Hah! Uang! Datanglah! jerit batin Rina frustasi
Malam itu di depan cermin toilet klab malam yang retak, Rina Amelia, seorang mahasiswi tingkat akhir Fakultas Hukum Universitas Nusantara berusia 22 tahun sedang galau luar biasa karena sedang terhimpit masalah keuangan.
Malam ini, benteng harga dirinya runtuh tak berbekas. Dunia seolah bersekongkol untuk membuatnya terpuruk.
Ibu kosnya baru saja memberikan peringatan keras jika esok pagi tunggakan uang kostnya selama tiga bulan tidak lunas maka seluruh barangnya akan dibuang ke tempat sampah.
Di saat yang sama ibunya terbaring koma di ruang ICU tanpa kepastian biaya dan tadi sore sebuah surat berstempel merah dari rektorat tiba. Isinya tak main-main Rina diancam drop out dikarenakan tunggakan semester akhir yang belum dia bayarkan.
"Berat banget hidupku," gerutu RIna sambil menghela nafas berat.
Tentu Rina butuh uang dalam jumlah banyak dan cepat hari ini juga. Kalau tidak entah bagaimana hidupnya besok.
Dengan ujung jemarinya yang dingin, Rina dengan cepat menghapus sisa air mata di pipinya. Ia memoles wajahnya tipis-tipis untuk menyembunyikan rasa tak berdaya yang menggerogoti dadanya. Ia hanya bisa berdoa, berharap ada keajaiban kecil yang menghampirinya.
"Rina!" panggil managernya dengan ketus.
"I--iya,"
"Ngapain diem aja! Jangan melamun di situ!" tegur manajer klab dengan suara melengking memotong lamunannya.
Pria itu menyodorkan sebuah nampan perak yang cukup berat. "Anterin botol wiski Macallan ini ke Ruang VIP nomor 7. Sekarang!"
Rina tersentak, dia lalu cepat-cepat mengambil nampan tersebut dan berjalan menuju Ruang VIP nomer 7.
"Ingat," bisik manajer itu penuh penekanan. "Tamu di dalam itu konglomerat penting. Jangan banyak tingkah dan jangan berani-berani menatap matanya cukup tuangkan saja minumannya lalu langsung keluar! Paham?!"
Rina mengangguk gemetar.
Dengan langkah kaku ia membawa nampan perak itu menyusuri koridor eksklusif. Karpet beludru merah tebal di bawah pijakannya meredam setiap langkah kaki mempertegas suasana misterius tempat para penguasa uang menghabiskan malam.
Saat pintu kedap suara Ruang VIP nomor 7 bergeser perlahan, suasana berisik kelab malam mendadak lenyap.
Di atas sofa kulit berukuran besar di sudut ruangan sedang duduk seorang pria sendirian.
Pria itu bernama Adrian Wibawa. Pria berusia 48 tahun yang menjabat sebagai CEO PT. Matakaki sedang menyandarkan tubuhnya yang wajah lelah.
Kemeja abu-abu arang yang dikenakannya tampak pas melekat di tubuhnya yang tegap dengan bagian lengan digulung hingga ke siku mencoba memamerkan sebuah jam tangan kronograf mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Rahangnya tegas berhiasi jenggot tipis yang dicukur sangat rapi memancarkan pesona pria matang yang penuh kuasa dan sangat tampan.
Kedua matanya terpejam, sementara jemarinya memijat pangkal hidungnya pelan sedang berusaha mengusir penat.
"T-tuan... ini minuman Anda," bisik Rina lirih, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan ruangan.
Rina berlutut di dekat meja marmer rendah. Jemarinya yang dingin bergetar hebat saat mencoba membuka segel botol wiski seharga belasan juta rupiah itu. Namun, di tengah usaha itu, pikirannya mendadak liar.
Bayangan wajah ibunya yang pucat di rumah sakit, ancaman ibu kos dan bayangan masa depannya yang hancur berkeping-keping mendadak menyerbu kepalanya.
Konsentrasinya pecah seketika dan...
PRANGG!
"Ah!" Rina memekik pelan saat tangannya yang gemetar menyenggol gelas kristal di atas meja.
Gelas itu hancur berkeping-keping. Cairan alkohol beraroma tajam itu langsung tumpah ruah dan membasahi celana kain mahal milik Adrian tepat di area pahanya.
"Apa yang kamu lakukan?!" Suara bariton Adrian menggelegar keras membuat nyali Rina menciut habis.
Pria itu membuka matanya lebar-lebar dan melayangkan tatapan tajam setajam elang yang mengunci seluruh pergerakan Rina.
"M-maaf, Tuan! Saya benar-benar mohon maaf, saya tidak sengaja!" Rina panik luar biasa.
Ketakutan membakar dadanya.
Tanpa berpikir panjang Rina menyambar beberapa helai tisu di meja. Ia berlutut makin dekat di depan paha Adrian dan mengusap sisa cairan wiski yang membasahi celana bahan pria itu dengan terburu-buru.
Namun justru kepanikan Rina membawa bencana baru.
Usapan jemarinya yang halus dan gemetar di atas kain celana basah itu mendadak memicu reaksi yang berbeda di tubuh Adrian.
Tubuh pria matang itu seketika menegang keras.
Dari posisi berlututnya itu Rina mendongak ragu.
Pandangan mereka beradu di udara. Dari jarak sedekat ini Adrian bisa melihat dengan jelas mata bulat Rina yang berkaca-kaca oleh air mata ketakutan.
Di dalam dada Adrian gairah purba yang tertidur seketika tersulut membara.
Dengan gerakan cepat dan bertenaga tangan besar Adrian mencengkeram pergelangan tangan Rina dengan kuat menghentikan gerakan jemari gadis itu. "Hentikan," geram Adrian rendah. "Kamu sengaja memancingku, hah?"
"Bukan, Tuan! Maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja..." tangis Rina akhirnya pecah.
Gadis itu berusaha meraba saku roknya untuk mengambil sapu tangan namun gerakannya yang panik justru membuat selembar kertas terlipat jatuh dan terbuka di atas lantai.
Kertas itu adalah surat peringatan drop out dari kampusnya lengkap dengan rincian tunggakan biaya rumah sakit ibunya.
Mata tajam Adrian melirik kertas tersebut lalu memungutnya kemudian membaca isinya secara sekilas.
Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Mahasiswi tingkat akhir... Fakultas Hukum Universitas Nusantara," baca Adrian pelan, suaranya terdengar seperti bisikan yang berbahaya. Ia menatap Rina dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan lapar yang kini tidak lagi disembunyikan. "Jadi, kamu lagi butuh uang?"
Rina tidak mampu bersuara. Ia hanya bisa mengangguk pasrah dalam cengkeraman tangan Adrian yang kokoh.
"Kebetulan sekali," bisik Adrian. Suaranya berubah menjadi sangat rendah dan serak tepat di samping telinga Rina. "Aku sedang bosan dengan rutinitas pernikahanku. Dan aku butuh mainan baru yang penurut."
Sebelum Rina sempat mencerna kalimat itu, Adrian menarik lengan gadis itu dengan satu hentakan kuat, mendudukkannya tepat di atas pangkuannya yang keras. Rina terlonjak pelan. Ia bisa merasakan secara nyata kehangatan, kekokohan, dan kekuatan tubuh pria matang yang sedang mengungkungnya ini.
"Dua puluh juta setiap bulan di tambah satu unit apartemen mewah di pusat kota dan seluruh utang serta biaya kuliahmu tuntas besok pagi," bisik Adrian tepat di ceruk leher Rina. "Imbalannya jadilah istri simpananku. Bagaimana, Rina?"
Rina memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tau betul ini adalah sebuah salah besar, namun apa boleh buat dia tidak punya pilihan.
"Aku... setuju, Tuan," bisik Rina pasrah.
“Jangan panggil tuan, dong! Panggil om, aja,” ucap Adrian lalu meraih pinggul gadis cantik itu.
"Iya," bisik Rina dan Adrian memulai malam panjangnya bersama Rina.
Malam itu dia melepas keperawanannya demi hidup yang dia impikan sedang Adrian yang bergelimang harta akhirnya mendapatkan mainan baru yang luar biasa legit baginya.
Setelah lelah Adrian membaringkan tubuhnya di sofa sedang Rina masih menahan perih di sela pahanya. Dia bingung antara harus senang atau sedih karena telah membuat keputusan yang besar dalam hidupnya.
“Baru kali ini ada gadis begitu polos mau aku tiduri di malam pertama kita ketemu,” kekeh Adrian sambil meraih bibir Rina yang masih terengah. “Kamu suka?” tanya Adrian lirih.
“He'eh!” jawab Rina polos.
“Ini pertama kali banget kamu hubungan?”
“Iya, Om,” jawab Rina sambil menatap mata pria yang malam itu dianggapnya sebagai penyelamat dalam hidupnya.
“Kamu manis sekali. Kasih aku nomor rekening kamu, Sayang. Aku transfer sekarang.”
Perkataan itu membuat Rina senang luar biasa, dia lalu memberikan nomor rekeningnya dan Adrian segera mengirimkan uang yang dia butuhkan.
Setelah mendapatkan notifikasi M-Banking mata Rina semakin berbinar saja. Dia tidak menyangka kalau malam itu dia kejatuhan Duren.
Uang 500 juta langsung ditransfer Adrian tanpa ragu dan pelukan hangat segera dia berikan pada om tampan di depannya.
“Terima kasih, om!” jawab Rina begitu riang.
“Iya, sayang. Nanti om transfer lagi, tapi janji, ya. Kamu cuma punya om!”
Rina tersenyum tipis sambil mengenakan kembali bajunya.
“Sekarang ayo ikut Om ke penthouse,” ajak Adrian sambil menggandeng tangan Rina yang masih bergetar setelah puas dia tindih.
“Pak Adrian sudah selesai?” tanya senior Rina saat gadis itu gandeng pengusaha kaya itu keluar ruang VIP.
“Mmm! Sudah, aku akan kasih kamu tips tapi ijinkan gadis ini pulang bareng saya, ya.” Adrian meletakkan uang 300 ribu di atas meja kasih lalu melirik senior Rina yang paham maksud dari tarikan tangan Adrian.
“Oh, iya, Pak Adrian. Silahkan. Jam kerja Rina emang udah selesai,” dustanya sambil meraih lembaran uang pemberian Adrian.
“Bagus, kalau gitu saya pulang dulu. Ayo, siapa tadi namamu?”
“Rina, Om,” jawab Rina sambil menunduk.
“Ya, Rina. Ayo ikut om,”
“Terima kasih Pak, semoga datang kembali,” ucap senior Rina sambil menatap Rina yang begitu lugu masuk ke dalam mobil Adrian.
Mereka lalu sampai di penthouse milik Adrian dini hari.
Rina langsung membersihkan tubuhnya sebelum melangkah tidur. Sedang Adrian memilih untuk membaca pesan-pesan yang dia terima malam ini.
“Kamu sudah ngantuk?” tanya Adrian dengan tatapan malas.
“Iya, Om. Saya tidur di mana,”
“Di sana,” tunjuk Adrian dan Rina menurut patuh.
Malam itu memang malam yang melelahkan untuk Adrian. Dia baru saja kalah tender tapi dan istrinya marah karena kabar itu.
Karenanya dia tidak mau pulang, dia lebih memilih tinggal di rumah mewah ini dengan mainan barunya yang terlihat sangat mudah dikendalikan.
Keesokan paginya, Rina terbangun di sebuah kamar penthouse mewah dengan pemandangan kota.
Di atas meja rias terdapat sebuah kartu kredit hitam dan pesan singkat bertuliskan, "Gunakan ini untuk semua kebutuhanmu. Apartemen ini milikmu sekarang. Aku akan menghubungimu nanti. — Adrian."
Semua masalah finansialnya lenyap dalam satu malam. Namun, hati Rina terasa kosong dan kotor.
Ia mandi membersihkan tubuhnya yang masih menyisakan rasa linu dan tanda kemerahan di leher akibat perbuatan intens Adrian semalam.
Berusaha melupakan rasa bersalahnya, Rina mengenakan pakaian tertutup dan bergegas ke kampus.
Hari ini ia ada jadwal bimbingan bab analisis skripsi yang krusial.
Rina melangkah menyusuri koridor gedung Fakultas Hukum dengan perasaan was-was. Langkah kakinya berhenti di depan sebuah pintu kayu jati dengan plang nama bernuansa emas: Prof. Dr. Eliza, SH., MH.
Mendengar nama itu saja sudah cukup membuat mahasiswa gemetar.
Profesor Eliza adalah dosen killer nomor satu. Wanita berusia kepala empat itu terkenal sangat dingin, sangat perfeksionis dan memiliki mata sedetil elang yang bisa menggagalkan draft skripsi mahasiswa hanya karena salah meletakkan spasi atau kutipan.
Dengan tangan gemetar Rina mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk," terdengar suara bernada datar, tegas dan berwibawa dari dalam.
Rina mendorong pintu perlahan.
Di balik meja kerja besar yang rapi, duduk Profesor Eliza. Wanita itu tampak sangat anggun dengan setelan blazer formal berwarna marun dengan kacamata berbingkai hitam dan rambut yang disanggul rapi tanpa cela.
Tatapannya dingin langsung tertuju pada Rina saat gadis itu duduk di hadapannya.
"Rina. Saya dengar dari bagian keuangan kampus bahwa seluruh administrasi dan tunggakan kuliahmu tiba-tiba lunas pagi ini," ujar Profesor Eliza melipat kedua tangannya di atas meja.
Tatapannya seolah bisa menembus langsung ke dalam rahasia terdalam Rina. "Baguslah. Jadi tidak ada alasan lagi bagimu untuk terlambat bimbingan skripsi."
"Baik, Bu. Terima kasih. Ini draf revisi Bab 4 saya," kata Rina dengan suara mencicit, menyerahkan bundel kertas tebal itu dengan tangan gemetar.
Ia sengaja memakai syal untuk menutupi tanda kepemilikan yang ditinggalkan Adrian di lehernya semalam.
Profesor Eliza mengambil draf tersebut, lalu mulai membacanya lembar demi lembar dengan keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara gesekan kertas dan ketukan pulpen bolpoin merah milik Eliza di atas meja.
Untuk mengurangi rasa gugupnya, pandangan Rina tanpa sengaja bergeser ke sudut kanan meja kerja Profesor Eliza. Di sana, terletak sebuah bingkai foto perak eksklusif.
Rina memicingkan mata melihat foto di dalam bingkai tersebut. Detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Rina seolah tersedot habis.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Seluruh tubuhnya mendadak kaku.
Di dalam foto itu, Profesor Eliza mengenakan kebaya formal berdiri dengan senyum tipis di samping seorang pria tampan berjas hitam yang merangkul pinggangnya dengan mesra. Pria dengan rahang tegas, tatapan mata yang dominan dan senyuman menawan yang semalam baru saja menjelajahi seluruh inci tubuh Rina di sofa klub malam.
Pria itu... Adrian. Pria yang membelinya sebagai istri simpanan adalah suami sah dari dosen killer-nya sendiri!
"Rina? Rina!"
Suara bentakan Profesor Eliza memecah lamunan Rina.
Rina tersentak hebat. Tanpa sengaja tangannya menyenggol tumpukan buku di tepi meja hingga jatuh berhamburan ke lantai.
"M-maaf, Bu! Maaf!" Rina langsung berlutut di lantai untuk memunguti buku-buku itu.
Seketika wajahnya mendadak pucat pasi.
Profesor Eliza berdiri dari kursinya sambil menatap mahasiswanya dari atas dengan mata menyipit penuh selidik. "Ada apa denganmu, Rina? Sejak tadi kamu tidak fokus lagian kenapa kamu menatap foto suami saya seperti ngeliat hantu?"
Rina menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering. "S-saya... saya hanya sedikit pusing, Bu. Kurang tidur karena mengerjakan revisi."
"Hmph. Jaga kesehatanmu. Dan ingat satu hal, Rina," Profesor Eliza kembali duduk lalu menatap Rina dengan pandangan mengintimidasi. "Saya tidak suka mahasiswa yang membawa masalah pribadi ke ruang akademik. Jika sampai draf skripsimu berantakan lagi, saya tidak akan segan-segan menunda kelulusanmu sampai tahun depan. Kamu paham?"
"P-paham, Bu..." jawab Rina lirih lalu melangkah meninggalkan dosen killernya.
“Gila, ternyata Ibu Eliza istrinya Adrian. Hah, bisa-bisanya aku jadi madu dari dosen killerku!” Rina tersentak kaget tapi dia sudah terlanjur jatuh dalam pelukan Adrian.
Dia sudah tidak punya pilihan.
Kring!
Ponsel Rina berdering dan matanya segera melirik nama penelepon. “Om Adrian,” bisik Rina menyadari kalau dia harus lari agar Ibu Eliza tidak mendengar percakapannya.
Lama tak mendapat jawaban Adrian akhirnya mengirimkan pesan pada Rina.
“Kenapa tidak dijawab, Sayang. Nanti malam kita ketemu, ya. Aku kangen,”
Kangen?
Kepala Rina menggeleng cepat. “Bisa-bisanya dia seret aku ke dalam badai besar. Aduh bagaimana kalau sampai Prof Eliza tau aku tidur dengan suaminya, matilah aku!”
"Sayang, ini apartemennya," pesan Adrian itu diterima Rina tepat sesaat setelah Rina melakukan bimbingan skripsi dengan Prof. Eliza.
Malam harinya, setelah Adrian mengirimkan share loc kepada Rina dan dengan berat hati gadis catik itu akhirnya bergegas menuju tempat yang dipinta om tampan itu.
“Hah! Harus banget gitu aku temui dia di sini,” gerutu Rina sambil melangkah masuk.
Ingin rasanya dia menelan hidup-hidup pria hidung belang yang kemarin membelinya.
Ting!
Tong!
Wajah Rina masih datar saat Adrian membuka pintu.
“Hai, Sayang,” sapa Adrian sambil menarik tangan Rina. "Muach!" Pelukan dan ciuman menghujani Rina.
"Kenapa Om tidak bilang dari awal?!" Suara Rina meninggi memecah keheningan ruangan yang sunyi.
Suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah kapan saja. "Kenapa Om menyembunyikan fakta ini dariku? Kenapa Om harus menjadi suami dari Profesor Eliza?!" brondong Rina tak terima.
Adrian terlihat tidak terkejut dengan kemarahan simpanannya itu. "Lalu kenapa kalau dia istriku, Rina?" tanya Adrian santai.
"Kenapa Om tanya?!" Rina terdiam sesaat untuk menghela nafas. "Dia itu dosen pembimbing skripsiku, Om! Profesor Eliza itu dosen killer nomor satu di fakultas hukum! Dia bisa menggagalkanku kapan saja hanya karena kesalahan kecil. Kalau dia sampai tahu... kalau suaminya punya wanita simpanan dan wanita simpanan itu aku, hancur hidupku, Om!"
Dengan kepalan tangan kecilnya yang gemetar Rina memukul dada bidang Adrian.Ia meluapkan seluruh ketakutan yang menghantuinya selama dua hari terakhir sejak ia melihat foto Adrian di meja dosennya. "Aku cuma pingin lulus, Om... Aku terpaksa nerima tawaranmu karena ibuku di rumah sakit dan aku ngak punya uang untuk bayar kos. Tapi kenapa harus dengan suami dosenku sendiri? Ini sama aja dengan mengantarkan leherku ke algojo!"
Adrian tidak menghindar. Ia membiarkan tinju lemah Rina mendarat di dadanya beberapa kali sebelum akhirnya tangan besarnya yang hangat bergerak cepat namun lembut menangkap kedua pergelangan tangan Rina dan mengunci pergerakannya.
Kekuatan Adrian yang mutlak membuat Rina terpaksa berhenti memukul sehingga hanya menyisakan nafasnya yang memburu dan isak tangis yang tertahan.
Adrian menunduk, memaksa Rina untuk menatap dalam-dalam ke dalam manik mata gelapnya yang dalam dan penuh kuasa.
Bukannya marah, pria matang itu justru melunak. Dengan senyuman memikat Adrian malah membuat Rina semakin terpesona padanya. "Rina, dengerin aku. Tatap mataku," bisik Adrian dengan nada bicaranya yang berubah menjadi begitu lembut, "Kamu pikir aku ini pria bodoh? Kamu pikir aku akan membiarkan masa depanmu hancur begitu saja? Hm?"
Rina terdiam sambil menatap wajah Adrian yang berada hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya.
Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena marah, melainkan karena kedekatan fisik mereka yang selalu berhasil mengintimidasi akal sehatnya.
"Aku memang suaminya di atas kertas, Rina. Tapi pernikahan kami hanya sebatas urusan bisnis antara dua keluarga besar. Tidak ada cinta, tidak ada kehangatan di sana. Di rumah itu, dia adalah Profesor Eliza yang dingin dan aku adalah pengusaha yang sibuk dengan duniaku sendiri," rayu Adrian. "Hatiku... gairahku... ada di sini, bersamamu di dalam ruangan ini sekarang."
Adrian mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi Rina yang masih sedikit berkeringat dingin. "Aku jamin Eliza tidak akan pernah tahu statusmu sebagai wanita simpananku. Aku akan membelikanmu rumah mewah atas namamu sendiri dan aku memastikan ibumu akan mendapatkan perawatan medis terbaik di rumah sakit internasional seumur hidupnya tanpa kamu perlu memikirkan biayanya lagi. Aku akan melindungimu dari Eliza. Pokoknya aku berjanji kamu akan hidup berkecukupan selama jadi istri simpananku, Rina."
Rina yang masih polos dan belum banyak tahu tentang busuknya dunia luar seketika terpaku.
Diperlakukan bagai sebuah permata berharga dengan dihujani janji-janji masa depan yang begitu indah dan diyakinkan oleh pria matang yang memiliki segalanya seperti Adrian membuat seluruh dinding pertahanan Rina runtuh berkeping-keping.
"Om... benar-benar berjanji?" bisik Rina lirih, matanya menatap Adrian dengan pandangan penuh kepasrahan seorang gadis muda yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.
"Aku berjanji, Sayang," jawab Adrian dengan suara yang semakin serak.
Mereka saling berpandangan dalam keheningan yang mendadak berubah menjadi sangat intim dan sarat akan ketegangan seksual yang pekat.
Kelembutan yang tadi ia tunjukkan perlahan menguap digantikan oleh hasrat purba yang menuntut kepemilikan.
Tanpa memberikan aba-aba lagi, Adrian menundukkan kepalanya dan langsung meraup bibir Rina. Ia mengulum bibir ranum gadis itu dengan ciuman yang dalam dan panas.
Rina melenguh pelan di dalam tenggorokannya, tubuhnya seketika melemas di dalam pelukan Adrian.
Adrian memperdalam ciumannya, lidahnya menuntut akses lebih dalam sementara tangan besarnya merayap turun ke pinggang Rina lalu meremasnya dengan posesif hingga tubuh mereka menempel tanpa celah.
Napas mereka menjadi satu, saling berkejaran di tengah ruangan yang sunyi.
Adrian menyingkap sedikit rok Rina sampai kulit hangatnya bertemu dengan kulit dingin Rina sehingga menciptakan sengatan gairah yang membuat akal sehat Rina benar-benar terbang melayang.
Rina terbuai, ia melupakan fakta bahwa pria yang sedang menciumnya dengan begitu liar adalah suami dari wanita yang memegang kendali atas kelulusannya.
Ting-tong! Ting-tong!
Suara bel pintu penthouse yang berbunyi nyaring.
Rina tersentak hebat. "O-Om... ada tamu?" bisiknya,
"Tunggu disini sebentar, Sayang. Jangan keluar dari area tengah. Aku akan memeriksa siapa yang datang mengganggu."
Rina mengangguk. Ia berdiri mematung di dekat sekat ruangan sambil memperhatikan dari kejauhan dengan perasaan tidak tenang saat Adrian melangkah menuju lorong depan untuk membuka pintu utama.
Krek...
Pintu besar itu terbuka. Namun, begitu pintu itu terbuka dan suara Adrian yang menyapa terdengar dari lorong depan, seluruh pasokan oksigen di sekitar Rina seolah lenyap seketika. Seluruh darah di tubuhnya membeku,
"Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba kemari? Bukankah katamu hari ini ada rapat senat sampai malam?" tanya Adrian. Nada suaranya terdengar berubah drastis menjadi nada suara seorang suami yang terkejut namun berusaha tetap terdengar ramah dan penuh perhatian.
“Heh! Itu Profesor?” Rina mulai panik.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!