Indonesia
NovelToon NovelToon

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Tak terdaftar pada peta : 01

“Kenapa kita tidak mengikuti bus rombongan? Malah keluar dari jalur jalan utama?” Dia menaikan topi hitam agar dapat memperhatikan sekitar lebih jelas.

“Diem lu cupu! Banyak banget bacotnya. Tinggal duduk, tau-tau sampai tujuan, protes mulu yang dibesarkan!” hardik pria berambut ikal tengah mengemudikan mobil Toyota Rush.

Yang dibentak tidak begitu peduli apalagi ambil hati kata-kata tajam bak belati. Gadis berpenampilan kurang menarik dimata pria penyuka wanita seksi, kembali menatap keluar jendela mobil. Dia duduk pada bagian belakang, di sebelahnya ada seorang pemuda tengah tertidur.

“Tau tu Kanti, dari tadi gelisah terus bawaannya. Sudah untung dikasih tumpangan, malah gak tahu diri,” cibir gadis memakai kaos pas badan, celana jeans ketat, parasnya cantik dengan senyum menggoda – Mayang, namanya.

Mobil yang dikendarai Abeer terus melaju, semakin jauh dengan bus mengantarkan para mahasiswa berangkat KKN ke daerah pelosok.

“Wuih … bagus banget alamnya, sejuk, gak ada polusi udara, masih seger.” Ahwaya, salah satu peserta KKN yang memilih naik mobil putra orang berpengaruh, menurunkan kaca jendela. “Jarang banget kita bisa menghirup udara seperti ini kalau di kota provinsi.”

“Lu bener, Aya. Yang ada pengab, belum lagi macet parah,” timpal Mayang.

“Lewat rute ini gak perlu dua jam nyampe tujuan, cukup empat puluh menit. Cocok lah menghindari punggung pegel, bokong panas.” Sambara duduk disebelah sang sopir, juga menurunkan kaca jendela.

“Sayang, kamu sudah mengatur tempat tinggal kita selama di pemukiman kumuh itu, kan?” Ahwaya memeluk kekasihnya dari belakang, tidak peduli terhalang kursi mobil.

“Tenang cintaku. Pagi sampai sore kita bertugas, malamnya lembur berpeluh keringat di atas ranjang.” Kedua tangannya memeluk leher sang kekasih lalu menarik agar Aya merunduk. Seperti tidak memiliki rasa malu, mereka berciuman sampai terdengar suara decapan hingga kursi bagian belakang.

“Gua juga pengen. Mayang, sayang buruan raba-raba!” Abeer berseru lalu tertawa.

Sang kekasih menurut, bukan mencium melainkan jari-jari lentiknya mengusap benda pusaka pujaan hatinya.

Dua pasang sejoli itu asik berbuat senonoh, tidak peduli pada gadis berkemeja kebesaran, celana panjang longgar.

Pun, tidak menghiraukan pemuda memakai kaos oblong, topi putih, celana jeans biru, dipadukan dengan warna jaket serupa.

‘Kenapa perasaanku semakin nggak enak? Seperti merasakan pertanda adanya hal buruk yang tengah menanti.’ Candra Kanti, atau sering disapa Kanti, mengusap-usap lengan kemejanya.

Sejauh mata memandang, jalanan mulus itu diapit hutan rimbun berpohon tinggi, terlihat angker.

“Makanlah, bisa sedikit mengurangi rasa cemas.” Genggaman telapak tangan besar terbuka, memperlihatkan sebungkus permen jahe.

Sedikit ragu Kanti mengambilnya, lalu membuka bungkus plastik dan memasukkan permen ke dalam mulutnya.

Entah berapa lama, tapi terasa sudah sangat lama, tiba-tiba mesin mobil mati dengan sendirinya. Kaca jendela otomatis menutup sempurna tanpa ada satupun orang menekan tombol pada sisi pintu.

Kabut tebal menyelimuti kendaraan roda empat itu, cuaca berubah suram layaknya awan mendung menggantung di langit. Suhu turun drastis, udara terasa dingin.

Suasana dalam mobil langsung berisik, terutama Mayang dan Ahwaya, terus bertanya ada apa gerangan.

“Ini kita di mana?” tanya Mayang, nadanya sedikit panik.

“Sial! Gak ada sinyal!” Sambara mengguncang ponselnya.

“Mesin mobilnya gak mau nyala, padahal masih ada bensin, pun sebelum berangkat sudah diperiksa kelayakannya untuk perjalanan jauh.” Abeer berulang kali memutar anak kunci tertancap pada bagian setir.

“Beneran gak ada sinyal, punyaku juga nol garisnya!” pekik Ahwaya.

“Jam pun berhenti berdetak, waktu seakan ikutan tidak berputar,” gumam lirih Kanti sambil memperhatikan jam tangan dan penunjuk waktu pada ponselnya.

“Sebaiknya kita turun dulu, siapa tahu bisa mencari bantuan, atau bila beruntung ada orang lewat,” ujar Aji Sardi, pemuda yang memberikan permen tadi.

“Gila lu! Kita gak tahu diluar itu kondisinya aman atau berbahaya!” tolak Sambara.

“Lantas apa mau tetap di sini, dikepung kabut tebal, bahkan melihat keluar saja kesulitan! Ahwaya, geser kamu! Biar aku yang keluar memeriksa sekitar.” Aji mengancingkan jaketnya.

Ahwaya tidak langsung menurut, terlebih dahulu menatap raut kesal kekasihnya.

Sambara mengangguk. “Kalau ada apa-apa biar dia mati duluan! Kita jangan ada yang menolongnya!”

Candra Kanti tidak tinggal diam, ditariknya resleting jaket berbahan kain, lalu dirinya berlutut demi mengambil tas ransel lumayan besar pada bagian belakang mobil.

“Lu mau kemana, Cupu?!” Abeer memperhatikan Kanti yang tengah berusaha melewati jok tengah.

“Lebih aman berada diluar. Menghindari bila tiba-tiba ada kebocoran pada tangki bensin maupun kehabisan oksigen,” katanya serius, lalu menjejakkan kaki ke jalanan tanah keras.

“Aji, kamu dimana?” panggil Kanti pelan. Dia kesulitan melihat, jarak pandang sangat terbatas.

“Aji Sardi!” Kanti mengencangkan tali ransel terasa berat.

Candra Kanti melangkah pendek-pendek, matanya sangat awas. Bunyi helaan napas seseorang membuatnya siaga.

“Aku gak bisa kemana-mana. Kabut ini bukan awan rendah yang menyentuh permukaan bumi, terbentuk dari uap air yang mengembun akibat suhu dingin, pun tidak bersifat cair, melainkan keras seperti es batu. Coba kamu rasakan daun ini!” Aji memperlihatkan daun hijau kaku.

Kanti menerimanya, tubuhnya langsung bereaksi seperti tersengat listrik tegangan rendah. “Aneh. Daun ini kering, tapi mengapa sangat dingin?”

Brak!

Candra Kanti dan Aji, sama-sama melihat dengan mata menyipit.

“Dalam mobil seperti hampa udara, sama sekali gak ada oksigen.” Abeer terengah-engah, dia dan lainnya seperti ikan tersangkut mata kail.

Mayang memukul udara layaknya mengusir Nyamuk. “Sialan. Sebenarnya kita di mana?”

“Tolong jaga ucapanmu! Jangan sembarangan berkata kasar terlebih kita lagi entah dimana,” Kanti memperingati.

“Diem lu, Cupu! Sok banget gayamu!” Mayang tidak terima ditegur, membalas membentak Kanti.

Ahwaya terbatuk-batuk, tubuhnya menggigil tapi tenggorokan sangat kering.

Sambara bergegas mengambil botol air di samping tas ransel yang dia sandang. “Airnya beku, tapi kenapa gak berembun?”

Semua terkejut, mereka mendekati sang pemuda, ikut memperhatikan air dalam botol masih terisi setengah.

“Ambil peta!” titah Aji Sardi.

Kanti berjongkok, membongkar isi ranselnya. Meskipun kesulitan melihat jelas, tapi masih bisa melihat sekeliling dengan jarak pandang cuma satu meter saja.

“Ini.” Ia serahkan kertas berisi kopian peta konvensional.

Aji menyalakan senter kecil, mengamati garis-garis melintang, membujur serta pola membentuk berbagai provinsi. “Tadi kita lewat jalur ini … terus berbelok arah ke sini ….”

“Ada apa? Kenapa diam, ada yang salah?” degub jantung Kanti terdengar nyaring sampai terdengar oleh Ahwaya.

“Cepat katakan, Aji! Jangan bikin gua cemas!” hardik Sambara, dia tidak pintar membaca peta.

“Jalan yang tadi kita lalui setelah berpisah dengan bus, tidak ada dalam peta ini.” Jari telunjuknya menyusuri garis hitam diatas kertas.

“Lu bercanda ‘kan?!”

.

.

Bersambung.

Mulai merasakan kejanggalan : 02

“Lu bercanda ‘kan?!” tanya Sambara panik.

“Apa tampang gua mirip orang bercanda?” Aji memandang penuh pada netra terlihat mulai ketakutan.

Akhh …. “Tenggorokanku gatel banget.” Aya mencubit kulit lehernya, merintih pelan.

Kanti merebut botol beku dari tangan pemuda memakai hoodie hitam. “Tempelkan ini di tempat yang gatal, bisa sedikit mengurangi ketidaknyamanan. Jangan digaruk, takutnya meninggalkan bekas luka.”

Walaupun terlihat enggan, tapi tidak memiliki pilihan, Aya menerima saran gadis yang sering dibully nya kala mereka tengah berada di kampus fakultas kehutanan.

“Terus kita mesti apa?” Abeer mulai frustasi.

“Cari cara, pasti ada jalan keluar dari kabut tebal ini,” sahut Kanti.

Sorot mata Abeer berkilat, dia jalan cepat ke arah gadis yang dijuluki culun. “Ini pasti gara-gara lu si pembawa sial! Sial banget gua harus satu regu sama lu!”

Terdengar tabrakan badan, Aji menghadang Abeer, kedua tangan mencengkram kerah jaket kulit warna coklat tua. “Lu masih sama pengecutnya. Bukan bantu mikir malah melimpahkan kesalahan yang jelas-jelas disini si paling bertanggung itu dirimu!”

“Lepasin gua!” Abeer meradang, wajahnya memerah, berusaha menurunkan tangan pemuda keturunan salah satu orang berpengaruh di ibu kota provinsi.

“Coba sendiri kalau lu mampu!” tantang pemuda berambut cepak, mata coklat muda.

“Cukup!” Kanti berteriak lumayan kencang. “Ini bukan saatnya saling menyalahkan apalagi menyerang. Kita gak tahu tengah berada di mana, jam berapa, saat ini siang atau menjelang malam! Tolong dewasa sedikit!”

Aji mendorong pundak Abeer sampai empunya mundur satu langkah. “Jika kalian masih sibuk berdalih, mencoba menyudutkan Candra Kanti, harap sadar diri. Yang patut disalahkan itu kalian. Manusia tapi kelakuan mirip hewan, bermesraan tak tahu tempat.”

“Lu mulai lagi, Ji!” Sambara tidak terima disamakan dengan binatang.

“Aji, tolong jangan menyulut api disaat kita tengah kebingungan seperti ini,” pinta Kanti lembut, dia terbiasa menggunakan aksen formal atau baku.

“Buka kap mobil!” Aji bertitah.

Abeer masih menyimpan dendam, ditatap nyalang tubuh mungil gadis yang aslinya cantik, memiliki bentuk badan molek yang sayangnya tertutup busana kebesaran.

Kap mobil sudah dibuka dan disanggah besi penahan. Aji Sardi terlihat fokus memeriksa bagian mesin. “Coba starter lagi!”

Sambara memutar anak kunci, tapi tetap tidak terdengar deru mesin.

“Gimana mana tenggorokan mu, Aya?” Kanti mendekati kedua wanita berjongkok di bodi samping mobil.

“Mendingan. Jujur gua takut. Belum pernah mengalami kejadian aneh gini,” tubuhnya menggigil kedinginan sampai bibir membiru.

Mayang memeluk sahabatnya, dia sendiri juga menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

“Kita pasti bisa keluar dari sini. Perlu kalian ingat! Jangan berbicara sembarangan apalagi mengumpat! Terus kelakuannya dijaga, hindari bermaksiat! Apabila di tempat _”

“Lu dukun ya? Berasa paling tahu medan horor ini, atau cuma mau nakutin kita? Bisa jadi cemburu gak bisa bermesraan karena nggak ada yang naksir cewek aneh kayak dirimu, iyakan?” Mayang masih memiliki tenaga untuk menghina Candra Kanti.

Kanti malas menanggapi, dia kira disaat terjepit seperti ini sifat orang bisa berubah lebih dewasa, tapi tetap kekanakan, pikiran dangkal.

“Gimana, Aji?” tanya Kanti memilih menghampiri pemuda yang sudah dikenalnya semenjak masa putih abu-abu.

Aji menggeleng sambil mengelap tangannya yang kotor terkena oli. “Mesinnya gak bermasalah, air aki juga cukup.”

“Coba dorong kali ya? Siapa tahu tiba-tiba bisa nyala,” Abeer menyarankan.

“Turunkan dulu koper di atas, terus barang-barang berharga kalian lebih baik di pegang erat-erat!” kata Aji bijak.

“Lu mau nyiksa kita ya? Jelas-jelas kami kedinginan, shock, malah dipaksa nurunin koper berat. Lagian buat apa? Toh nanti bakalan dinaikan lagi. Nambahi kerjaan.” Sambara berkacak pinggang.

Candra Kanti naik ke ban, tanpa kesulitan dia sudah duduk di atas mobil, lalu melepaskan simpul tali dan mengambil koper kecil miliknya. “Aji, punyamu mau diambil gak?”

“Iya. Tolong, Kanti,” pintanya pelan.

“Ini tangkap!” Kanti menurunkan kopernya terlebih dahulu, baru milik Aji. Setelahnya dia turun, tidak menawari bantuan ke orang yang sama sekali enggan.

“Sekali lagi gua ingetin kalau gak mau nyesel belakangan! Setidaknya kalian harus menggendong barang penting buat jaga-jaga!” Aji sibuk membongkar isi kopernya, mengambil beberapa stel pakaian lalu memasukan ke ransel besar.

Candra Kanti juga melakukan hal sama. Sesama anak pecinta alam, dan sering menempuh perjalanan panjang demi bisa mencapai puncak pegunungan, ia sudah terbiasa membawa barang seperlunya, bersikap antisipasi.

Namun, peringatan Aji dianggap angin lalu, baik Sambara dan ketiga temannya enggan beranjak.

“Buruan! Kalian yang aslinya buat lama!” bentak Abeer, sudah mengambil ancang-ancang di belakang mobil.

Ahwaya, Mayang, berdiri sedikit berjarak, tidak berani berjauhan dari lainnya.

Tas ransel digendong, tali sepatu dikencangkan, Candra Kanti ikut membantu mencoba mendorong mobil.

Sambara duduk dibalik kemudi, kembali mencoba men-stater, hasilnya tetap sama – tidak mau menyala.

“Satu dua tiga! Akhhh!” teriak pemuda memiliki lemak di perut, dan leher.

“Bangke! Ngapa ni mobil sedikitpun gak mau bergerak?!” Abeer mengelap keringat di kening.

Aji dan Kanti juga merasa aneh, peluh membanjiri pelipis mereka.

“Keluar Sambara! Buruan keluar! Tanahnya bergerak!” jerit Kanti, dapat dirasakan olehnya getaran halus, lalu gemuruh seperti ombak menghantam bebatuan karang.

“Mundur! Cepat mundur!” Aji pun berteriak sambil melangkah mundur.

Kali ini Sambara percaya, dia berlari ke belakang mobil.

BUM!!!

Suara melengking itu mengejutkan semua orang, mereka berdiri cukup jauh dari mobil. Demi bisa melihat jelas, senter ponsel dinyalakan.

“Tanahnya amblas!” Abeer menjambak rambutnya sendiri, shock berat.

“Mobilnya meluncur!” Sambara pun tidak kalah panik.

“ Koperku!” Mayang histeris, melompat tidak jelas, menangisi barang berharganya terjun berikut mobil.

Ahwaya tidak mampu berkata-kata, badannya lemas sampai perlu dipapah Kanti.

Angin lembut bertiup menggoyang dedaunan, menerpa wajah keenam orang berstatus mahasiswa semester lima.

Perlahan kabut tebal berangsur-angsur lenyap, membuat jarak pandang bebas.

Namun hal tersebut menambah rasa takut kala melihat tanah berlubang layaknya jurang mengerikan.

“Lihat ke atas!” Aji mendongak, menatap aneh semburat kemerahan pekat menghiasi langit.

Kanti melihat langit, lalu menunduk dan memperhatikan sekitar – matanya terbelalak kala menyadari keanehan terjadi tepat di depan mata.

“Kenapa semua berubah merah seperti nyala api?!”

.

.

Bersambung.

Langit merah : 03

“Kenapa semua berubah merah seperti nyala api?!” Dengan sendirinya Abeer mundur, perasaannya lebih dari sekadar terkejut, melainkan takut tidak dapat ditutupi.

Suhu naik drastis, tidak lagi dingin menggigit tulang, perlahan hangat seperti air suam-suam kuku, kabut tebal tadi tergantikan oleh warna merah layaknya malam hari.

Dari dalam jurang dimana mobil mereka terperosok, terdengar suara menggeram dilanjut lolongan membuat kuduk meremang.

“Apa itu?” Kanti berbisik, dia tidak mundur. Pelan-pelan maju penuh kewaspadaan, melangkah hati-hati demi memenuhi rasa penasarannya.

“Kanti!” Aji memperingati, menarik ujung lengan jaket gadis yang selalu memancing jiwa kelakiannya untuk melindungi.

Seolah tuli, dihempaskannya tangan Aji. Ia tetap maju. Meskipun detak jantung meningkat, Kanti memberanikan diri berdiri sampai hampir mencapai tepi jurang.

Napas Kanti terhenti, matanya membola, bak dihipnotis, ia berdiri kaku.

‘Lari, Kanti! Lari!’ suara hatinya menjerit. Akan tetapi kakinya sulit digerakkan sementara badan perlahan menggigil.

“Ibu ….” bibirnya bergetar memanggil nama wanita yang telah melahirkannya ke dunia.

Sosok tengah menggenggam tombak, mulai berdiri tegak, kepalanya mendongak langsung bertemu tatap dari jarak sepuluh meter. Tiba-tiba netra iris birunya berkilat, ia menyeringai keji – menghantarkan gelombang ketakutan pada gadis tidak berkedip.

“Candra Kanti!” Aji Sardi menarik topi jaket gadis yang sama sekali tidak bereaksi. Padahal suaranya hampir serak berulang kali menjerit memanggil namanya.

Barulah sepasang kaki Kanti dapat mundur, langkahnya terseok-seok.

“Apa yang lu lihat?!” tuntut Sambara.

“Lari! Kita harus pergi dari sini! Sekarang juga!” dia tidak bisa menjelaskan karena apa yang baru dilihatnya belum tentu nyata, tapi bola mata itu ….

Aji tidak lagi bertanya, berlari mengikuti langkah gadis yang kedua tangannya berayun.

“Tungguin!” Mayang menjerit, dia bukanlah perempuan rajin olahraga, sebab terbilang pencinta rebahan, shopping.

Ahwaya pun kesulitan sampai hampir terjungkal. Badannya masih lemas, wajah pucat.

Huhheuhh ....

Deru napas saling berlomba-lomba, keenam orang berstatus mahasiswa itu berlari mengikuti rute mobil, melewati jalanan tanah.

Langit bertambah pekat memancarkan warna kemerahan seperti kebakaran hutan belantara.

Bugh!

Akhhh …. “Kakiku! Tolong!”

Candra Kanti berhenti, menoleh ke belakang, lalu kembali berlari menghampiri temannya yang berjarak dua meter.

Mayang menjerit kesakitan, pergelangan kakinya berdenyut-denyut akibat terjungkal.

Sang kekasih menolongnya meskipun diiringi sumpah serapah.

“Jaga mulutmu!” Kanti tetap berpegang pada pedoman – dilarang berkata kasar, memaki bila ditempat asing terlebih dalam situasi aneh ini.

Abeer yang kelelahan, wajah bermandikan keringat, langsung tersulut emosi. Melangkah lebar menerjang Kanti, mendorong pundaknya sekuat tenaga, sampai si gadis terjungkal.

Kali ini Aji terlambat menolong, dia berdiri di posisi paling belakang, sengaja menjadi pengawal sebab tidak tega melihat para temannya mulai kelelahan.

Hisst.

Kanti mendesis, punggungnya terasa sakit, sesuatu di dalam tas menekan kala dia terjungkal.

“Sialan lu!” Aji Sardi menarik lengan yang tadi mendorong Kanti.

Abeer terhuyung, tidak siap mendapatkan serangan dadakan, pun gagal menghindar kala sebuah tinju menghantam rahangnya.

Akhh!

Kedua gadis dari kota berteriak, terlebih Mayang yang langsung menangis melihat kekasihnya tersungkur.

“Udah gua peringati jangan sekali-kali lu sakiti Candra Kanti!” Kedua tangannya mengepal, ia menahan diri untuk tidak kembali memukul.

“Semua ini gara-gara gadis aneh itu! Ngapain coba ngajak lari, padahal gak ada apa-apa di sana!” Abeer mengibas-ngibaskan tangan, meludah ke tanah. Sudut bibirnya terasa perih.

“Lu gak denger suara aneh tadi, hah?!” masih mencoba membela Kanti, walaupun tidak sempat melihat ke dasar jurang.

“Halla … bisa jadi cuma binatang. Bangke memang!” Abeer sudah berdiri.

“Coba lu pikir pakek otak bodoh mu itu! Binatang apa yang suaranya menggelegar macam tadi, hah?!”

“Lu juga gak kalah bego! Jurang itu pasti dalam banget, mana mungkin binatang bisa naik ke atas!” ia balas menghardik.

“Pasti akal-akalan Cupu _”

“Namanya Candra Kanti, bukan cupu!” Aji berniat mau menyerang lagi.

“Cukup!” Sambara menengahi, dia letih, lapar, sedangkan bekal makanan ringan raib ikut terjun ke jurang.

“Jelasin apa yang lu lihat dalam jurang tadi!” tanyanya sembari menatap gadis berdiri di tengah-tengah.

Kanti berusaha mencari kalimat tepat, mudah dicerna. “Aku lihat sekawan sosok seperti manusia, tapi berkepala Anjing atau Serigala, terus kakinya _”

“Pembohong! Kebanyakan omong lu! Mana mungkin ada hal begituan! Kita hidup dizaman modern, masih aja percaya takhayul!” Abeer memotong kalimat Candra Kanti.

“Lu bisa diem dulu gak?!” sulit sekali bagi Aji mengontrol emosi disaat seperti ini.

“Teruskan!” titah Sambara.

“Kakinya terbalik. Bagian jemari berada di belakang. Mereka gak cuma satu, ada banyak,” ia berusaha mengingat-ingat. “Terus ada sosok asing, aku gak sempat melihat jelas wajahnya, cuma bola mata biru seperti permukaan air laut _”

“Lu kebanyakan nonton film fantasi atau sihir sih, Kanti?! Mustahil ada makhluk seperti itu!” Sambara memandang kesal, capek-capek mendengarkan, malah dikasih kisah dongeng, menurutnya.

“Tau ni, Kanti! Gara-gara dia kakiku terkilir!” Mayang mengelus pergelangan kakinya yang mulai membengkak.

“Lu harus bertanggung jawab, Kanti! Seandainya lu gak ikut regu kita, sudah pasti musibah ini menjauh. Dasar pembawa sial, selalu ada hal aneh kalau ada lu,” Abeer mencibir.

“Harusnya aku yang menuntut pertanggungjawaban! Andai kamu gak ngotot berbelok arah, memilih rute lain. Saat ini kita sudah sampai di desa asli, bukan antah berantah berwarna kemerahan seperti ini! Semua bermula dari kamu, Abeer, dan kalian!” Jari telunjuknya menuding Sambara, Mayang, lalu Ahwaya yang duduk di atas tanah.

“Kalian pikir aku senang satu regu sama manusia minim akhlak, gak punya urat malu, mulut kasar? Gak! Kalau bisa milih, lebih baik gak ikutan KKN ini!” akhirnya Kanti meluapkan emosi dalam dada.

Dia tertekan, mencoba mengenyahkan apa yang disaksikan tadi, terlebih bola mata biru. Walaupun pencahayaan seperti nyala api, tetap bisa tertangkap oleh netranya.

“Kanti, apa yang kamu lihat tadi, nyata tidak? Atau ilusi muncul karena rasa takut, terlebih bumi yang kita pijak ini berwarna api?” Aji mengikis jarak, berdiri di depan gadis masih mengenakan topi hitam.

Candra Kanti terlihat kebingungan, mencoba tidak mempercayai, tapi tadi itu tampak benar-benar nyata. “Aji, kamu bisa lihat aku dan lainnya dengan jelas tidak?”

Aji pun menoleh ke arah keempat temannya, lalu kembali pada Kanti. “Ya, langit disini sungguh aneh. Tidak seperti malam gelap gulita yang buat kita sulit melihat.”

“Berarti tadi itu bukan delusi, kemungkinan besar nyata,” gumamnya.

Sesudahnya tersisa keheningan, setiap orang kembali dirambati rasa takut.

“Ada suara motor! Arahnya dari sana!” Kanti berbalik badan, menatap lurus pada jalanan seperti lorong panjang diapit pepohonan rindang.

“Kita harus apa? Pengendaranya manusia atau bukan?”

.

.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!