Indonesia
NovelToon NovelToon

Tolong Sayangi Aku

Ruang Makan yang Membeku

Bagi kebanyakan orang, rumah adalah tempat untuk pulang, tempat di mana aroma masakan ibu dan tawa hangat menyambut di ambang pintu. Namun, bagi Aurora

Alandriana Tenggara, rumah adalah sebuah pengadilan tanpa akhir. Rumah megah bergaya modern kontemporer di kawasan elit itu berdiri kokoh dengan dinding-dinding marmer yang mahal, namun di dalamnya, udara selalu terasa seperti es yang menusuk tulang.

Pagi itu, meja makan kayu jati panjang di kediaman Tenggara sudah terisi penuh. Di kursi utama, Bramantyo Tenggara duduk dengan wibawa yang mengintimidasi, matanya tertuju pada tablet yang menampilkan grafik saham.

Di sisi kanan dan kiri, keempat putra mahkotanya duduk dengan angkuh. Eros, si sulung yang kaku; Gavin, si atletis yang temperamental; Juna, si genius yang pendiam; dan Arvin, si pemberontak dengan seragam sekolah yang berantakan.

Aurora masuk ke ruang makan dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Ia mengenakan seragam putih-biru barunya untuk hari pertama MPLS. Pita merah-putih terikat rapi di rambutnya yang lurus. Ia berhenti di ujung meja, menatap kursi kosong yang paling jauh dari ayahnya.

"Duduk," perintah Bramantyo tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari tabletnya. Suaranya berat, kering, dan tanpa emosi.

Aurora duduk dengan tangan gemetar. Ia hendak meraih teko susu, namun dentuman keras dari sendok yang diletakkan secara kasar oleh Gavin membuatnya tersentak.

"Kenapa dia harus ikut makan di sini, Pa?" tanya Gavin dengan nada jijik. "Selera makanku hilang setiap kali teringat siapa yang membuat Mama tidak bisa lagi duduk di kursi itu."

Kalimat itu adalah belati yang sudah biasa ditusukkan ke jantung Aurora, namun rasa sakitnya selalu terasa baru.

Enam belas tahun lalu, di hari Aurora menghirup napas pertamanya, sang ibu mengembuskan napas terakhirnya. Bagi keluarga ini, Aurora bukan sekadar adik atau anak; dia adalah pencuri.

"Gavin, jangan berisik saat makan," tegur Eros dingin, meski matanya juga memberikan tatapan tajam yang sama ke arah Aurora.

"Biarkan dia makan cepat, lalu pergi. Aku tidak mau dia merusak suasana pagi ini."

Arvin, yang duduk paling dekat dengan Aurora, tiba-tiba menggeser kakinya di bawah meja dan menendang kursi Aurora hingga gadis itu hampir terjungkal. Arvin menyeringai tipis, seolah rasa sakit Aurora

dalah hiburan baginya.

"Dengar, bocah," bisik Arvin, cukup keras untuk didengar semua orang. "Di sekolah nanti, jangan pernah berani menoleh kalau gue lewat. Kalau lo sampai berani menyapa gue di depan teman-teman gue, lo bakal tahu akibatnya."

Aurora hanya bisa menunduk dalam-dalam. Air matanya sudah menggenang, namun ia tahu menangis di meja makan ini adalah kesalahan fatal. Ia segera memakan rotinya dengan terburu-buru, hampir tersedak, sementara ayahnya tetap diam, seolah-olah Aurora hanyalah pajangan dinding yang tak bernyawa.

"Aku... aku berangkat dulu," bisik Aurora lirih. Ia menyambar tasnya dan berlari keluar menuju halte bus, karena ayahnya melarangnya ikut di mobil mewah mana pun milik kakak-kakaknya.

Pukul 07:10. Aurora sampai di gerbang SMA Cakrawala dengan napas terengah. Ia tahu ia terlambat. Ia berlari melewati koridor laboratorium kimia yang sepi, mencoba mencari aula tempat pembukaan MPLS. Namun, kecemasannya membuat fokusnya hilang.

DUG!

Aurora menghantam sesuatu yang keras. Tubuh kecilnya terpental hingga jatuh terduduk di lantai koridor yang kasar. Makalah "Visi Misi" yang ia kerjakan semalaman bersama Nenek Lastri terbang berhamburan.

"Aduh..." Aurora meringis, memegangi sikunya yang lecet dan berdarah.

"Sialan. Lo nggak punya mata?"

Suara itu membuat Aurora membeku. Ia mendongak dan menemukan Arvin berdiri di depannya. Kakaknya itu sudah sampai lebih dulu dengan motor besarnya.

Arvin menatap Aurora dengan amarah yang meluap. Di tangannya, sebuah korek api logam ia mainkan dengan suara klik yang ritmis.

"Maaf, Kak... aku nggak sengaja, aku buru-buru," ucap Aurora terbata-bata. Ia mulai memunguti kertas-kertasnya dengan tangan gemetar.

Arvin justru melangkah maju. Dengan sengaja, ia menginjak lembaran kertas paling atas milik Aurora dengan sepatu bot hitamnya yang kotor.

"Baru satu jam keluar rumah, lo sudah bikin masalah lagi. Lo benar-benar pembawa sial, ya?"

"Tapi aku sudah minta maaf, Kak Arvin..."

"Gue bilang jangan panggil gue 'Kak' di sini!" bentak Arvin.

Ia mencengkeram papan nama kardus di leher Aurora, membacanya dengan kasar. "Aurora Alandriana. Nama lo terlalu bagus buat orang yang lahirnya cuma buat bunuh orang lain."

Aurora tertegun. Bentakan itu terasa lebih menyakitkan daripada luka di sikunya. Beberapa siswa lain mulai menoleh ke arah mereka. Aurora merasa dunianya runtuh. Di rumah ia dihina, dan di sekolah, tempat yang ia harapkan menjadi pelarian, ia justru bertemu dengan iblis yang sama.

"Arvin! Berhenti!" suara tegas Kaila Ranisatya, ketua OSIS, memecah ketegangan. Kaila berjalan mendekat, menatap Arvin dengan penuh peringatan.

"Jangan berulah di hari pertama, atau Papa lo bakal tahu soal ini."

Arvin mendengus, melepaskan cengkeramannya pada papan nama Aurora hingga gadis itu terhuyung.

"Urus saja urusan lo, Kail," ucap Arvin ketus sebelum berbalik pergi begitu saja, diikuti oleh Bimo yang sempat memberikan tatapan prihatin pada Aurora.

Kaila membantu Aurora berdiri. "Kamu nggak apa-apa? Arvin memang keterlaluan, dia sering merundung anak baru."

Aurora hanya menggeleng lemah, mencoba merapikan kertas-kertasnya yang kini berbekas tapak sepatu kotor Arvin. Ia tidak berani mengatakan bahwa "perundung" itu adalah kakak kandungnya sendiri.

Di tengah riuhnya suara peluit dan teriakan kakak kelas di lapangan, Aurora berdiri dengan bahu bergetar. Ia menatap punggung Arvin yang menjauh. Dalam hatinya yang paling dalam, ia hanya ingin berteriak: Aku adikmu, Arvin. Tolong, sayangi aku sedikit saja.

Hari itu, Aurora menyadari satu hal yang menyakitkan. Di sekolah maupun di rumah, ia tidak punya tempat untuk bersandar. Dan perjalanan ini baru saja dimulai.

Poin yang Terenggut

Teriknya matahari di SMA Cakrawala seolah tidak memberi ampun. Di tengah lapangan, ratusan siswa baru berbaris rapi di bawah komando para pengurus OSIS.

Aurora berdiri di barisan paling belakang, mencoba menutupi luka lecet di sikunya dengan lengan seragam. Peluhnya bercucuran, membasahi papan nama kardus yang kini sedikit melengkung.

"Perhatian semuanya!" suara Kaila Ranisatya menggema melalui pengeras suara. "Sekarang adalah waktu pemeriksaan kelengkapan atribut. Siapa pun yang atributnya tidak lengkap atau kotor, akan mendapatkan pengurangan poin kedisiplinan dan hukuman tambahan!"

Jantung Aurora mencelos. Ia melirik kertas makalah di dalam map beningnya yang kini memiliki noda bekas tapak sepatu Arvin. Noda itu hitam, pekat, dan sangat mencolok di atas kertas putih bersih.

Satu per satu pengurus OSIS mulai berkeliling. Saat giliran barisan Aurora, seorang kakak kelas laki-laki bertampang garang berhenti tepat di depannya.

"Mana makalah Visi Misi kamu?" tanya kakak kelas itu ketus.

Dengan tangan gemetar, Aurora menyerahkannya. Kakak kelas itu mengerutkan dahi, lalu mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.

"Apa-apaan ini? Kamu mengumpulkan tugas atau sampah? Kenapa ada bekas sepatu di sini? Kamu menginjak tugas kamu sendiri?"

"Bukan, Kak... itu tadi..." Aurora menggantung kalimatnya. Ia melihat Arvin sedang duduk di pinggir lapangan bersama gengnya, memperhatikannya sambil tertawa kecil dan meminum es teh. Arvin menatapnya dengan tatapan menantang, seolah berani jika Aurora menyebut namanya.

"Tadi apa?! Kamu nggak menghargai tugas yang kami berikan?!" bentak kakak kelas itu lagi.

"Maaf, Kak. Tadi terjatuh dan tidak sengaja terinjak," bohong Aurora lirih. Ia menunduk, tak sanggup melihat wajah-wajah yang mulai menghakiminya.

"Alasan! Karena kamu tidak rapi, poin kamu saya potong sepuluh. Dan sebagai hukuman, setelah apel ini, kamu harus membersihkan seluruh sampah di tribun penonton sendirian!"

Aurora hanya bisa mengangguk pasrah. Di pinggir lapangan, Arvin tampak membisikkan sesuatu kepada Bimo, lalu mereka tertawa lebih keras. Rasa sakit di hati Aurora jauh lebih perih daripada panas matahari yang menyengat kulitnya.

Satu jam kemudian, lapangan mulai sepi karena para siswa baru dipindahkan ke aula yang ber-AC untuk menerima materi. Namun tidak bagi Aurora. Ia masih berada di tribun penonton yang luas, memunguti botol plastik dan bungkus makanan satu per satu. Tangannya yang mungil mulai memerah karena panasnya beton tribun.

"Kasihan banget sih, si anak baru."

Aurora tersentak. Ia menoleh dan menemukan Arvin berdiri di atas tribun, beberapa anak tangga dari tempatnya berdiri. Arvin tidak sendirian; Bimo dan beberapa teman lainnya ada di sana.

"Gara-gara lo ceroboh di koridor tadi, lo jadi babu sekolah sekarang," ejek Arvin. Ia sengaja menjatuhkan botol minumnya yang masih setengah penuh ke arah kaki Aurora, membuat airnya muncrat mengenai sepatu Aurora. "Eh, jatuh. Pungut dong, Dek."

Bimo yang melihat itu mulai merasa tidak enak. "Vin, sudah lah. Dia kan sudah dihukum."

Arvin tidak peduli. Ia berjalan mendekati Aurora, suaranya mengecil menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.

"Ini baru permulaan, Aurora. Kalau lo pikir sekolah ini bakal jadi tempat lo bisa bernapas lega, lo salah besar. Di sini, gue rajanya. Dan lo tetaplah noda yang harus gue singkirkan."

Aurora berhenti memunguti sampah. Ia berdiri dan menatap mata kakaknya yang penuh kebencian itu. "Kenapa, Kak? Kenapa Kakak benci banget sama aku? Aku nggak pernah minta untuk dilahirkan ke dunia ini. Kalau aku bisa milih, aku juga nggak mau lahir kalau itu artinya harus buat Mama pergi."

Suasana mendadak dingin meskipun matahari sedang terik. Senyum di wajah Arvin menghilang, digantikan oleh rahang yang mengeras. Ia mencengkeram bahu Aurora dengan kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan.

"Jangan pernah sebut kata 'Mama' dari mulut kotor lo itu," desis Arvin tajam. "Lo nggak pantas."

Arvin melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Aurora terhuyung menabrak kursi tribun. Tanpa sepatah kata lagi, Arvin berbalik dan pergi meninggalkan tribun.

Bimo sempat terdiam sejenak, menatap. Aurora yang kini kembali berjongkok memunguti sampah dengan bahu yang bergetar karena tangis yang ditahan. Bimo mendekat, lalu diam-diam meletakkan sebotol air mineral dingin di dekat tangan Aurora.

"Minum, Ra. Jangan sampai pingsan," ucap Bimo pendek sebelum menyusul Arvin.

Aurora menatap botol air itu. Itu adalah kebaikan kecil pertama yang ia terima di sekolah ini, tapi ironisnya, itu datang dari teman orang yang paling membencinya.

Malam nanti, ia harus pulang ke rumah itu lagi. Rumah di mana empat orang kakak laki-lakinya akan menatapnya dengan kebencian yang sama, dan seorang Ayah yang menganggapnya tidak ada. Aurora mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu melanjutkan pekerjaannya.

"Tolong... sayangi aku sedikit saja," bisiknya pada angin, sebuah doa yang entah kapan akan dikabulkan.

Luka yang Tersembunyi

Sore itu, langit Jakarta berubah warna menjadi oranye keunguan yang pekat. Aurora menyeret langkahnya keluar dari gerbang SMA Cakrawala. Tubuhnya terasa remuk. Setelah membersihkan tribun, ia harus mengikuti sisa materi MPLS dengan perut kosong karena jam istirahatnya habis untuk menjalani hukuman.

Ia berdiri di halte bus, mencoba merapikan pita rambutnya yang sudah miring. Namun, perhatiannya teralih saat sebuah motor sport hitam menderu keras di depannya. Arvin berhenti tepat di depan halte, helm full-face-nya masih terpasang, namun tatapan matanya yang tajam menembus kaca pelindung.

"Mau pulang?" suara Arvin terdengar teredam.

Aurora mengangguk ragu. "I-iya, Kak."

"Jangan harap gue bakal kasih tumpangan," ketus Arvin sambil menarik gas motornya, menciptakan kepulan asap knalpot yang membuat Aurora terbatuk. "Kalau sampai Papa tanya kenapa lo telat, jangan berani bawa-bawa nama gue. Bilang saja lo memang lamban."

Motor itu melesat pergi, meninggalkan Aurora dalam kepulan debu dan rasa sesak yang kian menghimpit.

Sesampainya di rumah, suasana sudah sangat mencekam. Mobil sedan mewah milik ayahnya sudah terparkir di garasi, menandakan sang penguasa rumah telah kembali lebih awal. Aurora masuk melalui pintu samping, mencoba mengendap-endap menuju kamarnya.

"Dari mana saja kamu?"

Suara berat Bramantyo Tenggara menghentikan langkah Aurora di dekat ruang tengah. Ayahnya sedang berdiri di sana, memegang segelas wiski, sementara Eros dan Juna duduk di sofa dengan wajah dingin.

"Tadi... ada hukuman di sekolah, Pa," jawab Aurora lirih, kepalanya tertunduk dalam.

"Hukuman?" Eros menyahut dengan nada meremehkan. "Baru hari pertama dan kamu sudah mencoreng nama keluarga di sekolah itu? Apa yang kamu lakukan? Mencuri? Atau membuat kekacauan seperti caramu merusak keluarga ini dulu?"

"Bukan, Kak... tadi makalahku kotor, jadi—"

"Cukup," potong Bramantyo. Ia meletakkan gelasnya ke meja dengan dentuman yang menggema di ruangan luas itu. "Saya tidak mau dengar alasan. Kamu memalukan. Mulai besok, poin kamu akan saya pantau melalui Arvin. Jika saya dengar kamu mendapat hukuman lagi, saya tidak akan ragu untuk memindahkan kamu ke sekolah asrama yang paling ketat."

"Tapi Pa, Aurora sudah berusaha—"

"Masuk ke kamarmu! Jangan keluar sampai besok pagi. Saya tidak mau melihat wajahmu di meja makan malam ini," perintah Bramantyo tanpa sedikit pun rasa kasihan.

Aurora berlari menuju kamarnya. Di dalam ruangan sempit itu, ia mengunci pintu dan merosot ke lantai. Air matanya pecah. Ia memeluk lututnya, mencoba meredam suara tangisnya agar tidak terdengar ke luar. Di rumah ini, bahkan menangis pun harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar di pintunya yang tersembunyi di balik lemari. Itu adalah pintu kecil yang menghubungkan kamarnya dengan area dapur, pintu yang hanya diketahui oleh Nenek Lastri.

"Ra... ini Nenek, Sayang," bisik suara itu.

Aurora segera membuka pintu. Nenek Lastri masuk dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan segelas susu hangat. Wajah tua itu tampak sangat sedih melihat mata cucunya yang bengkak.

"Makan dulu, Cah Ayu. Nenek tahu kamu lapar," ucap Nenek sambil mengusap air mata di pipi Aurora.

"Nenek... kenapa Papa benci banget sama aku? Apa aku benar-benar sejahat itu karena lahir ke dunia?" tanya Aurora di sela isaknya.

Nenek Lastri memeluk Aurora erat.

"Bukan, Ra. Kamu itu anugerah. Papa dan kakak-kakakmu hanya... mereka hanya terlalu mencintai mamamu, dan mereka belum bisa merelakannya. Mereka menyalahkanmu karena itu hal termudah yang bisa mereka lakukan untuk menutupi rasa sakit mereka sendiri."

"Tapi ini sudah enam belas tahun, Nek. Sampai kapan aku harus jadi orang asing di rumahku sendiri?"

Nenek tidak bisa menjawab. Beliau hanya bisa memberikan pelukan hangat yang selama ini menjadi satu-satunya tempat Aurora bersandar.

Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Juna—kakak ketiga yang dikenal paling genius dan pendiam—berdiri di kegelapan koridor. Ia baru saja hendak mengambil buku di perpustakaan saat mendengar isakan Aurora. Juna menatap pintu itu dengan ekspresi datar, namun jemarinya yang memegang buku tampak sedikit bergetar.

Ada sesuatu dalam tangisan Aurora yang entah bagaimana menyentil sisi kecil di hatinya yang sudah lama ia kunci rapat. Namun, saat teringat wajah sang ibu di foto pemakaman, Juna kembali mengeraskan hatinya. Ia berbalik dan pergi, meninggalkan adiknya yang hancur dalam kesepian.

Malam itu, di bawah temaram lampu meja, Aurora mengambil buku catatannya. Ia menulis satu kalimat baru:

Hari ini, temannya Kak Arvin memberiku air minum. Ternyata, orang asing bisa lebih baik daripada saudara sendiri.

Ia memejamkan mata, berharap esok hari ia memiliki kekuatan lebih untuk bertahan. Karena ia tahu, hari kedua MPLS akan jauh lebih berat dengan Arvin yang terus mengawasinya seperti elang yang siap menerkam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!