Indonesia
NovelToon NovelToon

AKU YANG DIPANDANG HINA

Chapter 01

“Selamat pagi, mbak Yusniar,” sapaan ramah terdengar dari wanita berumur dua puluh lima tahun, berpenampilan elegan – celana palazzo biru muda, blazer warna senada dan dalaman turtleneck putih.

“Pagi juga, Ayunda.” Ia memperhatikan penampilan sang asisten, lalu tersenyum lembut seraya mengacungkan kedua jari jempol tangannya. “Perfect.”

Ayunda tersenyum lebar memperlihatkan apple cheeks bagian pipi naik ke atas, menambah kadar kecantikannya. “Mbak Niar juga cantik banget, suka bikin aku iri.”

“Kamu bisa banget mujinya.” Niar menutup map yang baru saja selesai diperiksanya. “Sudah siap dengan rutinitas hari Senin kita?”

“Siap gak siap, kudu dipaksa siap, Mbak.” Ayunda menyimpan tas pada laci meja kerja, lalu memeluk sebuah tablet.

Niar jalan lebih dulu, menaiki undakan tangga pendek. “Ayo!”

Kedua wanita tersebut melangkah serasi, penampilan mereka elegan, menonjolkan kecantikan dalam balutan kantoran terbilang sopan.

Ayunda dengan setelan andalannya – blazer lengan sesiku, celana panjang yang membuat kakinya terlihat jenjang. Sementara Yusniar lebih suka memakai rok selutut dan kemeja sedikit longgar.

Pintu kupu tarung berwarna abu-abu diketuk oleh Ayunda, ruangan direktur utama Wangsa group. Perusahaan bergerak dibidang pangan, kebutuhan sehari-hari masyarakat, dan pusat perbelanjaan.

Ketika dipersilahkan oleh suara tenang nan tegas – Ayunda bersama atasannya melangkah masuk, menampilkan raut ramah dengan senyum sopan.

“Selamat pagi, tuan Daksa. Pak Iyan,” sapa Ayunda disertai wajah sedikit menunduk.

“Pagi,” hanya ada jawaban tunggal dari asisten sang direktur.

Tuan Daksa Wangsa mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangan dari komputer baru saja dinyalakan.

Sekretaris Yusniar mendekati bos nya, siap membacakan jadwal harian.

“Pak Iyan, mau kopi atau teh?” tanya sopan Ayunda, dia meletakkan tablet di atas meja tempat menerima tamu penting.

“Pagi ini lebih cocok kopi. Semalam suntuk begadang nonton bola, berharap menang taruhan malah kalah satu juta rupiah. Apes bener nasibku kan, Ayunda?” adunya sambil menghela napas, berbicara santai.

Bukan menenangkan, sebaliknya mengangguk mengiyakan. “Ya begitulah, Pak. Tapi anehnya bapak gak kapok-kapok, dalam sepuluh kali taruhan, menang cuma sekali, tetap saja lain kali diulang lagi.”

“Kejamnya dirimu, Ayunda.” Iyan menghempaskan bokongnya pada sofa leter L.

Ayunda terkekeh, ia pergi ke pojok kanan di mana terdapat pantry. Bersiap membuat kopi pesanan sang asisten pribadi tuan Daksa, dan secangkir teh teruntuk bos nya. Rutinitas sehari-hari sebelum duduk dibalik meja seraya memandangi komputer menyala.

Pada ruangan luas berwarna khaki dan coklat jati, terdengar suara tenang, lugas asisten ceo muda tengah membacakan skedul.

Iyan sibuk dengan berkas yang wajib diperiksa terlebih dahulu sebelum diserahkan ke tuan Daksa, jika tidak seperti itu – cari mati namanya.

Pria berkemeja navy polos yang duduk di singgasananya, rambut cepak klimis, mata bak Elang dengan sepasang alis tebal dan bulu mata tidak terlalu lentik itu memiliki kepribadian tegas, tak kenal kata toleransi apabila seseorang melakukan kesalahan sama sudah dua kali.

Daksa Wangsa, terlihat tenang di permukaan, jarang tersenyum, dingin, tetapi digandrungi banyak wanita yang ingin naik ke atas ranjangnya siap memberikan kepuasan batin.

“Diminum dulu, Pak. Selagi hangat.” Ayunda meletakkan secangkir kopi di atas meja. Kemudian dia melangkah ke tempat pria masih fokus pada berkas menumpuk.

“Rasanya beneran pas. Kamu sudah cocok jadi ibu-ibu, Ayunda,” seloroh Iyan ketika menyeruput kopi buatan asisten sekretaris.

Wanita yang rambutnya digelung rapi, riasan tipis itu menanggapi dengan senyum masam.

“Tuan, ini teh nya.” Ia menaruh minuman, berkata dengan nada formal.

“Hem. Terima kasih,” ucap pria berumur dua puluh sembilan tahun tanpa menatap bawahannya.

Yusniar dan Ayunda saling pandang lalu sama-sama tersenyum, sudah sangat biasa mendapatkan balasan super singkat dari bos irit bicara.

“Pak Iyan, apa ada yang perlu dibantu?” ia menawarkan diri, sebab Yusniar masih ditawan sang bos.

“Ada. Sini berdiri di belakangku, pijat pundak yang terasa pegal-pegal,” pintanya.

“Kalau itu lebih baik berbaring di rel kereta api, Pak. Lebih afdol dan dijamin langsung sembuh,” Ayunda membalas dengan sebuah candaan, karena dia tahu Iyan juga cuma bercanda.

Pria pemilik mata sipit, wajah oriental, menatap penuh perhitungan gadis yang masih tersenyum puas. “Ayunda, kamu habis begadang juga ya?”

“Gak, Pak. Kenapa memangnya?”

“Ada Panda di kelopak matamu. Aku jadi penasaran, kali ini apa alasanmu masih tetap sama seperti yang sudah-sudah. Kecanduan nonton drama sampai subuh?” Alisnya naik turun, jelas tengah menggoda.

“Masa sih?” Ayunda menepuk-nepuk pipi, lalu mengambil ponsel pada saku blazer, membuka aplikasi kamera depan.

“Penglihatan bapak tajem banget, padahal sudah saya tutupi pakai make up,” gumamnya pelan.

“Kamu belum jawab pertanyaanku loh,” tuntutnya.

“Biasalah wanita di hari libur kerja, Pak. Kalau gak jalan-jalan ya maraton nonton drama.” Bahunya sedikit terangkat, lalu menyimpan lagi ponselnya.

“Oh ….” balas Iyan bernada.

“Apa tugasmu sudah selesai? Kalau iya, biar saya periksa.” Daksa Wangsa menaruh cangkir teh yang isinya tinggal setengah.

“Jangan dulu bos. Saya belum mempersiapkan diri,” cepat-cepat Iyan kembali fokus.

“Niar, nanti siang kamu saja yang menemani meninjau pabrik,” titah Daksa.

“Baik, Tuan. Saya pamit undur diri.” Yusniar menunduk, lalu berbalik badan dan berlalu dari sana, diikuti oleh Ayunda yang juga berpamitan.

***

“Ya ampun, untung mbak Niar gak lihat tanda merah ini!” Ayunda dilanda cemas, buru-buru mengeluarkan foundation dari pouch kecil.

“Bener kalau foundation nya anti air tapi rentan terhadap gesekan.” Jemarinya bergerak lincah mengoles krim tepat di kulit bawah rahang demi menutupi bercak merah pekat.

Belum juga selesai, ponsel Ayunda berdering. Awalnya ingin mengabaikan, tetapi setelah sadar jika suara panggilan itu khusus dari salah satu orang yang tidak bisa benar-benar dianggap keluarga, dia bergegas menyambungkan sebelum dicaci maki.

“Halo _”

“Kemana aja lu Benalu? Dari tadi gua hubungi gak nyambung-nyambung?!”

Suara diujung sana terdengar sangat kesal. Namun sudah sangat biasa bagi wanita tengah menatap cermin wastafel toilet khusus karyawan.

“Aku lagi kerja, Vini _”

“Jangan ngelunjak lu ya! Panggil Nona! Lu itu cuma Benalu di keluarga gua!” suaranya melengking, meluapkan kekesalan yang sudah pasti bukan karena panggilannya tidak cepat direspon.

“Nona Vini, ada apa menghubungi saya?” katanya formal, sesuai keinginan kakak tirinya.

“Sepulang kerja, pulang ke rumah yang sudi memungutmu! Jangan sampai telat!”

“Ada perlu apa?”

“Gak usah banyak tanya lu!” tanpa permisi dia langsung mematikan sambungan ponsel.

Ayunda memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap cermin yang memantulkan dirinya. ‘Benalu … harus sampai kapan cap hina itu melekat padaku?’

.

.

Bersambung.

Semoga suka, dan dapat memberikan hiburan disela-sela kesibukan dunia nyata ❤️, semoga juga betah dari awal sampai akhir kisah ini.

Lusa rilis horornya, bagi yang gak suka genre serem, mohon untuk tidak membuka bab.

Terima kasih banyak Kakak ku ❤️‍🔥

Chapter 02

‘Bohong kalau aku biasa saja karena sudah sangat terbiasa oleh cap Benalu yang melekat layaknya noda hitam pada baju putih. Tetap terasa menyakitkan di hati ini.’ Tangan kanannya meremas dada bagian atas.

Dasar benalu gak tahu diri! Kamu itu anak pelacur, pelakor perebut kebahagiaan keluargaku. Sudah untung aku sudi memungutmu dulu!

Ayunda tersentak kala mendengar suara orang mengobrol. Menyimpan lagi peralatan makeup, mengenyahkan kenangan menghujam jantung, kata-kata kejam ibu tirinya.

"Eh, ada bu Ayunda,” sapa wanita pertengahan usia dua puluhan, memakai setelan semi formal.

Ayunda membalas sapaan dengan senyum khasnya, melirik name tag, ternyata mereka bekerja di divisi Human Resources Development (HRD/Personalia).

“Saya duluan ya, keburu jam makan siang habis,” katanya setelah memastikan kalau bercak merah tertutup sempurna.

“Silahkan, Bu.”

Ayunda melangkah anggun keluar dari toilet berada di lantai lima, dekat dengan kafetaria kantor.

.

.

“Ayunda!” seru seseorang sambil melambaikan tangan.

Si wanita memiliki tinggi semampai 169 cm, paras cantik, dan berat badan ideal, menghampiri kedua gadis yang tidak lain adalah sahabatnya sedari masa kuliah.

“Ini aku ambilin satu porsi sop iga, sesuai pesanan mu.” Dwira atau yang di sapa Ira, mendorong baki makan siang sahabatnya.

“Trims, Ira. Untung kamu keluar duluan, kalau gak, mungkin cuma kebagian kuah sama bawang goreng,” selorohnya seraya duduk di bangku berbahan fiber.

“Lu tu kebiasaan, turun ke sini di jam udah padat pengunjung. Nyusahin kita-kita jadinya,” sindir Seila, terkenal bermulut tajam.

Ayunda tersenyum sungkan, meletakkan lagi sendok dan garpu yang tadi sudah dalam genggaman, lalu menatap gadis si pemilik mata bulat, bibir sensual. “Maaf ya, Sei. Habis mau gimana lagi, kerjaan aku gak bisa ditinggal gitu aja. Harus nunggu tuan Daksa keluar ruangan atau pesan makanan dulu.”

Ckk … Seila berdecak, kembali menikmati seporsi salad sayur.

“Udah, buruan makan gih. Jangan peduliin dia. Biasalah hari pertama pms,” Ira menghibur sahabatnya.

Ayunda mengangguk, mulai menyantap makanannya.

"Eh, Yunda … gimana tuan Daksa hari ini?” tanya Ira.

“Gimana apanya? Ya seperti biasa – duduk dibalik meja mengerjakan pekerjaannya,” jawab Ayunda lugas.

"Bukan itu yang ku maksud, tapi penampilannya.”

Ayunda meneguk jus Apel, baru menjawab pertanyaan pemilik rasa penasaran tingkat tinggi, terlebih bila menyangkut pimpinan mereka yang memang dielu-elukan para wanita satu perusahaan. “Penampilannya ya sama kayak biasanya. Setelan jas mahal, rapi, dan wangi.”

“Ya ampun, andai aku yang jadi asisten sekretaris. Gak perlu minum vitamin, tiap hari sudah nambah imun dengan hanya menatap ciptaan Tuhan nyaris sempurna itu.” Ira menepuk lembut tulang selangkanya, matanya berbinar.

“Bukannya di divisi customer service juga ganteng-ganteng ya cowoknya?”

“Itu yang bagian depan, menangani langsung para pelanggan. Lah aku paling belakang, mana tiap saat ada aja keluhan masuk lewat sambungan telepon perkara deterjen gak berbusa, pewangi kurang harum. Setelah tak cecar, konsumen baru ngaku – satu bungkus bubuk pencuci baju berat setengah kilogram untuk sebulan. Coba bayangkan, tu pelanggan punya anak empat ditambah dia dan suaminya,” adu Ira terlihat frustasi.

Ayunda terpingkal-pingkal, sahabatnya satu ini memang apa adanya.

"Sabar ya, nanti juga bakalan naik jabatan kalau sudah waktunya,” hibur Ayunda.

“Sepertinya sulit, karena kami masuk ke perusahaan ini murni, gak ada main dengan orang dalam,” tiba-tiba Seila berkomentar pedas, melirik sengit wanita yang duduk di seberangnya.

“Seila, lu bisa kagak, gak menyebalkan? Tiap datang bulan nyari ribut teros! Jangan dilihat hasilnya, tapi bayangin juga perjuangan Ayunda sampai bisa jadi asisten sekretaris. Lagian dia udah kerja tiga tahun, lah kita baru setahun. Masa mau disamakan,” hardik Ira, lama-lama geram juga.

Seila mendengus, lalu berdiri sambil mendorong bangku kebelakang agar memudahkan dia keluar, kemudian berlalu dengan langkah angkuh.

Ayunda menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku berwarna hijau muda.

“Jangan dipikirin, dia dari dulu memang rese banget jadi orang,” ujar Dwira.

“Aku gak apa-apa, sudah biasa mendapati kalimat menuduh, tatapan sinis. Wajar juga sih, soalnya belum lama disini sudah bisa merangkak naik sampai lantai tertinggi, 21.” Ayunda memeriksa jam tangan pada pergelangan tangan kiri.

“Rezeki orang sudah ditakar, gak bakalan tertukar. Kamu gak pernah mengeluh bukan berarti segala sesuatu berjalan lancar, cuma memang dirimu sedari dulu anti menunjukkan kesedihan, wajah murung,” bela Ira.

“Gak ada gunanya juga kan, mau cari simpati ke siapa coba?”

Ira mengangguk, matanya menyipit melihat jari manis sahabatnya, lalu menarik tangan Ayunda. “Masih aja kamu pakai cincin ini.”

“Kan kamu sendiri yang bilang sebagai perisai untuk melindungi diri dari pria hidung belang,” Ayunda terkikik geli, ikut melihat jari manis tangan kirinya yang tersemat cincin emas putih polos.

“Mujarab sih, semenjak aku pakai cincin ini dua tahun lalu, perlahan para pria berkurang jumlahnya yang mau mendekati. Mereka pikir aku sudah bertunangan, tidak sedikit pula berspekulasi telah menikah,” lanjutnya.

“Baguslah.” Ira melepaskan genggamannya. “Gak terbuang sia-sia ideku. Punyaku sudah tak jual, karenanya sulit mendapatkan pasangan.”

Ayunda dan Dwira sama-sama tertawa pelan, terlebih mengingat kala mereka ke toko perhiasan membeli cincin polos.

“Aku lebih nyaman menjaga jarak dari kaum Adam, bukan apa-apa sih, cuma suka risih kalau ada yang melakukan pendekatan berlebihan,” akunya jujur.

“Eh, kamu sudah dengar gosip terbaru gak?” Ira mengubah topik pembicaraan secepat kilat.

Kening Ayunda mengernyit, mencoba mengimbangi sahabatnya yang suka bertanya keluar konteks pembahasan sebelumnya. “Apa?”

“Santer terdengar kabar kalau model sekaligus aktris cantik Syafira Bekti mau menikah. Aku ragu tuan Daksa bersedia, palingan dipaksa,” suaranya lesu, raut murung.

Ayunda menggelengkan kepalanya, menatap lucu sang sahabat fans garis keras tuan Daksa Wangsa. “Ya baguslah, mereka kan sudah satu tahun bertunangan. Mungkin udah waktunya menikah, sama-sama dewasa juga.”

“Kamu bukannya menghibur, malah manasin. Kalau mereka cepat-cepat nikah, rasanya tak lagi sama kala mengagumi ketampanan serta kegagahan tuan Daksa, seperti berat banget dosanya sebab dia telah menjadi seorang suami,” Ira menelungkupkan wajahnya pada lipatan lengan.

“Terima kenyataan biar kamu gak melulu hidup dalam dunia khayalan. Sudah ya, aku mau naik ke atas lagi. Takutnya mbak Yusniar sudah pulang dari makan siang bersama suaminya.” Ayunda beranjak.

“Di mana kucari pengganti seperti tuan Daksa. Sudah tampan, gagah, bahu bidang, punggung pas dijadikan sandaran, gilanya lagi dia seorang hartawan keturunan konglomerat. Akhh!” Dwira memekik tertahan, ikutan berdiri.

Ayunda cuma bisa tertawa sambil melangkah menuju lift. Bersiap menghabiskan waktu kerja tinggal tiga jam lagi.

***

Sangat berat baginya keluar dari dalam mobil ketika sudah berada di halaman luas hunian mewah keluarga Guntara.

Setelah lima menit, Ayunda keluar juga. Dia sudah berganti pakaian kerja dengan dress selutut, rambut sepunggungnya di gerai. Melangkah anggun menuju teras berpilar tinggi.

Belum juga menjejakkan kaki di teras, sebuah suara sudah menyambut dengan kalimat sarkas.

“Mobil baru? Berhasil ini ceritanya jual diri ke laki-laki berduit? Pepatah memang tak pernah salah tentang … buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ya?”

.

.

Bersambung.

Chapter 03

Vinira Guntara berdiri seraya bersedekap tangan, memandang dengan sorot mata merendahkan wanita yang bergeming, masih berdiri di batas tepi teras.

Ayunda tidak menyanggah maupun mencoba membela diri, yang dia lakukan hanyalah diam seperti biasanya.

“Gua kira kisah pelakor berhenti di nyokap lu, sayangnya malah dilanjutkan keturunan yang sama binalnya.” Vini melirik mobil Toyota Yaris warna putih keluaran tahun terbaru, terparkir di halaman depan hunian orang tuanya.

“Mobil itu kubeli dengan cara mencicil setiap bulannya,” jawab Ayunda santai.

“Lu pikir gua percaya? Hello … gaji lu gak seberapa, tapi gaya hidup hedon, kalau gak jual diri mana mungkin sanggup,” tuduhnya tanpa raut rasa bersalah.

Ayunda naik ke lantai teras, tidak lagi mau menanggapi. Percuma. “Kali ini apa tugasku? Masih sama seperti sebelumnya kah?”

Cih …. “Lagak lu, najis banget. Masuk gih, nyokap dan bokap gua butuh pelampiasan biar awet muda.” Bibirnya mencibir, lalu berbalik badan masuk ke hunian mewah.

Langkah kaki Ayunda tetap tenang, nyaris tidak menimbulkan suara derap kaki. Dia menatap lurus, enggan memperhatikan interior rumah terdapat banyak pajangan bernilai tinggi bahkan ratusan juta rupiah.

Pada ruang keluarga luas, anggota keluarga Guntara tengah duduk di sofa mewah berbahan kulit. Perlahan perhatian mereka teralih lalu menatap lekat wanita dibelakang Vinira Guntara.

“Apa kau merasa sudah hebat, Benalu? Harus dihubungi dulu baru sudi datang?” tanya wanita paruh baya, berpenampilan elegan, rambut pendeknya serasi dengan wajah berbentuk oval, dia adalah Serlina Guntara.

“Maaf, Nyonya. Saya sedang sibuk, selepas jam kantor masih harus membawa pulang berkas yang perlu diselesaikan,” suara Ayunda berada pada intonasi sedang, dia tatap sekilas sosok sedari dulu selalu memanggilnya benalu.

Ckk …. “Jabatan tak seberapa, gaji pun sudah pasti rendah, berani sekali kau membuat putri kesayanganku sampai menghubungimu cuma untuk mengingatkan anak tak tahu diri macam kau ini. Duduk di sana!” Dagunya bergerak ke arah bagian sela sofa yang mana terdapat bangku lipat khusus untuk Ayunda.

Ayunda menurut, duduk di tempat yang tidak pernah berubah, sebuah kursi lebih rendah daripada sofa – mempertegas statusnya di rumah ini.

Sang kepala keluarga – Sarda Guntara, enggan menatap wanita yang memiliki sedikit kemiripan dengan wajahnya. “Sabtu malam, temui salah satu kolega bisnis kami. Kau harus memuaskan dia sampai berhasil menjalin kerja sama dengan Guntara group.”

“Meski kini kau telah dewasa, tinggal entah dimana, tak serta-merta bisa lepas dari dosa yang ibumu lakukan dulu. Sampai batas waktu yang telah ditentukan, kau wajib membayar setiap rasa sakit akibat wanita bejat itu!” timpal kejam sang nyonya rumah.

“Saya tidak akan lupa dari mana asal diri ini, Nyonya. Sampai hembusan napas terakhir – saya tetap ingat jika terlahir dari rahim wanita perebut kebahagiaan kalian. Yang mana harus membayar karma atas perbuatan tak pernah saya lakukan,” katanya tenang, tanpa terdengar nada bergetar, mata berkaca-kaca.

"Baguslah kalau kau tahu diri.” Sarda Guntara menegakkan punggung, memandang penuh kebencian pada salah satu darah dagingnya sendiri. “Jalang itu sengaja menjebakku, lalu memeras kami demi keberlangsungan hidup glamornya. Sekarang kau lihat hidupnya, sangat bahagia diatas derita putri kandungnya sendiri yang dibuang saat masih berumur empat puluh hari.”

“Ya, saya menyaksikan setiap senyum, rasa bangga serta bahagia dia yang telah memiliki keluarga harmonis,” Ayunda menanggapi santai, seolah tengah membahas hal remeh.

“Beritahu saja siapa klien yang harus saya puaskan, dan dimana tempat melampiaskan nafsu itu,” katanya tegas tanpa mau menatap siapapun.

"Dasar pelacur murahan!” hina pria berpostur gagah yang sedari tadi cuma menonton.

Ayunda mendongak dan langsung bertemu tatap dengan netra yang memandang hina dirinya. “Bukankah kalian yang menjadikan aku layaknya wanita jalang? Setiap kali kesulitan menghadapi rekan bisnis, maka aku yang disodorkan sebagai umpan. Benar bukan?”

Efendi Guntara, putra sulung Sarda dan Serlina mendecih, sorot matanya penuh rasa jijik tertuju pada wanita yang tidak lain adalah adik kandungnya hanya beda ibu.

“Sekarang kau boleh pergi dari sini! Jangan lakukan kesalahan sedikitpun kalau tidak mau identitasmu sebagai anak haram terbongkar!” ancam Serlina, muak sudah dia harus satu ruangan dengan seseorang yang memiliki mata sama persis seperti wanita telah menghancurkan biduk rumah tangganya.

“Baik.” Ayunda berdiri, tersenyum lembut seraya menundukkan kepalanya, lalu melangkah mantap meninggalkan ruang keluarga yang tidak pernah mengharapkan kehadirannya.

Kala hendak berbelok di antara ruang keluarga dan bagian tangga tertutup dinding tinggi, sejenak napasnya tertahan ketika bertemu tatap dengan seseorang.

“Selamat malam tuan Daksa, nona Syafira.” Ayunda sedikit menunduk, menyapa sopan bos dan tunangannya.

Wanita cantik bertubuh seksi yang sengaja mengenakan gaun ketat tersenyum miring, memandang hina bawahan tunangannya. “Capek-capek mengejar beasiswa, berharap bisa merangkak sampai puncak karir, ujung-ujungnya cuma jadi asisten sekretaris. Sungguh perjuangan yang sia-sia bukan, Ayunda?”

Ayunda mengangkat dagu, dibalasnya tatapan mengejek itu dengan senyum lembut. “Anda benar, Nona. Bagi mereka yang terlahir dari sendok emas, jabatan saya bagaikan keset kaki. Namun, saya bangga dengan apa yang telah diri ini capai.”

“Selamat menikmati pertemuan keluarga, Nona dan Tuan. Saya permisi dulu. Selamat malam.” Dia kembali mengangguk sopan, lalu berjalan dengan langkah tegas. Tidak berminat ikut campur pertemuan tiga keluarga terpandang sekaligus berpengaruh.

Syafira Bekti menatap penuh rasa hina wanita yang tengah berjalan anggun.

Sedangkan Daksa Wangsa, sama sekali tidak melirik maupun memperhatikan salah satu bawahannya di kantor.

Keluarga Wangsa, Guntara, dan Bekti, sudah bersahabat sedari kakek nenek generasi ketiga. Mereka hampir menguasai setiap aspek bisnis menggurita.

Guntara group, menggeluti bisnis kesehatan, dan mempunyai rumah sakit skala internasional.

PT Bekti, bergerak dibidang usaha otomotif dan peralatan rumah tangga.

Begitu sampai pada parkiran mobil, Ayunda menghela napas panjang. Netranya berkilat kala menatap bagian bodi samping mobil yang baru berumur dua bulan di tangannya.

.

.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!