Pagi itu, rumah mertua Sarah mulai ramai oleh aktivitas. Udara dingin belum benar-benar menguap, tapi Sarah sudah rapi. Rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya polos tanpa rias, dan langkahnya pelan menyusuri kamar yang semalam ditempati bersama suaminya.
Sarah menata kembali pakaian yang tadi pagi berserakan. Kemeja kerja, dasi, dan kaus kaki suaminya nyaris menguasai ranjang. Semua ditinggal terburu-buru saat lelaki itu mencari-cari perlengkapan kerja. Leonardo, atau biasa dipanggil Leo, adalah salah satu staf di perusahaan terbesar di Jakarta. Kini ia memegang posisi penting hasil kerja keras bertahun-tahun.
Sementara Sarah, setelah menikah, harus menelan pahit keinginannya untuk menyelesaikan sekolahnya di bidang perhotelan. karena sewaktu SMA dia mengambil SMK bidang pariwisata.
Matanya sempat menatap lemarinya yang kini lebih banyak terisi pakaian formal milik suaminya. Ia menarik napas pelan, menepuk-nepuk lembut perut yang perlahan mulai membesar. Kehamilan ini begitu berarti baginya. Setelah satu tahun penuh penantian dan kehilangan, ya, ia pernah kehilangan jabang bayi yang pertama, Sarah tak ingin kesempatan ini berlalu begitu saja tanpa makna.
Tapi pagi ini, harapan kecilnya kembali digerus oleh kenyataan.
"Mas, hari ini kita ada jadwal USG," ucap Sarah lembut, berdiri di ambang pintu sambil memegang tas kecilnya.
Suaminya, Leo, yang sedang merapikan dasinya di depan cermin, menjawab tanpa menoleh, "Tapi aku kerja, Sarah. Kamu kan bisa pergi sendirian. Jangan manja."
Kata-kata itu seperti kabut dingin yang tiba-tiba menembus jantungnya. Sarah terdiam. Lidahnya kelu sejenak.
"Sesekali, Mas. Anak ini sudah kita tunggu satu tahun lamanya," katanya dengan suara lirih, nyaris seperti bisikan.
Leo mendesah. Ia menoleh, menatap Sarah sekilas, lalu berkata, "Baiklah. Kamu siap-siap. Aku tunggu di mobil."
Sarah tak langsung bergerak. Ia menunduk, mengelus perutnya pelan. Sekalipun akhirnya ditemani, hatinya tahu ia tetap sendiri.
Sarah menuruni anak tangga dengan hati-hati, satu tangannya menenteng tas, yang satu lagi tetap bertengger di atas perutnya. Di ruang tamu, ibu mertuanya tengah duduk di kursi rotan, memandangi layar televisi tanpa benar-benar menonton.
"Ibu, Sarah pamit dulu ya. Jadwal kontrol hari ini," ucap Sarah sopan, sedikit membungkuk.
Ibu mertua Sarah menoleh sekilas, bibirnya melengkung tipis tapi bukan senyum hangat yang Sarah harapkan. Tatapannya cepat menurun ke arah perut Sarah, lalu kalimat itu keluar begitu saja, tajam dan menghujam tanpa jeda.
"Ingat, harus laki-laki. Jangan seperti dulu, dapat anak perempuan. Buktinya malah cepat dipanggil Tuhan, kan? Tandanya semesta tak merestui anak kalian."
Deg.
Waktu seakan berhenti. Suara televisi menghilang, suara burung pun mendadak senyap di telinga Sarah. Hanya kalimat itu yang bergema, mengiris pelan-pelan ke dalam luka lama yang belum sembuh.
Sarah membeku. Sekuat mungkin ia menahan air mata yang mendesak keluar. Ia menggigit bibir bawahnya, menunduk lebih dalam.
"Permisi, Bu," gumamnya pelan, lalu segera berjalan cepat ke luar rumah, seakan jika ia tak segera pergi, hatinya akan runtuh di ambang pintu.
Di luar, angin pagi menyambutnya. Leo sudah duduk di balik kemudi, memainkan ponselnya sambil menunggu. Tapi Sarah merasa lebih sendiri dari sebelumnya.
Ia membuka pintu mobil dan masuk tanpa berkata apa-apa. Sambil mengusap perutnya yang membuncit, ia berbisik dalam hati,
"Nak, entah kamu laki-laki atau perempuan, Mama akan tetap mencintaimu. Tanpa syarat, tanpa harapan palsu dari siapa pun."
Mobil berhenti mulus di depan gerbang rumah sakit. Langit mendung menggantung, seakan meniru suasana hati Sarah yang makin berat. Ia baru saja ingin membuka pintu ketika suara ponsel Leo berdering nyaring.
Leo melirik sekilas layar ponsel, lalu mengangkatnya.
"Iya, Pak. Saya masih di jalan. Oh, begitu? Baik, saya segera ke kantor sekarang."
Sarah menoleh, menanti kalimat berikutnya. Harapannya sederhana: suaminya akan berkata bahwa ia akan menemani, bahwa ia telah meminta izin karena tahu hari ini penting. Bahwa kehadirannya sebagai ayah, hari ini, lebih dari sekadar formalitas.
Namun setelah telepon ditutup, Leo justru mencondongkan badan ke arah Sarah, matanya masih terpaku pada jam tangan di pergelangan.
"Sarah, maaf. Aku harus langsung ke kantor. Tadi ada rapat mendadak. Kamu bisa sendiri, kan?" ucapnya cepat, seolah itu hal biasa.
Sarah terdiam. Ia mencoba menelan kecewa yang kembali menyesak. Lagi-lagi, ia harus sendiri.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," jawabnya pelan, meski hatinya ingin berkata banyak.
Leo hanya mengangguk, lalu menyalakan mesin mobil kembali setelah Sarah turun. Tak ada pelukan, tak ada genggaman tangan sebagai penguat. Hanya suara pintu yang tertutup perlahan dan deru mobil yang menjauh.
Sarah berdiri mematung di trotoar. Tangannya mengusap perutnya dengan gerakan melingkar.
"Mama kuat, Nak," bisiknya, seakan menenangkan diri sendiri. "Kita akan baik-baik saja, walau cuma berdua."
Ia melangkah masuk melewati pintu lobi kaca rumah sakit, menembus embusan AC yang dingin. Setelah mengurus administrasi sendiri di tengah antrean yang mengular, Sarah berjalan menuju klinik kandungan. Langkah kakinya terasa berat, seberat kepalanya yang pening akibat menahan badai emosi sejak dari rumah.
Ruang tunggu klinik kandungan itu terasa sesak oleh aroma antiseptik yang menyengat dan suara percakapan pelan dari pasangan-pasangan yang menunggu giliran. Sarah duduk di salah satu sudut, memeluk tas kecilnya di pangkuan. Perutnya yang mulai membesar terasa seperti satu-satunya hal yang menguatkan keberadaannya di ruangan itu.
Matanya tak bisa lepas dari pemandangan sekitar. Para wanita hamil dengan tangan digenggam erat oleh suaminya. Ada yang tertawa kecil, ada yang menunjukkan hasil USG sebelumnya dengan penuh semangat, ada pula yang bersandar manja di bahu pasangan mereka.
Sarah menunduk. Dadanya sesak oleh rasa iri yang tak bisa dihindari, meski ia tahu rasa itu hanya akan menambah luka.
Tak lama, namanya dipanggil. "Nyonya Sarah Amelia?"
Di ruang pemeriksaan, Sarah berbaring dengan napas teratur. Lampu langit-langit di atasnya menyilaukan, tapi ia menatap ke atas tanpa berkedip, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut.
Perawat dengan cekatan membantu membuka sedikit bagian pakaian di perutnya. Sesaat kemudian, gel transparan yang dingin dioleskan di atas kulitnya. Sarah sedikit menggigil akibat sensasi kejut dari gel itu, kontras dengan dadanya yang terasa panas menahan gejolak tangis. Namun, ia tetap diam.
Dokter kandungan itu tersenyum seperti biasa, ramah dan tenang. "Bagaimana kabarnya, Bu Sarah?"
"Lumayan, Dok. Sedikit mudah lelah akhir-akhir ini," jawabnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh sunyinya ruangan.
"Wajar. Kandungan tujuh bulan memang sudah cukup memberatkan tubuh. Kita cek ya, kondisi si kecil."
Layar monitor di samping ranjang menyala. Gambar hitam putih muncul, samar namun begitu hidup. Denyut kecil itu terlihat jelas, bergerak aktif, menari-nari dalam rahimnya. Tak lama, suara detak jantung bayi memenuhi ruangan—cepat, ritmis, dan sangat stabil.
Dokter tersenyum lega. "Alhamdulillah. Sehat. Tumbuh kembangnya bagus."
Sarah menahan senyum, tapi matanya mulai basah. Ada rasa syukur yang menyesak di dada, seperti embun yang akhirnya jatuh setelah lama menggantung.
"Jenis kelamin, mau kami sebutkan?" tanya dokter dengan nada hati-hati, menyadari kesendirian pasiennya sejak tadi.
Sarah terdiam sejenak. Pikirannya menari cepat. Wajah dingin suaminya, ucapan tajam ibu mertuanya, dan bayang-bayang harapan palsu yang dipaksakan padanya seketika berputar di kepala. Namun akhirnya, ia mengangguk pelan.
Dokter mengamati layar lebih teliti, memiringkan alat transduser USG-nya sedikit. "Perempuan, Bu. Selamat ya."
Sarah terpaku. Bibir bawahnya bergetar saat ia mencoba menelan rasa yang bercampur aduk. Haru, bahagia, sekaligus khawatir yang teramat sangat. Ia tahu kabar ini tidak akan disambut dengan pelukan hangat oleh orang-orang di rumah.
Namun, saat ia kembali menatap layar monitor—melihat sang putri kecil yang menari bebas tanpa beban di dalam perutnya—semua keraguan itu larut. Ingatannya mendadak melayang pada anak-anak di sekolah inklusi yang dulu ia ajar. Anak-anak yang sering dianggap kurang atau salah oleh dunia, namun selalu ia peluk dengan seluruh jiwa. Insting keibuan dan ketulusan pendidik itu bangkit, bersatu, menjadi perisai kokoh di dalam dadanya. Ia akan menerima anaknya, apa pun kondisinya.
Ia menggenggam perutnya dengan lembut, seakan sedang menggenggam seluruh dunianya.
Tepat saat itu, ponsel Sarah yang diletakkan di atas meja perawat bergetar nyaring. Nama Leo muncul di layar, bersama satu pesan singkat yang baru saja masuk:
"Ibu sudah telepon. Dia tanya hasilnya apa."
Sarah menatap layar ponsel itu. Jarinya membeku di atas papan ketik. Kalimat pendek dari Leo terasa seperti tuntutan sidang, sebuah interogasi dingin, bukan pertanyaan seorang ayah yang merindukan kabar buah hatinya. Tidak ada tanya apakah Sarah baik-baik saja setelah ditinggal sendiri. Tidak ada tanya apakah bayinya sehat. Di rumah itu, bayinya hanyalah sebuah misi untuk memenuhi ego keluarga.
Sarah menarik napas dalam-dalam, menstabilkan gemuruh di dadanya. Ia melirik foto hitam-putih hasil cetakan USG di tangan kirinya. Di sana, sang putri kecil terlihat begitu ringkih, namun justru dari sanalah kekuatan Sarah bersumber. Jika seluruh isi rumah itu menanti seorang anak laki-laki sebagai piala, maka Sarah bersumpah akan menjadi benteng pertama yang melindungi anak perempuannya.
Dokter kandungan yang menyadari perubahan raut wajah Sarah menatapnya penuh simpati. "Ada yang salah, Bu Sarah? Perlu saya panggilkan suami Ibu ke dalam?"
Sarah mendongak, lalu tersenyum tipis. Kali ini, senyum itu bukan topeng untuk berpura-pura kuat. Ada ketegasan baru yang mendadak mengunci matanya.
"Tidak perlu, Dok. Suami saya sibuk kerja. Saya bisa sendiri," jawab Sarah, suaranya kini terdengar tenang dan bulat.
Ia memasukkan foto USG itu ke dalam tas, mendekapnya erat di depan dada. Sarah tidak langsung membalas pesan Leo. Ia memilih mematikan layar ponselnya, memasukkannya ke dalam saku, dan berdiri dari kursi pemeriksaan dengan anggun. Hari ini ia berjalan keluar dari ruangan dokter dengan kepala tegak, siap menghadapi badai yang sudah menantinya di rumah.
Sarah menatap layar ponsel itu lama. Jemarinya gemetar, tidak langsung menyentuh notifikasi yang muncul. "Ibu sudah telepon. Dia tanya hasilnya apa."
Napasnya tercekat. Untuk sesaat, suara detak jantung bayinya yang masih terngiang di telinga seperti diredam oleh kenyataan yang menunggu di luar pintu.
Dokter tersenyum, menyodorkan tisu. "Bu Sarah, tidak apa-apa. Mau istirahat sebentar di sini?"
Sarah menggeleng pelan. Ia mengusap ujung matanya, lalu memperbaiki letak kerudungnya. "Terima kasih, Dok. Saya sudah cukup kuat."
Ia bangkit dari ranjang periksa dengan gerakan hati-hati. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena beban di perutnya, tapi karena kalimat yang harus ia ucapkan nanti di rumah.
Di meja administrasi, ia membayar dengan tangan yang masih sedikit dingin. Suster di depan tersenyum ramah, "Sehat-sehat ya, Bu. Sampai ketemu bulan depan."
Sarah membalas senyum itu, senyum yang ia latih sejak pagi agar tidak retak.
Perjalanan Pulang yang Panjang
Di luar rumah sakit, langit sudah tidak lagi mendung. Matahari muncul malu-malu, tapi panasnya tidak sampai ke hati Sarah. Ia berdiri di halte, menunggu taksi online yang ia pesan. Tak ada pesan lagi dari Leo. Hanya centang dua biru di pesan tadi, tanda suaminya menunggu jawaban.
Tangannya mengelus perut. "Kita pulang ya, Nak. Mama janji, apa pun yang terjadi, Mama yang jaga kamu."
Sepanjang perjalanan, kepalanya penuh skenario. Bagaimana reaksi ibu mertua. Bagaimana tatapan Leo. Apakah ia akan disalahkan lagi, seolah jenis kelamin anak adalah pilihan yang bisa ia tukar di kasir.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini telepon masuk. Nama Leo.
Sarah menelan ludah. Ia menatap nama itu tiga detik sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
"Halo, Mas."
"Udah selesai?" Suara Leo terdengar datar, diselingi suara keyboard di latarnya. Rapat sepertinya belum selesai.
"Udah," jawab Sarah singkat.
"Terus? Hasilnya apa?"
Ada jeda. Sarah menatap ke luar jendela. Pohon-pohon di pinggir jalan bergerak mundur, sama seperti keberaniannya yang tiba-tiba menciut.
"Perempuan, Mas," katanya akhirnya. Pelan, tapi jelas.
Hening.
Satu detik. Dua detik.
Terdengar helaan napas panjang dari seberang. "Oh."
Hanya itu. Satu kata yang lebih dingin dari AC mobil taksi.
"Leo masih ada rapat. Nanti kita omongin di rumah ya." Tut. Sambungan diputus.
Sarah menatap layar yang kembali gelap. Dadanya perih, tapi ia menolak menangis. Tidak di sini. Tidak sekarang.
Pintu yang Harus Dihadapi
Taksi berhenti di depan pagar rumah mertua. Rumah itu terlihat sama seperti pagi tadi, tapi bagi Sarah, rasanya sudah jadi tempat lain. Tempat di mana ia harus berperang lagi.
Ia turun perlahan, membayar, lalu berdiri di depan pintu kayu jati itu. Dari dalam, terdengar suara televisi dan tawa kecil ibu mertua yang sedang menelepon seseorang.
Sarah menarik napas dalam. Sekali lagi ia usap perutnya.
"Mama masuk ya, Nak. Kita hadapi bareng-bareng."
Tangannya terangkat, mengetuk pintu.
Belum sempat pintu terbuka, suara ibu mertuanya sudah terdengar jelas dari dalam, bicara di telepon dengan nada tinggi, "Iya, Mbak. Tadi Leo bilang istrinya baru USG. Katanya sih..."
Pintu terbuka.
Mata ibu mertua langsung menatap Sarah dari atas ke bawah, lalu berhenti di perutnya. Senyum di wajahnya perlahan luntur.
"Jadi?" tanyanya tanpa basa basi. "Laki-laki kan?"
Sarah menegakkan punggungnya. Untuk pertama kali hari ini, ia menatap mata ibu mertuanya lurus, tidak menunduk.
Dan dari arah garasi, suara mobil Leo terdengar masuk. Pintu mobil dibanting. Langkah kaki cepat mendekat ke pintu depan.
Leo muncul di ambang pintu, wajahnya tegang. Ia menatap Sarah, lalu ke ibunya, lalu kembali ke Sarah.
"Sebelum kamu ngomong apa-apa," ucap Leo, suaranya rendah, "Aku baru dapat telepon dari kantor pusat. Jabatan yang aku tunggu tiga tahun itu..."
Ia berhenti, menatap perut Sarah lekat-lekat.
"...syaratnya, aku harus pindah ke Singapura. Bulan depan. Sendiri."
Udara di teras rumah mendadak terasa pengap, padahal angin sore masih berembus. Sarah masih berdiri dengan satu tangan memegang tas kecil, tangan yang lain menempel di perut. Di depannya, ibu mertua menahan pintu setengah terbuka, alisnya terangkat tinggi, menunggu jawaban yang ia anggap sudah seharusnya ia dengar.
Leo berdiri di samping, kemeja kerjanya sudah lepas dari dasi, keringat tipis membasahi pelipisnya. Napasnya masih sedikit memburu, entah karena berlari dari garasi atau karena kalimat yang baru saja ia lontarkan.
"...syaratnya, aku harus pindah ke Singapura. Bulan depan. Sendiri."
Kata terakhir itu jatuh seperti batu ke dalam sumur. Gema nya memantul di kepala Sarah. Sendiri.
Ibu mertua langsung memotong, suaranya meninggi, "Maksud kamu apa, Leo? Sendiri? Terus istri kamu sama cucu saya gimana? Apalagi kalau..." Matanya melirik tajam ke perut Sarah, "...kalau ternyata nanti repot."
Sarah mengepalkan ujung bajunya. Ia bisa merasakan bayinya menendang pelan, seakan ikut protes. Ia angkat dagu, mencoba menahan getar di suaranya.
"Dokter bilang anak kita perempuan, Bu. Mas Leo juga sudah tahu tadi di telepon."
Senyap.
Untuk tiga detik, hanya suara detik jam dinding dari ruang tamu yang terdengar. Wajah ibu mertua berubah. Bukan marah, tapi dingin. Ia mendengus pelan, lalu melangkah mundur, memberi jalan tapi tidak mengundang.
"Masuk dulu," katanya datar. "Kalian perlu bicara. Saya tidak mau ikut campur urusan anak muda." Meski nadanya berkata sebaliknya.
Di Ruang Keluarga yang Dingin
Ruang keluarga yang biasanya hangat dengan suara televisi kini terasa seperti ruang sidang. Sarah duduk di sofa single, punggung tegak meski perutnya terasa berat. Leo mondar-mandir di depan meja kaca, ponselnya ia letakkan, layarnya masih menyala menampilkan email dari HR kantor pusat.
"Ini promosi yang aku tunggu sejak kita baru nikah, Sarah," Leo akhirnya buka suara. Tangannya meremas rambut sendiri. "Senior Manager untuk regional. Gaji tiga kali lipat. Fasilitas apartemen, sekolah anak... untuk nanti."
"Untuk tiga bulan pertama aku nggak bisa bawa kalian," lanjutnya, lebih pelan. "Policy perusahaan. Adaptasi, training intensif. Setelah stabil, baru bisa urus dependent pass."
"Tiga bulan," ulang Sarah lirih. "Usia kandungan aku delapan bulan bulan depan, Mas. Kamu mau aku lahiran di sini, sendiri, sambil nunggu kamu stabil di negara orang?"
Leo mengusap wajahnya kasar. "Aku juga tidak mau ninggalin kamu, Sarah. Tapi ini kesempatan sekali seumur hidup. Kalau aku tolak, lima tahun lagi belum tentu ada lagi. Kita bisa nabung buat masa depan dia." Ia menunjuk perut Sarah, tapi matanya tidak berani menatap lama.
Dari dapur, terdengar suara piring disengaja dibanting pelan. Ibu mertua. Selalu ada.
Sarah menunduk, mengelus perutnya dengan pola memutar yang selalu menenangkan bayinya. "Mas, waktu kita kehilangan anak pertama dulu, kamu janji. Kamu bilang, kalau Tuhan kasih kita lagi, kamu tidak akan biarin aku ngelewatin apa-apa sendirian. Ingat?"
Leo terdiam. Janji itu ia buat di rumah sakit, saat Sarah pucat di ranjang, menggenggam tangannya erat setelah kuretase. Janji yang diucapkan di antara isak dan rasa bersalah.
"Aku ingat," bisiknya akhirnya. Suaranya pecah. "Tapi Sarah, ini beda. Ini masa depan kita."
"Masa depan yang mana, Mas?" Sarah mengangkat wajah, air mata akhirnya jatuh satu. "Masa depan yang kamu bangun di Singapura, sementara anak kita lahir tanpa ayahnya? Atau masa depan yang kita jalani bareng, meski gajinya tidak tiga kali lipat?"
Leo tidak menjawab. Ia meraih ponselnya lagi. Saat itulah ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar: Dion - Kantor Pusat.
Leo mengangkatnya dengan kasar. "Halo?"
Suaranya lalu mengecil. Keningnya berkerut. Matanya membesar.
"Apa? Jadi bukan tiga bulan... setahun? Full satu tahun nggak boleh bawa keluarga? Tapi Pak... Iya, saya paham. Policy baru dari regional. Baik, Pak."
Telepon mati. Leo menatap Sarah, lalu ke ibunya. Napasnya memburu.
"Perubahannya mendadak," kata Leo. Suaranya kosong. "Bukan tiga bulan. Training satu tahun penuh di Singapura. Nggak ada opsi pulang tiap bulan. Nggak boleh bawa keluarga selama tahun pertama. Kalau aku ambil, aku baru bisa ketemu kalian tahun depan."
Bu Anisa yang dari tadi diam di ambang pintu dapur tiba-tiba melangkah maju. Kerutan di dahinya hilang, berganti binar yang Sarah kenal betul. Binar yang muncul tiap kali nama keluarga dibicarakan di arisan.
"Bagus," kata Bu Anisa, tegas. "Itu rezeki besar, Leo. Satu tahun nggak lama. Pejam mata juga lewat. Kamu berangkat saja."
Sarah reflek memegang perutnya lebih erat. "Satu tahun, Bu? Saya lahiran bulan depan. Anak pertama kami. Sendiri?"
Bu Anisa melirik Sarah, dagunya terangkat. "Makanya Ibu bilang dari awal. Kamu di sini aja sama Ibu. Biar Ibu yang urus kamu sama cucunya Ibu nanti. Nggak usah manja. Zaman Ibu dulu, Bapak kamu dinas dua tahun ke Kalimantan, Ibu juga baik-baik aja ngelahirin Leo. Nggak ada yang bantuin."
Nada “mengurus” itu bukan tawaran bantuan. Itu pengumuman. Sarah hafal betul. Artinya: kamu di bawah pengawasan Ibu, 24 jam.
Leo meremas ponselnya. "Sarah... aku..."
"Mas," potong Sarah pelan. Matanya lurus ke Leo, melewati ibunya. "Janji kamu di rumah sakit dulu gimana? Masih berlaku?"
Leo bungkam. Janji itu masih nggantung di udara, berat dan nyata.
Bu Anisa mendengus. "Laki-laki itu tiangnya keluarga, Sarah. Kalau tiangnya nggak kuat, roboh semua. Kamu mau Leo nolak rezeki cuma karena kamu nggak bisa nahan kangen setahun? Nanti orang-orang bilang anak Ibu nggak becus ambil kesempatan."
Sarah menatap mertuanya lama. Lalu senyum tipis, pahit, tapi matanya tidak lagi berkaca.
"Ibu bener. Tiangnya harus kuat." Ia menepuk perutnya pelan. "Makanya saya juga harus kuat. Anak ini juga harus kuat. Tapi kuat versi saya, Bu. Bukan versi Ibu."
Ia berdiri. Punggungnya terasa sakit, tapi ia tegakkan. Ia tidak menoleh ke Leo. Ia menoleh ke Bu Anisa.
"Bu, saya hargai Ibu mau 'mengurus' saya. Tapi saya ini istrinya Mas Leo, bukan anak Ibu yang perlu diawasi. Saya dan bayi ini punya hidup yang harus kami jalanin juga. Saya tidak bisa janji kasih Ibu cucu laki-laki. Saya juga nggak bisa janji diem aja nurut selama setahun. Tapi saya janji, anak ini akan lahir dari ibu yang waras dan berdaya. Mau Ibu terima atau tidak."
"Kurang ajar kamu ya," desis Bu Anisa. "Ibu ngomong gini demi kalian! Biar nama Leo nggak jelek di kantor!"
"Beda, Bu," jawab Sarah tenang. "Dulu Ibu nungguin Bapak dua tahun karena Ibu yang milih. Sekarang Ibu maksa saya nungguin Leo setahun karena Ibu yang mau. Itu bedanya."
Untuk pertama kali, Sarah berjalan melewati mereka. bukan menghindar, tapi berpegang teguh pada prinsip.
Leo masih berdiri di ruang keluarga, menatap punggung Sarah yang menghilang di balik pintu. Di tangannya, ponsel kembali menyala. Email dari HR: Please confirm your acceptance by tomorrow 5 PM.
Di tangannya yang lain, janji tiga tahun lalu di rumah sakit, terasa lebih berat dari kontrak setahun di Singapura.
Bu Anisa bersedekap. "Urus istrimu, Leo. Jangan sampai dia bikin malu keluarga. Kamu berangkat aja. Urusan Sarah biar Ibu yang handle."
Leo menutup mata. Untuk pertama kalinya, ia sadar: apapun yang ia pilih detik ini, akan ada yang ia tinggalkan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!