Di SMA Tunas Bangsa, ketertiban hanyalah ilusi yang dipelihara dengan sangat hati-hati. Bukan karena aturan sekolah yang kaku, melainkan karena sepasang mata yang mengawasi setiap gerak-gerik dari balik meja Ketua OSIS.
Skandal di sekolah ini tidak dilarang—hanya perlu dikelola. Ada rahasia yang sengaja dibiarkan membusuk, tapi ada pula dosa besar yang lenyap dalam semalam seolah-olah sejarah baru saja dihapus. Semuanya terjadi bukan karena kebetulan, melainkan karena sang Mastermind sedang menggerakkan bidak-bidaknya.
Ia bukan pahlawan yang datang memberantas kejahatan. Ia juga bukan monster yang menebarkan teror secara buta. Ia hanya memiliki aturannya sendiri—prinsip yang tak seorang pun tahu apa alasan di baliknya.
Bagi ribuan pasang mata, ia adalah sosok yang tampak ramah namun tak tergapai. Ia bisa menyapa dengan senyum paling tulus, namun di saat yang sama, ia membangun jurang tak kasat mata yang membuat mereka tak bisa menyentuh dunianya. Hanya segelintir orang yang tahu siapa dia sebenarnya; mereka yang berakhir menjadi korban, atau mereka yang bertugas sebagai eksekutor.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pintu kelas terbanting keras, memutus keriuhan jam istirahat. Atikah melangkah masuk dengan napas terengah yang memburu. Wajahnya merah padam, bukan karena lelah, melainkan oleh amarah yang membakar hingga ke ujung sarafnya. Matanya yang sembap dan berair menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya terkunci pada satu titik: Yasmin.
Yasmin yang sedang merapikan buku di bangkunya mendongak, namun belum sempat ia menyapa, bayangan Atikah sudah menjulang di depannya.
PLAK!
Tamparan keras itu menggema, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kelas. Yasmin terhuyung, tangannya refleks mendekap pipinya yang seketika berdenyut panas. Matanya membelalak, nanar menatap sahabatnya sendiri.
"Dasar cewek tukang rebut pacar orang!" Teriak Atikah. Suaranya pecah, antara benci dan isak tangis yang tertahan.
"A..apa?" Yasmin tergagap. Lidahnya mendadak kelu saat menyadari puluhan pasang mata kini tertuju padanya.
Reka maju satu langkah, menyilangkan tangan di dada dengan senyum sinis yang menghina. "Ah, ternyata kejadian juga. Bahkan sama Atikah, teman sebangku elu pun, lu tega ngerebut pacarnya!" umpatnya, memanaskan suasana.
"Gue bilang juga apa?" Cecil menimpali dari sudut kelas, suaranya melengking penuh kemenangan. "Udah kelihatan dari gayanya."
"Gue nggak nyangka, Yasmin!" Atikah masih menatap dengan kebencian murni, tangannya mengepal gemetar di sisi tubuh.
"Tidak, Atikah! Aku... aku nggak ngerebut pacar kamu. Si... siapa pacar kamu?" Suara Yasmin mencicit, ia berusaha mencari pegangan pada pinggiran meja.
"Lu keterlaluan!"
Tanpa peringatan, Atikah merangsek maju, tangannya terjulur hendak menjambak rambut Yasmin.
Yasmin memekik dan menghindar dengan gerakan kikuk. Tegar, yang sedari tadi menyaksikan dengan ragu, akhirnya melompat dari kursinya untuk menengahi. "Sudah-sudah! Kalian jangan ribut di kelas! Malu dilihat kelas lain!"
"Lu jangan ikut campur, Gar!" bentak Atikah, tak sudi langkahnya dihentikan.
"Tapi ini bukan caranya menyelesaikan masalah—"
"Ah, cowok memang sama saja!" Cecil memotong dengan nada sengit, melirik Tegar dengan pandangan merendahkan. "Begitu melihat cewek modelan Yasmin, langsung mau jadi pahlawan kesiangan!"
Tepat saat itu, Dhini melangkah masuk. Ia mengernyit melihat Cecil yang tengah menghardik kekasihnya. "Cil! Ngapain lu teriak-teriak sama Tegar?"
"Cowok lu ngebela si Yasmin, Dhin! Padahal si Yasmin sudah tega mengkhianati Atikah," adu Cecil dengan nada yang penuh provokasi.
Wajah Dhini berubah seketika. Ia menoleh pada Tegar, matanya melotot tajam penuh ancaman. "Tegar! Kalau lu berani ngebela si Yasmin, lu gue putusin sekarang juga!"
Tegar mendadak mengkerut, nyalinya menciut di bawah intimidasi Dhini. Ia mundur perlahan, tak berani lagi mengeluarkan suara. Di sudut kelas, bisik-bisik para siswa laki-laki mulai terdengar, namun tak ada satu pun yang cukup berani untuk berdiri di samping Yasmin.
"Atikah, aku tidak merebut pacar kamu. Beneran..." Yasmin mencoba menjelaskan. Air mata mulai mengaburkan pandangannya.
Atikah hendak menyerang lagi, tapi kali ini Reka dan Cecil memegangi lengannya—bukan untuk melindungi Yasmin, tapi untuk mencegah Atikah terkena masalah.
"Sabar, Atikah. Jangan sampai tangan kamu kotor karena dia. Kamu bisa dilaporkan ke guru kalau sampai luka," bisik Cecil dengan nada rendah yang beracun. "Mulai sekarang, kita punya cara yang lebih baik. Kita kucilkan Yasmin."
Reka menyeringai, matanya menyapu seisi kelas seperti seorang komandan.
"Benar. Kita sebarluaskan ini ke seluruh sekolah. Biar semua cewek tahu siapa dia sebenarnya. Dan buat para cowok..."
Reka menjeda, memberikan tekanan pada setiap kata.
"Siapa pun yang mencoba mendekati atau membela Yasmin, dia akan jadi musuh semua cewek di sekolah ini. Kita lihat, sampai kapan si bodoh ini bisa bertahan!"
Yasmin terpaku. Hening yang mengikuti ucapan Reka terasa lebih menyakitkan daripada tamparan tadi. Tidak ada yang membantah. Semua orang menunduk atau membuang muka.
Bel tanda masuk berbunyi, memecah ketegangan yang menyesakkan. Atikah segera menyambar tas Yasmin dan melemparkannya ke lantai.
"Pergi lu! Gue nggak mau duduk sama pengkhianat lagi!"
Yasmin yang terhuyung saat mencoba mengambil tasnya hampir saja jatuh terjerembap. Yana, yang duduk paling dekat, secara refleks menangkap lengan Yasmin. Namun, saat Yana merasakan tatapan tajam dari Cecil dan gerombolannya, ia seolah tersengat listrik. Dengan cepat, ia melepaskan tangan Yasmin seolah gadis itu adalah wabah penyakit.
"Terima kasih..." bisik Yasmin lirih.
Yana melirik Yasmin sekilas. Melihat wajah Yasmin yang begitu cantik sekaligus rapuh, Yana sempat tersipu dan melempar senyum tipis yang tulus.
"Tidak apa-apa..."
"Yana, lu pikir kita main-main?" Cecil menggertak, membuat Yana tersentak. "Nggak bakal ada yang bantu lu nyontek atau kerja kelompok lagi kalau lu berurusan sama dia. Lu juga jangan mimpi bisa dapat pacar di sini!"
Wajah Yana pias. Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura sangat sibuk membolak-balik buku teksnya yang sebenarnya sudah terbuka di halaman yang benar.
Pak Andi masuk ke kelas, memecah kabut permusuhan yang masih menggantung. "Selamat siang, anak-anak!"
"Siang, Pak...!" jawab kelas serempak, meski nadanya terasa hambar.
Pak Andi menyesuaikan letak kacamatanya, matanya tertuju pada Yasmin yang masih berdiri kaku di tengah jalan. "Yasmin, kenapa tidak duduk?"
Yasmin melirik Atikah. Sahabatnya itu memberinya tatapan maut selama beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan muka dengan angkuh.
"E... saya... saya mau pindah tempat duduk, Pak."
"Memangnya kenapa?"
"E... Atikah... saya ingin duduk sendiri saja..."
Pak Andi tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil.
"Kalau begitu, duduk di depan saja, di depan meja Bapak. Yohan, Joni, kalian berdua pindah ke belakang."
Kedua siswa itu berdiri tanpa protes, tapi mereka sempat memberikan cibiran pelan saat berpapasan dengan Yasmin. Yasmin duduk tepat di depan meja guru, tapi dia merasa sangat terekspos. Pak Andi tersenyum, sebuah senyuman yang terasa terlalu ramah dan mencurigakan.
"Sekarang, keluarkan buku PR kalian..."
Semua murid mulai merogoh tas. Pak Andi bangkit dari kursinya, mendekati meja Yasmin dengan langkah perlahan.
"Yasmin, coba Bapak lihat PR kamu?" tanyanya dengan suara yang lembut—terlalu lembut bagi seorang guru di depan kelas yang berisik.
Cibiran dan decakan sinis terdengar dari bangku belakang. Yasmin memberikan bukunya dengan tangan gemetar. Pak Andi membuka halaman demi halaman, keningnya berkerut, tapi ada binar aneh di matanya.
"Ayo semuanya, mana PR-nya?" Pak Andi berdehem, kembali ke mode formal.
Tegar mengumpulkan buku-buku teman sekelasnya dan menyerahkannya ke meja guru. Sesi pembahasan dimulai. Reka dan Yohan diminta mengerjakan soal di depan, sebuah tugas yang disambut Reka dengan wajah cemberut.
"Pak, kalau gitu buku saya, saya pinjam buat lihat soal," pinta Reka ketus.
"Tidak perlu. Kerjakan saja sendiri. Kalau kalian menyontek, di sini akan ketahuan. Soalnya kan ada di buku cetak," jawab Pak Andi tegas.
Reka melangkah maju, sesekali melirik sinis ke arah Pak Andi yang bukannya memperhatikan papan tulis, malah terus menatap ke arah Yasmin sambil sesekali tersenyum tipis.
Sepulang sekolah, suasana kantor guru sudah mulai sepi. Yasmin berdiri di ambang pintu ruangan Pak Andi dengan perasaan tidak menentu.
"Masuk, Yasmin. Saya sudah menunggu kamu," sambut Pak Andi. Ia duduk di balik meja besarnya, menyandarkan punggung dengan santai.
Yasmin melangkah ragu, meremas tali tasnya. "E... kenapa Bapak meminta saya datang? Apa nilai saya begitu buruk sampai harus remidial?"
Pak Andi tertawa kecil, suara yang entah mengapa membuat bulu kuduk Yasmin sedikit meremang.
"Kita kan belum ulangan. Ini tentang PR tadi. Kenapa kamu mengerjakannya dengan asal-asalan? Banyak yang kosong."
"Oh... e... saya benar-benar tidak tahu jawabannya, Pak."
"Harusnya kamu minta bantuan orang lain kalau memang kesulitan. Teman sebangku, misalnya?"
Yasmin menunduk dalam, menatap ujung sepatunya. "Tidak ada yang mau membantu saya, Pak."
Mendengar itu, wajah Pak Andi tampak berseri-seri, seolah itu adalah jawaban yang paling ia nantikan.
"Kalau begitu, saya akan bantu kamu. Bagaimana kalau kamu ambil les privat di rumah saya? Bapak punya banyak referensi soal di sana."
"Tapi Pak, saya tidak punya uang untuk les privat," jawab Yasmin jujur.
"Tidak mahal, Yasmin," Pak Andi condong ke depan, suaranya merendah dan intens. "Dibayar semampunya saja. Bapak hanya tidak tega melihat nilai murid secantik kamu jadi hancur. Saya tulus ingin membantu."
Yasmin terdiam, merasakan tekanan yang tak kasat mata dari tawaran itu. "Saya... saya bicarakan dengan orang tua dulu ya, Pak."
Pak Andi tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Yasmin, bilang pada orang tuamu, kamu bisa ga lulus kalau nggak privat... maksud Bapak, kalau nilaimu jelek. Biaya bukan masalah. Bapak, cuma mau bantu."
Tangan Yasmin semakin berkeringat. Dia mengangguk, mundur dan cepat-cepat pergi dengan jatung yang bertalu kencang.
Matahari siang itu memang terik, namun di area belakang sekolah, udara terasa lebih lembap dan berat. Seorang siswa berseragam rapi dengan langkah tenang mendekati sebuah bangunan tua yang nyaris terlupakan: gudang sekolah. Di jemarinya, terselip sebuah kunci kecil yang berkilat tertimpa cahaya.
Ia masuk ke dalam, disambut oleh aroma debu yang menari-nari di bawah celah ventilasi. Tangannya mendekap sebuah guci keramik putih. Guci itu tidak simetris—miring dan tampak seperti produk gagal—tapi ada keindahan ganjil di sana. Di permukaannya, goresan tangan membentuk gambar burung yang seolah hendak mengejar bunga di baliknya.
Cowok itu, Vyan, mendekati sebuah lemari tua dengan engsel yang sudah berderit karat. Ia mengusap permukaan guci itu dengan ibu jarinya, tepat di bagian bawah di mana nama ‘ZiVy’ terukir kasar. Ia menatap benda itu dengan tatapan yang sulit diartikan, penuh kerinduan sekaligus luka. Saat ia hendak mendekatkan guci itu ke wajahnya, sebuah suara memecah keheningan.
Suara tangisan. Lirih, namun sangat pedih.
Vyan tersentak. Ia segera meletakkan guci itu di dalam lemari, menutup pintunya dengan hati-hati, lalu melangkah menuju pintu gudang yang sedikit terbuka.
Dari balik celah kayu, ia melihat seorang gadis duduk di atas rumput liar. Gadis itu menangis sesenggukan, bahunya naik turun, namun anehnya, ia menangis dengan cara yang sangat murni—seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Itulah Yasmin. Dalam cahaya matahari yang menyilaukan, kecantikannya tetap tampak nyata meski air mata membasahi pipinya.
Tiba-tiba, sebuah benda kecil jatuh tepat di atas kepala Yasmin.
"Aduh!" Yasmin terkesiap. Tangisnya berhenti seketika. Ia meraba kepalanya dan menemukan seekor burung kecil yang tampak kebingungan di sana.
"Kenapa kamu jatuh?" tanya Yasmin dengan suara serak pasca-tangis. Ia mengangkat burung itu ke depan wajahnya. "Jangan-jangan kamu lupa caranya terbang? Hihi... kamu lebih bodoh dari aku ya."
Vyan yang memperhatikan dari balik pintu tertegun. Perubahan ekspresi itu begitu cepat. Kesedihan yang baru saja meluap seolah sirna begitu saja, digantikan oleh senyum tulus yang kekanak-kanakan.
"Belajar ya! Belajar! Belajar! Biar orang nggak ngetawain kamu..." Yasmin berdiri, lalu dengan hati-hati ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membiarkan burung itu mengambil ancang-ancang untuk mengepakkan sayap. Burung itu berkicau sekali sebelum akhirnya terbang menuju dahan pohon yang lebih tinggi.
"Ya! Kamu bisa. Bagus. Kamu pintar...!" Yasmin bertepuk tangan kecil.
Tawa Vyan pecah begitu saja dari dalam gudang. Ia tidak bisa menahannya lagi. Suasana yang tadinya melankolis mendadak terasa jenaka karena tingkah gadis itu.
Yasmin tersentak, matanya yang bulat menatap ke arah gudang yang gelap. "Si... siapa itu?"
"Kamu lucu. Kelihatannya kamu anak baik ya?" Suara Vyan terdengar berat namun ramah dari balik bayangan.
Wajah Yasmin memucat. Ia mundur selangkah. "Ja... jangan-jangan kamu hantu...?"
Vyan tertawa lagi, kali ini mencoba meredam suaranya. "Bagaimana kalau aku memang hantu? Apa kamu takut?"
Yasmin tampak berpikir keras. Alisnya bertaut, bibirnya mengerucut sejenak. "Seperti manusia, hantu juga ada yang baik dan jahat. Kelihatannya kamu hantu baik, jadi aku tidak takut."
"Kamu tidak takut? Bukannya hantu selalu seram?"
"Iya sih seram... tapi kamu kan nggak bisa keluar dari sana. Soalnya ini siang hari. Hantu nggak berkeliaran di siang hari," sahut Yasmin dengan nada yakin seolah sedang menjelaskan teori ilmiah. "Kalau kamu kesepian di dalam sana, aku bisa jadi teman ngobrol kamu kalau lagi jam istirahat."
Vyan terdiam. Ada sesuatu di dada kirinya yang berdesir. Gadis ini bukan hanya cantik, tapi dia benar-benar... berbeda.
"Kamu memang baik. Sekarang ceritakan, kenapa tadi kamu menangis?"
"Oh itu... nggak apa-apa. Aku menangis karena aku terlalu bodoh. Semua orang mengatakan aku bodoh."
"Cantik, kalau merasa bodoh ya belajar. Jangan menangis."
"Iya sih, tapi tidak ada yang mau mengajari aku. Malah Pak Andi, ternyata dia... dia hidung belang..."
"Apa? Pak Andi guru Fisika?" Suara Vyan mendadak berubah tajam.
"I..iya. Kok hantu tahu?"
"Apa yang dia lakukan padamu?"
"Pak Andi memaksaku les privat. Ibu tidak mengizinkan tapi... tapi... Pak Andi marah... dia pegang-pegang tanganku... "
Yasmin tampak bergidik membayangkan pengalaman buruknya. Pak Andi memegang dan mengelus tangannya. Mata itu membuatnya merinding.
Pintu gudang itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit panjang. Mengalihkan perhatian Yasmin dari pengalaman buruknya.
Yasmin menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Ia setengah berharap melihat sosok transparan atau menyeramkan, tapi yang keluar justru seorang cowok dengan seragam rapi dan wajah yang sangat tampan.
"Aku kenal semua guru di sekolah ini...," ucap Vyan sambil berjalan mendekat.
Vyan berhenti tepat beberapa langkah di depan Yasmin. Dari jarak sedekat ini, Vyan menyadari bahwa kata 'cantik' sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan gadis di depannya. Matanya bening dengan bulu mata lebat yang masih basah, pipinya putih mulus dengan semburat merah karena panas matahari.
Yasmin sendiri tampak gelagapan. Ia mendongak menatap langit, lalu menatap Vyan, lalu menatap bayangan Vyan di tanah.
"Ka...kamu tidak apa-apa kena sinar matahari...?"
Vyan tertegun sejenak, lalu menyadari apa yang dipikirkan gadis itu. Ya ampun... Jadi dia benar-benar percaya aku hantu?
"Aku Vyan, Cantik. Kelas XI IPA 3. Aku ketua OSIS. Kamu nggak tahu?"
Yasmin menggeleng polos. Wajahnya penuh tanda tanya.
Oh, ternyata aku tidak cukup terkenal di mata gadis ini, batin Vyan, ada sedikit rasa jengkel yang geli di hatinya.
"Nggak apa-apa. Aku butuh laporanmu tentang Pak Andi nanti," ujar Vyan serius.
"Aku pikir kamu hantu, makanya aku mau cerita, tapi sekarang..." Yasmin tampak bingung dan sedikit malu.
"Ya sudahlah. Begini saja. Kamu kelas berapa?"
"Kelas sepuluh tujuh."
"Belajar privatnya sama aku saja, ya?"
"Eh... kenapa?"
"Jadi kamu merasa sudah cukup pintar?" Vyan menggoda. "Aku cuma mau bantu karena tadi kelihatannya kamu sedih sekali. Dan tenang saja, aku tidak seperti Pak Andi."
"Memang... Kak Vyan pintar?" tanya Yasmin polos, matanya menatap jujur ke arah Vyan.
Ya ampun! Dia menanyakannya? Dia apa nggak pernah dengar aku ini siswa teladan dan juara umum se-kotamadya? Vyan menarik napas panjang, berusaha mempertahankan senyumnya meskipun egonya sedikit tergores.
"Setidaknya lebih pintar dari kamu. Aku kan kelas sebelas," jawab Vyan akhirnya.
"Oh... iya juga ya. Tapi..."
Masih ada tapi? Vyan semakin gemas.
"Aku janji kamu tidak akan melihat Pak Andi lagi. Kita akan cari guru yang lebih baik. Setuju?" Vyan memotong pembicaraan sebelum Yasmin memberikan alasan lain. "Besok pulang sekolah, aku jemput ke kelas kamu. Siap-siap saja."
"Vyan!" Sebuah teriakan memecah momen itu.
Seorang cowok berambut cepak, Agil, muncul dari balik koridor dengan wajah gusar. "Ngapain di sini? Pakai matiin HP segala lagi. Semua orang sudah nunggu di ruang OSIS!"
"Lu cerewet, Gil. Kan ada Dean yang bisa handle dulu," sahut Vyan santai.
"Tetap saja!" Agil melirik Yasmin dengan tatapan menyelidik, lalu segera menarik lengan Vyan. "Ayo pergi sekarang!"
"Sampai nanti, Cantik!" Vyan melambaikan tangan, meninggalkan Yasmin yang masih berdiri bengong seperti patung.
Begitu menjauh, Agil langsung berbisik dengan nada mendesak. "Ngapain lu berduaan di tempat sepi kayak gitu sama cewek itu?"
"Kebetulan saja. Memang kenapa?"
"Lu nggak tahu ya? Dia itu Yasmin! Lu nggak boleh dekat-dekat sama dia, Vyan. Lu itu ketua OSIS!"
Vyan mengernyit. "Apa hubungannya?"
"Lu nggak dengar kabarnya? Dia itu 'Yasmin si Bodoh'."
"Dia 'Si Cantik'...," koreksi Vyan tenang.
"Ya, tapi bodoh!"
"Tapi cantik..."
Agil mendengus frustrasi. "Ya ampun, Vyan! Lu pasti pernah dengar kalau orang-orang menjauhi dia. Dia itu dituduh suka merebut pacar orang. Karena itu semua cewek di sekolah ini memusuhinya. Cowok yang mendekati dia bakal jadi musuh publik!"
"Ya, gue pernah dengar rumornya. Jadi dia orangnya?" Vyan menoleh sekilas ke belakang, melihat sosok kecil Yasmin yang mulai menjauh. "Gue mengerti kenapa banyak cowok naksir dia, tapi dia nggak kelihatan seperti tipe tukang rebut pacar orang. Dia terlalu... polos."
"Sudah! Pokoknya jangan terlibat. Lu harus jaga reputasi!"
"Lu lebih cerewet dari Bunda gue, Gil," gumam Vyan sambil berjalan menuju ruang OSIS, namun pikirannya masih tertinggal pada guci miring di gudang dan gadis yang menyangka dirinya hantu.
Hallo! Selamat datang di karya baruku.
Tapi sebenarnya bukan karya baru. Ini udah lama jadi draft di komputer. Karya lama yang kuperbaharui.
Kalau rasanya beda, harap maklum. Dan lagi, kalau karya ini terasa jadul dan agak berantakan, mohon maaf.
Di ruang Kepala Sekolah yang berbau kayu jati dan kertas lama, suasana terasa berat. Pak Wiguna, sang Kepala Sekolah, berkali-kali membetulkan letak kacamatanya sambil menatap tumpukan berkas di atas meja. Itu adalah surat pernyataan yang ditandatangani oleh puluhan siswa, sebuah "senjata" yang disusun rapi oleh Vyan.
"Apa kamu benar-benar yakin dengan semua ini, Vyan?" tanya Pak Wiguna, suaranya berat penuh keraguan.
Vyan duduk dengan punggung tegak, ekspresinya tenang—terlalu tenang untuk remaja berusia tujuh belas tahun.
"Kalau Bapak meragukan validitas tanda tangan itu, saya siap memfasilitasi pertemuan terbuka. Tapi saya rasa, menjaga nama baik sekolah jauh lebih efisien daripada membuat kegaduhan publik, bukan?"
Pak Wiguna terdiam. Kata-kata Vyan halus, tapi menusuk tepat di titik lemah manajemen sekolah: reputasi.
"Tapi Vyan, saya tidak pernah mendengar keluhan langsung dari siswa lain mengenai Pak Andi," gumam Pak Wiguna lagi.
"Itu karena mereka merasa lebih aman mengadu pada saya, Pak. Mereka takut nilai mereka terancam jika bicara langsung pada guru," jawab Vyan mantap. "Mulanya saya mencoba abai, tapi saat keluhan ini menjadi gunung, saya tidak bisa membiarkan integritas sekolah ini runtuh hanya karena satu oknum."
Pak Wiguna menoleh pada Pak Yanto, pembina OSIS yang sedari tadi hanya menyimak. "Bagaimana menurutmu, Yanto?"
"Vyan bisa dipercaya, Pak," jawab Pak Yanto singkat. Ia menatap Vyan dengan tatapan penuh arti.
Percayalah, Pak, batin Pak Yanto, anak ini punya bakat ajaib: dia bisa membuat kasus kecil menghilang seperti sulap, atau meledakkan kasus besar hingga tak tersisa. Dan kali ini, dia sedang ingin 'meledakkan' sesuatu.
Dan Pak Yanto yakin sejak awal Vyan sudah mengincar guru ini. Entah apa yang menjadi pemicunya, mungkin laporan siswa lain, atau bisa jadi hal lainnya, dia pernah mendapati Vyan memutar rekaman CCTV sekolah di ruang OSIS.
Siapa yang dia amati, jelas, Pak Andi. Walau dia beralasan lain saat itu.
"Masalahnya, Vyan," lanjut Pak Wiguna, "Pak Andi itu guru Fisika. Mencari pengganti yang kompeten dan bisa langsung mengajar dalam waktu singkat itu sangat sulit."
Vyan menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan.
"Justru itu, Pak. Saya mendengar kabar bahwa ada pengajar berprestasi dari luar kota yang sedang mencari posisi di sekolah elit seperti ini. Beliau sangat kompeten. Bapak tinggal menilainya sendiri nanti."
Pak Wiguna dan Pak Yanto saling pandang. Mereka merasa sedang tidak berhadapan dengan murid, melainkan seorang direktur yang sedang melakukan restrukturisasi perusahaan.
"Baiklah, Vyan. Bapak akan pertimbangkan. Kami butuh waktu untuk diskusi internal."
"Tentu, Pak. Saya mengerti. Terima kasih atas waktunya."
Vyan bangkit, menjabat tangan keduanya dengan sopan, lalu keluar.
Begitu pintu tertutup, Vyan mengembuskan napas panjang. Sudah berhasil enam puluh persen. Sisanya gampang.
***
Bu Dinda baru saja memasuki mobilnya saat ponselnya bergetar. Dia melihat nama yang tertera di layar ponsel adalah 'My beloved son'.
"Ya, Vyan?"
"Ajukan pengunduran diri sekarang, Bun. Sudah waktunya, Bunda pindah sekolah."
"Apa? Pindah sekolah?" tanyanya tak percaya.
"Iya, Bun," suara Vyan terdengar renyah di seberang telepon. "Ada lowongan mendadak di sekolah Vyan. Guru Fisika. Bunda harus secepatnya kirim berkas ke sini."
"Tapi Vyan, aku tuh baru saja mau diangkat jadi guru tetap di sini. Lagipula..."
Bu Dinda ragu.
"Bun, sekolah Vyan jauh lebih elit. Fasilitasnya lebih baik, dan yang terpenting... kita bisa bertemu setiap hari, bukan cuma akhir pekan," potong Vyan dengan nada membujuk yang sulit ditolak.
Bu Dinda terdiam cukup lama. "Apa mereka akan menerimaku? Bunda tidak punya koneksi di sana."
"Tenang saja. Vyan sudah atur semuanya. Bunda hanya perlu datang dan jadi guru terbaik seperti biasanya."
"Baiklah... terserah kamu saja, Yan."
Bu Dinda menutup telepon, menatap pantulan dirinya di cermin. Ia tahu sudah saatnya ia menghadapi apa yang selama ini ia hindari. Apalagi melihat semangat Vyan, ia sadar bahwa putranya itu sangat membutuhkannya.
***
Vyan menyimpan ponselnya, mengamati pintu ruang kepala sekolah. Membayangkan adegan di dalamnya. Wajah pucat Pak Andi yang membaca surat petisi yang ditandatangani banyak siswa dan siswi sekolah itu.
Dia tidak akan bisa mengelak, apalagi disodorkan beberapa narasi kesaksian siswi. Bibir Vyan tersenyum seolah melihat Pak Andi yang tangannya gemetar memegang berkas tersebut.
Memang di dalam sana Pak Andi berkeringat dingin. Laporan sepanjang itu menghancurkan kredibilitasnya sebagai seorang pendidik.
"Ini fitnah!" ucapnya gemetar. "I-ini berlebihan. Itu hanya perhatian saya sebagai pendidik. Kenapa bisa diplintir begini?"
Pak Wiguna melirik Pak Yanto. Pak Yanto menarik napas lalu berkata, "Jadi, ini benar? Semua pernyataan di sini?"
Pak Yanto mengambil salah satu kertas, lalu membacanya.
"Terdapat pola perilaku repetitif (terlampir dalam log tanggal dan saksi) di mana subjek secara konsisten menciptakan situasi kontak fisik non-konsensual dalam kedok 'interaksi edukatif'. Subjek secara sadar mengeksploitasi relasi kuasa antara guru dan murid untuk menormalkan pelanggaran ruang personal."
Pak Yanto membuka lembar berikutnya. Dia membaca suatu kejadian yang tertera keterangan titimangsa dan lokasinya. "Subjek dengan dalih mengajari memegang tangan Siswi AN lebih lama, bahkan mengelus dengan jari... lalu berikutnya ini, subjek merangkul pundak FN ketika mengeluh pusing... lalu mengusap kepala JS dengan dalih menyemangati... mencubit hidung YM dengan alasan lucu... serta berikutnya pelecehan verbal... "
"Pak Andi!" potong Pak Wiguna. Mereka jelas telah membaca semua berkas itu, karenanya dia sudah mengambil keputusan. "Apa Anda menyangkal semua itu?"
"I-itu fitnah, Pak. Tidak ada buktinya. Apa sekolah ingin menyingkirkan saya tanpa bukti? Ini jelas tak adil."
"Dalam dunia pendidikan, bahkan kalaupun itu hanya pengakuan korban, semuanya akan sah. Apalagi jumlahnya banyak. Apa bapak ingin kepastian hukum atau opini publik?"
Pak Andi tersentak. Apalagi Pak Wiguna menyerahkan sepucuk surat. Jelas itu surat pemecatan.
"Ambil ini dan pergilah. Kecuali Bapak ini laporan resmi kepolisian."
Pak Andi tampak ragu. "Saya tak habis fikir. Fitnah bisa sekeji ini...," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel. Pak Andi mengambil ponselnya. Dia hendak mematikannya tapi panggilan itu mati. Dia melihat ada video yang dikirim padanya. Karena penasaran, dia membukanya dan terhenyak. Itu rekaman CCTV di koridor ketika dia menarik tangan Yasmin dan anak itu berontak lalu kabur.
Sebuah pesan masuk.
"Video ini aman kalau Bapak pergi sekarang juga tanpa banyak alasan."
Pak Andi segera menyambar surat di atas meja, lalu pamitan dan keluar dengan langkah tergesa. Sesaat dia melihat Vyan yang berdiri di sana, tersenyum lalu berbalik dan pergi. Hawa dingin seolah menyergap punggung Pak Andi. Dia berjalan setengah berlari menuju kantornya.
***
Jam pelajaran di kelas X-7 berlangsung lambat sampai sosok Vyan muncul di ambang pintu. Kehadiran sang Ketua OSIS yang kharismatik itu seketika menghentikan semua bisik-bisik.
"Kak Vyan? Ada perlu apa ke kelas kami?" tanya Dhini, mencoba bersikap profesional meski jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Dia kenal Vyan karena menjadi anggota OSIS.
"Hai, Dhin. Aku mau jemput Yasmin."
Seluruh kelas mendadak sunyi. Puluhan pasang mata beralih pada Yasmin yang sedang sibuk menulis di kursinya. Yasmin mendongak, wajahnya yang polos tampak sangat terkejut melihat Vyan sudah berjalan mendekat ke mejanya.
"Hai, Cantik!" seru Vyan tanpa peduli pada tatapan sinis yang mulai dilemparkan Atikah dan gerombolannya.
"Kak Vyan...?" Yasmin mengerjap, bingung melihat senyum lebar di wajah seniornya itu.
"Aku berhasil. Keinginan kita tercapai!" ucap Vyan mantap.
Di barisan tengah, Atikah berbisik pedas pada Reka, "Masa sih Kak Vyan mendekati cewek bodoh itu?"
"Nggak mungkin! Pasti ada yang salah," timpal Cecil dengan wajah cemas. Reputasi mereka untuk mengucilkan Yasmin terancam runtuh dalam sekejap karena kehadiran Vyan.
"Kenapa bengong?" Vyan menepuk meja Yasmin pelan. "Sekarang kita laksanakan rencana berikutnya."
"Rencana apa?" tanya Yasmin polos.
"Jangan bilang kamu lupa. Pokoknya pulang sekolah aku tunggu di depan gerbang, ya!"
Vyan melirik buku tulis Yasmin yang terbuka. Ia mengambilnya sebelum Yasmin sempat melarang. Di sana, tertulis kalimat jujur yang sangat tidak "akademis":
Bosan. Kenapa orang harus sekolah sih? Pusing... Aku mau pulang...
Vyan tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu di telinga siapa pun yang mendengar. Ia mengembalikan buku itu sambil mengerling nakal.
"Sampai ketemu nanti. Yo, Dhin! Duluan ya!" Vyan melambaikan tangan lalu melenggang pergi meninggalkan kelas yang kini mendidih oleh rasa penasaran.
"Jadi sekarang kamu menggoda Kak Vyan juga?" Atikah langsung menghampiri meja Yasmin dengan nada menuduh.
"Tidak...," jawab Yasmin pelan, ia mengerutkan badan.
"Lalu apa? Jelas-jelas dia menyebutmu 'Cantik' di depan semua orang!"
"Aku juga tidak tahu. Kak Vyan tiba-tiba saja ingin membantuku belajar."
"Belajar?" Reka tertawa mengejek. "Jangan-jangan kamu sengaja pura-pura bodoh supaya bisa menarik perhatian cowok-cowok jenius seperti dia?"
Yasmin tersentak. Tudingan itu terasa sangat tidak masuk akal baginya.
"Sudahlah," Dhini menengahi, meski hatinya sendiri panas. "Aku nggak yakin Kak Vyan serius. Paling dia cuma kasihan."
"Benar juga," sahut Atikah, mencoba menghibur dirinya sendiri. "Nggak mungkin orang sepintar Kak Vyan jatuh ke perangkap cewek nggak berguna kayak Yasmin."
"Iya, benar. Aku juga sependapat," gumam Yasmin pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Namun, jawaban polos itu justru membuat Atikah dan yang lainnya semakin kesal karena merasa Yasmin sedang mengejek mereka dengan kepolosan palsunya.
Di dekat pintu, Tegar berbisik pada Dhini, "Dhin, kalau Vyan yang mendekati Yasmin... apa ancaman kalian tentang 'memusuhi cowok yang membela Yasmin' itu masih berlaku?"
Dhini terdiam, matanya menatap pintu kelas yang kosong. "Sepertinya tidak... siapa yang berani melawan Vyan?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!