Indonesia
NovelToon NovelToon

Ketika Sinta Memilih Rahwana

Part 1

"Aku memilih .... Dia!" Telunjuk itu mengarah lurus pada seseorang yang saat ini sedang berdiri di depan pintu utama keluarga Hermawan.

Sontak, karena pilihan itu, semua mata yang ada di ruang tamu langsung terfokus pada objek yang baru saja gadis itu tunjuk. Dewi Sinta, anak gadis paling cantik milik keluarga Sanjaya.

Awalnya, gadis itu akan menikah dengan Rama. Anak kedua dari keluarga Hermawan. Tapi entah karena apa, di hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta malah membatalkan pernikahan mereka. Lalu, dia malah menunjuk Rahwana untuk digantikan sebagai suaminya.

Ya. Pria yang tadinya di tunjuk oleh si gadis adalah Rahwana. Pria yang dianggap buruk rupa oleh semua orang. Anak pertama keluarga Hermawan. Pria yang ke mana-mana harus menutupi wajahnya dengan topeng agar tidak memperlihatkan kekurangan fisik yang dia miliki.

"Aku?" Wana bingung bukan kepalang. Sekaligus, dia merasa sangat kesal akan ulah dari gadis tersebut. Bagaimana tidak? Ulah gadis itu membuatnya merasa sangat dipermainkan.

Awalnya, dia hanya lewat saja. Tidak ingin ikut campur sedikitpun dengan aktifitas pertemuan dua keluarga yang sedang berlangsung di rumahnya. Eh ... tanpa ada angin, dan tidak mendung sedikitpun, hujan malah turun dengan derasnya. Begitulah ibarat kata yang paling cocok untuk dirinya saat ini. Tanpa ada aba-aba, dia malah diseret dalam pertemuan dua keluarga yang tidak sedikitpun ada sangkut pautnya dengan dia.

"Jangan bercanda, nona. Aku tidak ada kaitannya dengan pertemuan dua keluarga saat ini."

"Tidak. Aku tidak bercanda. Aku serius. Aku pilih kamu untuk jadi suamiku."

"Sinta!" Menggelegar suara papa Sinta memenuhi ruangan tersebut. "Bermain-main juga ada batasnya. Jangan permalukan keluarga. Hari ini adalah hari penentuan tanggal pernikahan kamu dan Rama. Kenapa malah bercanda dengan hal yang penting?"

Sinta mengalihkan pandangannya dari Rahwana. "Om, tante, mama, papa. Aku serius. Aku pilih tuan muda pertama untuk jadi suamiku. Aku rasa, itu tidak akan ada masalahnya, bukan? Karena baik tuan muda pertama atau kedua, jatuhnya akan sama saja. Aku tetap akan jadi istri dari tuan muda keluarga Hermawan, menantu kalian berdua."

Hening seketika. Suasana itu terasa sangat dingin dan juga cukup mencekam. Bagaimana tidak? Pernikahan itu bukan ditetapkan baru-baru ini. Melainkan, sudah bertahun-tahun yang lalu. Tepatnya, saat dua anak masih sangat remaja. Pernikahan itu sudah dibicarakan saat itu.

Sinta dan Rama dijodohkan ketika mereka baru masuk sekolah menengah pertama. Perjodohan itu untuk mempererat keluarga dan bisnis dari keluarga yang sedang berusaha mereka satukan agar lebih maju.

Di balik keuntungan bisnis, dua anak tersebut juga terkesan sangat dekat saat kecil. Lebih tepatnya, mereka adalah teman masa kecil yang dijodohkan agar bisa bersama hingga dewasa.

Namun, hal yang tak terduga terjadi. Gadis itu malah mengubah pilihan saat hari penentuan tanggal pernikahan. Bagaimana semua orang tak terkejut akan hal tersebut?

Mama Rama bangun. Lalu mendekat ke arah Sinta. "Nak, jangan bercanda. Jangan buat tante terkejut begini."

"Benar, Sinta. Bercandaan kamu ini sudah kelewat batas. Kamu bikin kita semua terkejut. Kamu malah bawa-bawa tuan muda pertama dalam candaan mu. Kamu-- ya Tuhan, mama tidak lagi tahu harus berkata apa, Sin."

Sang mama terlihat sedikit pucat akan pilihan anaknya barusan. "Sinta, minta maaf pada tuan muda pertama sekarang juga. Jangan bercanda lagi."

"Mama, tante, semuanya. Aku serius, aku tidak bercanda. Aku ingin menikah dengan tuan muda pertama. Apakah kalian masih tidak percaya?"

Mereka tentu saja masih tak percaya. Lalu, Sinta beranjak mendekati Rahwana yang masih di depan pintu. Sebenarnya, nama pria itu awalnya bukan Rahwana. Melainkan, Awan.

Nama itu diubah setelah pria ini mengalami kecelakaan yang mengakibatkan wajahnya rusak. Kecelakaan fatal yang Awan alami ketika usianya baru tujuh tahun. Dia bersama neneknya pergi ke luar kota. Namun, naasnya, mobil yang dia tumpangi terbalik. Sebagian wajahnya rusak akibat kecelakaan tersebut. Lalu neneknya, demi menyelamatkan nyawa si cucu tercinta, tewas di tempat.

Awan kecil mengalami luka serius seperti luka bakar yang meninggalkan bekas kecoklatan. Permukaan kulitnya masih datar dan mulus. Tidak rusak seperti bekas terbakar parah pada umunya. Namun, tetap saja, wajah itu rusak. Setiap kali orang melihat wajah itu, mereka akan memandang dengan tatapan aneh. Awan kecil merasa sangat tidak nyaman.

Perlahan, dia semakin menutup diri, semakin terasingkan. Lalu, pada akhirnya, namanya diubah karena wajahnya itu. Rahwana. Seperti layaknya cerita legenda, Rahwana yang memiliki fisik yang tidak sempurna, tidak sesempurna yang Rama miliki.

Begitulah Wana akhirnya tetap terasingkan hingga dia dewasa seperti saat ini. Karena tidak ingin di pandang aneh, pria itu memakai penutup wajah. Padahal, wajahnya tidaklah seseram monster dalam bayangan orang lain. Wajahnya hanya sedikit cacat, tidak begitu menakutkan. Tapi dia tetap tidak ingin di pandang aneh walau sejujurnya, itu tidak lagi terlalu penting buat Wana.

"Tuan muda pertama, bersediakah kamu menikah denganku?" Sinta bertanya dengan raut serius saat dia sampai di depan Wana.

Wana menatapnya lekat. Wajah gadis yang ada di depannya sangat cantik. Secantik dewi bulan yang ada dalam bayangannya saat sang nenek bercerita tentang legenda para dewi ketika ia kecil dulu. Hatinya sebagai manusia normal, tidak bisa ia cegah untuk ingin memiliki gadis tersebut.

Karena sejak awal, sejak bertahun-tahun yang lalu, dia juga sudah jatuh hati pada gadis ini. Gadis manis, sifat lembut, baik hati. Singkatnya, gadis ini adalah bentuk terbaik yang pernah ia lihat dari seorang lawan jenis.

Ah, tapi. Wana harus dipaksa sadar akan logika kenyataan yang sangat keras. Gadis ini cantik, secantik dewi bulan. Sedangkan dia adalah Rahwana. Bentuk buruk dari raja buruk rupa seperti yang digambarkan dalam kisah Ramayana.

Lalu akhirnya, karena kesadaran diri inilah yang membuat Wana harus menolak dengan tegas sebelum hatinya benar-benar hancur karena cinta yang hanya sebatas impian. Memang, ini bukan kisah Rama dan Sinta. Atau, ini bukan cerita Ramayana seperti yang diceritakan. Tapi, kisah yang ini cukup mirip. Nama merekapun sama. Karenanya, Wana tidak ingin benar-benar mati karena cinta yang ia miliki pada gadis tersebut.

"Maaf, aku tidak tertarik."

"Apa?"

"Kamu dijodohkan dengan Rama, bukan dengan Rahwana."

"Tapi aku ingin menikah dengan Rahwana, bukan dengan Rama."

"Sayangnya, kamu cocok dengan Rama. Bukan dengan Rahwana yang buruk rupa ini."

Sinta menatap pria yang ada di depannya dengan tatapan lekat. "Ah, sudah. Ini bukan kisah Ramayana. Aku ingin menggantikan calon suamiku. Aku ingin kamu yang menikah dengan ku. Apakah kamu tidak bersedia?"

"Tidak."

Sinta kehabisan kata-kata. Dia di tolak mentah oleh pria tersebut. Pria yang memang punya sifat dingin yang sangat melekat di dirinya sejak masih kecil.

Part 2

"Apa?"

"Kurang jelas? Aku tidak ingin menikah. Sekarang, apakah sudah jelas?"

"Tapi-- "

Yang diajak bicara malah sudah beranjak menjauh. Menarik diri, membatalkan keinginan untuk masuk ke dalam rumah. Wana kembali menarik langkah keluar dari rumah tersebut. Sinta yang tak percaya, terdiam sejenak. Para orang tua tidak ikut bicara, mereka memilih diam memperhatikan apa yang dua anak tersebut lakukan.

Sesaat terdiam, akhirnya Sinta memilih mengejar Rahwana. "Kak Wana, tunggu!"

Langkah Wana terhenti. Dia menoleh.

"Apa lagi? Apa tadi tidak cukup jelas? Aku tidak tertarik. Tidak ingin menikah. Kamu cocoknya dengan Rama, bukan dengan aku."

"Kenapa?"

Manik mata indah itu terlihat berkaca-kaca. Sungguh, itu langsung mampu meluluhkan hati Wana yang awalnya ingin menolak. Jika setitik saja air mata jatuh, mungkin Wana akan langsung menyekanya tanpa pikir panjang lagi.

"Kak Wana kenapa tidak ingin menikah dengan ku? Apa karena aku tidak berteman dengan kak Wana saat kecil? Tapi kan, aku sudah sering mengajak kak Wana main. Hanya saja, kak Wana yang tidak ingin. Kamu yang tidak ingin berteman dengan aku. Bukan aku yang tidak ingin berteman dengan mu."

"Sekarang, kamu tolak aku saat aku ingin menikah dengan mu. Apa aku terlalu buruk di matamu sampai kamu-- "

"Cukup. Jangan dilanjutkan lagi. Kamu ingin aku menikah dengan mu, bukan? Baiklah. Aku akan menikah. Aku setuju dengan permintaan mu."

Manik mata yang baru saja berkaca-kaca langsung berubah cerah. "Benarkah?"

"Benarkah, kak Awan bersedia menikah dengan ku?"

Sontak, mata Wana langsung melebar. Nama itu akhirnya terdengar lagi. *Awan.* Nama yang sangat ia rindukan untuk di panggil. Sama seperti saat neneknya memanggil waktu dia masih kecil.

"B-- barusan, kamu ... panggil aku apa?"

Wajah bahagia Sinta sedikit berubah takut. "Aku ... panggil kak Awan."

"Maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya-- "

"Gak papa. Lupakan saja."

"Lupakan?"

"Iya. Hm .... "

Wana memutar tubuhnya. "Tapi, jika kamu suka, kamu bisa memanggil aku dengan mama apapun. Aku tidak keberatan. Awan juga nama yang indah untuk di dengar."

Senyum manis langsung terkembang di bibir Sinta. "Baiklah. Aku panggil dengan nama itu mulai dari sekarang."

Sinta malah meraih lengan Wana dengan cepat. "Ayo! Masuk dan jelaskan kalau kamu siap menikah dengan ku."

"Tidak bisakah kamu yang menjelaskan sendiri? Aku banyak urusan yang harus aku kerjakan sekarang."

"Tidak akan lama. Hanya sesaat saja. Hanya butuh kata kamu setuju menikah dengan ku. Setelah itu, semuanya beres."

"Baiklah. Aku pasrah."

Merekapun kembali masuk ke dalam. Para orang tua sedang menunggu keputusan kedua anak tersebut dengan wajah yang masih sangat tegang.

"Jadi, kamu setuju menikah dengan Sinta, Wana?" Suara papa Wana terdengar tinggi.

"Iya. Aku setuju."

"Sinta. Kamu yakin untuk menikah dengannya?"

"Yakin, Om. Aku akan menikah dengannya."

"Apa alasannya, Sinta? Apa alasan kamu yang tiba-tiba meminta pernikahan di tukar dengan Wana? Padahal selama ini, hubungan kamu dengan Rama baik-baik saja, bukan?" Mama Wana angkat bicara.

"Alasannya .... " Sinta terlihat mempertimbangkan apa yang akan dia katakan. Pada akhirnya, dia memilih untuk menyembunyikan alasan tersebut. "Alasannya, nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, aku tidak ingin mengatakannya. Biarlah hanya aku sendiri yang tahu alasan itu untuk saat ini."

"Tapi-- "

"Tante, mama, om, dan papa. Karena yang akan menjalani rumah tangga adalah aku, maka aku lah yang harus memutuskan. Sekarang, aku putuskan untuk menikah dengan kak Wana. Keputusan itu sudah bulat. Aku tidak ingin mengubahnya lagi."

"Kamu tidak akan menyesal, Sinta, dengan apa yang telah kamu putuskan? Tidak takut menyesal kamu, hm?"

"Tidak, Ma. Aku tidak akan menyesal. Sudah ku katakan kalau keputusan itu sudah bulat. Aku ingin menikah dengan kak Wana. Bukan dengan Rama."

Mereka semua terlihat sedikit kecewa. Tapi pada akhirnya, mereka dipaksa untuk menerima. Hembusan napas berat, dengusan, atau bahkan hanya sekedar tatapan lekat singkat yang datang bersama napas pelan pula terdengar. Sepertinya, keputusan yang Sinta ambil benar-benar tidak membuat hati para orang tua bahagia.

Tanggal pernikahan pun ditetapkan. Dua bulan dari sekarang. Sepertinya, itu waktu yang cukup singkat, cukup untuk menunggu ekspresi Rama di hari bahagia yang akan datang.

Sebelum mereka pulang, setelah kesepakatan ditetapkan dengan bulat, Sinta minta para orang tua tidak mengabari akan pilihannya itu ke dunia luar. Bahkan, dia minta pilihannya dirahasiakan dari Rama.

"Kenapa begitu? Kenapa harus dirahasiakan?"

"Karena aku ingin ini jadi kejutan buat Rama."

"Kejutan? Apalagi itu maksudnya, Sinta?"

"Kalian akan tahu nanti apa yang aku maksudkan."

Para orang tua bingung sekaligus penasaran. Namum, karena Sinta tidak ingin bicara, maka mereka mengikuti apa mau anak itu. Mereka setuju akan apa yang Sinta katakan. Mereka akan merahasiakan pilihan itu sampai hari besar itu datang.

*

"Sin, katanya, kemarin, tanggal pernikahan kamu ditetapkan? Kapan tanggalnya? Katakan dong sama kita. Biar kita tahu duluan dan bisa siap-siap dari sekarang." Liliana, teman Sinta berujar.

"Iya, Sinta. Aku penasaran, kapan nih tanggal pernikahan kamu sama Rama." Lusi pula angkat bicara.

Dua teman terdekat Sinta yang selama ini selalu berteman baik dengan gadis tersebut. Selama ini, mereka adalah teman yang paling Sinta percaya. Yang bisa dikatakan, tahu pahit manisnya perjalanan hidup Sinta dengan cukup baik.

Pertanyaan itu membuat Sinta langsung melepas napas berat. Sesaat terdiam, lalu gadis itu menyesap kopi yang ada di depannya. Iya, mereka sedang duduk di cafe saat ini. Para anak orang kaya sedang ngumpul bersama di cafe yang jadi tempat ngumpul terbaik buat mereka bertiga.

Lili menyipitkan matanya saat melihat ekspresi yang Sinta perlihatkan. "Sin, apa yang terjadi?"

"Hm ... apa tanggal pernikahannya masih lama, Sinta?" Lusi pula ikut bertanya.

"Bukan. Bukan tanggal pernikahannya yang masih lama. Tanggal pernikahannya cukup dekat. Itu hanya berjarak dua bulan dari sekarang."

"Dua bulan? Cukup untuk persiapan," ucap Lusi.

"Lah, terus?" Lili melontarkan rasa penasarannya. "Masalahnya apa, Sin? Aku lihat, kamu kek ada beban aja yang sedang kamu tahan saat ini. Padahal, pernikahan ini kamu yang sangat berharap, bukan?"

"Kalian tahu? Aku menukar calon suamiku."

"Apa!" Kompak, dua sahabat itu langsung berteriak keras sambil bangun dari duduk. Sontak, mereka bertiga langsung jadi pusat perhatian para pengunjung cafe yang ada di tempat tersebut.

"Apa yang kalian lakukan? Aduh .... " Sinta mengeluh sambil menutup sedikit wajahnya dengan satu tangan.

Kedua sahabatnya itupun langsung nyengir-nyengir tak enak pada pengunjung yang telah mereka rusak ketenangan tersebut.

"Maaf-maaf," ucap keduanya hampir serentak.

Part 3

"Aduh, sumpah. Aku kaget banget," ucap Liliana sambil melepas napas berat.

"Tentu saja kaget. Kamu sudah lama ingin menikah dengan Rama, tapi saat hari pernikahan sudah di tentukan, kamu malah bilang, kamu ganti pasangan. Jangankan kita berdua yang sangat tahu bagaimana kisah hidupmu bersama dia, semesta yang ikut menyaksikan kisah kalian aja pasti sangat terkejut."

Sinta tersenyum geli dengan apa yang baru saja Lusi katakan. "Apaan sih? Kok malah bawa-bawa semesta. Gak seberat itu juga kali, Lus."

"Aku serius, tau? Aku serius. Kamu bikin kita hampir jantungan. Benar gak, Li?"

"He'eh. Benar banget. Tiba-tiba kamu bilang kamu ganti pasangan. Siapa yang gak kaget coba."

"Ngomong-ngomong, kamu ganti pasangan dengan siapa? Cowok mana?"

"Iya. Kamu ganti dengan siapa? Jangan bilang sama Doren yah. Masa iya kamu pilih anak pecicilan itu buat nikah sama kamu, Sin. Kan nggak wow banget," ucap Lusi agak kesal.

"Nggak wow, atau ada yang akan terluka hati kalo aku pilih dia?"

"Itu .... " Wajah Lusi sedikit berubah selama beberapa detik. "Tentu saja nggak wow. Ngomong apa sih kamu? Jangan bicara yang enggak-enggak."

"Mm ... kalian malah bahas yang lain. Aku ini penasaran tau, siapa yang kamu pilih, Sinta. Tapi, aku rasa, hanya Doren satu-satunya kandidat yang tersisa untuk Sinta. Karena dalam keluarga Hermawan, dia adalah sepupu terdekat yang dibesarkan dengan ketat pula oleh kepala keluarga Hermawan."

Apa yang Lili katakan itu benar. Selain Rahwana dan Rama, masih ada Doren. Sepupu dari kedua pria tersebut. Meskipun tak tinggal satu atap dengan Rama Dan Wana, tapi dia diakui sebagai bagian utama dari dua penerus keluarga Hermawan.

Wajar, jika Lusi dan Lili berpikir Sinta akan memilih Doren. Karena selain Doren, tentu tidak ada yang lebih cocok. Meskipun sikap Doren agak berbeda dari Rama, dan sangat berbanding terbalik dari Wana, tapi Doren termasuk pilihan yang sangat memungkinkan untuk Sinta pilih.

"Sin, ayo katakan! Kamu pilih Doren ya?" Lusi mulai mendesak.

"Iya, Sin. Katakan sekarang. Jangan tambah rasa penasaran dalam hati kami. Kami sudah kamu buat kaget, jadi tolong, jangan bikin hati ini tidak nyaman lagi."

"Yang ku pilih ... kak Wana."

"Apa!" Sekali lagi, dua gadis yang ada di depan Sinta terbangun akibat kaget.

Para pengunjung kembali menjadikan mereka bertiga sebagai pusat perhatian. Sinta sontak langsung menarik tangan kedua sahabatnya.

"Apa yang kalian lakukan? Kalian ingin kita di usir dari cafe ini ya?"

"Sumpah ya sumpah. Bercandaan mu itu kelewatan batasnya, Sin. Nggak lucu sama sekali tahu nggak."

"Cukup ya, Sin. Jangan bercanda lagi. Jangan bikin kita berdua jantungan. Ini jantung udah nggak kuat lagi. Tolong, jangan main-main. Aku bisa masuk rumah sakit juga hari ini, tau gak sih?" Lusi terlihat agak kesal saat ini.

Kekesalan kedua sahabatnya malah membuat Sinta tersenyum kecil. Bagaimanapun, dia sudah menduga jika sahabatnya akan berekspresi seperti saat ini. Ekspresi tak percaya akan apa yang telah ia katakan.

"Sinta .... "

"Iya-iya. Kenapa sih?"

"Jujurlah!"

"Aku sudah jujur. Kalian berdua saja yang tidak mau percaya. Aku pilih kak Wana."

"Sinta. Jangan gila."

"Apaan sih, Lus? Aku nggak gila. Aku pilih kak Wana, dan itu adalah pilihan yang telah aku buat dengan pertimbangan yang sangat matang."

Kedua sahabat Sinta memberikan tatapan lekat penuh selidik. Dia seolah sedang berhadapan dengan polisi yang sedang mengintrogasi maling yang baru saja selesai melakukan pencurian besar.

Sinta membalas tatapan dua sahabatnya sambil menyipitkan sedikit mata. "Kalian, masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan?"

Dua gadis yang ada di depannya langsung menggelengkan kepala dengan kompak.

Dengan kompak pula keduanya memberikan jawaban secara serentak. "Tidak."

Sinta pun menyentuh dahinya dengan satu tangan. "Aduh, ya Tuhan. Harus bagaimana lagi aku supaya bisa bikin kalian percaya. Aku pilih kak Wana sebagai suamiku."

"Sungguh?" Lusi bertanya dengan suara agak pelan.

"Ya iya. Sungguh, beneran, betul, apa lagi ya? Intinya, apa yang aku katakan itu benar. Ku pilih tuan muda pertama sebagai suami? Kok kalian gak percaya-percaya juga sih?"

"Sinta. Saat memilih, aku yakin kamu sedang emosi berat. Kamu sedang sangat marah sampai harus memilih dia sebagai suami kamu."

"Apaan sih? Ngomong apa sih sebenernya kalian berdua? Aku sudah bilang sebelumnya kalau aku pilih dia setelah aku pertimbangkan dengan sangat matang. Kalian kok masih, aduh .... Bingung aku gimana cara menjelaskannya pada kalian berdua. Gak tahu aku cara agar bisa bikin kalian percaya dengan apa yang aku katakan barusan."

Dua sahabat itu akhirnya saling bertukar pandang sejenak. Lalu kemudian, mereka saling angguk-anggukan pelan.

"Oke. Kami percaya," ucap Lusi mantap.

"Iya. Kita percaya dengan apa yang kamu katakan. Tapi, ya Tuhan, kenapa kamu pilih dia sih, Sin?"

"Kenapa?"

"Ya Tuhan, Sinta .... Seorang gadis cantik, bak dewi yang baru turun dari kahyangan milih Rahwana yang ... iya ... paham sendiri deh apa maksudnya itu," ucap Lili akhirnya tidak bisa menjelaskan apa yang ingin ia katakan pada sahabatnya ini.

Sekarang, giliran Lusi yang menjelaskan. "Sin, gini deh. Kamu cantik. Bisa di bilang, sangat cantik malahan. Siapapun lelaki yang kamu sukai, pasti akan bisa kamu dapatkan. Kenapa harus memilih Rahwana yang wajahnya ... iya, maksud aku, kenapa pilih pria yang tidak sempurna untuk kamu jadikan pasangan."

Sinta sedikit menarik bibir untuk tersenyum. Pujian yang sahabatnya berikan memang tulus. Tapi, dia tidak ingin memikirkan hal tersebut. Sebaliknya, kata-kata Lusi barusan membuat hatinya sedikit terusik.

"Lusi, Lili. Cantik tidak menjamin jadi pilihan setiap pria bukan? Lihatlah ke sana," ucap Sinta sambil menatap ke arah luar cafe dari kaca bening yang menjadi pembatas dari cafe tersebut.

Kedua sahabat itupun langsung melihat ke arah mata Sinta melihat. Mata mereka membulat saat melihat pria yang sangat mereka kenal sedang berjalan dengan bahagia bersama seorang wanita dengan tampilan sederhana. Sederhana, tidak cukup menggoda. Singkatnya, tampilan gadis itu sangat jauh berbeda dari apa yang Sinta punya.

Cantik, jauh lebih cantik Sinta. Modis, tentu saja jauh lebih modis Sinta. Meskipun Sinta tidak memperlihatkan kekayaan yang ia miliki secara jelas, gadis yang ada di sana tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan Sinta yang sejak waktu sekolah hingga kuliah selalu di sebut putri atau bahkan bidadari surga yang turun ke bumi.

Tapi, cinta memang tidak memandang fisik atau kemewahan. Buktinya saja, pria yang tak lain adalah Rama itu tertarik pada gadis sederhana itu. Pria yang Sinta cintai, malah mengabaikan Sinta yang di sebut bidadari kampus hanya untuk gadis biasa atau lebih tepatnya, rakyat jelas.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!