Indonesia
NovelToon NovelToon

Diantara Dua Hati

Bab 1: Dokter Baru yang Menyebalkan

Di koridor rumah sakit yang ramai, Rara berlari dengan wajah panik. Jam menunjukkan pukul 07.55, dan dia terlambat lima menit untuk shift paginya. Kurang tidur semalam setelah jaga malam masih terasa di matanya yang perih.

Dalam refleksnya, Rara mencoba menghentikan langkahnya, tapi sudah terlambat. Sosok tinggi berdiri di tikungan koridor, dan tubuhnya yang mungil nyaris menabrak tubuh pria itu. Tas ranselnya terbuka, dan isi-nya mulai berserakan di lantai, seperti pulpen, buku catatan, bahkan pembalut wanita.

Sebuah suara dingin menghentikan langkah Rara, "Astaga! Kamu buta ya?" Pria itu mengenakan jas dokter putih sempurna, matanya tajam, dan alis tebal yang menunjukkan kemarahan.

"Maaf Dokter, saya tidak sengaja—" ujar Rara, tapi pria itu tidak membiarkannya melanjutkan.

"Tidak ada alasan untuk tidak melihat ke depan," katanya, sambil menatap jam tangan mahalnya. "Dan kamu terlambat. Perawat seperti kamu yang membuat rumah sakit ini berantakan."

Rara menggigit bibirnya dengan marah mendengar kata-kata penghinaan itu. Dia telah bekerja di Rumah Sakit Bunda selama tiga tahun, mendapat pujian atas dedikasinya yang tak pernah berhenti. Siapa dokter baru ini yang berani merendahkannya? Apa yang membuatnya merasa dirinya lebih baik dari Rara?

Dokter baru itu mengangkat alisnya, menunjukkan bahwa dia tidak peduli dengan perasaan Rara. "dr. Arkan Pratama, Spesialis Bedah," ujarnya sambil melangkah maju. "Mulai hari ini, kamu akan bekerja di bawah pengawasan saya." Rara mengangguk dengan cepat, mengumpulkan barang-barangnya sebelum berpaling untuk melawan.

Rara hampir tidak bernapas ketika mendengarnya. Dokter baru ini akan menjadi atasannya? Ini seperti Tuhan sedang bercanda dengan nasibnya.

Senyum Rara tampak terpaksa saat dia berkata, "Senang... bertemu dengan Dokter." "Saya Rara, perawat ruang operasi," tambahnya dengan nada yang tidak terlalu yakin.

Dokter baru itu, Arkan, memandangnya dengan sinis. "Saya tidak tertarik dengan nama perawat," katanya, "yang saya butuhkan adalah profesionalisme."

Arkan berbalik dan pergi meninggalkan Rara dengan langkah yang tegap, sementara Rara menatap punggungnya dengan pandangan penuh kebencian. Rara menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah, menyembunyikan rasa kesalnya.

"Dokter itu benar-benar menyebalkan," gumam Rara, memanipulasi rambutnya yang berantakan. "Aku benci dia."

Di ruang ganti, Rara bertemu dengan Sisi, perawat senior yang telah bekerja 10 tahun di rumah sakit itu. Sisi menanyakan, "Sudah bertemu dengan dokter baru?" sambil merapikan jilbabnya.

Rara menghela napas dalam kekecewaan. "Bagaimana bisa seorang dokter yang tampan dan berwibawa seperti dr. Arkan memiliki sikap yang begitu kasar?" tanyanya, mengejutkan temannya Sisi.

Sisi tertawa, "Ah, benar, dr. Arkan terkenal sebagai dokter bedah yang perfeksionis. Bahkan di kota lama, dia adalah dokter bedah terbaik."

Namun Rara tidak terkesan, "Sikap seperti itu tidak membuatku percaya padanya. Aku lebih memilih dokter yang kurang pintar tapi ramah dan sabar."

Sisi memberikan peringatan tajam kepada Rara: "Hati-hati, dia tidak ragu-ragu melaporkan perawat ke direktur." Peringatan itu membuat Rara semakin kesal. Dokter baru ini benar-benar membuatnya marah. Namun, Rara harus tetap profesional, untuk kebaikan pasien.

Ketika Rara memasuki ruang operasi 3, Arkan sudah siap dengan tangan terlipat. Arkan memandangi jam dengan nada sarkastik: "Lima menit tiga puluh tujuh detik. Tidak buruk untuk standarmu, Rara." Dia kemudian memberikan instruksi: "Sterilkan tanganmu dan siapkan instrumen. Kita mulai dalam dua menit."

Rara mengencangkan giginya, menghalang perasaannya untuk menghukum dokter itu. Namun, karena pasien, dia mengendalikan dirinya. Dengan gerakan yang cepat dan tepat, dia mempersiapkan peralatan bedah sambil memantau setiap gerakan dokter itu dari sudut mata.

Dokter itu bekerja dengan presisi sempurna, setiap gerakannya efektif tanpa sia-sia. Ketika memeriksa pasien, matanya menangkap detail kecil yang sering terlewatkan oleh dokter lain. Sesi operasi ini adalah kesempurnaan, tidak ada ruang untuk kesalahan.

"Perhatikan baik-baik," kata Arkan tiba-tiba, mengingatkan Rara bahwa dalam ruang operasi, tidak ada tempat untuk kesalahan.

Operasi berlangsung dengan lancar, namun setiap gerakannya Rara diawasi ketat oleh Arkan. Ia terus-menerus mengoreksi cara Rara menyerahkan instrumen, nada suaran nya penuh kecewa.

"Tidak seperti itu! Pegang di sini!" teriaknya beberapa kali.

Rara merasa dipermalukan, tangannya gemetar saat membersihkan peralatan.

"Kamu benar-benar lulus sekolah perawat?" tanya Arkan dengan nada skeptis. Akhirnya, Rara hampir menangis karena frustasi.

Esok pagi, jam 7 tepat, Arkan akan pergi. "Jangan terlambat lagi," dia katakan dengan tegas sebelum meninggalkan Rara yang sedang hancur.

Di ruang istirahat, Rara akhirnya menangis di bahu Sisi. "Aku benci dia! Dokter baru itu benar-benar tidak sopan!" dia keluh.

Sisi mengelus punggungnya dengan lembut dan berkata, "Tenang, Rara. Kamu bukan yang pertama yang merasa begitu. Tapi percayalah, dibalik sikapnya yang kasar, dia sebenarnya dokter yang sangat brilian."

Rara mengusap air matanya dengan kasar, kekecewaannya masih menggelegar. "Aku tidak peduli seberapa brilian dia," katanya, "tidak ada alasan untuk memperlakukan orang seperti sampah!"

Lalu dia melanjutkan, "Kamu tahu, ada rumor tentang dia. Mungkin itu yang membuatnya seperti sekarang."

"Rumor apa?" Rara bertanya, penasaran.

"Katanya ayahnya seorang dokter terkenal yang bunuh diri beberapa tahun lalu," jawabnya, "mungkin itu yang membuatnya seperti sekarang, penuh dengan kesedihan dan kehilangan."

Rara memutuskan untuk tidak diam lagi. Dia telah menunggu terlalu lama untuk membuktikan bahwa ia bukanlah seseorang yang tidak baik.

Dengan tekad yang kuat, ia berkata, "Trauma masa kecil tidak dapat menjadi alasan untuk menjadi orang yang buruk. Aku akan membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa aku adalah seorang perawat yang baik, dan suatu hari nanti, aku akan membuatnya menyadari kesalahan dia dan meminta maaf."

Di malam yang gelap, Rara masih membara dengan kemarahan di dalam hatinya. Di depan pintu apartemennya, dia menemukan secarik kertas dan menulis sebuah daftar yang membayangkan kebencian. "Alasan untuk membenci dr. Arkan Pratama," judulnya. Daftar itu membaca seperti ini:

Merendahkan saya di depan umum

Menganggap perawat tidak penting

Bersikap seperti raja

Wajahnya terlalu sempurna, membuat saya semakin kesal.

Rara menghela napas melihat daftar pasien yang semakin panjang. Hanya dalam sehari, jumlahnya bertambah banyak. Ketika langkah kaki dr. Arkan terdengar mendekat, Rara segera menutup laci dan memasang wajah profesional.

Dia telah siap menghadapi konflik yang panjang ini. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya - mengapa ada orang yang terlihat sempurna tapi juga sangat menyebalkan? Rara merasa penasaran dengan keunikan ini.

Ketika sirene darurat berbunyi, seluruh lorong rumah sakit terasa bergetar. Rara, seorang perawat yang sedang mencatat obat-obatan, langsung berdiri tegak dan jantungnya berdebar kencang. Code blue telah dikeluarkan, menandakan bahwa ada pasien yang mengalami henti jantung.

Tidak menunggu instruksi lebih lanjut, Rara berlari ke ruang operasi 2, tempat chaos telah menyambutnya. Beberapa perawat dan dokter sudah berkumpul di sekitar meja operasi, di mana pasien pria paruh baya terbaring dengan dada terbuka. Monitor EKG menunjukkan garis datar yang menakutkan, menandakan bahwa waktu adalah aset yang sangat berharga.

Dalam kehujanan emosi yang melanda, Arkan berdiri dengan tenang, wajahnya pucat tetapi tidak kehilangan kendali, tangan berlumuran darah sambil menggenggam defibrillator yang kuat.

"Kamu!" teriaknya sambil menunjuk Rara ketika dia melangkah maju. "Sini, sekarang!"

Rara maju dengan yakin, karena dalam momen seperti ini, dendam pribadi tidak ada tempatnya.

"Epinefrin 1 mg, sekarang!" perintah Arkan dengan suara dingin, tapi penuh otoritas yang tak dapat disangkal.

Dengan gerakan yang halus, Rara menyuntikkan obat ke infus pasien. Tidak ada tanda kegagalan, meski adrenalin membanjiri tubuhnya.

"Clear!" teriak Arkan, sebelum memberikan kejutan listrik ke dada pasien.

Tubuh pasien melengkung, tapi monitor tetap menunjukkan garis datar.

Arkan memerintahkan lagi, "Lagi! Epinefrin dosis sama!"

Rara segera menyiapkan suntikan kedua, sementara dia melihat wajah Arkan yang berkeringat, tegang, tapi tetap fokus. Tidak ada tanda panik sedikitpun.

Dalam upaya terakhir, Arkan meminta tim medis untuk mencoba lagi, tapi detak jantung pasien tidak muncul.

Dokter anestesi mengumumkan dengan nada berat, "Kita kehilangan dia."

Namun, Arkan tidak menyerah dan meminta untuk mencoba sekali lagi.

Ketika kejutan listrik diberikan, ada perubahan kecil di monitor, sebuah garis hijau kecil mulai berdenyut tidak teratur, memberi harapan bahwa pasien masih ada.

Dalam keadaan darurat, perawat menyerukan, "Ada pulsa!"

Rara mengambil napas dalam, karena mereka berhasil menyelamatkan pasien.

Namun, ketika Arkan menoleh kepadanya, dokter itu sudah bergerak cepat untuk melanjutkan operasi yang terhenti.

Dengan gerakan cepat tapi presisi, Arkan menjahit pembuluh darah yang robek dan meminta suction.

Rara dengan cepat memberikan alat suction ke tangan Arkan, menunjukkan koordinasi yang luar biasa.

Mereka bekerja seperti mesin yang terintegrasi, bahkan baru bekerja bersama beberapa hari.

Operasi berlangsung selama dua jam, dan ketika akhirnya Arkan menutup insisi terakhir, seluruh ruangan menghela napas lega.

Dengan ekspresi lega, Arkan melepas sarung tangan berlumuran darahnya dan berkata, "Baiklah, pantau pasien ini dengan sangat ketat, risiko komplikasi sangat tinggi."

Dia berbalik untuk pergi, tapi kakinya tiba-tiba goyah. Rara yang berada di dekatnya segera menangkapnya sebelum dia terjatuh.

"Dokter, Anda baik-baik saja?" Rara menahan tubuh Arkan yang tinggi itu.

"Tidak perlu khawatir, saya baik-baik saja," jawab Arkan dengan senyum lembut.

Rara dengan cepat menemukan dirinya di tengah kesulitan.

Ketika Arkan mencoba melangkah lagi setelah operasi darurat yang berlangsung empat jam tanpa istirahat, tubuhnya mulai limbung.

Dengan bantuan segera, Rara membawanya ke kursi di sudut ruangan dan menekan bel panggil perawat lain. "Anda kelelahan," kata Rara.

"Operasi darurat tanpa istirahat membuat tubuh Anda memerlukan cairan dan istirahat." Arkan mencoba berdiri lagi, tapi kali ini pingsan sepenuhnya. Rara menangkap tubuhnya tepat waktu dan berteriak meminta bantuan.

Ketika Arkan memasuki ruang istirahat dokter, beberapa perawat datang membantunya. Mereka membantu Rara meletakkan Arkan di tempat tidur dan memasang infus saline.

Setelah beberapa menit, Arkan mulai sadar dan melihat wajah Rara yang memeriksa tekanan darahnya.

"Jangan bergerak dulu," kata Rara dengan nada tegas, "tekanan darah Anda rendah, Anda dehidrasi dan kelelahan." Rara memastikan Arkan tetap stabil sebelum memulai perawatan lebih lanjut.

Dokter muda Arkan mengerutkan keningnya. "Mengapa kamu di sini?" tanyanya dengan nada agak keras.

Rara, perawat yang menjaga Arkan, tersenyum lembut sambil mencatat tekanan darah di chart. "Karena tidak ada dokter lain yang mau menjaga dokter yang keras kepala seperti kamu," jawabnya dengan nada yang santai.

"Tekanan darah kamu telah menurun drastis, dari 180/100 sebelum operasi menjadi 90/60. Kamu benar-benar dalam kondisi kritis."

Arkan mencoba duduk, tapi Rara mendorongnya kembali ke bantal. "Saya bilang jangan bergerak! Kamu butuh istirahat dan cairan ini," kata Rara dengan tegas.

Dalam momen yang tak terduga, Arkan menemukan keberanian untuk bertanya. Dia memandang infus di tangannya dengan mata yang penuh penasaran.

"Mengapa kamu membantu saya?" tanya Arkan dengan suara yang tiba-tiba. "Setelah semua yang saya lakukan pada kamu?"

Rara berhenti sejenak sebelum menjawab dengan lembut. "Seorang perawat profesional akan melakukannya. Meskipun kamu menyebalkan, kamu adalah seorang dokter yang baik. Pasien itu tidak akan selamat tanpa kamu."

Dunia menjadi diam untuk beberapa saat, seperti penghenti waktu. Arkan menghela napas dalam-dalam, seolah mencoba mengumpulkan keberanian.

"Saya... mungkin terlalu keras pada kamu," ucapnya perlahan, setiap kata terasa berat untuk diucapkan.

"Di ruang operasi, tidak ada ruang untuk kesalahan," lanjutnya, seperti kutipan yang tidak dapat dipungkiri.

Rara mengangguk, "Saya tahu," katanya, "Tapi ada cara untuk mengajar tanpa merendahkan."

Dengan ekspresi hati-hati, Arkan mengangguk pelan. "Mungkin kamu benar," katanya, memberikan petunjuk bahwa dia telah memahami.

Meskipun bukan permintaan maaf yang penuh, ucapan itu sudah cukup untuk membuat Rara merasa lega. "Saya akan memeriksa pasien itu lagi," kata Rara, siap berdiri untuk melanjutkan tugasnya. "Anda istirahat dulu," tegasnya, memberikan kesempatan bagi Arkan untuk beristirahat.

Sesaat sebelum keluar, Rara mendengar Arkan mengucapkan kata-kata yang lembut, "Terima kasih."

Dua kata sederhana itu membawa senyum kecil ke wajah Rara ketika dia menutup pintu. Mungkin dokter baru ini bukanlah yang buruk seperti yang dia bayangkan.

Bersambung....

Bab 2: Ketika Rahasia Terungkap

Dalam momen yang penuh ketegangan, Rara hampir histeris ketika melihat monitor yang menunjukkan tanda-tanda vital pasien anak itu terus menurun.

Meskipun mereka telah berjuang selama tiga jam di ruang operasi, kondisi bocah 8 tahun itu semakin memburuk.

Arkan meminta Rara untuk diam dan fokus, sambil terus menjahit pembuluh darah kecil di otak anak itu.

"Saya butuh suction, sekarang!" ia berteriak, menunjukkan kebutuhan darurat untuk menyelamatkan nyawa bocah itu.

Rara yang menggigil dengan tangan gemetar menyerahkan suction ke Arkan, dokter yang berusaha menyelamatkan nyawa anak itu.

Operasi tumor otak yang rumit ini telah menghadapkan mereka pada tantangan yang tak terduga. Perdarahan masif yang tidak terprediksi telah membuat situasi semakin parah.

"Epinefrin 0.5 mg!" perintah Arkan dengan cepat, berharap dapat menemukan solusi untuk menghentikan kejatuhan tekanan darah.

Rara menyuntikkan obat itu dengan cepat, tetapi mata mereka tetap menatap monitor yang menunjukkan tekanan darah terus anjlok.

"Dokter, kita kehilangan dia..." Rara mengucapkan kata-kata yang menakutkan, membuat Arkan semakin terdesak untuk mencari jalan keluar.

Dengan tegas, Arkan menghentak: "Tidak!" Ia tidak akan membiarkan anak ini menghadapi nasib buruk di atas meja operasi! Dengan kecepatan yang luar biasa, tangan-tangan terlatih nya bergerak seperti mesin presisi, memotong dan menyambung dengan keahlian yang tak tertandingi.

Rara terkesan melihat Arkan tetap tenang dan fokus di tengah situasi darurat ini, seperti seorang pelaut yang menavigasi kapalnya melalui badai.

Pak Wijaya akan bangga melihatmu sekarang."kata Rara dengan spontanitas yang tak terduga.

Kata-kata tersebut tidak hanya mengejutkan, tetapi juga langsung menimbulkan efek pada Arkan. Wajahnya yang tadinya cerah kini berubah pucat, dan dia membeku sejenak.

"Apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara yang serak dan tidak percaya diri, menunjukkan bahwa kata-kata Rara telah menimbulkan kesan yang mendalam.

Rara bingung dengan reaksinya. Ayahnya, seorang dokter bedah saraf, selalu mengatakan bahwa dokter yang baik tidak pernah menyerah, bahkan jika peluangnya sangat kecil.

Arkan menatapnya dengan ekspresi aneh yang membuat Rara penasaran. Dia diam total selama beberapa detik, seperti melihat hantu yang tak terduga.

Ketika dia akhirnya berbicara, Rara siap untuk mendengar jawabannya, tetapi apa yang dia katakan tidak bisa Rara tebak.

Keesokan harinya, Rara menghentikan kesunyian yang memenuhi ruang operasi. "Dokter, kita harus terus melanjutkan," katanya dengan tegas.

Arkan memulai untuk kembali fokus, mengedipkan mata beberapa kali sebelum mengambil alih tugasnya lagi.

"Ya, kamu benar," jawabnya dengan penuh keyakinan. Operasi semakin intens, Arkan bekerja dengan presisi yang luar biasa, seolah-olah melawan waktu.

Dalam matanya, Rara melihat sesuatu yang berbeda - bukan hanya profesionalisme biasa, melainkan tekad yang dalam dan kuat.

Dua jam kemudian, ketika Arkan menutup insisi terakhir, ruangan penuh dengan kegembiraan. Anak itu telah selamat.

Dokter anestesi memuji Arkan, "Bagus sekali, Dok! Operasi yang paling sulit yang pernah saya lihat."

Namun, Arkan tidak menunjukkan kegembiraan. Ia hanya mengangguk singkat dan berjalan keluar ruangan dengan langkah berat. Rara mengikuti di belakangnya, khawatir dengan kondisi fisiknya setelah operasi yang berlangsung selama 5 jam dan sangat melelahkan.

Di ruang ganti dokter, Rara menemukan Arkan duduk dengan wajah tertutup tangan, yang menunjukkan kelemahan yang tidak biasa bagi dirinya.

Biasanya, Arkan selalu tampak tegar dan tidak terkalahkan, tetapi kali ini dia terlihat lemah dan tak berdaya.

Rara berusaha menghubunginya dengan suara yang lembut, "Dokter?" Rara mengetuk pintu perlahan.

Arkan mengangkat wajahnya, dan matanya yang merah menunjukkan kesedihannya. "Pak Wijaya... ayahmu... dia dokter bedah saraf?"

Rara mengangguk, wajahnya penuh kebingungan. "Ya, Ayah meninggal dalam kecelakaan mobil saat aku masih kecil. Tapi apa hubungannya dengan ini?" Dia melihat Arkan menarik napas dalam, mencoba untuk mengontrol dirinya.

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu," ujarnya dengan nada yang tidak terlalu meyakinkan. Rara bisa melihat ada sesuatu yang tidak beres di balik mata Arkan.

"Dokter, apa yang terjadi? Anda berubah sejak aku menyebut nama ayahku," ujarnya dengan nada yang tegas.

Arkan menarik napas lagi, kemudian berusaha untuk mengubah topik. "Apa nama lengkap ayahmu?" tanyanya dengan nada yang netral.

"dr. Wijaya Adiputra. Kenapa? Apa Anda mengenalnya?"

Arkan tiba-tiba berdiri, wajahnya tampak pucat. "Saya... saya butuh istirahat. Tolong awasi pasien itu."

Dia segera keluar sebelum Rara sempat mengajukan pertanyaan lagi. Rara terdiam di ruang ganti, bingung dengan perilaku aneh Arkan. Apa hubungan ayahnya dengan dokter baru tersebut?

"Ayahmu adalah dokter yang meninggal dalam kecelakaan mobil lima belas tahun yang lalu?"

Sisi menatap Rara dengan mata bulat saat Rara menceritakan kejadian aneh di ruang ganti dokter. Mereka sedang menikmati makan siang di kantin rumah sakit.

"Ya," jawab Rara sambil memainkan makanannya. "Dan ketika saya menyebut nama ayah saya, dr. Arkan menjadi sangat aneh. Seolah-olah melihat hantu."

Sisi menghela napas dalam. "Rara... apakah kamu tahu siapa ayah dr. Arkan?"

Rara menggelengkan kepala. "Tidak. Kenapa?"

"dr. Reza Pratama," jawab Sisi perlahan. "Dia adalah dokter yang mengemudikan mobil yang menabrak ayahmu."

Garpu yang dipegang Rara jatuh ke lantai dengan suara berdentang keras. Sekelilingnya tiba-tiba terasa bergetar.

"Apa?" suara Rara hampir tidak terdengar.

"Ya. Itu adalah kecelakaan besar yang menjadi berita saat itu. dr. Reza dalam keadaan mabuk setelah menghadiri pesta pernikahan temannya. Dia menabrak mobil ayahmu yang sedang menolong korban kecelakaan lain."

Rara merasakan seluruh tubuhnya menjadi dingin. "Dan ayah Arkan... dia selamat?"

Sisi mengangguk. "Ya. Namun hidupnya hancur setelah kejadian itu. Dia kehilangan izin praktik, terjerat dalam kecanduan alkohol, dan akhirnya..." dia berhenti sejenak, "akhirnya bunuh diri beberapa tahun kemudian."

Rara menutup matanya. Segala sesuatu tiba-tiba menjadi jelas - sikap dingin Arkan, kemarahannya yang mudah meledak, serta perfeksionisme obsesifnya. Dia tumbuh dengan trauma kehilangan ayahnya dalam keadaan yang memalukan.

"Jadi... Arkan tahu siapa saya?" tanya Rara pelan.

Sisi mengangkat bahu. "Mungkin tidak pada awalnya. Namun setelah kamu menyebut nama ayahmu..."

"Oh Tuhan." Rara memegang kepalanya. "Dia pasti berpikir aku menyimpan dendam padanya."

"Dan kamu tidak?" Sisi memandangnya tajam.

Rara terdiam sejenak. Sejak kecil, dia memang membenci dokter yang mabuk yang menyebabkan kematian ayahnya. Namun...

"Tidak pernah membenci anaknya," jawab Rara akhirnya. "Arkan tidak bersalah atas apa yang dilakukan ayahnya."

"Tapi dia pasti berpikir kamu membencinya," kata Sisi. "Itu menjelaskan perubahan sikapnya setelah mengetahui identitasmu."

Rara menghela napas panjang. "Aku harus berbicara padanya."

"Kamu yakin?" Sisi memperingatkan. "Ini bisa memicu konflik yang lebih besar."

"Aku tidak bisa terus bekerja dengannya dengan rahasia ini menggantung di antara kami."

Ketika Rara mencari Arkan sore itu, dia tidak menemukannya di ruang dokter. Salah satu perawat mengatakan bahwa dia sudah pulang lebih awal - sesuatu yang tidak pernah dilakukan Arkan.

Rara mencoba menelepon, tetapi tidak diangkat. Dia akhirnya memutuskan untuk menunggu di tempat parkir rumah sakit, berharap Arkan kembali untuk mengambil sesuatu.

Dan benar saja, ketika matahari mulai terbenam, mobil Arkan akhirnya muncul. Ketika dia turun dan melihat Rara menunggu, ekspresinya langsung berubah.

"Kamu butuh apa?" tanyanya dengan suara datar.

"Kita perlu bicara," kata Rara tegas. "Tentang ayahku... dan ayahmu."

Arkan membeku. "Tidak ada yang perlu dibicarakan."

"Ada!" Rara menahan lengannya ketika Arkan mencoba berjalan pergi. "Aku tahu siapa kamu. Dan aku tahu apa yang terjadi antara ayah kita."

Arkan menarik napas dalam. "Kalau begitu kamu juga tahu kenapa aku tidak ingin membahas ini."

"Arkan," Rara mencoba menenangkan suaranya. "Aku tidak menyalahkanmu atas apa yang terjadi. Kamu tidak bersalah."

"Tapi ayahku bersalah!" Arkan berteriak tiba-tiba, suaranya pecah. "Dia mabuk saat mengemudi! Dia membunuh ayahmu! Dan karena itu, aku tumbuh dengan ayah yang hancur dan penuh rasa bersalah yang akhirnya bunuh diri!"

Rara terkejut melihat air mata mengalir di wajah Arkan. Ini adalah pertama kalinya dia melihat dokter itu menunjukkan emosi selain marah.

"Aku membenci ayahku seumur hidupku," Arkan melanjutkan dengan suara serak. "Dan aku selalu merasa bersalah karena masih hidup ketika ayahmu tidak."

"Oh, Arkan..." Rara merasa bingung dan tidak tahu harus berkata apa. "Aku tidak tahu."

"Dan ketika kamu menyebut nama ayahmu di ruang operasi tadi..." Arkan mengusap wajahnya dengan kasar, "rasanya seperti ayahmu mengawasi ku dari atas, memastikan aku tidak melakukan kesalahan."

Rara merasa dadanya sesak melihat Arkan dalam keadaan seperti ini. Tanpa berpikir, dia melangkah mendekat dan memeluknya.

Awalnya Arkan tampak kaku, tetapi kemudian tubuhnya mulai bergetar. Rara merasakan bajunya menjadi basah oleh air mata Arkan.

"Maafkan aku," bisik Arkan di bahu Rara.

"Maafkan ayahku."

"Aku memaafkan," jawab Rara sambil membelai punggungnya. "Dan ayahku juga pasti sudah memaafkan."

Mereka berdiri seperti itu cukup lama, di tempat parkir yang mulai gelap. Dua anak yang tumbuh tanpa ayah karena tragedi yang sama.

Di rumah sakit tua yang gelap itu, hanya ada mereka berdua dan kebenaran yang akhirnya terungkap. Arkan menggenggam tangan Rara erat, "Kita akan melewati ini bersama," katanya, dan untuk pertama kalinya, Rara benar-benar percaya. Bukan pada dokter sempurna yang selalu terlihat tidak terkalahkan, tetapi pada Arkan yang sesungguhnya—pria dengan luka yang sama dalamnya dengan dia.

Di luar, badai semakin mengamuk—petir menyambar membelah langit malam yang gelap. Namun di ruang gawat darurat tua yang remang-remang ini, dengan generator yang sudah mati dan hanya diterangi oleh senter ponsel mereka, ada sesuatu yang mulai bersinar di antara mereka. Tidak sempurna, tidak mudah—tapi nyata. Lebih nyata daripada semua kebencian yang pernah Rara rasakan sebelumnya.

"Aku tidak ingin membencimu lagi," Rara berbisik, suaranya hampir hilang di antara deru angin yang menerpa jendela-jendela tua. Tangannya masih dalam genggaman Arkan—hangat dan kuat, seperti jangkar di tengah badai emosi mereka.

Arkan tidak memberikan jawaban dengan kata-kata—dia hanya menarik Rara ke dalam pelukannya, dengan erat, seperti seseorang yang tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang sangat berharga lagi. Dan di tengah puing-puing masa lalu mereka, di rumah sakit tempat ayah Rara menghabiskan hari-hari terakhirnya, mungkin—hanya mungkin—mereka akan menemukan awal yang baru.

Bersambung....

Bab 3: Mengurai Luka Lama

"Kamu yakin tempatnya di sini?"

Arkan melihat bangunan tua yang hampir roboh itu. Rumah sakit itu tampak menyeramkan. Cat dindingnya terkelupas, banyak kaca jendela pecah, dan pintu utamanya miring karena engsel yang berkarat.

"Ayahku dulu bekerja di sini," jawab Rara sambil mencoba membuka pagar yang terkunci. "Kita harus masuk."

Dua hari setelah pertemuan penuh emosi di parkiran, Rara membawa Arkan ke tempat ini. Rara ingin mereka berdamai dengan masa lalu. Dia yakin lokasi ini adalah pilihan yang tepat.

Arkan menghela napas lalu mengangguk. "Baiklah," jawabnya singkat.

Mereka berjalan melewati lorong rumah sakit tua yang gelap dengan bantuan senter. Bunyi daun kering yang terinjak membuat suasana terasa mencekam.

Rara tiba-tiba berhenti di depan sebuah pintu. Ada papan nama bertuliskan Dr. Wijaya Adiputra - Bedah Saraf. "Ini ruangan ayahku," ucap Rara.

Arkan terpaku di depan pintu. Rara melihat tangan pria itu gemetar saat membuka pintu yang berbunyi derit.

Kondisi ruangan ini lebih terawat daripada area rumah sakit lainnya. Ada meja kayu besar, rak buku berdebu, dan deretan foto lama di dinding.

Rara mendekati foto besar di belakang meja. Di sana terlihat seorang dokter tersenyum ramah bersama rekan medis lainnya.

"Dia," ucap Rara pelan. "Ayahku."

Arkan menatap foto itu cukup lama. "Kelihatannya dia orang baik."

"Dia orang terbaik yang aku kenal," jawab Rara sambil menyentuh fotonya. "Dia selalu ada buat pasiennya meski sedang sibuk."

Arkan mengangguk. "Ayahku juga dokter yang baik sebelum kecelakaan itu."

"Aku tahu," kata Rara. "Aku pernah baca tentangnya. Dia banyak menolong orang sebelum..."

"Sebelum dia menghancurkan hidupnya sendiri," potong Arkan dengan nada pahit.

Rara menarik napas panjang. "Kita tidak bisa terus merasa bersalah, Arkan. Baik aku yang kehilangan ayah, atau kamu yang melihat ayahmu hancur."

"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Arkan dengan ragu.

"Maafkan saja," jawab Rara singkat. "Maafkan ayahmu, keadaan, dan juga masa lalu."

"Tidak semudah itu," sahut Arkan.

Rara tersenyum tipis. "Aku tahu. Tapi kita bisa mulai dari sini."

Ia membuka laci meja dan mengambil kotak kayu kecil. Isinya barang pribadi ayahnya, seperti pulpen, jam tangan, dan sebuah buku catatan.

Rara mengulurkan buku itu kepada Arkan. "Ini buku catatan ayahku. Mungkin ini bisa membantumu."

Tangan Arkan gemetar saat menerima buku itu. Ia membuka halaman pertama dan membaca tulisan tangan dokter Wijaya.

"Pasien hari ini, anak laki-laki 10 tahun dengan tumor otak. Operasi lancar, tapi aku khawatir efek jangka panjangnya..."

Arkan tiba-tiba berhenti membaca saat melihat nama pasien itu. "Ini pasienku kemarin," ucapnya.

"Apa?" Rara mendekat ingin tahu.

Arkan menunjukkan catatannya. "Ayahmu menangani kasus yang sama persis 15 tahun lalu. Aku menanganinya dua hari lalu."

Bulu kuduk Rara berdiri. "Dan kita berhasil menyelamatkannya."

"Sama seperti ayahmu dulu," bisik Arkan.

Mereka saling pandang. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan sedang terjadi pada mereka.

"Aku rasa ayahmu yang memintaku datang ke sini," ucap Arkan pelan.

Rara menimpali, "Ayahmu juga. Kita harus mengakhiri semua ini."

Arkan mengangguk. Ia menutup buku catatan itu dengan hati-hati lalu memberikannya kembali kepada Rara. "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena tidak membenciku," jawab Arkan dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan."

Rara tersenyum tipis. "Aku juga berterima kasih padamu."

"Kenapa?"

"Karena kau membuatku berhenti menyimpan dendam," kata Rara. "Kau mengingatkanku bahwa hidup terlalu singkat untuk dibuang dengan kebencian."

Arkan menarik napas panjang. "Kita harus pergi," ucapnya.

"Ya," jawab Rara.

Sebelum keluar, Arkan berhenti di depan foto ayah Rara. "Terima kasih, Dokter," bisiknya. "Untuk putrimu yang hebat."

Air mata jatuh di pipi Rara saat mereka meninggalkan ruangan. Kali ini, rasanya melegakan.

Hujan masih turun di luar, tapi beban mereka sudah hilang. Mereka berdiri dekat dengan dahi saling bersentuhan. Arkan tersenyum tipis. Dokter yang biasanya dingin itu tampak berbeda. "Sejak kapan?" tanya Arkan sambil menyentuh rahang Rara.

"Sejak kamu bilang terima kasih setelah operasi pertama kita," aku Rara dengan wajah merah. "Aku benci itu."

Arkan tertawa kecil, hal yang jarang ia lakukan, lalu mencium Rara lebih lama. "Aku sudah suka duluan," bisiknya. "Sejak kamu marah-marah di lorong rumah sakit waktu itu."

"Mau makan malam bersamaku?" tanya Arkan ragu.

Rara tersenyum dan menjawab, "Mau."

Saat mereka keluar dari gedung tua itu, hujan turun membasahi bumi. Rasanya seperti menghapus semua luka lama mereka.

Bersambung....

.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!