinya yang biasanya bicaranya selembut sutra dan selalu menunduk ketakutan, kini mendadak menjadi sangat beringas, bermulut kotor, dan bahkan memiliki tenaga yang cukup kuat untuk mendorongnya.
"Siapa yang mengajarimu berbicara kasar dan bertingkah tidak tahu sopan santun seperti ini, Alessia?!" tanya Magnus dengan tatapan menyelidik yang tajam.
Alesia berkacak pinggang lagi, melompat turun dari kasur dengan lincah seperti kucing, dan berdiri tegak menghadap Magnus. "Kagak ada yang ngajarin! Ini gaya asli gue! Lu kaga suka? Ya udah, ceraiin gue aja ribet amat! Keluarin gue dari istana lu yang penuh ular kobra ini!"
Mendengar kata 'cerai', rahang Magnus langsung mengeras. Entah mengapa, ada letupan emosi aneh yang tidak ia mengerti di dalam dadanya mendengar wanita ini begitu mudah meminta berpisah.
"Minta cerai? Tidak akan pernah!" desis Magnus sambil mencengkeram kedua bahu Alesia dengan kuat. "Kau adalah milikku, Alessia. Kau masuk ke istana ini sebagai ratuku, dan kau hanya akan keluar dari sini sebagai mayat!"
Alesia tidak gentar. Ia justru tersenyum miring, lalu dengan gerakan kilat yang tidak terduga, ia melakukan teknik kuncian silat. Ia memutar pergelangan tangan Magnus dan menekuknya ke belakang punggung sang raja dalam sekejap mata.
"Aww!" Magnus meringis tertahan saat merasakan nyeri di persendian lengannya. Ia terpaksa membungkuk karena kuncian Alesia yang sangat presisi.
"Eh, denger ya Bos kaku!" bisik Alesia tepat di telinga Magnus yang sedang terkunci. "Jangan main fisik sama gue kalau lu kaga mau tulang lu geser! Mulai hari ini, gue bukan Alessia yang lemah lembut lagi. Kalau lu mau anak dari gue, lu kudu pastiin dulu keamanan gue dari racun-racun gundik lu! Dan yang paling penting... lu kudu buat gue jatuh cinta dulu sama lu! Lu pikir bikin anak kagak butuh perasaan?!"
Alesia melepaskan kunciannya dengan sekali sentakan kuat, membuat sang raja sempat terhuyung ke depan sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali.
Magnus membalikkan badannya dengan napas yang memburu. Matanya menatap Alesia dengan campuran rasa marah, tidak percaya, dan... sedikit ketertarikan yang tidak bisa ia pungkiri. Istrinya yang sekarang benar-benar terasa sangat hidup dan menantang.
"Baik," ucap Magnus akhirnya dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang karena syok sekaligus berdebar aneh. "Aku akan memanggil tabib pribadiku dan menyelidiki dupa ini. Tapi ingat, Alessia... Jika kau terbukti hanya mengada-ada demi menghindar dari tugasmu melahirkan ahli waris, aku sendiri yang akan menghukummu di atas ranjang ini sampai kau memohon ampun!"
Setelah mengucapkan kalimat bernada ancaman (yang diam-diam diselimuti rasa gengsi yang tinggi itu), Raja Magnus berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kamar dengan jubah hitamnya yang berkibar emosional.
Alesia hanya mencibir melihat kepergian suaminya. "Dih, ngancemnya ngeri amat si Bambang kaku! Lu pikir gue takut?! Sini lu kalau berani tanding silat lawan anak Abah!"
"Yang... Yang Mulia..." Lily yang sejak tadi terduduk di lantai akhirnya berani bersuara dengan tubuh yang masih gemetaran hebat. "Tadi itu... tadi itu Anda apakan tangan Yang Mulia Raja? Kenapa beliau sampai tidak berkutik?!"
Alesia menoleh ke arah pelayannya yang masih ketakutan itu, lalu menyeringai lebar. "Itu namanya jurus 'Tekuk Lele' warisan Abah gue, Neng! Mulai hari ini, lu tenang aja. Kagak bakal ada lagi yang berani nindas kita di istana ini. Ayo bantuin gue, gue laper pengen makan bakso! Eh, di sini ada tukang bakso urat keliling kaga?!"
Lily hanya bisa melongo lebar, bertanya-tanya apakah jiwa ratunya yang malang beneran sudah tertukar dengan mahluk gaib dari dimensi lain.
Alesia masih asyik mengunyah paha ayam kalkun panggang yang disajikan di atas nampan emas. Di dunia asalnya, makan enak begini cuma kalau Abah habis gajian dari melatih aparat. Sekarang, di depannya terhidang makanan bintang lima yang bisa ia santap sepuasnya tanpa harus memikirkan sisa saldo ATM.
"Buset dah, ini ayam empuk bener ya, Neng! Coba ada sambal korek sama pete bakar, makin mantap dah ini!" seru Alesia sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangan.
Lily yang berdiri di sudut kamar hanya bisa mengelus dada melihat etika makan junjungannya yang hancur lebur. "Yang Mulia... hamba mohon pelankan suara Anda. Dan tolong gunakan garpu perak itu. Kalau sampai terlihat kepala pelayan, Anda bisa dihukum belajar tata krama lagi!"
"Dih, ogah! Makan pakai tangan begini nikmatnya nambah seribu persen tahu! Lagian siapa sih yang mau ngintip? Kan pintunya udah lu kunci rapat tadi," sahut Alesia santai seraya mencomot buah anggur.
"Tap—"
BRAAAK!
Pintu kamar yang tadi dikunci rapat tiba-tiba didobrak paksa dari luar. Alesia yang hampir memasukkan anggur ke mulutnya sampai tersedak saking kagetnya.
"Uhuk! Uhuk! Buset dah! Ini pintu istana kaga ada engselnya apa gimana sih?! Hobinya didobrak mulu dari tadi!" omel Alesia seraya menepuk-nepuk dadanya.
Seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala yang luar biasa megah melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya, mengekor empat orang dayang yang langsung menatap Alesia dengan pandangan meremehkan. Wanita itu adalah Selir Rose, musuh bebuyutan permaisuri asli dan dalang di balik beberapa kegugurannya yang lalu.
"Oh, astaga... Lihatlah siapa yang baru saja bangun dari maut!" sindir Selir Rose dengan senyum palsu yang memuakkan. Ia menutup hidungnya dengan kipas bulu. "Dan astaga, Permaisuri, kenapa Anda makan seperti rakyat jelata yang kelaparan begitu? Sungguh memalukan nama keluarga kerajaan!"
Alesia menatap wanita di depannya dari bawah sampai atas. Wah, gundik yang ini sok kecakepan bener. Bedaknya tebel amat kayak tembok kelurahan, batin Alesia gemas.
"Lu siapa sih? Datang-datang kaga permisi, malah langsung nyap-nyap kayak burung beo!" semprot Alesia tanpa ragu.
Senyum palsu di wajah Selir Rose langsung luntur seketika. Ia menurunkan kipasnya dengan ekspresi tidak percaya. "Apa?! Anda tidak mengenali saya, Yang Mulia? Saya Rose! Selir kesayangan Yang Mulia Raja! Apakah keguguran kali ini juga membuat otak Anda ikut rusak?!"
Lily langsung gemetaran di belakang Alesia. "Ma-maafkan Yang Mulia Permaisuri, Selir Rose. Beliau baru saja sadar dan—"
"Heh, Neng Lily! Kaga usah minta maaf sama uler kadut begini!" potong Alesia cepat. Ia bangkit dari duduknya, berkacak pinggang, dan menatap Rose dengan mata menyipit.
"Oh, jadi lu yang namanya mawar merah merona ini? Denger ya, Mba Rose. Lu emang cakep, tapi sayang mulut lu kaga ada saringannya! Lu kate otak gue rusak? Otak gue mah masih tokcer! Otak lu tuh yang geser karena kebanyakan pakai parfum kaga jelas!" balas Alesia ngegas.
Selir Rose melongo. Semua dayang pengiringnya juga ikut melongo. Permaisuri Alessia yang biasanya hanya bisa menangis diam saat disindir, kini mendadak membalas ucapannya dengan bahasa aneh yang sangat kasar.
"Berani sekali Anda bicara seperti itu pada saya! Biar Anda tahu ya, semalam Yang Mulia Raja tidur di kamar saya karena beliau sangat muak melihat rahim Anda yang tidak berguna itu!" ujar Rose mencoba memanasi Alesia.
Alesia justru tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu. "Hahaha! Ya bagus dong! Ambil dah tuh si Bambang kaku! Gue mah kaga rugi! Lu urusin dah tuh suami yang mukanya kaku kayak kanebo kering. Gue mah mending fokus makan enak di sini!"
"Ap... apa?! Anda menyebut Yang Mulia Raja apa tadi?!" Rose semakin syok mendengar panggilan tidak sopan dari mulut permaisuri.
"Udah ah, kaga usah banyak bacot lu di kamar gue. Sekarang mending lu keluar dah sebelum emosi gue naik!" usir Alesia seraya mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat.
Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan para dayangnya, Selir Rose menjadi gelap mata. Ia maju beberapa langkah dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat untuk menampar wajah Alesia.
"Rasakan ini, wanita tidak bergu—"
HUP!
Belum sempat telapak tangan Rose mendarat di pipi mulus Alesia, pergelangan tangan lentiknya sudah dicengkeram kuat oleh Alesia di udara.
Alesia menyeringai dingin. "Wah, maen fisik nih ceritanya? Lu kaga tahu ya kalau bapak gue itu pawang ular kobra di Depok?!"
"Lepaskan! Sakit! Berani sekali Anda menyentuh saya!" jerit Selir Rose kesakitan saat Alesia meremas pergelangan tangannya makin kuat.
"Ini belum seberapa, Mba Mawar!"
Alesia menarik tangan Rose ke depan, memutar tubuhnya sedikit, dan menggunakan pinggulnya untuk menjegal kaki Selir Rose dengan teknik bantingan silat 'Cikrak Sampah'.
BRUK!
Hanya dalam satu detik, tubuh ramping Selir Rose sudah terbanting keras ke lantai marmer yang dingin dengan posisi telentang konyol.
"AAAAAKH! Pinggangku!" jerit Rose histeris. Kipas bulu indahnya patah menjadi dua, dan tatanan rambutnya yang tinggi langsung acak-acakan menyerupai sarang burung.
"SELIR ROSE!" jerit keempat dayang pengiringnya serentak. Mereka langsung panik mengerubungi selir tersebut.
"Yang Mulia! Anda... Anda banting dia?!" Lily sampai menutup matanya karena terlalu syok dengan aksi barbar ratunya.
Alesia merapikan baju tidurnya dengan santai. Ia berkacak pinggang di depan Selir Rose yang masih mengaduh kesakitan di lantai. "Makanya, kalau kaga jago gelut kaga usah sok jagoan nantangin anak Abah! Itu baru pemanasan ya. Kalau lu berani usik gue lagi, atau berani racunin makanan gue lagi, bakal gue patahin tuh tulang punggung lu sampai kaga bisa goyang lagi! Paham lu?!"
"Anda... Anda gila! Saya akan laporkan ini pada Yang Mulia Raja! Anda melakukan kekerasan fisik pada saya!" ancam Selir Rose dengan air mata yang mulai bercucuran karena menahan nyeri di pinggangnya.
"Laporin aja sono! Paling ntar lakinya pusing sendiri denger aduan lu yang menye-menye itu! Buruan angkat kaki gundik lu dari kamar gue, sebelum gue keluarin jurus tendangan tanpa bayangan nih!" seru Alesia seraya memasang kuda-kuda silat andalannya.
Melihat Alesia yang tampak sangat siap untuk menghajar mereka lagi, para dayang Selir Rose langsung buru-buru memapah majikan mereka yang sudah menangis sesenggukan itu keluar dari kamar dengan sangat tergesa-gesa.
Setelah pintu kamar tertutup kembali (kali ini tidak didobrak, tapi dibanting dari luar oleh dayang yang ketakutan), Alesia langsung menghela napas lega dan kembali duduk di kasur.
"Hah! Beres juga satu hama. Neng Lily, ambilin air putih dong! Seret nih habis banting orang!" pinta Alesia dengan santai seolah baru saja melakukan aktivitas biasa.
Lily mengambilkan segelas air dengan tangan yang masih gemetaran hebat. "Yang Mulia... Anda benar-benar nekat. Selir Rose adalah keponakan dari Perdana Menteri yang sangat berkuasa. Jika Yang Mulia Raja marah karena aduan ini, posisi Anda benar-benar bisa terancam!"
"Halah, kaga usah takut, Neng! Selama ada jurus silat Abah di badan gue, kaga bakal ada yang bisa nyentuh kita sembarangan. Lagian si Mangnus kaku itu juga kayaknya lagi sibuk ngecek dupa beracun yang gue kasih tahu tadi," jawab Alesia percaya diri seraya meneguk air putihnya sampai habis.
Tepat setelah Alesia menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki yang berat dan tegas kembali terdengar dari arah lorong luar kamar. Pintu kamar tersebut terbuka lagi dengan perlahan.
Berdiri di sana adalah Raja Magnus, sendirian tanpa pengawal, dengan ekspresi wajah yang sangat sulit diartikan.
Alesia langsung memutar bola matanya malas. Buset dah. Baru juga diomongin, kanebo keringnya beneran dateng lagi! batin Alesia gemas.
Raja Magnus berdiri mematung di ambang pintu. Matanya yang tajam seperti elang menyapu seluruh sudut kamar, lalu berhenti tepat di wajah Alesia yang masih memegang gelas air putih dengan gaya santai—kaki satu diangkat ke atas kursi, persis seperti orang lagi nongkrong di warkop.
"Baru saja aku berpapasan dengan Rose," suara Magnus berat dan rendah, bergema di ruangan yang mendadak sunyi itu. "Dia menangis histeris sampai suaranya terdengar ke paviliun seberang. Katanya, kau mencoba membunuhnya dengan ilmu hitam?"
Alesia hampir tersedak air putihnya. Ia meletakkan gelasnya dengan bunyi thud yang keras di meja emas.
"Ilmu hitam mata lu soak, Bang!" semprot Alesia sambil mengelap bibirnya. "Itu namanya teknik bela diri, Bang Magnus yang ganteng tapi kaku! Dia duluan yang mau nampol gue, ya gue kasih 'hadiah' dikit biar pinggangnya makin aduhai. Lagian, itu cewek lu ya? Bilangin, kalau mau nampar orang, minimal latihan angkat beban dulu biar kaga lembek kayak tahu sisa semalem!"
Lily yang berdiri di pojokan sudah hampir pingsan. "Yang Mulia Permaisuri... hamba mohon... itu Baginda Raja..." bisiknya dengan suara gemetar.
Magnus melangkah masuk, menutup pintu besar itu dengan satu tangan. Auranya sangat menekan, membuat Lily buru-buru menunduk dan keluar dari kamar tanpa disuruh. Sekarang, hanya tinggal mereka berdua. Magnus berjalan mendekat, jaraknya kini hanya sejangkauan tangan dari Alesia yang masih duduk dengan pose "barbarnya".
"Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, Alessia," ucap Magnus sambil mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke mata Alesia. "Tidak ada Permaisuri di dunia ini yang berani menyebut selir raja sebagai 'tahu sisa semalam', apalagi membantingnya ke lantai marmer sampai pingsan."
Alesia tidak gentar. Ia justru berdiri, membuat wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja. Bau parfum maskulin Magnus yang segar bercampur aroma kayu cendana sempat membuat hidung Alesia kembang-kempis. Duh, ganteng-ganteng kok galak banget sih nih kanebo kering, batinnya.
"Ya sekarang ada! Nih, di depan mata lu!" Alesia menunjuk dadanya sendiri dengan jempol. "Denger ya, Bang Magnus. Gue capek dibilang lemah. Gue capek dibilang mesin anak. Mulai sekarang, siapa pun yang naruh tangan di muka gue, bakal gue bikin mereka sujud syukur di ubin. Termasuk lu kalau berani macem-macem!"
Bukannya marah, Magnus justru merasakan desiran aneh di dadanya. Keberanian Alesia yang meledak-ledak ini jauh lebih menarik daripada Alessia yang dulu, yang selalu bicara dengan nada yang hampir tidak terdengar dan selalu menunduk ketakutan.
"Soal dupa itu..." Magnus menggantung kalimatnya. Ia merogoh sesuatu dari balik jubah hitamnya yang megah. Sebuah kantong kecil berisi sisa arang dupa yang tadi dibuang Alesia. "Aku sudah menyuruh tabib pribadiku memeriksanya secara rahasia. Dan kau benar. Ada kandungan Akar Darah yang dosisnya sangat tinggi. Itu bisa menyebabkan kontraksi hebat pada wanita hamil jika dihirup terlalu lama."
Mendengar itu, ekspresi Alesia melunak sedikit, berganti dengan sorot mata tajam penuh dendam. "Nah, kan! Gue bilang juga apa! Lu tuh Raja, Bang. Harusnya lu jagain bini lu, bukan cuma tau beres doang pas mau 'bikin' ahli waris. Lu tau nggak betapa menderitanya 'Alessia' yang dulu? Dia sedih, dia ngerasa gagal, padahal dia cuma korban dari gundik-gundik lu yang haus kuasa!"
Magnus terpaku. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menusuk hatinya. Selama ini ia memang terlalu fokus pada urusan perbatasan dan politik, menganggap urusan dalam istana adalah hal sepele yang bisa diselesaikan para wanita sendiri.
"Aku akan menghukum siapa pun pelayan yang membawa dupa itu ke kamarmu," ucap Magnus tegas.
"Hukum pelayannya doang? Dih, cetek amat pemikiran lu, Bang!" Alesia mencibir sambil berkacak pinggang. "Pelayan mah cuma kacung! Yang punya niat jahat itu majikannya. Lu kudu usut sampai ke akar-akarnya. Kalau perlu, geledah tuh kamar selir-selir lu satu per satu. Pasti ada barang bukti lain!"
Magnus menghela napas panjang. Ia berjalan menuju ranjang raksasa di tengah ruangan, lalu duduk di pinggirnya dengan angkuh. "Istana tidak sesederhana itu, Alessia. Ada politik di belakang mereka. Perdana Menteri, ayah Rose, adalah pendukung utamaku di dewan."
"Oalah... jadi lu takut sama mertua lu sendiri? Cemen amat jadi Raja!" Alesia tertawa meremehkan, membuat rahang Magnus mengeras. "Kalau lu takut, ya udah. Biar gue yang turun tangan pakai cara gue sendiri. Tapi jangan salahin gue kalau ntar istana lu ini jadi ring tinju!"
Magnus tiba-tiba berdiri dan dalam satu gerakan cepat, ia menangkap pinggang Alesia, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Alesia tersentak, tangannya refleks menempel di dada bidang Magnus yang keras seperti batu kali.
"Kau menantangku, Permaisuri?" bisik Magnus tepat di depan bibir Alesia. Suaranya rendah dan penuh ancaman, tapi matanya menunjukkan ketertarikan yang dalam. "Kau pikir aku selemah itu sampai harus takut pada perdana menteri? Aku hanya butuh waktu untuk mencabut akarnya sampai habis."
"Waktu, waktu... keburu gue mati diracun lagi kalau nungguin waktu lu!" balas Alesia, meski jantungnya mulai dug-dugan kencang.
"Mulai malam ini, aku akan tidur di sini," putus Magnus tiba-tiba.
"APA?!" Alesia melotot sampai matanya mau keluar. "Eh, enak aja! Kagak bisa! Gue lagi masa iddah—eh, maksudnya gue lagi pemulihan! Kagak boleh ada aktivitas produksi dulu! Lagian lu baru dari kamar si Mawar kan?"
Magnus menyeringai tipis—senyum pertama yang dilihat Alesia di wajah kaku itu. "Siapa yang bilang mau 'produksi'? Aku hanya ingin memastikan tidak ada lagi dupa atau makanan beracun yang masuk ke kamar ini. Aku akan menjagamu sendiri."
"Nggak usah! Gue bisa jaga diri gue sendiri pakai jurus Golok Seliwa!"
"Aku tidak menerima penolakan, Alessia. Ini perintah Raja."
Magnus melepaskan pelukannya, lalu mulai melepas jubah luar dan kancing kemeja atasnya, memperlihatkan bahu lebar dan otot leher yang tercetak jelas. Alesia berdiri mematung di pinggir tempat tidur.
"Eh, Bang! Lu ngapain buka-buka baju? Ini kamar gue, ya wilayah kedaulatan gue! Lu tidur di sofa sono, atau balik ke kandang mawar lu tadi!" seru Alesia sambil menunjuk sofa beludru di pojok ruangan.
Magnus menghentikan gerakannya, menoleh dengan satu alis terangkat. "Seluruh jengkal tanah di kerajaan ini adalah milikku, termasuk ranjang ini. Dan kau... adalah istriku yang sah. Kenapa aku harus tidur di sofa?"
"Istri, istri... Lu baru inget gue istri pas mau tidur doang?" Alesia naik ke atas kasur, duduk bersila di tengah-tengah dengan gaya menantang. "Gak ada! Pokoknya gue kaga mau berbagi kasur sama laki yang kaga ada empati kayak lu! Kalau lu mau tidur di sini, lu kudu lewatin mayat gue dulu!"
Magnus menatap kaki mungil Alesia yang menghalangi jalannya. "Kau benar-benar bicara seperti orang dari negeri antah berantah. Apa itu 'cemen'? Apa itu 'kanebo'? Dan kenapa kau tidak punya sopan santun sama sekali?"
"Berisik! Pokoknya jangan lewat batas!" Alesia mengambil bantal, lalu meletakkannya di tengah kasur sebagai pembatas. "Ini namanya garis khatulistiwa. Sebelah sini wilayah Jakarta Barat, sebelah sono wilayah lu. Kalau lu lewat garis tengah, gue tendang lu sampai ke kutub utara!"
Magnus terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ia menangkap pergelangan kaki Alesia. Dengan satu sentakan pelan namun bertenaga, ia menarik Alesia hingga wanita itu terbaring telentang di kasur. Dalam sekejap, Magnus sudah berada di atasnya, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Alesia.
"Lu... lu mau ngapain, Tong?! Jangan macem-macem ya! Gue teriak nih!" ancam Alesia, meskipun wajahnya sudah merah padam.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan aneh. Dan berhenti melawan suamimu, Alessia," bisik Magnus. Matanya mengunci tatapan Alesia. "Kau pikir jurus 'silat' mu itu bisa mengalahkanku di atas ranjang ini?"
Alesia menyeringai, insting petarungnya bangkit. "Oh, lu nantangin? Belum tau lu kalau gue udah keluarin jurus 'Pitingan Leher'!"
Dengan kelincahan luar biasa, Alesia melingkarkan kakinya ke pinggang Magnus dan menggunakan lengannya untuk mengunci leher sang raja. Mereka berguling di atas kasur yang luas itu. Magnus mencoba melepaskan kuncian tangan Alesia yang tak disangka sangat kuat dan teknis.
"Lepas... kan... Alessia!" Magnus mengerang, setengah kesal setengah takjub karena baru kali ini ada wanita yang berani "bergulat" dengannya.
"Kagak mau! Lu tidur di sofa dulu, baru gue lepasin!" seru Alesia sambil terus mengunci leher Magnus.
Akhirnya, Magnus berhasil membalikkan keadaan dengan tenaga besarnya, mengunci kedua tangan Alesia di atas kepala wanita itu. Napas keduanya memburu. Rambut Alesia berantakan, sementara kemeja Magnus sudah hampir copot semua kancingnya.
"Kau benar-benar gila," ucap Magnus sambil menatap mata Alesia. "Tapi aku akui... kau jauh lebih hidup sekarang. Tidurlah. Aku tidak akan menyentuhmu lebih dari ini. Aku hanya ingin kau aman."
Magnus melepaskan kunciannya, lalu berbaring di sisi lain bantal pembatas. Alesia merapikan baju tidurnya sambil mendengus.
"Awas lu kalau ngorok! Gue sikut ginjal lu ntar!" gumam Alesia sambil menarik selimut.
Malam itu, untuk pertama kalinya, kamar Permaisuri yang biasanya penuh tangisan berubah menjadi medan pertempuran kecil yang penuh tawa dan amarah. Di balik sikap barbarnya, Alesia tahu... hidupnya di istana ini baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!