(Dunia paralel, bukan dunia nyata, tidak ada nama tempat maupun negara sungguhan? Tolong jangan terlalu baper!)
…
Teriknya matahari di bulan Agustus ini sukses bikin hati bawaannya sumuk dan emosi.
Kabupaten Jatiroso.
Sebuah daerah pinggiran yang asyu, di mana gaji UMR warganya rata-rata mentok di enam sampai delapan jutaan, tapi harga rumah gila-gilaan nyekek leher sampai dua puluh empat juta per meter persegi.
Di dalam sebuah warung sayur dan buah yang tidak terlalu besar, Bima memaksakan senyum ramah sambil menyerahkan sekantong kresek berisi sayuran kepada seorang ibu-ibu paruh baya, "Ini sayurnya, Bu. Matur nuwun ya, monggo mampir lagi."
Begitu pelanggannya pergi, Bima langsung cemberut melihat beberapa lalat hijau yang berterbangan menyebalkan di sekitar dagangannya. Mau tak mau, ia meraih raket nyamuk dan mulai melakukan pengusiran.
Setelah peperangan sengit berdarah-darah, beberapa bangkai lalat sukses dieksekusi.
Bima kembali duduk ngedeprok di meja kasir. Ia meraih ponselnya dan membuka sebuah game jadul bernuansa nostalgia yang baru saja dirilis ulang, Harvest Moon.
Ini adalah game simulasi bercocok tanam dengan tingkat kebebasan yang tinggi dan tidak butuh otak mikir keras. Cocok banget buat kaum penunggu warung sepertinya untuk membunuh waktu.
Sudah setahun sejak ia lulus kuliah, tapi hidupnya masih luntang-lantung begini. Sarjana Manajemen Pariwisata, eh ujung-ujungnya malah jadi juragan sayur dan buah. Yah, realita emang sering kali nggak ngasih kita banyak pilihan.
Keluarganya selama tiga generasi ke atas murni berasal dari kelas ekonomi kere. Beberapa tahun lalu, kakeknya jatuh sakit, dan sebelum mendiang kakeknya berpulang, bapaknyalah yang banting tulang dari subuh sampai larut malam ngurus warung buah ini demi nutup biaya berobat dan perut keluarga.
Tapi Gusti Allah sepertinya lagi ngajak bercanda keluarganya. Tak lama setelah sang kakek meninggal, bapaknya juga tumbang. Tubuhnya yang terus-terusan diforsir akhirnya didiagnosis terkena kanker.
Ibunya nyaris tidak bisa bertahan hanya dengan mengandalkan warung kecil ini. Meskipun mereka sudah sampai jual rumah dan menebalkan muka pinjam uang sana-sini sampai berutang ratusan juta rupiah, nyawa bapaknya tetap tak bisa diselamatkan.
Karena terlalu lelah dan banyak pikiran, tubuh ibunya pun ikut-ikutan drop. Hasil pemeriksaan medisnya kurang bagus, sehingga beliau butuh orang untuk merawatnya di rumah.
Itulah kenapa, setelah lulus kuliah, meski Bima sebenarnya punya kesempatan emas buat kerja di sebuah perusahaan besar, ia terpaksa harus pulang kampung demi merawat ibunya, sekaligus mewarisi warung buah gurem ini... dan tumpukan utang keluarganya.
Kalau orang-orang di luar sana bilang titik start kehidupan mereka dimulai dari nol, maka Bima mulainya dari minus ratusan juta.
Hidup emang jian nggak ada adil-adilnya.
Bukannya dia tak pernah kepikiran buat cari kerjaan sampingan sambil jaga warung. Tapi buat ukuran tamatan baru sepertinya, boro-boro modal, pengalaman kerja keras di lapangan aja masih nol putul.
Mengandalkan pendapatan dari warung ini saja sudah bikin napas ngos-ngosan. Harus dipotong biaya operasional, uang nutrisi untuk pengobatan ibunya, ditambah cicilan utang tiap bulan. Saldo di rekening Bima sekarang malah nggak sampai sembilan juta perak.
Jangankan sakit parah, dia bahkan nggak punya hak finansial buat sekadar flu dan pergi ke klinik.
Toh, dia sadar diri. Dia bukan seleb TikTok yang bisa pamer jualan di lapak buah ukuran 30 meter persegi tapi ngaku-ngaku omzetnya tembus puluhan sampai ratusan juta sebulan. Ah, aplikasi ajaib, di mana semua user-nya kelihatannya punya duit miliaran.
Selama ibunya belum sembuh total dan masih butuh perawatan, raga Bima benar-benar terjebak di warung kecil ini hanya sekadar untuk menyambung napas.
Bima mendesah berat. Jari-jarinya kembali mengontrol karakter di dalam layarnya untuk keluar rumah. Di hadapannya kini terpampang 6 petak tanah yang sudah ditanami bibit semangka. Karena dia baru saja mulai main, tanah yang terbuka baru 6 petak itu saja.
Cabut rumput liar, siram air!
Setelah menunggu beberapa saat, 6 petak semangka itu bergantian memunculkan notifikasi panen. Arus waktu di dalam game ini memang beda. Semangka yang di dunia nyata butuh berbulan-bulan untuk panen, di game ini belasan jam saja sudah matang siap petik.
Setiap satu petak tanah biasanya bisa menghasilkan sekitar 15 sampai 20 buah semangka.
Bima baru saja mau menyuruh karakter utamanya memetik semangka tersebut ketika tiba-tiba, sebuah arus listrik melonjak liar dari ponselnya dan seketika membuat seluruh tubuhnya mati rasa kesetrum.
Bocor listrik?!
Refleks, Bima ingin mengumpat kasar.
Asu! Hapenya ini kan bukan merek Samsung, masa bocor listrik sedikit aja setrumannya ngalah-ngalahin gardu PLN?!
"Ding! Jalur permainan khusus diaktifkan. Mengunci game 《Harvest Moon》, harap tunggu sebentar..."
"???" Bima menepuk-nepuk kepalanya pusing.
Kesetrum begini apa bisa bikin halusinasi segala?
"Ding! Jalur permainan khusus berhasil ditautkan. Telah menautkan game 《Harvest Moon》. Apakah Host ingin masuk ke dalam permainan untuk pertama kalinya?"
Tiba-tiba, sebuah pemandangan visual yang sangat surealis terproyeksi di dalam kepala Bima. Itu adalah sebuah lahan peternakan, dan di atas 6 petak tanahnya tergeletak semangka-semangka matang yang montok.
Lho, ini kan visual game Harvest Moon?!
Karakter gamenya bahkan masih berdiri bengong di depan ladang semangka, tepat di posisi saat ia memerintahkannya untuk memanen tadi.
Yang lebih sinting lagi, begitu Bima menggerakkan pikirannya, karakter game itu langsung maju dan memetik satu buah semangka sungguhan!
Gila, jadi dia sekarang bisa main game cuma pakai niat dari dalam otak?
Tak lama setelahnya, Bima menyadari ada sebuah pop-up pilihan khusus yang mengambang di atas visual tersebut: Apakah Anda ingin masuk?!
"Masuk!"
Teringat pada notifikasi sistem barusan, Bima yang masih tak percaya memutuskan untuk nekat mengiyakan pilihan tersebut.
Sensasi sedotan gravitasi yang sangat aneh tiba-tiba menarik tubuhnya. Dalam sekejap mata, pemandangan di sekelilingnya berubah drastis.
Kini, matanya disuguhi hamparan ladang semangka hijau yang luasnya bukan main.
Udara di sekitarnya menguar dengan aroma manis khas semangka yang menyegarkan. Dan yang paling gila... kedua tangannya kini sedang mendekap sebuah semangka bulat yang berat. Ia seolah-olah telah menggantikan posisi karakter game tersebut secara fisik!
"Ini... bukan halusinasi, kan?" Bima bergumam tak percaya. Tekstur semangka di tangannya ini kelewat nyata. Bahkan, ada kotak informasi transparan yang melayang di atas buah tersebut:
【Semangka Tanpa Biji: Kualitas 1】
【Catatan: Meski bukan jenis bibit semangka spesial, namun karena ini adalah produk dari dalam game, tingkat kelezatannya adalah yang terbaik di antara semangka biasa. Lezat +1, Manis +1, Tekstur +1.】
Buah-buahan yang ditanam di Harvest Moon versi ini rupanya punya sistem pembagian kualitas. Semakin tinggi angkanya, makin enak rasanya, dan harga jualnya otomatis makin mahal.
Tapi anehnya, catatan atribut yang muncul ini beda dari yang di layar HP-nya tadi. Kok bisa ada buff atribut tambahan segala?
Bima menaruh semangka di tangannya dan memetik beberapa buah lagi. Hasilnya sama persis. Informasi yang sama muncul melayang, dan semuanya punya keterangan Lezat +1, Manis +1.
Bima lalu memutar pandangannya ke sekeliling. Bangunan kincir angin raksasa, gudang silo penyimpanan, pagar kayu pembatas...
Segala sesuatunya sama persis dengan yang ada di visual game!
Satu-satunya perbedaan hanyalah skala tanah di depannya yang jauh, jauh lebih luas, membentang penuh dengan ladang semangka. Ini bukan lagi kotak-kotak piksel sempit kayak di game. Bahkan hasil panennya ditunjukkan pakai sistem hitungan angka nyata.
Lebih lanjut, saat ia melirik jam di ponselnya, arus waktu setelah ia masuk ke mari ternyata kembali menjadi sinkron dan berjalan normal seperti di dunia nyata.
Tiba-tiba, Bima teringat sesuatu. Ia buru-buru memeriksa layar antarmuka di benaknya.
Duh, kalau dia nggak bisa balik ke dunia nyata gimana? Bisa-bisa ibunya jantungan nyariin dia!
Syukurlah, visual di kepalanya langsung berubah. Kali ini yang terlihat adalah kondisi di dalam warung buahnya. Dan pilihan yang muncul pun berganti: Apakah Anda ingin keluar?
Ternyata dia memang bisa keluar-masuk sesuka hati.
Bima membatin kata 'Keluar'. Sensasi tarikan gravitasi aneh itu muncul lagi, dan seketika ia sudah kembali berpijak di dalam warung buahnya masih dengan posisi memeluk sebiji semangka.
Demi memastikan tingkat kewarasannya, Bima mengambil sebilah pisau besar, menaruh semangka itu di atas talenan, dan langsung membelahnya jadi dua. Daging buah berwarna merah menyala langsung terekspos. Dan benar saja, tak ada sebutir pun biji hitam di dalamnya.
Ini beneran semangka asli!
Bima mengambil separuh potongan itu, membelahnya lagi jadi beberapa irisan memanjang. Dia mengambil sepotong, berniat untuk langsung mencicipinya. Tapi entah kenapa ia mendadak ragu. Takutnya buah gaib ini mengandung racun atau semacamnya, kan? Bagaimanapun asal-usul semangka ini kelewat di luar nalar.
Bima berjalan ke depan warung. Di dekat tong sampah pasar, terlihat seekor anjing jalanan berbulu hitam dekil sedang mondar-mandir mengais sisa makanan.
Lantaran lokasi ini adalah jalanan pasar, mencari sisa makanan memang hal yang gampang, makanya sering banget ada anjing liar berkeliaran. Kalaupun dinas terkait turun tangan dan menangkap satu ekor, beberapa waktu kemudian pasti ada saja anjing liar baru yang datang menggantikan.
Yah, mau bagaimana lagi. Salahkan saja orang-orang kemaki yang pengen gaya-gayaan pelihara anjing tapi pas bokek malah menelantarkannya.
Bima langsung melempar sepotong semangka itu ke arah si anjing hitam. Anjing itu sigap melompat, menahan semangkanya dengan cakar, celingak-celinguk waspada sebentar, baru kemudian menunduk dan melahapnya dengan rakus.
Setelah menunggu beberapa menit dan memastikan anjing hitam itu tak tiba-tiba kejang atau mati busa, barulah Bima berani mengambil satu irisan lagi dan menggigitnya sendiri.
Kres!
Satu gigitan, dan kedua mata Bima langsung berbinar-binar.
Dia akhirnya paham betul apa maksud dari 'Catatan Atribut' di semangka tadi.
Manisnya bukan main! Lezat, juicy, airnya luber di mulut, tingkat gulanya luar biasa tinggi, dan teksturnya sangat renyah menyegarkan.
Kualitas semangka ini benar-benar jauh, jauh melampaui stok semangka supplier yang biasa ia kulak tiap hari!
Jadi, ini efek dari atribut Lezat +1, Manis +1, Tekstur +1 itu?!
Sebagai orang yang tiap hari bergelut di bidang buah, Bima tahu betul kalau semangka dengan kualitas dewa begini peluang ketemunya paling cuma satu banding seratus buah di pasaran. Sedangkan di dalam game sana, semuanya punya standar yang sama rata!
Setelah satu irisan ludes tak bersisa, Bima yang masih ngiler langsung menyikat irisan kedua dengan kalap.
Jujur saja, margin keuntungan jualan semangka itu tipis banget. Walaupun harga jual eceran di pasar sekarang naik jadi Rp 8.000 per kilogram, tapi setelah dipotong modal dari petani, biaya kuli, ongkos angkut, sampai mark-up agen tengkulak... warung kecil kayak miliknya ini mentok-mentok cuma dapat harga grosir Rp 6.000 per kilonya. Untungnya mepet banget.
Tapi... bagaimana kalau dia dapat pasokan semangka tanpa keluar modal sepeser pun? Berapa pun yang laku terjual, seratus persen duitnya masuk ke kantong sebagai untung bersih, kan?!
Begitu teringat akan hamparan ladang semangka luas di dalam ladangnya tadi, mata Bima bersinar makin terang, nyaris membentuk simbol mata uang.
Anggap satu semangka beratnya 5 kilogram. Kalau sekilo dijual Rp 8.000, harganya jadi Rp 40.000 per buah. Sepuluh buah berarti Rp 400.000 untung bersih!
Kalau dalam sehari dia bisa jual 20 buah saja, sebulan dia bisa mengantongi dua puluh empat juta rupiah! Gila, nominal ini jauh lebih besar dari penghasilannya jaga warung sebulan penuh sampai tipus.
Di ladang gamenya tadi, pastinya ada ratusan buah semangka yang siap panen. Dan yang paling penting, tanah di game tersebut bisa ditanami bibit baru terus-menerus. Semangka yang normalnya butuh waktu lama, cuma butuh belasan jam untuk matang di sana!
"Guk! Guk!"
Saat Bima sedang asyik melamun hitung-hitungan cuan, suara gonggongan anjing tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Anjing hitam dekil tadi ternyata sudah nongkrong manis di depan pintu warung, menatap lapar ke arah sisa kulit semangka di tangan Bima.
Wah, nih anjing dikasih hati minta ampela rupanya?
Tapi karena suasana hati Bima sedang sangat bagus, ia mengambil satu irisan lagi dan melemparnya ke arah anjing tersebut. Setelah itu, ia berbalik dan menutup rolling door warungnya rapat-rapat.
Dengan begini, orang dari luar tidak akan bisa mengintip apa yang ia lakukan di dalam.
Bima mengambil sebuah keranjang bambu besar yang biasa ia pakai buat kulakan, lalu memusatkan pikirannya. Detik berikutnya, ia kembali masuk ke dalam area peternakan.
Hamparan semangka hijau kembali memenuhi indra penglihatannya. Bima tak mau buang-buang waktu. Ia memungut semangka-semangka besar itu dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Setelah memasukkan 15 buah semangka hingga keranjang bambunya penuh sesak, ia mencengkeram gagang keranjang itu dan kembali ke alam nyata.
Melihat keranjang yang penuh dengan semangka premium di depannya, wajah Bima memerah kegirangan.
Sumpah, dia bakal kaya mendadak!
Bima melirik lagi ke layar antarmuka di benaknya. Di dalam visual game, stok semangka di salah satu petak tanah sudah berubah jadi angka 0. Sulur-sulur pohonnya tampak layu mengering, dan sistem memunculkan notifikasi bahwa lahan itu sudah bisa dibersihkan untuk ditanami bibit baru.
Rupanya, sistem cocok tanam di game ini hanya mengizinkan satu kali panen untuk tiap bibit. Beda dengan dunia nyata di mana pohon semangka yang habis dipetik terkadang masih bisa berbuah lagi.
Melihat notifikasi tersebut, otak Bima langsung jalan. Lewat interface di benaknya, ia segera memerintahkan karakter utamanya untuk memanen sisa petak tanah yang belum dipetik.
Hanya dalam sekejap mata, seluruh petak tanah di layar sudah selesai dipanen.
Bima kembali masuk ke dalam game. Benar saja, petak-petak lahan di sana sudah bersih dari semangka matang, hanya menyisakan batang dan daun layu yang meranggas.
Ia segera berjalan menuju bangunan gudang penyimpanan di samping rumah kayunya. Begitu pintu dibuka, ia mendapati ratusan semangka sudah tersusun rapi di sana.
Lah, kalau begitu mending dia langsung bawa masuk keranjangnya ke mari dong buat loading? Ngapain tadi dia sok rajin repot-repot metik manual di luar?
Di depan tumpukan semangka tersebut, tertancap sebuah papan informasi kayu.
Semangka Tanpa Biji: 90 Buah (Kualitas 1).
Artinya, gundukan di depannya ini berisi 90 buah semangka premium! Dilihat dari diameternya yang jumbo, bobot per buahnya pasti tak kurang dari 5 kilo. Tumpukan ini nilainya jelas di atas tiga setengah juta rupiah!
Satu jentikan niat di kepala, dan Bima sudah kembali ke warungnya. Ia membawa masuk keranjang bambu kosong itu lagi dan mengisinya sampai penuh.
Bima juga menyadari sebuah celah praktis: selama tangannya menempel pada keranjang tersebut dan dia berniat 'Keluar', maka satu keranjang penuh semangka itu akan otomatis ikut berteleportasi bersamanya ke warung dunia nyata.
Dengan metode itu, Bima bolak-balik selama beberapa saat untuk memindahkan seluruh isi gudang. Kini, pojokan warung buahnya sudah menggunung dipenuhi tumpukan semangka montok.
Ditambah dengan panen kloter pertamanya tadi, total keseluruhan semangka yang berhasil ia angkut adalah 105 buah.
Setelah urusan angkat-junjung selesai, Bima kembali mengecek layar antarmuka di benaknya. Visualnya kembali menyorot petak-petak lahan yang kini penuh dengan sulur layu, siap untuk dibabat dan ditanami bibit baru.
Ia segera mencabuti tanaman mati itu dan menaburkan bibit semangka yang baru.
Dengan begini, belasan jam lagi ia akan kembali panen semangka premium gratisan!
Nah, urusan produksi sudah beres. Masalah utamanya sekarang adalah... bagaimana cara menjual 105 buah semangka ini dengan cepat?
Bima kembali menggulung rolling door warungnya ke atas. Anjing hitam tadi ternyata masih betah meringkuk di teras. Hewan itu mendongak menatapnya sekilas, lalu kembali menjilati cakarnya dengan santai.
Nih anjing nggak punya niatan pergi apa?
Bima masa bodoh dengan anjing tersebut. Ia mulai menyusun keranjang semangka pertamanya ke rak pajangan depan warung. Ia melirik papan harganya yang bertuliskan: Rp 8.000 / Kg.
Itu adalah harga normal di pasaran saat ini. Masalahnya, dengan harga segitu, warung sepinya ini paling banter cuma bisa laku jual dua atau tiga buah semangka sehari.
Sambil memandangi tumpukan semangka gaib kualitas dewa miliknya, Bima memutuskan untuk mencoret papan harganya menjadi Rp 6.000 / Kg (Harga Grosir). Toh modalnya nol rupiah. Makin murah harganya, makin cepat muter duitnya.
Namun, realita lapangan rupanya tak semudah yang ia bayangkan. Hari sudah beranjak sore, tapi dagangannya baru terjual beberapa buah saja. Bukannya kualitas semangka Bima jelek, tapi karena lalu-lalang pelanggan yang masuk ke warungnya dan kebetulan sedang ngidam semangka memang cuma segelintir orang.
Bima menepuk jidatnya keras-keras. Edan, dia baru sadar kalau target pasarnya salah besar!
Mengingat harganya sudah diturunkan jadi harga tengkulak Rp 6.000 per kilo, buat apa dia repot-repot nungguin laku eceran di pinggir jalan begini?
Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp.
Ia langsung meluncur ke grup "Sedulur Bakul Buah Jatiroso".
Ini adalah grup kumpul-kumpul antar bos warung sayur dan buah di seluruh Kabupaten Jatiroso. Awalnya Bima juga tak tahu siapa admin iseng yang bikin grup ini. Katanya sih niat awalnya buat jaga kekompakan, memantau update harga pasar, dan saling berbagi info biar sesama pedagang nggak gampang dikadalin sama agen supplier.
Biasanya grup ini sepi kayak kuburan, kecuali pas lagi ada bapak-bapak kurang kerjaan yang doyan kirim gambar meme selamat pagi.
Bima langsung mengetik barisan pesan dan menekan tombol Send:
"Permisi sedulur-sedulur sekalian. Info penting, anak dari keponakannya paman kakek saya di kampung baru aja panen gede semangka tanpa biji. Kualitas dijamin mantap, super manis dan luber airnya. Dijual cepat harga grosir Rp 6.000/Kg. Siap antar sampai depan lapak masing-masing! Monggo buat bos-bos yang minat, silakan japri atau mampir dulu ke warung saya buat icip-icip."
Di Kabupaten Jatiroso, jalur kulakan semangka biasanya cuma ada dua. Yang pertama, pergi ke pasar induk grosir buah yang lokasinya ada di kawasan logistik ujung kabupaten, lumayan jauh jarak tempuhnya. Yang kedua, harus mau capek dikit blusukan ke desa-desa sekitar buat nebas langsung dari petani.
Jadi, dengan harga grosir yang sama-sama Rp 6.000 sekilo, tapi kualitas semangka jauh lebih enak dan free ongkir sampai depan warung, mustahil nggak ada yang mau beli.
Begitu pesan promo Bima terkirim, tiga orang di grup langsung nyahut.
"Oalah, ternyata Mas Bima."
"Mas Bima sekarang banting setir jadi agen grosir toh?"
"Wah, boleh lah aku ikut ngeramein."
Bima kenal betul dengan tiga orang yang membalas pesan itu. Kebetulan lapak mereka juga berada di sekitar jalanan pasar.
Melihat grup kembali sepi, Bima pun janjian dengan ketiganya untuk bertemu di warungnya.
Saat itu, Bima menyadari layar antarmuka game di benaknya memunculkan notifikasi. Bibit yang baru ditanamnya butuh disiram air untuk pertama kalinya.
Lewat kendali pikirannya, ia segera mengarahkan karakter gamenya masuk ke gudang perkakas, mengambil gembor air, mengisinya di tepi sungai, lalu menyiram seluruh bibit tersebut.
Tak lama berselang, ketiga orang dari grup WhatsApp tadi tiba dengan mengendarai motor masing-masing. Dua orang bapak-bapak, Pak Darjo dan Pak Hasan, serta satu ibu-ibu bernama Bu Ningsih.
Baru saja melangkah masuk, Darjo langsung nyerocos, "Bim, mana semangkamu? Coba liat!"
Bima menunjuk tumpukan semangka di lantai, "Pak Darjo, Pak Hasan, Bu Ningsih, monggo dicek dulu semangkanya."
Ketiganya langsung mendekat dan menginspeksi. Sebagai pemain lama di bisnis buah, mereka tentu tahu cara membedakan mana barang bagus dan mana barang abal-abal.
Corak garisnya tajam dan warnanya kontras... Tangkainya masih hijau segar, tanda baru dipetik. Pas ditepuk bunyinya nyaring memantul. Dilihat dari sudut mana pun, ini jelas semangka kualitas super.
"Kelihatannya mantap bener nih," puji Darjo sambil tersenyum. Pak Hasan dan Bu Ningsih ikut mengangguk setuju.
Tapi, zaman sekarang banyak tengkulak dan petani bodong yang suka main curang. Biar afdal, buahnya tetap harus dibelah buat dicicipi.
Bima tentu paham kode tersebut. Ia mempersilakan mereka, "Monggo, silakan pilih aja satu buat dibelah."
"Bim, yang ini aja!" Darjo menunjuk salah satu semangka secara acak.
Bima mengangguk. Ia mengangkat semangka itu dan langsung membelahnya jadi dua. Daging buah berwarna merah segar yang menggugah selera langsung terekspos.
Bima memotong semangka itu menjadi irisan-irisan kecil, lalu menawarkannya, "Pak Darjo, Pak Hasan, Bu Ningsih, monggo diicipi!"
Ketiganya tidak sungkan. Mereka masing-masing mengambil sepotong dan mulai melahapnya.
"Guk! Guk!"
Terdengar lagi suara gonggongan anjing hitam dekil tadi. Sepertinya ia melihat Bima sedang bagi-bagi semangka, makanya ia kembali nongkrong di depan pintu warung dengan langkah pelan penuh harap.
Asu, beneran ngelunjak nih anjing. Melihat tingkahnya, Bima dengan santai melempar satu irisan lagi ke arah anjing tersebut.
Anjing itu kalau kebanyakan makan semangka biasanya bakal mencret. Biarin aja dia ngerasain kejamnya dunia, biar tahu rasa kalau makanan ini nggak cocok buat perutnya dan kapok mampir ke mari lagi.
Berkat buff atribut Lezat +1, Manis +1, Tekstur +1, Darjo dan kawan-kawan baru mengunyah dua gigitan saja matanya sudah berbinar terang.
"Iki baru semangka jos! Rasanya jauh lebih mantap dibanding stokku yang kemarin-kemarin."
"Beneran, jian manis pol, airnya juga luber."
"Bim, kowe beneran mau ngirim free ongkir sampai warung?"
Ketiganya serempak menatap Bima. Semangka dengan visual menggoda dan rasa kualitas dewa ini harganya sama dengan harga tengkulak biasa, masih ditambah gratis ongkos kirim pula. Bener-bener nggak ada alasan buat nggak kulakan.
"Ya jelas dong, Pak. Pasti saya antar sampai depan lapak," jawab Bima meyakinkan.
Ketiga bos warung itu mengangguk mantap. Mereka langsung memutuskan untuk mengambil masing-masing 30 buah sebagai permulaan, menyisakan beberapa buah untuk stok warung Bima sendiri.
Jarak lapak mereka lumayan dekat. Bima juga tidak menagih uang muka (DP). Transaksi disepakati dengan sistem COD, bayar di tempat saat semangka tiba.
Bima sengaja repot-repot nawarin free ongkir murni demi menjaga rahasia. Memang warungnya tidak dipasangi CCTV, tapi jalanan pasar ini CCTV-nya ada di mana-mana.
Kalau dia terus-terusan ngeluarin ratusan semangka dari warung mungilnya ini secara gaib, sekali dua kali mungkin nggak masalah, tapi kalau keseringan pasti bakal memancing curiga. Gila aja, tiap hari nggak pernah kelihatan truk datang loading barang, tapi bisa terus-terusan jual semangka dalam partai besar? Kalau sampai ada yang kepo dan ngelapor, bisa berabe urusannya.
Makanya, ke depannya dia mutlak harus mencari markas yang lebih tersembunyi.
Setelah rombongan Darjo pamit undur diri, Bima melirik sekilas ke arah anjing hitam yang masih asyik mengunyah kulit semangka di luar. Ia masa bodoh, lalu menutup dan menggembok rolling door warungnya. Bima berjalan menuju area dalam parkiran pasar, menghampiri sebuah motor roda tiga niaga (Tossa) butut yang besi pegangannya sudah karatan parah. Dijual sejuta aja mungkin rongsokan pun nolak.
Tapi asal bannya nggak meledak, motor Tossa butut ini masih lumayan badak buat ngangkut muatan sampai satu ton.
Bima menyetir Tossa itu ke depan warungnya. Ia memindahkan seluruh pesanan semangka ke atas bak, mengunci kembali warungnya, lalu tancap gas mengantar pesanan Darjo dan kawan-kawan.
Lapak Darjo adalah yang paling dekat, sama-sama berada di jalanan pasar, cuma perlu melintasi beberapa blok. Nama lapaknya Warung Buah Darjo Jaya.
Darjo terlihat sedang mengobrol dengan seorang pria pembeli semangka di depan warungnya. Begitu melihat motor roda tiga Bima merapat, ia langsung menarik pria itu dan mempromosikan barangnya, "Mas Topik, sini liat semangka yang baru di-drop ini. Fresh dari kebun, kualitas sultan! Sini pilih satu, tak belahin buat tester."
"Boleh, Pak Darjo," angguk Mas Topik sambil mendekat ke bak motor dan mulai memilih-milih.
Darjo menjelaskan pada Bima, "Bim, Mas Topik ini tetangga atas ruko sekaligus pelanggan setiaku. Dia emang doyan banget makan semangka, sekali beli pasti borong banyak. Nanti hitungannya digabung aja."
"Siap, Pak," Bima mengangguk.
Mas Topik dengan cepat memungut satu semangka jumbo dari bak motor Bima dan menyerahkannya ke Darjo untuk ditimbang.
"Bim, ini beratnya 5,5 kilo." Sehabis menimbang, Darjo menaruhnya di talenan, membelahnya, dan memberikan seiris kecil kepada Mas Topik.
Karena sudah langganan, Mas Topik menerimanya tanpa sungkan dan langsung menggigitnya. Sedetik kemudian, ia berseru kaget, "Wah, Pak Darjo, iki beneran manis pol! Teksturnya juga krenyes-krenyes seger, jauh lebih enak dari semangka yang kemaren-kemaren! Harganya piro, Pak?"
Darjo tersenyum sumringah. "Harganya tetep sama kok, delapan ribu sekilo. Mau ambil berapa?"
"Kalau gitu aku ambil 4 buah aja deh, Pak. Nanti sampeyan minta tolong anterin ke atas ya," ucap Mas Topik sambil mencomot 4 buah semangka dari bak motor Bima untuk ditimbang. Keempat buah itu semuanya berukuran raksasa di atas 5 kilogram. Total beratnya mencapai 23,5 Kilogram.
Darjo menghitung, "23,5 kilo, jadinya Rp 188.000, Mas. Tolong ditandain dulu yang punya sampeyan, nanti kalau udah selo tak anter."
"Alah, nggak usah ditandain segala, aku percaya sama Sampeyan. Duitnya udah tak transfer pakai QRIS ya, Pak," Mas Topik melambaikan tangan sambil memamerkan bukti transfer di ponselnya.
Begitu tetangganya itu pergi, Darjo kembali menyapa Bima. "Bim, semangka dari kebun saudaramu ini bener-bener sakti. Mas Topik itu aslinya rewel banget lho kalau urusan rasa semangka."
Bima tentu saja ikut gembira. Ia mengambil keranjang bambu dari warung Darjo dan mulai mengangkut sisa pesanan. Darjo berhasil menjual 4 buah semangka, yang artinya ikut menyumbang pemasukan segar lebih dari seratus ribu rupiah ke kantong Bima.
Bima menurunkan sisa 26 buah semangka. Total berat 26 buah itu adalah 143,5 kg. Jika digabung dengan pesanan Mas Topik seberat 23,5 kg, total keseluruhannya mencapai 167 Kilogram. Dikalikan harga grosir Rp 6.000, tagihannya genap Rp 1.002.000.
Darjo dengan sigap mentransfer uang tersebut ke rekening Bima. Bima juga tak lupa menulis nota kuitansi untuk Darjo, mengingat dokumen ini penting untuk pelaporan pajak UMKM perorangan.
"Pak Darjo, kalau stoknya nipis langsung kabari aja ya. Saya pamit ngirim jatah ke Pak Hasan sama Bu Ningsih dulu," ucap Bima dengan senyum lebar hingga ke telinga. Satu transaksi ini saja profitnya sudah jauh melibas keuntungan warungnya seharian full!
Rute selanjutnya, Bima mengirimkan masing-masing 30 buah semangka ke lapak Hasan dan Bu Ningsih.
Timbangan di lapak Hasan menyentuh 180 Kg, menghasilkan tagihan Rp 1.080.000. Sementara di lapak Bu Ningsih tercatat 164 Kg, menghasilkan tagihan Rp 984.000. Jika ditotal dengan setoran Darjo tadi, 90 buah semangka ajaib ini sukses menyumbang cuan bersih sebesar Rp 3.066.000.
Setibanya di warungnya sendiri, Bima terheran-heran melihat anjing hitam itu masih asyik rebahan santai di teras. Sama sekali tidak ada tanda-tanda mencret atau sakit perut. Lah, kok bisa?
Menjelang matahari terbenam, sisa semangka yang ditinggal di warungnya berhasil laku eceran sebanyak 4 buah. Ditambah dengan penjualan eceran pagi tadi, laci kasir warungnya bertambah tebal dengan uang tunai sekitar Rp 350.000. Secara keseluruhan, total omzet bersih yang ia keruk dari semangka gaib hari ini nyaris menyentuh angka tiga setengah juta rupiah!
Bima mengepalkan tangan menahan keinginan untuk berteriak heboh. Kalau dia bisa konsisten meraup tiga setengah juta rupiah sehari, omzet bulanannya bakal tembus di atas seratus juta rupiah! Di kabupaten sekecil Jatiroso, ini jelas kasta penghasilan level sultan!
Di tengah euforianya, layar antarmuka di kepalanya tiba-tiba memunculkan tanda peringatan. Ladangnya mulai ditumbuhi rumput liar. Ia harus segera menyianginya sebelum bibit semangka barunya layu berebut nutrisi.
Setelah urusan bersih-bersih lahan gaibnya selesai, Bima melirik jam dinding. Langit sudah gelap gulita. Ia mengemasi barang-barangnya, menyisihkan beberapa sayuran sisa jualan untuk dibawa pulang, menarik rolling door, lalu berjalan ke area parkir untuk memacu Tossa bututnya pulang ke rumah.
Normalnya, setiap subuh ia harus memakai Tossa reyot ini untuk kulakan sayur di pasar induk. Tapi mulai besok, fungsi Tossa ini bakal di-upgrade eksklusif cuma buat ngangkut semangka gaibnya.
Dengan omzet jutaan per hari, jualan sayur eceran receh sudah nggak level lagi buat dipusingin. Tunggu beberapa minggu, tumpukan utang ratusan juta peninggalan ayahnya pasti lunas tanpa sisa.
Tossa Bima merapat di sebuah kompleks perumahan susun yang sudah terlihat kusam dimakan usia. Sejak rumah asli mereka terpaksa dijual, Bima dan ibunya menyewa unit dua kamar tidur sederhana yang harga sewanya paling bersahabat di sini.
Begitu melangkah masuk ke unit rusun di lantai 3, ia mendapati ibunya, Bu Laras, sedang sibuk menyiapkan makan malam.
Walaupun statusnya apartemen dua kamar, aslinya ukurannya sangat sempit karena cuma hasil sekat partisi triplek. Ditambah tumpukan kardus dan barang rongsok di sana-sini, suasananya terasa makin pengap dan suram. Yah, mau bagaimana lagi. Dengan kondisi ekonomi yang minus dan utang mencekik leher, tempat berteduh bocor pun sudah patut disyukuri.
"Ibu ki lho, kan Bima udah bilang ntar makanannya Bima aja yang masak pas pulang," tegur Bima lembut begitu masuk.
"Halah, fisik Ibu emang lagi gampang drop, tapi kan bukan berarti Ibu lumpuh. Wis, cepet cuci tangan terus makan!" balas Bu Laras ngeyel. Meski wajahnya pucat pasi, nada bicaranya tetap tak mau kalah. Sebagai wanita pekerja keras seumur hidup, disuruh nganggur duduk manis di rumah justru terasa seperti siksaan batin baginya.
"Iya, iya, Ibu..." Bima cuma bisa mendesah pasrah sambil memasukkan sisa sayuran bawaannya ke dalam kulkas.
Bu Laras menyodorkan sepiring nasi hangat pada putranya dan bertanya, "Gimana jualan di warung hari ini, Le? Rame?"
"Wah, jauh lebih gacor dari kemarin-kemarin, Bu. Dan ke depannya dijamin bakal makin gila lagi." Teringat mukjizat yang dialaminya seharian ini, nada bicara Bima memancarkan aura keyakinan yang luar biasa tebal.
Mendengar jawaban super optimis khas Bima, Bu Laras malah menghela napas panjang merana. "Bim... Ibu sama mendiang Bapakmu bener-bener minta maaf ya, Le. Liat temen-temen seumuranmu, mereka pada enak dibantuin orang tuanya modalin biaya nikah, DP KPR rumah... Lha kowe? Malah diwarisi utang bejibun sama Bapak-Ibumu."
"Ya Allah, Ibu ki ngomong apa to? Ibu sama Bapak udah ngelahirin Bima utuh tanpa cacat, ngerawat sampai gede, terus nyekolahin Bima sampai sarjana. Itu aja udah utang budi yang nggak bakal bisa Bima bayar seumur idup!" Bima tak pernah sedikit pun menaruh dendam pada orang tuanya. Dibesarkan dengan limpahan kasih sayang penuh, itu jauh lebih berharga dibanding warisan harta miliaran bagi Bima.
Makin bijak Bima membalas, makin hancur perasaan Bu Laras merasa gagal jadi orang tua. Ia kembali mendesah pelan, "Bim, hubunganmu sama Dinda gimana? Kowe jangan pernah benci sama mertuamu lho, ya. Dinda itu anak wedok yang suangat baik. Orang tuanya juga udah mentok ngebantu kita... Mereka rela nggak minta uang mahar seserahan, nggak minta dibeliin mobil, murni cuma minta jaminan DP KPR rumah petak kecil aja buat kalian tinggal berdua. Tapi gimanapun juga, uang segitu pun keluarga kita nggak sanggup ngeluarin. Ini murni murni salahnya kondisi kita."
"Jalanin aja dulu hubunganmu sama Dinda pelan-pelan. Nanti kalau fisik Ibu udah mendingan, biar Ibu yang jaga warung. Kowe cari kerja kantoran aja yang jenjang karirnya jelas. Kita banting tulang bareng-bareng demi ngumpulin duit DP rumah itu. Tapi ya... andaikan takdir berkata lain dan kowe gagal nikahin Dinda, kowe harus ikhlas, Le!"
Gerakan tangan Bima yang sedang menyendok nasi seketika terhenti mengambang di udara.
Sosok Dinda Saraswati memang kelewat perfect di matanya. Mereka dulu satu angkatan di SMA, beda kelas bersebelahan. Lucunya, selama tiga tahun pakai seragam putih abu-abu, mereka mentok cuma tatap-tatapan pas papasan di lorong tanpa pernah nyapa sekalipun. Eh, takdir malah menyatukan mereka karena sama-sama keterima di kampus negeri yang sama, lalu duduk berdampingan di gerbong kereta yang sama saat merantau. Dari obrolan canggung di kereta itulah, benih-benih asmara mulai mekar. Fix, jalur jodoh emang misterius.
Dan jujur, Bima sadar seribu persen kalau dia nggak punya hak buat marah sama orang tua Dinda. Di zaman realistis sekarang ini, orang tua mana coba yang ikhlas ngelepas putri kesayangannya dinikahi sama cowok kere nggak punya mobil, rumah ngontrak, plus digelayuti utang ratusan juta? Kalau posisinya dibalik, Bima sendiri juga bakal nabok cowok macem itu.
Apalagi calon mertuanya itu aslinya udah sangat pengertian. Bebas mahar fantastis, bebas tuntutan roda empat, dan mentok cuma minta jaminan DP rumah KPR tipe 36 doang biar putrinya nggak luntang-lantung ngontrak. Syarat itu jauh, jauh lebih manusiawi dibanding mertua-mertua di luar sana yang matrenya naudzubillah. Kalau syarat sepele itu aja nggak bisa dipenuhi, ya itu mutlak aib pihak cowok. Kalau maksa komplain, namanya nggak tahu diri.
“Ibu tenang aja, rumah KPR itu pasti kebeli bentar lagi. Dinda juga pasti resmi jadi mantunya Ibu.”
Bima tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut.
Ia menyelesaikan makannya lebih cepat dari biasanya, lalu berdiri tanpa banyak bicara. Ibunya hanya mengangguk, tidak menyadari bahwa kalimat barusan… bukan sekadar janji.
Pintu kamar tertutup.
Kunci diputar.
Sunyi.
Bima membuka lemari, menggeser tumpukan pakaian, lalu menarik keluar sebuah map cokelat yang disembunyikan di bagian paling dalam.
Tangannya berhenti sejenak sebelum membuka isinya.
Seolah masih berharap… semuanya tidak nyata.
Dua buku nikah.
Merah dan hijau.
Nama Suami: Bima Saputra
Nama Istri: Dinda Saraswati
Cap resmi dari Kantor Urusan Agama tertera jelas. Tanda tangan. Nomor register. Tidak ada celah untuk menyangkal.
Pernikahan itu sah.
Sepenuhnya sah.
Dan justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.
Ayah Dinda tidak pernah benar-benar menolak.
Pria itu hanya diam lama saat Bima datang, duduk berhadapan di ruang tamu dengan tangan dingin dan suara yang hampir gemetar.
“Aku serius, Om. Aku mau tanggung jawab.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup.
Ayah Dinda menghela napas panjang, lalu berkata pelan, “Asal kamu berani nikahin dia secara benar… saya jadi walinya.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada restu hangat.
Hanya izin yang diberikan… dengan berat hati.
Yang tidak pernah mereka dapatkan—
adalah restu ibunya.
“Ibu nggak akan pernah setuju,” bisik Dinda malam itu, suaranya bergetar. “Kalau Ibu tahu, semuanya bakal hancur sebelum mulai.”
Dan untuk pertama kalinya, Bima melihat sesuatu di mata Dinda.
Bukan sekadar cinta.
Tapi ketakutan… yang hampir berubah jadi nekat.
Mereka tetap menjalani proses di Kantor Urusan Agama seperti pasangan lain.
Daftar.
Verifikasi.
Menunggu hari akad.
Hari itu datang tanpa kemeriahan.
Tanpa keluarga besar.
Tanpa ibu dari pihak mempelai wanita.
Ayah Dinda hadir.
Duduk kaku.
Tatapannya berat saat mengucapkan ijab, seolah setiap kata yang keluar adalah beban yang harus ia tanggung sendiri.
Bima menjawab dengan suara mantap.
Sah.
Dalam satu tarikan napas status mereka berubah.
Setelah itu, semuanya kembali… seperti tidak terjadi apa-apa.
Dinda pulang ke rumahnya.
Bima kembali ke rumahnya.
Dan dunia tetap berjalan seolah mereka belum terikat apa-apa.
Hanya saja
sekarang ada sesuatu yang harus disembunyikan dari satu orang.
Orang yang paling tidak boleh tahu.
Bima menutup buku nikah itu perlahan.
Ia teringat tatapan ayah Dinda hari itu.
Bukan marah.
Bukan juga sepenuhnya ikhlas.
Lebih seperti… seseorang yang tahu ia baru saja mengkhianati rumahnya sendiri, demi anak yang tidak ingin ia kehilangan.
Dan ibu Dinda?
Jika wanita itu tahu—
ini bukan sekadar kemarahan.
Ini bisa jadi akhir dari segalanya.
Bima menyandarkan punggung ke lemari.
Matanya terpejam.
Untuk pertama kalinya sejak hari itu, ia benar-benar merasa—
mereka tidak sedang menyembunyikan hubungan.
Mereka sedang menunda… ledakan.
Di tengah lamunan melankolisnya, layar sistem di kepalanya tiba-tiba berkedip memberi sinyal. Bima buru-buru menaruh kembali map cokelat tersebut, mengunci lemari, lalu memfokuskan pandangannya ke dalam layar antarmuka.
Di petak ladang tersebut, bibit-bibit semangka sudah menjalar membentuk sulur lebat. Besok pagi pasti sudah matang dan siap panen. Tapi sialnya, di antara dedaunan rimbun itu muncul ulat-ulat hama yang berkedip menyebalkan. Hama ini harus segera dibasmi, kalau tidak durasi panennya bakal molor dan jumlah produksinya bisa kena nerf.
Hanya dengan menjentikkan niat di otak, Bima mengendalikan karakternya untuk mengeluarkan jaring serangga kecil dan membasmi hama ulat tersebut satu per satu.
Setelah membersihkan hama-hama yang menempel manja di sulur-sulur semangkanya, Bima kembali mengalihkan pandangan ke area lahan lain di dalam peternakannya.
Saat ini, 6 petak tanah yang dimilikinya mampu menghasilkan 105 buah semangka. Tapi area peternakan di dalam game ini tentu saja tidak sebatas 6 petak itu saja. Kalau dia bisa membuka lahan baru, otomatis dia bisa menanam lebih banyak semangka lagi.
Dalam setting game Harvest Moon versi ini, total keseluruhan lahan tanam yang tersedia berjumlah 100 petak. Sayangnya, lahan-lahan tersebut masih tertutup oleh rimbunnya rumput liar, bongkahan batu, batang kayu, hingga tunggul pohon... sehingga belum bisa digunakan untuk bercocok tanam.
Selain itu, karena adanya sistem batasan level karakter, beberapa lahan masih terkunci dan berwarna abu-abu kusam.
Peraturannya cukup simple: selama karakter pemain terus melakukan aktivitas bertani, levelnya akan berangsur naik dan membuka lahan baru. Pemain cuma perlu membersihkan rumput liar dan batu-batu sialan itu, lalu mencangkul tanahnya untuk menjadikannya lahan siap tanam.
Yang paling keren, seiring dengan naiknya level karakter, lahan tanah juga bisa di-upgrade untuk menanam bibit tanaman yang lebih premium, bahkan membuka fitur-fitur baru yang belum terungkap.
Melihat masih ada lahan yang bisa digarap, Bima segera mengendalikan karakternya menuju gudang peralatan. Mengambil berbagai alat yang diperlukan, ia mulai mengeksekusi rumput liar, kayu, dan bebatuan di lahan yang sudah unlocked. Setelah berjibaku beberapa saat, 6 petak tanah baru sukses dibuka, dan bibit-bibit semangka pun langsung ditebar.
Besok siang, 6 petak lahan baru ini mestinya sudah siap panen. Itu berarti tambahan seratusan buah semangka lagi!
Bima tidak lanjut membuka sisa lahan. Sebagai gantinya, ia meraih ponsel dan mulai asyik scroll situs web sewa properti lokal untuk mencari info penyewaan gudang.
Bima itu orangnya waspada pol. Di tengah kota yang padat, tidak peduli di pojokan mana pun dia bolak-balik mengeluarkan ratusan semangka dari alam gaib, pasti cepat atau lambat bakal mengundang kecurigaan tetangga. Sekalipun dia mencari lahan kosong di pinggiran yang sepi, risiko kepergok orang saat proses 'loading' semangka tetap saja besar. Ujung-ujungnya cuma nambah beban pikiran.
Makanya, dia wajib menyewa sebuah gudang tertutup. Lokasinya harus terpencil dan jauh dari keramaian warga.
Dengan begitu, dia tinggal mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam, lalu voila, dia bisa menumpahkan semangka dari dalam game tanpa ada yang tahu.
Informasi gudang disewakan di situs properti memang bertebaran, dan setelah scrolling sampai jempol keriting, Bima akhirnya menemukan satu yang paling pas di hati.
Lokasinya ada di pinggiran asri Kabupaten Jatiroso. Dulu, tempat itu adalah sebuah peternakan babi besar yang punya bangunan gudang khusus untuk menyimpan pakan rumput babi. Akses jalannya bahkan sudah dicor khusus, dan di hari biasa, nyaris tidak ada manusia yang sudi lewat sana.
Sayangnya, bisnis peternakan itu risikonya tinggi. Peternakan babi tersebut gulung tikar gara-gara dihantam wabah flu babi. Sekarang, eks-gudang pakan itu malah disewakan. Harga sewanya cukup miring, cuma Rp 4.000.000 sebulan! Areanya luas, dan gila-nya lagi, si pemilik tidak minta uang deposit! Satu-satunya minus hanyalah lokasinya yang terlalu mblusuk ke pelosok, makanya iklannya sudah mejeng lama tapi tak kunjung laku.
Tapi buat Bima, tempat ini perfect banget!
…
Keesokan harinya.
Begitu melek di pagi hari, Bima langsung memfokuskan pikirannya ke visual game di dalam benaknya.
Di 6 petak lahan pertamanya, semangka-semangka jumbo yang montok sudah berjejer rapi minta dipetik. Ia segera menggerakkan karakternya untuk memanen dan memasukkan buah-buah itu ke dalam gudang penyimpanan. Setelah itu, ia membabat habis sulur-sulur layunya dan kembali menanam bibit baru.
Di 6 petak lahan kedua yang baru dibuka kemarin, sulur-sulurnya sudah menjalar rimbun dan mulai memunculkan bakal buah semangka yang segar. Namun di sana juga mulai ditumbuhi rumput liar dan disatroni hama perusak.
Bima gercep memerintahkan karakternya untuk membersihkan hama dan rumput liar tersebut. Setelah sarapan seadanya, ia keluar rumah, menghubungi pemilik gudang, dan janjian untuk ketemuan di lokasi.
Jarak menuju gudang tersebut butuh waktu sekitar 10 menit lebih naik motor Tossa roda tiga miliknya. Lokasinya memang sangat terpencil, wajar kalau jarang ada orang awam yang kelayapan di daerah sini.
Bangunan gudangnya masih sangat kokoh dan terawat. Bahkan ada halaman kosong luas yang muat dipakai parkir sampai truk tronton sekalipun.
Halaman ini aslinya memang dipakai untuk area manuver truk pengangkut pakan babi.
Si pemilik adalah seorang bapak-bapak paruh baya dengan perut buncit tanda makmur. Setelah mengecek kondisi dan memastikan semuanya sesuai dengan iklan, Bima langsung tanda tangan kontrak sewa untuk 3 bulan ke depan.
Uang sewa Rp 12.000.000 pun melayang. Saldo di rekening Bima langsung sekarat berteriak minta tolong. Tapi santuy, duit segini mah bakal balik modal dalam sekejap mata.
Usai teken kontrak, Bima dan bapak buncit itu saling bertukar nomor WhatsApp. Urusan perpanjang sewa nanti tinggal ditransfer pakai m-banking saja.
Tak lama setelahnya, si pemilik pamit undur diri karena hapenya sedari tadi bunyi ditelepon bestie-nya untuk main gaple, meninggalkan Bima sendirian dengan kontrak di tangan.
Bima membuka gembok, menggeser pintu seng yang berat itu, lalu melangkah masuk. Bagian dalamnya kosong melompong, penuh sarang laba-laba, dan berdebu tebal.
Tapi karena Bima tidak butuh estetika yang Instagramable, ia tidak terlalu peduli. Ia cuma menyapu seadanya, lalu menurunkan beberapa keranjang rotan dari motor Tossanya ke dalam gudang. Klik. Pintu gudang dikunci rapat dari dalam.
Aman terkendali.
Satu niatan melintas di kepalanya, dan Bima beserta keranjang rotannya sudah masuk ke dalam alam game. Ia mulai memindahkan tumpukan semangka dari gudang penyimpanan game ke dalam keranjang.
Niat kembali muncul, dan keranjang yang sudah penuh semangka itu pun berteleportasi kembali ke dunia nyata.
Setelah bolak-balik beberapa kali menjadi kuli panggul lintas dimensi, total 106 buah semangka sudah menumpuk rapi di hadapannya. Semuanya berukuran super jumbo di atas 5 kilogram per buah, dan semuanya berstatus Kualitas 1.
Bima mengangkut semangka-semangka itu ke bak belakang Tossanya. Ia kemudian merogoh saku, merekam video tumpukan semangka montok itu, lalu mengirimkannya ke grup WhatsApp bos warung buah. Tak lupa ia menambahkan caption promo:
"Semangka tanpa biji bos! Manisnya pol, airnya lumer di mulut. Harga grosir Rp 6.000/Kg aja, siap antar sampai depan lapak sampeyan semua!"
Tak butuh waktu lama, pesannya langsung disambut oleh Darjo: "Wah, Bim, isuk-isuk wis kulakan ae kowe? Semangkamu emang jian jos gandos. Sing nyicipi pasti langsung beli. Tadi malem aja laku sepuluh lebih. Kowe kirim 20 buah lagi ke tempatku ya!"
"Bim, aku yo pesen 10 buah!" Hasan ikut nongol membalas.
"Aku tambah 20 buah ya, Le," sambung Bu Ningsih.
"Siap laksanakan! Sebentar lagi saya meluncur ke lapak Sampeyan bertiga," balas Bima dengan cepat.
Melihat semangka produksi game ini laku keras sama sekali bukan hal yang mengagetkan. Toh, kualitas rasa setiap buahnya memang menempati kasta tertinggi di jajaran semangka pada umumnya.
Grup WhatsApp mendadak ramai, beberapa pemilik warung buah yang silent reader mulai gatal ikut berkomentar.
"Mas Bima, beneran itu harga grosir udah free ongkir?"
"Mantap juga penampakan semangkanya. Boleh deh kirim sekalian ke lapakku."
"Aku ngambil 30 buah dulu buat tester."
"..."
Melihat tiga bos veteran macam Darjo dkk saja nekat repeat order berturut-turut tanpa repot-repot ngecek barang, pedagang lain pun merasa aman.
Toh pesanan mereka tidak terlalu banyak. Kalaupun Bima main curang, ruginya nggak seberapa. Tapi kalau barangnya beneran bagus, mereka malah untung tenaga karena dikirim langsung sampai tempat.
Bima mengetik balasan di grup: "Siap Bos-bosku! Sekarang saya mau ngirim pesanan Pak Darjo dan kawan-kawan dulu. Yang minat lagi, monggo langsung japri alamatnya ya, nanti saya kirim siang-siangan."
Setelah mematikan layar ponsel, ia melompat ke jok Tossa dan tancap gas kembali ke wilayah kota.
Tiba di jalanan pasar, ia langsung membagikan jatah untuk Darjo, Hasan, dan Bu Ningsih.
Pesanan Darjo: 20 buah, berat 115 Kg, tagihan Rp 690.000.
Pesanan Hasan: 10 buah, berat 57,5 Kg, tagihan Rp 345.000.
Pesanan Bu Ningsih: 20 buah, berat 122,5 Kg, tagihan Rp 735.000.
Cring! Uang tunai sebesar Rp 1.770.000 masuk mulus ke kantong Bima.
Usai drop barang ketiga orang itu, Bima mengecek WhatsApp-nya lagi. Sudah ada 6 chat japri dari bos warung yang minat order. Memang jumlahnya kecil-kecil, maklumlah rata-rata cuma UMKM kaki lima.
Setelah direkap, 4 warung pesan 10 buah, dan 2 warung pesan 20 buah.
Stok di bak Tossanya sekarang tinggal 55 buah. Bima memutuskan untuk menyetor ke 2 warung yang order 20 buah, dan 1 warung yang order 10 buah. Ia membalas pesan 3 warung sisanya, memohon pengertian mereka agar sabar menunggu pengiriman kloter siang nanti.
Tiga warung langganan barunya ini jaraknya lumayan jauh dari jalan raya pasar. Satu mangkal di depan sekolahan, dua sisanya ada di deretan jalan ruko sebelah selatan. Total pengiriman 55 buah semangka ini memiliki berat 316 Kg.
Cring! Tambahan Rp 1.896.000 sukses diamankan.
Artinya, dari omzet panen kloter pagi saja, Bima sudah meraup pemasukan sebesar Rp 3.666.000.
Dan yang paling bikin senyumnya makin lebar: nanti siang, bakal ada kloter panen yang siap dieksekusi lagi!
Dengan hati yang berbunga-bunga bagai habis gajian, Bima menyetir Tossanya yang sudah kosong melompong kembali ke warung buahnya. Begitu ia mengerek naik rolling door...
"Kaing! Kaing!"
Suara gonggongan manja yang sangat familiar kembali menyapanya.
Seekor anjing hitam dekil terlihat berlari antusias dari lorong seberang jalan, dan target lokasinya tak lain dan tak bukan adalah warungnya!
Bima langsung mendelik tajam ke arah si anjing hitam itu, lalu membentaknya pelan, "Hus, hus! Bubar!"
Jangkrik! Nih anjing niat mau ngekos gratis di mari apa gimana?!
Bukannya kicep dibentak, anjing hitam itu malah menyeringai lebar, menjulurkan lidahnya ngos-ngosan kegirangan, dan menambah kecepatan larinya. Dalam sekejap, ia sudah tiba di depan warung Bima. Tanpa rasa dosa sedikit pun, ia menjatuhkan perutnya ke lantai aspal, ngedeprok santai sambil asyik menjilati cakarnya sendiri.
Wah, dasar asu tenan...
Bima akhirnya menyerah dan memilih bodo amat menanggapi anjing tersebut. Ia kembali duduk ke kursi kasirnya, mengalihkan fokus ke visual antarmuka di benaknya, dan menekan tombol siram air untuk bibit semangka yang baru ditanamnya.
Menjelang jam makan siang, bunyi 'ding' notifikasi sistem kembali bergema di kepalanya. Enam petak lahan baru yang dibuka kemarin akhirnya matang sempurna! Bima secepat kilat memerintahkan karakternya untuk memanen seluruh buah, membersihkan sulurnya, dan menanam bibit yang baru.
Ia melirik jam di dinding. Tanggung kalau mau pulang ke rumah buat makan. Setelah menelepon ibunya sebentar, ia kembali menaiki Tossa bututnya dan melaju ke arah luar kota.
Tiba di gudang sewaan, ia langsung mengunci gembok dari dalam, lalu masuk ke dimensi game untuk memboyong seluruh semangka yang baru saja dipanennya.
Kloter kedua ini menghasilkan total 110 buah semangka semuanya Kualitas 1 pastinya.
Membawa muatan penuh ke arah kota, ia memprioritaskan sisa tiga warung yang gagal disuplai pagi tadi. Meski masing-masing cuma ambil 10 buah, total yang diturunkan ada 30 buah. Berat totalnya 160,5 Kg.
Cring! Pemasukan bertambah lagi Rp 963.000.
Jika ditotal sejak pertama kali dia bisa menyelinap masuk ke dalam game kemarin hingga detik ini, uang yang sudah berhasil dikantonginya menyentuh angka fantastis: Rp 8.035.000.
Cari duit udah berasa murni kayak mulung!
Begitu kembali memarkir motor di depan warungnya, cacing-cacing di perut Bima mulai demo menuntut jatah. Mumpung mood lagi bagus-bagusnya, Bima hedon dikit dengan pesan GoFood: Nasi rames topping barbar, lauknya dobel dua telur ceplok dan dua paha ayam!
Tak lama berselang, abang ojol datang membawa pahlawan kelaparannya. Bima langsung membuka bungkusan itu dan siap menyantapnya dengan kalap.
Aroma telurnya... gila, sedap bener. Aroma paha ayam gorengnya... beuh, nikmat abis!
"Kaing! Kaing!"
Baru juga suapan pertama masuk mulut, suara rengekan annoying itu kembali terdengar.
Anjing hitam itu kini duduk tegap di depan pintu, matanya melotot lurus mengunci target ke arah bungkusan nasi Bima. Begitu Bima menoleh, anjing itu otomatis nyengir kuda, menjulurkan lidah panjangnya dengan penuh harap.
Benar-benar wajah memelas ala pengemis jalanan profesional.
Wajah Bima langsung masam. Gila aja, nih anjing beneran fix mau numpang hidup apa?! Sekarang berani-beraninya minta jatah makan siangnya?!
Sebagai pria teguh pendirian, Bima menolak luluh. Ia terus mengunyah nasinya tanpa belas kasih.
"Kaing... kaing..." Volume rengekan si anjing perlahan mengecil. Nada suaranya mendadak dipenuhi getaran kekecewaan mendalam. Kepalanya tertunduk lesu. Sorot matanya yang basah persis mirip bocah TK yang menangis merana karena nggak dibelikan gulali.
"..." Bima yang melihat pemandangan teatrikal itu perlahan berhenti mengunyah. Matanya melirik sisa paha ayam berdaging tebal di tangannya. Entah kenapa tangannya mendadak kaku, nggak tega mau masukin ayam itu ke mulut. Sambil menggertakkan gigi kesal, ia akhirnya melempar ayam goreng lezat itu ke arah si anjing hitam.
Emang bener kata pepatah, cowok cool itu selalu kalah sama hati nuraninya yang kelewat soft.
Tapi sialnya, si anjing hitam itu seolah-olah memang sudah membaca gerak-geriknya! Kepala yang tadinya lemas menye-menye langsung tegak seketika bak dicolok listrik. Mulutnya sigap menangkap paha ayam itu di udara, lalu melahapnya dengan rakus sambil mengibaskan ekor bahagia.
"Jangkrik, pinter banget ganti topengnya!" Bima mengumpat sebal, merasa harga dirinya baru saja dipelorotin oleh strategi playing victim seekor anjing jalanan. Ia buru-buru menghabiskan sisa nasinya agar tak ada adegan pemalakan jilid dua.
Setelah kenyang dan kembali bertenaga, Bima merekam sisa 80 buah semangka di atas motornya, lalu memposting videonya lagi ke grup WhatsApp untuk memancing para buyer.
Kini saatnya ia kembali menatap visual game di kepalanya. Lahan semangkanya harus diperluas lebih gila lagi, karena makin banyak semangka yang ditanam, cuan yang mengalir bakal makin deras.
Saat ini, masih ada 12 petak lahan yang tersedia untuk di-unlock.
Ia mulai mengayunkan sabitnya untuk memangkas habis rumput-rumput liar yang menghalangi, lalu meraih kapaknya untuk membelah gelondongan kayu kering, dan diakhiri dengan hantaman palu besar untuk menghancurkan batu-batu raksasa. Setelah proses clearing selesai, cangkul pusaka pun mulai beraksi untuk merombak 12 lahan itu menjadi tanah gembur siap tanam.
Tepat di sela-sela aktivitas bertaninya, sebuah pesan WhatsApp baru masuk berdenting manis di layarnya: "Mas Bima, kenalin aku Tarjo, adiknya Darjo. Mas-ku bilang semangkamu top markotop kualitasnya. Bisa minta tolong dikirim 50 buah ke lapakku nggak?"
Mata Bima seketika berbinar terang.
Wah, ini dia kakapnya!
Begitu mengecek alamat lapak yang dikirimkan Tarjo Depan SMA Negeri 1 Jatiroso Bima langsung manggut-manggut paham. Semua orang seantero Jatiroso juga tahu, kalau mau buka warung tapi pengen omzetnya gila-gilaan, lapak incaran paling strategis ya di depan wilayah padat sekolahan SD, SMP, SMA! Apalagi ini di depan SMA Negeri 1 yang notabene sekolah paling elit di kabupaten.
Di musim kemarau sumuk begini, dagang semangka potong yang disajikan dingin pakai cup plastik bening dan tusuk sate, dijamin ludes diserbu anak-anak SMA. Apalagi kalau jam istirahat, satu murid kadang beli dua cup buat bekal makan di kelas.
Cara jualan begini margin keuntungannya jauh lebih barbar dibanding jualan utuhan kiloan!
Bima segera membalas pesan tersebut dengan penuh semangat. Ia menurunkan 30 buah semangka ke dalam warungnya sendiri untuk stok, dan sisa 50 buahnya langsung ia gas pol menuju lapak Tarjo.
Berat total 50 buah semangka jumbo itu mencapai 287,5 Kg.
Cring! Saldo Bima kembali disuntik dengan nominal segar Rp 1.724.000.
Begitu pantatnya kembali menempel di kursi kasir, Bima langsung menyelam ke dimensi visual gamenya. Tanpa ampun, 12 petak lahan yang sudah dibersihkannya tadi segera digarap dan ditaburi benih.
Hanya dalam satu hari singkat, pemasukannya sudah nyaris menembus angka sepuluh juta rupiah. Jalan ninjanya menuju kaya raya jelas bergantung sepenuhnya pada game ini!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!