Indonesia
NovelToon NovelToon

Saat Aku Berhenti Pulang

Episode 1

Bab 01 - Hadiah Itu Bukan Untukku

Pukul satu lewat tiga belas menit.

Lilin di atas kue sudah terlalu pendek untuk dinyalakan. Krim putih di pinggirnya mulai mengeras, dan tulisan kecil berwarna emas di tengah kue itu terlihat semakin menyedihkan.

Selamat ulang tahun, Alina.

Selamat ulang tahun pernikahan kelima.

Alina Prameswari duduk sendirian di meja makan yang terlalu panjang untuk satu orang. Di depan matanya ada rendang daging yang sudah dingin, sup buntut yang permukaannya berlemak, tumis buncis yang mulai layu, dan sepiring kecil pudding mangga kesukaan Arka.

Semua itu ia masak sejak sore.

Bukan karena rumah itu tidak punya asisten. Rumah keluarga Wicaksono di Pondok Indah memiliki dua ART, satu sopir, satu tukang kebun, dan satu pengasuh cadangan untuk Arka. Tapi Adrian tidak suka makanan rumah yang dimasak orang lain.

"Masakanmu lebih pas," begitu katanya dulu, lima tahun lalu, ketika mereka baru menikah.

Kalimat itu pernah membuat Alina merasa dipilih.

Malam ini, kalimat yang sama terasa seperti lelucon.

Ponselnya bergetar.

Alina menunduk. Di layar muncul notifikasi dari Instagram. Bukan pesan. Bukan telepon dari Adrian. Bukan suara Arka yang mengantuk bertanya apakah Mama masih menunggu.

Itu unggahan Close Friends dari Vania Safira.

Alina tidak pernah tahu sejak kapan ia masuk daftar Close Friends wanita itu. Mungkin sejak Vania ingin memastikan setiap luka sampai tepat ke orang yang dituju.

Ia menekan.

Foto pertama muncul.

Vania duduk di sebuah restoran taman di Kemang, mengenakan dress putih gading, rambutnya ditata sederhana. Wajahnya pucat, tapi senyumnya manis. Di sampingnya, Adrian berdiri dengan kemeja hitam, satu tangan berada di sandaran kursi Vania. Arka duduk di pangkuan wanita itu sambil tertawa, pipinya menempel ke bahu Vania.

Caption-nya pendek.

Terima kasih, Pak Adrian dan Arka kecil, untuk hadiah paling manis malam ini.

Alina menggeser layar.

Foto kedua membuat napasnya berhenti.

Sebuah kalung.

Liontin kecil berbentuk bintang, dengan batu biru tua di tengahnya.

Alina mengenali kalung itu secepat ia mengenali wajah ibunya sendiri.

Kalung itu milik mendiang ibunya. Satu-satunya benda yang tersisa dari perempuan yang melahirkannya, perempuan yang meninggal sebelum sempat melihat Alina menikah.

Kalung itu hilang di rumah sakit pada hari Alina melahirkan Arka. Saat itu tubuhnya lemah, kepalanya pusing, dan Adrian berjanji akan mencarinya.

"Aku akan menemukannya," kata Adrian waktu itu, dingin tapi tegas. "Tenang saja."

Ternyata ia memang menemukannya.

Lalu memberikannya kepada Vania.

Alina menggeser lagi.

Foto ketiga adalah cangkir keramik buatan tangan. Warnanya biru muda, berantakan di beberapa sisi, jelas dibuat oleh anak kecil. Di permukaannya tertulis dengan cat merah yang tidak rata:

Selamat ulang tahun, Mama.

Di bawahnya, ada jejak tangan kecil Arka.

Jari Alina membeku di layar.

Hari ini ulang tahunnya.

Arka membuat cangkir bertuliskan Mama, tapi cangkir itu berada di tangan Vania.

Ada suara tawa pendek dari unggahan video berikutnya. Alina menekannya tanpa benar-benar sadar.

"Tante Vania suka?" suara Arka terdengar ceria.

"Suka sekali," jawab Vania, suaranya lembut. "Ini hadiah ulang tahun paling indah yang pernah Tante terima."

"Papa bilang Tante Vania harus bahagia," kata Arka lagi. "Kalau Tante Vania bahagia, Papa juga bahagia."

Kamera bergerak ke arah Adrian.

Pria itu hanya tersenyum tipis, tapi matanya lembut. Tatapan seperti itu hampir tidak pernah ia berikan kepada Alina, tidak sejak malam pertama pernikahan mereka, mungkin bahkan tidak pernah.

Alina mematikan layar.

Ruangan kembali sunyi.

Jam dinding berdetak keras.

Ia menatap kue di meja, lalu makanan yang sudah dingin, lalu piring kecil Arka yang ia siapkan karena anak itu biasanya tidak suka sambal terlalu pedas.

Mungkin ia harus marah.

Mungkin ia harus menelepon Adrian dan menuntut penjelasan.

Tapi yang muncul hanya rasa lelah.

Lelah yang begitu dalam sampai air mata pun seperti tidak punya tenaga untuk jatuh.

Pintu utama terbuka pukul satu lewat empat puluh.

Suara langkah sepatu Adrian terdengar lebih dulu, pelan dan terukur. Setelah itu suara kecil Arka, menguap sambil menyeret sandal.

Alina tidak bergerak dari kursinya.

Adrian Wicaksono muncul di ruang makan. Wajahnya masih rapi, seolah ia baru pulang dari rapat, bukan dari merayakan ulang tahun perempuan lain bersama anak dan hadiah milik istrinya.

Ia berhenti ketika melihat Alina.

"Kamu belum tidur?"

Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

Bukan selamat ulang tahun.

Bukan maaf.

Bukan aku pulang terlambat.

Alina menatapnya lama. "Aku menunggumu."

Adrian melirik meja makan. Ada jeda singkat di matanya, seolah baru mengingat sesuatu. Tapi jeda itu segera hilang.

"Aku lupa bilang. Kondisi Vania tadi kurang baik. Dia minta ditemani makan sebentar."

"Sebentar?"

Adrian melepaskan jam tangannya. "Kamu tahu kondisinya."

Ya. Alina tahu.

Semua orang di rumah ini tahu.

Vania Safira, cinta pertama Adrian, kembali ke Jakarta enam bulan lalu setelah bertahun-tahun tinggal di Singapura. Ia sakit. Penyakit langka, kata Adrian. Hidupnya mungkin tidak lama. Ia tidak punya keluarga dekat yang bisa mengurusnya.

Sejak hari itu, nama Vania menjadi alasan untuk semua hal.

Adrian terlambat pulang.

Vania sedang drop.

Adrian membatalkan makan malam.

Vania perlu ditemani ke dokter.

Adrian melewatkan ulang tahun Arka di sekolah.

Vania takut sendirian.

Dan malam ini, Adrian melewatkan ulang tahun istrinya.

Vania hanya ingin bahagia sebentar.

Arka berjalan melewati Alina dengan mata setengah tertutup. Lalu ia berhenti, seperti baru ingat sesuatu.

"Mama."

Hati Alina bergerak sedikit.

Anak itu menoleh, wajahnya polos, masih mengantuk. "Selamat ulang tahun."

Alina membuka mulut, tapi Arka sudah melanjutkan.

"Arka sama Papa bukan sengaja lupa. Tante Vania cuma punya waktu sebentar. Mama masih punya banyak ulang tahun lagi."

Sesuatu di dada Alina retak dengan suara yang tidak terdengar.

Adrian tidak menegur Arka.

Ia hanya berkata, "Arka, naik ke kamar. Besok sekolah."

Arka mengangguk, lalu berlari kecil ke tangga. Sebelum naik, ia menoleh lagi.

"Mama jangan marah sama Tante Vania, ya. Kasihan Tante."

Alina menatap punggung kecil itu sampai menghilang.

Setelah Arka pergi, Adrian menarik kursi dan duduk di seberang Alina. "Aku tahu kamu kecewa. Tapi Vania benar-benar tidak punya banyak waktu."

Alina tertawa pelan.

Adrian mengerutkan kening. "Apa yang lucu?"

"Tidak ada."

"Kalau soal hadiah, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu."

"Kalung ibu saya?"

Adrian terdiam.

Alina membuka ponsel, menyalakan layar, lalu meletakkannya di meja dengan foto kalung itu terbuka. "Yang ini?"

Mata Adrian turun ke layar. Wajahnya tidak berubah banyak. Ia memang selalu pandai menjaga ekspresi. Pria yang dibesarkan untuk memimpin Wicaksono Group tidak mudah terlihat bersalah.

"Itu hanya kupinjamkan."

"Kepada Vania."

"Dia menyukai bentuknya. Aku pikir beberapa hari tidak masalah."

Alina menatapnya. "Itu peninggalan ibu saya."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa kamu bisa memberikannya pada dia?"

Adrian menarik napas, mulai tidak sabar. "Alina, jangan membesar-besarkan. Kalung itu akan kembali."

"Kapan?"

"Nanti."

"Saat dia selesai memakainya? Saat dia sembuh? Saat dia meninggal?"

"Alina."

Nada Adrian mengeras.

Dulu nada seperti itu cukup membuat Alina berhenti. Ia akan menelan sakitnya, meminta maaf, lalu meyakinkan dirinya bahwa Adrian hanya lelah.

Malam ini, ia tidak ingin berhenti.

"Cangkir itu juga hanya dipinjamkan?"

Adrian memijat pangkal hidung. "Arka membuatnya di sekolah. Dia ingin memberikannya kepada Vania karena Vania ulang tahun minggu ini."

"Hari ini ulang tahun saya."

"Aku bilang aku lupa memberi tahu. Jangan membuat ini menjadi drama."

Alina menatap pria di depannya.

Lima tahun.

Ia pernah mencintai Adrian dengan cara yang bodoh dan keras kepala. Ia pernah percaya bahwa pria dingin pun bisa mencintai dalam diam. Ia pernah berpikir selama ia cukup sabar, cukup baik, cukup mengerti, suatu hari Adrian akan menoleh dan melihatnya.

Ternyata Adrian memang bisa menoleh.

Hanya bukan kepada dirinya.

Alina berdiri.

Adrian mendongak. "Kamu mau ke mana?"

"Mengambil sesuatu."

Ia berjalan ke ruang kerja kecil di samping dapur. Di laci paling bawah, ada map cokelat yang sudah ia siapkan tiga minggu lalu, setelah Adrian membatalkan janji membawa Arka ke dokter gigi karena Vania menangis di apartemennya.

Alina membawa map itu kembali ke meja makan.

Adrian melihatnya dengan alis sedikit berkerut.

Alina meletakkan map itu di hadapannya.

"Apa ini?"

"Surat gugatan cerai dan draf kesepakatan awal."

Ruangan itu mendadak sunyi.

Adrian tidak langsung menyentuh mapnya. Ia hanya menatap Alina, seperti sedang mencoba memahami bahasa asing.

"Apa maksudmu?"

"Aku mengajukan cerai."

Adrian tertawa kecil. Bukan tawa senang. Tawa dingin, tidak percaya.

"Karena malam ini?"

"Karena lima tahun."

"Alina, kamu lelah. Besok kita bicarakan."

"Aku sudah bicara dengan pengacara."

Kali ini wajah Adrian berubah.

Hanya sedikit. Tapi Alina melihatnya.

"Kamu serius?"

"Sangat."

Adrian berdiri. Tubuhnya tinggi, bayangannya jatuh ke meja makan. "Kamu pikir setelah bercerai kamu mau hidup dengan apa? Kamu tidak bekerja selama bertahun-tahun. Semua rekening rumah tangga aku yang urus."

"Itu urusanku."

"Dan Arka?"

Nama itu menusuk, tapi Alina tidak mundur.

"Arka sudah memilih."

"Dia anak kecil."

"Benar. Tapi kamu orang dewasa. Dan kamu membiarkannya melukai ibunya sendiri."

Adrian menatapnya tajam. "Jangan menyeret anak kita ke permainanmu."

"Aku tidak sedang bermain."

Alina mengambil ponselnya, lalu mematikan lilin yang bahkan belum sempat menyala. Gerakannya pelan, hampir lembut.

"Selamat ulang tahun untukku," katanya lirih.

Adrian terdiam.

Alina mengangkat wajah.

"Mas Adrian, tanda tangani kalau kamu sudah siap. Kalau Vania ingin menjadi bagian dari keluarga ini, aku akan memberi jalan."

Mata Adrian semakin gelap.

"Kamu akan menyesali ini."

Untuk pertama kalinya malam itu, Alina tersenyum.

Tipis. Tenang. Lelah.

"Tidak. Yang kusesali hanya karena aku menunggu selama ini."

Ia berbalik meninggalkan meja makan.

Di belakangnya, kue ulang tahun tetap utuh.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Alina tidak merasa perlu membereskan apa pun.

Episode 2

Bab 02 - Tante Vania Lebih Cocok

Pagi itu, rumah keluarga Wicaksono tetap berjalan seperti biasa.

Setidaknya, dari luar terlihat seperti biasa.

Lampu ruang makan menyala terang. Aroma kopi hitam memenuhi udara. Sopir sudah menunggu di garasi. ART menata piring di meja sambil sesekali mencuri pandang ke arah Alina, seolah semalam suara Adrian yang meninggi telah sampai ke dapur belakang.

Alina turun pukul enam tiga puluh.

Ia tidak memakai apron.

Biasanya, pada jam segini ia sudah berdiri di dapur sejak satu jam sebelumnya. Ia akan memastikan telur untuk Arka tidak terlalu matang, kopi Adrian tidak terlalu pahit, roti untuk Ibu Ratna tidak dipanggang terlalu kering, dan jus hijau untuk mertuanya tidak mengandung terlalu banyak seledri.

Pagi ini, rambutnya terikat rapi. Ia memakai kemeja putih sederhana dan celana bahan krem. Di tangannya tidak ada nampan, tidak ada daftar belanja, tidak ada kotak bekal.

Hanya sebuah tas kecil.

Adrian sudah duduk di ujung meja, membaca ringkasan berita bisnis dari tablet. Ia mendongak sebentar ketika Alina masuk, lalu kembali menatap layar.

Tidak ada yang membahas map cokelat semalam.

Mungkin Adrian berpikir bila ia diam, semua akan kembali seperti biasa.

Alina duduk di kursi yang biasanya jarang ia duduki. Kursi di samping, bukan kursi dekat dapur.

Seorang ART bernama Sari mendekat dengan gugup.

"Bu Alina, sarapan untuk Mas Arka mau dibuat seperti biasa?"

"Tanya Pak Adrian," jawab Alina tenang.

Sari terdiam.

Adrian mengangkat wajah.

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak tahu jadwal Arka hari ini. Semalam dia pulang denganmu."

"Kamu ibunya."

"Dan kamu ayahnya."

Suara sendok yang diletakkan ART terdengar terlalu keras.

Adrian menatap Alina beberapa detik. "Jangan mulai pagi-pagi."

Alina menuang air putih untuk dirinya sendiri. "Aku belum mulai apa pun."

Tangga berderit pelan. Arka turun dengan seragam sekolah internasionalnya, rambutnya masih berantakan. Biasanya Alina akan berdiri, menghampirinya, merapikan kerah, mencium keningnya, lalu bertanya apakah semalam ia tidur nyenyak.

Pagi ini, Alina hanya menoleh.

"Selamat pagi, Arka."

Arka berhenti di anak tangga terakhir.

Anak itu memandang ibunya dengan bingung. "Mama kok belum siapin bekal?"

"Hari ini Mama tidak menyiapkan."

Alis kecilnya mengerut. "Kenapa?"

"Mama pikir Papa atau Tante Vania lebih tahu kamu suka apa."

Nama Vania membuat wajah Arka langsung cerah, tapi hanya sesaat. Ia seperti menangkap sesuatu yang tidak enak dari nada ibunya.

"Tante Vania lagi sakit. Mana bisa bikinin bekal."

Alina mengangguk pelan. "Kalau begitu, Papa bisa minta Sari."

Arka menoleh ke Adrian. "Pa, aku mau sandwich ayam yang biasa Mama buat."

Adrian meletakkan tabletnya. "Sari bisa buat."

Arka langsung cemberut. "Beda. Kalau Sari yang buat, sausnya kebanyakan."

Sari yang berdiri di dekat dapur menunduk, wajahnya pucat.

Dulu Alina akan langsung berdiri dan berkata tidak apa-apa, Mama buatkan sekarang. Ia akan meminta maaf kepada Sari walau bukan salahnya. Ia akan menyelamatkan suasana sebelum Adrian kehilangan sabar.

Pagi ini, ia hanya meminum airnya.

Adrian menatap Arka. "Makan apa yang ada."

Arka menatap Alina, lalu bibirnya mulai maju. "Mama marah karena semalam?"

Alina tidak menjawab dengan emosi. "Mama tidak marah."

"Kalau tidak marah, bikinkan bekal."

"Tidak."

Jawaban itu pendek.

Arka seperti tidak pernah mendengar kata itu dari ibunya. Matanya membesar.

"Mama jahat."

Adrian langsung berkata, "Arka."

Namun tegurannya lemah. Lebih seperti formalitas.

Arka turun dan duduk dengan kasar di kursinya. "Tante Vania nggak pernah gitu. Kalau aku minta sesuatu, dia selalu bilang iya."

Alina menatap anak itu.

Arka adalah bayi yang ia kandung dengan muntah setiap pagi selama hampir tujuh bulan. Bayi yang membuatnya berhenti mengambil proyek desain karena dokter menyuruhnya bed rest. Bayi yang ia gendong semalaman saat demam, sementara Adrian berada di Singapura untuk menemani Vania menjalani pemeriksaan.

Anak yang sama kini berkata perempuan lain lebih baik karena lebih mudah berkata iya.

"Tante Vania tidak harus mendidikmu," kata Alina pelan. "Itu sebabnya dia bisa selalu bilang iya."

Arka memukul meja dengan tangan kecilnya. "Aku suka Tante Vania!"

"Aku tahu."

"Kalau Tante Vania jadi Mama, rumah ini pasti lebih enak!"

Ruangan itu langsung membeku.

Sari menahan napas.

Adrian menatap Arka, tapi tetap tidak berbicara.

Alina merasa sesuatu menusuk tepat di bawah tulang rusuknya. Bukan karena ia baru pertama kali mendengar kalimat seperti itu. Arka pernah mengucapkannya dalam bentuk lain, sambil tertawa, sambil memeluk Vania, sambil bilang Tante Vania cantik dan harum.

Tapi kali ini, kalimat itu jatuh di meja tempat ia duduk sebagai ibunya.

"Begitu?" tanya Alina.

Arka mengangkat dagu, meniru ekspresi Adrian saat marah. "Iya. Tante Vania lebih cocok jadi Mama."

Adrian akhirnya bersuara. "Cukup."

Arka langsung menoleh padanya, terkejut. Mungkin ia pikir ayahnya akan membela.

Tapi Adrian hanya berkata, "Makan. Jangan terlambat sekolah."

Alina tersenyum tipis.

Bahkan teguran itu bukan karena Arka melukainya. Teguran itu karena suasana menjadi tidak nyaman.

Ponsel Adrian berbunyi.

Nama Vania muncul di layar.

Alina melihatnya.

Adrian juga tahu ia melihat.

Pria itu mengambil ponselnya, berdiri, lalu berjalan beberapa langkah menjauh sebelum menerima telepon.

"Ya, Van?"

Suaranya langsung berubah.

Lebih rendah. Lebih sabar.

Alina menunduk, mengiris roti di piringnya sendiri. Tangannya stabil. Ia bahkan kagum pada dirinya sendiri.

"Kamu pusing lagi?" Adrian berkata pelan. "Sudah minum obat?"

Arka langsung turun dari kursi. "Tante Vania sakit?"

Adrian menoleh, memberi isyarat agar Arka diam, tapi anak itu sudah berlari mendekat.

"Pa, aku mau lihat Tante Vania sebelum sekolah."

Alina meletakkan pisau.

Adrian menutup bagian mikrofon dengan telapak tangan. "Kamu ada kelas."

"Sebentar aja. Aku mau bawain bekal buat Tante Vania."

"Bekalmu saja belum jadi."

Arka menoleh ke Alina. "Mama, bikinin bubur buat Tante Vania. Dia kalau pusing harus makan yang lembut."

Sari menatap Alina dengan mata panik.

Adrian tidak langsung menolak.

Di masa lalu, Alina pasti sudah berdiri. Ia akan memasak bubur, memasukkan ayam suwir, memisahkan daun bawang karena Vania pernah bilang tidak suka baunya. Ia akan mengemasnya rapi, lalu Adrian dan Arka akan membawa makanan itu ke apartemen Vania tanpa menyebut siapa yang memasaknya.

Hari ini, Alina hanya menatap putranya.

"Tidak."

Arka membuka mulut. "Mama!"

"Kalau Tante Vania ingin makan bubur, Papa bisa membelikan. Atau Tante Vania bisa pesan lewat aplikasi."

"Tapi Mama kan pintar masak."

"Pintar bukan berarti wajib."

Adrian menutup telepon. Wajahnya mulai gelap. "Alina, dia sedang sakit."

"Aku juga pernah sakit."

Adrian terdiam.

Alina menatapnya. "Tiga bulan lalu, aku demam sampai hampir pingsan. Kamu membawa Arka dan Vania ke Bandung karena Vania ingin melihat kebun teh sebelum kondisi tubuhnya memburuk."

"Kita sudah membahas itu."

"Tidak. Kamu yang bicara. Aku yang diam."

Arka bingung melihat kedua orang tuanya. "Mama kan cuma demam."

Alina mengalihkan tatapan pada anaknya.

Ia ingin menjelaskan. Ia ingin berkata bahwa demam itu membuatnya menggigil sendirian di kamar, bahwa ia menelepon Adrian tiga kali dan tidak diangkat, bahwa ia hampir jatuh di kamar mandi.

Tapi ia melihat mata Arka yang keras karena terlalu sering mendengar cerita dari sisi lain.

Ia lelah mengemis agar dipahami.

"Iya," katanya. "Cuma demam."

Arka tampak puas. "Makanya Mama jangan pelit. Tante Vania sakitnya lebih parah."

Adrian memejamkan mata sebentar. "Arka, ke mobil."

"Tapi buburnya?"

"Ke mobil."

Arka mengentakkan kaki, lalu mengambil tas sekolahnya. Sebelum pergi, ia menatap Alina dengan mata basah karena kesal.

"Mama jahat. Kalau Tante Vania jadi Mama, dia nggak akan bikin aku sedih."

Alina tidak menjawab.

Pintu depan tertutup.

Suara mobil menyala beberapa saat kemudian.

Adrian masih berdiri di ruang makan.

"Dia anak kecil," katanya akhirnya.

"Aku tahu."

"Jangan memasukkan kata-katanya ke hati."

Alina tertawa pelan. "Lucu. Saat dia memintaku meminta maaf pada Vania, kamu bilang anak kecil saja tahu siapa yang benar. Saat dia melukaiku, kamu bilang dia anak kecil."

Adrian menatapnya tajam. "Kamu berubah."

"Syukurlah."

"Alina."

"Aku akan ke kantor pengacara jam sepuluh. Draf gugatan akan dikirimkan ke emailmu."

"Aku tidak akan menandatangani apa pun."

"Itu hakmu. Makanya ada pengadilan."

Adrian berjalan mendekat. "Kamu pikir Pengadilan Agama akan langsung mengabulkan semua maumu? Keluargaku punya pengacara terbaik."

"Gunakan."

"Dan Arka?"

Nama itu lagi.

Alina berdiri, mengambil tasnya.

"Untuk saat ini, biarkan Arka tinggal di sini. Dia sudah jelas lebih nyaman denganmu, keluargamu, dan Tante Vania."

Adrian seperti ditampar.

"Kamu tega mengatakan itu?"

Alina menatapnya tanpa berkedip.

"Yang tega adalah orang dewasa yang membiarkan anak lima tahun berpikir ibunya bisa diganti karena perempuan lain lebih manis."

Adrian tidak menjawab.

Alina melangkah melewatinya.

Di pintu, ia berhenti sebentar.

"Mulai hari ini, aku tidak akan memasak untuk Vania. Aku juga tidak akan menyiapkan bekal Arka hanya supaya dia punya tenaga untuk memeluk perempuan yang mengajarinya merendahkan ibunya."

Ia membuka pintu.

Udara pagi Jakarta masuk, panas dan kasar.

Untuk pertama kali dalam lima tahun, Alina pergi tanpa menunggu Adrian memanggilnya kembali.

Episode 3

Bab 03 - Keluar Dari Grup Keluarga

Grup WhatsApp keluarga Wicaksono sudah ramai sejak pukul delapan pagi.

Alina membukanya ketika mobil taksi online yang ia tumpangi berhenti di lampu merah dekat Senayan. Nama grup itu terlalu manis untuk isi percakapannya.

Keluarga Wicaksono.

Pesan pertama datang dari Ratna Wicaksono, ibu Adrian.

Ratna Wicaksono:

Alina, Ibu dengar kamu membuat keributan semalam.

Beberapa detik kemudian, adik ipar Adrian, Melisa, ikut menulis.

Melisa:

Mbak, Vania itu sedang sakit. Kalau Mas Adrian sedikit perhatian, bukannya wajar?

Lalu tante Adrian.

Tante Mira:

Perempuan yang baik itu tahu kapan harus mengalah. Apalagi kalau yang dihadapi orang sakit.

Alina menatap layar ponselnya tanpa ekspresi.

Di samping nama-nama itu, ada tanda centang biru. Semua orang membaca. Tidak ada yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang bertanya kenapa Alina, istri sah Adrian, sampai meminta cerai pada malam ulang tahunnya sendiri.

Mereka hanya ingin memastikan ia kembali ke posisinya.

Diam.

Sabar.

Melayani.

Pesan Adrian masuk bukan di grup, melainkan pribadi.

Adrian:

Jangan menanggapi. Nanti aku bicara dengan Mama.

Alina tertawa kecil.

Selama lima tahun, Adrian selalu berkata nanti.

Nanti aku jelaskan.

Nanti aku bicara.

Nanti aku ganti.

Nanti kalung itu kembali.

Nanti, nanti, nanti.

Alina membuka grup keluarga lagi.

Ratna Wicaksono:

Hari ini Ibu ada jadwal kontrol jam sebelas. Jangan lupa siapkan dokumen rumah sakit dan obat-obatan Ibu.

Melisa:

Oh iya, Mbak, katering untuk arisan Jumat sudah fix kan? Jangan lupa Tante-tante sensitif soal makanan. Jangan sampai malu-maluin keluarga.

Tante Mira:

Arka juga nanti pulang cepat, kan? Tolong minta sopir jemput. Anak kecil jangan kena imbas masalah orang tua.

Alina membaca satu per satu.

Lucu.

Mereka bisa menganggapnya dramatis, cemburu, tidak tahu diri. Tapi ketika ada jadwal rumah sakit, arisan, anak pulang cepat, dan urusan keluarga, mereka tetap menulis namanya.

Karena dalam rumah itu, Alina bukan menantu.

Ia sistem.

Sistem yang memastikan semua berjalan rapi tanpa seorang pun perlu berterima kasih.

Lampu berubah hijau.

Mobil bergerak.

Alina mengetik pelan.

Alina:

Mulai hari ini, urusan pribadi Ibu Ratna, jadwal Arka, arisan keluarga, katering, obat, dan agenda rumah tangga silakan dikoordinasikan dengan Pak Adrian atau asisten rumah.

Grup langsung sunyi.

Selama beberapa detik, tidak ada yang membalas.

Lalu Melisa menulis:

Maksudnya apa, Mbak?

Ratna Wicaksono:

Alina, jangan membawa masalah suami istri ke urusan keluarga.

Alina:

Saya tidak membawa masalah ke mana pun. Saya hanya berhenti mengurus hal-hal yang tidak lagi menjadi tanggung jawab saya.

Tante Mira:

Kamu masih istri Adrian.

Alina:

Untuk proses hukum, sementara masih. Untuk menjadi pelayan semua orang, sudah tidak.

Kali ini grup benar-benar meledak.

Melisa:

Ya ampun, bahasanya!

Tante Mira:

Anak sekarang memang kurang ajar sama mertua.

Ratna Wicaksono:

Alina, datang ke rumah Ibu sekarang. Kita bicara baik-baik.

Alina tidak menjawab.

Ia membuka galeri ponsel dan mengirim satu file PDF ke grup.

Judulnya:

Jadwal dan Kontak Rumah Tangga Wicaksono.

Di dalamnya ada daftar lengkap: nomor dokter Ratna, dosis obat, jadwal kontrol, kontak katering, vendor bunga, guru piano Arka, wali kelas, jadwal vaksin, nomor sopir cadangan, preferensi makanan keluarga besar, bahkan catatan alergi salah satu keponakan Adrian.

Semua itu Alina kumpulkan selama lima tahun.

Tidak ada yang pernah meminta.

Mereka hanya menikmati hasilnya.

Alina:

Semua informasi ada di file. Kalau ada yang kurang, silakan tanya Pak Adrian.

Setelah itu, ia membuka pengaturan grup dan keluar.

Tidak ada adegan besar. Hanya satu nama yang menghilang dari ruang yang selama ini mengikat lehernya.

Namun, dada Alina terasa sedikit lebih ringan.

*****

Di rumah Wicaksono, Ratna menatap layar ponselnya dengan wajah merah padam.

"Dia keluar dari grup?"

Melisa yang duduk di sofa langsung berdiri. "Keluar, Ma. Mbak Alina benar-benar keluar."

Ratna tidak bisa mempercayainya. Selama ini Alina adalah menantu yang paling mudah diatur. Disuruh datang, ia datang. Disindir, ia diam. Dipanggil mengurus acara keluarga, ia selalu siap walau sedang sakit.

Kini perempuan itu keluar dari grup seolah membuang keluarga Wicaksono dari hidupnya.

"Telepon Adrian," kata Ratna.

Melisa segera menelepon kakaknya.

Adrian mengangkat setelah beberapa dering. Suaranya terdengar dingin. "Ada apa?"

"Mas, Mbak Alina keluar dari grup keluarga."

Di seberang sana, Adrian diam sebentar.

"Aku tahu."

"Kok Mas tenang? Mama marah banget. Hari ini Mama kontrol. Semua dokumen biasanya Mbak Alina yang urus."

"Suruh Pak Joko ambil."

"Pak Joko mana tahu dokumennya di mana?"

"Tanya Sari."

Ratna merebut ponsel dari tangan Melisa.

"Adrian, istrimu sudah keterlaluan."

"Ma, aku sedang di mobil."

"Justru itu. Kamu harus pulang dan bicara dengannya. Kalau dibiarkan, dia makin menjadi."

Adrian menatap jalan. Di sebelahnya, Arka memainkan robot kecil, masih kesal karena tidak mendapat bekal.

"Nanti aku urus."

"Nanti lagi? Dari dulu kamu selalu bilang nanti. Lihat hasilnya, dia berani mempermalukan keluarga di grup."

Adrian menutup mata.

Ia ingin berkata bahwa semua ini hanya drama kecil. Alina akan tenang setelah beberapa hari. Perempuan itu selalu begitu. Ia mudah terluka, tapi juga mudah luluh.

Namun bayangan Alina semalam muncul di kepalanya.

Tenang.

Terlalu tenang.

Bukan seperti orang yang ingin ditahan.

Lebih seperti orang yang sudah melepas genggaman.

"Ma, aku akan minta asisten mengurus jadwal kontrol."

"Ibu tidak mau asisten. Ibu mau Alina yang mengurus. Dia tahu obat Ibu."

Adrian membuka file yang dikirim Alina di grup. Ia membacanya sekilas.

Semua ada di sana.

Rapi.

Terlalu rapi.

Nama obat, dosis, jam minum, efek samping, nama dokter, nomor perawat, riwayat alergi, bahkan catatan kecil: Ibu Ratna sering mengaku sudah minum obat padahal belum, cek ulang kotak obat setiap malam.

Adrian menatap catatan itu lama.

Ibunya sering begitu?

Ia tidak tahu.

Selama ini ia hanya tahu ibunya sehat karena Alina selalu memastikan semua terkendali.

"Adrian?" suara Ratna tajam.

"Aku baca filenya dulu, Ma."

"File? Ibu mau diurus pakai file?"

Sebelum Adrian menjawab, ponselnya bergetar lagi. Vania menelepon.

Nama itu muncul di layar, dan seperti biasa, semua prioritas lain bergeser.

"Ma, nanti aku telepon lagi."

"Adrian!"

Ia memutus panggilan ibunya dan menerima telepon Vania.

"Van?"

Suara Vania terdengar lemah. "Maaf mengganggu, Adrian. Aku cuma mau bilang, jangan marahi Alina karena semalam. Aku tidak enak sekali."

Adrian menghela napas. "Kamu tidak salah."

"Tapi dia pasti terluka. Aku lihat unggahanku semalam, mungkin aku terlalu senang sampai lupa menjaga perasaannya."

"Jangan pikirkan itu."

"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya? Aku tidak ingin jadi penyebab rumah tanggamu retak."

Adrian menatap keluar jendela. "Rumah tanggaku tidak serapuh itu."

Vania terdiam sebentar.

"Syukurlah," katanya pelan. "Aku takut Alina benar-benar ingin berpisah."

Adrian tidak langsung menjawab.

Arka yang duduk di sebelahnya tiba-tiba berkata, "Pa, kita ke apartemen Tante Vania dulu? Aku mau kasih robotku."

Adrian menutup mikrofon. "Kamu sekolah."

"Sebentar aja."

Vania seperti mendengar suara itu. "Arka ada di situ? Tidak usah, Adrian. Jangan sampai dia terlambat. Aku tidak apa-apa."

Semakin Vania berkata tidak usah, semakin Adrian merasa harus melakukan sesuatu.

"Aku antar Arka ke sekolah dulu. Setelah itu aku ke tempatmu."

"Adrian, jangan."

"Tidak lama."

Vania menghela napas kecil. "Kalau begitu, hati-hati."

Telepon ditutup.

Adrian menyimpan ponsel, lalu menatap Arka. "Kamu langsung sekolah."

Arka cemberut. "Papa nanti ke Tante Vania?"

"Setelah mengantarmu."

"Aku mau ikut."

"Kamu sekolah."

Anak itu memalingkan wajah ke jendela. "Kalau Mama yang anter, Mama pasti izinin aku mampir."

Adrian mendadak diam.

Tidak.

Alina tidak akan mengizinkan.

Alina hanya akan membujuk Arka dengan sabar sampai anak itu mau sekolah. Ia akan menyiapkan alasan yang tidak membuat Arka merasa ditolak. Ia akan mengatur semuanya tanpa membuat Adrian pusing.

Adrian menyadari sesuatu yang tidak enak.

Selama ini, ia bukan hanya bergantung pada Alina.

Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi ayah tanpa Alina di belakangnya.

*****

Di kantor pengacara kecil di kawasan Kuningan, Alina duduk berhadapan dengan seorang perempuan berusia empat puluhan bernama Nadia.

Nadia membaca dokumen dengan tenang. "Mbak Alina yakin ingin mengajukan cerai gugat?"

"Yakin."

"Biasanya pihak keluarga akan menekan saat proses mediasi. Apalagi keluarga sebesar Wicaksono."

"Saya tahu."

"Mereka mungkin memakai anak sebagai alasan."

Jari Alina berhenti di atas tasnya.

Nadia melihat perubahan kecil itu, lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut. "Saya perlu tahu posisi Mbak soal hak asuh."

Alina menarik napas.

Arka.

Nama itu tetap sakit.

"Untuk sementara, saya tidak akan memaksa Arka tinggal dengan saya."

Nadia tidak langsung menilai. "Alasannya?"

"Dia sudah terlalu lama hidup di lingkungan ayahnya. Dia juga..." Alina berhenti sebentar. "Dia menolak saya."

"Anak lima tahun bisa dipengaruhi."

"Saya tahu. Tapi kalau saya memaksa sekarang, keluarga Adrian akan menjadikannya perang. Arka akan dipakai untuk menekan saya, dan dia akan semakin membenci saya."

Nadia mengangguk pelan. "Jadi kita fokus dulu pada cerai, pembagian harta bersama, nafkah, dan hak kunjung yang jelas."

"Ya."

"Mbak punya bukti?"

Alina membuka folder digital di tabletnya.

Foto Vania.

Rekaman suara Arka.

Riwayat transfer Adrian untuk biaya apartemen Vania.

Jadwal Adrian yang membatalkan janji keluarga demi menemani Vania.

Dokumen medis Ratna yang selama ini ia urus.

Semua ada.

Nadia menatapnya dengan sedikit terkejut. "Mbak sudah menyiapkan ini lama?"

Alina menatap layar.

"Tidak. Saya hanya terlalu sering diberi alasan. Lama-lama alasan itu menjadi bukti."

Nadia tersenyum tipis. "Baik. Kita mulai."

Ponsel Alina bergetar.

Pesan dari Adrian.

Adrian:

Kamu keluar dari grup keluarga?

Alina membaca, lalu mematikan layar.

Nadia bertanya, "Tidak dibalas?"

"Tidak perlu."

Untuk pertama kali, Alina merasa tidak semua panggilan dari rumah itu harus dijawab.

Dan entah kenapa, diam terasa jauh lebih kuat daripada berteriak.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!