Adila menatap layar ponselnya dengan saksama. Cahaya dari benda pipih itu terasa menyengat matanya yang sudah perih karena terjaga hampir semalam suntuk di rumah sakit. Notifikasi transfer bank dari suaminya baru saja masuk, sebuah rutinitas setiap tanggal satu yang biasanya menjadi simbol ketenangan bagi rumah tangga mereka. Namun malam ini, deretan angka di sana membuat jantung Adila seolah berhenti berdetak sesaat.
"Sepuluh juta rupiah." Gumam nya.
Adila mengerjapkan mata, berharap itu hanya ilusi optik akibat kelelahan.
Namun, setelah menyegarkan layar aplikasi berkali-kali, nominal itu tidak berubah. Tetap sepuluh juta rupiah. Hanya setengah dari jumlah yang biasa Revan kirimkan selama sepuluh tahun terakhir untuk menopang seluruh kebutuhan rumah tangga, cicilan, dan biaya pendidikan spesialis Adila yang tidak murah.
Keheningan malam di rumah mewah itu mendadak terasa mencekik. Adila menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang mulai terasa sesak. Ia meletakkan ponselnya di atas meja rias dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Bi Ijah, Mas Revan sudah pulang?" tanya Adila saat ia turun ke lantai bawah dan mendapati asisten rumah tangganya itu sedang merapikan sisa-sisa makan malam.
"Sudah, Non. Baru saja sekitar lima belas menit yang lalu. Beliau langsung ke ruang kerja, katanya ada laporan penting yang harus diselesaikan segera," jawab Bi Ijah tanpa berani menatap mata Adila, seolah wanita tua itu juga merasakan ada aura yang berbeda di rumah ini.
Adila mengangguk pelan. Ia melangkah menuju ruang kerja suaminya dengan perasaan yang berkecamuk. Pintu kayu jati berukir itu sedikit terbuka, menyisakan celah yang memperlihatkan sosok Revan yang sedang duduk membelakangi pintu. Suaminya itu tampak sangat sibuk, namun bukan dengan laptop yang menyala di depannya, melainkan dengan ponsel yang ia genggam erat. Dari pantulan kaca jendela, Adila bisa melihat Revan tersenyum tipis sambil mengetikkan sesuatu senyum yang belakangan ini jarang Adila lihat untuknya.
"Mas," panggil Adila lembut, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Revan tersentak kecil, bahunya menegang sesaat sebelum ia buru-buru meletakkan ponselnya tertelungkup di atas meja. Ia memutar kursinya perlahan, menatap Adila dengan tatapan yang sulit diartikan sebuah campuran antara rasa bersalah yang disembunyikan dan tekad yang dipaksakan.
"Eh, Adila. Kamu sudah selesai belajarnya? Kapan sampai rumah? Aku tidak dengar suara mobilmu," ujar Revan mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan retoris.
Adila tidak menjawab pertanyaan itu. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang berbau parfum cedarwood maskulin kesukaan Revan aroma yang biasanya melambangkan rasa aman baginya, tapi kini terasa asing. Adila duduk di kursi seberang meja kerja suaminya, menatap lurus ke arah laki-laki yang telah bersamanya selama satu dekade itu.
"Mas, aku baru saja mengecek mutasi rekening. Uang bulanan kali ini... kenapa jumlahnya berbeda? Kenapa hanya setengah, Mas?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tenang namun tajam. Revan terdiam. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang empuk. Ia tampak telah menyiapkan jawaban untuk momen ini, sebuah jawaban yang sudah ia susun rapi di kepalanya.
"Dila, aku memang ingin membicarakan ini padamu tadi, tapi aku lihat kamu sangat lelah. Meisya... dia sedang dalam kondisi yang sangat sulit sekarang," ucap Revan akhirnya.
Nama itu. Nama yang belakangan ini seperti duri di dalam daging bagi Adila. Meisya, sahabat masa kecil Revan yang kembali muncul setelah suaminya meninggal dunia. Seorang wanita yang selalu diposisikan Revan sebagai pihak yang paling malang di dunia ini.
"Kesulitan apa lagi kali ini, Mas? Bukankah bulan lalu kita sudah sangat banyak membantunya? Kita membayar biaya pemakaman suaminya, kontrakan barunya, bahkan biaya hidupnya selama dua bulan ini. Apa itu masih kurang?" suara Adila mulai naik satu oktav.
"Meisya sedang hamil, Dila. Empat bulan," potong Revan cepat, seolah ingin segera mengeluarkan beban itu dari mulutnya. "Dia tidak punya penghasilan tetap. Almarhum suaminya meninggalkan banyak utang. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini selain aku. Dia rapuh, Dila. Kondisi mentalnya juga sangat tidak stabil karena trauma kecelakaan itu."
Adila merasa seolah ada batu besar yang menghantam ulu hatinya. Udara di sekitarnya mendadak tipis, membuatnya sulit bernapas. "Lalu? Apa hubungannya kehamilan Meisya dengan hak finansial istri sahmu? Apa hubungannya dengan memotong uang kuliahku?"
"Aku sudah berjanji pada Ibu untuk menjaganya. Kamu tahu sendiri bagaimana Ibu sangat menyayangi Meisya. Ibu merasa berutang budi pada mendiang orang tua Meisya. Jadi, mulai bulan ini, setengah dari nafkah yang biasanya kuberikan padamu akan kualokasikan untuk biaya hidup dan kontrol kehamilan Meisya ke dokter spesialis. Dia butuh asupan gizi yang baik agar janinnya sehat."
Adila tertawa miris, sebuah tawa yang terdengar lebih seperti rintihan. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang. "Cukup, Mas? Kamu bicara soal gizi wanita lain sementara istrimu sendiri sedang berjuang menyelesaikan pendidikan dokternya? Kamu tahu sendiri biaya koas, buku-buku referensi, dan ujian semester ini sedang tinggi-tingginya. Kamu tahu kita punya cicilan rumah yang harus dibayar. Dan sekarang, kamu memotong nafkahku demi kemanusiaan untuk wanita lain?"
"Dila, mengertilah! Kamu itu mandiri. Kamu calon dokter, sebentar lagi kamu akan punya penghasilan besar sendiri. Lagipula, tabunganmu dari hasil royalti menulis novel selama ini masih banyak, kan? Kamu masih bisa pakai uang itu dulu untuk menutupi kekurangannya. Tapi Meisya? Dia tidak punya tabungan sepeser pun. Dia tidak bisa menulis sepertimu, dia tidak sepintar dirimu. Dia butuh dilindungi!"
Suara Revan meninggi, sebuah pembelaan yang terasa sangat tidak adil di telinga Adila. Kalimat kamu kuat, dia lemah adalah racun yang paling mematikan bagi Adila. Seolah-olah karena ia tangguh, ia tidak berhak untuk dicintai dan dijaga dengan cara yang semestinya.
"Jadi, karena aku mandiri, aku boleh diterlantarkan? Karena aku dianggap bisa bertahan hidup sendiri, hakku boleh diberikan pada orang lain?" bisik Adila dengan suara bergetar. "Apa kamu lupa, Mas? Aku mendampingimu sejak kamu masih menjadi staf biasa. Aku yang menyemangatimu saat kamu gagal. Dan sekarang, saat kamu sudah di puncak, kamu justru membagi milik kita dengan orang lain?"
Revan tidak menjawab. Ia justru mengalihkan pandangannya ke jendela, menghindari tatapan hancur istrinya. Tepat saat itu, ponsel Revan yang berada di atas meja bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk. Tanpa sengaja, Adila melihat nama yang tertera di sana: Meisya.
Revan tampak ragu sejenak, melirik ke arah Adila, namun tangannya tetap bergerak menyambar ponsel tersebut. Ia mengangkatnya, dan seketika itu juga layar ponsel menampilkan wajah seorang wanita dengan mata sembab dan rambut yang sedikit berantakan, tampak sangat menyedihkan di atas tempat tidur.
"Mas Revan... maafkan aku menelepon malam-malam begini. Perutku... perutku mendadak kram lagi. Aku takut sekali, Mas. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada bayiku? Aku tidak punya siapa-siapa di sini..." suara manja dan gemetar itu terdengar jelas di ruang kerja yang hening.
Ekspresi Revan berubah seratus delapan puluh derajat. Guratan kemarahan dan rasa bersalah pada Adila tadi mendadak lenyap, berganti dengan kepanikan yang nyata.
"Iya, Mei. Tenang ya, tarik napas dalam-dalam. Jangan panik dulu, itu tidak baik untuk bayimu. Aku ke sana sekarang juga, ya? Aku akan membawamu ke rumah sakit terdekat. Tunggu aku sepuluh menit," jawab Revan dengan nada bicara yang begitu lembut, nada bicara yang dulu hanya milik Adila.
Revan langsung berdiri, menyambar kunci mobil di atas meja tanpa sedikit pun menatap wajah istrinya yang masih terpaku. Ia bahkan tidak berpamitan dengan layak.
"Aku harus pergi. Kondisinya gawat. Kamu tidurlah duluan, jangan menungguku. Mungkin aku akan menemani dia di rumah sakit sampai kondisinya stabil," ucap Revan singkat sambil melangkah lebar keluar dari ruangan, meninggalkan Adila sendirian di tengah keheningan yang menyakitkan.
Adila hanya bisa menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu. Di atas meja kerja itu, sebuah buku anatomi tebal miliknya tergeletak simbol mimpi besar yang ia perjuangkan dengan cucuran keringat dan air mata, kini nampak seperti onggokan kertas tak berharga.
Ia berjalan gontai ke arah jendela, melihat mobil Revan meluncur kencang menembus hujan deras. Hatinya terasa remuk, serpihannya seolah ikut terbawa aliran air hujan yang mengalir di kaca. Sepuluh tahun pernikahan, pengorbanan demi pengorbanan, dan pada akhirnya, posisinya digeser begitu mudah oleh seorang wanita yang hanya perlu mengandalkan kelemahan untuk mendapatkan seluruh perhatian suaminya.
Restu mertua yang dulu ia agung-agungkan sebagai jaminan kebahagiaan, kini terasa seperti belenggu. Adila sadar, di rumah ini, ia mulai menjadi asing. Ia bukan lagi prioritas. Ia hanyalah sosok yang dianggap kuat yang perlahan-lahan mulai kehilangan tempatnya karena restu sang suami kini telah ditarik kembali dan diberikan pada rahim wanita lain.
Malam itu, di bawah temaram lampu ruang kerja, Adila menangis tanpa suara. Isaknya tertelan oleh suara guntur yang bersahutan, menandai awal dari badai yang jauh lebih besar dalam hidupnya.
Sisa kehangatan dari mesin mobil Revan yang menjauh sudah lama menguap, digantikan oleh hawa dingin yang merayap masuk melalui celah ventilasi. Adila masih berdiri mematung di ruang kerja, menatap meja yang kini berantakan dengan sisa kepanikan suaminya. Jarum jam di dinding berdetak dengan suara yang seolah mengejek kesunyian hatinya. Pukul satu dini hari. Jam di mana seharusnya seorang istri beristirahat di pelukan suaminya, bukan berdiri meratapi nafkah yang terbelah.
Adila menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang masih tercecer. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di samping buku anatomi. Pikirannya buntu, namun hatinya mendesak untuk mencari kepastian. Hanya ada satu orang yang selama sepuluh tahun ini ia anggap sebagai ibu kedua, orang yang selalu membanggakannya sebagai menantu teladan.
Ibu mertuanya.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Adila mencari kontak bernama Mama Revan. Ia ragu sejenak. Apakah pantas menghubungi orang tua di jam seperti ini? Namun, mengingat Revan mengatakan bahwa ini semua adalah atas saran ibunya, Adila merasa perlu mendengar kebenarannya secara langsung.
Sambungan telepon itu berdering lama. Adila hampir saja menutupnya ketika suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar di ujung sana.
"Halo? Revan? Ada apa malam-malam begini, Nak?" suara Mama Revan terdengar khawatir.
"Ini Adila, Ma. Maaf mengganggu waktu istirahat Mama," bisik Adila pelan, karena biasanya memang Revan yang menghubungi Mama nya malam-malam makanya Mama nya tidak melihat siapa yang menelpon.
Hening sejenak. Suara di seberang sana berubah, kehilangan nada khawatir yang tadi ditujukan untuk Revan. "Oh, Adila. Ada apa? Revan mana? Kenapa kamu yang menelepon pakai jam begini?"
Adila menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. "Mas Revan baru saja pergi ke rumah Meisya, Ma. Katanya Meisya sedang kram perut dan butuh dibawa ke rumah sakit."
"Ya ampun! Kasihan sekali Meisya," sahut Mama Revan seketika, suaranya kini terdengar segar dan penuh simpati simpati yang tidak Adila rasakan untuk dirinya sendiri. "Untung Revan sigap. Meisya itu sendirian, Dila. Kasihan janin di rahimnya kalau Meisya stres atau kelelahan."
Adila memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh. "Mah... tadi Mas Revan bilang kalau Mama yang menyarankan dia untuk memberikan setengah uang bulanan kami untuk Meisya. Apa itu benar, Mah?"
Ada jeda yang cukup lama sebelum mertuanya menjawab. Ketika suara itu kembali, nadanya berubah menjadi lebih tegas, hampir seperti sedang mengajarinya sebuah pelajaran hidup.
"Dila, dengar Mama. Kamu itu perempuan pintar, calon dokter. Kamu mandiri, punya uang sendiri dari hasil tulisanmu. Kamu tidak akan kekurangan hanya karena uang belanja dipotong sedikit. Tapi Meisya? Dia tidak punya siapa-siapa. Dia tidak berpendidikan setinggi kamu. Dia hanya punya Revan sebagai tumpuan."
"Tapi Mah, Adila ini istrinya. Adila punya hak atas nafkah itu untuk biaya kuliah yang semakin mahal. Kenapa harus hak Adila yang dikurangi demi wanita lain yang bahkan bukan keluarga kita?" suara Adila mulai bergetar karena emosi.
"Bukan keluarga? Meisya itu sudah seperti anak buat Mama! Dulu orang tuanya banyak membantu Mama saat kita sedang susah," suara mertuanya mulai meninggi. "Lagipula, Dila... kamu sudah sepuluh tahun menikah dengan Revan.
Berapa umurmu sekarang? Tiga puluh dua? Dan sampai sekarang, kamu belum juga memberikan Revan keturunan. Kamu terlalu sibuk dengan ambisimu menjadi dokter, sibuk koas, sibuk belajar, sampai lupa kewajiban utamamu sebagai istri."
Kalimat itu menghujam jantung Adila lebih dalam dari sembilu. "Mha, kami sudah berusaha. Mama tahu itu bukan sepenuhnya salah Adila—"
"Cukup, Dila. Meisya sekarang sedang hamil. Meskipun itu bukan anak Revan, setidaknya dengan membantu Meisya, Revan bisa merasakan bagaimana rasanya menjaga seorang wanita hamil. Siapa tahu, dengan kebaikan Revan pada Meisya, Tuhan akan luluh dan memberimu keturunan. Tapi untuk sekarang, Mama minta kamu mengalah. Jangan egois. Jangan buat Revan pusing dengan keluhanmu soal uang. Kamu itu sudah punya segalanya, berbagilah sedikit pada yang lemah."
Klik.
Sambungan telepon diputus sepihak. Adila menatap layar ponselnya yang menggelap dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Egois? Berbagi?
Kata-kata itu terasa begitu ironis. Ia yang selama sepuluh tahun ini menghemat demi cicilan rumah, ia yang jarang membeli baju baru demi membantu tabungan masa depan mereka, kini disebut egois karena mempertanyakan haknya yang dirampas.
Adila berjalan gontai menuju dapur, mencari air putih untuk membasuh rasa pahit di mulutnya. Di sana, ia melihat Bi Ijah yang rupanya belum tidur, sedang duduk di kursi dapur dengan wajah cemas.
"Non... Non tidak apa-apa?" tanya Bi Ijah lirih.
Adila hanya menggeleng pelan, ia duduk di hadapan wanita tua yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu. "Bi... apa menjadi kuat itu salah? Apa karena aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri, aku jadi tidak berhak untuk dilindungi?"
Bi Ijah mengusap tangan Adila dengan kasih sayang. "Tidak ada yang salah dengan menjadi kuat, Non. Yang salah adalah orang-orang yang memanfaatkan kekuatan Non untuk menutupi kelemahan mereka sendiri. Non harus ingat, Non itu calon dokter. Masa depan Non cerah. Jangan biarkan mereka memadamkan cahaya Non."
Adila terdiam, merenungi kata-kata Bi Ijah. Di tengah pengkhianatan suaminya dan penolakan mertuanya, dukungan dari seorang asisten rumah tangga justru terasa lebih tulus. Namun, kenyataan pahit tetap harus ia hadapi. Besok pagi, ia harus tetap pergi ke rumah sakit, menghadapi pasien, belajar anatomi, dan berpura-pura bahwa dunianya baik-baik saja.
Ia kembali ke kamar, namun matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Setiap kali ia menutup mata, ia membayangkan Revan sedang menggenggam tangan Meisya di rumah sakit, memberikan kata-kata penenang yang seharusnya menjadi miliknya. Ia membayangkan Revan mengusap perut Meisya dengan penuh kasih sayang, sebuah kasih sayang yang selama sepuluh tahun ini ia dambakan namun belum kunjung hadir secara nyata dalam bentuk janin.
Pukul empat pagi, suara mobil terdengar memasuki garasi. Adila menegang di bawah selimutnya. Ia mendengar langkah kaki suaminya yang berat menaiki tangga, lalu pintu kamar terbuka pelan. Revan masuk dengan aroma rumah sakit yang kuat, wajahnya nampak sangat letih namun ada binar lega di matanya.
Revan mendekati tempat tidur, melihat Adila yang memunggunginya. Ia tidak tahu bahwa Adila sedang terjaga dengan air mata yang membasahi bantal.
"Dila, kamu sudah bangun?" bisik Revan pelan.
Adila tidak bergerak. Ia memilih untuk tetap berpura-pura tidur. Ia belum siap menghadapi wajah laki-laki itu sekarang.
"Untung tadi aku cepat sampai, Dila. Meisya dan bayinya selamat. Dia hanya kelelahan," gumam Revan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Ibu benar, dia benar-benar butuh perlindungan."
Mendengar itu, Adila meremas ujung selimutnya erat-erat. Rasa sakit itu kini bukan lagi sekadar luka, tapi mulai berubah menjadi api kecil yang membakar sisa-sisa cintanya. Di dalam kegelapan kamar itu, Adila bersumpah pada dirinya sendiri. Jika restu itu sudah ditarik kembali, jika perlindungan itu sudah dialihkan, maka ia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja.
Ia akan menyelesaikan pendidikannya. Ia akan menjadi dokter yang hebat. Dan suatu saat nanti, ketika ia sudah berdiri di puncaknya sendiri tanpa bantuan siapapun, ia akan menunjukkan pada Revan dan ibunya bahwa wanita yang mereka sebut kuat ini bisa hidup jauh lebih bahagia tanpa sisa-sisa kasih sayang mereka yang telah terbagi.
Malam itu berakhir dengan Adila yang tetap terdiam dalam tangis tanpa suara, sementara suaminya tertidur pulas di sampingnya, memimpikan keselamatan wanita lain dan janin yang bukan miliknya.
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden ruang makan biasanya menjadi tanda dimulainya kehangatan di rumah ini. Bau roti panggang, aroma kopi yang pekat, dan obrolan ringan tentang jadwal masing-masing selalu menjadi pengantar hari yang menyenangkan bagi Adila. Namun pagi ini, semua itu terasa seperti dekorasi panggung yang palsu.
Adila duduk di kursi makannya dengan punggung tegak, namun tatapannya kosong menatap piring di depannya. Di atas piring itu hanya ada selembar roti gandum tanpa selai yang bahkan belum disentuhnya sama sekali. Di seberangnya, Revan duduk dengan kemeja kantor yang sudah rapi, namun wajahnya nampak keruh. Ia sesekali melirik Adila dengan tatapan yang tajam, seolah sedang menahan rentetan kalimat yang sudah di ujung lidah.
Bi Ijah datang membawakan teko berisi air panas, melirik cemas ke arah kedua majikannya yang saling bungkam. Suasana di ruang makan itu begitu berat, seolah oksigen di sana baru saja disedot habis.
"Silakan diminum tehnya, Mas, Non," ucap Bi Ijah lirih sebelum buru-buru kembali ke dapur.
Revan menyesap tehnya dengan kasar, lalu meletakkan cangkir itu hingga menimbulkan bunyi denting yang nyaring di atas meja kaca. "Tadi malam Mama meneleponku lagi setelah kamu menutup teleponnya, Dila," ucap Revan membuka suara. Nadanya dingin, penuh dengan nada menyindir yang tidak ditutup-tutupi.
Adila tidak bergeming. Ia masih menatap rotinya.
"Mama bilang kamu protes soal uang itu? Kamu bahkan berdebat dengan Mama soal apa yang seharusnya aku lakukan pada uangku sendiri?" Revan melanjutkan, suaranya naik satu oktav. "Aku tidak menyangka, Dila. Sepuluh tahun kita menikah, ternyata di balik sikap manismu, kamu punya sifat yang sangat perhitungan. Kamu bahkan tega membuat orang tua ku sendiri merasa bersalah hanya karena urusan angka."
Adila akhirnya mendongak. Matanya yang merah dan sembab menatap lurus ke arah laki-laki yang dulu berjanji akan menjaganya itu. "Perhitungan? Mas, apa kamu sadar siapa yang sedang kamu bela sekarang? Aku istrimu. Aku bukan orang asing yang sedang meminta sedekah padamu. Aku menuntut apa yang sudah menjadi kesepakatan kita."
Revan tertawa sumbang, sebuah tawa yang merendahkan. "Kesepakatan? Kesepakatan itu dibuat saat kondisi normal. Sekarang Meisya sedang hamil dan dia butuh bantuan. Kamu tahu kan kalau dia tidak punya siapa-siapa? Sementara kamu? Kamu punya karier yang sedang kamu rintis, kamu punya tabungan, kamu punya segalanya. Kenapa kamu jadi sekikir ini?"
"Aku bukan kikir, Mas! Aku hanya ingin dihargai sebagai istrimu! Kamu memberikan uang itu pada wanita lain tanpa diskusi denganku lebih dulu. Kamu memotong biaya sekolahku, Mas!"
"Sekolah? Kamu selalu saja bicara soal sekolah!" Revan menggebrak meja, membuat sendok di samping piring Adila bergeming. "Ambisi doktermu itu sudah membuatmu buta hati. Kamu terlalu sibuk mengejar gelar sampai kamu lupa bagaimana caranya menjadi manusia yang punya empati. Pantas saja Mama bilang kamu itu egois. Mama benar, mungkin karena kamu terlalu fokus pada dirimu sendiri, Tuhan sampai sekarang belum menitipkan anak di rahimmu.
Mungkin kamu memang belum pantas menjadi ibu kalau hatimu saja sekeras ini pada anak Meisya."
Deg.
Dunia Adila seolah runtuh saat itu juga. Kalimat itu adalah serangan paling rendah yang pernah dilontarkan Revan selama sepuluh tahun ini. Revan tahu betapa Adila menangis setiap kali datang bulan, betapa Adila diam-diam mengonsumsi vitamin dan rutin cek ke dokter kandungan sendirian di sela jadwal koasnya yang padat. Dan sekarang, suaminya menggunakan titik terlemahnya untuk membela wanita lain.
Rasa sakit itu begitu hebat hingga Adila bahkan tidak bisa menangis lagi. Ia merasa seolah ada sesuatu yang mati di dalam dadanya. Api cintanya yang selama ini ia jaga dengan susah payah, padam seketika disiram oleh kebencian suaminya sendiri.
Adila berdiri perlahan. Kursinya berderit pelan di atas lantai marmer. Ia tidak membalas teriakan Revan. Ia tidak lagi ingin berdebat. Baginya, kata-kata Revan barusan sudah menjadi titik akhir dari segala upaya negosiasinya.
"Mau ke mana kamu? Aku belum selesai bicara!" bentak Revan.
Adila tetap diam. Ia berjalan menuju lantai atas, masuk ke dalam kamar dan mengambil tas kerjanya. Ia tidak membawa banyak barang, hanya peralatan medisnya, buku referensi yang ia butuhkan, dan beberapa dokumen penting miliknya sendiri. Ia menatap cermin sejenak, melihat wajah wanita yang tampak hancur namun memiliki binar tekad yang mulai menyala di matanya.
Adila turun kembali ke bawah. Revan masih berdiri di ruang makan dengan napas yang memburu, nampak terkejut melihat Adila sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan tas di bahu.
"Dila, jangan coba-coba pergi kalau aku sedang bicara! Kita harus selesaikan masalah ini!"
Adila melewati ruang makan tanpa menoleh sedikit pun. Ia tidak mengucapkan satu kata pun, bahkan tidak untuk berpamitan. Langkah kakinya terdengar mantap menuju pintu utama.
"Adila! Kamu dengar aku tidak?!" teriak Revan dari dalam.
Brak.
Suara pintu utama yang tertutup dengan tegas menjadi jawaban Adila. Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, dan segera meluncur keluar dari gerbang rumah yang selama ini ia anggap sebagai surga. Di spion tengah, ia bisa melihat Revan keluar ke teras dengan wajah penuh amarah, namun Adila tidak peduli lagi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Adila hanya menatap lurus ke depan. Pikirannya tidak lagi tertuju pada Revan, tidak lagi pada Meisya, dan tidak lagi pada mertuanya yang picik. Ia memikirkan tentang ujian bedah yang harus ia hadapi minggu depan. Ia memikirkan tentang pasien-pasien yang menunggunya.
Ia sadar, satu-satunya hal yang tidak akan mengkhianatinya adalah ilmu dan kemampuannya sendiri. Jika restu manusia sudah ditarik kembali, maka ia akan mencari restu dari kerja kerasnya sendiri. Mulai detik ini, Adila bukan lagi istri yang memohon-mohon perhatian. Ia adalah calon dokter yang akan mengambil alih kendali hidupnya sendiri, meski harus dimulai dengan berjalan dalam diam di tengah badai yang paling sunyi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!