Matahari sudah bersinar terang dan kemewahan di kediaman Humairah sudah memancar dari setiap sudut ruangan.
Janur kuning melengkung indah di gerbang depan, sementara aroma melati yang segar menyeruak, memenuhi atmosfer rumah yang hari ini seharusnya menjadi saksi bisu ikatan suci.
Ribuan kelopak mawar telah disebar, dan pelaminan dekorasi klasik modern itu tampak begitu megah, menanti dua jiwa untuk bersanding.
Di dalam kamar, Humairah duduk di depan cermin besar.
Balutan kebaya putih payet yang elegan membungkus tubuhnya, membuatnya tampak sangat anggun.
Ia menyentuh bingkai foto kecil di atas meja rias, menatap wajah laki-laki dengan senyum jenaka di sana.
"Sebentar lagi, Mas," bisiknya lirih.
Humairah tersenyum tipis saat menatap foto dirinya dan Abraham, calon suaminya.
Ada debar yang tak menentu, campuran antara bahagia dan haru yang membuncah di dadanya.
Ceklek!
Suara pintu terbuka memecah lamunan Humairah.
Ia menoleh melalui pantulan cermin, melihat Umi Mamik, ibunya, yang masuk ke dalam kamar. Namun, ada yang aneh.
Tak ada binar bahagia yang biasanya terpancar dari wajah sang ibu.
"Umi, ada apa? Apa Abraham sudah datang?" tanya Humairah antusias.
Ia bersiap untuk berdiri, ingin memastikan apakah rombongan mempelai pria sudah memasuki halaman.
Namun, langkahnya terhenti. Umi Mamik tidak menjawab.
Beliau justru menutup mulut dengan telapak tangan, dan sedetik kemudian, ia meneteskan air matanya.
Tangis itu pecah tanpa suara, membuat jantung Humairah berdegup kencang karena firasat buruk.
Tak lama, Abi Sasongko ikut masuk ke dalam. Wajah pria berwibawa itu tampak tegang, garis-garis wajahnya mengeras, menyembunyikan amarah sekaligus kesedihan yang mendalam.
"Abi, Umi kenapa? Umi sakit?" Tanya Humairah, suaranya mulai bergetar.
Ia mendekat, memegang lengan ibunya yang gemetar hebat.
Umi Mamik tak sanggup bersuara. Dengan tangan yang lemas, beliau menyodorkan secarik kertas yang tampak kumal, seolah habis diremas.
"Surat pemberian santri dari Abraham," ucap Umi di sela isaknya.
"Surat apa ini, Umi?" Humairah menerima kertas itu dengan jari-jari yang mendadak dingin.
Diliriknya sang Abi, namun pria itu hanya membuang muka ke arah jendela, tak sanggup menatap putri semata wayangnya yang tampil begitu cantik di hari yang seharusnya paling bahagia ini.
Dengan napas yang mulai sesak, Humairah membuka surat pemberian calon suaminya.
Tulisan tangan yang sangat ia kenali itu tergores di sana, namun isinya terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya tanpa ampun:
Maafkan aku, Humairah. Aku belum siap. Menikah ternyata adalah beban yang terlalu besar untukku saat ini. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Jangan cari aku, aku pergi.
Kertas itu terlepas dari genggaman Humairah, melayang jatuh ke lantai di atas tumpukan kain kebayanya.
Dunia seolah berhenti berputar. Suara riuh rendah tamu di luar sana mendadak senyap, berganti dengan suara denging yang menyakitkan di telinganya.
"Dia, pergi, Bi?" tanya Humairah dengan suara nyaris hilang.
Abi Sasongko berbalik dengan wajah penuh amarah.
"Penghulu sudah menunggu, tamu-tamu terhormat sudah duduk. Keluarga Kyai Kareem dipermalukan, dan kita diinjak-injak, Humairah."
Humairah jatuh terduduk di tepi ranjang. Mahkota kecil yang menghias hijabnya terasa sangat berat, seberat beban aib yang kini menghantam pundaknya.
Di hari puncaknya, ia bukan menjadi ratu, melainkan korban dari sebuah ketidaksiapan yang pengecut.
Suasana kamar yang tadinya sesak oleh tangis, mendadak senyap saat pintu kembali terbuka.
Kyai Umar, pria sepuh dengan kharisma yang meneduhkan namun saat ini wajahnya tampak kuyu karena malu, melangkah masuk.
Di belakangnya, berdiri tegak putra sulungnya, Ustadz Fathan Kareem.
Fathan menutup pintu kamar dengan rapat, seolah ingin mengunci aib ini agar tidak merembes keluar dan menjadi konsumsi ribuan tamu yang mulai bertanya-tanya di luar sana.
Wajah Fathan datar, sedingin es, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak terbaca.
Kyai Umar melangkah mendekati Abi Sasongko. Dengan suara bergetar, beliau menunduk dalam.
"Sahabatku, Sasongko. Tidak ada kata yang bisa mewakili betapa hancurnya hatiku. Aku memohon maaf sedalam-dalamnya atas perbuatan biadab putraku, Abraham. Dia telah mengkhianati janji dan merusak kehormatan keluarga kita."
Abi Sasongko memalingkan wajah, tangannya mengepal di atas meja.
"Maaf tidak bisa menghapus aib ini, Kyai. Bagaimana saya harus menjelaskan pada tamu-tamu itu? Bagaimana saya harus menyelamatkan muka putri saya yang sudah berdandan suci seperti ini?"
Ruangan itu kembali mencekam. Fathan hanya berdiri diam di dekat pintu, pandangannya lurus ke depan, tak sedikit pun melirik ke arah Humairah yang masih terisak di tepi ranjang.
Kyai Umar kemudian berbalik. Beliau melangkah perlahan, lalu berlutut di depan Humairah, sebuah tindakan yang membuat semua orang di kamar itu terperanjat.
"Kyai, jangan..." suara Humairah tercekat.
Kyai Umar menatap Humairah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Humairah, putriku yang salehah. Abi tahu ini bukan hal yang mudah. Tapi marwah pesantren dan martabat keluargamu ada di ujung tanduk. Untuk menebus dosa Abraham, dan sebagai bentuk permintaan maafku yang paling tulus..."
Kyai Umar menjeda kalimatnya, lalu melirik ke arah Fathan yang masih mematung.
"Bagaimana kalau kamu menikah dengan putraku, Fathan? Biarkan Fathan yang menggantikan posisi adiknya di atas kursi akad itu sekarang juga."
Humairah tersentak. Ia mendongak, matanya yang sembap bertemu dengan tatapan Fathan.
Pria itu kini menatapnya, namun bukan tatapan cinta atau iba yang ia temukan.
Di mata Ustadz Fathan, Humairah hanya melihat sebuah kewajiban yang berat dan luka lama yang mendadak terbuka kembali.
Dunia seolah kembali runtuh bagi Humairah. Haruskah ia menerima pernikahan yang lahir dari sebuah "tambal butuh" seperti ini?
Suasana di dalam kamar yang pengap oleh kesedihan itu mendadak membeku.
Fathan, yang sejak tadi berdiri diam seperti bayangan di dekat pintu, tersentak hebat. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya yang tajam langsung terhunus pada sang ayah.
Ia tidak menyangka bahwa solusi yang ditawarkan Kyai Umar adalah dirinya—seorang pria yang telah bersumpah untuk tidak lagi melibatkan hati dalam urusan wanita.
Abi Sasongko, meski hatinya hancur, tetap mencoba bijaksana. Ia berjongkok di samping putri semata sayangnya.
"Humairah, tatap Abi, Nak," ucapnya lembut namun bergetar.
"Abi tidak akan memaksamu. Jika kamu merasa ini terlalu berat, kita bisa keluar sekarang dan menghadapi semua cemoohan itu bersama. Kehormatan kita memang terluka, tapi Abi lebih tidak tega jika harus mengorbankan masa depanmu dalam pernikahan yang tidak kamu inginkan."
Humairah menatap wajah Abinya yang mulai menua, lalu beralih pada Umi Mamik yang masih terisak.
Di luar sana, suara rebana dan selawat mulai terdengar, menandakan tamu-tamu sudah tidak sabar menantikan prosesi dimulai.
Jika ia menolak, ia tahu karir ayahnya dan nama baik pesantren Kyai Umar akan hancur dalam sekejap.
Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tidak pecah menjadi tangis, Humairah menghapus air matanya dengan punggung tangan.
"Dunia mungkin akan menertawakan saya hari ini jika saya diam saja," bisik Humairah pelan namun tegas.
Ia mendongak menatap Kyai Umar dengan penuh rasa hormat.
"Baiklah Kyai, saya menerima tawaran ini. Saya bersedia menikah dengan Ustadz Fathan demi menjaga marwah kedua keluarga kita."
Fathan memejamkan mata sesaat. Tangannya mengepal kuat di balik jubahnya.
Sebuah beban besar baru saja dijatuhkan ke pundaknya, dan ia tidak punya ruang untuk membantah titah sang ayah.
Namun, sebelum Kyai Umar sempat mengucap syukur, pintu kamar didorong kasar dari luar.
Nyai Latifah, istri Kyai Umar, masuk dengan wajah yang memerah karena amarah yang tertahan.
"Tidak! Aku tidak setuju!" suara Nyai Latifah menggelegar di ruangan yang sempit itu.
Ia melangkah cepat menuju suaminya, lalu menarik lengan Kyai Umar agar menjauh dari Humairah.
"Abah, batalkan niat konyol ini sekarang juga! Mengapa harus Fathan? Mengapa putra sulungku yang harus membasuh kotoran yang ditinggalkan adiknya?"
"Umi, jaga bicaramu. Ini demi kebaikan bersama," tegur Kyai Umar dengan nada rendah namun penuh peringatan.
Nyai Latifah beralih menatap Humairah dengan pandangan merendahkan.
"Kebaikan bersama atau keberuntungan untuk dia? Sejak awal aku sudah tidak sreg dengan perjodohan Abraham. Dan sekarang, setelah Abraham pergi, dia ingin menjerat kakaknya? Aku tahu tipu muslihat perempuan seperti ini. Dia pasti yang menggoda putra-putraku agar mereka bertekuk lutut!"
"Umi!" bentak Kyai Umar, kali ini lebih keras.
"Memang benar, kan? Mungkin saja Abraham kabur karena dia sadar perempuan ini tidak sebaik kelihatannya! Sekarang dia mau memanfaatkan keadaan agar bisa menjadi istri seorang Ustadz besar seperti Fathan. Saya tidak akan sudi memiliki menantu yang hanya tahu cara memikat laki-laki dengan air mata palsu!"
Tuduhan keji itu menghujam jantung Humairah lebih sakit daripada pengkhianatan Abraham.
Ia tertunduk, membiarkan cadar air mata kembali membasahi pipinya.
Di sudut ruangan, Fathan hanya memperhatikan perdebatan itu dengan tatapan dingin, tanpa niat untuk membela siapa pun.
Baginya, drama ini hanyalah awal dari penjara baru yang harus ia jalani.
Suasana di dalam kamar yang seharusnya penuh doa, kini berubah menjadi medan perdebatan yang menyayat hati.
Tuduhan keji Nyai Latifah yang menyebut Humairah sebagai wanita penggoda membuat udara di ruangan itu terasa mencekik.
Abi Sasongko, yang selama ini dikenal sebagai pria yang sabar, kini tak mampu lagi membendung harga dirinya yang diinjak-injak.
Ia berdiri tegak, melindungi putrinya yang sedang bersimpuh dalam tangis.
"Cukup!" suara Abi Sasongko bergetar karena emosi.
Ia menatap Kyai Umar dengan luka yang mendalam.
"Kyai, persahabatan kita sangat berharga bagi saya. Tapi jika putri saya harus dihina seperti ini di rumahnya sendiri, lebih baik pernikahan ini tidak pernah terjadi. Silakan keluar. Kami akan menanggung aib ini sendiri. Saya tidak akan membiarkan Humairah masuk ke keluarga yang bahkan tidak menginginkannya."
Umi Mamik memeluk bahu Humairah yang bergetar hebat.
"Benar, Kyai. Biarkan kami menanggung malu ini, daripada putri kami harus hidup dalam kebencian."
Kyai Umar terpaku, wajahnya pucat pasi mendengar pengusiran halus itu. Namun, di saat ketegangan memuncak, sebuah suara bariton yang berat dan tenang memecah kebuntuan.
"Umi, berhenti," ucap Ustadz Fathan.
Fathan, yang sejak tadi hanya menjadi pengamat bisu, melangkah maju ke tengah ruangan.
Ia menatap ibunya dengan tatapan datar namun penuh penekanan, lalu beralih pada Abi Sasongko.
"Abi Sasongko, maafkan kelancangan Umi saya. Dan Umi..." Fathan menjeda kalimatnya, menarik napas panjang seolah sedang menelan pahitnya takdir.
"Aku akan menikahi Humairah. Detik ini juga."
Nyai Latifah terbelalak. "Fathan! Apa kamu sudah gila? Kamu mau mengorbankan masa depanmu demi wanita ini? Dia hanya akan menjadi duri—"
"Cukup, Umi!" potong Fathan cepat.
"Ini adalah jalan untuk menjaga marwah Abah, marwah pesantren, dan martabat keluarga Abi Sasongko. Saya tidak akan membiarkan akad ini batal."
Nyai Latifah mendengus kasar, napasnya memburu karena emosi yang meluap.
Tanpa sepatah kata lagi, ia memutar tubuh dan melangkah keluar kamar dengan bantingan pintu yang keras, meninggalkan keheningan yang menyakitkan.
Kyai Umar mengembuskan napas lega yang berat.
Beliau menepuk bahu sulungnya. "Terima kasih, Fathan. Allah akan membalas keikhlasanmu. Ayo, Nak, turunlah. Penghulu dan saksi sudah terlalu lama menunggu. Kita selesaikan apa yang seharusnya diselesaikan."
Fathan mengangguk singkat. Sebelum melangkah keluar, ia sempat melirik ke arah Humairah—bukan dengan tatapan kasih sayang, melainkan tatapan kosong yang seolah mengatakan bahwa hidup mereka setelah ini tidak akan pernah sama lagi.
Sepeninggal para pria, kamar itu mendadak sunyi.
Humairah masih terduduk di tepi ranjang, meremas sapu tangan yang sudah basah oleh air mata.
Ia bisa mendengar suara riuh rendah dari lantai bawah melalui pengeras suara yang samar-samar.
Beberapa menit kemudian, suara getaran mikrofon terdengar, diikuti suara berat sang ayah yang memulai khotbah nikah dengan nada yang dipaksakan stabil.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Humairah binti Sasongko dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Suara Fathan terdengar begitu lantang, tegas, dan dingin merayap melalui dinding-dinding kamar.
"Sah?"
"Sah!"
Seketika, isak tangis Humairah pecah kembali. Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, ia kini resmi menjadi istri dari seorang pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pria yang menikahinya bukan karena cinta, melainkan karena keterpaksaan dan nama baik.
Ia tahu, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai di balik dinding kamar ini.
Gema kata "Sah" yang bersahutan dari lantai bawah perlahan surut, digantikan oleh lantunan doa yang dipimpin oleh para ulama.
Di dalam kamar, Humairah masih mematung. Dadanya sesak.
Statusnya telah berubah dalam hitungan detik—dari calon pengantin yang ditinggalkan, menjadi istri sah dari pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat.
Jantung Humairah berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar.
Ceklek!
Fathan melangkah masuk sendirian. Jas hitam yang ia kenakan tampak sangat pas di tubuh tegapnya, namun wajahnya tetap datar, tanpa sisa emosi dari ketegangan di bawah tadi.
Ia menutup pintu dengan perlahan, lalu melangkah menghampiri Humairah yang masih duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk.
Humairah memberanikan diri untuk berdiri. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih tangan kanan Fathan.
Ia membungkuk dalam, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
Ini adalah baktinya yang pertama, meski hatinya masih diliputi kabut ketidakpastian.
Fathan sempat tertegun sejenak saat merasakan sentuhan tangan Humairah. Namun, sebagai seorang pria yang paham akan syariat, ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Fathan meletakkan telapak tangan kanannya di atas ubun-ubun Humairah, tepat di atas hiasan melati yang harumnya kini terasa menyesakkan.
Ia memejamkan mata, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut namun terasa formal. Suara baritonnya yang tenang mulai melantunkan doa:
"Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi..."
Mendengar doa itu, tangis Humairah yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga.
Ia menangis tanpa suara di depan dada pria yang kini menjadi pelindungnya.
"Hapus air matamu," ucap Fathan setelah menyudahi doanya. Suaranya tidak kasar, namun sangat dingin.
"Semua orang menunggu di bawah. Kita harus meminta restu dan menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja."
Humairah mengangguk pelan, segera menyeka pipinya dan memperbaiki letak hijabnya di depan cermin.
Setelah merasa cukup tenang, mereka berdua keluar dari kamar.
Di ruang tengah, suasana tampak sangat emosional.
Kyai Umar dan Abi Sasongko duduk berdampingan, tampak lega sekaligus haru.
Namun, di sudut lain, Nyai Latifah hanya berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaan yang nyata.
Fathan dan Humairah melangkah mendekat untuk melakukan sungkem.
Fathan bersimpuh di depan ayahnya, lalu di depan Abi Sasongko.
Saat Humairah bersimpuh di hadapan Abi Sasongko, tangis ayah dan anak itu kembali pecah.
"Maafkan Abi, Nak. Abi hanya ingin yang terbaik untukmu," bisik Abi Sasongko sambil mengusap kepala putrinya.
"Humairah ikhlas, Bi. Ini sudah takdir Humairah," sahutnya lirih.
Setelah selesai meminta restu kepada para ayah dan Umi Mamik, giliran mereka menghadap Nyai Latifah.
Saat Humairah hendak meraih tangan ibu mertuanya, Nyai Latifah menarik tangannya dengan cepat, membiarkan Humairah hanya menyentuh udara.
"Sudah, tidak usah drama. Yang penting nama baik keluarga sudah tertutup," ketus Nyai Latifah sebelum akhirnya melengos pergi meninggalkan kerumunan.
Humairah terdiam, hatinya seperti tertusuk sembilu lagi.
Ia melirik Fathan, namun suaminya itu hanya menatap lurus ke depan seolah tidak terjadi apa-apa.
Di detik itu, Humairah sadar, restu dan kasih sayang dalam rumah tangga ini adalah kemewahan yang mungkin harus ia perjuangkan dengan air mata yang lebih banyak lagi.
Suasana di kediaman Abi Sasongko mulai melandai seiring dengan berpamitannya beberapa tamu inti. Namun, bagi Humairah, ketegangan justru baru saja dimulai.
Di depan pintu utama, Fathan berdiri tegak dengan kunci mobil di tangannya.
Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan keletihan maupun kegembiraan.
"Abi, Umi, kami mohon pamit sekarang," ucap Fathan dengan nada bicara yang sopan namun sangat formal.
"Saya akan membawa Humairah ke rumah saya."
Abi Sasongko mendekat, menepuk bahu menantu barunya itu dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
Ada beban besar yang ia titipkan di pundak pria di hadapannya ini.
"Fathan," suara Abi Sasongko bergetar.
"Humairah adalah satu-satunya permata dalam hidup kami. Kejadian hari ini sudah cukup menghancurkan hatinya. Tolong, jaga dia. Bimbing dia. Jangan biarkan dia menangis lagi karena kesalahan yang tidak ia perbuat."
Fathan hanya mengangguk singkat. "Saya mengerti, Abi."
Setelah berpelukan erat dengan Umi Mamik yang tak henti-hentinya membisikkan doa, Humairah melangkah gontai mengikuti suaminya menuju mobil SUV hitam yang terparkir di halaman.
Humairah masuk ke kursi penumpang di samping kemudi dengan perasaan yang berkecamuk.
Kebaya pengantin yang masih melekat di tubuhnya kini terasa begitu menyesakkan, seolah mengingatkannya pada pernikahan yang terjadi karena kecelakaan takdir.
Fathan melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai gelap.
Di dalam mobil, suasana menjadi sangat sunyi, hanya terdengar deru mesin dan detak jarum jam di dasbor.
Fathan fokus menatap jalanan di depan, tangannya memegang kemudi dengan erat, sementara rahangnya tampak mengeras.
Ia tidak berkata apapun. Tidak ada ucapan selamat datang, tidak ada pertanyaan apakah istrinya haus atau lelah, bahkan tidak ada lirikan sekilas pun ke arah Humairah.
Humairah sendiri hanya bisa menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang berkelebat cepat seperti kenangan indahnya yang baru saja hancur.
Ia ingin memulai pembicaraan, namun aura dingin yang dipancarkan Fathan menciptakan tembok yang sangat tinggi di antara mereka.
Mobil itu terus melaju, membawa mereka menjauh dari keramaian rumah orang tua Humairah, menuju sebuah rumah yang belum pernah Humairah injak sebelumnya.
Sebuah rumah yang seharusnya menjadi surga, namun bagi Humairah saat ini, terasa seperti gerbang menuju ketidakpastian yang panjang.
Keheningan itu seolah menjadi penegasan dari Fathan: bahwa pernikahan ini memang terjadi di hadapan saksi dan penghulu, namun tidak dalam hatinya.
Di dalam mobil yang sempit itu, Humairah merasa lebih kesepian daripada saat ia ditinggalkan sendirian di kamar pengantin tadi siang.
Mobil SUV hitam itu akhirnya berhenti di halaman luas sebuah rumah bergaya arsitektur Jawa-Modern yang megah—kediaman Kyai Umar. Di sana, lampu-lampu taman berpendar temaram, menyinari bangunan yang juga berfungsi sebagai area depan kompleks pesantren.
Humairah turun dari mobil dengan langkah ragu. Ia meremas jemarinya sendiri, mencoba mencari kekuatan.
Di teras rumah, Kyai Umar dan Nyai Latifah ternyata sudah tiba lebih dulu.
Kyai Umar menyambut mereka dengan senyum yang dipaksakan untuk menenangkan suasana.
"Fathan, bawa masuk istrimu. Ini sudah malam, biarkan dia istirahat. Dia pasti sangat lelah dengan kejadian hari ini," ucap Kyai Umar lembut, mencoba memberikan kehangatan yang tidak ditemukan Humairah sejak tadi.
Namun, suasana tenang itu langsung terkoyak saat Nyai Latifah melangkah maju.
Beliau menatap Humairah dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mencemooh.
"Istirahat? Tentu saja dia butuh istirahat setelah berhasil 'naik pangkat' menjadi istri seorang Ustadz dalam sekejap," sindir Nyai Latifah pedas. Beliau melipat tangan di dada sambil mendengus.
"Dasar sok polos. Ternyata benar kata orang, air tenang itu menghanyutkan. Di balik wajah diamnya, dia tahu betul cara memanfaatkan situasi."
"Umi, sudah!!" bentak Kyai Umar, suaranya menggelegar namun tertahan.
"Jaga bicaramu! Dia sekarang menantu kita, dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini!"
Nyai Latifah hanya membuang muka, mendecih kasar sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan perasaan siapa pun.
Kyai Umar menghela napas panjang, menatap Humairah dengan tatapan penuh maaf.
"Masuklah, Nak. Jangan masukkan ke dalam hati."
Fathan tidak mengeluarkan pembelaan sedikit pun.
Ia tidak menoleh pada ibunya, tidak pula menenangkan istrinya.
Tanpa sepatah kata, Fathan mulai berjalan masuk ke dalam rumah.
Ia berjalan lurus ke depan tanpa menggenggam tangan istrinya, apalagi membantunya membawa tas kecil yang dibawa Humairah.
Humairah mengikuti dari belakang dengan langkah kecil, kepalanya tertunduk dalam.
Ia merasa seperti tamu asing yang tidak diinginkan di rumah yang seharusnya kini menjadi tempat tinggalnya.
Fathan terus melangkah menuju tangga kayu yang mengarah ke lantai atas.
Suara langkah sepatunya beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama yang kaku.
Sesampainya di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh, Fathan membukanya.
Ia masuk ke kamar atas, kamar pribadinya yang kini harus ia bagi. Namun, aura di dalam kamar itu tidak terasa seperti kamar pengantin.
Tidak ada hiasan bunga, tidak ada aroma wangi yang menyambut.
Hanya ada tumpukan kitab di rak dan aroma kopi yang samar.
Fathan meletakkan kunci mobil di atas meja, lalu berbalik menatap Humairah yang masih berdiri kaku di ambang pintu.
Matanya menatap datar, seolah baru saja menyelesaikan sebuah transaksi bisnis yang melelahkan, bukan sebuah pernikahan suci.
Lampu kamar yang berpendar kekuningan menciptakan bayangan panjang di antara mereka.
Fathan melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga siku.
Ia berbalik, menatap Humairah yang masih mematung dengan sisa-sisa riasan pengantin yang kini tampak membebani wajahnya.
"Duduklah, Humairah," perintah Fathan dengan suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Humairah duduk di tepi tempat tidur dengan wajahnya menunduk dalam.
Jantungnya berdegup kencang, menanti kata-kata manis atau setidaknya sedikit simpati yang bisa mengobati lukanya sejak siang tadi. Namun, harapannya hancur dalam sekejap.
Fathan berdiri di depannya, menatapnya dengan pandangan sedingin es.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku menikahimu hanya untuk memenuhi perintah Abah dan menjaga nama baik pesantren. Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta.
Humairah tersentak. Ia mendongak, matanya yang sembap menatap Fathan dengan tidak percaya.
"Aku akan tetap menjalankan kewajibanku. Aku akan memberimu nafkah materi, tempat tinggal, dan perlindungan," lanjut Fathan tanpa sedikit pun keraguan.
"Tetapi, jangan harapkan nafkah batin dariku. Jangan harapkan kasih sayang atau cinta. Bagiku, semua wanita sama saja. Hanya pandai bersandiwara."
"Maksud Ustadz?" suara Humairah bergetar, nyaris hilang.
"Apa kesalahan saya sampai Ustadz menghukum saya seperti ini?"
Fathan mendengus sinis, matanya menyipit penuh luka yang ia tutupi dengan kemarahan.
"Tidak usah bertanya karena kamu tidak berhak tahu. Urusan masa laluku bukan bagian dari kesepakatan ini."
Ia melangkah menuju lemari, mengambil sebuah bantal dan selimut tambahan.
"Mulai malam ini dan seterusnya, aku akan tidur di sofa dan kamu di tempat tidur. Kita berbagi ruang, tapi tidak berbagi kehidupan."
Sebelum melangkah menuju sofa yang terletak di sudut kamar, Fathan berhenti sejenak.
Ia menoleh, menatap Humairah dengan tatapan yang sangat menyakitkan.
"Aku jadi penasaran," gumamnya dengan nada menghina.
"Entah apa yang sebenarnya Abraham takutkan dari kamu sampai ia lari dari pernikahan ini. Mungkin dia sudah lebih dulu melihat sisi darimu yang tidak aku ketahui."
Kalimat itu bagai tamparan keras bagi Humairah. Ia ingin membela diri, ingin berteriak bahwa ia pun korban di sini, tapi tenggorokannya terasa tersumbat.
"Sekarang tidurlah dan jangan banyak bertanya," tutup Fathan ketus.
Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram.
Fathan merebahkan tubuhnya di sofa yang sempit, membelakangi Humairah.
Sementara itu, Humairah hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur yang luas, mendekap bantalnya dalam keheningan yang menyiksa.
Malam pertama yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, kini berubah menjadi penjara tanpa jeruji bagi hatinya.
Kegelapan kamar hanya menyisakan cahaya remang dari lampu sudut, namun keheningan di dalamnya terasa begitu pekak.
Di sudut ruangan, Humairah bisa mendengar napas teratur Fathan yang membelakanginya di atas sofa. Pria itu tampak begitu tenang setelah baru saja menjatuhkan vonis mati bagi perasaan istrinya.
Humairah merebahkan tubuhnya perlahan di atas kasur yang empuk, namun baginya, ranjang itu terasa seperti hamparan paku yang tajam.
Ia menarik selimut hingga ke dada, mencoba mengusir rasa dingin yang bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari sikap suaminya.
Humairah meneteskan air matanya. Satu per satu, butiran bening itu jatuh membasahi bantal sutra yang seharusnya menjadi saksi kebahagiaan.
Isaknya tertahan, ia membekap mulutnya sendiri dengan ujung selimut agar suaranya tidak pecah dan mengganggu pria di sofa itu.
"Ya Allah, apakah ini ujian atas dosaku di masa lalu? Atau ini cara-Mu menghapus air mataku dengan luka yang lebih besar?" batinnya merintih.
Pikirannya melayang pada Abraham. Laki-laki yang dulu menjanjikan surga, namun justru meninggalkannya di gerbang neraka. Lalu kini, kakaknya—sang Ustadz yang diagungkan banyak orang karena kesalehannya—justru memperlakukannya lebih rendah dari seorang pengemis cinta.
Humairah bangkit dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.
Ia melangkah menuju kamar mandi untuk berwudu.
Air dingin yang menyentuh kulitnya sedikit memberikan ketenangan, namun sesak di dadanya tak kunjung hilang.
Ia membentangkan sajadah di pojok kamar yang sepi.
Dalam sujudnya yang panjang, Humairah tumpah ruah.
Tidak ada lagi kata-kata yang mampu ia ucapkan selain rintihan dalam hati.
"Ya Allah, jika memang pernikahan ini adalah takdir yang Engkau tuliskan, maka pinjamkan lah aku sedikit kekuatan-Mu. Aku tidak tahu seberapa tinggi tembok yang dibangun Ustadz Fathan, tapi aku tahu tidak ada tembok yang tidak bisa runtuh dengan izin-Mu."
Selesai berdoa, ia melirik ke arah sofa. Di bawah cahaya temaram, wajah Fathan yang sedang tertidur tampak sedikit lebih lembut, tidak sedingin saat ia bicara tadi. Namun, Humairah tahu, di balik wajah tenang itu tersimpan badai trauma yang sangat besar.
Humairah kembali ke tempat tidur dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, meski ia tahu besok pagi, ia harus bangun menghadapi kenyataan bahwa ia adalah seorang istri yang tidak diinginkan, menantu yang dibenci, dan wanita yang dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri.
Ia memejamkan mata, membiarkan sisa air mata mengering di pipinya, bersiap menyambut fajar yang mungkin akan terasa lebih dingin dari malam ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!