Indonesia
NovelToon NovelToon

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

1

Dentang sendok perak yang beradu dengan piring porselen krisan terdengar seperti lonceng kematian di telinga Aira. Ruang makan kediaman Maheswari malam itu terasa begitu dingin, meski pendingin ruangan sudah disetel di suhu normal. Wangi steak wagyu yang mahal justru membuat perut Aira mual.

Di kepala meja, Prasetya Maheswari duduk dengan punggung tegak, menatap selembar kertas hasil ujian dengan binar bangga yang jarang terlihat.

"Sempurna. Nilai rata-rata sembilan puluh delapan. Kamu benar-benar permata keluarga ini, Airin," suara Prasetya berat namun lembut saat berbicara pada gadis di sisi kanannya.

Airin, yang mengenakan gaun sutra berwarna peach yang sangat kontras dengan kulit porselennya, tersenyum manis. Rambutnya yang legam tergerai indah, berkilau di bawah lampu gantung kristal. "Ini semua berkat dukungan Papa dan Mama. Airin hanya tidak ingin mempermalukan nama Maheswari."

"Tentu saja, Sayang. Gelar dan prestasi adalah napas keluarga kita," sahut Ratna, sang ibu, sembari mengusap lembut tangan Airin. Matanya kemudian beralih ke sisi kiri meja. Seketika, kelembutan itu menguap, digantikan oleh tatapan sedingin es.

"Dan kamu, Aira? Mana kertasmu?"

Aira tersentak. Tangannya yang berada di bawah meja saling meremas. Ia bisa merasakan tekstur kasar di ujung jarinya—bekas tusukan jarum yang mengering dan kapalan kecil akibat terlalu sering memegang gunting kain yang berat. Ia perlahan mengeluarkan selembar kertas yang sudah lecek dari saku seragamnya yang kusam.

Kertas itu diletakkan di atas meja dengan tangan gemetar.

Prasetya meraihnya. Hanya dalam tiga detik, pria itu melempar kertas tersebut ke tengah piring Aira yang masih penuh makanan. Angka '42' di kolom matematika tampak seperti ejekan berwarna merah menyala.

"Empat puluh dua?" Prasetya tertawa hambar, suara yang lebih menyakitkan daripada bentakan. "Aira, katakan pada Papa, apa yang ada di dalam otakmu? Kamu dan Airin lahir dari rahim yang sama, di hari yang sama. Tapi kenapa kamu tumbuh seperti... cacat produksi?"

Cacat produksi. Kata itu menghantam dada Aira hingga ia sesak napas.

"Aku... aku sudah belajar, Pa. Tapi angka-angka itu selalu melompat-lompat di mataku," cicit Aira. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh suara detak jam dinding.

"Alasan!" bentak Ratna tiba-tiba, membuat Aira berjengit. "Kamu itu malas. Lihat wajahmu, kusam, tidak terawat. Rambutmu seperti singa. Kamu tidak punya prestasi akademis, tidak punya kecantikan untuk dibanggakan. Kamu itu noda, Aira! Kamu membuat orang bertanya-tanya, apakah kami benar-benar memiliki dua putri atau satu putri dan satu pelayan yang salah makan."

Airin hanya diam, menyesap jus jeruknya dengan anggun. Tidak ada pembelaan. Justru, sudut bibirnya sedikit terangkat—sebuah kemenangan kecil yang hanya bisa ditangkap oleh mata Aira.

"Maaf, Ma..."

"Jangan minta maaf! Perbaiki nilai itu atau keluar dari rumah ini. Maheswari tidak butuh orang bodoh yang kerjanya hanya melamun di gudang belakang!" Prasetya memotong tajam. "Kamu tahu sendiri, di dunia ini, gelar adalah segalanya. Tanpanya, kamu bukan siapa-siapa."

Aira semakin menundukkan kepalanya. Ia menyembunyikan tangannya di bawah meja lagi. Di bawah sana, ia meraba secarik kain perca di dalam sakunya. Sebuah desain gaun yang ia gambar diam-diam di balik buku catatan matematika. Baginya, garis-garis kain itu jauh lebih masuk akal daripada rumus kalkulus yang dianggap ayahnya sebagai Tuhan. Namun, ia tahu, jika ia menunjukkan sketsa itu, ayahnya akan membakarnya hidup-hidup.

Suasana kembali hening, hanya ada suara denting alat makan yang elegan. Tiba-tiba, ponsel Prasetya bergetar. Ia mengangkatnya, dan raut wajahnya berubah drastis. Ada ketegangan, rasa hormat, dan kegembiraan yang meluap.

"Ya? Benarkah? Kapan?" Prasetya berdiri dari kursinya. "Kami akan menyambutnya dengan sangat baik. Tentu saja."

Setelah menutup telepon, Prasetya menatap istri dan kedua anaknya dengan mata berbinar-binar.

"Berita besar. Cucu tunggal dari Pratama Group, Alvaro Pratama, akan kembali ke Indonesia minggu depan. Dia akan bersekolah di sekolah kalian," ujar Prasetya dengan nada yang bergetar.

Ratna menutup mulutnya karena terkejut. "Alvaro? Anak kecil yang dulu... yang dulu dekil dan sering bermain di halaman belakang kita karena kakeknya memberikan beasiswa?"

"Ya. Tapi sekarang dia bukan lagi anak miskin yang bau matahari. Kakeknya sudah menjadikannya pewaris tunggal seluruh aset Pratama. Dia kembali sebagai pangeran," Prasetya menoleh ke arah Airin dengan tatapan penuh rencana. "Dan yang paling penting... dia menelepon asisten kakeknya tadi. Katanya, Alvaro ingin mencari sahabat masa kecilnya."

Jantung Aira berdegup kencang. Alvaro. Nama itu memicu memori tentang seorang anak laki-laki yang menangis di bawah pohon mangga karena kakinya terluka, dan Aira kecil yang membalutnya dengan sapu tangan rajutan pertamanya.

"Dia mencari 'Ai'," lanjut Prasetya sembari tersenyum lebar pada Airin. "Airin, ini kesempatanmu. Dia pasti mencari kamu. Siapa lagi gadis bernama 'Ai' yang pantas bersanding dengannya kalau bukan kamu yang cantik dan cerdas?"

Airin tersipu, matanya berkilat penuh ambisi. "Aku ingat dia sedikit, Pa. Dia yang dulu sering aku beri sisa kue, kan?" dusta Airin lancar.

Aira mendongak, matanya membulat. "Tapi Pa, dulu yang sering bermain dengan Varo itu—"

"Diam, Aira!" potong Ratna dengan suara rendah yang mengancam. "Jangan coba-coba mengklaim sesuatu yang bukan milikmu. Dengan wajah dan otakmu yang seperti itu, mana mungkin seorang Alvaro Pratama mencarimu? Dia mencari 'Ai' yang sempurna, dan itu adalah Airin."

Prasetya mengangguk setuju. "Ingat ini baik-baik. Minggu depan, saat dia datang ke sekolah, Airin adalah satu-satunya sahabat masa kecilnya. Aira, jika kamu berani mendekatinya atau merusak rencana ini dengan penampilan dekilmu itu, Papa tidak akan segan-segan menghapus namamu dari kartu keluarga."

Aira terdiam. Di balik meja, ia meremas sapu tangan tua di sakunya—sapu tangan yang sama dengan yang dulu ia gunakan untuk membalut luka Alvaro. Air mata tertahan di pelupuk matanya.

Alvaro kembali. Tapi dia tidak mencari seorang gadis yang disebut "noda". Dia mencari sebuah kenangan yang kini siap dicuri oleh kembarannya sendiri.

2

Suara debur hujan di luar jendela perpustakaan sekolah seolah menarik paksa kesadaran Aira ke masa sepuluh tahun yang lalu. Ingatan itu selalu punya cara untuk kembali—seperti hantu yang menolak pergi.

"Ini, makanlah. Jangan menangis lagi, Varo."

Aira kecil menyodorkan separuh roti cokelatnya yang sudah agak penyet. Di depannya, seorang bocah laki-laki duduk meringkuk di balik batang pohon mangga besar. Seragamnya dekil, lututnya berdarah, dan bau keringat bercampur tanah menguar dari tubuhnya. Dia adalah 'anak sponsor', sebutan kasar anak-anak lain untuk Varo karena ibunya hanya seorang tukang cuci.

Bocah itu mendongak. Matanya yang sayu menatap Aira dengan ragu. "Kenapa kamu mau berteman sama aku? Mereka bilang aku bau sampah."

Aira tertawa kecil, mengabaikan noda tanah yang menempel di pipinya sendiri. "Aku juga sering dibilang aneh karena lebih suka menggambar baju daripada main boneka. Kita sama-sama aneh, jadi kita harus bersama, kan?"

Varo menerima roti itu. Gigitan pertamanya terlihat begitu lahap. Setelah tenang, ia meraih tangan kecil Aira, lalu mengaitkan jari kelingking mereka. "Nanti, kalau aku sudah besar dan tidak bau sampah lagi, aku akan menjemputmu. Kita akan selalu bersama, Ai."

"Janji?"

"Janji."

*

"Aira! Malah melamun! Cepat bersihkan kaca jendela itu!"

Bentakan salah satu anggota OSIS membuyarkan lamunan Aira. Ia tersentak, hampir menjatuhkan kain pel yang dipegangnya. Hari ini, sebagai hukuman karena nilai ujiannya yang buruk, Aira ditugaskan membersihkan jendela koridor lantai dua yang menghadap langsung ke gerbang utama SMA Garuda.

Aira menghela napas, mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan yang kasar. Rambutnya yang berantakan hanya diikat asal dengan karet gelang. Ia kembali menggosok kaca, sampai sebuah pemandangan di bawah sana menghentikan gerakannya.

Tiga mobil Mercedes-Benz hitam mengkilap masuk ke area parkir sekolah. Iring-iringan itu terlihat begitu mencolok di antara mobil-mobil mewah lainnya. Pak Satpam bahkan berdiri tegak dan memberi hormat saat pintu mobil tengah dibuka oleh seorang pria berjas rapi.

Seorang pemuda keluar dari sana.

Jantung Aira berhenti berdetak sesaat.

Pemuda itu mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya, tapi entah kenapa, seragam itu terlihat seperti pakaian bangsawan saat ia kenakan. Postur tubuhnya tegap, rambutnya hitam pekat tertata rapi, dan rahangnya yang tegas memberikan kesan dingin namun mempesona. Dia tidak lagi bau tanah. Dia berbau kemewahan.

"Varo..." bisik Aira pelan. Suaranya tercekat di tenggorokan.

Meski sepuluh tahun telah berlalu, Aira masih bisa mengenali tatapan mata itu. Mata yang dulu rapuh, kini tajam seperti elang. Itu adalah Alvaro. Sahabat kecilnya yang berjanji akan menjemputnya.

Air mata tanpa sadar menggenang di pelupuk mata Aira. Rasa sesak yang luar biasa menghimpit dadanya. Bukan karena cemburu melihat perubahannya, tapi karena rasa rindu yang sudah ia simpan di dalam gudang gelap hatinya selama bertahun-tahun kini meledak keluar.

"Dia benar-benar kembali," gumam Aira.

Tanpa berpikir panjang, Aira meletakkan kain pelnya. Ia mengabaikan teriakan pengawas OSIS di belakangnya. Ia berlari menuruni tangga, melupakan penampilannya yang kusam, bajunya yang sedikit basah karena cipratan air pembersih, dan kacamata tebalnya yang melorot.

Ia hanya ingin menyapa. Ia ingin bilang bahwa 'Ai' masih di sini. Ia ingin menunjukkan sapu tangan tua yang masih ia simpan di saku roknya.

Langkah kaki Aira melambat saat ia sampai di lobi utama. Kerumunan siswi sudah mengerubungi Alvaro, namun para pengawal pribadinya memberikan jarak. Aira menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memanggil nama itu.

"Varo—"

Belum sempat suara Aira keluar, sebuah bayangan cantik melintas di sampingnya dengan aroma parfum mawar yang mahal.

"Varo! Kamu akhirnya sampai juga!"

Suara itu sangat akrab. Suara yang selalu terdengar merdu namun mengandung racun bagi Aira.

Aira terpaku di tempatnya. Di depan sana, Airin sudah berdiri dengan senyum termanisnya—senyum yang sanggup meluluhkan hati siapa pun. Airin berdiri tepat di hadapan Alvaro, menatap pemuda itu dengan binar mata yang seolah-olah menunjukkan kerinduan yang mendalam.

Alvaro berhenti melangkah. Tatapan dinginnya perlahan mencair saat melihat Airin. Ia terdiam sejenak, menatap wajah cantik Airin dengan seksama, seolah mencoba mencocokkan wajah itu dengan memori masa kecilnya.

"Ai?" tanya Alvaro dengan suara berat yang membuat bulu kuduk Aira meremang.

Airin mengangguk cepat, tangannya meraih lengan Alvaro dengan manja. "Iya, Varo. Ini aku, Ai-mu. Kamu lama sekali kembalinya."

Aira yang berdiri hanya beberapa meter di belakang mereka merasa dunianya runtuh seketika. Kakinya terasa lemas, seolah seluruh tulangnya dicabut paksa. Ia melihat tangan Alvaro—tangan yang dulu mengaitkan kelingking dengannya—kini justru membalas genggaman tangan Airin dengan lembut.

"Maaf aku terlambat, Ai. Kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik," ucap Alvaro pelan, tanpa sekali pun menoleh ke arah Aira yang berdiri mematung di balik bayangan pilar sekolah.

Aira meremas sapu tangan di sakunya sampai kuku-kukunya memutih. Harusnya itu dia. Harusnya senyum itu untuknya. Namun, kenyataan pahit menghantamnya lebih keras dari apa pun: Di mata Alvaro, 'Ai' yang dia cari adalah gadis sempurna yang berdiri di depannya, bukan bayangan buruk rupa yang bersembunyi di balik jendela.

3

Riuh rendah suara siswa-siswi SMA Garuda seolah memudar, menyisakan kesunyian yang mencekam di telinga Aira. Ia terpaku, berdiri hanya tiga langkah di belakang punggung tegap Alvaro. Di tangannya, sebotol air mineral yang embun dinginnya mulai membasahi telapak tangannya yang gemetar, terasa begitu berat.

"Ai..." Alvaro menggumamkan nama itu dengan nada yang sarat akan kerinduan. Matanya menyipit, mencari-cari kilasan masa lalu di wajah cantik yang ada di hadapannya. "Namamu... aku ingat sedikit berbeda."

Detik itu, napas Airin tertahan. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik Alvaro yang tajam, seolah sedang menguliti kebohongannya. Namun, bukan Airin namanya jika ia tidak punya ribuan topeng untuk dipakai.

Gadis itu tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting lonceng namun bagi Aira terdengar seperti desis ular. Airin merapatkan jarak, jemarinya yang lentik dengan kuku yang dipoles merah muda lembut menyentuh lengan seragam Alvaro.

"Varo, kamu ini bicara apa?" Airin mengerucutkan bibirnya, berakting manja dengan sempurna. "Mungkin karena kita sudah terlalu lama berpisah. Aku Airin. Tapi kamu selalu memanggilku Ai, kan? Nama kecil yang hanya milik kita berdua."

Alvaro tampak termangu. "Airin... Ai..." Ia mengulangi nama itu, mencoba mencocokkan potongan puzzle di kepalanya yang terasa sedikit tidak pas.

"Iya, Varo. Panggil saja Ai, seperti dulu. Tidak ada yang berubah, hanya aku yang sekarang... yah, mungkin sedikit lebih cantik dari yang kamu ingat?" Airin mengedipkan matanya, memamerkan pesona yang membuat siswa-siswa di sekitar mereka menahan napas.

Aira, yang masih mematung di belakang, merasa seolah ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya. 'Bohong, Varo. Dia bohong!' teriaknya dalam hati. Namun, tenggorokannya terasa seperti disumbat batu. Ia tidak punya keberanian. Bagaimana ia bisa maju dengan wajah kusam penuh keringat, kacamata tebal yang melorot, dan rambut yang berantakan karena habis dihukum membersihkan jendela?

Dengan sisa keberanian yang ada, Aira melangkah satu tindak. "Va—Varo..."

Suaranya yang serak nyaris tak terdengar. Namun, Alvaro rupanya cukup peka untuk menoleh.

Pemuda itu memutar tubuhnya. Untuk sesaat, mata elang itu bertemu dengan mata Aira yang bersembunyi di balik lensa kacamata yang sedikit beruap. Jantung Aira berdegup kencang, berharap ada secuil keajaiban. Berharap Alvaro mengenali binar mata yang dulu selalu menemaninya menangis di bawah pohon mangga.

Alvaro menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya dingin, datar, dan penuh penilaian. Tidak ada kilatan pengenalan. Yang ada hanyalah kerutan di dahi, seolah ia baru saja melihat serangga yang mengganggu pemandangannya.

"Siapa dia?" tanya Alvaro dingin, tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Aira yang terlihat mengenaskan.

Airin menoleh, senyum kemenangannya sekilas terlihat sebelum ia memasang wajah prihatin yang dibuat-buat. "Oh, dia... dia Aira. Salah satu siswi di sini. Dia memang sedikit... unik, Varo. Mungkin dia mau menawarkan air itu padamu?"

Alvaro mendengus pelan, matanya kembali menatap botol air mineral murah di tangan Aira yang sedikit lecet. "Tidak perlu. Aku tidak haus," ucapnya datar, lalu kembali membuang muka seolah Aira hanyalah angin lalu.

Dada Aira berdenyut nyeri. Kata-kata itu lebih tajam dari sembilu. Ia menunduk dalam, menatap sepatunya yang kusam. Air mata mulai menggenang, membuat pandangannya semakin kabur.

"Lihat, Varo. Kamu membuat dia takut," Airin berbisik, lalu dengan berani ia melingkarkan tangannya di pinggang Alvaro. "Sudahlah, abaikan saja dia. Aku sangat merindukanmu. Kamu tidak tahu betapa sepinya aku selama ini tanpamu."

Alvaro terdiam sejenak. Ia menatap Airin, mencari kepastian. Entah karena rasa bersalah karena telah meninggalkan sahabatnya terlalu lama, atau karena ia memang sudah terpesona oleh kecantikan di depannya, Alvaro akhirnya tersenyum. Sebuah senyum tulus yang dulu hanya milik Aira.

"Aku juga merindukanmu, Ai," gumam Alvaro.

Lalu, di depan ratusan pasang mata yang menonton, dan tepat di depan mata Aira yang mulai meneteskan air mata, Alvaro menarik Airin ke dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu dengan hangat, seolah sedang mendekap kembali masa lalunya yang hilang.

Aira hanya bisa berdiri membeku. Botol minum di tangannya jatuh ke lantai dengan suara berdebam yang pelan, menggelinding menjauh, persis seperti hatinya yang kini hancur berkeping-keping. Di pelukan itu, Alvaro telah menemukan rumahnya—rumah yang dibangun di atas pondasi kebohongan kembarannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!