Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Pengganti Sang Komandan

Episode 1

Bab 01 - Aku yang Akan Menikah Dengannya

Alya Prameswari berdiri di depan rumah besar keluarga Wiratama dengan map cokelat di tangan.

Hujan baru saja berhenti. Halaman batu di depan rumah itu masih basah. Aroma tanah naik bersama udara dingin Jakarta sore itu.

Di dalam rumah, suara laki-laki terdengar keras.

"Saya sudah bilang, Eyang. Saya tidak mau menikah dengan Laras."

Suara itu rendah, tapi tajam.

Alya berhenti satu langkah sebelum pintu ruang tengah. Tangannya menggenggam map sampai ujung kertasnya terlipat.

Dia pernah melihat wajah pria itu di berita militer. Mayor Damar Arkan Wiratama. Komandan muda yang sering dikirim ke wilayah perbatasan. Tegas, dingin, dan nyaris tak pernah tersenyum di depan kamera.

Tapi mendengar suaranya secara langsung, dada Alya tetap terasa sesak.

"Damar!" suara Eyang Wiratama bergetar karena marah. "Keluarga Prameswari pernah menyelamatkan keluarga kita saat kita jatuh. Janji ini bukan main-main."

"Janji Eyang, bukan janji saya."

"Kalau kamu tetap menolak, lepaskan jabatanmu di satuan itu. Pulang. Bantu ayahmu urus perusahaan keluarga. Aku tidak akan membiarkan cucuku mempermalukan janji yang dibuat di depan orang tua yang sudah meninggal."

Ruangan itu hening.

Alya menunduk. Wajah Laras yang pucat muncul di pikirannya.

"Alya, aku tidak bisa. Aku mencintai Farel. Kalau aku dipaksa menikah dengan Mayor Damar, aku kabur. Aku serius."

Kakaknya menangis sampai napasnya putus-putus. Papa duduk di sofa rumah sakit dengan selang infus di tangan. Mama tidak berhenti membaca doa. Utang perusahaan, operasi jantung Papa, dan nama baik keluarga mereka seperti tali yang melilit leher.

Laras tidak kuat.

Papa tidak boleh tahu Laras kabur.

Dan keluarga Wiratama tidak boleh membatalkan bantuan yang bisa menyelamatkan Papa.

Alya menarik napas.

Dia mengetuk pintu.

Semua orang menoleh.

Di ruang tengah itu, Eyang Wiratama duduk di kursi roda. Wajahnya keras, rambut putihnya tersisir rapi. Di sampingnya ada Om Bima dan Tante Nadia, orang tua Damar. Keduanya tampak tegang.

Lalu mata Alya bertemu dengan mata Damar.

Tajam.

Dingin.

Seolah dia sudah tahu Alya datang untuk berbohong.

"Assalamualaikum," kata Alya pelan.

Tante Nadia berdiri. "Alya? Laras mana?"

Alya menelan ludah.

"Mbak Laras sakit. Dia tidak bisa datang."

Damar menyipitkan mata.

"Kebetulan sekali."

Alya pura-pura tidak mendengar. Dia melangkah masuk, lalu berhenti di depan Eyang Wiratama.

"Eyang," katanya, "saya datang untuk menyampaikan sesuatu."

Eyang memandangnya lama. "Bicaralah."

Alya menahan gemetar di lututnya.

"Kalau keluarga Wiratama masih ingin menjaga janji dengan keluarga Prameswari, izinkan saya menggantikan Mbak Laras."

Tante Nadia menutup mulutnya.

Om Bima mengerutkan kening. "Alya, kamu paham apa yang kamu katakan?"

"Saya paham, Om."

Damar tertawa pendek.

Tidak ada humor di suara itu.

"Jadi ini rencana baru keluarga kalian?"

Alya menoleh kepadanya. "Bukan."

"Laras menolak, lalu adiknya maju. Hebat." Damar melangkah mendekat. Seragam dinasnya masih melekat di tubuh, bahunya lebar, tubuhnya tinggi sampai membuat Alya harus sedikit mendongak. "Kamu pikir ini apa? Kursi kosong yang bisa diisi siapa saja?"

"Saya tidak berpikir begitu."

"Lalu kenapa kamu datang?"

Karena Papa bisa mati kalau operasi itu ditunda.

Karena Laras tidak akan kembali malam ini.

Karena Mama sudah terlalu lelah menangis.

Alya tidak mengatakan semua itu.

Dia mengangkat wajah.

"Karena saya bersedia menikah dengan Anda."

Mata Damar makin gelap.

"Bersedia?" Dia mengulang kata itu seperti sesuatu yang kotor. "Kamu bahkan tidak mengenal saya."

"Saya tahu Anda prajurit yang baik."

"Jangan menjilat."

Alya terdiam.

Ucapan itu menampar lebih keras dari yang dia duga.

Eyang Wiratama memukul sandaran kursi rodanya. "Damar, jaga mulutmu!"

"Tidak perlu, Eyang." Damar masih menatap Alya. "Dia datang sendiri. Dia pasti sudah menyiapkan jawabannya."

Alya menggenggam map di tangannya lebih kuat. Di dalam map itu ada fotokopi KTP, surat keterangan belum menikah, dan semua berkas yang sejak pagi dia urus bersama Mama. Terlalu cepat. Terlalu gila. Tapi semuanya bisa diurus jika dua keluarga besar dan uang keluarga Wiratama bergerak.

Dia tahu itu terdengar buruk.

Mungkin di mata Damar, dia memang buruk.

"Saya tidak meminta Anda menyukai saya," kata Alya. "Saya hanya meminta Anda menepati akad jika akad itu nanti terjadi."

Ruangan kembali hening.

Damar menatapnya seolah baru saja mendengar tantangan.

Eyang Wiratama menarik napas panjang. "Aku lebih suka anak yang berani bicara jujur daripada anak yang kabur dari tanggung jawab."

Alya menunduk.

Maaf, Mbak.

Dia tahu kalimat Eyang melukai Laras, meski Laras tidak ada di sana.

Damar berbalik ke arah kakeknya.

"Baik."

Alya mengangkat kepala.

Damar berkata lagi, lebih dingin.

"Saya akan menikah dengannya."

Tante Nadia tampak lega, tapi wajah Om Bima justru makin berat.

"Tapi ada syarat," lanjut Damar.

Eyang Wiratama mengatupkan rahang.

"Katakan."

Damar menatap Alya.

"Pertama, setelah menikah, tidak ada yang ikut campur dengan penugasan saya. Saya tetap kembali ke perbatasan."

"Itu bisa dibicarakan," kata Om Bima.

"Tidak. Itu syarat."

Eyang mengangguk pelan.

"Kedua," Damar melanjutkan, "pernikahan ini hanya status. Jangan menuntut apa pun dari saya. Jangan cinta, jangan perhatian, jangan hak sebagai istri yang kamu bayangkan."

Dada Alya terasa ditusuk.

Damar belum selesai.

"Ketiga, tiga tahun. Kalau dalam tiga tahun pernikahan ini tidak membawa apa pun selain masalah, kita berpisah."

Tante Nadia tersentak. "Damar!"

"Saya tidak akan membuat perjanjian aneh di depan KUA," katanya datar. "Saya tahu hukum. Tapi dia perlu mendengar ini dari awal."

Mata Damar kembali ke Alya.

"Kamu masih mau?"

Alya merasa semua orang menunggunya bernapas.

Dia bisa mundur.

Dia bisa pulang, membangunkan Laras, memaksa kakaknya bertanggung jawab.

Tapi bayangan Papa di ruang rawat membuat pilihan itu mati sebelum lahir.

Alya mengangguk.

"Saya mau."

Damar menatapnya lama. Lalu bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, melainkan penghinaan.

"Kalau begitu, selamat. Kamu mendapatkan posisi yang kamu inginkan."

Alya tidak menjawab.

Dia hanya menunduk, menyembunyikan tangan yang mulai gemetar.

Malam itu, saat keluarga membicarakan wali, saksi, KUA, dan akad yang harus dipercepat dengan surat dispensasi dari kecamatan, Alya duduk diam di sudut ruangan.

Tidak ada yang bertanya apa dia takut.

Tidak ada yang bertanya apa dia rela.

Karena jawaban dari dua pertanyaan itu tidak penting lagi.

Yang penting hanya satu.

Besok pagi, keluarga Prameswari masih punya harapan menyelamatkan Papa.

Dan Alya akan menjadi istri pria yang sejak detik pertama sudah membencinya.

Saat mobil Mama menjemputnya pulang, Alya sempat melihat Damar berdiri di balkon lantai dua. Pria itu tidak mendekat, tidak memberi salam, hanya menatap dari atas seperti seorang komandan menilai wilayah yang baru saja dipaksa masuk dalam petanya.

Alya menunduk lebih dulu.

Di dalam mobil, Mama menggenggam tangannya sambil berulang kali menyebut nama Allah. Alya membiarkan tangan itu menggenggamnya erat, meski kukunya sendiri sudah meninggalkan bekas di telapak.

"Kamu yakin, Nak?" tanya Mama akhirnya.

Alya melihat lampu jalan yang memantul di kaca mobil.

Tidak.

Dia tidak yakin pada Damar. Tidak yakin pada keluarga Wiratama. Tidak yakin pada pernikahan yang belum dimulai tapi sudah terasa seperti hukuman.

Tapi dia yakin pada satu hal.

Kalau malam ini dia mundur, rumah mereka akan runtuh sebelum fajar.

"Iya, Ma," jawabnya.

Mama menangis lagi.

Alya tidak ikut menangis. Dia hanya menatap jalan, memikirkan ruang operasi Papa, wajah Laras yang entah bersembunyi di mana, dan mata Damar yang dingin.

Mulai besok, semua orang mungkin akan memanggilnya istri Mayor Damar.

Tapi malam itu, Alya merasa seperti orang asing yang baru saja menandatangani kontrak dengan badai.

Di rumah, Laras belum pulang.

Mama tidak menyebut namanya. Papa juga tidak. Semua orang seperti sepakat menutup satu pintu agar rumah tidak makin berantakan.

Alya masuk kamar, melepas kerudung, lalu duduk di lantai.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Laras hanya berisi dua kata.

Maaf, Dek.

Alya menatap layar lama sekali.

Dia tidak membalas.

Episode 2

Bab 02 - Hanya Status

Akad berlangsung lima hari kemudian.

Terlalu cepat untuk sebuah pernikahan.

Terlalu rapi untuk sesuatu yang nyaris hancur sehari sebelumnya.

Alya duduk di ruang tamu rumah keluarga Wiratama, memakai kebaya putih sederhana. Mama duduk di sampingnya sambil menggenggam tasbih. Papa tidak bisa hadir lama karena baru menjalani prosedur awal sebelum operasi besar, tapi beliau sempat datang dengan kursi roda rumah sakit.

Laras tidak datang.

Alasannya sakit.

Semua orang tahu itu bukan alasan sebenarnya, tapi tidak ada yang membahasnya.

Kepala KUA, wali, dua saksi, dan keluarga inti berkumpul. Damar datang tepat waktu, memakai baju koko putih dan peci hitam. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun.

Tidak gugup.

Tidak bahagia.

Seperti menghadiri rapat dinas.

Saat ijab kabul selesai dalam satu tarikan napas, beberapa orang mengucap hamdalah. Mama menangis pelan. Tante Nadia memeluk Alya. Eyang Wiratama menutup mata seperti beban di dadanya berkurang.

Damar hanya menandatangani buku nikah.

Cepat.

Rapi.

Tanpa menoleh ke arah Alya.

Setelah acara kecil itu selesai, keluarga Wiratama mengadakan syukuran singkat. Tidak ada pesta besar. Tidak ada pelaminan mewah. Tidak ada musik.

Hanya makanan, doa, dan senyum yang dipaksakan.

"Maaf, Nak," bisik Mama ketika mereka sempat berdua di kamar tamu. Mata Mama bengkak. "Mama tidak tahu harus bilang apa."

Alya menggenggam tangan ibunya.

"Jangan minta maaf terus, Ma."

"Ini hidupmu."

"Papa harus sembuh."

Mama menangis lagi.

Alya memeluknya. Di balik bahu Mama, dia melihat pantulan dirinya di kaca lemari. Kebaya putih, riasan tipis, mata yang tampak lebih dewasa dari pagi tadi.

Dia sudah menikah.

Tapi rasanya seperti baru saja menandatangani surat penyerahan diri.

Malamnya, Alya dibawa ke rumah dinas sementara milik keluarga Wiratama di kompleks TNI Jakarta. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi bersih dan rapi. Tante Nadia mengatakan rumah utama terlalu ramai, sementara Damar hanya punya dua malam sebelum kembali ke satuannya.

"Kalian istirahat dulu," kata Tante Nadia dengan suara lembut. "Apa pun yang terjadi, bicarakan baik-baik."

Alya hanya mengangguk.

Baik-baik.

Dia ingin tertawa.

Bagaimana mungkin bicara baik-baik dengan pria yang sejak akad bahkan tidak memandangnya?

Setelah semua orang pergi, rumah itu hening.

Alya duduk di tepi ranjang kamar utama. Kebaya sudah dia ganti dengan piyama panjang yang Mama masukkan ke koper. Rambutnya masih disanggul setengah karena dia tidak sempat melepas semuanya.

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.

Damar belum masuk.

Alya mendengar suara air dari kamar mandi luar, lalu langkah kaki. Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.

Damar masuk dengan kaus hitam dan celana tidur panjang. Rambutnya masih basah. Aroma sabun bercampur sesuatu yang maskulin memenuhi ruangan.

Alya refleks berdiri.

Damar menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

"Duduk."

Alya tidak bergerak.

"Saya bilang duduk."

Dia duduk kembali.

Damar berjalan ke meja kecil, melepas jam tangan, lalu membuka laci. Dari sana dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan melemparkannya ke atas ranjang.

Alya menatap amplop itu.

"Apa ini?"

"Salinan kesepakatan."

Tangannya membeku.

Damar menyandarkan tubuh ke meja, melipat tangan di dada.

"Tidak tercatat di buku nikah. Tidak perlu. Saya tidak sebodoh itu. Tapi kamu perlu menyimpan ini."

Alya membuka amplop dengan jari kaku.

Isinya beberapa lembar kertas.

Pernikahan berlangsung sebagai pemenuhan janji keluarga. Masing-masing pihak tidak menuntut hubungan emosional. Setelah tiga tahun, kedua pihak dapat berpisah berdasarkan kesepakatan.

Alya membaca sampai akhir.

Tidak ada kalimat tentang anak, tapi maknanya terasa jelas.

Dia menarik napas.

"Anda sudah menyiapkan ini sebelum akad?"

"Tadi sore."

"Cepat sekali."

"Saya terbiasa menyiapkan jalan keluar."

Alya mengangkat wajah. "Termasuk dari istri sendiri?"

Untuk pertama kalinya malam itu, Damar tersenyum.

Senyum yang membuat dada Alya dingin.

"Jangan menyebut dirimu seperti itu dengan nada seolah kita pasangan normal."

Alya menahan napas.

Damar berjalan mendekat.

Langkahnya tidak cepat, tapi setiap langkah membuat Alya merasa ruang kamar mengecil. Dia berhenti tepat di depannya. Alya tetap duduk di tepi ranjang, sehingga dia harus mendongak.

"Kamu berhasil masuk ke keluarga Wiratama," katanya pelan. "Kamu mendapatkan nama, perlindungan, dan uang untuk keluargamu."

Wajah Alya memucat.

"Saya tidak pernah meminta uang untuk diri saya."

"Tapi keluargamu mendapatkannya."

Itu benar.

Dan karena benar, kalimat itu lebih menyakitkan.

Damar menunduk. Jarak mereka terlalu dekat.

"Aku tidak tahu apa yang Laras janjikan padamu. Aku tidak tahu apa yang keluargamu rencanakan. Tapi dengarkan ini baik-baik, Alya Prameswari."

Dia menyebut namanya seperti membaca nama tersangka.

"Di depan keluargaku, kamu boleh memainkan peran istri yang sopan. Di depan KUA, kamu memang istriku. Tapi di antara kita, pernikahan ini hanya status."

Alya menggenggam ujung piyamanya.

"Saya mengerti."

"Belum."

Damar mengangkat tangan.

Alya menegang.

Jari Damar berhenti di dekat telinganya, menyentuh sisa jarum kecil yang menahan rambut. Dia menariknya pelan. Beberapa helai rambut Alya jatuh ke bahu.

Alya mundur sedikit.

Damar melihat gerakan itu.

"Takut?"

"Tidak."

"Bohong."

Alya diam.

Damar mencondongkan tubuh lebih dekat. "Aneh. Di depan Eyang kamu bilang bersedia menikah denganku. Tapi disentuh sedikit saja kamu seperti mau lari."

Panas naik ke wajah Alya.

"Tolong jaga jarak."

"Kenapa? Kamu istriku, bukan?"

Kata itu terdengar seperti perangkap.

Alya mengangkat wajah. "Istri yang baru Anda sebut hanya status."

Damar terdiam sesaat.

Alya berdiri. Kali ini dia tidak mundur.

"Mayor Damar, saya datang ke pernikahan ini karena keluarga saya terdesak. Saya tidak akan menyangkal itu. Tapi jangan samakan saya dengan orang yang menjual diri demi nama keluarga Anda."

Rahang Damar mengeras.

"Berani sekali."

"Saya hanya sedang menjelaskan batas."

"Batas?"

"Ya. Anda boleh membenci saya. Anda boleh menganggap saya beban. Tapi Anda tidak boleh merendahkan saya sesuka hati."

Mata Damar berubah gelap.

Dia meraih pergelangan tangan Alya.

Cengkeramannya kuat, tapi tidak sampai menyakiti. Alya tetap terkejut. Tubuhnya menegang.

"Dengar," katanya rendah. "Aku tidak suka dipermainkan."

"Saya juga."

"Kalau kamu membuat masalah di keluargaku atau satuanku..."

"Saya tidak akan."

"Kalau kamu mencoba menggunakan statusku..."

"Saya tidak butuh status Anda."

"Lalu apa yang kamu butuhkan?"

Alya menatapnya.

Untuk sesaat, jawaban yang jujur hampir keluar.

Saya butuh Papa hidup.

Saya butuh Mama berhenti menangis.

Saya butuh seseorang percaya bahwa saya tidak seburuk yang Anda pikirkan.

Tapi dia hanya berkata, "Waktu."

Damar menyipitkan mata.

"Waktu untuk apa?"

"Untuk menyelesaikan kewajiban saya sebagai dokter. Untuk memastikan keluarga saya aman. Setelah itu, kalau Anda ingin berpisah, saya tidak akan menahan."

Pegangan Damar mengendur.

Mungkin dia tidak menyangka Alya menjawab setenang itu.

Alya menarik tangannya.

"Anda bisa tidur di mana pun Anda mau. Saya akan tidur di sofa."

Dia mengambil bantal dari ranjang.

Belum sempat melangkah, Damar berkata, "Tidak perlu."

Alya berhenti.

"Aku tidur di ruang kerja."

Dia mengambil amplop cokelat dari ranjang, lalu meletakkannya kembali di tangan Alya.

"Simpan itu. Supaya kamu ingat tempatmu."

Alya menerima amplop itu tanpa bicara.

Damar berjalan ke pintu.

Sebelum keluar, dia berhenti.

"Besok pagi, aku berangkat."

Alya menatap punggungnya.

"Ke mana?"

"Perbatasan Nusa Tenggara Timur. Tugas."

"Kapan pulang?"

Damar menoleh sedikit.

"Kenapa? Sudah mulai menghitung hari sebagai istri komandan?"

Alya menggigit bibir.

"Saya hanya bertanya."

"Jangan tunggu."

Pintu tertutup.

Alya berdiri sendirian di kamar itu, masih memegang amplop cokelat.

Beberapa menit kemudian, dia duduk di lantai.

Tidak ada tangis.

Tangis terasa terlalu mewah malam itu.

Dia hanya membuka buku nikah kecil berwarna hijau di meja, melihat namanya dan nama Damar tertulis berdampingan.

Nama itu sah.

Pernikahan itu sah.

Tapi hatinya tahu, mulai malam ini dia tidak sedang menjadi istri siapa pun.

Dia hanya menjadi seseorang yang harus bertahan.

Di ruang kerja, Damar duduk tanpa menyalakan lampu. Amplop kesepakatan masih terasa seperti benda panas di pikirannya.

Dia berkata pada diri sendiri bahwa batas itu perlu. Perempuan itu datang terlalu tiba-tiba, terlalu siap, terlalu rapi dengan berkas dan alasan.

Tapi ketika mengingat mata Alya saat berkata dia hanya butuh waktu, Damar tidak menemukan keserakahan di sana.

Yang ada hanya lelah.

Dan lelah bukan sesuatu yang mudah dia benci.

Episode 3

Bab 03 - Perintah Penugasan

Dua tahun berlalu tanpa banyak kabar dari Damar.

Itu bukan hal yang mengejutkan.

Sejak pagi setelah akad, pria itu benar-benar berangkat. Selama dua tahun, Alya hanya bertemu dengannya lima kali. Dua kali saat Lebaran di rumah keluarga Wiratama. Sekali saat Eyang masuk rumah sakit. Sekali saat acara keluarga besar. Sekali lagi ketika Damar pulang mengambil berkas dan pergi sebelum subuh.

Mereka tidur di rumah yang sama hanya di hadapan keluarga.

Di balik pintu, Damar selalu menjaga jarak.

Alya juga begitu.

Dia kembali bekerja di RSUD Jakarta Selatan, mengambil shift panjang, masuk IGD, ikut operasi, dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Papa menjalani operasi dengan bantuan keluarga Wiratama dan perlahan membaik. Laras akhirnya menikah dengan Farel di kota lain, setelah drama panjang yang membuat Mama kelelahan.

Tidak ada yang benar-benar selesai.

Hanya luka yang belajar diam.

Pagi itu, Alya baru selesai memeriksa pasien pascaoperasi ketika Kepala Instalasi Bedah memanggilnya.

"Dokter Alya, duduk dulu."

Alya melihat amplop dinas di meja.

Perutnya langsung terasa tidak enak.

"Ada apa, Dok?"

"Ada program penugasan medis gabungan. Dinkes, RSUD, dan TNI. Wilayah perbatasan NTT. Mereka butuh dokter dengan pengalaman bedah emergensi dan triase bencana."

Alya diam.

Kepala instalasi mendorong amplop itu ke arahnya.

"Namamu masuk daftar."

Alya membuka amplop.

Atambua.

Pos kesehatan perbatasan.

Koordinasi dengan Satgas Pamtas.

Nama satuan yang tercetak di lembar kedua membuat jantungnya berhenti sesaat.

Komandan Satgas: Mayor Damar Arkan Wiratama.

Alya menatap tulisan itu lama.

Terlalu lama.

Kepala instalasi berdeham. "Kamu keberatan?"

"Ini penugasan wajib?"

"Programnya resmi. Tapi masih bisa ditolak dengan alasan kuat."

Alya tertawa kecil dalam hati.

Alasan kuat?

Suami saya komandan di sana dan dia membenci saya.

Itu alasan kuat atau justru alasan kenapa semua orang merasa dia cocok dikirim ke sana?

"Berapa lama?"

"Minimal enam bulan. Bisa diperpanjang."

Alya melipat surat itu kembali.

"Saya ambil."

Kepala instalasi tampak terkejut. "Yakin? Wilayahnya tidak mudah. Fasilitas terbatas. Rujukan ke RS besar butuh waktu. Jalan rusak kalau hujan."

"Justru karena itu mereka butuh dokter."

"Kamu tidak perlu menjawab sekarang."

"Saya sudah menjawab."

Dokter senior itu menatapnya, lalu menghela napas.

"Baik. Berangkat tiga hari lagi. Siapkan mental. Di sana tidak seperti Jakarta."

Alya mengangguk.

Jakarta pun tidak selalu ramah, Dok.

Dia tidak mengatakannya.

Malamnya, Alya memberi tahu Mama. Mama langsung panik.

"NTT? Perbatasan? Kenapa harus kamu?"

"Ini program rumah sakit, Ma."

"Apa Damar tahu?"

Alya memasukkan beberapa baju kerja ke koper.

"Belum."

"Kamu harus bilang."

"Nanti juga dia tahu."

Mama duduk di tepi ranjang. "Alya, Mama tahu kalian tidak seperti pasangan lain. Tapi dia tetap suamimu."

Alya berhenti melipat pakaian.

"Di buku nikah, iya."

"Nak..."

"Ma, saya pergi sebagai dokter. Bukan sebagai istri Mayor Damar."

Mama tidak menjawab.

Alya menatap koper yang belum penuh.

Sebenarnya dia takut.

Takut bertemu Damar.

Takut semua hinaan lama kembali.

Tapi lebih dari itu, dia takut jika menolak hanya karena pria itu. Selama dua tahun ini dia berusaha membuktikan hidupnya tidak berputar pada pernikahan kosong. Kalau sekarang dia mundur dari tugas medis karena Damar ada di sana, berarti pria itu tetap memegang pintu hidupnya.

Tidak.

Dia tidak mau.

Tiga hari kemudian, Alya naik pesawat ke Kupang, lalu melanjutkan perjalanan darat bersama tim kecil menuju Atambua. Dari sana mereka memakai kendaraan TNI ke pos kesehatan perbatasan.

Jalan berkelok. Bukit-bukit kering terbentang. Rumah-rumah penduduk berdiri berjauhan. Anak-anak berseragam sekolah berjalan kaki di tepi jalan sambil melambai ke truk yang lewat.

Alya duduk di belakang bersama dua perawat dan satu bidan. Angin panas masuk dari jendela.

"Dokter Alya pertama kali ke sini?" tanya Bidan Rina.

"Iya."

"Nanti jangan kaget kalau sinyal hilang."

Alya tersenyum tipis. "Saya lebih khawatir obat habis."

Perawat Joko tertawa. "Nah, itu lebih realistis."

Mereka belum sampai pos ketika suara tembakan terdengar dari radio kendaraan.

Sopir langsung menegang.

"Ada operasi di jalan depan," katanya. "Kita diminta berhenti di titik aman."

Alya menoleh.

Dari kejauhan terlihat beberapa kendaraan militer berhenti di pinggir jalan. Prajurit bergerak cepat. Seorang pria berbaju sipil diborgol di dekat mobil pikap. Beberapa karung putih berserakan.

"Penyelundupan obat terlarang?" tanya Joko pelan.

Sopir tidak menjawab.

Kendaraan mereka berhenti. Seorang prajurit mendekat dan memberi instruksi agar tim medis menunggu.

Alya baru saja mengangguk ketika terdengar teriakan.

"Pak! Dia kejang!"

Semua orang menoleh.

Pria yang diborgol itu tiba-tiba jatuh, tubuhnya mengejang hebat. Mulutnya berbusa. Prajurit yang memegangnya panik.

Alya tidak berpikir dua kali.

Dia membuka pintu kendaraan.

"Dokter!" Bidan Rina memanggil.

"Bawa tas emergensi!"

Dia berlari ke arah kerumunan.

Seorang prajurit menghadang. "Bu, jangan mendekat. Ini area operasi."

"Saya dokter."

"Perintahnya—"

"Kalau dia aspirasi, dia bisa mati sebelum perintah berikutnya turun."

Prajurit itu ragu.

Alya sudah berlutut di samping pria yang kejang.

"Miringkan tubuhnya. Jangan masukkan apa pun ke mulutnya. Lepaskan tekanan di leher."

Prajurit di sekitar saling pandang.

"Cepat!" suara Alya naik.

Mereka bergerak.

Alya memeriksa pupil, nadi, dan napas. Bau kimia samar tercium dari pakaian pria itu. Dia mengambil sarung tangan dari tas Rina, memasangnya cepat.

"Kemungkinan keracunan atau overdosis. Siapkan oksigen. Joko, cek tekanan darah. Rina, ambil diazepam injeksi kalau ada."

"Bu dokter, kita belum buka segel tas—"

"Buka sekarang."

Semua berjalan cepat.

Alya mendengar langkah berat mendekat.

Sebelum dia sempat menoleh, suara dingin yang pernah menghantui malam pertama pernikahannya jatuh di atas kepalanya.

"Siapa yang mengizinkan warga sipil masuk area operasi?"

Tangan Alya berhenti setengah detik.

Lalu dia kembali menahan kepala pasien agar jalan napas tetap terbuka.

"Saya bukan warga sipil yang sedang menonton, Mayor. Saya dokter yang ditugaskan ke pos kesehatan."

Hening sesaat.

Damar berdiri di hadapannya dengan rompi taktis, wajah tertutup debu jalan, mata setajam yang dia ingat.

Dia menatap Alya seolah melihat masalah lama yang datang membawa koper.

"Alya."

"Mayor Damar."

Nada mereka terlalu formal untuk pasangan suami istri.

Prajurit di sekitar langsung saling melirik.

Damar melihat pasien di tanah, lalu menatap tas medis.

"Bawa dia ke kendaraan medis."

"Jangan diangkat dulu. Kejangnya belum terkendali."

"Area ini belum steril."

"Dan pasien ini belum stabil."

Mata Damar mengeras.

Alya mengangkat wajah. "Kalau Anda ingin dia hidup untuk diperiksa, beri saya dua menit."

Prajurit di sekitar menahan napas.

Damar tidak suka dibantah. Itu jelas terlihat.

Tapi dia juga tahu situasi.

"Dua menit," katanya.

Alya kembali bekerja. Obat masuk. Kejang mulai berkurang. Napas pasien masih kasar, tapi jalan napasnya aman. Setelah itu, barulah dia memberi instruksi pemindahan.

Ketika pasien diangkat, salah satu prajurit berbisik, "Dokter ini berani juga."

Alya pura-pura tidak mendengar.

Damar mendengar.

Dia mendekat, suaranya rendah.

"Kamu belum berubah."

Alya melepas sarung tangan kotor.

"Anda juga."

"Masih suka masuk ke masalah tanpa izin."

"Masih suka menyebut pekerjaan saya masalah."

Mata Damar menyipit.

Alya memasukkan sarung tangan ke kantong limbah medis, lalu berdiri.

Debu menempel di lutut celananya. Keringat mengalir di pelipis.

"Saya datang berdasarkan surat tugas. Kalau Anda keberatan, silakan ajukan ke Dinkes dan rumah sakit. Tapi selama saya berada di sini sebagai dokter, saya akan menangani pasien yang membutuhkan. Termasuk tersangka Anda."

Damar menatapnya lama.

Lalu sudut bibirnya bergerak sedikit.

"Selamat datang di perbatasan, Dokter Alya."

Tidak ada sambutan.

Tidak ada pertanyaan kenapa dia datang.

Hanya nada dingin yang sama.

Alya mengangkat dagu.

"Terima kasih, Komandan."

Di belakang mereka, radio berbunyi lagi. Ada laporan kendaraan lain bergerak dari arah bukit.

Damar langsung berbalik memberi perintah.

Alya melihat punggungnya menjauh.

Dua tahun dia berhasil hidup tanpa pria itu.

Tapi mulai hari ini, medan tugasnya, medan lukanya, dan medan pernikahan kosongnya berada di tempat yang sama.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!