Malam itu, hujan turun seolah langit ikut menangis di atas RS Medika. Di lantai VIP, Doni berdiri dengan tubuh gemetar di depan ruang ICU. Pria yang kini menjadi pemimpin tunggal imperium bisnis mendiang mertuanya itu kehilangan seluruh kekuatannya. Ia baru saja mendapatkan kabar bahwa Ambar, istri yang sangat dicintainya, mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan putri pertama mereka.
"Maafkan kami, Pak Doni. Nyawa Ibu Ambar tidak tertolong," ucap dokter dengan suara rendah.
Doni ambruk. Di saat ia berada di puncak kesuksesan, ia justru kehilangan napas hidupnya. Ia bahkan belum sanggup melihat bayi perempuannya yang masih berada di ruang inkubator. Baginya, dunia mendadak gelap gulita.
Di bangsal kelas tiga rumah sakit yang sama, Seina meringis kesakitan seorang diri. Tidak ada karpet merah, tidak ada dokter spesialis. Hanya ada kegetiran.
Baru dua tahun yang lalu ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena meninggalkan Doni yang miskin demi Brama. Namun, takdir bercanda padanya. Brama meninggal dalam kecelakaan tragis saat Seina tengah hamil besar, meninggalkan hutang yang menumpuk. Perusahaan besar tempat Brama bekerja dulu, yang ternyata adalah milik Doni, bahkan tidak memberikan pesangon besar karena posisi Brama yang bermasalah sebelum meninggal.
Seina melahirkan seorang bayi perempuan di malam yang sama dengan wafatnya Ambar. Saat ia menggendong bayinya, ia melihat berita di televisi rumah sakit: “Kabar Duka, Istri CEO Muda Doni Daneswara Meninggal Dunia Usai Melahirkan Putri Pewaris Tunggal.”
Lantai VIP rumah sakit itu terasa mencekam. Doni hanya terduduk diam di pojok ruangan, menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya hancur. Istrinya, Ambar, telah pergi selamanya. Di dalam boks bayi mewah, seorang bayi perempuan yang baru lahir menggeliat. Di pergelangan tangannya melingkar gelang identitas bertuliskan, Eliza Daneswara.
"Maafkan Papa, Eliza... Papa belum sanggup melihatmu," bisik Doni pelan, suaranya serak karena tangis yang sudah mengering.
___
Dendam dan rasa iri membakar hati Seina. Ia menatap putranya yang masih kecil, Saka, dan bayi perempuannya yang baru lahir. Ia membayangkan hidupnya yang akan hancur dalam kemiskinan, sementara anak Doni akan hidup bergelimang harta di atas penderitaannya.
Didalam hatinya terbesit ide licik yang akan merubah hidup putrinya agar tidak merasakan kesusahan seperti dirinya saat ini, dan perlahan,ia akan masuk lagi di kehidupan Doni yang sekarang menjadi seorang duda tajir.
Saat perawat sedang sibuk karena keadaan darurat di ruang ICU, Seina yang masih lemah memaksakan diri berjalan menuju ruang bayi. Ia melihat bayi perempuan Doni yang diberi gelang nama "Putri Ambar Doni yang bernama Eliza Daneswara".
"Dulu aku meninggalkanmu karena kamu miskin, Doni. Sekarang, aku tidak akan membiarkan anakku hidup melarat sepertiku," bisik Seina tajam.
Saat perawat sedang lengah karena pergantian shift malam, Seina menyelinap. Dengan jantung berdegup kencang, ia menukar bayi di pelukannya dengan bayi yang ada di boks bertuliskan nama Eliza ia melepaskan gelang nama di tangan mungil Eliza asli ,dan memakaikan nya pad putri mungilnya, serta aksesoris lain yang membuat curiga.
"Mulai sekarang, kau adalah putriku, Maudi," bisik Seina pada bayi asli Doni yang kini ada di pelukannya. "Dan anakku... kau akan hidup seperti ratu di sana."
Seina berjalan pergi,menemui putranya yang ia letakkan di samping toilet rumah sakit yang tidak jauh dari ruangan inkubator.
" Ayo Saka ,kita pulang " ajak seina lembut, meski sekarang ia tidak memiliki apa-apa, namun seina sangat menyayangi anak-anaknya,
Saka hanya mengangguk, usia Saka baru satu tahun setengah, jadi ia belum mengerti apa-apa.
Setelah melakukan administrasi, seina berjalan dengan tertatih keluar dari rumah sakit dengan membawa bayi Ambar, yang ia beri nama Maudi. Rasa nyeri di bagian bawah masih terasa,namun ia memaksakan diri untuk pulang ke kontrakannya, karena rumah dan semua aset yang ia miliki sudah di sita oleh Bank, jadi ia tidak bisa berlama-lama tinggal di rumah sakit.
"ma....lapal" ucap Saka dengan mulut cadelnya...
"iya sayang, sebentar lagi kita sampai" sahut Seina mengelus rambut putranya yang terlihat kurus...
Melahirkan anak kedua tanpa di temani siapapun membuat dirinya semakin kuat.
" sabar sayang, mama pastikan, kalian akan hidup dengan bergelimang harta" gumam Seina dalam hati.
Sedangkan, bayi Ambar yang kini bernama Maudi hanya bisa tertidur... seperti tidak ada rasa lapar sedikitpun,dan itu membuat Seina merasa cukup tenang, setidaknya bayi Doni tidak merepotkan.
___
Keesokan harinya, setelah pemakaman Ambar, barulah Doni menemui putrinya yang di bawa oleh perawat ke rumahnya, di ruangan yang besar dan ber cat pink itu suasananya begitu kacau... Eliza yang dari semalam tidak mau diam karena menangis ini membuat Doni ingin menggendongnya...
Dengan tangan bergetar, Doni mengambil Eliza dari tangan perawat nya...
oek....oek....oek....
"maafkan papa nak, dari kemarin papa mengabaikanmu, apa masih sakit karena mamamu meninggalkan papa..., mamamu tidak menepati janjinya, padahal mamamu sudah berjanji akan menemani papa sampai papa tua nanti" ucap Doni dengan terisak.
namun Eliza tetap saja menangis bahkan semakin kencang , seolah ia tahu, kalau yang menggendong itu bukan ayahnya...., sang perawat mencoba memberikan susu formula, namun Bayi itu menolak , bahkan perawat sudah mencobanya semua jenis susu formula, bahkan yang paling mahal sekalipun. Tubuhnya mulai melemah karena tidak mau menyusu.
"dari kemarin nona Eliza tidak mau minum susu formula Tuan, mungkin ia menginginkan ASI ibunya" ucap sang perawat dengan takut.
Doni panik. Ia tidak ingin kehilangan satu-satunya peninggalan Ambar. "Cari ibu susu! Cari siapa saja yang bisa memberikan ASI. Saya akan bayar berapa pun!" perintah Doni kepada asistennya dengan nada putus asa.
Para perawat yang masih berjaga di sudut kamar Eliza terkejut sekaligus takut melihat wajah gelap tuannya.
Kabar itu sampai ke telinga Seina yang saat itu sedang menyusui Maudi bayi asli Doni di kontrakan sempitnya. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ini adalah kesempatan emas untuk masuk ke kehidupan Doni dan tetap bisa mengawasi putri kandungnya sendiri yang kini menjadi Eliza.
"Saka...., mama berjanji, ini untuk terakhir kalinya kita tinggal di sini, mama akan berusaha agar Saka hidup enak" ucap Seina dengan wajah sumringah...
"benalkah mama?" sahut Saka dengan senang.
Setelah Maudi tidur, Seina menyuapi Saka dengan bubur instan yang baru ia beli di warung...
"ma....tenapa papa Ndak pulang-pulang?" tanya saja yang membuat Seina tersentak, walaupun ia tidak begitu mencintai Brama namun Saka tetaplah putra Brama.
" Saka ingin Papa yang punya rumah besar lagi?" tanya Seina tersenyum licik.
Saka yang polos mengangguk " iya Mama, Saka mau" jawab Saka dengan girang.
Keesokan harinya, Seina datang ke kediaman megah Daneswara dengan pakaian sederhana namun rapi. Ia membawa Maudi yang tertidur pulas dalam gendongan kainnya, serta Saka yang ia tuntun.
Pintu gerbang terbuka sedikit, seorang penjaga datang menemui..
"ada apa ya Mbak?, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga dengan ramah.
"maaf ..., kemarin saya mendengar kalau pemilik rumah ini membutuhkan Asi, kebetulan, saya juga baru melahirkan, dan Asi Saya sangat banyak, anak saya kewalahan, padahal sudah di bantu kakaknya" jawab Seina dengan ramah.
Sang penjaga melihat wajah saka yang menyedihkan namun tetap lucu, "sebentar ya, saya menghubungi tuan Doni dulu".
setelah menghubungi pemilik rumah, penjaga rumah mempersilahkan Seina untuk masuk karena sudah ditunggu oleh Tuan Doni.
"Silahkan masuk mbak, Tuan Doni sudah menunggu Anda di ruang tamu.
Dengan langkah mantap, Seina berjalan mendekat ke arah mansion yang jarak antara pintu utama dan gerbang sangat jauh.
pelayan yang menjaga di depan teras. Segera mengantarkan Seina ke ruang tamu.
Doni tertegun saat melihat wanita di depannya. "Seina? Kamu..."
Seina memasang wajah paling sedih yang ia miliki. "Brama sudah meninggal, Don. Aku hidup susah sekarang. Aku dengar putri kandungmu tidak mau menyusu... aku baru saja melahirkan, dan ASIku sangat melimpah , padahal Putraku juga masih ikut minum Asi. Biarkan aku membantu, setidaknya sebagai bentuk penebusan dosaku di masa lalu."
Doni, yang sudah tidak punya pilihan lain melihat kondisi Eliza yang melemah, akhirnya mengangguk. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja memasukkan serigala ke dalam rumahnya.
Seina tersenyum dalam hati. Di satu sisi ia akan menyusui putri kandungnya sendiri yang sekarang bernama Eliza untuk mendapatkan kemewahan. Di tangan lain, ia menggendong Maudi, putri asli Doni, yang ia rencanakan akan ia besarkan sebagai pengingat akan kemenangannya atas nasib.
"Sus....bawa Eliza kemari" seru Doni kepada perawat yang mengurus putrinya...
Dengan berjalan cepat namun, benar-benar dengan langkah yang pasti dan penuh ke hati-hatian suster datang dengan membawa Eliza yang berwajah pucat yang dari semalam terus menangis.
Suster mengajak Seina agar bisa menyusui Eliza dengan mudah.
"Anda bisa meletakkan bayi anda yang satunya di sini nona" ucap sang perawat dengan ramah, karena ada Doni yang masih berdiri di ambang pintu.
Seina segera meletakkan Maudi di sofa lebar yang berada di samping dirinya dengan ditemani oleh Saka...
perawat memberikan Eliza yang masih menangis pada Seina dengan hati-hati.... dalam waktu sekejap Eliza langsung terdiam berada di pangkuan Seina membuat Doni yang masih berdiri tertegun.
"kenapa bisa" gumamnya pelan...
"ah mungkin karena Seina juga sudah memilikinya bayi, jadi Elisa bisa nyaman bersamanya". Doni masih larut dalam pikirannya sampai Seina berdehem.
"ehmmmm....kau bisa keluar dulu Don, aku akan menyusui anakmu dulu" ucap Seina dengan lembut.
Ehmmmm...
Doni berdehem,lalu keluar ....
Perawat yang menjaga Eliza tetap berdiam diri karena belum percaya dengan orang baru, Seina dengan senang hati menyusui putri kecilnya yang menurutnya sangat pintar " kau sangat pintar nak, teruslah begini, sampai mama bisa berada di sisimu selamanya" gumam Seina tersenyum licik.
Sedangkan Maudi dari tadi hanya anteng bersama Saka....
Saka melihat mamanya menyusui anak orang lain, terlihat sangat berbeda saat mamanya menyusui Maudi.
"mama, Tenapa nen na lama tekali, adek modi nen nya, tebental " ucap saka dengan polosnya.
"adek Eliza dari semalam tidak menyusu sayang,jadi dia kelaparan" sahut Seina dengan lembut, membuat perawat yang dari tadi berdiri mematung dengan tatapan tidak suka kini mulai melembut karena melihat perlakuan Seina kepada anak-anaknya.
"tapi nanti , nen na abis, adek modi dak tebadian " protes Saka pada mamanya...
Seina terkekeh mendengar ucapan putranya yang polos." sayang, ASI itu semakin di keluarkan malah akan semakin banyak, jadi kakak saka tidak usah khawatir, Maudi tetap kebagian, Saka juga sama, "
"saka dak mau nen ladi, katian mama, nanti tambah tulus " Seina terkekeh melihat wajah putranya yang polos begitupun dengan perawat yang ikut gemas melihat tingkah menggemaskan putra pertama Seina.
Setelah beberapa saat, Eliza tertidur pulas dalam pelukan Seina. Napas bayi itu yang tadinya tersengal karena kelelahan menangis, kini menjadi teratur dan tenang. Seina membetulkan letak pakaiannya dengan gerakan anggun yang sengaja ia buat-buat agar terlihat sopan di mata perawat yang terus memperhatikannya.
"Dia sudah tidur, Suster," bisik Seina lembut.
Perawat itu mendekat, lalu dengan sangat hati-hati mengambil Eliza dari dekapan Seina. Ada rasa lega yang luar biasa terpancar dari wajah sang perawat. "Luar biasa... sejak semalam kami semua di rumah ini tidak bisa tidur karena Nona Muda Eliza tidak mau berhenti menangis. Terima kasih banyak, Bu Seina."
Seina hanya mengangguk rendah hati, lalu ia beralih pada Maudi yang sejak tadi hanya diam menatap langit-langit ruangan dari sofa, ditemani Saka yang setia memegang tangan mungil adiknya.
Doni kembali masuk ke ruangan setelah perawat meletakkan Eliza kembali ke boks bayinya. Langkah kakinya yang berat bergema di atas lantai marmer. Ia menatap ke arah boks bayi, lalu beralih pada Seina.
"Dia tenang sekarang," ucap Doni singkat, suaranya masih terdengar datar namun ada nada lega yang terselip. "Terima kasih, Seina. Aku tidak menyangka kamu akan datang di saat seperti ini."
"Aku tidak tega mendengar kabar itu, Don. Bagaimanapun, anak ini tidak berdosa," jawab Seina sambil menunduk, menyembunyikan kilat kemenangan di matanya.
Doni kemudian melirik jam tangannya, lalu menatap Saka yang tampak kehausan dan lelah setelah berjalan jauh dari gerbang depan. "Kalian pasti belum makan. Jarak dari gerbang ke sini cukup jauh, apalagi kamu membawa dua anak."
Doni memanggil Bik Sum, kepala pelayan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari ruang tamu dengan wajah kaku.
"Bik Sum, tolong siapkan makan siang di meja makan kecil untuk Seina dan putranya. Pastikan ada menu yang bergizi untuk ibu menyusui, dan siapkan susu serta camilan untuk anak laki-laki itu," perintah Doni tegas.
"Baik, Tuan," jawab Bik Sum singkat. Meski patuh, tatapannya saat beralih pada Seina terasa tajam, seolah sedang membedah niat terselubung wanita itu.
"Jangan lupa siapkan tempat tinggal mereka di paviliun belakang, agar mudah memanggilnya saat Eliza membutuhkan Asi" ucap Doni dengan wajah datar. Bagaimana pun juga ia masih sakit hati saat Seina membuangnya hanya gara-gara ia miskin, dan lebih memilih Brama , untung saat itu ada Ambar, gadis kaya yang mau memungutnya karena melihat kecerdasan Doni, saat itu juga hidupnya menjadi sangat bahagia,ia sangat mencintai Ambar yang sangat lembut, tidak meremehkan dirinya meski ia laki-laki miskin.
.
"Mari, Mbak... silakan ikut saya ke ruang makan," ajak Bik Sumi tanpa senyum.
Seina menggendong Maudi kembali, sementara tangan satunya menuntun Saka. Saat berjalan melewati lorong-lorong mansion yang dihiasi lukisan mahal dan guci antik, Seina berbisik pelan pada Saka.
"Lihat rumah ini, Saka... nanti kamu akan sering bermain di sini," gumamnya sangat pelan hingga hampir tak terdengar.
Saka hanya mendongak bingung. "Lumahna betal ya Ma? Ada tolam itan nda?"
"Ada sayang, ada banyak hal indah di sini," sahut Seina dengan senyum penuh arti.
Di ruang makan, sebuah meja kayu jati besar sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan. Aroma sup ayam kampung yang gurih dan sayuran segar langsung menusuk indra penciuman. Saka tampak berbinar melihat piring berisi potongan buah dan puding yang diletakkan di depannya.
Seina duduk dengan tenang, namun matanya tidak berhenti bergerak. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan, setiap pelayan yang lewat, dan betapa mewahnya fasilitas di rumah ini. Sambil menyuapi Saka, ia melirik Maudi yang ada di pangkuannya.
Maudi kecil tetap tenang, mata bulatnya yang jernih menatap ke arah lampu kristal yang menggantung di plafon. Seina mendengus dalam hati. "Nikmatilah pemandangan ini, Maudi. Karena di rumah ini, kau hanya akan menjadi bayangan bagi anakku, Eliza.'
Doni memperhatikan dari kejauhan, berdiri di balik pilar ruang tengah. Ia melihat betapa telatennya Seina mengurus kedua anaknya sambil bersedia membagi ASI-nya untuk Eliza. Sebuah pemikiran mulai muncul di kepala Doni, pemikiran yang memang sudah diharapkan oleh Seina sejak awal.
_____
Beberapa minggu telah berlalu sejak Seina dan anak-anaknya pindah ke paviliun belakang kediaman Daneswara. Doni, yang masih dalam duka yang mendalam, jarang mengunjungi paviliun. Apalagi kesibukannya yang benar-benar menyita waktu, Doni yang kini menjabat sebagai CEO perusahaan Daneswara, membuat dirinya tidak ada waktu selain memikirkan kesehatan sang putri, bahkan Doni tidak pernah melihat wajah Maudi , dan Ia hanya memanggil Seina ke rumah utama jika Eliza, yang kini tumbuh menjadi bayi yang cengeng dan rewel, menolak susu formula.
Siang itu, Doni sedang pergi ke kantor. Seina memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap masuk ke rumah utama, dengan alasan ingin mengambil beberapa perlengkapan bayi yang tertinggal. Ia menggendong Maudi menggunakan kain jarik, sementara Saka sibuk bermain dengan mainan bekas di paviliun.
Saat melewati ruang keluarga yang megah, langkah Seina terhenti. Di atas perapian besar, tergantung sebuah foto pernikahan berukuran raksasa. Doni tersenyum lembut sementara wanita di sampingnya, Ambar, tersenyum sangat manis dan elegan.
Seina menatap foto Ambar dengan rasa iri yang membakar hati. "Harusnya aku yang ada di posisi itu, Ambar. Kalau saja dulu aku tidak egois meninggalkan Doni yang miskin" batinnya tajam.
"eh, tapi Doni juga miskin, hanya beruntung saja dia bisa menikahimu... Untung saja kamu mati, aku pasti akan akan mengganti posisimu " gumamnya tersenyum penuh arti.
Tiba-tiba, Maudi yang ada di gendongngannya menggeliat dan merintih pelan. Seina melepaskan gendongan dan mendudukkan Maudi di salah satu sofa mewah di ruang tamu.
Saat Seina menatap wajah Maudi, jantungnya serasa berhenti berdetak.
Mata bulat Maudi yang jernih, bentuk hidungnya yang bangir, bahkan lekukan bibir tipisnya saat sedang diam... semuanya sangat mirip dengan wajah Ambar di foto itu. Sangat identik. Seina menoleh ke foto, lalu kembali ke Maudi. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Tidak... ini tidak mungkin. Darah Ambar terlalu kuat di wajah anak ini,"' gumam Seina panik.
Ia membayangkan jika Bik Sum, perawat Eliza, atau bahkan Doni sendiri menyadari kemiripan ini. Kebohongannya akan terbongkar, dan ia akan diusir dari surga yang baru saja ia cicipi. Ia akan kembali melarat.
"Tidak akan kubiarkan! Kau tidak boleh mirip dengan wanita sialan itu!" bisik Seina tajam, matanya menyalang menatap Maudi yang polos.
Dengan panik, Seina berlari kembali ke paviliun, membiarkan Maudi sendirian di ruang tamu selama beberapa menit. Ia mencari tas kosmetiknya yang ia bawa dari kontrakan lamanya. Tangannya bergetar, ia mengambil sebuah botol fondasion cair dengan warna yang jauh lebih gelap dari kulit asli Maudi, dan yang paling mengerikan, fondasion itu sudah kedaluwarsa.
Seina kembali ke rumah utama dengan langkah terburu-buru. Ia mendekati Maudi yang mulai gelisah. Tanpa ragu, Seina menuangkan cairan kental berbau kimia itu ke tangannya dan mulai mengoleskannya secara kasar ke seluruh wajah Maudi.
"Ini demi kebaikan kita, Maudi. Jangan salahkan Mama," gumamnya, terus menggosok kulit bayi yang lembut itu agar warna kulitnya terlihat kusam dan tidak lagi putih cerah seperti kulit Ambar.
Saking kasarnya Seina menggosok, Maudi mulai menangis kesakitan. Kulitnya yang sensitif langsung bereaksi terhadap bahan kimia keras dan kedaluwarsa itu.
"Diam! Jangan menangis!" bentak Seina pelan, terus mengoleskan fondasion hingga menutupi setiap inci wajah Maudi, menjadikannya terlihat kusam, kotor, dan berbeda.
Maudi tetap menangis, namun seina yang kejam mencubit tangan Maudi , bukannya diam, Maudi yang belum tahu apa-apa malah menangis semakin kencang. Akhirnya dengan terpaksa,Seina menyusui Maudi di ruang tamu.
Setelah selesai, dan Maudi terdiam, Seina buru-buru menggendong Maudi kembali ke paviliun.
Keesokan harinya, rencana keji Seina membuahkan hasil yang lain. Kulit wajah Maudi yang terkena fondasion kedaluwarsa itu mengalami iritasi hebat. Timbul ruam merah, bruntusan, dan bahkan beberapa bagian terlihat melepuh halus. Wajah Maudi yang tadinya cantik dan mirip Ambar kini terlihat mengerikan, kusam, dan berpenyakit.
"Kenapa dengan wajah anak ini, Seina?" tanya Bik Sum saat melihat Seina menggendong Maudi di dapur belakang.
Seina memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Saya juga bingung, Bik. Mungkin karena susu saya tidak cocok untuk dia, atau dia alergi udara paviliun. Kulitnya memang sangat sensitif sejak lahir."
Bik Sum menatap Maudi dengan tatapan kasihan, namun di dalam hati, ia merasa aneh. Ia belum pernah melihat ruam alergi separah itu pada bayi sekecil Maudi. "Kasihan anak ini, sudah hidup susah, wajahnya pun hancur seperti ini," batin Bik Sum, tanpa menyadari bahwa itu adalah cara Seina untuk menyembunyikan kebenaran.
"Sebentar ya Seina, aku akan mengambilkan obat untuk putrimu " ucap bik sumi dengan langkah terburu-buru karena tidak tega melihat ruang yang sangat menyakitkan itu di wajah Maudi... ia berjalan menuju kamar Eliza yang dijaga oleh perawat..
"sus...boleh minta salep iritasi untuk bayi tidak, kasihan... Putri Seina wajahnya merah-merah..." ucap bik Sumi dengan pelan, karena melihat Eliza yang tertidur lelap di box bayinya.
" Ini ada banyak, daripada kadaluarsa tidak terpakai" balas perawat dengan memberikan tiga salep kepada bik Sumi.
Dengan langkah cepat Bik sumi kembali lagi ke dapur untuk memberikan salap tersebut pada Seina." ini Seina, kau bisa memakaikan salep ini pada wajah Maudi, kasihan itu sepertinya tidak nyaman " ucap bik Sumi dengan wajah meringis , kasihan melihat wajah Maudi yang memerah.
"Terimakasih bik sum, saya kembali ke paviliun dulu ya, kasihan juga saka sendirian disana" balas Seina dengan lembut.
"iya Seina, kau bisa kemari saat jam makan saja, tugasmu disini hanya menyusui Nona kecil, jadi tidak usah membantu pekerjaan rumah, di sini sudah ada banyak pelayan" ucap Bik sum dengan tegas namun lembut.
Seina berlalu pergi, meninggalkan bik Sum yang sibuk dengan pemikiran nya sendiri " kasian sekali, padahal kemarin wajahnya tidak apa-apa saat tidur, ".
Seina tersenyum penuh arti"sudah repot-repot membuat wajah Maudi jelek masa harus di obati"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!