"Lepasin dia Vano !! kamu keterlaluan tau gak!!? Dia luka semua"
"lo khawatirin dia? " bentak nya tajam. "Di depan gua?! "
" APA SIH, NGGAK JELAS. " marah gadis cantik itu, berniat mendekati Alpha dan menanyakan keadaan nya dengan cemas.
Namun, Ravian sudah menarik tangan Aelira dengan kasar.
"udah cukup, Ikut gua! "
" NGGAK MAU VANO!! "bentak gadis itu
" IKUT GUA BILANG!! "
Ia membawa kasar gadis itu keluar ruangan, sedangkan gadis itu memberontak sepanjang jalan.
*****
Ravian Kael Davino Veyron- pewaris tunggal keluarga Veyron, Dinasti terkaya sekaligus paling berpengaruh di negara itu. Di depan publik ia adalah sosok yang sempurna. Tapi hanya Aelira yang tahu sifat aslinya.
Aelira S. Valenzia. Gadis unik, misterius dengan aura elegan dan dominan yang membuat kehadirannya sulit diabaikan. Sematan "S" dinamanya bukan hanya sebuah kebetulan, tapi itu adalah sebuah marga yang disembunyikan.
Alpha Devander. Teman masa kecil Aelira dari panti asuhan yang sama. Di usia 15 tahun, Alpha ditemukan keluarga kandung nya_ keluarga elite dengan pengaruh besar, meski tetap belum mampu menyamai keluarga Veyron.
*****
Mobil BMW Z4 warna black metalic milik pewaris Veyron itu, melaju angkuh di jalan raya- meninggalkan kekacauan yang telah ia ciptakan.
Aelira menatap keluar jendela sambil memegangi pergelangan tangannya dan sakit.
Jika di luaran sana, banyak gadis tergila-gila dengan Ravian.
Faktanya, menjadi milik Ravian harus siap terluka. Cowok itu toxic, kasar, *possessive* , bahkan mengontrol hidup Aelira sejak 4 tahun mereka bersama.
Mobil berhenti di kediaman Veyron. Sebuah rumah bergaya American klasik di salah satu komplek perumahan elite Jakarta Timur. Tempat dimana Aelira tinggal belakangan ini.
Ravian menarik nafas dalam dan menoleh ke Aelira yang terpaku di dalam. Dia tiba-tiba mengambil tangannya.
"Sakit? " tanya nya dengan intonasi rendah.
Aelira menepis tangannya dan turun dari mobil.
"*Shitt*! " umpat Ravian dan berlari menyusul gadis nya itu.
"By.. Taukan kenapa aku gini. "
Aelira tidak mempedulikan dan berjalan menuju kamarnya, namun Ravian menarik tangan Aelira, membuat tubuh nya berbalik menatap Ravian.
"Lo tau kan, gua paling nggak suka diabaikan? " dia mendorong Aelira kedinding dan menundukkan pandangan.
Aelira mendongak dengan mata memerah,tetapi menyorot tajam padanya.
" Apa? "
Ravian terdiam menatap sepasang mata tajam Aelira yang mulai memerah.
"Hufhh.. Jangan di ulangin! udah sering gua bilang kan, Stop buat gw kesel By! " titahnya dengan ekspresi serius.
"Nggak usah ngobrol apalagi deket deket sama siapapun, terkhusus cowok, yang pastinya lo tau, itu yang bikin gua muak. Paham?
Aelira memalingkan wajah sambil mengusap setetes air mata yang jatuh.
" Aelira Veyron!! ngerti nggak?! desak Ravian (*sejak 4 tahun lalu, Ravian sudah claim Aelira milik nya, jadi marga Veyron selalu ia sematkan di nama Aelira*)
" Lo tahu, Alpha it...
" **VALENZIA**!! bentak Ravian.
Ravian tahu, gadis itu benci dibentak, terbukti dengan tatapan tajam nya dan air matanya yang mengalir bersamaan.
Ravian menghela nafas panjang, tatapan nya menelusuri wajah cantik Aelira. Setiap melihat wajah gadis nya, seperti obat penenang baginya.
Amarah dimatanya perlahan meredup, digantikan dengan sorot yang lebih lembut- lelah.
" By... Aku gak minta banyak dari kamu...
cuma hal sepele itu, kenapa kamu gak bisa nurut hm.. " ucap Ravian lembut.
Diam, gadis itu hanya diam.
"Yaudah, sini peluk! " Gumamnya rendah- terdengar seperti menyerah.
Tanpa menunggu balasan gadis nya itu, tangan nya terulur, menarik gadis nya itu kedalam dekapan nya. Gadis itu hanya diam, pasrah di peluk.
Dagu Ravian bertumpu di bahu Aelira, jemarinya lembut mengusap surai panjang gadis nya itu.
" Jangan bikin aku marah lagi hmm! Aku nggak suka berbagi. **you're mine**. " bisik Ravian, sambil mengecup pelan pipi Aelira dan kmbali memeluknya dengan seerat mungkin.
-----
"BABYYYYYY......
baju aku buat Syuting hari ini manaaaa? "
Aelira sedang memasukkan buku buku pelajaran dan laptop nya ke tas, mengeluh panjang lalu berlari ke kamar Ravian.
pintu terbuka
Menampilkan Ravian yang baru selesai mandi.
"Kan, aku tadi dah letakkan di atas sofa "
" Gak ada honey.. ambil gih! nanti aku terlambat " pintanya manja.
Aelira mendengus, ia sudah biasa.
"Nih"
" Pakaiin bajunya by.. plissss! " pinta Ravian memelas.
Jika ciwi ciwi ~ alias fans fanatiknya melihat Ravian mode manja gini, pasti sudah histeris dan mimisan.
Namun, Aelira sudah sangat terbiasa, karena mereka bersama sejak SMP.
Aelira mengambil kemeja Ravian, lalu memakai kan nya ke tubuh Ravian yang tinggi ~ tegap.
Tangannya bergerak teratur ~ mengancing satu per satu kancing di dada Ravian.
Berada di jarak sedekat ini membuat Ravian tersenyum sinis.
" Di sekolah, masih ada yg deketin kamu hm..? "
Aelira berhenti sejenak.
Matanya masih menatap kancing kancing di depan dada Ravian. Dia menggeleng pelan.
" Enggak ada "
Ravian mencengkram pergelangan tanggan Aelira.
"Jawab yang bener! "
Aelira mendongak kesal
" Aku udah jujur "
Ravian tersenyum smirk.
" Ingat Aelira. Sesuai perjanjian awal~ jangan pernah temenan lagi sama cowok. Gua gak peduli siapa. Gua nggak suka. lo cuma boleh dekat sama gua." tegas Ravian
"Ravian, it\_"
" Vano!! Lo harus panggil gua Vano. "
"Vano di\_"
" Jangan mambantah! Hidup lo cuma buat gua. titik.!! "
"huh.. iya"
"iya apa? "
" Iya vano, aku paham. "
" Good girl. Uang jajan udah aku transfer ke rekening kamu. Nggak usah terlalu hemat, by. Uang gua banyak! kalo kurang call gua! "
" Makasih "Ujar Aelira.
" Aku berangkat sekolah Dulu, ya! "panitia, namun Ravian menahannya.
" Masih tersisa 40 menit lagi! "
"Terus? "
" gua mau curhat! "
" Tentang? "
" Gua nggak mau se frame sama dia, " cetus Ravian berdiri di depan kaca \_ merapikan penampilan nya.
" Siapa? "
" Kanaya! "
"Masalah nya?
" Nanti lo cemburu. "
Aelira mendelik malas .
" Gak usah narsis, boleh?
Ravian membalikkan badan dengan tatapan penuh emosi.
" Jadi lo nggak akan cemburu? "Tanya nya meninggi, membuat Aelira terkejut.
" lo gak keberatan gitu, gua *acting* mesra sama dia\_ padahal lo tau kalau dia suka gua??! dan lo biasa aja?! " tanya nya tidak Terima.
Lagi, Aelira hanya mendengus mendengus tersebut tanpa berbiati membalas.
" Jawab Gua!! "
"Vano, sakit! Aku harus ke sekolah! "
Ravian masih menahan lengannya. Beberapa detik kemudian akhirnya melepaskan nya.
" Makanya, jawab pertanyaan gw honey.... "
" hufhhh... Vano dengar. Yang suka itu dia, bukan kamu. Jadi ngapain aku cemburu hmm.. Kalo aku cemburu artinya aku gak percaya kamu, sedangkan aku? sangat percaya, kamu gak mungkin buang emas, demi sesonggok lumpuh, " Jawab Aelira asal, tapi mampu membuat semburat merah di wajah Ravian. Tapi hanya sekian detik, kemudian ia tutupi dengan Sifat menyebalkan nya.
"Yaudah sana berangkat! " kata Ravian sinis. " Tapi, cium aku dulu.
Dengan cepat Aelira berjinjit untuk mengecup pipi kiri Ravian.
**CUP**!!
"Udah! "
Ravian langsung memalingkan wajah nya di menahay senyum \_namun berdeham berust menguasai diri.
"Cuma di pipi? "
Tangan kirinya terangkat, menarik tengkuk Aelira pelan . Wajahnya mendekat ingin mencium bibir gadisnya itu.
Namun Aelira buru buru menahan dada nya dengan kedua tangan mya.
"NO!! "
Ravian mendengus.
"Lagi?! kenapa sih lo selalu nolak tiap gua mau ciuman? "
" Telat. Aku berangkat dulu. Bye pacar aku! pamit Aelira buru buru berlari menjauh, membuat Ravian mengangkat alis
" Pacar? " decih Ravian geli. " Baru mau di cium aja banyak alasan.
*****
Suasana kelas XI F-1 Siang ini cukup lenggang.
Aelira yang duduk di kursi depan meja guru, bersandar di kursi nya, dengan laptop di meja. Dia sedang mengecek proposal OSIS
"AELIRA!! YAAMPUN - INI GILA. "
Aelira terkesiap sedikit, lalu menoleh
" Apaan sih? "
"Lihat ini! Lihat ini!! Ravian , Ra ! Gila, doi makin ganteng parah! Astaga, gue pingsan beneran, deh!" kaya Ziva lebay.
Di layar terpampang foto Ravian sedang pemotretan untuk brand fashion ternama.
Kemeja putih yang setengah terbuka-memperlihatkan dada dan perut berototnya.
"Ravian GANTENG BANGET, OY!" Bukan hanya Ziva, mendadak satu kelas heboh membahas foto itu.
" Ra , bayangin, seberuntung apa cewek yang bisa jadi pacarnya." Ziva memekik tertahan.
"Emang lo tau-sifatnya di real life gimana? Kali aja anaknya toxic." Dengus Aelira menopang pipi malas.
"Nggak papa, Ra . Gue mah ikhlas lahir batin jadi ceweknya walaupun aslinya toxic, heheh." Mata Ziva berbinar-binar. "Lagian, dia tuh tipe artis anti cinlok. Eh, dia udah punya cewek belum, ya?"
"Mana gue tau?"
"Andai aja dia sekolah di sini, mata gue pasti seger lihat cogan tiap hari. Sayangnya dia home schooling." Ziva tersenyum-senyum menciumi foto Ravian.
Dia tidak peduli dan memilih mem-posting foto terbarunya di pantai bersama Ziva.
"Where the sun meets the waves, I find peace."
"Yaelah, ini caption apa judul puisi SMA." Protes Ziva.
"Diem lo!"
Yumna menekan tombol post.
Baru beberapa detik berselang-notifkomentar langsung bermunculan.
"Eh, eh! Ada yang komen tuh!" Ziva langsung melongok penasaran ke layar Ae.
"ASTAGA-KAK ALVANDRA?!!"
Sekelas menoleh terkejut.
Pasalnya Alvandra -alias
Alvandra Gibson Putra adalah cowok populer angkatan kelas 12. Selain tampan, dia juga pintar. Mantan ketua OSIS sekaligus anggota basket.
Selain itu, Alvandra juga di kenal ramah dan baik.
"Sssttt, diem! Berisik lo!"
Aelira melotot dan menabok kepalanya.
"Tapi itu Kak Alvandra -"
"Iya, Ziv. Gue tau."
Aelira membaca komentar dari Gama.
Alvandra _Gibson: Cantik.
"RA. LO. DI PUJI. SAMA KAK ALVANDRA!! OMG, GUE IRI PLISSS!"
Aelira menatap layar dengan wajah bingung bercampur malu.
"Apaan, sih? Alay!
"Gak peka tau, itu kakak kelas udah suka sama lo dari jaman MOS! Tiap kali lewat depan kelas, pasti nyariin lo. Titip salam lewat Ikel-anak basket, udah kayak rutinitas!"
"Udah, lo sama Kak Alvandra aja! Udah enak tuh. Doi cakep banget."
Aet mendengus. "Nggak usah ngada-ngada. Gue udah punya cowok."
"HAH?"
*****
Di sela break syuting-suasana di area tunggu cukup ramai.
Ravian duduk di kursi khusus artis. Ia memilih menyendiri-bersandar malas sambil bermain HP.
Klaim
Jempolnya menggulir timeline IG tanpa minat sampai satu unggahan muncul di beranda.
Sebuah foto. Gadis nya .
Di pantai. Dengan dress putih tipis dan rambut dibiarkan tergerai diterpa angin laut. Background matahari dan ombak membuatnya terlihat-terlalu cantik.
Rahangnya mengeras.
"Apa-apaan bajunya..." Gumamnya pelan, nadanya
Penuh amarah yang tertahan.
"Dia pikir ini nggak seksi?!" Protes Ravian dalam hati.
Tanpa pikir panjang-Vergan mengetuk kolom komentar, tapi bukan dengan akun resminya-melainkan akun alter-nya.
"HAPUS FOTONNYA LO BERANI MEMPERLIHATKAN MILIK GW DI BANYAK ORANG!!??? "
Belum sempat emosinya reda, matanya menangkap satu komentar lain yang langsung membakar otaknya-
Alvandra _Gibson: Cantik.
"Alvandra Gibson?"
Desisnya tajam.
Di tambah komentar beberapa akun mengatakan ciya-ciye, cocok lah, ini lah, itu lah.
Klaim
Apa jangan-jangan Aelira mem-posting foto ini supaya di komentari Cowok cowok ini?
"Brengsek!" Ravian langsung bangkit dari kursinya, menendang meja di depannya dengan kasar.
BRAK!!
Minuman dan makanan di atasnya terbalik, berserakan ke lantai.
Semua orang di ruangan langsung menoleh kaget.
Ravian menelpon Aelira.
"Halo-"
"Gue ke sekolah lo. Lo mancing emosi gua,jadi siap siap dapat hukuman ! Nggak ada pakai nangis!!!" kata Vergan tajam kemudian menyambar kunci mobilnya.
*****
Langkah Aelira cepat keluar dari ruang OSIS.
Dan belum sempat Aelira berbelok ke tangga, sebuah tangan menarik keras pergelangan tangannya.
"Eh-apa-"
"Ikut kami!"
BRUK!
Tubuh Aelira ditarik paksa ke arah koridor sepi-lalu dibawa masuk ke toilet perempuan.
"Lo kira lo siapa, hah?! Dasar pick me!" Sentak Valerie.
Dia adalah Queen bee SMA Nusa Cendekia.
Kakak kelas. Penuh drama.
"Apa-apaan sih?!" Aelira berontak.
"Diem lo!" Tapi Valerie sudah lebih dulu menyiramkan air dingin dari botol ke tubuh Aelira.
BYURRR!
Seragam Aelira langsung basah. Rambutnya menempel di wajah. Gadis itu mengerang kaget dan refleks mundur.
"Lo tuh caper banget ya. Flirting sama mantan gue terang-terangan?" Bentak Valerie.
"Gue nggak flirting sama siapa-siapa, Kak!"
Valerie mendesis dan langsung menjambak rambut Aelira dengan kasar. "Jangan sok polos lo! Ketua OSIS tukang caper!"
PLAK!
Aelira menampar wajah Valerie keras-keras. Suasana langsung hening.
Valerie membeku, wajahnya memerah karena malu dan marah bersatu. Dua anteknya pun melongo.
"Gue cuma adik kelas. Gue Ketua OSIS. Terus lo pikir gue nggak bisa bales lo?" Suaranya tajam, tegas.
"Kalau lo mau labrak gue, di luar sekolah. Biar gue kasih lihat, gue siapa."
Valerie seketika kicep melihat tatapan tajam Aelira
"perlu lo tanamin di otak dangkal lo. Gw bukan lo yang haus validasi , apalagi caper,kalo cowok lo dekatin gw,itu salah di lo,karena lo gak menarik lagi dimatanya," jelas Aelira dengan aura mengintimidasi.
"Minggir!"
"MINGGIR!" Bentak Aelira membuat Valerie gelagapan dan segera menyingkir.
Aelira keluar dari toilet sambil menyeka wajahnya.
"Sial."
"Aelira ?"
Pemuda tinggi dengan seragam olahraga baru keluar dari ruang basket.
Mata Alvandra membulat begitu melihat kondisi Aelira.
"Kamu kenapa basah gitu?"
Aelira buru-buru menghindari tatapan cowok itu.
"Nggak papa, Kak."
Alvandra menghela napas tajam, lalu tanpa pikir panjang membuka jaket trainingyang dipakainya.
"Eh Kak nggak usah-"
"Seragam kamu tembus pandang. Pakai!"
Dia menggantungkan jaketnya ke bahu Aelira membuat Aelira spontan menyilangkan tangan di dada.
Aelira menoleh pelan, ragu sejenak, lalu mengangguk kecil. "Makasih, Kak..."
Alvandra hanya tersenyum lalu secara spontan mengelus surai lembut Aelira, membuat Aelira syok dengan adegan tiba-tiba itu.
Aelira bergegas pergi meninggalkan Gama.
*****
Suasana kantin begitu ramai, meja penuh, suara obrolan bersahutan saat jam istirahat kedua.
Hingga tiba-tiba...
"WOY, ADA RAVIAN DI HALAMAN DEPAN!!!"
"Hah? Seriusan?"
"Iya. Dia ke sini."
Sekelip mata, kantin langsung pecah.
"OMAGAAAAT!"
"YANG BENER LO?!"
Semua murid bangkit dari tempat duduk, berlari ke luar
Kantin, membawa ponsel dan suara teriakan kegirangan.
Berbeda dengan Aelira yang membeku syok.
Ziva yang masih duduk langsung bangkit panik.
"Ra, CEPAΑΤ! ΚΙΤΑ HARUS LIAT!"
"Ziv, gue nggak mau, sumpah-"
"Ayo, ih!"
Ziva menariknya membuat
Aelira terpaksa ikut berlarian ke halaman depan sekolah-menembus kerumunan siswa yang saling dorong-dorongan demi melihat sosok Aelira.
Dan di sana-Sebuah mobil black metalic terparkir dengan elegan.
Seorang cowok tinggi dengan tubuh tegap menyender di mobil memakai kacamata hitamnya, kaos putih di balut jaket dan celana hitam.
"GILAAAA! Itu beneran, Ravian!"
"Gue mau pingsan!"
woy." "Dia lebih cakep aslinya,
Ziva yang masih menggenggam tangan Aelira makin gencar menyikut maju.
Tapi tubuh Aelira terdorong dari samping oleh kerumunan.
BRAK!!
"Awh!" Rintih Aelira saat tubuhnya menabrak seseorang.
Dia mendongak. Matanya melebar saat Ravian sudah merengkuh pinggangnya erat.
Ravian melepas kacamata hitamnya perlahan, menatap Aelira dari atas ke bawah dengan rahang mengeras.
"Suka banget hmm..buat gua marah." Desisnya tajam.
Aelira menunduk gugup-jantungnya berdegup kencang.
Tidak boleh ada yang tau jika dia dan Ravian berpacaran.
"V-Van, jangan di sini, please..."
Tanpa bicara lagi, Ravian langsung mencengkeram pergelangan tangan Aelira dan menariknya pergi dengan langkah cepat.
"Ikut gue!"
"TUNGGU! DIA TARIK AELIRA?!"
"Kok bisa?"
"Mereka saling kenal??"
"Nggak mungkin plot twist-nya pacar rahasia Ravian selama ini itu KETUA OSIS SEKOLAH
KITA???"
Ziva sendiri melongo-ikutan syok.
***
BRAK!!
Punggung Aelira membentur dinding gudang yang dingin. Dia merintih kesakitan.
"Lo-" Ravian melihat jaket yang di pakai Aelira . "Anjing! Apa-apaan lo pakai jaket cowok lain? Jaket siapa itu, hah?!"
Ravian menarik jaket basket itu dari tubuh Aelira
"BUKA!"
"Jangan Van —"
Seketika tubuh gadis itu hanya terbalut tank top crop-top warna abu yang kini membuatnya tubuhnya terekspos.
"Kamu keterlaluan tau nggak!?" Teriak Aelira terisak.
"Gue? Lo yang keterlaluan. Lo itu punya gue." Bentaknya emosi.
Aelira menatap mata Ravian dengan sorot memerah, meski suaranya nyaris bergetar.
"Gue pengen putus."
Wajah Ravian menegang dan tersenyum licik.
"putus? sejak kapan lo dikasih hak buat membuat keputusan?! "
" Vano gw capek tau gak!! " keluh Aelira
"Oke pergi, tapi siap siap gue ancurin siapapun yang lo datengin setelah gue."
Aelira menarik napas tajam, mencoba tetap tegar meski matanya memerah.
"Gue nggak pernah sayang sama lo."
Ravian tersenyum sinis. Ia menunduk perlahan, menyatukan dahinya ke dahi Aelira.
"Sayang atau enggak, lo tetap milik gue. Bahkan kalau itu bikin lo menderita. Ngerti?"
Tangan dingin Ravian terangkat mencengkeram tengkuk Aelira , menariknya mendekat secara paksa.
"Lo harus inget. Lo cuma anak panti asuhan yang di pungut bonyok gw.
Harusnya lo tau diri, gue masih mau jagain lo."
Detik berikutnya, bibir Ravian mendarat di bibir Aelira dengan tekanan yang menggetarkan seluruh sendi.
Ciuman itu bukan sekadar kecupan. Bukan juga lembut.
Ravian menekan pinggang Aelira agar mendekat.
Ravian tidak peduli dan melumat rakus bibir Aelira dengan ciuman brutalnya.
Saat ciuman terputus, tangis Aelira pecah dan terduduk lemas di lantai
Memeluki tubuhnya sendiri, membuat Ravian membeku.
"Sial." Umpat Ravian dan melepaskan jaketnya kemudian memakaikan ke Aelira lalu menariknya ke dalam pelukan.
"baby... sorry, aku khilaf, pliss maafin aku. Aku cuma berusaha membuat kamu patuhw, gak lebih, "
"Udah, jangan nangis! Ayo pulang!"
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!