Hujan turun dengan lebat, mengguyur halaman belakang Kediaman Klan Lin di Kota Awan Merah. Suara rintik hujan tersamarkan oleh bunyi hantaman keras yang berulang-ulang.
Bruk! Bruk! Bruk!
Seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun terus meninju tiang kayu besi yang tebal. Pakaiannya basah kuyup, menempel pada tubuhnya yang kurus namun dipenuhi luka. Buku-buku jarinya telah robek, mengeluarkan darah segar yang bercampur dengan air hujan, tetapi ia seolah tidak merasakan sakit.
Namanya Lin Chen.
"Tiga tahun..." gumam Lin Chen dengan gigi terkatup. Matanya menatap tiang kayu itu dengan kebencian dan ketidakberdayaan yang mendalam. "Sudah tiga tahun sejak meridianku dihancurkan. Apakah aku benar-benar ditakdirkan menjadi sampah seumur hidupku?"
Dulu, pada usia dua belas tahun, Lin Chen adalah kebanggaan Klan Lin. Ia menembus Ranah Pengumpulan Qi di usia yang sangat muda, dijuluki sebagai jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, sebuah serangan mendadak dari sosok bertopeng misterius di malam hari menghancurkan semua meridian di tubuhnya.
Dalam dunia kultivasi, tanpa meridian yang utuh, seseorang tidak akan bisa menampung Qi spiritual alam. Dari seorang jenius yang dipuja, Lin Chen jatuh menjadi "sampah" yang dihina oleh semua orang, bahkan oleh keluarganya sendiri.
"Yo, lihat siapa yang sedang berlatih. Bukankah ini mantan jenius kita, Saudara Sepupu Lin Chen?"
Sebuah suara penuh nada ejekan terdengar dari koridor beratap di dekat halaman. Sekelompok remaja berpakaian sutra mewah berjalan mendekat. Pemimpinnya adalah seorang pemuda bertubuh tegap dengan senyum angkuh, Lin Lang.
Lin Lang saat ini berada di Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 7, salah satu talenta terbaik generasi muda Klan Lin saat ini. Gelar yang dulu disandang oleh Lin Chen.
Lin Chen menghentikan pukulannya, menatap dingin ke arah kelompok itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Masih bermimpi untuk memulihkan meridianmu?" Lin Lang tertawa sinis, melangkah menembus hujan dengan sebuah payung kertas minyak yang dipegang oleh pelayannya. "Terimalah kenyataan, Lin Chen. Kau sekarang hanyalah beban bagi klan. Tadi pagi, Tetua Klan telah memutuskan untuk memotong jatah sumber daya bulananmu menjadi nol. Ramuan obat tidak berguna untuk tubuh yang bocor sepertimu!"
Mendengar itu, Lin Chen mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. "Keputusan Tetua? Atau akal-akalan ayahmu yang ingin mengambil jatah ramuanku untukmu?"
Wajah Lin Lang menggelap. Ia mendengus dingin dan tiba-tiba melesat ke depan. Gerakannya terlalu cepat untuk diikuti oleh mata Lin Chen yang tidak memiliki Qi.
Brak!
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di dada Lin Chen. Remaja itu terlempar ke belakang, menghantam dinding batu dan memuntahkan seteguk darah. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di dadanya, memperparah luka lama di meridiannya.
"Jaga mulutmu, Sampah!" Lin Lang menatap jijik dari atas. "Jika bukan karena Paman Lin (ayah Lin Chen) masih menjabat sebagai Kepala Klan secara nominal, aku sudah melemparmu keluar dari kediaman ini. Ingat posisimu!"
Setelah membuang ludah, Lin Lang berbalik dan pergi bersama pengikutnya yang tertawa terbahak-bahak.
Lin Chen bersandar di dinding batu yang dingin, terbatuk beberapa kali. Hujan membasuh darah di wajahnya. Mata remajanya menyala dengan api ketidakadilan yang tak kunjung padam. Yang kuat memangsa yang lemah. Di dunia ini, tanpa kekuatan, kau bahkan tidak punya hak untuk bernapas!
Dengan susah payah, ia bangkit dan menyeret tubuhnya kembali ke kamar kayunya yang usang.
Begitu tiba di dalam, Lin Chen duduk bersila di atas ranjang yang keras. Ia mencoba bermeditasi, menarik Qi spiritual di sekitarnya. Namun, seperti menuangkan air ke dalam keranjang bambu, energi itu masuk ke tubuhnya dan langsung bocor keluar melalui meridiannya yang hancur.
Lin Chen membuka matanya, tertawa getir. Keputusasaan mulai merayap di hatinya.
Ia merogoh ke balik kerah bajunya, menarik sebuah benda yang tergantung di lehernya dengan seutas tali kain kasar. Itu adalah sebuah sisik hitam pekat seukuran telapak tangan. Permukaannya kasar dan tidak memancarkan aura apa pun. Ini adalah satu-satunya benda peninggalan ibunya sebelum sang ibu menghilang secara misterius saat ia masih bayi.
"Ibu... apakah Surga benar-benar tidak menyisakan satu jalan pun untukku?" bisiknya parau.
Tiba-tiba, rasa sakit yang tajam meledak dari dadanya akibat tendangan Lin Lang tadi. Lin Chen terbatuk keras, memuntahkan darah segar pekat yang tidak sengaja jatuh tepat ke atas permukaan sisik hitam tersebut.
Tring!
Pada detik itu juga, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Darah Lin Chen tidak menetes ke lantai, melainkan terserap habis ke dalam sisik tersebut. Sisik hitam yang selama bertahun-tahun tampak seperti batu rongsokan itu tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Suhu di dalam ruangan melonjak drastis, seolah-olah ada gunung berapi yang meletus.
Sebelum Lin Chen sempat bereaksi, cahaya keemasan itu melesat masuk ke tengah alisnya.
ROAAAAARRRR!
Sebuah raungan naga purba yang menggetarkan jiwa meledak di dalam pikiran Lin Chen, membuatnya nyaris pingsan. Dunia di sekitarnya menjadi gelap gulita, dan di tengah kegelapan itu, seekor naga emas raksasa yang besarnya melebihi pegunungan menatapnya dengan sepasang mata merah menyala.
Pada saat yang bersamaan, sebuah suara kuno dan serak bergema di lautan kesadarannya.
"Darah keturunan yang telah lama hilang... akhirnya terbangun. Meridian yang hancur? Hah! Meridian fana ini hanya menghambat potensi darah nagamu. Biarkan kursi ini membangun ulang pondasimu dengan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga!"
Tubuh Lin Chen di dunia nyata melayang beberapa sentimeter dari ranjangnya. Energi spiritual berwarna keemasan menyerbu masuk secara brutal ke dalam tubuhnya, tidak untuk menghancurkan, melainkan untuk menyatukan dan memperbaiki setiap inci meridiannya yang terputus, membuatnya seratus kali lebih lebar dan lebih kokoh dari sebelumnya.
Cahaya keemasan yang memenuhi ruangan sempit itu perlahan meredup, menyisakan keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh suara rintik hujan di luar jendela.
Lin Chen membuka matanya. Sepasang manik mata yang biasanya dipenuhi keputusasaan itu kini memancarkan kilatan cahaya emas yang tajam sebelum kembali normal. Ia menarik napas dalam-dalam, dan seketika wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya.
Rasa sakit yang menyiksa dadanya setiap kali ia bernapas telah hilang sepenuhnya. Lebih dari itu, ia bisa merasakan aliran energi yang kuat berdesir di dalam tubuhnya. Lin Chen buru-buru memeriksa kondisi internalnya dan menahan napas.
Meridiannya yang dulu terputus dan hancur berkeping-keping kini telah menyatu kembali. Tidak hanya pulih, urat-urat meridiannya kini bercahaya keemasan, sepuluh kali lebih lebar dan lebih kokoh dari baja! Jika meridian manusia biasa diibaratkan seperti parit kecil, maka meridian Lin Chen saat ini adalah sungai besar yang menderu.
"Hmph, jangan bertingkah seperti orang udik yang baru pertama kali melihat dunia."
Suara kuno yang serak itu kembali bergema di dalam pikiran Lin Chen.
Lin Chen terkesiap, segera melihat ke sekeliling ruangan sebelum menyadari bahwa suara itu berasal dari dalam kepalanya. "Siapa di sana? Keluar!"
"Bocah bodoh, aku ada di dalam Lautan Kesadaranmu, tepat di dalam sisik hitam yang selama ini kau gantung di lehermu," dengus suara itu, terdengar sedikit arogan. "Kau bisa memanggilku Mo Xuan. Aku adalah roh sisa yang tertidur di dalam Sisik Naga Primordial ini selama ribuan tahun, sampai darahmu membangunkanku."
"Mo Xuan? Sisik Naga Primordial?" Lin Chen menyentuh dadanya. Sisik hitam usang itu kini telah menghilang, menyatu dengan tubuhnya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku?"
"Meridian fanamu yang rapuh itu telah kuhancurkan sepenuhnya dan kuganti dengan Meridian Naga," jelas Mo Xuan. "Ibumu bukanlah manusia biasa, bocah. Ia meninggalkan sisik ini untuk melindungimu, tapi butuh darah yang mengandung keputusasaan dan keinginan membunuh yang ekstrim untuk memecahkan segelnya."
Mendengar kata 'ibu', hati Lin Chen bergetar. Selama ini ayahnya selalu bungkam mengenai identitas ibunya.
"Kau tahu di mana ibuku?" tanya Lin Chen dengan nada mendesak.
"Dengan kekuatanmu yang bahkan tidak mencapai Ranah Pengumpulan Qi, mengetahui hal itu sekarang hanya akan mengantarmu pada kematian," jawab Mo Xuan dingin, menyiramkan air es ke harapan Lin Chen. "Dunia ini jauh lebih luas dari yang kau bayangkan. Jika kau ingin mencari ibumu, dan jika kau ingin membalas dendam pada orang-orang yang menginjak-injakmu, kau harus menjadi kuat!"
Lin Chen terdiam, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mo Xuan benar. Tanpa kekuatan, ia hanyalah serangga yang bisa diinjak siapa saja, seperti yang dilakukan Lin Lang padanya hari ini.
"Bagaimana caranya? Meridianku memang sudah pulih, tapi aku telah tertinggal tiga tahun dari generasi sebayaku," ucap Lin Chen.
Mo Xuan tertawa keras, tawanya menggetarkan jiwa Lin Chen. "Tertinggal? Dengan Meridian Naga dan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga, kau akan menelan mereka semua bulat-bulat! Tutup matamu dan fokuskan pikiranmu."
Lin Chen segera duduk bersila dan menutup matanya. Tiba-tiba, aliran informasi yang sangat besar membanjiri otaknya. Barisan aksara emas kuno melayang di dalam kesadarannya, membentuk sebuah gulungan teknik kultivasi.
[Seni Pemakan Surga Sembilan Naga]
Teknik ini bukanlah metode kultivasi biasa yang menyerap Qi spiritual alam secara perlahan. Sesuai namanya, teknik ini memakan segala bentuk energi di langit dan bumi secara paksa. Pil, tanaman obat, racun, bahkan aura pertarungan—semuanya dapat ditelan dan diubah menjadi Qi murni di dalam tubuh penggunanya!
"Teknik yang mengerikan..." gumam Lin Chen, keringat dingin menetes dari dahinya. Di dunia kultivasi ortodoks, teknik yang menelan kekuatan secara paksa sering dianggap sebagai ilmu iblis.
"Iblis atau dewa, itu hanya sebutan yang dibuat oleh mereka yang lemah!" cemooh Mo Xuan. "Cobalah putar sirkulasi Qi-mu sesuai dengan bait pertama teknik itu."
Lin Chen membuang keraguannya. Ia mulai mengatur napasnya dan menjalankan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga.
Seketika itu juga, udara di dalam kamarnya bergejolak. Energi spiritual yang tipis di udara malam tiba-tiba tersedot dengan ganas ke arah tubuhnya, membentuk pusaran angin kecil. Qi spiritual itu masuk melalui pori-pori kulitnya, mengalir ke dalam Meridian Naga dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Krak!
Suara tulang yang bergeser dan otot yang mengencang terdengar dari dalam tubuh Lin Chen.
Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 1!
Lin Chen tidak berhenti. Meridian naganya seperti lubang hitam yang tak pernah puas, terus melahap energi dari sekitarnya. Tiga tahun tertahan tanpa kemajuan, energi yang selama ini terbuang seolah terkompresi dan kini meledak keluar.
Bum!
Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 2!
Bum!
Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 3!
Hanya dalam waktu satu jam bernapas, Lin Chen berhasil menembus tiga tingkatan sekaligus, berhenti tepat di puncak Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 4.
Ketika ia membuka mata, energi berlebih menghempas perabotan kayu di kamarnya hingga bergeser. Lin Chen menghela napas panjang, mengeluarkan uap keruh dari mulutnya. Ia merasakan kekuatan ledakan di setiap otot tubuhnya. Pukulan biasa darinya sekarang bisa dengan mudah menghancurkan batu karang.
Namun, bau busuk yang menyengat segera menyadarkannya. Ia menunduk dan melihat seluruh permukaan kulitnya tertutup oleh cairan kental berwarna hitam pekat. Itu adalah kotoran dan racun yang mengendap di dalam tubuhnya selama bertahun-tahun, yang kini dipaksa keluar oleh Qi murni.
Lin Chen bergegas keluar kamar menembus hujan malam, menuju ke sumur tua di halaman belakang. Ia menimba air es dan mengguyurkannya ke sekujur tubuhnya, membersihkan lapisan hitam tersebut.
Di bawah cahaya bulan yang mulai menyingsing dari balik awan, kulit Lin Chen yang sebelumnya pucat dan penuh bekas luka kini berubah menjadi bersih, kencang, dan sekuat tembaga. Tubuh kurusnya telah tergantikan oleh otot-otot ramping yang proporsional.
Ia menatap pantulan dirinya di genangan air hujan. Kilat tekad memancar kuat dari matanya.
"Lin Lang, Tetua Klan... kalian pikir kalian bisa membuangku begitu saja?" Lin Chen menyeringai dingin, hawa membunuh tipis menguar dari tubuhnya. "Ujian Klan bulan depan akan menjadi panggung di mana aku mengambil kembali semua yang menjadi milikku."
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamar Lin Chen. Ia berdiri di tengah ruangan, melontarkan serangkaian pukulan ke udara kosong. Setiap tinjunya menghasilkan suara desingan angin yang tajam.
"Kekuatan fisik murni dari Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 4 sungguh luar biasa," gumam Lin Chen sambil menatap kepalan tangannya. Ia merasa sepuluh kali lebih kuat dibandingkan masa kejayaannya dulu.
"Hmph, jangan terlalu cepat berpuas diri," suara Mo Xuan tiba-seketika terdengar meremehkan di kepalanya. "Kau memang memiliki pondasi Qi yang kuat berkat Meridian Naga, tapi kau bertarung seperti anak kecil yang sedang mengamuk. Tanpa Teknik Bela Diri yang layak, kau hanya karung daging yang membuang-buang tenaga."
Lin Chen mengangguk setuju. Dalam dunia kultivasi, Teknik Kultivasi (seperti Seni Pemakan Surga Sembilan Naga) digunakan untuk mengumpulkan dan memutar Qi, sedangkan Teknik Bela Diri adalah metode untuk melepaskan Qi tersebut menjadi serangan mematikan. Teknik bela dirinya yang lama sudah terlalu kaku dan tidak cocok dengan kekuatan ledakan yang ia miliki sekarang.
"Aku akan pergi ke Balai Kitab Klan Lin untuk mencari teknik baru," putus Lin Chen.
Setelah merapikan pakaiannya, Lin Chen melangkah keluar dari kediamannya yang usang. Kediaman Klan Lin sangat luas, menampung ratusan anggota keluarga utama dan cabang. Sepanjang perjalanan menuju Balai Kitab, beberapa pelayan dan murid klan menatapnya dengan pandangan merendahkan dan berbisik-bisik, namun Lin Chen mengabaikan mereka. Pandangannya lurus ke depan, tenang dan tak tergoyahkan.
Bangunan Balai Kitab berdiri megah dengan tiga lantai. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula tingkatan teknik bela diri yang disimpan di dalamnya.
Baru saja Lin Chen menginjakkan kaki di tangga batu menuju pintu masuk, sebuah suara yang melengking menghentikannya.
"Berhenti di sana, Sampah! Apa kau buta huruf? Balai ini bukan tempat untuk orang cacat sepertimu!"
Lin Chen menoleh dan melihat seorang pemuda kurus bermata licik berjalan menghampirinya. Itu adalah Lin Hai, salah satu pesuruh setia Lin Lang. Lin Hai berada di Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 3 dan selalu gemar mencari muka di hadapan tuannya dengan menindas Lin Chen.
"Minggir, Lin Hai. Setiap anggota Klan Lin berhak masuk ke lantai pertama Balai Kitab. Tidak ada aturan yang melarangku," ucap Lin Chen datar.
Lin Hai tertawa keras, menarik perhatian beberapa murid lain yang ada di sekitar pelataran. "Aturan? Tetua Pertama sudah memotong habis jatah sumber dayamu! Kau pikir kau masih dihitung sebagai anggota klan? Tuan Muda Lin Lang berpesan, setiap kali aku melihat wajahmu, aku harus memberimu pelajaran agar kau sadar diri!"
Tanpa banyak bicara lagi, Lin Hai memadatkan Qi di lengan kanannya dan melayangkan tinju ke arah wajah Lin Chen. Tinju Pemecah Angin! Itu adalah teknik bela diri tingkat dasar yang cukup mematikan jika mengenai orang biasa.
Murid-murid di sekeliling menahan napas, bersiap melihat Lin Chen kembali babak belur memuntahkan darah seperti biasanya.
Namun, alih-alih menghindar atau meringkuk ketakutan, tatapan Lin Chen menajam. Ia tidak mundur satu inci pun. Ketika tinju Lin Hai hampir menyentuh hidungnya, Lin Chen mengangkat tangan kanannya dengan kecepatan kilat.
Plak!
Suara tamparan yang sangat keras dan renyah bergema di pelataran Balai Kitab.
Tidak ada teknik bela diri yang rumit. Tidak ada gerakan mencolok. Hanya sebuah tamparan tangan kosong yang dilapisi oleh sedikit Qi dari Meridian Naga.
"Arghhh!"
Lin Hai menjerit histeris. Tubuhnya terpelanting di udara bagaikan layang-layang putus, berputar dua kali sebelum menghantam pilar batu dengan keras. Giginya rontok dan darah segar mengalir dari sudut mulutnya saat ia pingsan seketika.
Keheningan mutlak menyelimuti pelataran. Rahang para murid yang menonton seolah jatuh menyentuh tanah.
Lin Hai... seorang kultivator Bintang 3... dikalahkan dengan satu tamparan oleh si "Sampah" Lin Chen?!
"Berisik sekali," gumam Lin Chen santai sambil mengibaskan debu dari telapak tangannya. Ia melangkahi tubuh Lin Hai yang pingsan dan berjalan masuk ke dalam Balai Kitab seolah tidak terjadi apa-apa.
Di dalam balai, rak-rak kayu jati berjejer rapi, dipenuhi dengan ratusan gulungan bambu dan buku usang. Lin Chen mulai memilah-milah teknik tingkat dasar yang ada di rak lantai satu, mengabaikan tatapan tercengang dari Tetua Penjaga yang ternyata menyaksikan kejadian di luar dari balik jendela.
"Buku-buku ini semuanya sampah," kritik Mo Xuan di dalam kepalanya, suaranya terdengar seperti bangsawan yang dipaksa makan makanan sisa. "Tinju Daun Gugur? Tendangan Kera Beruk? Astaga, apakah ini yang disebut teknik bela diri di era ini? Pergi ke sudut tenggara, di rak paling bawah yang tertutup debu itu."
Mengikuti instruksi Mo Xuan, Lin Chen berjongkok dan menarik sebuah gulungan bambu hitam yang sudah setengah lapuk. Judulnya samar-samar terlihat: [Tapak Guntur Pecah - Tingkat Fana Menengah]
"Tingkat Fana Menengah?" Mata Lin Chen berbinar. Di lantai satu, seharusnya hanya ada teknik Tingkat Fana Dasar.
"Gulungan itu cacat dan tidak lengkap, makanya dibuang ke lantai satu," jelas Mo Xuan. "Bagi orang biasa, berlatih teknik yang tidak lengkap bisa membuat meridian meledak karena aliran Qi yang salah. Tapi dengan Meridian Nagamu, ledakan Qi sekecil itu hanya seperti gigitan nyamuk. Ambillah, teknik ini mengandalkan kekuatan ledakan brutal, sangat cocok dengan sifat kekuatanmu saat ini."
Lin Chen mengangguk puas. Ia membawa gulungan itu ke meja pendaftaran. Tetua Penjaga menatap Lin Chen dengan penuh arti, lalu melihat judul gulungan tersebut.
"Nak, gulungan ini tidak lengkap. Kau bisa melukai dirimu sendiri," peringat Tetua itu.
"Saya mengerti risikonya, Tetua. Saya hanya ingin mempelajarinya untuk referensi," jawab Lin Chen sopan namun tegas.
Setelah pendaftarannya dicatat, Lin Chen segera kembali ke kamarnya. Ia tahu bahwa mengalahkan anjing peliharaan seperti Lin Hai bukanlah pencapaian besar. Ketika Lin Lang mengetahui hal ini, pembalasannya pasti akan lebih kejam. Waktunya sebelum Ujian Klan hanya tersisa kurang dari sebulan.
Lin Chen membuka gulungan Tapak Guntur Pecah dan mulai menghafal rute sirkulasi Qi-nya.
"Jika kau hanya mengandalkan energi spiritual tipis di udara klan ini, bahkan dengan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga, kau tidak akan sempat mengejar Lin Lang," kata Mo Xuan memecah konsentrasi Lin Chen. "Teknikmu butuh asupan energi yang masif. Darah, daging, dan inti spiritual dari Binatang Iblis (Demonic Beasts) adalah makanan terbaik."
Lin Chen menutup gulungan di tangannya, matanya menatap tajam ke arah jendela, menembus dinding kediaman klan menuju ke utara kota. Di sana, membentang pegunungan gelap yang diselimuti kabut tebal.
"Pegunungan Kabut Darah," gumam Lin Chen. Tempat paling berbahaya di sekitar Kota Awan Merah, surga bagi para pemburu liar dan mimpi buruk bagi kultivator lemah. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita berburu."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!