Hujan rintik-rintik turun membasahi kaca jendela kamar, seolah turut menangis bersama hati Nayra yang sedang remuk redam. Di sudut ruangan yang luas dan mewah ini, Nayra duduk memeluk lututnya sendiri, tubuhnya yang berisi terasa makin kecil dan tak berdaya di tengah kemewahan yang bukan miliknya. Di tangannya, tergenggam selembar kertas putih bertuliskan hitam: Surat Perjanjian Pernikahan.
Hatinya perih. Sangat perih.
Siapa yang tidak tahu siapa Arga Pradipta? Pria itu adalah CEO termuda, terkaya, dan paling tampan di seluruh ibu kota. Pemilik Grup Pradipta yang namanya selalu ada di majalah-majalah bisnis dan daftar pria idaman. Wajahnya bak dewa Yunani, tatapannya tajam namun dingin, dan aura kekuasaannya membuat siapa saja yang berada di dekatnya merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan raja.
Dan siapa Nayra? Dia hanyalah gadis biasa, anak tunggal dari keluarga sederhana yang sedang terjerat utang besar. Tubuhnya berisi, berat badannya hampir seratus kilogram, pipinya bulat, dan perutnya sedikit buncit. Dia sering menyembunyikan tubuhnya di balik baju-baju longgar, karena dia tahu... dia tidak cantik. Dia tidak menarik. Dan dunia ini terlalu kejam untuk wanita yang tidak memiliki fisik yang indah.
Namun takdir berkata lain. Demi biaya operasi ibunya yang sedang terbaring sakit, Nayra terpaksa menerima tawaran gila itu. Menjadi istri kontrak Arga Pradipta selama dua tahun. Dua tahun, tuk uang yang bisa menyelamatkan nyawa ibunya.
"Kenapa harus aku, Tuhan...?" batin Nayra lirih, air matanya mulai menetes membasahi pipinya yang gembul. "Di luar sana ada jutaan wanita cantik, langsing, sempurna yang rela mati demi jadi istrinya. Kenapa harus aku yang gemuk, jelek, dan tak berharga ini?"
Suara ketukan pintu terdengar, lalu terbuka perlahan. Masuklah seorang wanita paruh baya, wajahnya dingin dan penuh ketidaksukaan. Itu adalah Bibi Ratih, pengurus rumah tangga di kediaman besar ini, wanita yang sejak pertama kali melihat Nayra sudah selalu memandangnya dengan pandangan merendahkan.
"Sudah siap-siaplah, Nona Nayra," ucap Bibi Ratih dengan nada ketus, tanpa senyum sedikit pun. "Nanti sore ada jamuan makan malam keluarga besar Tuan Arga. Kau harus turun. Jangan bikin malu Tuan Muda lagi."
Nayra mengusap kasar air matanya, berusaha tersenyum meski pahit. "Iya, Bibi. Saya tahu."
"Lihat dirimu itu," celetuk Bibi Ratih sambil menatap tubuh Nayra dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan jijik. "Baju yang dibelikan pun sampai sesak di badanmu. Padahal itu ukuran paling besar. Entah keajaiban apa yang membuat Tuan Muda mau menikahimu. Mungkin dia sedang gila, atau sedang disihir. Mana pantas gadis gemuk sepertimu duduk satu meja dengan keluarga Pradipta yang bergelimang harta dan keturunan raja-raja?"
Kata-kata itu menusuk tepat ke ulu hati Nayra. Lebih sakit daripada luka pisau. Dia menunduk dalam, menggigit bibirnya agar tidak menangis lagi di depan wanita itu. Dia tahu dirinya tidak pantas. Dia tahu dirinya jelek. Tapi... apakah harus diungkit terus-menerus? Apakah orang gemuk tidak punya hati dan perasaan?
"Saya... saya akan berusaha sebaik mungkin, Bibi," jawab Nayra pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
"Hah, usahamu pun percuma. Dasar aib keluarga," gumam Bibi Ratih lalu pergi membanting pintu.
Hening kembali menyelimuti ruangan itu. Nayra berdiri gemetar, berjalan menuju cermin besar yang tergantung di dinding. Dia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah bulat dengan pipi yang gembil, mata yang terlihat kecil tertutup lemak, tubuh yang lebar dan berat. Dia memegang perutnya sendiri, lalu menundukkan kepala.
"Aku memang jelek. Aku memang gemuk. Aku memang tidak pantas..." bisik hatinya, rasa rendah diri itu kembali menelan seluruh jiwanya.
Sore itu, Nayra mengenakan gaun yang disiapkan, baju yang sebenarnya bagus tapi terlihat kurang pas di tubuhnya. Dia berjalan menuju ruang makan besar dengan langkah gontai, jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar. Dia tahu apa yang menantinya di sana. Dia tahu tatapan seperti apa yang akan dia terima.
Saat pintu ruang makan terbuka, semua suara percakapan seketika terhenti.
Dua puluh pasang mata menatap ke arahnya. Mata yang penuh rasa ingin tahu, mata yang penuh keterkejutan, dan yang paling menyakitkan... mata yang penuh penghinaan, ejekan, dan rasa jijik.
Di ujung meja besar itu, duduk Arga Pradipta. Suaminya. Pria itu duduk tegak, wajahnya dingin tanpa ekspresi, matanya tajam menatap ke arah Nayra namun kosong, tak ada sedikit pun rasa sayang atau kehangatan di sana. Dia tampak begitu sempurna dengan setelan jas hitamnya, rambutnya tertata rapi, dan aroma wangi mahal yang memancar darinya. Di sebelahnya, duduk wanita-wanita cantik, kerabat dan sepupu Arga, semuanya langsing, tinggi, berkulit putih, dan cantik luar biasa. Berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan dirinya.
"Ya ampun... jadi ini istri yang dipilih Arga?" suara nyaring terdengar dari ujung meja. Itu Tante Sarah, bibi dari Arga, wanita yang terkenal sombong dan tajam mulutnya. Dia menatap Nayra sambil menutup mulutnya seolah menahan muntah.
"Benar juga, Tante. Arga, kamu gila ya?" sahut seorang wanita muda lain, sepupu Arga bernama Karin, yang tubuhnya langsing bak model. Dia tertawa sinis sambil menunjuk ke arah Nayra. "Mana pantas gadis sebesar itu jadi istri kita? Lihat saja, duduknya saja sampai kursinya kelihatan kecil. Aib! Ini benar-benar aib besar bagi keluarga Pradipta yang selalu terkenal elok dan rupawan!"
"Dasar gadis kampung," celetuk wanita lain. "Pasti dia nikah sama Arga cuma mau nguras kekayaan saja. Modal nekad saja, wajah dan tubuhnya mana ada bagus-bagusnya. Gemuk besar, jelek, kasar pula kelihatannya."
Kata-kata itu berdatangan seperti hujan badai. Semua orang di meja itu mulai berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk, tertawa, dan melemparkan kata-kata yang sangat menyakitkan hati.
"Lihat dia jalan saja susah, apalagi melayani suaminya."
"Arga pasti malu banget punya istri begini. Mungkin dia dijadikan istri pajangan jelek saja, biar Arga kelihatan makin ganteng di sebelahnya."
"Gemuk, hitam, jelek. Apa untungnya dia?"
"Pasti sebentar lagi diceraikan. Coba lihat Arga saja, mukanya masam sekali. Dia pasti malu setengah mati."
Nayra berdiri terpaku di ambang pintu. Kakinya terasa kaku, napasnya sesak, dadanya sakit sekali seolah ditusuk-tusuk ribuan jarum. Air matanya sudah menggenang, tapi dia berusaha keras menahannya. Dia melirik ke arah Arga, berharap suaminya itu akan membela, berharap Arga akan berkata: "Diam kalian! Dia istriku, hormati dia!"
Tapi harapan itu hanyalah angan-angan kosong belaka.
Arga hanya diam. Dia bahkan tidak menatap Nayra lagi. Dia hanya mengambil gelas minumnya, menyesap sedikit, lalu berkata dengan suara datar dan dingin tanpa emosi: "Duduklah, Nayra. Jangan berdiri seperti patung di sana, makin kelihatan aneh."
Kalimat pendek itu terasa seperti petir yang menyambar kepala Nayra. Kalimat itu... kalimat itu seolah mengiyakan semua hinaan orang-orang itu. Arga tidak membelanya. Arga membiarkan dia dihina. Arga pun menganggapnya aneh dan jelek.
Perlahan, dengan sisa-sisa keberanian yang tinggal sedikit, Nayra berjalan menuju kursi yang disiapkan untuknya di ujung meja, jauh dari Arga. Saat dia duduk, terdengar suara tawa tertahan dari beberapa wanita di sana karena kursinya sedikit berderit berat.
Sepanjang jamuan makan itu, Nayra tidak bisa menelan makanan apa pun. Tiap suap yang masuk terasa tersangkut di tenggorokan. Dia mendengar semua omongan jahat itu. Dia melihat tatapan jijik mereka. Dan yang paling menyakitkan, dia melihat bagaimana Arga tersenyum ramah dan berbicara santai dengan sepupu-sepupunya yang cantik, seolah-olah Nayra di sana hanyalah udara kosong yang tak berharga.
"Lihat saja wajahmu itu, Nayra..." batinnya, menatap pantulan dirinya di sendok makan yang mengkilap. "Kamu gemuk. Kamu jelek. Kamu tidak berharga. Kamu pantas dihina. Kamu pantas diremehkan."
Jamuan makan selesai, Nayra berjalan cepat keluar dari ruangan itu, langkahnya tergopoh-gopoh menuju kamarnya. Begitu pintu tertutup, dia tidak bisa lagi menahan semuanya.
"HUAAAA!!!"
Isak tangisnya meledak. Nayra jatuh berlutut di lantai, memukul-mukul dadanya yang sesak dengan kedua tangannya. Dia menangis sejadi-jadinya, melepaskan semua rasa sakit hati, malu, amarah, dan kekecewaan yang dia pendam.
"Kenapa?! Kenapa aku harus begini?!" teriaknya di tengah isak tangis. "Kenapa aku harus gemuk?! Kenapa aku harus jelek?! Kenapa aku harus menderita begini?! Aku juga manusia! Aku juga punya hati! Aku juga ingin dicintai dan dihargai!"
Dia mengingat kembali kata-kata mereka: 'Istri jelek', 'Gemuk besar', 'Aib keluarga', 'Pasti sebentar lagi diceraikan'. Dan dia juga mengingat wajah dingin Arga yang sama sekali tidak peduli padanya.
Nayra meremas dadanya yang terasa nyeri sekali. Dia menatap ke arah cermin besar di kamarnya, menatap bayangan wanita gemuk yang sedang menangis tersedu-sedu itu. Rasa benci tiba-tiba meledak di hatinya. Bukan benci pada mereka yang menghina... tapi benci pada dirinya sendiri. Benci pada tubuhnya yang besar ini. Benci pada wajahnya yang biasa saja ini.
"Kalian benar..." batinnya mulai berubah, air matanya berhenti mengalir perlahan, digantikan oleh kilatan tekad yang menyala terang di matanya. "Kalian benar, aku jelek. Aku gemuk. Aku tidak pantas. Tapi... apa selamanya aku akan begini? Apa selamanya aku akan membiarkan kalian menginjak-injak harga diriku?"
Dia bangkit berdiri dengan susah payah, napasnya memburu. Dia mendekat ke cermin, menatap dirinya sendiri tajam-tajam. Di dalam hatinya, sebuah sumpah yang kuat mulai terukir, sebuah janji yang akan mengubah seluruh hidupnya.
"Kalian menghinaku karena aku gemuk..." ucap Nayra pelan namun penuh penekanan, suaranya bergetar namun tegas. "Kalian mengira aku tidak berharga hanya karena fisikku. Kalian menertawakan pernikahanku. Kalian berpikir aku selamanya akan jadi istri jelek yang kalian injak-injak."
Dia mengepal kedua tangannya erat-erat sampai kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Matanya yang semula sedih kini berubah tajam dan penuh api semangat.
"TAPI DENGER BAIK-BAIK!" teriaknya lantang, memecah kesunyian kamar itu. "Hari ini kalian hina aku. Hari ini kalian buat aku menangis. Tapi tunggu saja! Aku Nayra, dan aku tidak akan membiarkan nasibku berakhir di sini!"
Dia menunjuk pantulan dirinya di cermin, lalu menunjuk ke arah pintu di mana orang-orang jahat itu berada.
"Aku akan berubah! Aku akan buktikan pada kalian semua bahwa aku bisa menjadi jauh lebih indah, jauh lebih berharga, dan jauh lebih hebat dari kalian! Aku akan buktikan pada Arga, suamiku yang dingin itu, bahwa aku bukanlah istri jelek yang dia buang! Aku akan berjuang mati-matian! Aku akan kurus! Aku akan cantik! Dan saat itu tiba... saat aku muncul kembali dengan wujud baruku... aku ingin melihat wajah-wajah kalian yang penuh kaget, iri, dan penyesalan!"
Air mata terakhir menetes dari matanya, tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata semangat, air mata awal dari sebuah perjuangan panjang.
"Kalian akan menyesal pernah menghina aku..." bisik Nayra, senyum tipis namun penuh tekad terbit di bibirnya. "Mulai besok... aku akan mulai perubahanku. Tidak ada lagi malas. Tidak ada lagi makanan enak. Tidak ada lagi kenyamanan. Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Dan pada akhirnya... Aku, istri gemuk yang kalian hina ini... akan menjadi dewi cantik yang paling kalian puja-puja."
Malam itu, Nayra tidur dengan hati yang berbeda. Dia bukan lagi gadis penakut yang penuh rasa rendah diri. Dia adalah wanita yang sedang bersiap untuk bangkit, berjuang, dan menaklukkan dunianya sendiri. Dan dia tahu... jalan panjang, sulit, dan penuh keringat sedang menunggunya di depan sana. Tapi dia tidak peduli. Asal bisa membungkam mulut-mulut jahat itu, asal bisa mendapatkan rasa hormat dan cinta suaminya... dia rela melakukan apa saja.
"Tunggu saja, Arga. Tunggu saja kalian semua. Lihatlah, apa yang akan aku lakukan pada diriku sendiri..."
🔥 INI BARU AWAL KISAHNYA KAK! Di akhir bab ini sudah ada tekad kuatnya, jadi pembaca penasaran banget: "Gimana caranya dia kurus? Gimana reaksi Arga? Gimana kagetnya mereka semua?" Pas banget, bikin mereka lanjut baca terus! 😍
Sudah pas belum Kak? Ini panjang, detail, emosional banget, persis kayak yang kamu mau ya? 📚✨
Matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela, namun Nayra sudah terbangun jauh sebelum cahaya itu menerangi kamarnya. Jam dinding baru menunjuk angka pukul empat pagi, tapi matanya sudah terbuka lebar, tidak ada lagi rasa malas, tidak ada lagi keinginan untuk meringkuk di balik selimut empuk itu.
Malam tadi, sumpah serapah dan janji yang dia ucapkan di depan cermin masih terngiang jelas di telinganya. Rasa sakit hati, malu, dan penghinaan yang dia terima di jamuan makan malam itu masih terasa membekas, seolah-olah baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.
Nayra bangkit dari tempat tidurnya, kakinya menyentuh lantai dingin. Dia berjalan menuju cermin besar itu lagi, menatap pantulan dirinya yang masih sama besarnya, masih sama gembulnya, masih sama jeleknya di matanya. Tapi kali ini, tatapannya bukan lagi tatapan sedih atau penuh rasa rendah diri. Di sana, di dalam kedua matanya yang bulat itu, membara api semangat yang tak akan padam sebelum tujuannya tercapai.
"Dimulai dari hari ini..." bisiknya pelan, tangannya menyentuh pantulan wajahnya sendiri. "Hari ini hari pertama aku mengubah nasibku. Tidak ada kata lelah. Tidak ada kata menyerah. Demi harga diriku, demi membungkam mulut-mulut jahat itu, dan demi mendapatkan tempat di hatimu, Arga... aku akan lakukan apa saja."
Dia mengenakan baju olahraga yang paling besar ukurannya, baju yang sebenarnya agak sempit dan terasa sesak di tubuhnya yang berisi. Dia mengikat rambut panjangnya ke atas, mengeluarkan sepatu kets yang sudah lama tersimpan di dalam lemari dan tak pernah terpakai. Lalu, dengan napas yang sudah mulai memburu hanya karena bergerak sedikit saja, Nayra melangkah keluar kamar menuju halaman belakang kediaman Pradipta yang sangat luas.
Udara pagi yang dingin langsung menyapa kulitnya, tapi Nayra tidak peduli. Dia berdiri tegak di tengah halaman yang masih sepi itu, menatap langit yang perlahan berubah warna dari gelap menjadi keemasan. Di sini, di tempat ini, dia akan memulai perjuangan yang mungkin akan menjadi hal terberat dalam hidupnya.
Dia ingat apa yang dia baca di internet dan dengar dari orang-orang: "Ingin kurus? Harus bergerak, harus membakar lemak, dan yang paling berat... harus menahan lapar."
Nayra menarik napas panjang, lalu mulai berlari pelan mengelilingi halaman yang luas itu.
Baru lima langkah, napasnya sudah terdengar berat dan pendek. Baru sepuluh langkah, kakinya sudah terasa berat seolah ada besi berton-ton yang mengikatnya. Baru dua puluh langkah, keringat sudah mulai bercucuran membasahi dahinya, punggungnya, dan seluruh tubuhnya. Tubuhnya yang berat ini seolah-olah menolak untuk bergerak, setiap langkah terasa menyiksa, setiap hentakan kaki terasa sakit di persendiannya.
"Ah... capek... capek sekali..." keluhnya dalam hati, napasnya tersengal-sengal hebat. Dadanya terasa sesak, seolah-olah udara di sekitarnya tidak cukup untuk memenuhi paru-parunya. Kakinya gemetar, rasanya dia ingin sekali berhenti, duduk, dan beristirahat di bangku taman di dekat sana.
Tapi di detik itu juga, bayangan wajah-wajah penghina itu kembali melintas di benaknya. Suara tawa sinis Tante Sarah, ejekan Karin, kata-kata pedas Bibi Ratih, dan tatapan dingin Arga yang sama sekali tidak memandang ada atau tidak adanya dirinya.
"Lihat saja dia, jalan saja susah, apalagi melayani suaminya."
"Dasar gadis kampung gemuk yang tak tahu diri."
"Arga pasti malu banget punya istri begini."
"TIADAKAN!" teriak Nayra dalam hati, matanya memejam kuat-kuat sambil menggelengkan kepala. Dia memaksakan kakinya yang gemetar itu melangkah lagi, lebih cepat sedikit dari sebelumnya. "Aku tidak boleh berhenti di sini! Kalau aku berhenti sekarang, berarti aku mengakui kalau mereka benar! Berarti aku memang gadis gemuk yang lemah dan penakut! Aku tidak mau! Aku tidak akan biarkan itu terjadi!"
Dia berlari lagi. Napasnya makin berat, keringatnya makin deras mengalir, baju olahraganya sudah basah kuyup seolah habis tersiram air. Rasa perih di kakinya, rasa sakit di dadanya, rasa lelah yang luar biasa... semua dia abaikan. Dia terus berputar, mengelilingi halaman itu lagi dan lagi, sampai kakinya benar-benar tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang berat.
Saat dia akhirnya berhenti, Nayra langsung jatuh berlutut di rumput hijau, tubuhnya terhuyung-huyung, napasnya keluar masuk dengan sangat cepat dan berat. Dia memegang dadanya yang terasa berdebar kencang sekali, seolah mau meledak. Keringat menetes dari ujung rambutnya, jatuh satu per satu ke tanah.
Sakit. Lelah. Perih.
Tapi anehnya, ada rasa lain yang muncul di hatinya. Rasa puas. Rasa bangga kecil. Karena dia tahu, setiap tetes keringat yang jatuh itu adalah lemak yang sedang dia bakar. Setiap rasa sakit itu adalah langkah kecil menuju perubahan besar.
Belum sempat Nayra mengatur napasnya kembali, terdengar suara langkah kaki mendekat, disusul suara ketus yang sudah sangat dia kenal.
"Ya ampun... apa yang sedang kau lakukan di sini, Nona Nayra?"
Nayra menoleh, melihat Bibi Ratih berdiri di sana dengan tangan di pinggang, menatapnya dengan tatapan heran sekaligus jijik. Di belakangnya ada dua pembantu lain yang ikut menonton sambil menutup mulut, menahan tawa.
Nayra bangkit berdiri dengan susah payah, mengusap keringat di dahinya. "Sa... saya sedang berolahraga, Bibi."
Bibi Ratih tertawa kecil, suara tawanya penuh ejekan. "Berolahraga? Hahaha... untuk apa? Kau pikir dengan berlari-lari kecil begitu, tubuhmu yang sebesar gunung itu akan bisa mengecil? Dasar tidak tahu diri. Sudah gemuk, sudah jelek, masih saja berharap bisa jadi cantik. Percuma saja. Tulangmu sudah besar, lemakmu sudah tebal. Sampai kapan pun kau akan tetap begini, aib keluarga Pradipta."
Kata-kata itu menusuk lagi, tapi kali ini Nayra tidak lagi menangis atau menunduk. Dia menatap Bibi Ratih dengan tatapan tajam, tatapan yang membuat wanita paruh baya itu sedikit terkejut.
"Siapa yang bilang percuma, Bibi?" jawab Nayra pelan namun tegas. "Selama masih bernapas, selama masih ada kemauan, tidak ada yang mustahil. Bibi boleh menertawakan saya hari ini. Tapi ingatlah baik-baik... nanti Bibi yang akan kaget melihat perubahan saya."
"Hah! Sok percaya diri sekali. Dasar gila," cibir Bibi Ratih, lalu berbalik pergi diikuti kedua pembantu itu yang masih bergumam dan tertawa kecil membicarakan Nayra.
"Lihat tuh, sok-sokan mau kurus. Gemuk begini mana mungkin berubah."
"Iya, lucu sekali. Buang-buang waktu saja."
Suara-suara itu terdengar jelas di telinga Nayra. Dia mengatupkan rahangnya erat, tangannya mengepal kuat. "Tertawalah kalian sekarang... nanti giliran aku yang tertawa saat kalian diam membisu karena kaget." batinnya.
Jam menunjukkan pukul enam pagi. Waktunya sarapan pagi.
Biasanya, jam segini adalah waktu yang paling Nayra tunggu-tunggu. Dia sangat suka makan. Dia suka nasi yang banyak, lauk yang berminyak, gorengan, kue-kue manis, dan segala makanan enak. Makanan adalah satu-satunya hiburan dan pelarian dirinya dari rasa sedih dan sepi.
Tapi hari ini... hari ini semuanya berubah.
Saat dia masuk ke ruang makan, meja panjang itu sudah penuh dengan hidangan lezat. Ada nasi uduk yang gurih, gorengan hangat, ayam goreng berbalut rempah, kue lapis, donat gula, susu cokelat, dan masih banyak lagi. Aroma wangi makanan itu langsung menyergap hidungnya, membuat perutnya yang kosong sejak pagi langsung berteriak minta diisi. Mulutnya langsung berair, kebiasaan lamanya hampir saja membuat dia langsung menyambar piring dan mengambil porsi besar seperti biasa.
Namun ingatannya langsung terbang kembali ke malam kemarin.
"Mana pantas gadis gemuk sepertimu jadi istri Tuan Arga?"
"Dia cuma aib karena tubuhnya besar dan jelek."
Nayra mengeratkan giginya. Dia duduk di kursinya, matanya menatap makanan-makanan enak itu dengan tatapan perang. Ini musuhnya. Makanan enak ini musuh terbesarnya. Kalau dia makan sembarangan, dia tidak akan pernah berubah. Dia akan selamanya jadi bahan ejekan.
Bibi Ratih datang membawa nampan, meletakkan piring di depan Nayra. Di sana sudah ada nasi satu piring penuh, dua potong ayam, dan tiga buah gorengan. Menu andalan Nayra setiap hari.
"Silakan dimakan, Nona. Makan saja yang banyak, biar makin gemuk, biar makin sehat," ucap Bibi Ratih dengan nada sarkas, lalu tersenyum sinis.
Nayra menatap piring itu. Godaan itu sangat besar. Sangat, sangat besar. Dia sangat lapar. Dia sangat ingin memakannya. Rasanya dia rela melakukan apa saja hanya demi satu suapan nasi hangat itu.
Tapi...
Perlahan, Nayra mendorong piring itu menjauh. Dia mengambil piring kecil di sebelahnya, mengambil nasi hanya sebesar kepalan tangan, satu potong timun, dan sedikit tumisan sayur bening. Itu saja. Tidak ada gorengan, tidak ada ayam berminyak, tidak ada kue manis.
Bibi Ratih sampai terpaku melihat itu. "Eh? Kau... kau mau makan itu saja? Kau sakit apa?"
"Saya tidak sakit, Bibi," jawab Nayra tenang, meski di dalam hatinya dia sedang berperang hebat melawan rasa laparnya. "Mulailah hari ini saya mengatur pola makan saya."
"Dasar aneh. Sudah gemuk, makan sedikit begini. Apa kau pikir bisa kurus cuma dengan makan sedikit? Hahaha, lucu sekali," ejek Bibi Ratih lalu pergi.
Nayra memakan sarapannya yang sedikit itu pelan-pelan. Rasanya hambar, tidak ada nikmatnya sama sekali dibandingkan makanan kesukaannya. Setiap suapan terasa berat, setiap kali dia menelan, rasa ingin makan yang lebih banyak itu mendesak kuat sekali. Perutnya terasa kosong, perih, dan minta diisi. Rasanya dia ingin sekali membalikkan meja dan memakan semua makanan itu sampai kenyang.
Tapi dia tahan. Dia ingat sumpahnya. Dia ingat hinaan mereka. Dia ingat wajah dingin Arga.
"Sakit hati ini harus lebih besar daripada rasa lapar ini," batinnya sambil meneteskan air mata diam-diam di balik suapan sayurnya.
Belum selesai dia makan, terdengar langkah kaki berat masuk ke ruang makan. Jantung Nayra seketika berdegup kencang. Dia tahu siapa itu.
Arga Pradipta masuk dengan setelan jas rapi, wajahnya segar, tampan luar biasa, tapi tatapannya tetap sedingin es. Di belakangnya ada Karin, sepupunya yang cantik langsing itu, berjalan sambil tertawa kecil bercerita sesuatu pada Arga.
Mereka duduk di ujung meja, jauh dari tempat Nayra duduk. Arga sama sekali tidak melirik ke arah Nayra, seolah keberadaan istrinya itu tidak ada.
"Ah, Arga... lihatlah," ucap Karin sambil tersenyum miring, matanya menatap ke arah piring Nayra yang isinya sangat sedikit. "Istrimu itu kenapa? Makan cuma sedikit sekali. Padahal kan biasanya makan rakus sekali, makanya jadi sebesar itu. Apa dia mau diet? Lucu sekali ya. Orang yang tulangnya sudah besar begini, mau diet sampai mati pun tidak akan bisa kurus. Dasar usaha sia-sia."
Suara Karin sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke telinga Nayra. Wanita itu lalu tertawa renyah, diikuti senyum tipis Arga yang seolah menyetujui ucapan sepupunya itu.
"Biarkan saja dia, Karin. Terserah dia mau melakukan apa. Bagiku, dia tetaplah sama... gadis gemuk yang tak berarti apa-apa," jawab Arga dengan nada dingin dan datar, sambil memotong daging di piringnya dengan tenang.
Kalimat itu... kalimat itu menghancurkan hati Nayra berkali-kali lipat lebih sakit daripada rasa lapar dan rasa lelahnya.
"Gadis gemuk yang tak berarti apa-apa..."
Nayra menggenggam sendoknya erat sampai buku jarinya memutih. Air matanya hampir tumpah, tapi dia telan kembali. Dia menoleh ke arah Arga dan Karin, menatap mereka berdua dengan tatapan yang tak bisa mereka mengerti.
"Kalian anggap aku tak berarti? Kalian anggap usahaku sia-sia?" batin Nayra, api semangatnya makin berkobar hebat, melebihi api yang pernah ada sebelumnya. "TUNGGU SAJA! AKAN KUBUKTIKAN BAHWA KALIAN YANG SALAH! AKAN KUBUKTIKAN BAHWA AKU BISA BERUBAH MELEBIHI IMAGINASI KALIAN SEMUA! DAN SAAT ITU TIBA... KALIAN AKAN MELIHAT BAHWA AKULAH YANG PALING BERARTI, DAN KALIANLAH YANG AKAN DIANGGAP TAK BERARTI!"
Pagi itu berakhir dengan rasa sakit hati yang makin dalam, tapi juga dengan tekad yang makin membaja.
Sejak hari itu, kehidupan Nayra berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi waktu santai, tidak ada lagi makanan enak, tidak ada lagi kenyamanan.
Setiap hari, pukul empat pagi dia sudah bangun, berlari mengelilingi halaman berulang kali sampai keringatnya membanjiri tubuh. Awalnya dia hanya sanggup berlari sepuluh menit, lalu dua puluh, lalu satu jam, dan makin lama makin lama durasinya. Rasa sakit di kaki, nyeri di pinggang, sesak napas... semua dia jalani. Saat rasanya tak sanggup lagi, dia ingat kata-kata Arga: "Gadis gemuk yang tak berarti apa-apa." Dan seketika kekuatan baru datang menghampirinya.
Setelah lari, dia lanjutkan dengan gerakan senam, angkat beban kecil, dan gerakan otot lainnya yang dia pelajari dari buku dan internet. Tubuhnya yang belum terbiasa bergerak itu sering kali terasa sakit luar biasa sampai malam hari, sulit tidur karena nyeri di mana-mana. Tapi besok paginya, dia bangun lagi dan melakukannya lagi, meski sakit, meski berat.
Masalah terbesarnya adalah RASA LAPAR.
Ini musuh paling berat. Di jam-jam tertentu, terutama siang dan malam, perutnya terasa perih sekali, bergemuruh keras minta diisi. Mulutnya selalu ingin mengunyah sesuatu. Setiap kali dia melihat makanan enak di meja makan, setiap kali mencium aroma gorengan atau kue, hatinya menangis ingin memakannya.
Berkali-kali dia hampir menyerah. Berkali-kali tangannya hampir menyambar makanan itu.
"Sekali saja tidak apa-apa, kan? Besok puasa lagi saja..." bisik setan kecil di hatinya.
Tapi setiap kali itu terjadi, bayangan wajah-wajah penghina itu langsung muncul. Suara Bibi Ratih, T
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tiga bulan sudah berlalu sejak hari Nayra bersumpah di depan cermin itu. Tiga bulan yang bagi orang lain mungkin biasa saja, tapi bagi Nayra... tiga bulan itu terasa lebih berat, lebih panjang, dan lebih menyiksa daripada sepuluh tahun kehidupannya sebelumnya.
Setiap hari, ritme hidupnya sama persis, tanpa libur, tanpa jeda, tanpa keringanan sedikit pun.
Pukul empat pagi, saat seluruh penghuni kediaman Pradipta masih terlelap dalam mimpi indah, Nayra sudah bangkit dari tidurnya. Tubuhnya selalu terasa pegal, nyeri, dan sakit di sana-sini akibat olahraga keras yang dia lakukan setiap hari. Kadang kakinya sampai bengkak, kadang pinggangnya terasa nyeri sekali sampai susah berdiri tegak. Tapi begitu matanya terbuka, begitu ingatannya kembali pada kata-kata pedas mereka, rasa sakit itu seketika hilang digantikan oleh api semangat yang makin besar.
Dia turun ke halaman, berlari. Dulu dia hanya sanggup sepuluh menit lalu terengah-engah hebat. Sekarang? Dia sudah bisa berlari terus-menerus selama satu jam penuh tanpa berhenti. Napasnya yang dulu pendek dan berat, kini mulai terasa lebih panjang dan lebih lega. Keringat yang mengucur deras itu... Nayra anggap sebagai emas. Setiap tetesnya adalah lemak yang mati, setiap keringatnya adalah langkah menuju kemenangan.
"Kurang sedikit lagi... Nayra, kurang sedikit lagi..." bisiknya tiap kali kakinya terasa mau copot karena lelah. "Ingat Arga. Ingat Karin. Ingat semua hinaan itu. Kalau berhenti sekarang, semua penderitaan ini sia-sia. Ayo, lari lagi! Lebih cepat! Lebih jauh!"
Masalah terberatnya tetaplah MAKANAN.
Di tiga bulan ini, Nayra tidak pernah sekalipun menyentuh makanan berminyak, gorengan, nasi berlebih, gula, atau makanan manis yang dulu sangat dia cintai. Piring makannya selalu sama: sedikit nasi, banyak sayuran, buah-buahan, dan putih telur rebus. Itu saja. Tanpa bumbu berlebih, tanpa kuah kental, tanpa rasa nikmat.
Lidahnya terasa mati. Perutnya selalu terasa kosong, perih, dan minta diisi. Ada malam-malam di mana Nayra terbangun dari tidurnya karena kelaparan hebat. Perutnya bergemuruh keras sampai sakit sekali, rasanya ada yang mencengkeram ulu hatinya. Dia berjalan menuju lemari makanan, berdiri di sana menatap kue-kue, roti, dan makanan ringan yang tersimpan rapi. Tangannya gemetar ingin mengambilnya, mulutnya sudah berair deras.
"Satu saja... satu potong kecil saja tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang tahu..." bisik godaan itu sangat kuat, sampai-sampai Nayra hampir saja merobek kemasan makanan itu.
Tapi kemudian dia melihat pantulan dirinya di kaca lemari. Melihat tubuhnya yang masih besar, pipinya yang masih bulat, dan teringat ucapan Karin: "Orang tulangnya sudah besar begini, mau diet sampai mati pun tidak akan bisa kurus."
"HUAAAA!!!"
Nayra menangis sambil berlutut di depan lemari itu. Dia memukul-mukul mulutnya sendiri, memarahi dirinya sendiri.
"Dasar lemah! Dasar penakut! Mau menyerah cuma gara-gara lapar?! Kalau kamu makan ini, berarti kamu kalah! Berarti mereka benar! Kamu memang gadis gemuk yang tidak punya kemauan! Kamu memang tidak pantas jadi istri Arga! Kamu memang aib keluarga ini!"
Dia menutup lemari itu dengan kasar, lalu berlari kembali ke kamarnya, memeluk gulingnya sambil menangis tersedu-sedu sampai tertidur karena kelelahan dan rasa lapar yang menyiksa.
Rasa sakit, rasa lapar, rasa lelah... itu belum seberapa dibandingkan dengan PENYIKSAAN BATIN yang dia terima setiap hari.
Setiap kali dia keluar kamar, setiap kali dia bertemu pelayan, bertemu keluarga Arga, atau bertemu suaminya sendiri... kata-kata pedas selalu datang menghampiri.
Lihat saja hari ini, saat Nayra sedang beristirahat sejenak di taman sambil mengipasi dirinya yang berkeringat. Karin lewat bersama dua temannya, wanita-wanita cantik dan langsing yang juga sering datang ke rumah ini. Saat melihat Nayra, mereka langsung berhenti dan menatapnya dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan menghakimi.
"Wah, lihat tuh... si aib keluarga lagi berusaha keras ya," ucap Karin sambil menutup mulutnya tertawa kecil. Dia mendekat, lalu menunjuk perut Nayra yang meski sudah berkurang sedikit, tapi masih terlihat gembul di balik baju olahraga yang longgar.
"Katanya mau kurus ya, Nayra?" cibir Karin, matanya berkilat jahat. "Sudah tiga bulan lho. Lihat dirimu itu, masih sama besarnya! Malah kelihatan makin hitam dan kusam karena tiap pagi kepanasan. Hahaha. Sudah kubilang kan? Percuma saja. Kamu itu bawaan lahir gemuk. Tulangmu besar, kulitmu tebal. Mau disiksa sampai mati pun, bentukmu tidak akan berubah. Kamu selamanya akan tetap jadi istri jelek Arga yang kami hina."
Salah satu temannya ikut menyahut, menatap Nayra dengan jijik. "Iya benar. Kasihan sekali ya, sudah jelek, sudah gemuk, hidupnya disiksa sendiri pula. Padahal kan sudah jadi istri orang kaya, mestinya makan enak, tidur enak. Ini malah menyiksa diri. Lucu sekali."
"Mungkin dia mau berusaha biar Arga meliriknya ya? Hahaha, mimpi apa dia semalam? Arga itu suka wanita cantik, langsing, elegan. Bukan wanita kasar, berkeringat, besar begini. Arga pasti jijik kalau melihatnya," tambah Karin sambil melirik tajam ke arah Nayra. "Eh Nayra, coba lihat suamimu itu... dia baru saja berangkat sama wanita lain lho. Wanita itu cantik sekali, langsing, modis. Jauh banget bedanya sama kamu. Kasihan sekali kamu, jadi istri tapi cuma pajangan jelek."
Kalimat terakhir itu menancap tepat di jantung Nayra.
Arga... pergi bersama wanita lain?
Nayra menahan air matanya. Dia tahu dia tidak berhak melarang, dia tahu pernikahan ini cuma kontrak, tapi rasa sakit hati itu tetap ada. Apalagi mendengar pembandingan yang begitu menyakitkan.
"Kalian boleh menertawakan saya hari ini..." jawab Nayra pelan, suaranya bergetar tapi matanya tajam menatap mereka bertiga. "Tiga bulan belum apa-apa. Tunggu saja sampai enam bulan. Tunggu saja sampai satu tahun. Nanti kita lihat siapa yang akan tertawa paling akhir."
Karin dan kedua temannya tertawa terbahak-bahak seolah mendengar lelucon paling lucu sedunia.
"Enam bulan? Satu tahun? Hahaha, siapapun yang melihatmu sekarang pasti tahu kamu tidak akan berubah. Percuma saja bicara besar, kenyataannya tetaplah kenyataan. Selamat menikmati penderitaanmu ya, Nona Gemuk!"
Mereka pun berlalu pergi sambil masih bergosip dan menertawakan Nayra.
Begitu mereka hilang dari pandangan, Nayra langsung merosot jatuh ke bangku taman. Dia memegang dadanya yang sesak. Sakit. Sangat sakit. Rasanya dia ingin berhenti saja. Rasanya dia ingin menyerah, makan sepuasnya, dan menerima takdirnya selamanya sebagai wanita gemuk yang diremehkan.
Tapi... tidak.
Dia mengangkat wajahnya, menatap langit biru yang cerah. Di matanya bergenang air mata, tapi bibirnya tersenyum tipis, senyum yang penuh perjuangan.
"Kalian salah..." bisiknya pelan, lalu dia mengangkat tangannya dan meraba pinggangnya sendiri.
Di sini... di bagian pinggang ini... dia merasakan sesuatu yang berbeda.
Tiga bulan lalu, saat dia memegang pinggangnya, rasanya tebal, keras, dan penuh lemak yang menggumpal. Baju yang ukurannya paling besar pun sesak dan susah dikancingkan. Tapi sekarang... dia merasakan lemak itu makin menipis. Baju yang sama itu kini terasa agak longgar di bagian pinggang dan perutnya.
Perubahannya memang belum terlihat jelas dari luar karena perubahannya perlahan dan dia tidak memberi tahu siapa pun. Tapi dia sendiri tahu. Tubuhnya makin ringan, napasnya makin lega, gerakannya makin lincah, dan berat badannya yang dulu hampir seratus kilo, kini sudah turun menjadi delapan puluh sembilan kilo. Sebelas kilo lemak sudah hilang dibakar keringat dan air matanya!
Hanya saja kulitnya yang dulu sangat tebal dan terbiasa gembung, perlahan-lahan menyusut, jadi perubahannya tidak drastis terlihat mata orang lain. Tapi perubahan itu ada. Nyata. Dan itu bukti kalau usahanya tidak sia-sia.
"Belum terlihat jelas ya? Kalian bilang percuma ya?" batin Nayra, semangatnya kembali menyala berkali-kali lipat lebih besar. "Baiklah... kalau tiga bulan belum cukup, aku akan berjuang enam bulan. Kalau enam bulan belum cukup, aku akan berjuang satu tahun. Sampai kapan pun aku tidak akan berhenti! Aku akan kurus sampai tulangku terlihat, sampai wajah cantikku terlihat, sampai kalian semua menyesal mati pernah meremehkanku!"
Hari-hari makin berlalu dengan berat, tapi Nayra makin kuat.
Dia menambah durasi lari. Dia menambah jenis olahraga. Dia makin ketat menjaga makanannya, kadang hanya makan buah dan sayur saja seharian demi mempercepat prosesnya. Kadang dia pingsan karena kelelahan atau gula darah rendah, tapi begitu sadar, dia bangkit lagi dan lanjut berjuang.
Bibi Ratih yang sering melihatnya pucat dan kurusan sedikit pun tidak peduli, malah makin sering menghina: "Lihat tuh, makin lama makin kelihatan tua dan kusam. Mati saja dia, percuma hidup menyiksa diri begini."
Arga... Arga seolah tidak peduli sama sekali. Dia jarang ada di rumah, sibuk dengan pekerjaannya, sering terlihat bersama wanita cantik lain, dan kalau bertemu Nayra pun dia hanya diam dingin, menatap istrinya itu sama seperti dulu: pandangan yang mengatakan 'kau masih sama jelek dan gemuk'.
Sikap dingin Arga itu adalah cambuk terbesar bagi Nayra. Setiap kali Arga menatapnya kosong, setiap kali Arga bicara datar, setiap kali Arga melewatinya seolah dia tidak ada... Nayra merasa ditampar berkali-kali. Dan setiap kali itu pula, tekadnya makin membaja.
"Tunggu saja, Arga. Tunggu saja sampai aku selesai berubah. Saat aku berdiri di hadapanmu nanti... kau tidak akan bisa mengalihkan pandanganmu sedikit pun. Kau akan menyesal pernah menganggapku tidak berharga. Kau akan jatuh cinta mati-matian padaku. Dan saat itu terjadi... akulah yang akan membalas semua rasa sakit hati ini."
Waktu terus berjalan, memasuki bulan keempat, bulan kelima, bulan keenam...
Di bulan keenam ini, perubahan besar mulai terjadi.
Berat badan Nayra yang dulu hampir seratus kilo, kini tinggal enam puluh lima kilo! Tiga puluh lima kilo lemak lenyap ditelan keringat dan air mata perjuangannya!
Tubuhnya yang dulu lebar dan besar, kini makin ramping. Pinggangnya makin kecil, perutnya yang buncit kini rata dan mulai terlihat garis-garis otot halus hasil latihan kerasnya. Pipi gembulnya makin menyusut, rahangnya makin tegas, mata indahnya yang dulu tertutup lemak kini makin terlihat jelas dan berbinar indah. Kulitnya yang dulu kusam karena kurang perawatan dan kurang gerak, kini makin cerah, bersih, dan bercahaya karena sering bergerak dan makan makanan sehat.
Perubahannya LUAR BIASA! Tapi Nayra masih menutupinya rapat-rapat. Dia masih memakai baju-baju longgar yang besar, dia masih mengikat rambutnya sembarangan, dia masih menundukkan kepalanya saat berjalan. Dia sengaja tidak membiarkan siapa pun melihat perubahannya secara utuh. Dia ingin kejutan besar. Dia ingin saat dia tampil nanti... perbedaannya begitu drastis sampai-sampai membuat semua orang terpukau dan tidak percaya.
Malam itu, tepat enam bulan sejak dia mulai berjuang, Nayra berdiri di depan cermin besar kamarnya. Dia membuka kancing bajunya satu per satu, melepas baju longgar yang selama ini dia pakai untuk menutupi tubuhnya.
Saat tubuhnya yang baru terlihat jelas di kaca... Nayra menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak penuh takjub dan haru.
"Ya Tuhan... ini... ini aku...?" bisiknya parau, air mata bahagia mulai mengalir deras di pipinya yang kini tirus dan cantik.
Di cermin itu, tidak lagi terlihat wanita gemuk besar yang dulu sering dihina. Di sana berdiri seorang wanita muda yang tubuhnya indah, ramping, berisi pas, berlekuk seksi, dan sangat indah. Kulitnya halus, bersih, putih kemerahan. Pinggangnya ramping, bahunya indah, kakinya jenjang.
Dan wajahnya... wajah Nayra kini sungguh mempesona. Pipi bulatnya hilang, menampakkan rahang yang tegas dan hidung yang mancung indah. Matanya besar, indah, dan berbinar terang. Bibirnya merah alami, bentuknya cantik sekali.
Wanita cantik, anggun, dan mempesona itu... adalah dia! Adalah Nayra yang dulu mereka sebut jelek dan gemuk!
Nayra menyentuh wajahnya sendiri, menyentuh tubuh rampingnya sendiri, gemetar hebat karena haru. Enam bulan... enam bulan dia menyiksa diri, menahan lapar, berdarah-darah, berjuang mati-matian. Dan hasilnya ada di depan matanya sekarang. Nyata. Indah. Sempurna.
"AKU BERHASIL!!!" teriak Nayra sejadi-jadinya di dalam kamar itu, melompat kegirangan sambil menangis bahagia. "AKU BERUBAH! AKU KINI CANTIK! AKU KINI INDAH! AKU BUKAN LAGI ISTRI GEMUK YANG DIHINA ITU!"
Dia menatap pantulan dirinya lagi, senyum terindah dan paling bangga terukir di bibirnya.
"Kalian yang dulu menertawakan aku... Karin, Bibi Ratih, Tante Sarah... dan kamu, Arga..." ucap Nayra perlahan, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Simpan baik-baik kaget kalian... simpan baik-baik rasa iri dan penyesalan kalian... karena besok... besok adalah hari di mana aku akan tampil kembali di hadapan kalian semua. Besok... aku akan membuat kalian semua menyesal seumur hidup pernah meremehkanku. Besok... aku Nayra... akan berubah menjadi DEWI CANTIK yang paling kalian puja-puja."
Malam itu, Nayra tidak tidur. Dia menyiapkan semuanya. Dia mengeluarkan gaun paling indah, paling mahal, dan paling elegan yang dulu pernah dia beli tapi tidak muat di tubuhnya. Gaun itu berwarna putih bersih, berkilauan, berpotongan indah yang mempertontonkan lekuk tubuhnya yang baru saja indah.
Dia merawat rambutnya, merawat wajahnya, mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dia ingin tampil sempurna. Dia ingin saat dia melangkah masuk ke ruangan itu besok... seluruh dunia berhenti berputar karena terpesona padanya.
Dan di tengah persiapannya itu, di sudut hatinya... ada satu nama yang paling dia nantikan reaksinya.
**Arga Pradipta
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!