Indonesia
NovelToon NovelToon

Menikah Kilat dengan Bos Vegetatif Usai Keluar Penjara

Episode 1

Bab 01

Pintu besi Lapas Perempuan Tangerang terbuka pelan.

Alya Mahira berdiri di ambang pintu dengan tas kain kecil di tangan. Isinya hanya dua stel baju lusuh, sebuah buku catatan, dan satu foto bayi kembar yang sudah menguning di bagian tepi.

Lima tahun.

Dia masuk ke tempat itu saat usianya baru dua puluh satu tahun. Hari ini dia keluar dengan nama yang sama, tetapi hidup yang sama sekali berbeda.

"Alya."

Suara laki-laki itu membuat langkahnya berhenti.

Di depan mobil hitam, Surya Wijaya berdiri dengan kemeja mahal dan wajah yang dibuat penuh kasih. Kalau orang lain melihat, mereka mungkin akan mengira dia ayah yang menunggu anaknya pulang.

Alya tahu itu bohong.

Selama lima tahun dia dipenjara, Surya tidak pernah datang sekali pun.

"Papa akhirnya ingat jalan ke sini?" tanya Alya datar.

Senyum Surya kaku sebentar.

"Jangan bicara seperti itu. Papa datang menjemput kamu. Kamu sudah bebas, Alya. Mulai hari ini kamu bisa hidup lebih baik."

Alya menatapnya. "Lebih baik?"

"Masuk dulu ke mobil. Kita bicara di jalan."

"Bicarakan di sini saja."

Surya menoleh ke kanan dan kiri. Dua sopir dan seorang pengacara keluarga berdiri tidak jauh dari mereka. Wajah Surya berubah tidak sabar, tetapi dia masih berusaha menahan suara.

"Papa sudah mengurus semuanya. Namamu memang masih punya catatan hukum, tapi tidak apa-apa. Ada keluarga besar yang mau menerima kamu."

Alya tertawa pelan.

"Keluarga besar? Papa sedang menjualku ke siapa?"

"Alya!"

"Jawab saja."

Surya menarik napas panjang. "Keluarga Adiwangsa."

Nama itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin.

Adiwangsa Group adalah salah satu konglomerat terbesar di Jakarta. Properti, rumah sakit, media, pelabuhan, semuanya ada di tangan keluarga itu. Siapa pun yang hidup di kota ini pasti pernah mendengar nama mereka.

Dan pewaris utamanya, Raka Adiwangsa, juga terkenal.

Bukan hanya karena tampan dan kejam dalam bisnis.

Tetapi karena satu tahun terakhir, dia koma setelah kecelakaan. Ada rumor tubuhnya lumpuh, organ dalamnya rusak, dan dokter hanya menunggu waktu untuk menyerah.

"Papa mau aku menikah dengan orang yang sedang sekarat?" tanya Alya.

Surya cepat berkata, "Jangan kasar. Tuan Raka masih hidup."

"Tapi tidak sadar."

"Dokter bilang ada kemungkinan."

"Kemungkinan untuk mati?"

Wajah Surya memerah. "Kamu seharusnya bersyukur. Dengan statusmu sekarang, keluarga mana yang mau menerima mantan narapidana?"

Alya menggenggam tali tasnya kuat-kuat.

Lima tahun lalu, orang yang mendorongnya masuk penjara adalah Surya. Kakak tirinya menggelapkan dana investor lewat perusahaan keluarga. Dokumen palsu dibuat memakai tanda tangan digital Alya. Pengacara keluarga meminta Alya mengaku, dengan janji dua bayi yang baru lahir akan dirawat baik-baik.

Dia percaya.

Karena saat itu dia baru melahirkan, tubuhnya lemah, dan dua bayinya terlalu kecil untuk hidup tanpa perlindungan.

"Aku masuk penjara karena siapa?" tanyanya pelan.

Surya menghindari tatapannya. "Masa lalu tidak perlu dibahas."

"Aku mau bertemu Mika dan Arkan."

Nama itu keluar dari bibir Alya seperti doa yang terlalu lama ditahan.

Mika dan Arkan.

Dua bayi laki-laki yang hanya sempat dia peluk beberapa menit sebelum Surya membawa mereka pergi.

Surya tidak menjawab.

Alya melangkah mendekat. "Di mana anak-anakku?"

"Mereka aman."

"Aku mau lihat mereka sekarang."

"Setelah akad."

Alya membeku.

Surya akhirnya melepaskan topengnya. Suaranya berubah dingin. "Kamu menikah dulu dengan Raka Adiwangsa. Setelah itu Papa akan izinkan kamu melihat anak-anak."

"Izinkan?"

"Jangan membuat semuanya sulit. Keluarga Adiwangsa sudah setuju melunasi utang perusahaan kita dan menarik beberapa tuntutan lama. Kamu hanya perlu menjadi istri Raka. Kalau dia meninggal, kamu tetap akan mendapat bagian. Kalau dia sadar, lebih bagus."

Alya menatap wajah ayahnya. Tidak ada rasa bersalah di sana. Yang ada hanya hitungan untung rugi.

"Papa benar-benar menjualku."

"Papa menyelamatkan keluarga."

"Keluarga mana? Keluarga Papa dengan Ratih dan Vania?"

Mata Surya menajam. "Jaga bicaramu."

"Tidak."

Alya berbalik hendak pergi, tetapi Surya berkata dengan suara rendah, "Kalau kamu pergi, jangan harap bisa melihat anak-anakmu lagi."

Langkah Alya berhenti.

Surya tahu titik paling sakitnya.

"Papa tidak main-main," lanjut Surya. "Mika dan Arkan masih bergantung pada keputusan Papa. Satu tanda tangan darimu bisa membuat mereka hidup tenang. Satu penolakan darimu bisa membuat mereka kehilangan segalanya."

Alya perlahan menoleh.

Matanya tidak lagi kosong. Ada sesuatu yang tajam di sana, seperti pisau yang baru keluar dari sarung.

"Kalau Papa menyentuh mereka..."

"Kamu mau apa?" Surya mencibir. "Kamu baru keluar dari penjara. Uang tidak punya, nama baik tidak punya, teman tidak punya. Kamu pikir siapa yang akan percaya padamu?"

Alya diam.

Lima tahun di penjara mengajarinya satu hal: jangan menghabiskan tenaga untuk mengancam orang yang belum waktunya dihancurkan.

Dia tersenyum tipis.

"Baik. Aku menikah."

Surya jelas lega, tetapi Alya belum selesai.

"Tapi dengarkan baik-baik, Pa. Ini terakhir kalinya Papa memakai anak-anakku untuk mengikatku. Setelah aku memastikan mereka baik-baik saja, semua utang antara kita selesai."

"Alya, Papa ini ayahmu."

"Ayah tidak menjual anak perempuannya."

Surya hendak membentak, tetapi pengacara di belakangnya memberi isyarat halus. Mereka tidak punya waktu.

Pernikahan keluarga Adiwangsa harus dilakukan sore itu juga.

Alya masuk ke mobil.

Sepanjang jalan, dia menatap Jakarta dari balik kaca. Kota itu tetap macet, panas, dan hidup seperti biasa. Tidak ada yang tahu seorang perempuan baru keluar dari penjara sedang dibawa menuju pernikahan yang tidak dia inginkan.

Di pangkuannya, foto bayi kembar itu dia genggam.

"Mika, Arkan," bisiknya hampir tanpa suara. "Mama pulang."

Mobil berhenti di depan rumah besar di kawasan Menteng.

Rumah keluarga Adiwangsa tidak tampak seperti rumah. Pilar tinggi, halaman luas, satpam berseragam, deretan mobil mewah, dan wajah-wajah dingin yang menunggu di teras.

Alya turun dengan baju sederhana yang dia pakai sejak keluar lapas.

Bisikan langsung terdengar.

"Itu calon istri Raka?"

"Mantan narapidana?"

"Keluarga Wijaya benar-benar tidak tahu malu."

"Mahar dibayar mahal, tapi yang dikirim perempuan bekas penjara."

Alya tidak menoleh.

Seorang perempuan tua berambut putih duduk di kursi roda dekat pintu utama. Matanya tajam, tetapi tidak menghina. Di sebelahnya berdiri perempuan anggun dengan wajah pucat karena kurang tidur.

Surya membungkuk. "Oma Ratna, Nyonya Ratna. Ini Alya."

Oma Ratna menatap Alya lama.

"Kamu tahu kenapa kamu dibawa ke sini?"

"Untuk menikah dengan cucu Oma."

"Kamu keberatan?"

Alya ingin tertawa. Pertanyaan itu datang terlambat.

"Keberatan atau tidak, sepertinya tidak ada yang peduli."

Beberapa kerabat Adiwangsa langsung berbisik marah. Nyonya Ratna tampak terkejut, tetapi Oma Ratna malah tersenyum sedikit.

"Setidaknya kamu tidak pura-pura manis."

Seorang pria paruh baya dari sisi kanan mencibir. "Mama, apa kita benar-benar menyerahkan Raka pada perempuan seperti ini? Dia punya catatan kriminal."

Oma Ratna menoleh. "Dan kamu punya catatan mengincar kursi cucuku sejak dia koma. Mau kita bahas sekarang?"

Pria itu langsung diam.

Alya menyimpan kalimat itu dalam kepala.

Rumah ini juga penuh ular.

Akad dilakukan cepat, terlalu cepat untuk sebuah pernikahan. Raka tidak hadir di ruang utama. Dia terbaring di kamar lantai dua, hanya diwakili wali dan dokumen legal yang sudah disiapkan pengacara.

Saat penghulu menyelesaikan kalimat terakhir, semua orang mengucap selamat tanpa suara bahagia.

Alya resmi menjadi istri Raka Adiwangsa.

Belum sempat dia menarik napas, seorang perawat berlari dari tangga.

"Nyonya! Tuan Raka muntah darah!"

Nyonya Ratna menjerit tertahan.

Oma Ratna berdiri dibantu tongkat. "Bawa Alya ke atas."

Semua mata langsung tertuju pada Alya.

Salah satu tante Raka berkata sinis, "Bukankah dia dibawa untuk membawa keberuntungan? Baru akad sudah muntah darah. Hebat sekali."

Alya menatap perempuan itu sekilas.

"Kalau ucapan Tante bisa menyembuhkan orang, silakan Tante naik duluan."

Perempuan itu tercekat.

Oma Ratna mengetukkan tongkat. "Cukup. Alya, ikut."

Alya menaiki tangga dengan langkah tenang. Di balik pintu kamar utama, bau obat, antiseptik, dan sesuatu yang lebih samar langsung menusuk hidungnya.

Racun.

Dia belum melihat pasiennya, tetapi tubuhnya sudah mengenali bau itu.

Di atas ranjang besar, Raka Adiwangsa terbaring dengan wajah pucat. Bahkan dalam keadaan koma, garis wajahnya tegas, dingin, dan terlalu indah untuk seseorang yang hampir mati.

Dokter keluarga berdiri panik.

"Tekanan darah turun. Kami harus bawa ke rumah sakit."

Alya berjalan mendekat.

Dokter itu menghalangi. "Nyonya, jangan mendekat."

"Minggir."

"Anda bukan dokter."

Alya mengangkat mata. "Kalau Anda dokter, kenapa tidak tahu dia diracun?"

Kamar itu mendadak sunyi.

Dokter keluarga membeku. Wajah Nyonya Ratna memucat. Oma Ratna mencengkeram tongkatnya lebih kuat.

Alya menyentuh pergelangan tangan Raka.

Denyutnya kacau, lemah, tetapi belum menyerah.

Dia membuka tas kecilnya, mengambil gulungan kain berisi jarum tipis yang selama ini dia sembunyikan dari siapa pun.

Surya yang ikut naik langsung berseru, "Alya, kamu mau apa?"

Alya tidak menoleh.

"Menyelamatkan pria yang baru kalian paksa jadi suamiku."

Lalu jarum pertama masuk ke titik nadi Raka.

Tubuh pria itu tiba-tiba kejang.

Nyonya Ratna menjerit.

Dokter keluarga hendak maju, tetapi Oma Ratna mengangkat tangan.

"Biarkan dia."

Jarum kedua, ketiga, keempat.

Keringat dingin muncul di dahi Alya. Lima tahun dia menyembunyikan kemampuan ini, karena di penjara kemampuan apa pun bisa menjadi alat orang lain untuk memeras.

Hari ini dia menggunakannya lagi.

Karena dia butuh Raka hidup.

Karena selama pria itu hidup, keluarga Adiwangsa masih butuh dia.

Dan selama mereka butuh dia, Surya tidak bisa sembarangan menyentuh anak-anaknya.

Raka tiba-tiba batuk keras.

Darah hitam keluar dari bibirnya, menodai bantal putih.

Semua orang mundur ketakutan.

Alya menekan satu titik di dada pria itu dan berbisik, "Jangan mati dulu, Tuan Raka. Aku belum selesai memakai namamu."

Seolah mendengar, jari Raka bergerak sedikit.

Alya menatapnya.

Kelopak mata pria itu bergetar.

Lalu terbuka.

Episode 2

Bab 02

Mata Raka Adiwangsa terbuka.

Kamar yang semula penuh napas tertahan langsung pecah oleh suara Nyonya Ratna.

"Raka!"

Perempuan itu hendak maju, tetapi Alya mengangkat tangan tanpa menoleh.

"Jangan sentuh dia dulu."

Dokter keluarga tersinggung. "Anda pikir Anda siapa sampai melarang ibunya mendekat?"

"Orang yang baru membuat pasienmu bernapas lagi."

Mulut dokter itu tertutup.

Raka menatap langit-langit beberapa detik. Matanya gelap, dingin, dan tidak tampak seperti mata orang yang baru bangun dari koma panjang. Tatapan itu bergerak perlahan, melewati ibunya, Oma Ratna, dokter, kerabat yang memenuhi pintu, lalu berhenti pada Alya.

Suara pertamanya serak.

"Siapa kamu?"

Alya mencabut jarum terakhir dari pergelangan tangannya.

"Istrimu."

Ruangan kembali sunyi.

Bibir Raka bergerak sedikit, bukan senyum, lebih seperti tanda bahwa dia mendengar sesuatu yang sangat bodoh.

"Aku koma, bukan gila."

Di belakang, seseorang menahan tawa. Nyonya Ratna menangis sambil menutup mulut. Oma Ratna malah memandang cucunya dengan mata merah, tetapi tegas.

"Raka, akad sudah dilakukan. Alya Mahira sekarang istrimu."

Mata Raka menajam.

"Oma."

"Kamu hampir mati."

"Jadi Oma menikahkanku dengan orang asing?"

Oma Ratna menghantam lantai dengan tongkat. "Kalau Oma tidak melakukan itu, yang berdiri di sini mungkin hanya tubuhmu tanpa napas."

Raka tidak menjawab. Dia mencoba menggerakkan tangan, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Gerakan kecil itu membuat wajahnya berubah kaku. Bukan karena sakit, tetapi karena marah pada kelemahan sendiri.

Alya melihat itu.

Pria ini terbiasa memberi perintah, bukan dibantu bernapas.

Raka menatap Alya lagi.

"Apa yang kamu masukkan ke tubuhku?"

"Jarum."

"Aku tahu itu jarum."

"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"

Beberapa kerabat terkejut mendengar nada Alya. Tidak ada orang yang berbicara seperti itu kepada Raka Adiwangsa, bahkan saat pria itu baru bangun.

Raka diam dua detik.

"Keluar."

Alya menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"

"Semua."

Nyonya Ratna menggeleng cepat. "Raka, Mama tidak mau pergi. Kamu baru sadar."

"Mama." Suara Raka masih lemah, tetapi perintahnya jelas. "Aku perlu bicara dengan istriku."

Kata "istriku" terdengar seperti pisau yang dilempar, bukan panggilan sayang.

Oma Ratna memahami sesuatu. Dia memberi isyarat pada semua orang.

"Keluar."

"Tapi, Ma..." salah satu paman Raka hendak protes.

Oma Ratna menatapnya. "Kamu mau Oma ulang?"

Tidak ada yang berani.

Satu per satu mereka keluar. Surya sempat menatap Alya dengan peringatan, seolah berkata jangan merusak kesepakatan. Alya tidak peduli.

Pintu ditutup.

Di kamar tinggal mereka berdua.

Raka terbaring di ranjang. Alya berdiri di sampingnya dengan gulungan jarum di tangan.

"Berapa harga yang keluargamu terima?" tanya Raka.

Alya mengangkat alis. "Langsung ke inti?"

"Perempuan yang menikahi pria koma biasanya punya alasan."

"Benar."

"Uang?"

"Anak."

Tatapan Raka berubah sedikit.

Alya tidak berniat menjelaskan lebih jauh. "Keluargaku menahan dua anakku. Aku menikah denganmu karena mereka."

"Kamu punya anak?"

"Punya."

"Suamimu?"

"Tidak ada."

"Ayah anak-anak itu?"

Alya memasukkan jarum ke gulungan kain satu per satu. "Aku tidak tahu."

Raka menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca. Untuk pria yang baru sadar setelah koma, matanya terlalu tajam. Alya bisa merasakan dia sedang menilai setiap napas, setiap gerakan, setiap kata.

"Jadi kamu menikah denganku agar bisa memakai nama Adiwangsa untuk merebut anakmu?"

"Kurang lebih."

"Jujur sekali."

"Aku terlalu lelah untuk berakting."

Raka tertawa pendek, lalu batuk. Wajahnya memucat. Alya secara refleks hendak menyentuh nadinya, tetapi Raka menangkap pergelangan tangannya.

Genggamannya lemah, namun cukup untuk menghentikan gerakannya.

"Jangan menyentuhku tanpa izin."

Alya menatap tangan itu.

"Kalau tadi aku minta izin dulu, kamu sudah mati."

"Aku tidak percaya orang yang muncul di samping ranjangku dan mengaku sebagai istri."

"Bagus. Aku juga tidak percaya pria yang baru sadar tapi masih sempat curiga."

Mata mereka bertemu.

Beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Raka melepas tangannya perlahan.

"Kamu dokter?"

"Bukan."

"Tapi kamu tahu aku diracun."

"Orang awam juga bisa tahu kalau racunnya sudah terlalu jelas."

"Jangan berbohong padaku."

"Kalau aku berbohong, kamu bisa apa? Bangun saja belum bisa."

Wajah Raka menggelap.

Alya tahu dia sengaja menusuk harga diri pria itu. Bukan karena iseng. Dia perlu tahu seberapa jauh Raka bisa terpancing.

Pria yang mudah marah akan mudah dipakai musuh.

Raka ternyata tidak meledak. Dia hanya memandangnya makin dingin.

"Kamu ingin apa?"

"Tiga bulan."

"Untuk apa?"

"Aku butuh status sebagai istrimu selama tiga bulan. Setelah itu kita cerai. Aku tidak akan meminta harta, saham, atau nama belakangmu. Aku hanya butuh perlindungan sementara untuk mencari anak-anakku."

"Kamu pikir pernikahan Adiwangsa bisa dibatalkan semudah kontrak sewa?"

"Aku pikir hidupmu barusan disewa kembali oleh jarumku."

Raka menatapnya lama.

"Kamu berani."

"Aku lapar, lelah, dan baru keluar dari penjara. Keberanian mungkin satu-satunya barang yang masih gratis."

Kali ini, Raka benar-benar diam.

Baru keluar dari penjara.

Informasi itu tidak mengejutkannya sepenuhnya. Kemungkinan besar keluarganya sudah tahu dan tetap memaksakan pernikahan ini. Tetapi mendengar perempuan itu mengatakannya sendiri tanpa menunduk membuatnya sedikit heran.

"Kasus apa?"

"Penggelapan dana."

"Kamu melakukannya?"

"Tidak."

"Semua orang di penjara berkata begitu."

"Mungkin. Tapi tidak semua orang di penjara punya ayah yang memalsukan tanda tangan mereka."

Raka memejamkan mata sebentar. Bukan karena simpati, Alya yakin. Pria seperti dia tidak murah hati memberi simpati.

Dia sedang menghitung.

"Nama anak-anakmu?"

Alya menegang.

"Kenapa?"

"Kalau kamu ingin perjanjian, aku perlu tahu apa yang kamu cari."

"Mika dan Arkan."

Raka membuka mata lagi.

Ada sesuatu yang sangat halus bergerak di wajahnya, tetapi hilang sebelum Alya menangkapnya.

"Usia?"

"Lima tahun."

"Kembar?"

Kali ini Alya yang menatap tajam. "Bagaimana kamu tahu?"

"Kamu bilang dua anak. Usia sama. Aku tidak bodoh."

Jawaban itu masuk akal, tetapi Alya tetap waspada.

Dia tidak boleh membiarkan siapa pun memakai nama anaknya lagi.

"Aku akan membantu mencari mereka," kata Raka.

Alya tidak langsung percaya. "Syaratmu?"

"Selama tiga bulan, kamu tinggal di rumah ini sebagai istriku. Di depan keluarga, kamu tidak boleh mempermalukan Oma dan Mama. Kamu juga tidak boleh mendekati urusan perusahaan tanpa izinku."

"Aku tidak tertarik pada perusahaanmu."

"Semua orang berkata begitu sebelum mencoba mengambil sesuatu."

"Tuan Raka, aku bahkan tidak punya tenaga untuk mengambil sandalmu."

"Dan satu lagi."

Alya menunggu.

"Jangan menyentuh Mika."

Nama itu membuat dada Alya seperti ditusuk.

"Mika?"

"Anakku."

Udara di kamar berubah.

Alya mengira dia salah dengar. Jari-jarinya mencengkeram gulungan kain.

"Anakmu bernama Mika?"

"Mika Adiwangsa. Lima tahun."

Detak jantung Alya naik begitu cepat sampai telinganya berdenging.

Mika.

Usia lima tahun.

Nama yang sama.

Tapi tidak mungkin.

Nama Mika cukup umum. Usia lima tahun juga bisa kebetulan. Dunia tidak akan semudah itu memberinya jawaban setelah lima tahun menyiksa.

"Ibunya?" tanya Alya. Suaranya hampir tidak terdengar.

Raka menatapnya.

"Rania Prameswari."

Nama perempuan lain itu memukul Alya kembali ke tanah.

Rania.

Jadi anak itu bukan anaknya.

Atau mungkin justru di situlah kebohongannya dimulai.

Pintu kamar diketuk pelan.

Suara anak kecil terdengar dari luar.

"Papa? Oma bilang Papa bangun."

Tubuh Alya membeku.

Raka mengalihkan pandangan ke pintu. Untuk pertama kalinya, dingin di wajahnya retak sedikit.

"Masuk."

Pintu terbuka.

Seorang anak laki-laki kecil berdiri di sana memakai kemeja putih dan celana pendek. Wajahnya pucat karena baru menangis, tetapi matanya besar dan cerah.

Saat melihat Raka sadar, anak itu ingin berlari ke ranjang.

Namun langkahnya berhenti ketika melihat Alya.

Mata mereka bertemu.

Alya merasa dunia berhenti.

Anak itu menatapnya lama. Bibir kecilnya bergetar.

Lalu dia berlari.

Bukan ke Raka.

Ke Alya.

Tubuh kecil itu menabrak kakinya dan memeluknya erat.

"Mama..."

Alya tidak bisa bergerak.

Raka menatap mereka dari ranjang, wajahnya berubah gelap.

Anak itu mendongak, air mata langsung jatuh.

"Mama akhirnya pulang."

Alya ingin berkata jangan panggil aku begitu.

Tetapi kata itu tersangkut di tenggorokannya. Ada bagian dari dirinya yang terlalu lama lapar mendengar suara anak memanggilnya Mama. Bagian itu tidak peduli pada logika, Rania, atau tatapan curiga Raka.

Raka melihat tangan Alya yang gemetar di sisi tubuhnya.

Untuk pertama kalinya sejak sadar, dia tidak langsung menyerang dengan kata-kata.

Dia hanya menatap anaknya, lalu perempuan asing yang mungkin tidak seasing yang dia kira.

Episode 3

Bab 03

Alya pernah membayangkan banyak hal selama lima tahun di penjara.

Dia membayangkan Mika dan Arkan tumbuh tanpa mengenalnya. Dia membayangkan mereka membenci ibu yang tidak pernah ada. Dia membayangkan suatu hari dia berdiri di depan mereka, memperkenalkan diri sebagai orang asing, lalu ditolak.

Tetapi dia tidak pernah membayangkan seorang anak kecil akan memeluknya seerat ini dan memanggilnya Mama.

"Mama, jangan pergi lagi."

Suara Mika pecah di perut Alya.

Alya menunduk. Tangannya terangkat, berhenti di udara, lalu perlahan menyentuh rambut anak itu.

Lembut.

Hangat.

Nyata.

Dada Alya sakit.

"Mika," suara Raka terdengar dari ranjang, dingin dan berat. "Lepaskan dia."

Anak itu malah memeluk lebih erat.

"Tidak mau."

"Mika."

"Papa jangan galak. Mama baru pulang."

Alya menelan sesuatu yang pahit. Dia ingin berkata bahwa dia bukan mama anak ini. Dia ingin menjaga jarak, karena setiap detik memeluk Mika membuat luka lamanya terbuka.

Tetapi tubuh kecil itu gemetar.

Dan Alya tidak sanggup mendorongnya.

Raka menatapnya dengan mata penuh peringatan.

"Apa yang kamu lakukan padanya?"

Alya mengangkat wajah. "Aku berdiri."

"Kenapa dia memanggilmu Mama?"

"Tanya anakmu."

Mika mendongak, pipinya basah.

"Karena dia Mama."

Raka menarik napas, jelas menahan marah. "Ibumu Rania."

Wajah Mika langsung berubah. Dari sedih menjadi keras kepala.

"Bukan."

"Mika."

"Tante Rania bukan Mama. Dia tidak pernah memeluk Mika. Dia cuma datang kalau ada wartawan atau Oma."

Alya merasakan jari kecil Mika mencengkeram bajunya.

"Mama wanginya sama seperti di mimpi Mika."

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Alya ingin tertawa karena itu terdengar tidak masuk akal. Tetapi matanya panas.

Raka memandangnya makin tajam, seolah semua ini bagian dari rencana licik.

"Kamu sudah pernah bertemu anakku sebelumnya?"

"Tidak."

"Jangan bohong."

"Aku baru keluar dari lapas pagi ini. Kalau aku bisa bertemu anakmu dari balik tembok penjara, seharusnya aku jadi pesulap, bukan narapidana."

Mika menoleh ke Raka. "Papa jangan marahi Mama."

Raka memejamkan mata. Wajahnya pucat. Tenaga yang baru kembali jelas belum cukup untuk berdebat dengan anak berusia lima tahun.

Pintu kembali terbuka.

Nyonya Ratna masuk tergesa bersama Oma Ratna dan Pak Darman, kepala rumah tangga keluarga Adiwangsa. Melihat Mika memeluk Alya, Nyonya Ratna berhenti.

"Mika..."

Oma Ratna memandang adegan itu tanpa bicara. Mata tuanya menyipit, seperti sedang menyusun potongan puzzle.

"Dia memanggil Alya apa?" tanya Oma.

Pak Darman menjawab pelan, "Mama, Nyonya Besar."

Nyonya Ratna menutup mulutnya. Ada haru, takut, dan bingung di wajahnya.

Raka berkata, "Bawa Mika keluar."

Mika langsung menggeleng keras. "Tidak."

"Papa perlu istirahat."

"Mika bisa diam. Mika tidak ganggu."

"Mika."

Alya berjongkok perlahan. Anak itu masih tidak mau melepaskan bajunya.

"Mika," kata Alya, menahan suaranya agar tidak bergetar. "Papa kamu baru sadar. Dia harus diperiksa dokter dulu."

"Mama ikut?"

Kata itu hampir membuat Alya tidak bisa bernapas.

"Aku..." Alya berhenti sebentar. "Aku ada di rumah ini. Kamu bisa bertemu aku nanti."

"Janji?"

Alya tidak suka berjanji. Janji terlalu mudah dipakai orang dewasa untuk menenangkan anak kecil, lalu dilupakan.

Tetapi mata Mika menatapnya penuh harap.

"Janji."

Mika akhirnya melepaskan pelukan, tetapi hanya setelah Alya mengulurkan kelingkingnya. Dia mengaitkan kelingking kecilnya dengan kelingking Alya.

"Kalau Mama bohong, Mika marah."

"Boleh."

Pak Darman membawa Mika keluar. Anak itu menoleh tiga kali sebelum pintu tertutup.

Begitu Mika pergi, Raka langsung menatap Alya.

"Kamu dengar sendiri. Jangan memberi harapan palsu pada anakku."

Alya berdiri.

"Aku tidak memberi harapan. Aku hanya tidak tega melihat anak kecil menangis."

"Dia bukan anak kecil biasa."

"Semua anak kecil tetap anak kecil saat mereka takut."

Kalimat itu membuat Nyonya Ratna menatap Alya dengan mata basah.

Raka tidak luluh.

"Mulai sekarang, kamu tidak boleh berdua saja dengan Mika."

Alya tertawa tanpa suara.

"Aku baru menyelamatkanmu, sekarang kamu melarangku bernapas di rumah ini?"

"Aku tidak tahu siapa kamu."

"Aku juga tidak tahu siapa yang meracunimu. Tapi aku tidak menuduh semua orang di kamar ini pembunuh."

Oma Ratna mengetuk tongkat.

"Cukup."

Raka menoleh. "Oma, pernikahan ini harus dibatalkan."

"Tidak."

"Aku tidak pernah menyetujui."

"Kamu sedang koma."

"Itu bukan alasan."

Oma Ratna menatap cucunya dengan tenang. "Justru itu alasannya. Selama kamu koma, pamanmu hampir berhasil membuat dewan menyatakan kamu tidak mampu lagi memimpin. Mereka ingin mengambil hak suaramu. Dengan adanya istri sah, posisi rumah tanggamu stabil. Dengan kamu sadar hari ini, mereka gagal."

Alya mendengar semuanya diam-diam.

Jadi benar.

Pernikahan ini bukan hanya soal mistik keluarga atau nasihat orang pintar. Itu alasan untuk publik. Alasan sesungguhnya adalah warisan dan saham.

Raka mencibir lemah. "Jadi Oma memakai perempuan ini sebagai tameng."

"Oma memakai apa pun yang bisa menyelamatkanmu."

"Aku bukan barang."

"Kamu cucu Oma. Kadang lebih keras kepala dari barang."

Nyonya Ratna hampir tersenyum di tengah tangisnya.

Raka tidak.

"Aku ingin bicara dengan pengacara."

"Nanti. Sekarang kamu istirahat."

"Oma."

"Raka, kamu baru muntah darah hitam."

Alya menambahkan, "Dan masih ada racun di tubuhmu."

Semua orang menoleh.

Raka bertanya pelan, "Berapa lama?"

"Racunnya bukan dosis sekali. Ada yang memasukkan sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan. Tubuhmu bertahan karena kamu kuat. Tapi kalau dilanjutkan, kamu tidak akan bangun untuk kedua kalinya."

Nyonya Ratna terhuyung. Pak Darman cepat menahannya.

"Siapa..." suara Nyonya Ratna hampir hilang. "Siapa yang tega?"

Tidak ada yang menjawab.

Di rumah sebesar ini, terlalu banyak orang yang punya alasan.

Raka memandang Alya.

"Kamu bisa menyembuhkan?"

"Bisa menahan. Menyembuhkan butuh waktu, bahan, dan akses ke semua obat yang masuk ke tubuhmu."

"Kamu meminta akses?"

"Aku meminta kamu tetap hidup. Kalau itu terasa seperti ancaman, silakan mati dengan gaya."

Oma Ratna tiba-tiba tertawa pendek. "Aku suka mulutmu."

Raka jelas tidak.

"Mulut seperti itu biasanya membuat orang mati muda."

Alya menatapnya dingin. "Aku sudah lima tahun hidup di tempat yang penuh orang marah. Ancamanmu kurang baru."

Kali ini bahkan Nyonya Ratna terdiam.

Oma Ratna memberi keputusan. "Alya tinggal di sini. Pak Darman, siapkan kamar utama."

Raka langsung berkata, "Tidak."

Oma Ratna pura-pura tidak mendengar. "Mika sudah terlalu lama kekurangan kasih sayang. Kalau dia nyaman dengan Alya, biarkan."

"Oma, aku bilang tidak."

"Dan Oma bilang iya."

Raka menatap neneknya. Dua orang keras kepala itu saling diam.

Akhirnya Raka menoleh pada Alya.

"Kamu menikmati ini?"

"Tidak terlalu. Aku lebih suka makan."

Nyonya Ratna tersadar. "Astaga, kamu belum makan sejak keluar?"

Alya tidak menjawab.

Nyonya Ratna langsung memanggil asisten rumah tangga. "Bi Sari, siapkan makanan. Yang hangat. Bubur ayam, sup, apa saja."

Seorang perempuan paruh baya di luar pintu menjawab cepat.

Alya ingin menolak, tetapi perutnya berbunyi kecil.

Raka mendengarnya.

Sudut bibirnya bergerak samar.

"Istri mahal keluarga Adiwangsa ternyata kelaparan."

Alya menatapnya. "Suami mahal keluarga Adiwangsa bahkan belum bisa duduk."

Wajah Raka kembali gelap.

Oma Ratna tertawa lagi.

"Bagus. Rumah ini sudah terlalu lama sepi."

Raka memejamkan mata, mungkin menyesal sudah bangun.

Alya mundur satu langkah. Dia harus makan, mandi, lalu memikirkan langkah berikutnya. Mika di rumah ini berusia lima tahun dan memanggilnya Mama. Nama anak itu sama dengan anak pertamanya.

Kebetulan?

Dia tidak percaya kebetulan.

Saat keluar dari kamar, dia berpapasan dengan seorang perempuan muda yang baru tiba di lantai dua.

Perempuan itu cantik, memakai gaun krem, rambutnya tertata sempurna. Matanya merah seperti habis menangis, tetapi riasannya tidak rusak sedikit pun.

"Raka sudah sadar?" tanyanya panik.

Tidak ada yang menjawab.

Mata perempuan itu jatuh pada Alya.

"Kamu siapa?"

Sebelum Alya menjawab, Mika yang entah sejak kapan bersembunyi di ujung koridor berlari ke arahnya lagi.

"Mama!"

Perempuan cantik itu membeku.

Wajahnya berubah pucat.

Alya menatapnya.

Dia sudah tahu siapa perempuan itu.

Rania Prameswari.

Ibu yang diakui dunia sebagai ibu Mika.

Dan dari tatapan takutnya, Alya tahu satu hal.

Perempuan ini menyimpan rahasia.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!