Pagi ini cuaca Jakarta begitu cerah, sinar matahari yang berwarna keemasan begitu indah untuk di pandang.
Kania Maharani, seorang wanita muda tampak sedang sibuk menyiapkan sarapan di meja makan. Di rumah ini, sekalipun ada banyak pelayan dia tetap turun tangan sendiri mengurusi suami nya.
"Selamat pagi!!!" Sapa Erlan Hadi Wijaya.
Dia adalah suami nya Kania, dia tampak sudah rapi walaupun ini adalah hari minggu.
"Selamat pagi, mas. Sarapan nya sudah siap!" Dengan sigap Kania melayani sang suami.
Erlan adalah tipe laki - laki yang perfeksionis, dia ingin semua nya tampak sempurna. Termasuk kehidupan rumah tangga nya bersama Kania, wanita yang di jodoh kan oleh orang tua nya.
Dulu, sebelum menikah dengan Kania, Erlan pernah depresi berat karena di tinggal kan kekasih nya menikah dengan orang lain. Orang tua nya membawa Erlan ke sebuah pondok pesantren yang berada di kota Bogor, dan pemilik pondok itu adalah Abah Muis, kakek nya Kania.
Kania dan Erlan sarapan dalam diam, Erlan tidak suka mendengar orang lain bicara saat sedang makan. Tidak ada percakapan sama sekali, yang terdengar hanyalah dentingan piring dan sendok yang memecah kesunyian.
"Kau ingin berbelanja hari ini?" Tanya Erlan pada Kania.
"Iya mas!" Jawab kania singkat.
"Berangkat sekarang, aku tidak mau menunggu terlalu lama!" Erlan berkata dengan nada dingin pada Kania.
"Baik mas, aku ambil tas dulu!" Jawab Kania sambil mengangguk kan kepala nya.
Kania bergegas naik ke lantai atas, dia buru - buru mengambil tas nya. Usia pernikahan Kania dan Erlan sudah satu tahun, tapi Erlan tidak pernah bersikap hangat pada nya.
Saat ini Erlan memang sudah sembuh dari depresi nya, tapi dia tidak bisa melupakan wanita yang telah meninggal kan nya. Wina, nama wanita yang hingga saat ini msih melekat di hati nya.
"Aku sudah siap, Mas!" Kania berkata pada Erlan.
Tanpa banyak bicara, Erlan langsung keluar dan di ikuti oleh Kania. Mereka masuk ke dalam mobil, Erlan sendiri yang mengantarkan Kania ke super market.
Di dalam perjalanan, suasana tampak hening. Tidak ada percakapan antara kedua nya, seperti itu lah keadaan nya. Selama satu tahun pernikahan mereka, Erlan bersikap dingin pada Kania. Dia menerima Kania menjadi istri nya, karena desakan dari orang tua nya agar dia bisa melupakan Wina.
Tapi hingga saat ini, Erlan tidak berhasil melupakan Wina. Dia berusaha untuk menerima Kania sebagai istri nya, tapi entah kenapa hati nya selalu menolak. Padahal Kania sudah menjalan kan semua peran nya sebagai istri dengan sempurna, tapi tetap saja Erlan tidak bisa menerima Kania.
Kania adalah wanita yang sabar, dia tetap melayani Erlan dengan sepenuh hati nya, walaupun sikap Erlan begitu dingin pada nya. Dari dulu, Kania ingin menikah sekali seumur hidup. Jadi itu lah sebab nya, dia selalu menerima bagai mana pun sikap Erlan pada nya. Bagi Kania, mau seburuk apapun sikap suami nya, yang terpenting jika dia tidak menjalin hubungan dengan wanita lain, maka Kania sudah cukup punya alasan untuk terus bertahan.
Drrreeettt, drrreeett, drrreeet.
Ponsel Erlan yang di letak kan di dasboard berdering, Erlan bergegas meraih nya dan dia melihat nama sang penelepon adalah Mama nya.
"Hallo Ma,,!" Sapa Erlan.
"Hallo nak, kau di mana sekarang?" Tanya sang Mama dari seberang sana.
"Aku lagi di perjalanan ke super market, Ma. Mau mengantar kan Kania berbelanja kebutuhan rumah!" Jelas Erlan pada Mama nya.
"Kebetulan banget ni, Mama kangen sama Kania. Kamu bawa Kania ke rumah ya, belanja nya nanti siang saja!" Mama nya memberi perintah pada Erlan.
"Ya udah deh Ma, Erlan langsung ke sana!" Erlan tidak mampu menolak keinginan Mama nya.
Mama Indri, adalah Mama nya Erlan. Dia sangat menyayangi Kania, seperti putri kandung nya sendiri. Sejak pertama kali dia datang ke pondok pesantren Abah Muis, dia langsung tertarik dengan gadis itu.
"Mama minta kita datang ke rumah nya sekarang juga, belanja nya di tunda dulu. Mungkin setelah makan siang!" Erlan berkata pada Kania.
"Gak papa mas, aku juga udah kangen sama Mama!" Jawab Kania sambil tersenyum.
Erlan langsung mengganti tujuan mereka, yang awal nya mereka ingin ke Mall, tapi kini malah pergi ke rumah orang tua nya Erlan. Walaupun sikap Erlan begitu dingin pada sang istri, tapi dia tidak kuasa menolak keinginan Mama Indri.
Mobil yang di kemudikan oleh Erlan berhenti di halaman rumah megah berlantai 2, milik orang tua nya Erlan. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh pelayan dan di persilahkan masuk.
Mama Indri dan Papa Beni menyambut kedatangan anak dan juga menantu nya dengan hangat, sepasang suami istri itu sangat menyayangi Kania. Karena berkat Kania, Erlan berhasil sembuh dari depresi nya.
"Kania sayang, Mama kangen kamu!" Mama Indri langsung merentang kan tangan untuk memeluk tubuh Kania.
"Aku juga kangen Mama!" Kania langsung memeluk tubuh sang Mama mertua.
Setelah itu dia mencium tangan Papa Beni dengan sopan, kesopanan dan kelembutan yang di milik oleh Kania membuat mereka semakin menyayangi diri nya.
"Kalian tidak boleh pergi dari sini sebelum kalian makan siang!" Ujar Mama Indri.
Kania dan Erlan hanya bisa patuh, karena memang Mama Indri tidak suka di bantah. Karena hari masih cukup pagi, akhir nya Kania dan Mama Indri memasak sendiri untuk makan siang mereka nanti dengan di bantu oleh para Art.
"Kania, Erlan tidak menyakiti mu kan?" Tiba - tiba Mama Indri bertanya di sela kegiatan masak mereka.
"Tidak Ma, mas Erlan tidak menyakiti ku. Mama tenang saja!" Jawab Kania sambil tersenyum.
"Bagus lah nak, jika memang seperti itu. Mama khawatir dia mulai berulah lagi!" Tampak jelas kekhawatiran di mata Mama Indri.
"Ada apa Ma? Kenapa seperti nya Mama begitu cemas?" Tanya Kania sambil tangan nya menghentikan kegiatan memotong sayuran nya.
Mama Indri menghela nafas berat, seperti nya ada sesuatu yang membuat nya begitu cemas.
Tapi dia tidak mau mengatakan nya, dia takut hal itu akan merusak rumah tangga anak dan juga menantu nya.
"Katakan Ma, ada apa?" Tanya Kania lagi.
Kali ini Kania meraih tangan Mama Indri, dia menggenggam erat tangan wanita paruh baya itu.
"Kemarin Mama sempat ketemu sama Wina!" Mama Indri akhir nya mengatakan apa yang membuat nya begitu cemas.
"Wina? Wanita yang sudah meninggal kan mas Erlan?" Tanya Kania memastikan.
"Iya nak, Mama takut dia akan kembali ke dalam kehidupan Erlan. Mama tidak rela jika sampai wanita itu mengganggu rumah tangga kalian!" Mama Indri berkata dengan suara lirih.
Kania langsung terdiam mendengar nya, entah kenapa ucapan Mama Indri begitu menganggu nya. Kehadiran Wina akan menyebar kan benih - benih kehancuran di dalam rumah tangga nya dan Erlan, sejujur nya Kania takut akan hal itu.
Setelah makan siang, Kania dan Erlan langsung pamit pada Mama Indri dan Papa Beni. Mereka akan langsung pergi ke super market, untuk berbelanja kebutuhan bulanan.
"Hati - hati di jalan, sering - sering main ke sini!" Mama Indri berkata saat mengantar kan anak dan menantu nya ke mobil.
"Iya Ma!" Jawab Kani sopan.
Erlan hanya diam, dia tidak mau menanggapi ucapan Mama nya. Sudah satu tahun ini, tapi sikap nya masih saja dingin pada istri nya. Hati nya masih belum menerima Kania sebagai istri nya, walaupun Kania sudah melakukan segala kewajiban nya sebagai istri.
Selama di dalam perjalanan menuju ke Super Market, kedua nya tidak saling bicara. Kania sudah terbiasa dengan keadaan ini, karena selama satu tahun ini semua sudah berjalan seperti ini.
Erlan menghentikan mobil nya di parkiran, dia segera turun dari dalam mobil, begitu pun dengan Kania. Kedua nya berjalan memasuki mall, sikap dingin dan datar masih saja di tunjuk kan oleh Erlan.
Kedua nya langsung menuju ke deretan barang - barang kebutuhan pokok, Erlan membawa sebuah troli dalam diam. Di mengikuti Kania dari belakang, Kania langsung mengambil apa yang ingin di beli nya. Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka, mereka melakukan semua nya dalam diam.
Ketika Erlan dan Kania sedang berada di deretan rak perlatan mandi, mata Erlan tidak sengaja melihat seorang wanita di seberang sana. Wanita itu pun menatap Erlan dengan mata berbinar, dia segera berjalan mendekati Erlan dan Kania.
"Mas Erlan, aku kangen sama mas!" Tiba - tiba dia langsung memeluk tubuh Erlan.
Kania yang berada di samping nya terkesiap, dia tidak menyangka wanita dengan dress selutut tersebut berani memeluk suami nya di tempat umum. Erlan pun hanya diam, dia tidak bereaksi menolak ataupun membalas nya.
"Wina,,,,!" Kata itu lolos dari bibir Erlan.
Kania yang melihat nya hanya bisa terpaku, wanita dari masa lalu Erlan telah kembali. Wanita yang membuat Erlan depresi dan hampir bunuh diri, Kania berusaha tenang menghadapi badai yang mulai menyerang.
"Mas Erlan,,,!" Panggilan dari Kania membuat Erlan tersadar.
Wina langsung melepaskan pelukan nya pada tubuh Erlan, wanita itu langsung memandang Kania dari atas hingga ujung kaki. Lalu dia beralih menatap Erlan.
"Mas, siapa wanita ini mas?" Tanya Wina pada Erlan.
"Dia istri ku!" Jawab Erlan datar.
Wina memandang Kania dengan tatapan sinis, terlihat sekali dia merendahkan Kania lewat pandangan mata nya.
"Mas, aku bertanya pada Mama mu tentang kamu, tapi Mama menolak untuk mengatakan apapun. Aku bahagia mas bisa bertemu lagi dengan mu!" Wina berkata dengan bahagai.
Kania menghirup udara dengan rakus, mengisi rongga dada nya yang terasa sesak. Sikap Wina terhadap suami nya di depan umum, di tambah lagi dengan sikap Erlan yang tidak tidak menolak sikap Wina.
Kania berusaha menetralkan detak jantung nya, dia langsung mengambil barang - barang yang ingin di beli nya. Kania langsung memasuk kan barang - barang itu ke dalam troli belanja nya, tidak ada air mata. Tapi hati nya begitu remuk dan hancur, dia depan mata nya sang suami tidak menolak di peluk oleh wanita lain.
"Mas, maafkan aku mas. Aku tidak bisa menolak keinginan orang tua ku, tapi kini aku sadar dan aku akan memperjuangkan cinta ku!" Wina berkata pada Erlan.
Seketika hati Erlan berbunga, ibarat padang tandus kini tersiram hujan. Oase gersang selama ini mulai mulai subur kembali, kehadiran Wina membuat semangat yang sempat patah kini bertugas lagi.
Kania segera mendorong troli nya menjauh dari sepasang manusia itu, selama ini dia tidak begitu terluka dengan sikap dingin suami nya. Tapi hari ini kehadiran Wina telah membuat luka yang begitu dalam, luka yang begitu perih.
Interaksi kedua nya begitu dekat, layak nya sepasang suami istri. Selama menjadi istri nya Erlan, belum pernah Kania melihat suami nya sebahagia ini. Binar- binar kebahagian terlihat jelas di mata Erlan, bahakn Erlan lupa bahwa dia datang ke sini bersama istri nya.
"Mas, aku ingin kita memulai nya dari awal lagi. Aku akan memperbaiki semua nya!" Wina berkata dengan manja sambil bergelayut di lengan kekar Erlan.
Erlan memang tidak menjawab, tapi bola mata nya tidak bisa berbohong. Apa yang ada di dalam hati nya bisa di lihat dari sorot mata nya, yang kini tengah memancarkan kebahagiaan.
"Lalu bagai mana dengan suami mu?" Pertanyaan itu lolos dari bibir nya Erlan.
"Aku akan segera berpisah mas, dia melakukan KDRT pada ku!" Jawab Wina sambil tersenyum manis.
Erlan terdiam mendengar jawaban Wina, jantung nya kembali berdegup lebih kencang. Wina adalah wanita yang mengisi relung hati nya, sekalipun dia telah menikah dengan Kania. Tapi posisi Wina tetap kokoh di sana, kelembutan hati Kania tidak mampu menggeser nya.
"Mas, aku tahu kau tidak pernah mencintai istri mu. Kau menikah dengan nya hanya karena permintaan orang tua mu, sama seperti aku. Tapi sekarang aku sudah mengambil keputusan, keputusan akan kebahagian kita!" Kembali Wina berkata.
Sementara itu, Kania sudah selesai berbelanja. Dia segera mendorong troli nya ke meja kasir, sedangkan Erlan dan Wina masih asyik ngobrol di antara rak - rak barang. Kasir perempuan itu sedang menghitung barang - barang belanjaan Kania, Kania menunggu nya dengan sabar.
Kasir sudah selesai menghitung belanjaan nya Kania, tapi Erlan masih di sana bersama Wina. Kania ingin memberitahukan pada Erlan, bahwa dia sudah selesai berbelanja tapi dia tidak mau mengganggu mereka. Kani tahu seperti apa posisi nya di hati Erlan, dia hanya istri di atas kertas, bukan di hati Erlan.
Setelah cukup lama menunggu, Kania akhir nya memberanikan diri menemui mereka.
"Mas, aku sudah selesai berbelanja!" Kania berkata pada Erlan.
Wina langsung menoleh pada Kania, tatapan jelas menyiratkan ketidaksukaan. Dia tidak suka Kania mengganggu nya dan Erlan.
"Ayo, kita pulang!" Ajak Erlan dengan suara datar.
"Mas, aku masih kangen sama kamu. Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama mu, biarkan istri mu pulang naik taksi!" Wina berkata pada Erlan.
"Aku akan mengantar nya pulang, aku yang membawa nya kemari maka aku juga yang akan mengantarkan nya kembali!" Erlan berkata pada Wina.
"Ayo cepat!" Erlan langsung mendorong troli berisi barang yang sudah di bayar oleh Kania.
Wina mendengus kesal mendengar ucapan Erlan, dia melihat Kania dengan tatapan kebencian.
"Awas kau wanita kampung, akan ku buat kau menyesal karena telah menikah dengan mas Erlan!" Guman Wina geram.
Wina mengepal kan tangan nya melihat kepergian Kania dan Erlan, dia bertekad untuk menyingkirkan Kania. Dia masih punya posisi di hati nya Erlan, jadi mudah bagi nya menggantikan posisi Kania di rumah Erlan.
Erlan langsung mengantar kan Kania pulang, di dalam perjalanan hingga tiba di rumah, tidak sekalipun kedua nya terlibat percakapan. Kania hanya diam dan dia tidak berani bertanya sesuatu, dia merasa ini bukan ranah nya.
Kania langsung menyusun barang - barang itu di tempat nya masing- masing, sementara Erlan pergi ke taman belakang yang berada di samping rumah. Dia saling bertukar pesan dengan Wina, wanita dari masa lalu nya.
Kania melihat nya dari balkon yang ada di kamar nya, dia melihat suami nya begitu bahagia berbicara melalui telepon. Selama ini belum pernah Kania melihat suami nya sebahagia ini, Kania memperhatikan Erlan yang sedang berbicara di telepon, Kania yakin saat ini Erlan pasti sedang bicara dengan Wina.
"Ya Allah, kenapa rasa nya sesakit ini? Mas Erlan mengabaikan ku dan bersikap dingin selama ini, aku tidak begitu terluka. Tapi sekarang melihat nya bercanda dengan wanita lain, kenapa rasa nya begitu perih?" Kania bermonolog pada diri nya sendiri.
Dulu Kania tidak bisa menolak perjodohan ini, dia tidak mau membuat abah Muis kecewa. Abah Muis sudah membesarkan nya dengan penuh kasih sayang, Kania tidak punya orang tua. Abah Muis menemukan nya saat dia masih bayi merah di depan pintu pagar pondok pesantren.
Tidak ada petunjuk tentang orang tua nya, hanya sebuah kalung dengan liontin yang berbentuk kupu- kupu yang di pakai di leher nya saat dia di temukan. Kania meraba kalung itu, sejak Bayi kalung itu tidak pernah dia lepaskan. Dengan memakai kalung itu dia berharap suatu hari akan menemukan petunjuk tentang siapa diri nya.
"Haruskah aku mundur dari pernikahan ini?" Kania bertanya pada diri nya sendiri.
"Bagai mana dengan abah? Dia pasti kecewa jika aku dan mas Erlan berpisah!" Kania menghembuskan nafas berat.
Tidak ingin semakin membuat hati nya terluka, Kania memilih masuk ke dalam kamar nya. Dia merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur, mungkin dengan tidur bisa mengurangi sedikit rasa perih di hati nya.
Kania terlelap dalam tidur nya, sayup- sayup suara adzan membangun kan Kania yang sedang tertidur. Dia segera bangun dan melaksanakan kewajiban empat rakat nya, Kania tidak pernah meninggal kan sholat nya sejak dia masih kecil.
Kania turun dari kamar nya yang berada di lantai atas, dia tidak menemukan keberadaan suami nya.
"Mbok, apa bapak pergi keluar?" Tanya Kania pada mbok Nah.
Mbok Na adalah pembantu yang di bawa oleh Erlan dari rumah orang tua nya, mbok Nah sudah puluhan tahun bekerja dan ikut dengan orang tua nya Erlan. Bahkan sebelum Erlan lahir ke dunia ini, mbok Nah lah yang membantu merawat Erlan sejak bayi.
"Bapak sedang keluar bu!" Jawab Mbok Nah sopan.
"Bapak ada bilang dia mau pergi kemana, Mbok?" Tanya Kania lagi.
"Tidak bu, bapak tidak bilang - bilang!" Jawab Mbok Nah sambil menggelengkan kepala nya.
"Ya udah, terima kasih mbok. Mbok bisa lanjutkan pekerjaan mbok!" Kania berkata pada art nya.
Kania segera pergi ke bagian belakang rumah, di sana ada sebuah kebun kecil. Kania sengaja mengisi luang nya dengan berkenan, dia menanam berbagai jenis tanaman rimpang dan tanaman lain nya.
Kania tahu saat ini Erlan pasti sedang keluar, untuk bertemu dengan Wina. Kania tidak punya hak mencegah nya, dia sadar pernikahan nya dan Erlan adalah hasil perjodohan orang tua mereka.
*****
Erlan dan Wina saat ini sedang berada di sebuah kafe, Wina sengaja memesan sebuah ruangan VIP. Dia tidak perduli walaupun saat ini diri nya masih berstatus sebagai istri orang lain, dan Erlan pun masih berstatus sebagai suami wanita lain.
"Mas, aku kangen sama mas. Aku sudah berusaha mencari mas, bahkan aku sempat bertanya pada tante Indri. Tapi dia malah marah dan melarang ku untuk menemui mu!" Wina berkata dengan nada sendu.
"Win, Mama tidak salah Win. Saat ini aku masih berstatus sebagai suami nya Kania, dan kau juga masih berstatus sebagai seorang istri dari pria lain. Aku tidak ingin timbul masalah!" Erlan berkata pada Wina.
"Mas, aku sudah katakan pada mu. Aku dan suami ku sudah dalam proses perceraian, jangan khawatir!" Wina berkata sambil tersenyum.
Erlan hanya terdiam, sejujur nya di dalam hati kecil nya dia merasa bersalah pada Kania. Walaupun dia tidak pernah mencintai wanita itu, tapi dia tahu Kania tidak bersalah di dalam hal ini. Walaupun Kania saat ini berstatus sebagai istri nya, tapi tetap tidak bisa mengganti posisi Wina di hati nya.
"Mas, katakan dengan jujur, apakah kau mencintai istri mu?" Tanya Wina sambil menatap mata Erlan.
Erlan segera memalingkan wajah nya, dia tidak ingin Wina melihat bola mata nya. Karena sampai kapan pun, Erlan tidak akan pernah bisa berbohong di hadapan wanita ini.
"Dengan kau diam dan berpaling, maka aku sudah tahu jawaban nya, Mas. Kau tidak pernah bisa mencintai wanita lain selain diri ku, cinta mu sudah habis pada diri ku!" Wina berkata dengan nada yang begitu bahagia.
Memang benar apa yang di katakan oleh Wina, dia tidak bisa mencintai wanita lain selain Wina. Mau sebaik apapun Kania, tetap saja wanita itu tidak bisa memiliki tempat di hati nya.
"Aku bahagia mas, setidak nya tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan cinta kita!" Wina berkata sambil bersandar di bahu Erlan.
Erlan menghembus kan nafas kasar, walaupun hati nya bahagia karwna wanita yang di cintai nya sudah kembali. Tapi dia tahu pasti, akan ada banyak hati yang terluka karena keputusan ini. Kania, kedua orang tua nya, dan juga orang tua Kania.
"Win, jika kita nekat melanjutkan hubungan ini. Maka aku yakin, kedua orang tua ku tidak akan pernah merestui nya!" Erlan berkata pada Wina.
"Aku tahu itu mas, tapi ini hidup kita berdua. Aku tidak perduli dengan restu siapa pun, bagi ku kau mencintai aku itu sudah cukup. Aku tidak butuh restu siapapun untuk bersama mu!" Wina berkata sambil menggenggam erat tangan Erlan.
Wina adalah wanita yang sangat ambisius, dia tidak perduli dengan orang lain. Yang terpenting bagi nya tujuan nya tercapai, dan dia tidak segan - segan melakukan sesuatu demi tercapai nya tujuan nya.
Bayangan wajah teduh dan santun Kania muncul di pelupuk mata nya, sekalipun dia tidak pernah bisa mencintai nya, tapi Erlan tahu keputusan ini akan melukai wanita itu. Wanita yang sangat di sayangi oleh Mama Indri dan Papa Beni, Erlan sadar orang tua nya tidak akan diam saja. Mereka juga tidak akan bisa menerima Wina sampai kapan pun, Erlan tahu seperti apa orang tua nya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!