Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kelas XII-A, menyinari butiran debu yang beterbangan di atas meja kayu. Di sana, Raisa duduk dengan punggung tegak, jemarinya bertaut di atas pangkuan. Ia tampak seperti pualam yang cantik namun rapuh.
Tiga hari. Ini adalah hari ketiganya menghirup udara sekolah umum setelah bertahun-tahun terkurung dalam sangkar emas bernama homeschooling.
"Rai ...?"
Sebuah suara pelan memecah keheningan di sampingnya. Riri, teman sebangkunya, tampak ragu. Ia sudah memperhatikan Raisa sejak hari pertama—gadis yang selalu diantar jemput dengan pengawalan ketat. Riri tidak tahu saja, bahwa di balik ketenangan itu, ada trauma masa kecil yang membayangi. Luka lama saat Raisa diculik karena persaingan bisnis sang Papa masih menyisakan proteksi berlebihan dari keluarganya.
"Iya, Ri?" Raisa menoleh, senyum tipis terukir di wajahnya yang lembut.
Riri sedikit lega. "Ehm, kamu ... suka baca novel enggak?"
Raisa mengangguk pelan, matanya berbinar kecil. "Suka banget."
"Mau coba baca ini?" Riri menyodorkan sebuah buku dengan sampul berwarna gelap yang tampak misterius. "Tapi ... genrenya mungkin kamu agak kurang suka. Ini dark romance sekolah gitu."
"Coba dong," jawab Raisa lembut sembari menerima buku itu.
"Kamu bawa pulang aja. Aku yakin kamu bakal suka, atau minimal ... penasaran sampai akhir," ucap Riri dengan nada meyakinkan.
Malam harinya, suasana kamar Raisa begitu sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan gemerisik kertas yang dibalik. Raisa meringkuk di balik selimut, matanya terpaku pada setiap baris kalimat di dalam novel pemberian Riri.
Awalnya, ia hanya ingin membaca beberapa lembar. Namun, narasi drama remaja yang kelam itu seolah menariknya masuk ke dalam lubang hitam yang tak berujung.
"Hah? Kok dia tega banget sih?" gumam Raisa kesal.
Wajahnya berubah-ubah seiring emosi yang dipermainkan. Kadang ia tersenyum tipis saat ada momen manis, namun sedetik kemudian ia bergidik ngeri membaca obsesi gila tokoh-tokoh di dalamnya.
Hingga sampailah ia di bab-bab terakhir. Jantung Raisa berdegup kencang, berharap ada keajaiban. Namun, matanya membelalak tak percaya saat membaca kalimat penutup.
"Apa-apaan ini?!" Raisa berseru tertahan, menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa malah begini akhirnya?"
Napasnya memburu karena emosi. Logikanya menolak keras ending tragis tersebut. Bagaimana bisa pemeran utama perempuan berakhir tersiksa selamanya karena obsesi gila sang antagonis? Dan yang lebih parah, pemeran utama pria yang seharusnya menjadi pelindung justru tewas terbunuh?
"Penulisnya sakit hati ya? Kok jahat banget sama karakter sendiri!"
Raisa mengacak rambutnya frustrasi. Ia melirik ke arah jam beker di nakas. Pukul 03.00 pagi. Rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerang kesadarannya yang sedang emosi.
Pandangan Raisa mulai mengabur, buku itu masih memeluk dadanya saat ia perlahan kehilangan kesadaran dan jatuh ke dalam tidur yang sangat dalam.
BRAKK!
"Apaan sih lo?! Gue udah bilang untuk jangan ganggu Zella lagi!"
Bentakan menggelegar itu menghantam kesadaran Raisa seperti martil. Kepalanya berdenyut hebat. Kebisingan yang asing menyerbu indranya suara bisik-bisik yang tajam, tawa sinis, dan derap langkah kaki di atas lantai koridor yang dingin.
Raisa mengerjap, mencoba mengumpulkan nyawanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sensasi dingin dan basah yang mengalir dari pelipisnya. Spontan, ia menyentuh bagian itu. Cairan kental berwarna merah menghiasi jemarinya. Darah.
"Gue ... kenapa?" gumamnya lirih.
Ia mendongak dan seketika membeku. Ia tidak lagi berada di kamarnya yang nyaman. Ia terduduk di lantai koridor sekolah yang ramai. Di sekelilingnya, puluhan siswa berseragam asing menatapnya dengan pandangan menghina, seolah ia adalah hama yang mengganggu pemandangan.
Dan tepat di hadapannya, berdiri seorang laki-laki dengan aura yang sangat mengintimidasi. Rahangnya mengeras, matanya menatap Raisa dengan kobaran amarah yang murni.
"Jangan berani-berani lo sentuh dia lagi, atau lo bakal tahu akibatnya!" laki-laki itu membentak lagi, suaranya rendah namun mematikan.
Raisa gemetar. Siapa mereka? Kenapa aku ada di sini?
Matanya yang berkaca-kaca tanpa sengaja melirik ke arah dada kiri laki-laki itu. Sebuah nametag hitam tersemat di sana, kontras dengan kemeja putihnya yang berantakan.
ARLAND.
Jantung Raisa serasa berhenti berdetak. Nama itu ... wajah itu ... bukannya dia pemeran utama pria di novel yang ia baca semalam? Laki-laki yang seharusnya menjadi pahlawan namun berakhir tragis karena obsesi?
"Arland?" suara Raisa nyaris tak terdengar, tenggelam dalam ketakutan.
"Aku... aku pasti masih tidur. Ini cuma mimpi buruk, kan?" gumam Raisa dengan suara bergetar.
Ia menyentuh pelipisnya yang masih berdenyut. Perihnya terasa begitu nyata, menyengat hingga ke saraf, membuat pertahanannya runtuh. Jika ini mimpi, kenapa rasa sakitnya tidak kunjung hilang?
Raisa mengalihkan pandangannya ke arah samping Arland. Di sana, seorang gadis cantik berseragam rapi tengah terisak pelan. Matanya sembab, dan di dadanya tertera sebuah nama: Zella.
Mata Raisa membelalak sempurna. Loh?! Beneran dia? Zella si pemeran utama wanita?
Jantungnya berpacu gila. Jika itu Zella dan di depannya adalah Arland, lalu dia siapa? Dengan tangan gemetar, Raisa menunduk, mencari identitas di seragamnya sendiri.
Anna Eliam.
"Anna... Eliam?" Raisa bergumam tak percaya.
Ingatannya tentang novel semalam berputar cepat. Anna Eliam hanyalah seorang figuran—gadis yang tidak punya peran penting selain menjadi pengganggu yang tergila-gila pada pria antagonis utama, Ezkiel De Luca.
Ezkiel adalah definisi mimpi buruk. Pria dingin yang terobsesi pada Zella. Nama "De Luca" bukan sembarang nama; mereka adalah keluarga terkaya nomor satu yang kekuasaannya menyentuh segala aspek kehidupan di dunia novel ini. Dan Anna? Anna hanyalah pion yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian Ezkiel.
"Jadi... aku beneran jadi figuran?" gumamnya lemas.
Merasa terpojok oleh tatapan tajam Arland dan bisikan kebencian dari siswa lain, Raisa—yang kini berada dalam tubuh Anna—merasa sesak. Ketakutannya memuncak. Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga, berusaha keluar dari kerumunan yang menghakiminya.
Aku harus pergi dari sini! Aku harus bangun!
Karena terlalu panik, Raisa tidak memperhatikan jalan di depannya.
BRUK!
Tubuh kecilnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh, layaknya menabrak dinding beton. Dampaknya begitu kuat hingga ia jatuh terduduk di lantai koridor yang dingin untuk kedua kalinya.
"Aduh..." Raisa meringis, memegangi kepalanya yang semakin pening.
Ia mendongak untuk meminta maaf, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Di depannya berdiri seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap. Sepasang mata tajam menatapnya dengan binar kebencian yang begitu pekat, seolah-olah kehadiran Anna di depannya adalah sebuah noda kotor.
Raisa tanpa sengaja melirik nametag di jas mewah pria itu.
EZKIEL DE LUCA.
Napas Raisa tercekat. Pria ini adalah puncak dari segala konflik tragis yang ia baca semalam. Dan sekarang, ia tepat berada di bawah bayang-bayang pria yang paling ditakutinya.
"Kau..."
Suara itu keluar dari bibir Ezkiel dengan sangat pelan, namun setiap suku katanya membawa penekanan yang mencekam. Atmosfer di koridor itu mendadak turun hingga ke titik beku. Raisa bisa merasakan bulu kuduknya meremang, jantungnya seolah diremas oleh tangan takkasat mata.
Raisa tersentak. Ia masih terduduk di lantai, menatap ujung sepatu kulit Ezkiel yang mengkilap. Ia ingin berdiri, namun kakinya terasa lemas seperti jeli.
"Sudah berulang kali aku katakan..." Ezkiel membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara mereka. Tatapannya begitu dingin, sedingin es di kutub utara. "Jangan pernah menyentuh milikku."
Kalimat itu menghujam jantung Raisa. Dalam novel, 'milikku' yang dimaksud Ezkiel adalah Zella. Karena Anna pemilik tubuh ini sebelumnya baru saja membuat Zella menangis, Ezkiel tampak siap untuk menghancurkan siapa pun yang ada di depannya.
Raisa hanya diam mematung. Bibirnya kelu, tak tahu harus menjawab apa. Bagaimana ia bisa membela diri? Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Anna Eliam sebelum ia terbangun di tubuh ini.
Rasa takut yang luar biasa menyergapnya. Bayangan tentang bagaimana Ezkiel membunuh pemeran utama pria di akhir novel melintas di pikirannya. Pria di depannya ini bukan sekadar karakter fiksi lagi; dia adalah ancaman nyata yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian.
"Ma--maaf..." cicit Raisa sangat pelan, suaranya hampir hilang ditelan kebisingan koridor.
Ezkiel hanya mendengus sinis, sebuah senyuman miring yang terlihat mengerikan terukir di wajah tampannya. Ia tidak butuh permintaan maaf; ia butuh kepatuhan mutlak, sesuatu yang tampaknya akan menjadi awal dari mimpi buruk Raisa di dunia ini.
"Aku rasa kau harus menerima hukuman karena berani menyentuh gadisku," desis Ezkiel dengan nada tajam yang menyayat udara.
Raisa belum sempat mencerna kalimat itu saat tangan kekar Ezkiel mencengkeram pergelangan tangannya. Tanpa ampun, pria itu menariknya paksa, menyeretnya menyusuri koridor. Raisa berusaha melepaskan diri, namun tenaganya tidak sebanding dengan cengkeraman Ezkiel yang seperti borgol besi.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu yang sudah usang dan berdebu—gudang tua di ujung gedung sekolah yang jarang dilewati orang.
BRAKK!
Ezkiel mendorong tubuh Raisa ke dalam ruangan gelap itu hingga ia terjatuh ke lantai yang kotor. Bau apek dan debu langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya.
"Aku rasa kau harus menerima hukuman ringan agar otakmu itu ingat posisimu, Anna," ucap Ezkiel tanpa sedikit pun rasa iba.
Mata Raisa membelalak saat melihat Ezkiel mulai menarik pintu gudang itu dari luar. Kegelapan perlahan mulai menelan cahaya yang masuk.
"Jangan! Aku mohon, jangan!" teriak Raisa panik. Ia merangkak dengan cepat menuju pintu, namun terlambat.
KLIK!
Suara kunci yang diputar dari luar terdengar begitu nyata.
"Tolong! Ezkiel, buka pintunya! Aku mohon!" Raisa menggedor-gedor pintu kayu itu dengan sisa tenaganya. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.
Ia teringat trauma masa kecilnya yang sangat takut akan kegelapan dan ruang tertutup sejak kejadian penculikan itu. Di dalam kegelapan gudang yang pekat, napas Raisa mulai terasa pendek dan sesak. Ia sendirian, terperangkap dalam tubuh seorang figuran, dan dihukum oleh pria yang seharusnya ia hindari.
"Siapa pun... tolong aku..." rintihnya lirih sembari memeluk lututnya di pojok gudang yang dingin.
Raisa meringkuk di sudut gudang yang lembap, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Setiap tarikan napas terasa berat karena debu yang menyesakkan paru-paru. Di tengah kegelapan dan ketakutan yang mencekam, otaknya mencoba memproses kenyataan gila ini.
"Jadi... aku benar-benar Anna?" bisiknya pelan di sela sesenggukan. "Anna Eliam yang tergila-gila pada Ezkiel sampai kehilangan harga diri?"
Air mata semakin deras mengalir membasahi pipinya. Ia merindukan pelukan hangat Mamanya dan perlindungan Papanya yang selama ini ia anggap berlebihan. Ternyata, dunia luar yang selama ini ia impikan lewat buku-buku novel jauh lebih kejam daripada kurungan homeschooling-nya.
"Aku senang bisa masuk ke dunia novel... tapi kenapa harus novel ini?" rintihnya pedih. "Mama... Papa... Raisa takut."
Ia teringat wajah gadis yang menangis tadi—Zella. Sang pemeran utama yang begitu dicintai oleh Arland dan Ezkiel. "Tadi itu beneran Zella? Cantik banget... tapi kenapa aku harus jadi figuran yang dibenci semua orang?"
Di sela tangisnya, Raisa meraba saku seragamnya dan menemukan sebuah cermin kecil. Ia mencoba menyalakan senter dari ponsel yang ternyata ada di sakunya untuk melihat wajahnya. Saat cahaya lampu menyinari cermin, Raisa nyaris memekik horor.
"Hwaaa! Ini muka atau hantu?!"
Wajah di cermin itu tertutup riasan yang sangat tebal dan tidak beraturan. Eyeshadow hitam yang luntur karena air mata membuat matanya terlihat seperti panda, ditambah bedak putih yang terlalu tebal—benar-benar seperti "dempul" yang pecah-pecah.
Pantas saja Arland dan Ezkiel menatapnya dengan penuh kejijikan. Anna Eliam ternyata bukan hanya jahat, tapi juga tidak punya selera dalam merias diri.
"Pantas saja Ezkiel nggak mau lihat aku," gumam Raisa sambil mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan ujung seragam, mencoba menghapus riasan hantu itu meskipun perih. "Kalau begini caranya, aku harus bertahan hidup. Aku nggak mau mati tragis di tangan Ezkiel!"
Raisa memeluk lututnya semakin erat, mencoba menghapus sisa-sisa bedak tebal di wajahnya dengan tangan yang gemetar. Pikirannya melayang jauh, mencoba mengingat setiap detail bab dari novel yang ia baca semalam.
"Gimana caranya ya? Ini cerita sebenarnya sudah sampai bab berapa?" gumamnya pada diri sendiri, menatap hampa ke arah pintu yang tertutup rapat. "Ah, aku nggak tahu lagi! Fokusku cuma baca sampai tengah malam, tapi aku nggak hafal detail urutan kejadiannya."
Yang ia tahu pasti, posisi Anna Eliam di awal cerita memang sangat mengenaskan. Selalu mengejar Ezkiel dan selalu berakhir dipermalukan.
"Tapi gimana caranya aku bisa keluar dari sini?" isaknya pelan. Suasana gudang semakin mencekam seiring pudarnya cahaya matahari dari celah ventilasi kecil di atas. "Aku takut... gimana kalau ada kecoa? Atau tikus?"
Ia membayangkan serangga-serangga itu merayap di atas seragamnya dalam kegelapan. Namun, teriakannya hanya memantul di dinding gudang yang sunyi. Nihil. Tidak ada yang datang menolong. Ezkiel benar-benar berniat memberinya pelajaran tanpa ampun.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Raisa yang terbiasa hidup dalam perlindungan ketat kini harus berjuang melawan rasa trauma dan sesak napas sendirian. Dari kejauhan, ia mendengar bel pulang sekolah berbunyi, diikuti suara riuh rendah siswa yang berangsur-angsur menghilang, meninggalkan keheningan yang menyiksa.
Hingga akhirnya, hari benar-benar gelap.
Srak... srak...
Suara kunci diputar dan langkah sepatu bot yang berat terdengar mendekat. Cahaya lampu senter yang terang tiba-tiba menusuk mata Raisa saat pintu gudang terbuka lebar.
"Loh? Nak, kamu kenapa masih di sini?!" seru seorang pria paruh baya dengan seragam petugas kebersihan sekolah, wajahnya tampak terkejut sekaligus khawatir.
Raisa mendongak dengan mata sembab dan wajah yang kini terlihat lebih bersih meskipun pucat pasi. Tanpa kata, ia langsung berdiri dan berlari keluar melewati petugas itu. Ia tidak peduli lagi pada sopan santun; yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari sekolah yang terasa seperti penjara ini.
Di bawah sinar lampu jalan yang temaram, Raisa berjanji dalam hati: ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi Anna Eliam yang lemah lagi. Jika ia harus terjebak di dunia ini, maka ia yang akan mengubah alurnya.
Langkah Raisa atau sekarang lebih tepat dipanggil Anna terasa berat saat memasuki sebuah rumah mewah yang megah namun terasa dingin. Begitu kakinya melangkah di koridor rumah, kepalanya mendadak berdenyut. Potongan-potongan memori asing merangsek masuk seperti kaset rusak yang diputar paksa.
Itu adalah ingatan milik Anna yang asli.
Anna terdiam di tengah ruangan, napasnya tertahan. Memori itu menunjukkan betapa
Anna yang lama kepada Zella; mulai dari merobek buku hingga menyebarkan rumor busuk. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di benak Raisa. Melalui kacamata ingatan Anna, ia melihat sisi lain dari sang "Protagonis Suci."
"Tunggu dulu..." gumamnya pelan. "Zella ternyata nggak sepolos yang diceritakan di novel."
Raisa menangkap kilasan ekspresi Zella yang seringkali melebih-lebihkan keadaan di depan Arland atau Ezkiel agar Anna terlihat semakin jahat. Zella tahu persis bagaimana cara memanipulasi situasi agar dirinya selalu menjadi korban yang malang.
Setelah membersihkan diri dari debu gudang dan sisa makeup "hantu" yang mengerikan, Anna berdiri di depan cermin besar kamarnya. Ia hanya mengenakan piyama sutra sederhana. Rambutnya yang basah dibiarkan terurai.
Mata Anna membelalak. Tanpa bedak dempul dan riasan hitam yang berantakan, wajah di cermin itu tampak luar biasa cantik. Kulitnya putih bersih, matanya bulat besar, dan bibirnya merah alami yang memberikan kesan menggemaskan sekaligus polos.
"Kok... cantik banget sih?!" serunya tak percaya, menyentuh pipinya yang kenyal. "Kenapa Anna yang dulu malah hobi dandan jadi hantu kalau aslinya secantik ini?"
Setelah puas mengagumi diri, Anna duduk di meja belajarnya. Ia mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pulpen. Ia harus menyusun strategi agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti di akhir cerita novel"Semua tokoh utama harus dihindari. Titik," ucapnya tegas pada diri sendiri.
Anna menarik napas panjang, melipat kertas itu dan menyembunyikannya di bawah bantal.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke dalam kamar mewah Anna. Raisa—yang kini menghuni tubuh itu—terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi, ia menatap cermin sekali lagi. Rambutnya hanya ia sisir rapi tanpa riasan tebal, hanya sedikit pelembap bibir agar tidak pucat.
Ia menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana, sudah duduk Tuan Noah Liam, sang ayah yang merupakan pemilik perusahaan sukses, bersama istrinya yang tampak anggun.
"Pagi, Pa. Pagi, Ma," ucap Anna lembut sambil menarik kursi di meja makan.
Suasana meja makan yang biasanya riuh dengan keluhan Anna tiba-tiba menjadi hening seketika. Tuan Noah menghentikan gerakannya yang sedang melipat koran bisnis, sementara sang Mama mematung dengan sendok selai yang masih menggantung di udara.
Tuan Noah menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Anna? Ini benar kamu?" tanyanya dengan nada heran yang kental.
"Iya, Pa. Kenapa?" tanya Anna polos sambil mulai mengambil sepotong roti.
"Wajahmu..." Mama menyela, matanya membelalak tak percaya. "Kamu tidak pakai... riasan hantu itu lagi? Biasanya kamu tidak mau keluar kamar kalau bedakmu belum setebal satu senti."
Tuan Noah berdehem, mencoba menutupi keterkejutannya melihat wajah asli putrinya yang ternyata sangat cantik dan menggemaskan tanpa topeng makeup. "Dan kamu... menyapa kami dengan sopan? Biasanya kamu langsung mengomel meminta uang atau mengadu tentang pria De Luca itu."
Anna hanya tersenyum tipis, hampir saja ia lupa kalau Anna yang asli memiliki sifat yang buruk. "Aku cuma merasa ingin tampil lebih natural, Pa. Dan soal yang lain... aku sudah sadar kalau itu membuang-buang waktu."
Meskipun merasa ada yang aneh, Tuan Noah tidak bisa menyembunyikan binar bangga di matanya. "Baguslah kalau begitu. Papa lebih suka melihat wajahmu yang seperti ini. Terlihat jauh lebih segar dan... seperti anak Papa yang dulu."
Anna melangkah masuk melewati gerbang sekolah dengan tas tersampir di bahu. Ia berjalan dengan tenang, matanya yang bulat sesekali berkedip bingung karena merasakan suasana koridor yang mendadak hening setiap kali ia lewat.
"Mereka liatin kenapa ya? Apa seragamku ada yang kotor?" pikirnya polos sembari menunduk mengecek roknya yang rapi.
Ia benar-benar tidak sadar bahwa wajahnya yang kini bersih tanpa bedak tebal—wajah asli Anna Eliam yang menggemaskan dan cantik alami—tampak seperti malaikat yang baru turun dari langit. Sangat kontras dengan "Anna sang hantu dempul" yang mereka kenal selama ini.
Sepanjang koridor, bisikan-bisikan mulai pecah seperti ombak.
"Buset, itu siapa? Anak baru ya?" bisik seorang siswa laki-laki yang hampir menabrak loker karena terus menatap Anna.
"Gila, cantik banget! Kayak boneka hidup. Nyasar ke sekolah kita dari mana tuh anak?" timpal temannya dengan mata tak berkedip.
"Tunggu... eh, itu kan si Anna?! Si pengganggu itu?!" seorang siswi memekik tertahan sambil menutup mulutnya. "Kok bisa beda banget? Makeup-nya mana? Ini mah bening parah!"
Anna yang tidak terbiasa menjadi pusat perhatian hanya bisa mempercepat langkahnya. Ia merasa risih dengan tatapan-tatapan itu. Tujuanku kan mau jadi figuran yang nggak kelihatan, kenapa mereka malah ngeliatin terus sih? batinnya kesal sekaligus bingung.
Bab 11: Keheningan yang Canggung
Anna berdiri tepat di depan pintu kelas XII-A. Ia mematung sejenak, memandangi papan nama kelas dengan ragu. Tangan kecilnya menggenggam tali tas dengan erat.
"Aku beneran harus sekolah bareng mereka ya?" rintihnya pelan, bibirnya mengerucut kecil.
Wajahnya yang polos saat merengek pada diri sendiri itu terlihat sangat menggemaskan, jauh dari kesan angkuh yang biasanya melekat pada sosok Anna Eliam. Setelah mengumpulkan keberanian dan menarik napas panjang, ia melangkah masuk dengan tenang.
Sret...
Suara gesekan sepatunya di lantai koridor kelas tiba-tiba menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Seketika, hiruk-pikuk di dalam kelas terhenti. Siswa yang sedang tertawa, yang sedang mengobrol di atas meja, hingga yang sedang membaca buku, semuanya membeku. Puluhan pasang mata tertuju lurus ke arah pintu.
Langkah Anna terhenti. Ia mengerjap bingung, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah tanpa dosa.
Aku salah lagi kah? Apa aku masuk ke kelas yang salah? pikirnya dalam hati.
Ia tidak tahu bahwa keheningan itu bukan karena benci, melainkan karena mereka semua terpukau. Anna yang biasanya masuk dengan aura permusuhan dan riasan tebal yang menakutkan, kini berdiri di sana seperti karakter dari komik romance—bersih, manis, dan sangat memikat.
"Kenapa diam semua?" gumam Anna sangat pelan, hampir tidak terdengar, membuat beberapa siswa laki-laki di barisan depan menelan ludah karena terpesona oleh suara lembutnya yang baru.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!