"Berdasarkan bukti-bukti dan keterangan saksi di persidangan, maka dengan ini terdakwa dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari seluruh dakwaan!"
TOK! TOK! TOK!
Suara palu hakim yang menghantam meja kayu jati itu bergema di seluruh ruangan sidang yang dingin, seolah-olah suara itu adalah lonceng kematian bagi kebenaran. Luis berdiri terpaku di posisinya.
Telapak tangannya yang berkeringat mencengkeram pinggiran meja pengacara hingga buku-buku jarinya memutih.
Telinganya berdenging, membuat suara riuh rendah di sekitarnya terdengar samar dan jauh.
Ia kembali gagal. Kasus ini, yang seharusnya menjadi titik baliknya, justru berakhir menjadi luka baru yang menganga.
"T-tapi, Yang Mulia! Bukti DNA itu sudah—"
TOK! TOK! TOK!
"Diam! Sidang telah ditutup! Saudara Luis, harap jaga sikap Anda atau saya akan menyeret Anda keluar karena menghina pengadilan!" bentak hakim dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Luis terbungkam. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya bersimpuh di lantai marmer yang dingin.
Dia adalah klien Luis, ibu dari seorang gadis kecil yang hidupnya hancur karena diperkosa secara brutal.
Isak tangis wanita itu pecah, sebuah raungan keputusasaan yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Ia memukuli dadanya sendiri, meratapi kenyataan bahwa orang yang menghancurkan masa depan anaknya kini melenggang bebas.
Semua bukti sebenarnya sudah sangat jelas. Luis telah mengumpulkan segalanya, mulai dari hasil visum hingga rekaman CCTV yang menunjukkan keberadaan pelaku di lokasi kejadian.
Namun, hukum seolah buta jika berhadapan dengan kekuasaan. Pihak lawan adalah putra dari seorang pengusaha logistik berpengaruh.
Dengan kekuatan uang, mereka memanipulasi alibi, menyuap saksi, dan bahkan menunjuk seorang pengangguran malang untuk dijadikan tersangka bayangan demi mengaburkan fakta.
Di seberang ruangan, si pelaku, pemuda kaya itu menatap Luis dengan senyuman miring yang meremehkan.
Ia merapikan kerah jas mahalnya, lalu memberikan tatapan penuh kemenangan sebelum melangkah pergi dengan dikawal barisan pengacara papan atas.
Luis mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangan. Hatinya perih.
Apakah keadilan memang semurah ini? Apakah hukum di tempat ini hanya sekadar komoditas yang bisa dibeli dengan tumpukan uang tunai di bawah meja?
Luis meninggalkan gedung pengadilan dengan langkah gontai. Langit kota tampak mendung, seolah turut berduka atas matinya keadilan hari ini.
Setiap langkah yang ia ambil terasa sangat berat, dibebani oleh rasa bersalah yang menghimpit dada.
Ingatannya kembali melayang ke belasan tahun yang lalu. Bayangan rumah masa kecilnya yang dilahap api terus menghantuinya.
Orang tuanya tewas di dalam sana hanya karena mereka menolak menjual tanah peninggalan kakeknya kepada pengembang properti raksasa.
Saat itu, Luis yang masih remaja hanya bisa menonton dengan air mata yang mengering, menyadari bahwa polisi dan pengadilan tidak akan pernah menyentuh orang-orang yang memiliki "nama".
Karena dendam itulah, Luis mati-matian belajar hingga menjadi seorang pengacara. Ia ingin menjadi pedang bagi mereka yang tertindas.
Namun kenyataannya, ia hanyalah pedang tumpul di tengah hutan rimba yang penuh dengan binatang buas berbaju zirah emas.
Ia selalu gagal. Reputasinya hancur. Bukan karena ia bodoh, melainkan karena ia terlalu idealis di tempat yang sudah busuk hingga ke akarnya.
"Sialan! Apa aku harus membersihkan sendiri sampah-sampah ini dengan tanganku?!" geram Luis pelan sambil menendang kaleng kosong di trotoar.
Saat ia berjalan melewati sekumpulan orang di depan halte bus, sayup-sayup suara bisikan sinis mulai menusuk telinganya.
"Lihat, itu dia pengacara yang tidak pernah menang itu, kan? Si Luis?"
"Iya, kasihan sekali. Katanya dia selalu mengambil kasus orang miskin tapi tidak pernah berhasil. Kalau aku jadi dia, aku lebih baik berhenti dan jadi kuli saja daripada mempermalukan diri sendiri."
Luis hanya bisa menunduk. Ia sudah terbiasa dengan cibiran itu.
Reputasinya sebagai 'Pengacara Pecundang' telah menyebar luas di kalangan praktisi hukum.
Akibatnya, ia sangat kesulitan mendapatkan klien yang layak. Terkadang, klien yang datang kepadanya hanyalah 'buangan' dari firma hukum besar yang sengaja memberikan kasus mustahil kepadanya hanya untuk menjadikannya bahan lelucon.
BZZZT... BZZZT...
Ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nama yang sangat ia benci: Bram, pengacara licik yang tadi memenangkan kasus pemerkosaan tersebut.
Luis menggeser tombol hijau dengan perasaan muak.
"Halo, Luis! Bagaimana rasanya kalah lagi? Kau ini sebenarnya pengacara atau badut pengadilan? Sudah berapa puluh kali kau kalah secara beruntun? Sebaiknya kau menyerah saja, dunia ini bukan tempat untuk orang lemah yang sok suci seperti kau." Suara tawa Bram terdengar sangat memekakkan telinga.
"Diam kau, penjilat! Kau memenangkan kasus itu dengan cara kotor!" balas Luis dengan suara bergetar karena menahan amarah.
"Kotor atau bersih tidak penting, Luis. Yang penting adalah siapa yang berdiri di akhir. Sampai jumpa di kekalahan berikutnya, Pecundang!"
...****************...
𝙍𝙚𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙨𝙞 𝙣𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙗𝙖𝙧𝙪.
𝙅𝙪𝙙𝙪𝙡𝙣𝙮𝙖 "𝙎𝙞𝙨𝙩𝙚𝙢 𝙈𝙞𝙨𝙞 𝙋𝙤𝙡𝙞𝙨𝙞"
[𝙏𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙋𝙚𝙣𝙟𝙖𝙝𝙖𝙩, 𝙍𝙖𝙞𝙝 𝙃𝙖𝙙𝙞𝙖𝙝!]
𝙉𝙖𝙩𝙝𝙖𝙣, 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙤𝙡𝙞𝙨𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙜𝙖𝙨𝙣𝙮𝙖, 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙞 𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙧𝙖𝙜𝙞𝙨. 𝙉𝙖𝙢𝙪𝙣, 𝙩𝙖𝙠𝙙𝙞𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙧𝙞𝙢𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙠𝙚 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙞𝙖 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙞𝙚𝙧 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙥𝙤𝙡𝙞𝙨𝙞.
𝙆𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞, 𝙉𝙖𝙩𝙝𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙠𝙖𝙙 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙗𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙨𝙞𝙗𝙣𝙮𝙖. 𝘿𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙨𝙩𝙚𝙢 𝙢𝙞𝙨𝙩𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙙𝙞𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙨𝙞𝙡 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙖𝙝𝙖𝙩, 𝙞𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙠𝙧𝙞𝙢𝙞𝙣𝙖𝙡 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙧 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖.
Luis mematikan ponselnya dengan kasar. Detik berikutnya, rentetan notifikasi pesan singkat masuk.
Semuanya adalah peringatan penagihan utang. Biaya sewa kantor yang menunggak, cicilan bank yang belum terbayar, hingga tagihan listrik. Kegagalannya di pengadilan berarti tidak ada uang yang masuk ke kantongnya.
Luis berjalan melintasi persimpangan jalan yang cukup sepi.
Pikirannya melantur jauh, mencoba mencari jalan keluar dari lubang hitam yang menghisap hidupnya.
Ia begitu tenggelam dalam keputusasaan hingga tidak menyadari suara deru mesin besar yang mendekat dari arah samping.
TIIIIIIIIIIT!!!
Suara klakson truk yang memekakkan telinga menyentak Luis dari lamunannya. Ia menoleh ke samping dan melihat dua lampu besar yang sangat menyilaukan melaju cepat ke arahnya.
Luis membelalak, otot-ototnya seolah terkunci karena syok. Ia ingin melompat menghindar, namun tubuhnya terlalu lambat merespons.
BRAKKKK!!!
Tubuh Luis terpental sejauh lima meter. Ia menghantam aspal keras dengan bunyi berdebam yang mengerikan.
Tulang-tulangnya terasa remuk, dan rasa panas yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya. Pandangannya mulai mengabur, namun ia masih bisa melihat truk itu berhenti.
Bukannya melarikan diri karena panik, pengemudi truk itu justru turun dengan tenang. Dari balik pandangannya yang tertutup darah, Luis mengenali wajah pria itu.
Dia adalah salah satu orang suruhan dari pihak lawan di pengadilan tadi. Pria itu menatap Luis dengan senyuman puas, seolah baru saja menyelesaikan tugas sederhana.
"Apa... ini akhir hidupku? Karena aku terlalu mengusik mereka?" batin Luis dengan sisa kesadarannya.
Luis terkapar bersimbah darah. Cairan merah kental itu mulai membasahi aspal di bawahnya. Napasnya tersengal, pendek dan berat. Namun, kekejaman pria itu belum berakhir.
Pria itu berjalan mendekat sambil menyeret sebatang besi besar. Ia berdiri tepat di atas kepala Luis yang sudah tidak berdaya.
"Mati saja kau, pengacara sampah. Jangan coba-coba mengusik tuan kami lagi di kehidupan selanjutnya," desis pria itu dingin.
BUM!
Pria itu menghantamkan batang besi itu sekuat tenaga tepat ke arah kepala Luis. Kegelapan total langsung menyergap. Rasa sakit itu hilang dalam sekejap, digantikan oleh kekosongan yang dingin.
Luis merasa jiwanya melayang di ruang hampa yang gelap. Namun, tiba-tiba, sebuah suara sayup-sayup mulai terdengar. Suara itu terasa sangat hangat, sangat akrab, dan begitu dirindukan hingga membuat dadanya sesak.
"Luis... ayo bangun, Nak. Keluar dari kamar, kita makan malam bersama. Ayahmu sudah menunggu di meja makan."
Suara itu... itu adalah suara ibunya. Suara yang seharusnya sudah hilang belasan tahun yang lalu bersamaan dengan kebakaran itu.
"Ibu...?" gumam Luis dalam hati.
Perlahan, ia membuka matanya. Ia tidak berada di aspal yang dingin atau di ruang sidang yang kaku. Ia berada di sebuah kamar kecil dengan poster-poster lama di dinding. Aroma masakan rumah yang lezat menusuk penciumannya.
DING!
Tiba-tiba, sebuah layar semi-transparan berwarna biru neon muncul tepat di depan matanya, melayang di udara.
[Sistem Saldo Eksekutor Telah Diaktifkan!]
[Status: Terhubung dengan Inang - Luis]
[Misi Utama: Eksekusi para penjahat yang lolos dari hukum!]
[Hadiah: Saldo uang tunai dalam jumlah fantastis untuk setiap target yang dieksekusi!]
Luis tertegun. Ia menyentuh wajahnya yang masih utuh tanpa luka. Ia tidak mengerti dengan situasinya saat ini. Ia melihat sekitarnya yang sangat tidak asing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Judulnya: "Sistem Budidaya Nelayan"
Sinopsis:
Lin Pan, seorang dokter muda yang hidupnya penuh kegagalan, tiba-tiba terbangun di dalam dunia novel. Kini ia hanyalah seorang nelayan miskin yang ditakdirkan menghadapi akhir yang tragis.
Beruntung, ia memperoleh sebuah Sistem yang memberinya misi. Setiap misi yang berhasil diselesaikan akan menghadiahkannya uang, kemampuan, dan berbagai hadiah berharga untuk mengubah nasibnya.
Namun, mampukah Lin Pan mengubah akhir cerita yang telah ditentukan dan meraih kehidupan yang bahagia?
Luis membelalakkan matanya lebar-lebar. Langit-langit kamar yang kusam dengan noda bekas rembesan air hujan itu menatapnya balik.
Ia segera bangkit duduk, napasnya memburu seolah oksigen di ruangan itu baru saja dipompa masuk secara paksa ke paru-parunya.
Tangannya yang gemetar meraba lehernya. Tidak ada darah. Tidak ada luka robek akibat hantaman batang besi. Kepalanya yang seharusnya sudah hancur kini terasa utuh, meski sedikit pening.
"Ini... ini tidak mungkin," bisik Luis. Suaranya terdengar lebih cempreng dan bersih, bukan suara parau pria usia tiga puluh tahun yang hancur oleh tekanan hidup.
PLAK!
Luis menghantamkan telapak tangan kanannya ke pipi kiri dengan sekuat tenaga. Rasa panas dan perih langsung menjalar, membuat matanya sedikit berair.
"Sakit..." gumamnya. Namun, ia belum yakin.
PLAK! PLAK!
Ia menampar dirinya sendiri berulang kali hingga pipinya memerah. Ia ingin memastikan bahwa ini bukan sekadar halusinasi di detik-detik terakhir kematiannya. Ia ingin memastikan bahwa aspal dingin dan wajah puas si pembunuh tadi hanyalah mimpi buruk.
"Bangun! Ayo bangun, Luis! Jangan bercanda!" teriaknya pada diri sendiri sambil terus memukuli wajahnya.
Tiba-tiba, pintu kayu kamarnya terbuka dengan suara decitan yang sangat familiar. Seorang gadis remaja dengan seragam SMA yang sedikit berantakan berdiri di ambang pintu. Rambutnya diikat kuda, dan wajahnya menunjukkan ekspresi antara bingung dan ngeri.
"Kakak?! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menampar wajahmu sendiri seperti orang gila?!"
Gadis itu adalah Luna. Adik perempuannya yang seharusnya sudah meninggal bertahun-tahun lalu dalam kebakaran rumah mereka. Di ingatan terakhir Luis, Luna hanyalah sebuah nama di nisan yang sudah mulai berlumut.
"Luna?" Luis terpaku. Suaranya tertahan di tenggorokan.
Tanpa memedulikan rasa pusing yang menyerang, Luis melompat dari tempat tidur. Langkah kakinya terasa ringan, jauh lebih bertenaga daripada tubuhnya yang dulu sering kelelahan. Ia berlari menerjang ke arah adiknya.
Luna tampak terkejut melihat kakaknya berlari ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Hei, hei! Jangan mendekat kalau kau mau melakukan hal aneh!" Luna mundur dua langkah, namun Luis jauh lebih cepat.
Luis langsung merengkuh tubuh mungil adiknya dalam sebuah pelukan yang sangat erat. Ia bisa merasakan detak jantung Luna,
kehangatan tubuhnya, dan aroma parfum stroberi murah yang biasa dipakai adiknya itu. Ini nyata. Luna benar-benar hidup.
"K-kakak? Lepaskan! Kau kenapa sih? Tiba-tiba bersikap menjijikkan seperti ini?" Luna meronta pelan, wajahnya memerah karena malu sekaligus bingung.
Biasanya, Luis adalah kakak laki-laki yang cuek, kaku, dan sering bertengkar dengannya karena masalah sepele seperti rebutan remote televisi. Pelukan emosional seperti ini adalah hal terakhir yang Luna harapkan dari seorang Luis yang egois.
"Syukurlah... kau masih di sini. Kau benar-benar di sini," bisik Luis tanpa memedulikan protes adiknya.
Beberapa saat kemudian, Luis keluar dari kamar dengan perasaan yang masih campur aduk. Ia melihat kedua orang tuanya duduk di meja makan kayu sederhana.
Ayahnya sedang membaca koran sambil menyesap kopi hitam, sementara ibunya sedang menata piring-piring berisi nasi dan lauk sederhana.
Melihat mereka berdua, kaki Luis terasa lemas. Ia teringat bagaimana ia menangis di depan tumpukan abu rumahnya dulu, meratapi ketidakberdayaannya sebagai seorang anak yang tidak bisa menyelamatkan siapa pun.
"Luis, akhirnya kau keluar juga. Cepat duduk, makanannya nanti dingin," ujar ibunya sambil tersenyum hangat.
Sepanjang makan malam, Luis lebih banyak diam. Ia hanya memperhatikan setiap detail kecil: cara ayahnya mengunyah, suara denting sendok dan garpu, hingga tawa kecil Luna saat menceritakan teman sekolahnya.
Orang tuanya sempat bertanya mengapa Luis tampak aneh dan pipinya merah-merah, namun Luis hanya beralasan bahwa ia baru saja bangun tidur dan sedikit linglung.
Selesai makan, Luis segera kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memanggil sesuatu yang tadi sempat muncul di penglihatannya.
"Layar biru... muncul," batinnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!