Indonesia
NovelToon NovelToon

Cinta Gus Khai

1

" Lho ndak bisa gitu dong Bi, Kai dan Aiza itu saling cinta, lagian pembicaraan kemarin sudah jelas kalau kita mengkhitbah Aiza untuk Kai bukan Mas Ilham" protes pria berumur dua puluh tujuh tahun tersebut.

Kai Adrian Dokter spesialis jantung dan juga seorang Gus terkenal karena prestasi dan ketampanannya, Putra ke tiga dari kiyai Ibrahim dan Juga Ibu Nyai Siti.

" Tapi mas mu juga mencintai Aiza, kita sudah bicara dengan keluarga Aiza dan Aiza sendiri nak... bahkan Aiza juga menyetujuinya" jawab Kiyai Ibrahim .

Khai tampak lelah dengan obrolan ini, apalagi dirinya baru saja melakukan operasi besar, yahh Kak Adrian atau kerap di sapa Gus Kai adalah seorang Dokter spesialis jantung di salah satu rumah sakit di jogja.

" Terserah abi sama umi kalau begitu , Kai capek dan kalau itu keputusan abi dan umi kai hanya manut... toh keputusan Abi enggak bisa di ubah" ujar Gus Kai yang mendengar jika Aiza juga menyetujuinya.

Gus kai kemudian naik ke lantai dua dan menuju ke kamarnya, saat di tangga paling ujung dirinya berpapasan dengan sang kakak.

" Dek... maaf , mas ...." Belom selesai Gus Ilham, berbicara Gus Kai lebih dulu berlalu dan masuk ke dalam kamarnya.

Gus Kai membanting pintu kamarnya yang membuat Gus Ilham terkejut, karena Sang begitu marah dengan dirinya.

" Astagfirullah " gumam Kai sambil mengusap dadanya yang sedang di kuasai oleh amarah.

Kai beranjak dan mulai membersihkan dirinya, hari ini dirinya cukup lelah di rumah sakit, di tambah dirinya harus menerima kabar jika pujaan hatinya, harus menikah dengan abangnya.

...****************...

Keesokan harinya Kai lari seperti biasa, setelah Lari Kai membersihkan diri dan mulai mengajar di pondok, karena hari ini dirinya memeliki jadwal mengajar.

" Kai sarapan dulu kai" ucap Nyai Siti menegur sang putra.

Kai melihat sekilas ke arah Ilham, " Kai mau mandi, habis itu ngajar " jawab Kai yang kemudian naik ke lantai dua menuju kamarnya.

" Mas kai kenapa umi?" tanya Balqis adik Kai dan Ilham , anak bungsu Kiyia Ibrahim dan Juga Nyai Siti.

" Gapapa nduk, mungkin mas mu sedang capek " jawab Nyai Siti melirik ke arah Suaminya.

Kiyia Ibrahim hanya mengedipkan mata dan mengangukan kepala pada sang istri, beliau tau apa yang di khawatir oleh sang istri, namun mau bagaimana pun , mereka sudah membicarakan pada keluarga Aiza.

" Dek...mau bareng mas gak? sekalian aja bareng sama Mas " ucap Gus Ilham mengalihkan pembicaraan di meja makan.

" Boleh Mas... Balqis ambil tas dulu kalau kayak begitu" jawab Balqis yang memang sudah menyelesaikan sarapannya.

"Iyaa, mas tunggu di sini" jawab Gus Ilham.

Sepeninggalan Balqis, Ilham menundukan kedua kepalanya , " Ada apa le?" tanya Kiyai Ibrahim.

" Ilham enggak enak sama Khai Bi,Khai pasti marah dengan Ilham, Ilham gapapa jika Khai yang harus menikah dulu Bi, lagi pula kan Ilham bukan anak kandung Abi dan Umi" ujar Ilham yang memang mengetahui semuanya.

Kiyai Ibrahim dan Nyai Siti di percaya kedua orang tua Ilham, sebelum Kedua orang tua Ilham meninggal, saat itu usia Ilham belum ada dua tahun dan saat itu juga Nyai Siti sedang hamil Gus Khai, Ilham di angkat oleh Kiyai Ibrahim dan Nyai Siti setelah mendapatkan kabar jika kedua orang tua Ilham meninggalkan karena kecelakaan.

Nyai Siti sudah menganggap Ilham seperti anaknya sendiri, bahkan Saat beliau menyusui Khai, Nyai Siti juga menyusui Ilham, karena dirinya tidak ingin berpisah dengan Ilham.

" Jangan bilang seperti itu le... kamu itu anak pertama umi dan Abi , aku jangan ngomong seperti itu lagi, umi enggak suka le" ujar Umi Siti.

Di saat usia dua puluh tahun, Kiyia Ibrahim dan Nyai Siti terpaksa mengatakan kepada Ilham jika dirinya bukanlah lahir dari rahim uminya, namun kasih sayang mereka sama seperti pada Khai dan juga Balqis.

Ilham merasa bersalah melihat umi Siti yang menangis, ia kemudian memeluk umi Siti, karena dirinya juga tahu jika umi Siti pernah menyusui dirinya, Kiyai Ibrahim dan nyai Siti menceritakan pada Ilham semuanya,tidak ada yang di tutupi lagi.

" maafkan Ilham mi, tapi Ilham juga merasa bersalah dengan Khai, Ilham merasa tidak enak dengan Khai umi, abi" ucap Ilham mengeluarkan uneg- unegnya.

" Le... denger Abi..Aiza juga menyetujuinya, mungkin memang Aiza bukan yang terbaik bagi Khai le.., mungkin kamu yang terbaik buat Aiza, kita doa kan saja supaya Khai segera di temukan oleh jodohnya" Nasihat Kiyia Ibrahim pada sang putra.

" Nanti Abi dan Umi yang akan kasih nasihat kembali buat Khai, Khai pasti ngerti kok, kamu jangan merasa bersalah, ini mungkin sudah jalannya jika Aiza itu memang jodoh mu" imbuh Kiyai Ibrahim.

" Iya abi.. doakan semoga Ilham dan Aiza bahagia yaa abi, umi" ujar Ilham.

" Doa umi dan Abi enggak pernah putus buat kamu le.. kamu itu anak sulung abi dan umi" sahut Umi Siti.

" Terima kasih Umi... Ilham enggak tau bagaimana cara membalas kebaikan abi dan umi" sahut Ilham.

"loh kok pada nangis sih... ada apa?" tanya Balqis yang baru saja turun.

" Ahh gapapa, udah sana berangkat., nanti di hukum loh" jawab Umi Siti mengusap air matanya .

" Oh... kirain ada apa, ya sudah Balqis sama mas Ilham berangkat dulu yaa..mi.. bi" pamit Balqis mencium tangan kedua orang tuanya.

" Iyaaa.... oh yaa.... nanti jangan lupa panggil Bila yaa...., nanti malam pak lek sama bu lek kesini, mau jemput Bila, besok kan acara pernikahan Adam" pinta Abi Ibrahim pada putri bungsunya.

" siap bah... horeee besok libur... besok liburr" sahut Balqis yang kesenangan karena dirinya nanti akan ikut bulek dan paleknya karena menggantikan Umi dan Abinya yang mendapatkan undangan ke jakarta.

" seneng banget libur, inget dek... Mas kasih tugas buat kamu sama Bila, jangan lupa di kerjakan loh dek " ujar Ilham.

" Ahh mas Ilham malah di ingetin, oh yaa tapi abi sama umi nyusul kan? " sahut Balqis.

" Iya besoknya umi dan Abi langsung ke bandung " jawab Umi Siti.

" Ayo dek keburu apel ini" ujar Ilham.

" Iyaa .... Assalamualaikum abi ....umi.." Pamit Balqis.

Sedangkan di Asrama Khai serta ustad Imron sedang berkeliling, memeriksa kamar apakah ada santriwan yang masih berada di asrama dan sembunyi.

" Gus, sampean nanti jadi ke bandung?" tanya Ustad Imron salah satu Ustad yang dekat dengan Khai.

" Iyaa, sampean jadi to nemenin saya, saya berangkat malam soalnya, habis ini saya mau ke rumah sakit dulu " jawab Khai.

" Ning Balqis sama Ning Bila?" tanya Ustad Imron.

" Bareng bulek sama Paklek saya, nanti di jemput, soalnya abi sama umi berangkat ke jakartanya habis ini " jawab Khai.

" Gus Ilham?" tanya Ustad imron kembali.

" Gak tau.... jaga kandang paling" jawab Khai ketus saat Ustad imron menanyakan Ilham.

" Assalamualaikum " Salam seorang gadis saat mereka berpapasan di depan Asrama.

" Waalaikumsalam " jawab Khai dan Ustad imron .

" Afwan Gus Khai, apa bisa bicara berdua?"

2.

Aiza ,Yahh... Aiza calon istrinya yang kini sudah menjadi calon istri sang kakak, Aiza adalah ustadzah muda, yang berhasil mencuri perhatiannya.

" ustad imron apa boleh tunggu saya di koridor asrama, saya akan bicara di sini dan tolong jangan tutup gerbangnya takut menjadi fitnah" ucap Khai dengan nada dingin yang baru Aiza dengar.

Aiza terdiam, dirinya tampak menundukan kepalanya, Aiza adalah salah satu ustadzah muda yang berhasil memikat Gus Khai.

Aiza yang awalnya tidak ingin berharap lebih saat mengetahui jika Gus Khai menyukainnya, dan pasti Gus Khai sudah di jodohkan denang yang sekufu.

Namun tiba- tiba saja dua bulan lalu, keluarga kiyai Ibrahim datang ke rumahnya untuk mengkhitbah dirinya untuk Gus Khai.

Aiza langsung menerimanya, di tengah- tengah keluarga Kiyai Ibrahim kembali datang dan memberitahu jika dirinya akan menikah dengan Gus Ilham bukan Gus Khai.

Aiza yang memang tidak berani protes,ia memilih diam dan menerima semua dawuh dari kiyainya dan mungkin itu yang terbaik.

" Maafkan saya Gus,.saya tidak berani membantah ucapan Kiyai Ibrahim" ujar Aiza dengan masih menundukan kepalanya.

Gus Khai tersenyum smirk sambil menatap ke arah Aiza sekilas yang terlihat menunduk, " berbahagialah, saya juga akan bahagia dengan pilihan saya " jawab Gus Khai kemudian masuk kembali kedalam asrama putra dan menghampiri ustad imron.

Aiza menatap kepergian Gus Khai, dia sebenarnya juga mencintai Gus Khai, namun apalah daya Aiza yang tidak bisa menolak,karena bapaknya sudah menerima lamaran dari Gus Ilham dan mereka akan menikah dua bulan lagi.

" Aiza " sapa Seseorang dari arah belakang Aiza.

Aiza terkejut dan menoleh ke belakang setelah itu kembali menunduk,saat mengetahui orang yang menyapanya adalah calon suaminya yaitu Gus Ilham.

".Assalamualaikum Gus" sapa Aiza pada Gus Ilham.

" Waalaikumsalam, kenapa kamu di sini? ada perlu ?" tanya Gus Ilham dengan lembut, namun dengan wajah datarnya.

Gus Ilham terkenal dengan ketegasnya dan pendiam, sedangkan Gus Khai lebih terkenal dengan segala prestasi dan sifat ramahnya ke semua orang.

" enggak Gus, saya tadi hanya lewat saja " jawab Aiza.

"Ooo. .... oh yaa... lusa apa ada waktu? lusa ada orang kepercayaan umi datang, untuk fitting baju, apa bisa? soalnya umi dan Abi sedang ada urusan di Jakarta dan Bandung jadi tidak bisa menemani mu " sahut Gus Ilham yang mengingat pesan dari uminya.

" Baik Gus, nanti Gus kabarin saya saja, kalau begitu saya mau pamit Gus, sepertinya Apel sudah mau di mulai, Assalamualaikum" pamit Aiza.

" Iya silahkan, Waalaikumsalam " jawab Gus Ilham mempersilahkan calon istrinya untuk pergi.

Gus Ilham menatap kepergian Aiza, "Saya tahu jika kamu menyukai Khai, tapi apa boleh kali ini saya egois Za, abi dan umi pun berpihak pada kita, maafkan saya Za, saya janji akan membuat kamu bahagia " gumam Gus Ilham dalam hatinya sambil menatap kepergian calon istrinya itu.

Apel pagi di mulai, kali ini Apel di pimpin oleh Gus Khai sendiri, hari ini Khai tidak ada jadwal di rumah sakit,karena dirinya sedang mengambil libur untuk beberapa hari ke depan.

" Gus Ilham sebenarnya udah ganteng, tapi Gus Khai aduhhhh ganteng banget " gumam Santri kala selesai Apel, dan melihat Gus Khai yang masih berdiri di depan.

" Iyaa banget lagi, walaupun Gus Ilham lebih cool ,tapi Gus Khai Husband material banget, udah gitu dokter lagi " imbuh santri tersebut.

" ekhmmm" deheman seorang wanita membuat dua santri tersebut menoleh ke belakang.

" ehhh Ustazah Aiza" sapa Kedua santri tersebut saat melihat Aiza yang berada di belakang mereka.

" kenapa kalian masih di sini?" tanya Aiza dengan nada lembut, namun bagi Aiza itu sudah termasuk tegas.

" hehehe iya us, ini kita juga mau masuk ke kelas kok" Jawab kedua santriwati tersebut, kemudian mencium tangan Aiza dan pergi dari lapangan.

walaupun berada di satu kawasan, namun Madrasah santriwan dan santriwati tetap di pisah, masjid pun di pisah, walau terkadang jika ada pengajian gabungan, santriwati bisa ke masjid santriwan.

"Assalamualaikum, Afwan Ustazah Aiza di panggil " umi, di ndalem " sapa salah satu abdi ndalem yang mintai tolong oleh Umi Siti.

" Waalaikumsalam, nggeh mbak, matur suwun sampun di sampaikan ke kulo" balas Aiza, kemudian menatap ke arah Khai sebentar dan pergi dari lapangan madrasah putri.

Sedangkan Gus Ilham memimpin Apel di pondok putra, namun sepertinya Gus Ilham sedang tidak fokus, fikirannya tertuju pada Aiza dan juga Khai.

Di satu sisi dirinya senang jika di jodohkan dengan Aiza, namun di sisi lain ia merasa tidak enak hati dengan Khai, adiknya.

" maafkan Mas Khai, satu kali ini saja mas mengalah" gumam Gus Ilham yang masih mengikuti Apel.

Sedangkan di salah satu kampus di jogja terkenal di jogja, seorang mahasiswa bernama Eelena Najma, atau kerap di panggil Najma, kini sedang berdiri mempresentasikan hasil kerja sama dengan timnya.

Suara tepuk tangan menggema di seluruh kelas ketika kelompok Najma baru saja selesai presentasi, " bagus, kalian rinci dalam menjelaskan, pertanyaan juga kalian jawab dengan tepat" puji dosen mereka.

Najma adalah salah satu mahasiswa di jurusan psikologi, Najma berasal dari bandung, dan dirinya mendapatkan beasiswa full, di kampusnya akan kepintarannya.

" Kamu keren Ma" bisik teman sekelompok Najma.

" Kamu juga karena Fa" Balas Najma.

Setelah presentasi Najma kembali ke tempat duduknya dan mengikuti mata kuliah hingga selesai.

" Oh yaa ke cafe yukk, buat selebrasi, karena kita lancar presentasinya" ujar Aisyah salah satu teman kelompok Najma.

" Ayo..."

" Gas"

" Aku mah ikut " sahut beberapa teman kelompok Najma.

" Ma,.kamu ikut kan?" tanya Syifa.

" Kayaknya kalian aja dech" sahut Najma.

Najma di jogja ngekos dan dirinya hanya hidup dengan ibunya, namun ibunya di bandung, ibu Najma seorang tukang masak di salah satu pondok di bandung.

Ayah Najma sudah lama meninggal dan Najma adalah anak tunggal, dia tidak memiliki saudara sama sekali, Najma juga kerja paruh waktu, di salah satu rumah makan, terkadang Najma juga membuka joki tugas, untuk menyambung hidupnya di jogja.

" Aman Ma.... aku yang bayar... sekali - kali, kamu enggak perlu khawatir soal itu" sahut Syifa.

" enggak ahh.. aku enggak enak sama kalian, kalian udah banyak bantu aku" jawab Najma yang memang tidak enakan.

Kemudian Syifa dan aisyah teman Najma, menarik tangan Najma, agar ikut mereka, mereka adalah teman dekat Najma yang begitu baik pada Najma, mereka sering mengajak Najma jalan dan membayari makan Najma, bahkan Najma kenal baik dengan orang tua Syifa dan juga Aisyah.

" ehhh kalian mau bawa aku kemana?" tanya Najma.

" Udah ikut aja" sahut Syifa dan Aisyah bersamaan.

Najma akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti teman- temannya, suara dering ponsel dari saku celana Najma.

" ehh bentar, handphone aku bunyi" ujar Najma, Syifa dan Aisyah kemudian melepaskan tangan Najma.

Najma merogoh saku celananya dan mendapati panggilan dari Nyai Ida, dimana ibu Nyai tempat ibunya bekerja.

" Nyai Ida, tumben banget " gumam Najma.

" Udah angkat aja siapa tau penting" Ujar Izza teman Najma lainnya.

" Assalamualaikum Nyai"

" ........"

" mohon maaf Nyai, ada apa ya.. sampai telfon Najma?" tanya Najma dengan sopan dan lembut.

" ..........."

" Astagfirullah baik Nyai, Najma pulang siap- siap dulu"

3.

Najma di antar oleh Syifa ke kos nya yang hanya satu petak tersebut, kamar mandipun di luar dan harus sharing dengan yang lainnya.

Najma mulai mengemasi bajunya, tadi ia di telfon oleh Nyai Ida, atau Najma sering memanggilnya Umi ida, istri kiyai Idris dimana ibunya bekerja.

Nyai Ida tadi memberitahu Najma jika ibunya sakit dan memanggil namanya terus menerus dan hari ini Nyai Ida akan menjemput putrinya yang mondok di jogja juga dan Nyai Ida meminta Najma untuk bersiap dan ikut pulang ke bandung untuk melihat ibunya.

" Kamu berangkat dari mana Ma? biar aku antar" tanya Syifa yang masih menemani Najma.

" Gapapa kok Fa, aku kesana sendiri saja, aku di suruh ke pesantren Darrussalam" jawab Najma.

" Nahhh itu mahh deket rumah aku ma... ayo sekalin aja aku antar, itu pesantren yang gede itu kan? punya Kiyai Ibrahim" sahut Syifa yang memang rumahnya daerah Sleman bagian utara.

" Iya memang deket rumah kamu Fa, tapi aku enggak enak, kamu udah terlalu banyak nolong aku" jawab Najma, Najma sering ke pondok tersebut karena sering di mintai tolong Nyai Ida tunggu menjenguk Billa, anak bungsu nyai Ida dan kiyai Idris.

" Udah bareng aja ,orang searah juga" sahut Syifa.

" Ini udah semua Ma? aku bawa ke motor yaa?" imbuh Syifa melihat tas najma yang hanya membawa beberapa baju.

" biar aku aja Fa, ini tinggal masukin laptop" sahut Najma kemudian merapikan kembali kamarnya sebelum ia tinggal.

Kini Najma dan Syifa perjalanan menuju pesantren Darrussalam jalan begitu lenggang dan kurang dari dua puluh menit mereka sudah sampai, yang bisanya membutuhkan waktu dua puluh menitan, untuk sampai.

Saat di depan pondok, Najma melihat mobil Nyai Ida baru saja masuk ke kawasan pesantren, tidak lama ponselnya juga berbunyi.

" Fa, kamu mau masuk dulu enggak, ini umi ida udah telfon lagi?" tanya Najma pada Syifa.

" enggak usah Ma, aku langsung aja, oh yaa... hati- hati yaa... kalau ada apa- apa kasih tau aku yaa... berkabar yaaa" jawab Syifa yang sudah menyalakan motornya.

" Makasih banget yaa Fa.... ,maaf kalau aku banyak ngerepotin" sahut Najma yang benar - benar tidak enak hati pada sahabatnya tersebut.

" Udah, makasih mulu sana masuk, aku mau jemput adik aku dulu, Assalamualaikum " pamit Syifa, Najma melihat kepergian Syifa hingga tak terlihat kembali.

" Teh Najma" teriak seorang gadis dari arah gerbang pesantren.

Gadis tersebut adalah Billa, anak Nyai Ida yang biasanya di jenguk oleh Najma, Najma cukup dekat dengan keluarga Nyai Ida.

" Ning Billa" sapa Najma melampaikan tangannya.

Ning Billa kemudian menghampiri Najma yang masih berada di luar gerbang pesantren, Ning Billa kemudian mengajak Najma untuk masuk, karena uminya juga baru saja datang.

" Teh Najma dari kuliah?" tanya Najma yang melihat pakaiannya Najma, yang masih pakai celana,karena biasanya jika menjenguk dirinya Najma akan menyesuaikan, jika tidak pakai gamis dirinya akan pakai rok.

" Iyaa Ning, tapi saya baru saja selesai kuliah, pas mau pulang Umi ida telfon, bilang ibu saya sakit demam tinggi dan terus panggil nama saya, dan umi ida mengajak saya buat sekalian pulang ,.buat lihat keadaan ibu Ning" jawab Najma menjelaskan kejadiannya pada Ning Billa.

" Iya teh, tadi umi juga udah bilang sama aku, Ayo teh masuk dulu, Umi tadi habis dari luar, sambil nunggu teteh" sahut Ning Billa.

Najma dan Billa mulai berjalan, saat melewati rumah- rumah pengajar, mereka berpapasaan dengan mobil hitam gagah.

Seseorang dalam mobil tersebut membuka katanya dan menyapa Billa, " Dek, di Cari Balqis " ujar seseorang di dalam mobil tersebut.

" Iya ini mau ke sana, Mas Kai mau kemana?" tanya Billa.yahh... orang yang ada di dalam mobil tersebut adalah Kai, anak kiyai Ibrahim dan Nyai Siti.

"Mas, mau ke rumah sakit dulu, ada pekerjaan, nanti mas langsung nyusul dari rumah sakit, itu Umi juga udah nunggu loh" jawab Kai.

Kai menghiraukan Najma, begitu pun dengan Najma yang sama sekali tidak melirik ke arah kai, fokusnya pada ponselnya yang kini sudah di iket dengan karet gelang dan berkabar dengan teman ibunya yang juga juru masak di pesantren milik Nyai Ida.

" Ya sudah Mas, berangkat dulu yaa.. Assalamualaikum " pamit Kai.

" Waalaikumsalam " jawab Najma dan Ning Billa bersamaan, Namun Najma sama sekali tidak melihat ke arah Kai.

" Ayo mbak" ajak Ning Billa kembali.

Mereka kembali menyusuri rumah - rumah para pengajar yang memang di sediakan oleh pesantren, setelah berjalan sekitar 6 menit mereka sampai di depan Ndalem utama, dengan bangunan yang cukup mewah.

Tidak di pungkiri karena Kiyai Ibrahim juga seorang pengusaha tambang batu bara, memeliki perusahan percetakan, perusahan tekstil dan memeliki toko banu serta restoran khas Timur yang kini di kelola oleh kedua anaknya.

"Assalamualaikum " Ucap Najma dan Billa bersamaan.

Umi Ida yang memang menunggu di teras kemudian berdiri saat melihat kedatangan Najma dan juga Billa.

" Waalaikumsalam, maaf ya Naj, umi baru bilang, sebenarnya ibu mu enggak mau umi bilang ke kamu" jawab Nyai Ida.

" Tidak papa umi, Najma berterima kasih sama umi, karena sudah memberi tahu najma dan mengajak Najma untuk pulang bareng,Najma dan ibu sudah terlalu banyak ngerepotin umi dan keluarga" jawab Najma yang tidak lupa mencium tangan Nyai Ida.

" Udah siap dek?" tanya Nyai Ida yang memang sudah tiba sedari tadi dan tadi sempat keluar sebentar.

" Sudah umi, Balqis mana?" tanya Billa.

" I' m here.... " teriak balqis dengan koper besarnya yang berwarna kuning .

" ih.... cantik banget, MasyaAllah mbaknya siapa bulek?"tanya Balqis pada buliknya.

" ini Teh Najma namanya, anaknya bu asih, kamu kenal bu asih kan?" sahut Nyai Ida.

" Tau dong, Aku suka masakan bu Asih enak banget teh" sahut Balqis tersenyum ke arah Najma.

" Terima kasih Ning, sudah memuji masakan ibu saya, ibu saya memang pandai masak" sahut Najma yang tiba- tiba saja merindukan masakan ibunya, sudah lama dirinya tidak makan masakan sang ibu.

" Ya sudah yukk... udah semua kan, Kang tolong angkat barangnya ndoro ini kang, cuma lima hari bawaannya udah kayak mau pindahan " Nyai Ida meminta tolong pada kang ujang, yang biasanya mengantarkan Nyai ida kemana- mana.

" Baik Umi " jawab Kang Ujang yang mulai memasukan barang Balqis dan bila, di bantu oleh Najma.

Kriknggg.....

suata dering ponsel Nyai Ida berbunyi, Nyai ida segera mengangkat panggilan dari suaminya.

" Halo Assalamualaikum bi" .

" ......."

" kenapa bi?" tanya Nyai Ida.

" ......."

" Udah, ini kita mau berangkat ,ada apa?" tanya Nyai ida.

" ......"

"Innalilahi, iyaa umi hubungi Kai dulu, kai baru berangkat soalnya "

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!