Indonesia
NovelToon NovelToon

Musuh Jadi Candu

Bab 1

Kota Jakarta malam ini tampak indah dengan kerlap-kerlip lampu yang menerangi setiap sudut kota, namun bagi Devina, keindahan itu masih kalah bersinar dibandingkan kebahagiaan yang dia rasakan, karena besok dia akan menikah dengan seorang pria yang sangat dia cintai.

Entah sudah berapa kali dia mencoba-coba mengenakan gaun pengantin berwarna putih itu, sangat berharap hari esok akan segera tiba. Sungguh membuatnya tak sabar.

Sudah dua tahun lamanya Devina menjalin hubungan dengan Eliano. Dan mereka sudah memutuskan hari besok akan segera meresmikan hubungan mereka ke dalam ikatan suci pernikahan.

"Hm, sudah berapa kali kamu terus mencoba gaun pengantin itu, Dev?" tegur Lola kepada sahabatnya itu, sambil tersenyum geli. Dia sengaja menginap disana, untuk membantu semua keperluan pernikahan Devina dan Eliano.

Devina malah tertawa kecil. "Itu karena aku sudah tidak sabar ingin segera menjadi istrinya Eliano."

Setelah berkata begitu, dia membayangkan hari-hari yang akan dia jalani bersama dengan kekasihnya itu. Mereka akan tinggal satu atap, kemudian mereka akan memiliki anak, lalu menua bersama. Persis di novel-novel yang selalu dia baca.

"Kamu tahu sendiri, kan? Aku ingin secepatnya keluar dari mansion ini. Dengan aku menikah dengan Eliano, aku bisa keluar dari sini. Apalagi selama ini Eliano sangat baik padaku, kata orang menikah dengan seseorang yang mencintai kita itu akan diperlakukan seperti ratu," sambung Devina.

Lola hanya bisa terkekeh. "Iya, aku harap juga begitu. Aku juga pasti tidak akan tahan harus tinggal bersama dengan ibu tiri dan saudara tiri yang selalu bersikap kurang ajar."

Lola tiba-tiba membahas tentang seseorang. "Oh iya, ngomong-ngomong, aku dengar kabar kalau Abian Pratama sekarang sedang ada di Indonesia."

Senyuman Devina seketika memudar setelah mendengar nama itu. Hanya mendengar namanya saja, membuat suasana hatinya menjadi buruk. "Untuk apa kamu membahas dia? Aku tidak peduli dia mau tinggal dimana pun."

Lola malah tertawa melihat reaksi sahabatnya itu. "Ya ampun, ternyata kamu masih membenci dia, Dev? Padahal kalian sudah lama tidak bertemu lho."

Devina menghela nafas panjang. "Sudahlah, jangan membahas dia lagi. Cuma mendengar namanya saja, membuat aku muak."

...****************...

Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit, telah diadakan sebuah pesta yang sangat meriah. Acara itu dihadiri oleh para pengusaha ternama, kolega, dan rekan bisnis yang berdatangan dari berbagai negara di dunia.

Pesta malam ini sangat penting karena Abian telah resmi diangkat menjadi pemimpin Pratama Group yang ada di Indonesia. Sedangkan ayah dan ibunya berada di Amerika. Ayahnya telah memiliki sebuah rumah sakit yang megah disana, sedangkan ibunya sibuk menjalankan bisnis perusahaannya.

Di tengah kemeriahan pesta itu, Abian menjadi pusat perhatian semua orang, terutama para wanita yang hadir. Wajahnya yang tampan nyaris sempurna, memiliki garis rahang yang tegas dan maskulin, memiliki sepasang mata tajam yang memikat, dan hidungnya yang mancung.

Tak heran jika hampir seluruh wanita yang ada di ruangan itu tampak terpesona padanya. Tapi mereka menyadari, Abian bukanlah pria yang gampang didekati.

Abian mengangkat gelas sampanye di tangannya, lalu berbicara dengan suara lantang. "Thank you all for being here tonight. Your presence means a lot to me. Let us raise our glasses, and make a toast!"

Semua tamu ikut mengangkat gelas, lalu sama-sama meneguk minuman masing-masing.

Tak lama kemudian, dengan tergesa-gesa asistennya datang, lalu melaporkan sesuatu dengan suara pelan, "Tuan, wanita yang Anda cari... besok akan menggelar pernikahan."

Abian tidak langsung menjawab. Dia hanya diam, menggoyangkan gelas di tangannya perlahan. Tanpa ekspresi, dia meneguk satu gelas wine sampai tandas. Lalu, berkata dengan nada dingin, "Hancurkan pernikahan itu!"

Bab 2

"Aku penasaran, kenapa sampai kini kamu masih membencinya? Padahal kamu tahu sendiri kan, dulu di sekolah Abian itu adalah cowok yang paling populer. Banyak cewek yang naksir sama dia," tanya Lola dengan nada penuh rasa ingin tahu.

Devina hanya menghela nafas dengan kasar. Padahal dia sudah ingin melupakan musuh bebuyutannya itu, namun Lola terus saja membahas nama yang paling ingin dia hapus dari ingatannya.

Bagi Devina, Abian Pratama adalah laki-laki yang paling menyebalkan di dunia ini. Dulu , semasa mereka masih sekolah, hampir setiap hari mereka ribut.

Dulu, Abian adalah murid paling populer di sekolah. Dia tampan, kaya, dan berkuasa. Banyak murid perempuan yang berebut ingin mendekatinya. Tapi sebaliknya, hampir semua murid laki-laki takut padanya. Tidak ada yang berani melawan.

Sedangkan Devina, saat itu dia adalah murid baru di sekolah tersebut. Dia sangat tidak tahan melihat Abian yang sering berbuat semena-mena di sekolah. Karena itu, dia memberanikan diri untuk melawannya.

Flashback On...

"Kau berani melawanku?" tanya Abian dengan tatapan matanya yang tajam.

Bukannya takut, Devina malah berkacak pinggang. "Memangnya kenapa aku harus takut padamu? Jangan mentang-mentang sekolah ini punya orang tuamu, makanya kamu jadi meraja di sekolah. Aku sama sekali tidak takut."

Saat itu Devina membela Eliano yang habis dihajar oleh Abian.

"Apa kamu tidak tahu apa alasan aku menghajarnya?" tanya Abian dengan nada dingin.

Devina menghela nafas. "Itu karena kamu merasa sok berkuasa di sekolah ini, makanya kamu selalu menghajar orang seenaknya dengan tanpa alasan."

Setelah berkata begitu, Devina segera membantu Eliano berdiri, dia memapah laki-laki itu, untuk pergi meninggalkan Abian di halaman belakang sekolah.

Abian hanya menghela nafas, memandangi punggung Devina yang yang semakin menjauh darinya.

Flashback Off...

Saat mengingat semua kenangan buruknya bersama Abian, membuat Devina menjadi kesal. "Aku sangat membenci kepribadiannya. Dia sangat arogan, sok berkuasa, dan selalu menindas yang lemah. Kamu juga tahu sendiri, hampir setiap hari kami sering berantem."

Lola pun tertawa kecil. "Tapi kalau dipikir-pikir, justru setelah kejadian di belakang sekolah itu, kamu jadi semakin dekat dengan Eliano."

Devina mengangguk. "Hm, dari dulu sudah beberapa kali Eliano menyatakan perasaannya padaku, tapi selalu aku tolak dan memilih untuk berteman saja. Tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari cinta Eliano begitu besar. Dia rela menunggu aku membuka hati untuknya selama bertahun-tahun. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk menerima cintanya."

Devina menjadi teringat pada Eliano, dia pun segera mengirimkan pesan kepada calon suaminya itu.

[Apa kamu sudah tidur? Jujur saja malam ini aku sangat deg-degan, mengingat besok kita akan segera menikah. Aku harap aku bisa menjadi istri yang baik buat kamu.]

Setelah sekian lama menunggu balasan dari Eliano, tapi ka kunjung datang.

Devina pun tersenyum, "Hm, mungkin dia sudah tidur, makanya gak membalas pesan dariku."

...****************...

Beep...

Beep...

Beep...

Terdengar suara ponsel berdering di sebuah kamar hotel. Di kamar tersebut terdapat pakaian wanita dan lelaki berserakan di lantai, menjadi saksi bisu akan apa yang baru saja terjadi. Dan terdengar suara gemericik air dan suara desahan di kamar mandi.

Suasana malam yang penuh gairah ini membuat sang pemilik ponsel tidak menyadari bahwa ponselnya sedari tadi berdering.

Bab 3

"Ehm, sebentar lagi ada yang menikah nih," goda Jihan kepada seorang pria yang sedang mendekap tubuhnya di atas ranjang.

Pria itu adalah Eliano. Dia malah terkekeh mendengar godaan dari Jihan. Tangan kekarnya semakin erat memeluk pinggang ramping wanita itu. Sedangkan mulutnya sedang menyesap payu-daranya dengan rakus.

Setelah itu, Eliano balik menggoda Jihan. "Kenapa? Kamu cemburu ya? Aku melakukan ini semua buat masa depan kita, Sayang."

Ternyata, mereka sudah lama mengincar perusahaan milik ayahnya Devina. Devina adalah satu-satunya pewaris dari perusahaan Buana Group. Sementara itu, posisi Jihan hanyalah saudara tirinya Devina, yang tidak memiliki hak waris.

Jika Eliano menikah dengan Devina, akan memudahkan mereka untuk menguasai perusahaan Buana Group. Apalagi, jika seandainya mereka berhasil menyingkirkan Devina di dunia ini, maka seluruh kekayaan itu akan jatuh ke tangan mereka berdua.

Robert Buana, ayahnya Devina pun sangat mempercayai Eliano. Karena kecerdasannya, Eliano dipercaya menjadi wakil direktur di perusahaan Buana, sedangkan posisi CEO saat ini ditempati oleh Devina.

Sementara Jihan, dia tidak memilih keinginan untuk bekerja. Mungkin karena dia terlalu dimanjakan oleh ibunya, membuat dia menjadi boros dan sering berfoya-foya.

"Tapi kamu janji, jangan pernah sentuh Devina selama dia menjadi istrimu. Kita tinggal memikirkan rencana bagaimana caranya menyingkirkan Devina secepatnya." pinta Jihan dengan nada manja. Dia sangat takut Eliano akan jatuh cinta pada Devina m

Eliano tak langsung menjawab, seakan dia sedang memikirkan sesuatu. "Emm... tentu saja, Sayang."

Jihan tersenyum lega. Dia segera duduk di atas pinggul Eliano, membuat tubuh mereka menyatu kembali. "Mungkin setelah kamu menikah dengan Devina, kita akan jarang bertemu, karena itu aku akan memuaskan kamu malam ini."

Eliano hanya tersenyum, membiarkan Jihan berbuat sesuka hati pada tubuhnya. Kemudian tangannya meraih ponselnya di atas nakas, dia nampak tertegun saat melihat ada pesan dari Devina.

[Apa kamu sudah tidur? Jujur saja malam ini aku sangat deg-degan, mengingat besok kita akan segera menikah. Aku harap aku bisa menjadi istri yang baik buat kamu.]

Jika dipikir-pikir, dia sangat beruntung dicintai begitu besar oleh seorang Devina Buana.

Eliano menggelengkan kepala. Dia mencoba mengingatkan hatinya. Dia tidak boleh jatuh cinta kepada Devina. Dari awal dia mendekati gadis itu karena disuruh oleh Jihan.

Eliano dan Jihan berpacaran sudah lama, dari mereka masih sama-sama di bangku SMA. Jihan sangat kesal kepada saudara tirinya itu yang cukup populer, karena itu dia menyuruhnya Eliano untuk mendekati Devina.

Meskipun pada awalnya Devina selalu menolak dan memilih untuk berteman. Tapi pada akhirnya, dua tahun yang lalu, Devina menerima cintanya Eliano, sehingga mereka memutuskan untuk menikah di tahun ini, tepatnya hari esok.

...****************...

Karena tidak ada balasan pesan dari Eliano, Devina segera menyimpan ponselnya di atas nakas. Dia mengira kekasihnya itu sudah tidur.

Kemudian Devina merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia tersenyum penuh rasa bahagia, membayangkan besok dia akan saja menjadi istrinya Eliano.

Namun, tiba-tiba dia menjadi teringat dengan perkataan Lola yang mengatakan bahwa Abian telah kembali ke Indonesia.

"Untuk apa dia kembali ke Indonesia?" gumam hatinya.

Devina pun segera menggelengkan kepala. Dia merasa tidak ada gunanya memikirkan musuhnya itu.

"Semoga aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!