Indonesia
NovelToon NovelToon

Nusantara Pysco

Bab 1 - Pemandu Bayaran

# Bab 1 — Pemandu Bayaran

**POV: Reiki**

---

Hari itu panas. Bukan panas biasa—panas yang membuat aspal di depan sekolah terlihat seperti cermin cair, dan kipas angin di kelas hanya berfungsi sebagai pengaduk udara panas. Aku duduk di bangku paling belakang, dagu bertumpu di tangan, mata setengah terpejam. Pak Guru sedang menjelaskan sesuatu tentang rumus fisika di papan tulis. Atau mungkin matematika. Aku sudah tidak peduli sejak menit kelima.

Desa ini kecil. Terlalu kecil. Hanya ada satu SMA, satu pasar, satu balai desa, dan satu warung kopi yang buka sampai tengah malam. Kalau kau berjalan dari ujung desa ke ujung lainnya, kau hanya butuh waktu dua puluh menit. Aku sudah tinggal di sini selama beberapa bulan sejak paman memutuskan kami harus pindah dari kota. Alasannya? "Biar lebih tenang," katanya. Tapi aku tahu itu alasan. Paman selalu punya alasan yang terdengar masuk akal, tapi sebenarnya ia hanya mudah percaya pada rumor.

Lonceng istirahat berbunyi. Suara kursi digeser, tawa, dan langkah kaki memenuhi ruangan. Aku tetap duduk.

"Hei, Rei! Ikut ke kantin?" Ival muncul di sampingku, wajahnya sudah bersimbah keringat padahal kami belum melakukan apa-apa. Ival adalah tipe orang yang selalu bersemangat untuk hal-hal yang tidak penting. Ia bisa membuat lari keliling lapangan terasa seperti petualangan epik.

"Enggak, males."

"Kamu tuh males terus. Ayo lah, katanya hari ini ada gorengan baru."

Aku menggeleng. Ival mendengus, lalu pergi bergabung dengan teman-temannya. Dari jendela, aku bisa melihat lapangan sekolah yang kosong. Rumputnya kering di beberapa bagian. Pagar besi di sekelilingnya sudah berkarat. Di luar pagar, sawah terbentang hijau sampai ke kaki bukit. Pemandangan yang sama setiap hari.

Aku menghela napas. Hidup di desa ini seperti memutar ulang lagu yang sama setiap hari. Bangun, sekolah, pulang, makan, tidur. Tidak ada yang pernah berubah. Tidak ada yang pernah terjadi.

Sampai hari itu.

---

Aku tidak sengaja melihatnya dari jendela kelas. Seorang gadis berjalan melintasi halaman sekolah. Ia kecil—mungkin tingginya hanya sebahu anak SMA pada umumnya—tapi penampilannya membuat siapa pun akan menoleh dua kali. Rambut hitam panjang tergerai. Kacamata tipis di mata kanannya, bukan kiri, dengan bingkai perak yang memantulkan cahaya. Pakaiannya aneh: semacam mantel panjang berwarna krem dengan sabuk logam di pinggang, seperti sesuatu yang keluar dari film fiksi ilmiah.

Ia berhenti di tengah halaman, mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya, dan menekan beberapa tombol. Matanya—aku bisa melihatnya dari jarak ini—menyipit, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

"Eh, siapa tuh?" suara Niki dari sampingku membuatku tersadar. Niki—yang dijuluki Raja Nolep—jarang sekali memperhatikan apa pun selain ponselnya. Tapi sekarang ia menatap ke luar jendela dengan mata terbelalak.

"Gak tahu," jawabku. "Baru."

"Baru? Di desa ini? Yang baru cuma sapi milik Pak RT kemarin."

Aku tidak menjawab. Mataku masih tertuju pada gadis itu. Ia memasukkan perangkatnya ke saku, lalu menatap lurus ke arah gedung sekolah. Sejenak, aku bersumpah ia menatap tepat ke arahku. Tapi itu tidak mungkin. Jaraknya terlalu jauh.

Bel masuk berbunyi. Aku kembali ke kursiku, tapi pikiranku masih tertinggal di halaman.

---

Pulang sekolah, aku berjalan sendirian seperti biasa. Rumah pamanku hanya sekitar lima ratus meter dari sekolah, jadi aku tidak perlu naik angkutan umum. Jalan setapak di samping sawah adalah jalur favoritku. Sepi, teduh, dan tidak ada yang mengganggu.

Tapi hari ini, jalur itu tidak sepi.

Gadis itu berdiri di pinggir sawah, masih dengan mantel kremnya yang tidak cocok dengan cuaca panas. Ia sedang berbicara dengan seorang ibu-ibu yang sedang menjemur padi. Atau lebih tepatnya, ibu-ibu itu yang berbicara—gadis itu hanya mengangguk-angguk sambil mencatat sesuatu di buku kecil.

Aku memperlambat langkah, penasaran. Siapa orang ini? Dari mana asalnya? Dan kenapa ia terlihat seperti tersesat di waktu yang salah?

Gadis itu menutup bukunya, menunduk sopan pada ibu-ibu itu, lalu berbalik. Matanya bertemu dengan mataku.

"Kamu!"

Aku berhenti. "Saya?"

Ia berjalan mendekat dengan langkah cepat. Dari dekat, aku bisa melihat detail yang tidak terlihat dari jendela tadi: ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, seperti seseorang yang kurang tidur selama berminggu-minggu. Tapi matanya—biru terang, tajam, seperti sedang memindai seluruh tubuhku dalam hitungan detik.

"Kamu murid SMA sini?" tanyanya. Suaranya datar, tanpa basa-basi.

"Iya."

"Bagus. Aku butuh pemandu lokal. Kamu mau?"

Aku mengerjapkan mata. "Maaf, apa?"

"Aku butuh seseorang yang kenal daerah ini. Jalan-jalan, tempat-tempat tertentu, sejarah desa. Aku bayar." Ia mengeluarkan dompet kecil dari sakunya dan menunjukkan beberapa lembar uang. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran anak SMA desa.

Aku menatap uang itu, lalu menatap wajahnya. Ia tidak bercanda.

"Untuk apa?" tanyaku curiga.

"Penelitian."

"Penelitian apa?"

"Penelitian." Ia menekankan kata itu, seolah itu sudah cukup sebagai jawaban.

Aku diam sejenak. Pikiranku bekerja cepat. Orang asing misterius datang ke desa terpencil, menawari aku uang untuk menjadi pemandu, dan tidak mau menjelaskan tujuannya. Ini terdengar seperti awal dari cerita horor.

Tapi aku butuh uang. Paman memberiku uang jajan pas-pasan, dan ada game yang ingin kubeli.

"Berapa?" tanyaku akhirnya.

"Kita bicarakan nanti. Yang penting kamu mau."

Aku mengangguk pelan. "Oke. Tapi aku harus tahu nama kamu dulu."

Gadis itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak cukup hangat untuk disebut ramah, tapi tidak cukup dingin untuk disebut jahat. "Hime. Hime Hafitis. Kamu?"

"Reiki. Reiki Shield Eistein."

Untuk sesaat, sesuatu melintas di matanya. Seperti kilatan pengakuan yang cepat padam. Ia menatapku sedikit lebih lama dari yang diperlukan, lalu mengalihkan pandangan.

"Reiki," ulangnya, seperti sedang mencicipi kata itu. "Nama yang menarik."

"Keluargaku suka hal-hal yang berbau Einstein," jawabku setengah bercanda.

Hime tidak tertawa. Ia malah mengeluarkan perangkat kecil yang tadi ia gunakan di halaman sekolah, menekan beberapa tombol, lalu menyimpannya kembali. "Baik. Besok pagi. Aku tunggu di depan balai desa. Jangan terlambat."

Ia berbalik dan pergi sebelum sempat kujawab. Aku berdiri di pinggir sawah, menatap punggungnya yang menjauh, dengan perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan.

Ada sesuatu tentang gadis itu. Sesuatu yang familiar. Tapi aku tidak tahu apa.

---

Malam harinya, aku duduk di kamar, menatap langit-langit. Rumah pamanku kecil—hanya dua kamar, satu ruang tamu, dan dapur. Paman sedang di luar, mungkin di warung kopi seperti biasa. Sepi.

Aku memikirkan Hime. Penampilannya yang aneh. Caranya berbicara yang langsung dan tanpa basa-basi. Perangkat misterius yang ia bawa. Dan cara ia menatapku—seperti aku adalah sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya, tapi tidak bisa ia ingat.

Aku menggelengkan kepala. *Sudahlah\, mungkin aku terlalu banyak berpikir. Ini cuma pekerjaan sampingan. Dapat uang\, selesai.*

Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, ada firasat bahwa ini bukan sekadar pekerjaan sampingan. Bahwa pertemuanku dengan Hime Hafitis adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Aku tidak tahu seberapa benar firasat itu.

---

Pagi berikutnya, aku tiba di balai desa pukul tujuh. Hime sudah ada di sana, duduk di bangku taman sambil memegang secangkir kopi. Ia masih memakai mantel krem yang sama. Apa ia tidak punya baju lain?

"Tepat waktu," katanya tanpa menatapku. "Bagus."

"Aku selalu tepat waktu," jawabku. "Jadi, kita mau ke mana?"

Hime berdiri, mengambil ransel kecil di sampingnya, dan mulai berjalan. "Tunjukkan aku desa ini. Semua jalan, semua sudut, semua tempat yang menurutmu penting."

"Semua?"

"Semua."

Kami berjalan beriringan. Aku menunjuk ke berbagai tempat—sekolah, pasar, balai desa, masjid, lapangan, sawah-sawah di pinggiran. Hime mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat sesuatu di buku kecilnya. Kadang ia mengeluarkan perangkatnya dan menekan beberapa tombol, seperti sedang merekam sesuatu yang tidak bisa ditangkap mata biasa.

"Di sana apa?" tanyanya, menunjuk ke sebuah bukit di kejauhan.

"Itu Bukit Karang. Konon katanya dulu ada pertempuran di sana. Tapi sudah lama sekali. Sekarang cuma semak belukar."

"Pertempuran?"

"Aku tidak tahu detailnya. Hanya cerita dari kakek-kakek di desa."

Hime mengangguk, mencatat sesuatu. "Kita ke sana nanti."

"Ke bukit? Sekarang?"

"Nanti. Sekarang lanjut."

Aku mengangkat bahu. *Terserah lah. Yang penting dibayar.*

Kami terus berjalan. Hime jarang bicara, kecuali untuk bertanya arah atau menunjuk sesuatu. Tapi aku bisa merasakan matanya yang terus bergerak, seperti sedang memetakan setiap detail desa ini ke dalam pikirannya. Atau ke dalam perangkatnya.

Saat kami melewati sawah di pinggir desa, Hime tiba-tiba berhenti. Ia mengeluarkan perangkatnya, menekan tombol, dan diam beberapa saat. Wajahnya berubah serius.

"Ada apa?" tanyaku.

"Tidak ada." Ia memasukkan perangkatnya kembali. "Lanjut."

Tapi aku melihat tangannya gemetar sedikit saat menyimpan perangkat itu. Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu, aku melihat ekspresi di wajahnya yang tidak bisa ia sembunyikan: kebingungan.

---

Sore harinya, kami duduk di sebuah warung kopi dekat pasar. Hime memesan teh, aku memesan es jeruk. Kami duduk berhadapan dalam diam.

"Jadi," aku memulai, "penelitianmu tentang apa sebenarnya?"

Hime menatapku lama. "Tentang energi."

"Energi?"

"Energi yang tidak bisa dijelaskan oleh sains biasa. Sesuatu yang hanya muncul di tempat-tempat tertentu. Di waktu-waktu tertentu."

Aku mengerutkan dahi. "Seperti apa?"

"Seperti..." Hime berhenti, seolah mencari kata yang tepat. "Seperti gelombang yang tidak seharusnya ada. Seperti jejak kaki di pasir yang seharusnya tidak pernah diinjak."

"Kedengarannya seperti cerita hantu."

Hime tersenyum tipis. "Mungkin. Tapi hantu tidak perlu dicari selama bertahun-tahun."

Aku ingin bertanya lebih lanjut, tapi sesuatu dalam nada bicaranya membuatku berhenti. Ada kesedihan di sana. Kesedihan yang dalam dan tua, seperti luka yang tidak pernah sembuh.

Kami diam lagi. Es jerukku mulai mencair.

"Kau tahu," kata Hime tiba-tiba, "ada seseorang yang pernah kukenal. Ia juga punya nama yang mirip denganmu."

"Mirip?"

"Bukan nama. Tapi... getarannya." Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau mengingatkanku padanya."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. "Semoga itu bukan hal yang buruk."

Hime tertawa kecil. Tawa yang pahit. "Tidak. Bukan hal yang buruk. Hanya... rumit."

Ia meneguk tehnya, lalu berdiri. "Cukup untuk hari ini. Besok kita lanjut ke bukit."

"Aku dibayar kapan?"

Hime mengeluarkan amplop dari sakunya dan meletakkannya di meja. "Untuk hari ini. Besok bonus kalau kau tidak banyak bertanya."

Aku mengambil amplop itu. Isinya lebih dari cukup untuk seminggu. Aku mendesis pelan. "Oke. Besok aku datang."

Hime berbalik dan pergi. Aku duduk di warung, menatap amplop di tanganku, lalu menatap punggungnya yang menjauh.

*Siapa sebenarnya gadis ini?*

Dan kenapa, saat ia mengatakan bahwa aku mengingatkannya pada seseorang, ada bagian dari diriku yang merasa seperti ia sedang berbicara tentang diriku sendiri?

---

Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan percakapan tadi. Matahari mulai tenggelam di ujung sawah, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Aku berjalan perlahan, menikmati suasana yang biasanya tidak pernah aku hiraukan.

Sesampainya di rumah, paman sudah ada di ruang tamu. Ia sedang membaca koran sambil minum kopi—pemandangan yang sama setiap sore.

"Pulang?" tanyanya tanpa menatapku.

"Iya."

"Ada yang aneh? Wajahmu kusut."

Aku duduk di kursi seberangnya. "Paman, kenapa kita benar-benar pindah ke sini?"

Paman menurunkan korbannya. Matanya—yang biasanya sayu—tiba-tiba tajam. "Kenapa tanya begitu?"

"Tidak. Hanya penasaran."

Paman diam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Karena di kota, orang-orang mulai bertanya tentang dirimu, Rei."

"Tentang apa?"

"Tentapa kenapa kau berbeda."

Aku tersentak. "Berbeda?"

Paman tidak menjawab. Ia kembali membaca korbannya, memberi isyarat bahwa percakapan selesai. Aku tahu kebiasaannya—ia tidak akan bicara lagi kalau sudah seperti ini.

Aku naik ke kamar dengan perasaan tidak tenang. *Berbeda. Apa maksudnya?*

Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap telapak tanganku. Tanganku biasa saja. Tidak ada yang aneh. Tapi kenapa kata-kata paman terasa seperti peringatan?

Dan kenapa pertemuanku dengan Hime hari ini terasa seperti bagian dari sesuatu yang sudah lama menungguku?

Aku menghela napas panjang. Mungkin besok, saat aku kembali bertemu Hime, aku akan mendapatkan jawaban.

Atau mungkin aku hanya akan mendapat lebih banyak pertanyaan.

---

Aku berbaring di tempat tidur, tapi mata ini enggan terpejam. Langit-langit kamar yang retak-retak itu sudah terlalu sering aku pandangi. Tapi malam ini, rasanya berbeda. Ada semacam firasat yang menggelitik di ujung kesadaranku—bahwa mulai besok, hidupku tidak akan lagi seperti yang dulu.

Aku meraih ponselku, membuka galeri, dan melihat foto-foto lama. Foto bersama teman-teman di kota. Foto paman yang jarang tersenyum. Foto diriku sendiri yang tidak pernah berubah.

Lalu aku berhenti di satu foto yang tidak kuingat kapan mengambilnya. Sebuah foto buram—hanya siluet seseorang di bawah cahaya biru. Aku mengerutkan dahi. *Ini foto apa?* Aku tidak punya ingatan mengambilnya. Tanggal di metadata menunjukkan tiga tahun lalu\, tapi aku yakin tidak pernah melihat foto ini sebelumnya.

Aku ingin menghapusnya, tapi sesuatu menahanku. Sesuatu di dalam foto itu—siluet di bawah cahaya biru—terasa familiar. Sangat familiar.

*Sudahlah. Mungkin ini efek kurang tidur.*

Aku mematikan ponsel dan memejamkan mata. Tapi tidur tidak kunjung datang. Pikiranku terus berputar pada Hime, pada kata-kata pamanku, pada foto misterius itu, dan pada perasaan aneh bahwa semuanya terhubung dengan cara yang belum bisa kupahami.

Di luar, angin malam berdesir pelan. Dan dari kejauhan, samar-samar, aku mendengar suara seperti deru mesin—tapi terlalu halus untuk menjadi pesawat biasa.

Atau mungkin itu hanya imajinasiku.

Mungkin.

---

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku duduk di tepi jendela kamar, menatap langit malam yang penuh bintang. Desa ini memang gelap—tidak ada polusi cahaya—jadi bintang-bintang terlihat jelas. Tapi pikiranku tidak ada di bintang.

Pikiranku ada pada Hime. Pada perangkat misteriusnya. Pada kata-katanya tentang energi dan jejak kaki di pasir. Dan pada caranya menatapku—seperti aku adalah teka-teki yang sedang ia pecahkan.

Aku menghela napas. *Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Mungkin ini cuma pekerjaan sampingan. Dapat uang\, selesai.*

Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu itu tidak sesederhana itu.

Ada sesuatu tentang Hime Hafitis. Sesuatu yang familiar. Sesuatu yang membuatku merasa bahwa pertemuan ini bukanlah kebetulan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bahwa desa kecil yang membosankan ini mungkin menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang pernah kubayangkan.

---

**— Bersambung —**

Bab 2 - Badai yang Tidak Biasa

# Bab 2 — Badai yang Tidak Biasa

**POV: Reiki**

---

Pagi itu langit cerah. Cerah sekali—tanpa awan, tanpa angin, tanpa tanda-tanda bahwa sesuatu yang aneh akan terjadi. Aku berdiri di depan balai desa seperti yang dijanjikan, dan Hime sudah menungguku dengan mantel kremnya yang khas. Hari kedua sebagai pemandu bayaran.

"Kau bawa bekal?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Tidak."

"Kita akan keliling sampai sore. Makan nanti di perjalanan."

Aku mengangguk. Hime mulai berjalan tanpa menunggu jawabanku, dan aku mengikutinya seperti anak domba yang patuh. Ada sesuatu tentang caranya bergerak—terburu-buru tapi terukur, seperti seseorang yang tahu persis apa yang ia cari, meskipun ia tidak ingin memberitahumu apa itu.

Kami mulai dari pinggir desa. Hime mengeluarkan perangkatnya—sebuah kotak kecil berwarna perak dengan layar tipis di atasnya—dan mulai memindai area. Setiap beberapa langkah, ia berhenti, menekan tombol, mencatat sesuatu, lalu melanjutkan perjalanan. Aku hanya mengikuti, sesekali menjawab pertanyaan tentang nama tempat atau sejarah jalan setapak.

"Apa yang sebenarnya kau cari?" tanyaku setelah satu jam berjalan tanpa tujuan yang jelas.

Hime tidak menoleh. "Anomali."

"Anomali seperti apa?"

"Seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di tempat ini."

"Kedengarannya seperti harta karun."

Hime berhenti. Ia menatapku dengan ekspresi datar. "Bukan harta karun. Lebih seperti... lubang di kain. Sesuatu yang bocor dari tempat lain."

Aku mengerutkan dahi. "Bocor?"

"Kau tidak perlu mengerti." Ia melanjutkan perjalanan.

Aku mendengus pelan. *Orang ini benar-benar sulit diajak bicara.*

---

Siang hari, kami sampai di area persawahan di pinggir timur desa. Hime berhenti di dekat sebuah pohon beringin besar yang berdiri sendirian di tengah sawah. Ia menatap pohon itu lama, lalu mengeluarkan perangkatnya.

"Di sini ada sesuatu," gumamnya.

"Apa? Pohon?"

"Bukan pohonnya. Tanah di sekitarnya." Ia menunjuk ke area di bawah pohon. "Ada jejak energi di sini. Tua. Sangat tua."

Aku mendekat, mencoba melihat apa yang ia lihat. Tapi yang kulihat hanya tanah biasa, rumput liar, dan akar pohon yang menjalar. "Aku tidak melihat apa-apa."

"Kau tidak akan melihatnya dengan mata telanjang." Hime menekan beberapa tombol di perangkatnya. Layarnya berkedip, menampilkan grafik yang tidak bisa aku baca. "Ini menarik. Polanya mirip dengan..."

Ia berhenti. Wajahnya berubah.

"Mirip dengan apa?"

Hime menatapku. Untuk sesaat, ada sesuatu di matanya—keraguan, mungkin ketakutan. Lalu ia menggeleng. "Tidak penting. Ayo lanjut."

"Kau bilang itu menarik, lalu kau berhenti. Jelas itu penting."

"Reiki." Suaranya tegas. "Aku yang bayar kau untuk memandu, bukan untuk bertanya. Ingat itu."

Aku mengangkat kedua tangan. "Baik, baik. Terserah kau."

Tapi dalam hati\, aku mencatatnya. *Pohon beringin di sawah timur. Jejak energi tua. Pola yang familiar.* Mungkin nanti aku bisa mencari tahu sendiri.

---

Sore harinya, langit mulai berubah. Awan gelap berkumpul dari arah laut, bergerak lebih cepat dari yang seharusnya. Aku menatapnya dengan curiga.

"Sepertinya mau hujan," kataku.

Hime menoleh ke langit, lalu kembali ke perangkatnya. "Tidak. Tidak ada prediksi hujan hari ini."

"Lihat sendiri. Awan hitam di sana."

Hime mendongak lagi. Alisnya berkerut. Ia mengeluarkan perangkatnya dan menekan beberapa tombol. Layarnya berkedip merah.

"Ini... tidak mungkin."

"Apa?"

"Tidak ada sistem cuaca yang memprediksi ini. Awan ini muncul begitu saja." Ia menatap langit dengan ekspresi serius. "Ini bukan badai biasa."

Angin mulai bertiup lebih kencang. Daun-daun beterbangan. Aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku—seperti tekanan yang tumbuh perlahan. Aku mengabaikannya.

"Kita harus berteduh," kataku.

Hime menggeleng. "Tidak. Kita harus tetap di sini."

"Kau gila? Badai mau datang!"

"Aku perlu merekam ini." Ia sudah sibuk dengan perangkatnya, matanya tidak berkedip. "Ini yang aku cari. Anomali."

"Aku tidak peduli apa yang kau cari. Kalau petir menyambar, kita mati!"

Tapi Hime tidak mendengarkan. Ia terus menekan tombol, merekam data, sementara angin semakin kencang dan awan semakin gelap. Aku berdiri di sampingnya, merasa bodoh karena tidak pergi begitu saja.

Lalu aku merasakannya.

Sesuatu di dalam tubuhku. Seperti getaran listrik yang menjalar dari ujung jari ke dadaku. Aku menunduk, melihat tanganku—dan untuk sesaat, aku bersumpah melihat percikan kecil di ujung jariku.

*Apa ini?*

"Reiki?" Suara Hime terdengar jauh.

Aku ingin menjawab, tapi tubuhku tidak mau bergerak. Getaran itu semakin kuat, seperti ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam diriku. Aku merasa panas. Dan dingin. Pada saat yang sama.

"Reiki!" Hime mengguncang bahuku. Wajahnya—biasanya datar—kini penuh kekhawatiran. "Kau dengar aku?"

"Aku..." Suaraku serak. "Ada sesuatu yang salah."

---

Petir menyambar di kejauhan. Tapi bukan itu yang membuatku tersentak—melainkan apa yang terjadi setelahnya. Listrik di seluruh desa padam. Lampu-lampu di rumah-rumah penduduk mati satu per satu\, seperti domino yang jatuh. Dan aku bisa *merasakannya*. Aku bisa merasakan energi listrik yang mengalir di kabel-kabel bawah tanah\, yang padam\, yang mati.

Dan tubuhku—tubuhku ingin menyerapnya.

Aku tidak tahu bagaimana aku tahu itu. Tapi aku tahu. Seperti insting yang tidak pernah aku sadari sebelumnya.

"Reiki, tatap aku." Hime memegang wajahku, memaksaku menatap matanya. Matanya biru, tajam, dan penuh sesuatu yang tidak bisa aku artikan. "Katakan apa yang kau rasakan."

"Aku... aku ingin..." Aku mencari kata yang tepat. "Menyerap."

"Menyerap apa?"

"Listrik. Energi. Aku tidak tahu." Aku gemetar. "Ada sesuatu di dalam diriku yang ingin keluar."

Hime melepaskan wajahku. Ia mundur selangkah, menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Lalu ia melihat ke arah tiang listrik di dekat kami—tiang beton yang menjulang dengan kabel melintang di atasnya.

"Ke sana," katanya.

"Apa?"

"Ke tiang listrik itu. Sekarang."

"Kau gila? Itu tiang listrik!"

"Kau bilang kau ingin menyerap. Mungkin itu jawabannya." Suaranya tenang, tapi ada nada mendesak di dalamnya. "Cepat. Sebelum badai ini benar-benar datang."

Aku menatap tiang listrik itu. Tingginya sekitar sepuluh meter, beton, dengan kabel-kabel yang menjuntai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku menyentuhnya. Tapi tubuhku bergerak sendiri.

Aku berjalan mendekat. Setiap langkah terasa berat, seperti melawan arus. Getaran di dadaku semakin kuat. Tanganku terangkat—tanpa aku perintahkan—dan menyentuh permukaan beton tiang itu.

Saat kulitku menyentuh beton, dunia berhenti.

Lalu ledakan.

Bukan ledakan fisik\, tapi ledakan di dalam kepalaku. Ribuan suara\, ribuan gelombang\, ribuan aliran energi membanjiri pikiranku. Aku bisa merasakan listrik yang mengalir di kabel-kabel di seluruh desa. Aku bisa merasakan lampu-lampu yang padam\, perangkat-perangkat yang mati\, dan—anehnya—aku bisa merasakan *kehidupan*. Detak jantung orang-orang di rumah mereka. Napas hewan-hewan di kandang. Semua terhubung oleh energi yang sama.

Dan aku menyerapnya.

Perlahan. Seperti air yang meresap ke dalam tanah kering. Energi listrik mengalir dari tiang ke tanganku, ke lenganku, ke dadaku. Rasanya hangat. Menenangkan. Dan menakutkan.

"Reiki!" Suara Hime terdengar dari jauh. "Cukup! Lepaskan!"

Tapi aku tidak bisa. Tubuhku tidak mau melepaskan. Energi itu terus mengalir, semakin cepat, semakin deras. Aku merasa diriku berubah—rambutku berdiri, kulitku terasa panas, dan ada cahaya biru di sudut mataku.

"Reiki!"

Seseorang menarikku. Tubuhku terlepas dari tiang listrik, dan aku jatuh ke tanah. Napasku tersengal-sengal. Tubuhku gemetar. Dan ketika aku membuka mata, aku melihat Hime di atasku, wajahnya pucat.

"Kau gila," bisiknya. "Kau benar-benar gila."

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya berbaring di tanah, menatap langit yang gelap, merasakan energi asing yang kini mengalir di dalam diriku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku\, aku merasa *hidup*.

---

Hime membantuku berdiri. Tanganku masih gemetar. Di sekeliling kami, desa gelap gulita. Tidak ada lampu, tidak ada suara televisi atau radio. Hanya suara angin dan gemuruh petir di kejauhan.

"Kau bisa berjalan?" tanya Hime.

Aku mengangguk, meskipun kakiku terasa seperti agar-agar.

"Kita harus pergi dari sini. Sebelum ada yang melihatmu."

"Lihat apa?" Suaraku serak.

Hime menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Itu."

Ia mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan kamera depan, dan menunjukkan layarnya padaku.

Aku melihat bayanganku sendiri. Rambutku—yang biasanya hitam—kini berdiri tegak seperti tersengat listrik. Dan mataku... mataku bersinar biru terang di tengah gelap.

Aku tersentak, mundur selangkah. "Apa... apa yang terjadi padaku?"

"Aku tidak tahu." Hime menyimpan ponselnya. "Tapi kita akan mencari tahu. Sekarang ikut aku."

Ia meraih tanganku dan menarikku berjalan. Tangannya hangat—kontras dengan tubuhku yang masih terasa dingin. Aku mengikutinya tanpa perlawanan, karena aku tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan.

---

Kami berjalan dalam diam. Hime membawaku melewati jalan-jalan belakang, menghindari rumah-rumah penduduk. Sesekali ia berhenti, mengeluarkan perangkatnya, memeriksa sesuatu, lalu melanjutkan perjalanan. Aku hanya mengikuti, pikiranku masih kacau.

*Cahaya biru. Rambut berdiri. Menyerap listrik.*

Apa aku sedang bermimpi? Atau ini nyata?

Kami sampai di sebuah gudang tua di pinggir desa—bangunan kayu yang sudah tidak terpakai, atapnya bocor di beberapa bagian. Hime membuka pintu dengan dorongan keras, lalu menuntunku masuk.

"Duduk," perintahnya.

Aku duduk di lantai kayu yang berdebu. Hime duduk di depanku, mengeluarkan perangkatnya, dan mulai memindai tubuhku. Layar perangkat itu menampilkan grafik-grafik yang tidak bisa aku baca—garis-garis berwarna yang naik turun seperti detak jantung.

"Kau psikis," katanya akhirnya.

"Apa?"

"Psikis. Manusia dengan kemampuan pikiran di atas normal." Ia menatapku serius. "Kau tidak tahu?"

Aku menggeleng. "Aku tidak tahu apa-apa. Aku pikir aku anak SMA biasa."

Hime menghela napas panjang. Ia menyimpan perangkatnya, lalu menatapku dengan tatapan yang—untuk pertama kalinya—tidak dingin. Ada kelelahan di sana. Dan sesuatu yang mirip dengan... iba?

"Kau tidak biasa, Reiki. Dan kau tidak akan pernah bisa hidup biasa setelah hari ini."

Aku menelan ludah. "Apa maksudmu?"

"Kemampuanmu baru saja bangkit. Dan dari apa yang kulihat, itu bukan kemampuan level rendah." Ia berhenti, seolah mempertimbangkan kata-katanya. "Kau bisa menyerap energi listrik. Mungkin lebih dari itu. Dan itu akan menarik perhatian."

"Perhatian siapa?"

Hime tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang membuatku merasa bahwa jawabannya adalah sesuatu yang tidak ingin kudengar.

---

Malam itu, aku tidak pulang ke rumah. Hime menyuruhku tinggal di gudang sampai kondisiku stabil. Aku duduk di sudut ruangan, memeluk lutut, menatap tanganku yang masih sesekali berkedip dengan percikan biru kecil.

*Psikis.*

Kata itu bergema di kepalaku. Aku pernah mendengarnya—dari film\, dari buku\, dari cerita-cerita aneh di internet. Tapi tidak pernah terbayang bahwa itu nyata. Bahwa *aku* adalah salah satunya.

Hime duduk di seberang ruangan, sibuk dengan perangkatnya. Sesekali ia menatapku, lalu kembali ke layarnya. Seperti sedang mengawasi sesuatu yang berbahaya.

"Hei," panggilku.

Ia mendongak.

"Kau tahu apa yang terjadi padaku, kan? Kau sudah tahu sejak awal."

Hime diam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku curiga. Tapi tidak yakin."

"Curiga sejak kapan?"

"Sejak pertama kali aku melihatmu." Ia menatapku dengan tatapan yang tajam. "Ada sesuatu yang berbeda darimu, Reiki. Aura yang tidak biasa. Tapi aku pikir itu hanya imajinasiku."

"Dan sekarang?"

Hime tersenyum tipis. Senyum yang pahit. "Sekarang aku tahu itu bukan imajinasi."

Aku ingin bertanya lebih banyak. Tapi tubuhku tiba-tiba terasa sangat lelah. Energi yang kuserap tadi—atau mungkin proses penyerapannya—membuatku kehabisan tenaga. Mataku terasa berat.

"Istirahatlah," kata Hime. "Besok akan panjang."

Aku berbaring di lantai kayu yang keras, menggunakan tas sebagai bantal. Mataku terpejam. Tapi tidur tidak datang dengan mudah.

Pikiranku masih berputar pada apa yang terjadi hari ini. Pada cahaya biru di mataku. Pada energi yang mengalir di dalam diriku. Pada kata-kata Hime: *Kau tidak akan pernah bisa hidup biasa setelah hari ini.*

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa hidupku—yang dulu terasa membosankan dan monoton—mungkin tidak akan pernah sama lagi.

---

Aku terbangun beberapa jam kemudian. Gudang masih gelap. Hime duduk di sudut, perangkat peraknya menyala, memantulkan cahaya redup ke wajahnya. Ia sedang menekan tombol dengan cepat, seperti mengetik sesuatu yang panjang.

"Kau masih di sini?" tanyaku, suaraku serak.

Ia menatapku sekilas. "Kemana lagi aku mau pergi?"

"Pulang. Tidur di losmen."

"Tidak bisa. Aku harus memastikan kau tidak pingsan lagi."

Aku duduk, mengusap wajahku. Tubuhku masih terasa aneh—ringan, tapi juga penuh. Seperti ada sesuatu yang mengalir di bawah kulitku.

"Hei, Hime."

"Apa?"

"Apa yang terjadi padaku... apakah ini permanen?"

Hime meletakkan perangkatnya. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kemampuan psikis tidak hilang, Reiki. Mereka hanya tidur. Dan sekarang kemampuanmu sudah bangun."

"Jadi aku akan seperti ini selamanya?"

"Kau akan belajar mengendalikannya. Atau kau akan dikendalikan olehnya."

Aku menelan ludah. "Pilihan yang menyenangkan."

Hime tersenyum tipis. "Selamat datang di dunia psikis."

Aku menatap tanganku sendiri. Masih normal—tidak bercahaya, tidak ada percikan listrik. Tapi aku bisa merasakan sesuatu di dalam. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada.

"Hei, Hime."

"Apa lagi?"

"Terima kasih."

Ia menatapku, sedikit terkejut. Lalu ia tersenyum—untuk pertama kalinya, senyum yang tulus. "Sama-sama."

Kami diam lagi. Tapi kali ini, keheningan terasa lebih hangat.

Di luar, badai mulai reda. Awan gelap perlahan bergerak pergi, meninggalkan langit yang bersih. Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat bintang.

---

Pagi harinya, aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Tubuhku masih pegal, tapi pikiranku terasa lebih jernih. Aku bisa mendengar suara-suara dari luar—burung berkicau, ayam berkokok, dan suara mesin diesel yang menyala. Listrik mulai pulih.

Hime sudah bangun. Ia duduk di ambang pintu gudang, memegang secangkir kopi yang pasti ia beli dari suatu tempat.

"Selamat pagi," sapaku.

Ia menoleh. "Sudah bangun? Kupikir kau akan tidur sampai siang."

"Biasanya iya. Tapi hari ini berbeda."

"Karena kau baru tahu kalau kau bukan manusia biasa?"

Aku tersenyum getir. "Kedengarannya aneh kalau diucapkan."

"Memang aneh. Tapi kau akan terbiasa."

Aku duduk di sampingnya. Dari sini, aku bisa melihat desa yang mulai hidup kembali. Ibu-ibu menjemur pakaian. Anak-anak berlarian ke sekolah. Pedagang keliling mulai berteriak menjajakan dagangannya.

Kehidupan normal. Yang tidak akan pernah bisa kukembalikan.

"Hime."

"Hm?"

"Kenapa kau membantuku?"

Ia menyesap kopinya. "Karena kau butuh bantuan."

"Tapi kau tidak kenal aku. Aku bisa saja berbahaya."

"Kau tidak berbahaya."

"Kau tidak tahu itu."

Hime menatapku. Matanya—biru terang itu—menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak nyaman. "Aku tahu," katanya. "Percayalah. Aku tahu."

Ada keyakinan dalam suaranya yang membuatku tidak bisa membantah.

"Sekarang," ia berdiri dan menepuk debu dari mantelnya, "kau harus pulang. Pamammu pasti khawatir."

"Aku akan bilang aku menginap di rumah teman."

"Bohong yang bagus. Tapi lain kali, beri tahu aku kalau kau mau berbohong. Biar aku bisa menyesuaikan."

Aku tertawa kecil. Untuk pertama kalinya dalam 24 jam terakhir, aku tertawa.

---

Aku berjalan pulang melewati sawah. Matahari pagi menyinari padi yang mulai menguning. Udara segar. Burung-burung beterbangan.

Dunia masih sama. Tapi aku tidak.

Aku berhenti di tengah jembatan kecil yang melintasi sungai. Aku menatap bayanganku di air. Masih wajah yang sama. Masih rambut yang sama. Tapi di dalam... ada sesuatu yang berubah.

Aku mengangkat tanganku, menghadapkan telapak tanganku ke atas. Aku berkonsentrasi, mencoba merasakan energi di sekitarku.

Dan aku merasakannya.

Getaran halus di udara. Aliran listrik di kabel-kabel bawah tanah. Bahkan energi panas dari matahari yang menyinari kulitku.

Semuanya terhubung. Dan aku bisa merasakannya.

Aku menurunkan tanganku. Napasku sedikit tersengal. Tapi ada perasaan aneh di dadaku—perasaan bahwa ini baru permulaan.

Di luar, badai masih bergemuruh. Tapi di dalam diriku, ada sesuatu yang baru saja lahir.

Sesuatu yang menunggu untuk dilepaskan.

---

**— Bersambung —**

Bab 3 - Saksi Pertama

# Bab 3 — Saksi Pertama

**POV: KSAN**

---

Namaku KSAN. Bukan nama asli—itu singkatan dari Ketua Siswa Nakal, julukan yang kuberikan pada diriku sendiri sejak kelas satu SMA. Di sekolah, aku adalah raja dari semua siswa yang suka bolos, bikin onar, dan bikin guru pusing. Tapi di luar sekolah? Aku hanya anak seorang pejabat desa yang punya terlalu banyak waktu luang.

Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa. Rencanaku sederhana: bikin pengalihan, kabur dari jam pelajaran olahraga, dan nongkrong di warung kopi sampai pulang sekolah. Anggota kelompokku sudah siap. Anak-anak SMP sudah kusuruh berpura-pura jatuh dari tangga. Semua berjalan sesuai rencana.

Sampai aku melihatnya.

Aku sedang berjalan menuju gerbang belakang—tempat favorit untuk kabur—ketika sesuatu menarik perhatianku. Di dekat tiang listrik di pinggir lapangan, ada dua orang. Satu adalah gadis kecil dengan mantel krem yang aneh. Yang satunya... Reiki. Anak pindahan yang baru beberapa bulan lalu masuk sekolah kami.

Aku berhenti. Bukan karena aku peduli dengan Reiki—aku tidak peduli sama sekali. Tapi ada sesuatu yang aneh dengan cara mereka berdiri. Gadis itu memegang perangkat kecil, seperti sedang merekam sesuatu. Dan Reiki... Reiki memegang tiang listrik.

*Apa yang dilakukan anak bodoh itu?*

Lalu listrik padam.

Bukan hanya di sekolah—seluruh desa gelap dalam sekejap. Lampu-lampu mati, kipas angin berhenti berputar, dan dari kejauhan aku mendengar teriakan-teriakan bingung. Aku berdiri di tempat, mencerna apa yang baru saja terjadi.

Dan kemudian aku melihatnya.

Cahaya biru.

Cahaya itu berasal dari Reiki. Tubuhnya—aku bersumpah—tubuhnya bercahaya biru terang. Rambutnya berdiri tegak seperti tersengat listrik. Matanya... matanya bersinar seperti dua bola lampu neon.

Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa menatap.

Gadis di sampingnya—gadis mantel krem—berteriak sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengar apa. Dunia terasa seperti berjalan dalam gerak lambat. Reiki melepaskan tiang listrik dan jatuh ke tanah. Gadis itu menangkapnya.

Dan untuk sesaat, mata Reiki—yang masih bercahaya biru—menatap tepat ke arahku.

*Dia melihatku.*

Aku berlari.

---

Aku tidak tahu ke mana aku berlari. Yang aku tahu, kakiku bergerak secepat mungkin, membawaku menjauh dari tempat itu. Jantungku berdebar kencang. Pikiranku kacau.

*Cahaya biru. Rambut berdiri. Matanya menyala.*

Apa yang baru saja kulihat? Apa Reiki itu manusia? Atau sesuatu yang lain?

Aku berhenti di depan balai desa, napasku tersengal-sengal. Ayahku bekerja di sini—ia adalah kepala administrasi desa. Jika ada yang tahu apa yang terjadi, mungkin ia bisa membantu.

Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Ayahku sedang duduk di meja kerjanya, berbicara di telepon. Ia menatapku dengan heran.

"Ada apa? Wajahmu pucat."

"Yah... aku... aku melihat sesuatu."

"Apa?"

Aku membuka mulut, tapi kata-kata tidak keluar. Bagaimana aku menjelaskan bahwa aku melihat seorang anak SMA bercahaya biru? Ayahku akan mengira aku gila.

"Tidak... tidak apa-apa. Aku hanya... pusing."

Ayahku menatapku curiga, tapi tidak mendesak. Ia kembali ke teleponnya. Aku duduk di kursi tunggu, mencoba menenangkan diri.

Tapi pikiranku tidak bisa tenang.

---

Beberapa jam kemudian, desa masih gelap. Listrik belum menyala. Aku duduk di teras balai desa, menatap langit yang mulai gelap. Badai sudah reda, tapi meninggalkan suasana yang tidak nyaman.

Aku masih memikirkan Reiki. Anak pindahan yang pendiam itu. Yang tidak pernah menonjol di kelas. Yang selalu duduk di bangku belakang dengan headphone di telinganya.

*Apa dia menyembunyikan sesuatu? Atau dia sendiri tidak tahu?*

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Lalu aku melihatnya lagi.

Reiki berjalan di pinggir jalan, sendirian. Langkahnya gontai, seperti kelelahan. Rambutnya sudah normal kembali—tidak berdiri lagi. Tapi aku tahu apa yang kulihat tadi. Itu bukan halusinasi.

Aku berdiri, berniat mendekatinya. Tapi seseorang mendahului aku.

Gadis mantel krem itu muncul dari bayangan, menghampiri Reiki. Mereka berbicara sebentar—terlalu pelan untuk kudengar—lalu berjalan bersama menuju arah gudang tua di pinggir desa.

Aku mengikuti mereka dari jarak aman.

---

Gudang itu sudah tidak terpakai selama bertahun-tahun. Atapnya bocor, pintunya miring, dan baunya apek. Tapi malam ini, ada cahaya samar dari celah-celah dindingnya.

Aku merangkak mendekat, bersembunyi di balik semak-semak. Dari celah dinding kayu, aku bisa melihat ke dalam.

Reiki duduk di lantai, memeluk lutut. Gadis itu—Hime, aku mendengar Reiki memanggilnya—duduk di depannya dengan perangkat perak di tangannya.

"Kau psikis," kata Hime. "Kau tidak tahu?"

Psikis? Aku mengerutkan dahi. Apa itu psikis?

"Aku tidak tahu apa-apa," jawab Reiki. Suaranya terdengar lemah. "Aku pikir aku anak SMA biasa."

Hime menghela napas. "Kau tidak biasa, Reiki. Dan kau tidak akan pernah bisa hidup biasa setelah hari ini."

Aku menahan napas. Percakapan ini... ini bukan percakapan biasa. Ini seperti sesuatu dari film fiksi ilmiah.

"Kemampuanmu baru saja bangkit," lanjut Hime. "Dan dari apa yang kulihat, itu bukan kemampuan level rendah. Kau bisa menyerap energi listrik. Mungkin lebih dari itu. Dan itu akan menarik perhatian."

"Perhatian siapa?"

Hime diam. Terlalu lama.

"Ada organisasi," katanya akhirnya. "Mereka mengawasi orang-orang seperti kau. Dan mereka tidak akan diam jika tahu ada psikis level tinggi di desa terpencil seperti ini."

Aku menelan ludah. Organisasi? Psikis level tinggi? Apa yang sedang aku dengar?

"Organisasi apa?" tanya Reiki.

"Penjaga Gerbang," jawab Hime pelan. "Tapi itu cerita untuk lain kali. Sekarang kau harus istirahat."

Aku mundur perlahan dari semak-semak. Cukup sudah yang kudengar. Aku perlu waktu untuk mencerna semua ini.

*Reiki adalah psikis. Hime tahu tentang dia. Dan ada organisasi bernama Penjaga Gerbang yang mengawasi mereka.*

Dunia yang selama ini aku kenal tiba-tiba terasa lebih kecil. Dan lebih menakutkan.

---

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku duduk di kamarku, menatap langit-langit, memikirkan apa yang harus aku lakukan.

Aku bisa melaporkan ini pada ayahku. Tapi apa yang akan kukatakan? *"Yah\, aku melihat anak SMA bercahaya biru dan ternyata dia psikis dan ada organisasi rahasia yang mengawasinya."* Ayahku akan mengirimku ke psikiater.

Atau aku bisa diam. Berpura-pura tidak melihat apa-apa. Kembali ke hidup normal sebagai Ketua Siswa Nakal.

Tapi sesuatu dalam diriku berkata bahwa aku tidak bisa berpaling. Bahwa apa yang kulihat hari ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Dan entah kenapa, aku merasa terlibat—meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya.

Aku mengambil ponselku, membuka kontak, dan mengetik pesan singkat ke nomor yang tidak kukenal:

*"Aku tahu tentang Reiki. Aku ingin bicara."*

Aku tidak tahu apakah pesan itu akan sampai ke Hime. Tapi aku harus mencoba.

Karena jika ada satu hal yang aku pelajari sebagai Ketua Siswa Nakal, itu adalah: lebih baik berada di sisi orang yang tahu apa yang terjadi, daripada menjadi korban dari apa yang tidak kau mengerti.

---

Pagi berikutnya, aku bangun dengan tekad baru. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di desa ini. Dan aku akan mulai dengan Reiki.

Tapi ketika aku sampai di sekolah, Reiki tidak ada. Mejanya kosong. Tempat duduknya di bangku belakang tidak terisi.

"Hei, Ival," aku menghampiri Ival yang sedang mengobrol dengan Niki. "Reiki mana?"

Ival mengangkat bahu. "Gak tahu. Katanya sakit."

Sakit. Tentu. Alasan yang mudah.

Aku berbalik dan berjalan keluar kelas. Guru memanggilku, tapi aku tidak peduli. Aku harus menemukan Reiki.

Dan aku harus menemukan Hime.

---

Aku menemukan mereka di gudang tua yang sama. Pintunya terbuka sedikit. Aku mendorongnya pelan dan masuk.

Reiki sedang duduk di lantai, minum air dari botol. Hime berdiri di dekat jendela, memegang perangkat peraknya. Mereka berdua menatapku ketika aku masuk.

"Kau," kata Hime. Matanya menyipit. "Aku melihatmu kemarin. Di dekat tiang listrik."

Aku mengangguk. "Aku melihat semuanya."

"Dan kau datang ke sini... kenapa?"

Aku menarik napas dalam-dalam. "Karena aku ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini. Siapa kalian. Dan apa itu psikis."

Hime menatapku lama. Lalu ia menoleh ke Reiki, yang hanya mengangkat bahu.

"Aku tidak punya waktu untuk mengurus anak SMA yang penasaran," kata Hime dingin.

"Kau butuh bantuan," jawabku. "Aku kenal desa ini. Aku kenal semua orang. Dan aku punya akses ke balai desa—ayahku bekerja di sana. Kalau ada yang bisa membantu kalian, itu aku."

Hime diam. Aku bisa melihatnya berpikir, menimbang-nimbang.

"Kenapa kau mau membantu?" tanyanya akhirnya.

Aku menatap Reiki. Anak itu—yang kemarin bercahaya biru—kini hanya duduk diam, menatapku dengan mata lelah.

"Karena aku tidak suka berada dalam kegelapan," jawabku. "Dan karena aku rasa, apa yang terjadi di desa ini akan mempengaruhi kita semua. Aku lebih baik berada di sisi yang tahu, daripada menjadi korban."

Hime tersenyum tipis. Senyum yang sulit diartikan.

"Kau lebih pintar dari yang kukira, Ketua Siswa Nakal."

Aku tersentak. "Kau tahu julukanku?"

"Aku tahu banyak hal tentang desa ini. Termasuk siapa yang berpengaruh di sekolah." Ia menyimpan perangkatnya. "Baik. Kau boleh membantu. Tapi ada satu aturan: kau tidak boleh bertanya tentang masa laluku."

Aku mengangguk. "Setuju."

Dan dengan itu, aku resmi menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari yang pernah kubayangkan.

---

Hari-hari berikutnya berjalan dengan cepat. Aku mulai sering mengunjungi gudang tua itu, membawa makanan, air, dan informasi tentang desa. Hime dan Reiki menjadi... teman? Mungkin bukan kata yang tepat. Tapi setidaknya, kami bukan lagi orang asing.

Aku belajar banyak tentang dunia psikis dari Hime. Tentang hierarki mereka—dari Psikis Biasa hingga Raja Dewa Psikis yang legendaris. Tentang Markas Psikis Pusat yang mengatur mereka. Tentang Penjaga Gerbang, organisasi misterius yang menjaga keseimbangan antar-dimensi.

Dan aku belajar tentang Reiki.

Anak itu tidak tahu apa-apa tentang dirinya sendiri. Ia tidak tahu kenapa ia bisa menyerap energi. Ia tidak tahu kenapa matanya bercahaya biru. Ia hanya anak SMA yang kebetulan punya kekuatan aneh.

Tapi Hime tahu sesuatu. Aku bisa melihatnya dari caranya menatap Reiki—seperti ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

"Kau yakin dia tidak tahu?" tanyaku suatu sore, saat Reiki sedang tidur.

Hime menatapku. "Yakin."

"Tapi kau tahu."

Ia diam.

"Kau tahu sesuatu tentang dia, kan? Sesuatu yang tidak kau ceritakan."

Hime menghela napas. "Ada beberapa hal yang lebih baik tidak kau ketahui, KSAN."

"Seperti apa?"

"Seperti... kenapa aku ada di sini."

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat celah di balik topeng dinginnya. Kelelahan. Kesedihan. Sesuatu yang sudah lama ia pendam.

"Suatu hari nanti," kataku, "kau harus cerita."

"Mungkin." Ia menatap ke luar jendela. "Tapi tidak sekarang."

---

Sementara itu, di sekolah, kekacauan mulai mereda. Listrik kembali menyala keesokan harinya. Pak Silent—guru olahraga yang paling ditakuti—mengumumkan bahwa pemadaman disebabkan oleh badai. Tidak ada yang curiga.

Kecuali aku.

Aku tahu penyebab sebenarnya. Dan aku tahu bahwa ini baru awal.

"KSAN!" Ival menghampiriku di koridor. "Kemarin kau bolos lagi! Pak Silent mencari-cari."

"Bilang saja aku sakit."

"Kau selalu sakit kalau ada tes fisik."

Aku mengangkat bahu. "Mungkin aku memang lemah."

Ival tertawa. Tapi matanya menyipit curiga. Ia tahu aku berbohong. Tapi ia tidak tahu tentang apa.

"Hei," katanya lebih pelan, "kau baik-baik saja? Akhir-akhir ini kau sering pergi."

Aku menepuk pundaknya. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."

Tapi aku tidak baik-baik saja. Dan aku tidak tahu apakah aku akan pernah baik-baik saja lagi.

---

Malam itu, aku kembali ke gudang. Tapi ketika aku sampai, Hime sedang berdiri di luar, menatap langit. Wajahnya tegang.

"Ada apa?" tanyaku.

Ia menunjuk ke arah bukit. "Ada pesawat mendarat."

Aku menoleh. Di kejauhan, di balik bukit, aku bisa melihat lampu navigasi yang berkedip dalam pola yang tidak biasa.

"Pesawat apa?"

"Bukan pesawat biasa." Hime menatapku serius. "Kita mungkin punya masalah."

---

Aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiran tentang pesawat misterius itu terus menghantuiku. Aku duduk di kamar, membuka laptop, dan mencoba mencari informasi tentang pesawat dengan tanda-tanda yang kulihat. Tapi tidak ada hasil. Pesawat itu tidak tercatat di mana pun.

Aku mengambil ponselku dan melihat foto misterius itu lagi. Siluet di bawah cahaya biru. Aku memperbesar gambar itu, mencoba melihat detail. Dan untuk sesaat, aku merasa bahwa siluet itu sedang menatapku.

*Sudahlah. Ini hanya foto.*

Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu itu bukan hanya foto. Itu adalah petunjuk. Petunjuk tentang sesuatu yang lebih besar.

Aku mematikan ponsel dan merebahkan diri. Di luar, bulan bersinar terang. Dan di kejauhan, lampu pesawat itu masih menyala.

Menunggu.

---

Pagi harinya, aku bangun dengan keputusan bulat. Aku akan bergabung dengan Hime dan Reiki sepenuhnya. Bukan sebagai pengamat, tapi sebagai bagian dari tim.

Aku menemui ayahku sebelum berangkat ke sekolah. Ia sedang duduk di meja makan, membaca koran.

"Yah, aku mau tanya sesuatu."

Ayahku menurunkan koran. "Tentang apa?"

"Tentang pesawat yang mendarat di balik bukit kemarin."

Untuk sesaat, sesuatu melintas di mata ayahku. Kekhawatiran? Atau mungkin ketakutan?

"Kau tidak perlu tahu tentang itu," katanya.

"Tapi aku sudah melihatnya."

Ayahku diam. Lalu ia berkata, "Ada hal-hal di dunia ini yang lebih baik tidak kau ketahui, Nak."

"Seperti apa?"

"Seperti... apa yang terjadi di balik bukit itu."

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat bahwa ayahku—yang selalu tenang dan terkendali—sedang takut.

"Kau tahu sesuatu, Yah?"

Ia tidak menjawab. Ia hanya kembali membaca korannya, memberi isyarat bahwa percakapan selesai.

Tapi aku tidak menyerah. Aku akan mencari tahu sendiri.

---

Aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah hari itu. Sebagai gantinya, aku pergi ke gudang tua untuk menemui Hime dan Reiki.

Mereka sedang duduk di lantai, berbicara tentang sesuatu. Ketika aku masuk, mereka berhenti.

"Ada apa?" tanya Hime.

"Aku ingin bergabung," kataku. "Sepenuhnya."

Hime menatapku lama. "Kau yakin?"

"Ya."

"Kau tahu risikonya?"

"Aku tahu."

Hime tersenyum tipis. "Baik. Tapi ingat: sekali kau masuk, tidak ada jalan keluar."

Aku mengangguk. "Aku siap."

Dan dengan itu, aku resmi menjadi bagian dari tim. Bukan lagi pengamat. Bukan lagi saksi. Tapi anggota.

---

Hari itu, Hime mengajarkanku cara menggunakan perangkat deteksi energi. Alat itu mirip dengan yang ia bawa—perangkat perak kecil yang bisa mendeteksi fluktuasi energi psikis.

"Coba di area sekitar gudang," katanya. "Lihat apa kau bisa menemukan sesuatu."

Aku mengambil perangkat itu dan berjalan keluar. Arahkan ke utara. Tidak ada. Ke selatan. Tidak ada. Ke timur...

Perangkat itu bergetar.

"Ada sesuatu," kataku.

Hime mendekat. "Di mana?"

Aku menunjuk ke arah bukit. "Di sana. Dekat tempat pesawat itu mendarat."

Hime menatap ke arah yang kutunjuk. Wajahnya serius.

"Itu bukan pesawat biasa," katanya. "Itu adalah pesawat Markas Psikis Pusat."

"Markas Psikis?"

"Organisasi yang mengatur semua psikis. Mereka tidak suka dengan psikis liar seperti Reiki."

"Berarti mereka musuh?"

Hime diam sejenak. "Belum tentu. Tapi juga belum tentu teman."

Aku menyimpan perangkat itu. "Jadi apa yang harus kita lakukan?"

Hime menatapku. "Kita tunggu. Dan kita bersiap."

"Bersiap untuk apa?"

"Untuk apa pun yang akan datang."

**— Bersambung —**

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!