Indonesia
NovelToon NovelToon

SISTEM KEADILAN ABSOLUT

Bab 1

[Kasus Tuduhan Palsu MRT Jakarta]

Berita ini baru saja meledak di jagat maya, jadi topik hangat yang dibahas di mana-mana!

Bimo lagi asyik main HP di dalam gerbong MRT, tiba-tiba dua cewek yang ngaku diri "Selebtoktok" datang tampar dia keras-keras. Mereka nuduh Bimo ambil foto sembarangan.

Dengan sok berkuasa, si "Selebtoktok" sama petugas keamanan maksa minta diperiksa HP-nya, bahkan sampai buka paksa tas Bimo buat dicari-cari. Tapi setelah semuanya dibongkar dan hasilnya nihil, mereka malah pergi gitu aja tanpa satu kata maaf pun.

Karena gak terima diperlakukan semena-mena, Bimo bawa masalah ini ke meja hijau. Dia nuntut permintaan maaf resmi sama ganti rugi atas tekanan batin yang dia rasain.

Tapi apa balasannya? Si "Selebtoktok" malah balik nuntut! Mereka ngaku jadi korban cyberbullying, depresi, nolak minta maaf, dan malah minta Bimo yang bayar ganti rugi sama mereka!

Dan yang bikin heboh, hakim yang tangani kasus ini cewek. Putusan sidang pertama pun keluar...

Bimo kalah telak. Dia malah disuruh bayar ganti rugi biaya pengobatan dan tekanan mental buat si penuduh!

"Dituduh motret sembarangan, mereka nyebar berita bohong di internet, gak mau minta maaf, tapi sekarang giliran gue yang harus bayar mereka? Atas dasar apa ini?!" ujar Bimo dengan nada emosi pas diwawancara. Dia bertekad bakal terus banding sampai ke Mahkamah Agung demi bela kebenaran.

Arga nutup layar HP-nya setelah selesai baca berita itu.

Dia pengacara muda yang baru buka kantor sendiri. Udah setengah tahun lewat, tapi belum ada satu klien pun yang datang. Kantornya sepi banget.

Padahal, di kehidupan sebelumnya, Arga itu pengacara kelas kakap dengan rekor menang kasus nyaris 100%! Satu-satunya kasus yang gagal dia menangkan karena sebelum sidang dia kecelakaan ketabrak mobil. Begitu sadar, dia malah pindah raga.

Pemilik tubuh aslinya juga cita-citanya mau jadi pengacara hebat seperti hotman poris, tapi realita berkata lain. Kantornya hampir bangkrut, uang bayar sewa bulan depan aja dia gak punya.

Baru aja Arga mau pasrah terima nasib, pintu kantornya diketuk keras. Bimo dateng minta tolong buat banding.

"Pak Arga! Tolong bantu saya, berapapun biayanya gak masalah! Saya mau dengar mereka berdua minta maaf sama saya!"

"Emangnya boleh seenak udel nuduh orang mesum seenaknya? Kenapa mereka berhak nyita HP Saya? Kenapa satpam boleh seenak itu buka paksa tas saya cari kamera?"

"Belum selesai di situ, mereka malah bikin video di TokTok dan nyebar di grup sekolah bahwa saya itu fotographer mesum! Sekarang satu sekolah mandang Saya jijik semua!"

"Saya bakal gugat mereka sama pihak MRT! Mereka harus tanggung jawab atas hancurnya nama baik Saya Demiiii Tuhannnn!" seru Bimo.

Dia cuma mau keadilan, kan? Gak boleh dong orang seenaknya fitnah orang lain cuma karena mau cari perhatian?

"Ini uang 200 juta Rupiah. Saya gak tahu cukup apa belum. Uang gak masalah, yang penting mereka minta maaf! Kelakuan mereka itu menjijikkan banget!" Bimo sodorin amplop tebal.

Arga mengangguk tenang, "Ceritain detail kejadiannya, sama kasih Saya salinan putusan pengadilannya."

Maka berceritalah Bimo...

Saat itu dia mau pulang sekolah, MRT lagi padat-padatnya. Dia berdiri sambil main HP, pas mau masukin HP ke saku, tiba-tiba Laras dan Tania dateng tampar dia terus teriak-teriak nuduh dia mesum!

Suasana langsung ricuh. Orang-orang pada melotot. Mereka langsung nelpon polisi dan bikin ribut besar. Begitu sampai stasiun, petugas keamanan langsung kelilingi mereka.

Laras rebut HP Bimo, dibuka satu-satu fotonya, nihil. Gak ada bukti apa-apa.

Eh, Tania malah ngotot, "Pasti kameranya disembunyiin di dalem tas tuh!"

Tanpa basa-basi, petugas langsung buka paksa tas Bimo buat diperiksa. Tetep aja gak ketemu apa-apa.

Akhirnya polisi datang dan mediasi. Hasil mediasi sih harusnya mereka minta maaf. Tapi gimana maafnya? Mereka cuma basa-basi ngomong ke angin, muka jutek, terus pergi tanpa natap mata Bimo. Laras bahkan masih sempat-sempatnya nuduh foto di HP Bimo itu foto cewek, padahal itu cuma foto pemandangan biasa!

Sesampainya di rumah, mereka berdua malah bikin konten video, nyerang Bimo di medsos, bikin opini publik hancur. Jadilah akhirnya kasus ini masuk pengadilan dan Bimo kalah di putusan pertama. 

[Ding! Selamat Tuan telah mendapatkan Sistem Dewa Vonis Absolut!]

[Misi Utama: Menangkan kasus ini di pengadilan.]

[Hadiah Misi: Uang Tunai 200 Juta Rupiah.]

[Paket Pemula sedang didistribusikan... Kemampuan analisis hukum dan penilaian kasus meningkat 300%!]

[Skill 'Tangan Dewa' telah aktif: Bisa ekstrak bukti tersembunyi dari berkas kasus. Bisa dipake 3 kali sehari!]

Suara sistem itu kedengeran jelas di kepala Arga pas dia baru aja selesai paham seluruh kronologi kasus ini.

Arga santai aja. Dia udah paham banget cara kerja sistem kek gini.

Jadi pengacara itu udah pasti cuan, apalagi jadi pengacara nomor satu di negara ini. Siapa sih yang bakal nolak duit banyak?

"Oke, Aku udah ngerti situasinya. Kasus ini Aku tangani," kata Arga datar. "Biaya perkaranya gak bakal sampe segini kok. Nanti biayanya bakal kita bebankan ke pihak lawan."

"Pak Arga, yang penting menang! Uang 200 juta itu anggap aja sumbangan buat perkembangan kantor Bapak! Saya cuma mau keadilan!"

"Mereka injak-injak harga diri saya, bully saya di internet, hancurin hidup saya, tapi saya yang harus bayar ganti rugi? Kenapa dunia ini gak adil, Pak? Kenapa orang baik selalu yang rugi?" Bimo kelihatan sangat terpukul.

Arga mulai nyusun strategi. Kasus ini viral banget, komentarnya membelok tajam. Kalau dia bisa menangkan ini, bukan cuma dapat bonus 200 juta dari sistem, nama kantornya juga bakal langsung melambung tinggi!

Di medsos, kasus [Tuduhan Palsu MRT] ini udah tembus puluhan juta views, netizen pada panas dingin.

[Gila ya nasib orang, dituduh mesum eh malah disuruh bayar duit? Wkwk, dunia emang udah gila.]

[Sifat asli 'Selebtoktok' ternyata busuk ya. Semoga ada pengacara keren yang bales dendam buat dia!]

[Ada gak sih pengacara hebat yang mau bantu kakak ini? Kasian banget liatnya.]

[Padahal gak ada bukti sama sekali, kok bisa-bisanya kalah? Logika mana yang dipake?]

[Komentar hari ini kenapa pada aneh sih? Emang kalau cowok otomatis pasti mesum? Kenapa mereka gak dituntut karena fitnah?]

[Wajahnya emang kelihatan mesum sih, jadi wajar kalau dicurigai.]

[Gak tau terima kasih, main bully cewek aja. Emang banyak banget cowok brengsek sekarang.]

[Pengen deh ada gerbong khusus cewek, males banget satu gerbong sama orang-orang mesum kek gini.]

[Loh kok banyak cowok yang protes? Hakim kan udah putusin pasti dia salah. Gak usah bahas bukti, dari mukanya aja udah kelihatan orangnya kek apa.]

Bab 2

Arga sudah memetakan seluruh situasi dengan jelas. Dia bahkan sempat turun langsung ke kantor polisi dan pengadilan untuk menelusuri berkas.

Setelah dianalisis, fakta yang terungkap sangat menyakitkan. Laras dan Tania memang salah besar menuduh Bimo motret sembarangan. Pasca mediasi, mereka sama sekali gak menunjukkan penyesalan. Permintaan maafnya cuma basa-basi, ngomong ke angin, bahkan dengan santai tantang Bimo buat gugat mereka ke pengadilan.

Anehnya, CCTV di dalam kereta saat kejadian itu error. Semua rekaman lain aman, tapi bagian di mana Bimo dan kedua cewek itu berada, videonya hilang begitu saja.

Belum selesai di situ, Laras dan Tania malah bikin video di medsos mengaku jadi korban pelecehan. Alhasil, gerombolan netizen yang gak tahu fakta langsung menyerang Bimo habis-habisan. Ribuan akun hater berbondong-bondong nyerang, sampai mereka berdua sok-sokan mengaku depresi berat.

Di putusan pertama, hakim beranggapan karena mereka sudah "minta maaf", maka masalah selesai. Padahal catatan polisi aja mencatat kalau permintaan maaf itu cuma formalitas doang.

Bimo juga sempat bikin video klarifikasi, tapi malah diputar balik fakta. Hakim bilang Bimo yang "memperkeruh suasana", makanya dia gak berhak dapat ganti rugi. Sebaliknya, karena Laras dan Tania jadi korban bullying usai video klarifikasi Bimo keluar, hakim malah memvonis Bimo harus bayar biaya pengobatan dan kompensasi buat mereka!

Padahal kasusnya simpel banget. Intinya cuma satu: Hakimnya berat sebelah.

Nama hakim yang menangani kasus ini adalah Hj. Yuliana.

Hakim Yuliana ini terkenal punya bias yang sangat kuat memihak pihak wanita.

"Oke, kalau gitu caranya..." gumam Arga dingin.

Dia langsung mengaktifkan sistem untuk menganalisis seluruh kasus!

[Mencari data... Ekstraksi bukti dimulai!]

[Bukti 1: Video rekaman saat Laras dan Tania "minta maaf" dengan wajah jutek dan nada mengejek.]

[Bukti 2: Bukti pengacara sepupu mereka, Rina, yang mengarang surat keterangan depresi palsu.]

[Bukti 3: Bukti Laras dan Tania pakai banyak akun palsu buat nyerang dan fitnah Bimo di internet.]

[Bukti 4: Chat history mereka berdua yang ternyata hobi nuduh orang lain seenaknya di MRT.]

[Bukti 5: Bukti transferan suap ke Hakim Yuliana.]

[Bukti 6: Data 20 kasus dalam 3 tahun terakhir yang selalu dimenangkan pihak wanita oleh Hakim Yuliana, meski bukti lemah.]

[Bukti 7: Bukti pihak pengelola MRT yang sengaja menghapus rekaman CCTV hari itu.]

Bukti-bukti ini sangat meledak! Karena batas sistem cuma bisa ambil 3 bukti per hari, Arga langsung pilih yang paling krusial: Video permintaan maaf, bukti rekayasa depresi, dan bukti mereka cyberbullying pakai akun ganda.

Begitu bukti terbuka, Arga terkekeh pelan.

Di video itu terlihat jelas wajah mereka yang arogan, minta maaf tapi mukanya ketus, bahkan sempat ketawa-ketiwi. Belum lagi bukti chat dan akun medsos mereka yang ternyata sibuk nyerang Bimo dari berbagai akun, sampai nyebar fitnah sampai ke lingkungan sekolah Bimo!

Tiga hari berlalu, semua bukti sudah terkumpul sempurna di tangan Arga.

Dengan bukti sekuat ini... tuntutan minta maaf dan ganti rugi itu terlalu murah!

Arga tidak cuma mau mereka minta maaf. Dia mau Laras, Tania, sampai pengacara mereka masuk bui!

Bahkan Hakim Yuliana yang curang itu pun, Arga pastikan bakal ikut terseret dan berurusan dengan KPK!

"Permainan baru saja dimulai," bisik Arga.

Dia langsung menyusun gugatan baru. Bukan banding, tapi mengajukan gugatan ulang dengan pasal yang jauh lebih berat!

Di dunia ini, pengajuan gugatan memang prosesnya cepat. Biasanya orang cuma bisa banding, tapi Arga memilih jalan lain: Menggugat balik dengan tuduhan Pidana!

Pengadilan langsung menerima berkasnya dan menetapkan sidang akan digelar tiga hari lagi!

Sementara itu di dunia maya, warganet masih panas dingin. Banyak yang dukung Bimo, tapi banyak juga yang nyinyir.

[Sialan, kapan nih Bimo banding? Kasian banget nasibnya.]

[Emang boleh ya orang seenaknya nuduh? Gak dapat bukti malah sok depresi minta duit?]

[Putusan ini gak masuk akal banget, gue gak terima!]

[Kabarnya gak ada pengacara yang mau tangani kasus ini, mustahil menang kalau gak ada bukti CCTV.]

[Iya lah, kan CCTV-nya rusak pas kejadian. Kebetulan banget ya?]

[Bimo: Gue dituduh mesum, eh gue yang disuruh bayar duit. Hidup memang kejam wkwk.]

[Tolong dong ada pengacara baik hati yang bantu dia! Kita butuh keadilan!]

[Bapak Aing tolongin Bimo dong!!!]

Tapi tak sedikit pula komentar yang membela si "Selebtoktok".

[Udah putusan mahkamah kok masih ngeyel? Dasar cowok toxic.]

[Wajahnya emang kelihatan mesum sih. Kali ini gak ketangkep, belum tentu dia gak melakukannya lain waktu.]

[Banding juga percuma, gak bakal menang.]

Banyak pengacara senior juga pada komentar di media, bilang kasus ini sudah mati. Mustahil menang karena gak ada bukti baru dan putusan pertama sudah jatuh.

"Kasus ini dead end. Gak ada yang bisa menangin gugatan model begini."

"Tanpa bukti kuat, Bimo cuma bisa menelan pil pahit."

Baru saja para ahli hukum itu meramal nasib suram bagi Bimo...

Tiba-tiba sebuah berita breaking news muncul!

[TEMPOX: Kasus Tuduhan Palsu MRT! Ada Pengacara Berani Tangani Kasus Ini! Sidang Akan Digelar 3 Hari Lagi!]

Dan yang bikin seluruh dunia hukum geger...

Ini BUKAN sidang banding, tapi PENGAJUAN GUGATAN BARU DENGAN PASAL PIDANA!

Bab 3

Berita soal gugatan ulang ini langsung meledak! Media pun segera merilis siapa pengacara yang mewakili kedua belah pihak.

Ternyata, Laras dan Tania menyewa Rina Wijaya, pengacara top yang sudah malang melintang tujuh tahun dengan tingkat kemenangan mencapai 70%! Nama besar di dunia hukum.

Sementara di sisi Bimo... yang muncul cuma Arga, pengacara muda yang baru lulus, bahkan belum pernah menang satu kasus pun selama setengah tahun buka praktik!

Elite Lawyer VS Rookie Lawyer.

Netizen langsung heboh membahasnya.

[Hah? Bimo nyewa pengacara magang? Serius?]

[Gila sih, gimana mau menang lawan pengacara senior? Jarak kemampuannya jauh banget.]

[Udah kalah di sidang pertama, sekarang gugat lagi tapi bawa pengacara cupu. Pasti kalah lagi deh.]

[Iya lah, lawannya itu serigala, tim kita ini husky yang masih kecil wkwk.]

[Udah tamat kayaknya ceritanya. Meskipun si "Selebtoktok" salah, tapi pengacaranya hebat.]

[Kenapa gak nyewa yang profesional sih? Buang-buang waktu aja nyewa pengacara pemula.]

Di sisi lain, Laras dan Tania tahu kalau mereka digugat lagi dan tahu lawannya cuma pengacara magang, mereka malah ketawa.

"Orang ini nekat ya, nyewa pengacara baru mau lawan kita?" celetuk Laras.

Tania agak gelisah, "Kak, beneran gak usah minta maaf aja ya? Kan kita cuma kira-kira dia motret, terus minta cek HP. Salah dikit doang kan?"

Laras langsung mendengus, "Minta maaf apanya sama cowok jijik gitu? Gue udah suruh sepupu gue yang tangani. Dia pengacara hebat lho, menang terus! Dia bilang malah ada bukti baru, kali ini kita bisa bikin Bimo masuk penjara!"

Mata Tania langsung berbinar, "Beneran bisa masukin Bimo ke penjara, Kak?!"

"Pasti dong! Siapa lagi yang pantas masuk kalau bukan dia? Kalau gue gak sadar duluan, mungkin gue yang udah difoto dia!" jawab Laras sombong.

Seperti biasa mereka berdua lagi naik MRT. Kebetulan di depan mereka ada cowok ganteng banget.

Laras dan Tania langsung sibuk motret! Cekrek! Cekrek! Cekrek!

Selama 40 menit perjalanan, HP mereka gak berhenti njepret cowok itu dari berbagai sudut, bahkan sampai bagian bawah badan pun difotoin.

Laras langsung upload ke grup telegram, [Para bestie-bestiku! Dapet cogan di MRT! Ganteng banget sumpah!]

Dia juga posting di status WA-nya, [OMG! Ketemu pangeran!! Alamak tampannya 😍]

Tania ikutan posting juga.

"Ah, kalau bisa tidur sama cowok ganteng gini semalam, pasti enak banget," gumam Laras sambil senyum-senyum.

"Iya nih, mata jadi seger. Beda banget sama si Bimo yang jijik itu, kesannya mesum banget," sahut Tania.

Mereka lupa, bahwa apa yang mereka lakukan sekarang... persis seperti apa yang mereka tuduhkan ke orang lain!

Tiga hari berlalu. Hari persidangan tiba.

Kasus ini disiarkan langsung secara live streaming! Pengadilan di negara ini terbuka untuk pengawasan publik.

Sebelum sidang dimulai, penonton online udah ada belasan ribu orang!

[Kapan mulai nih?]

[Semoga si "Selebtoktok" dipaksa minta maaf! Fitnah orang terus gak bertanggung jawab.]

[Semangat Pak Arga! Menang dong, bikin mereka nangis!]

[Kalau Bimo kalah lagi, berarti kedepannya orang bisa sembarangan nuduh orang seenaknya ya?]

[Gue jadi takut naik MRT, nanti dituduh sembunyiin kamera di tas.]

[Tapi jujur sih, rasanya susah menang. Lawannya pengacara senior, kita cuma pengacara magang.]

[Meskipun gak yakin menang, tapi tetap berdoa yang terbaik deh!]

Tinggal tiga menit lagi. Hakim, juri, semua saksi sudah duduk rapi. Bimo sudah di tempat penggugat. Laras, Tania, dan Pengacara Rina juga sudah siap di tempat tergugat.

Semua sudah lengkap... kecuali Arga.

[Wkwk, telat nih si pengacara magang.]

[Iya, beneran telat.]

[Gak profesional banget. Semua udah pada dateng, dia kemana?]

[Udah tamat ini kasus. Cuma nyisa satu menit, pengacaranya gak ada. Mending gak usah lawan dari awal.]

Tinggal SATU MENIT sebelum sidang resmi dimulai...

CREK!

Pintu ruang sidang terbuka. Arga masuk dengan langkah santai tapi penuh wibawa, tangan di saku celana, wajah datar tanpa ekspresi. Dia duduk tepat waktu di kursi pengacara.

Laras berbisik ke Rina, "Kak Rina, gak ada masalah kan?"

Rina tersenyum sinis, "Tenang aja. Aku punya bukti baru yang bisa bikin Bimo langsung masuk bui. Nanti kalian tinggal iya-in aja."

Rina langsung mencoba menjatuhkan mental Arga sebelum sidang mulai.

"KEBERATAN! Yang Mulia Hakim! Pengacara lawan terlambat datang! Ini menghina pengadilan! Saya minta agar kuota hukumnya dicabut dan dia diminta keluar!" seru Rina lantang.

Semua mata tertuju ke Arga.

Arga mendongak, menatap Rina dengan tatapan dingin.

"Maaf ya Bu Pengacara, dengan kecerdasan Ibu seharusnya tidak perlu jadi pengacara. Lihat jam dinding dong, persidangan belum mulai. Di mana buktinya saya terlambat? Atau mata Ibu buta? Kebetulan saya kenal dokter mata bagus, mau saya rekomendasikan?"

Cessss!

Jawaban Arga pedas banget! Penonton online langsung heboh.

Rina tersenyum miring, berusaha tetap santai. "Hahaha, ternyata pengacara muda tidak bisa diajak bercanda ya. Pantas saja setengah tahun tidak ada yang mau pakai jasa Anda, memang ada alasannya."

Suasana jadi tegang. Biasanya pengacara gak saling serang personal begini. Tapi karena Rina mulai duluan, Arga gak mau kalah.

Arga menatap Rina tajam, "Maaf ya, ibumu meninggal ya? ... Eh bercanda kok, ibumu kan masih hidup."

PLAK! Serangan balik yang mematikan!

Wajah Rina langsung berubah merah padam, matanya memancarkan amarah. "Mulut Anda kotor! Semoga ini kasus terakhir dan terakhir kali Anda bisa jadi pengacara! Tahu kan kantor Anda mau bangkrut? Kalau kalah hari ini, langsung tutup toko!"

Arga minum air putih dengan tenang, lalu berkata pelan tapi jelas:

"Kantor saya bangkrut atau enggak itu urusan belakangan. Yang penting... setelah kasus hari ini, saya tidak yakin Ibu masih bisa praktek jadi pengacara lagi."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!