Hujan menderu layaknya ribuan jarum es yang menghujam pelataran batu Sekte Awan Hijau. Kilat sesekali menyambar, menerangi malam yang muram dan wajah-wajah dingin para murid sekte yang berdiri melingkar di bawah payung kertas minyak mereka.
Di tengah pelataran, di kubangan lumpur yang mulai berubah warna menjadi merah pekat, seorang pemuda berlutut sambil memegangi perutnya.
Pemuda itu adalah Lin Tian. Jubah abu-abu kusam yang menandakan statusnya sebagai Murid Luar telah robek tak karuan. Darah segar terus merembes dari luka menganga di pusarnya—titik di mana Dantian, pusat energi dan nyawa bagi seorang kultivator, berada.
"Kau terlalu melebih-lebihkan dirimu sendiri, Lin Tian."
Sebuah suara angkuh memecah deru hujan. Zhao Feng, Tuan Muda dari Puncak Awan Hukuman, menatap ke bawah dengan senyum merendahkan. Di tangannya, sebilah pedang perak panjang masih meneteskan darah panas Lin Tian.
Lin Tian mengangkat wajahnya yang pucat pasi. Bibirnya bergetar karena rasa sakit yang merobek jiwa, namun sepasang mata hitamnya menatap tajam bak belati yang tak bisa dipatahkan.
"Kalian... membawa paksa Lin Xue... Dia baru berusia tiga belas tahun!" suara Lin Tian serak, bercampur dengan darah yang menggelegak di tenggorokannya.
Zhao Feng tertawa dingin, menyarungkan pedangnya dengan gerakan elegan. "Bawa paksa? Sungguh kata-kata yang picik. Adikmu memiliki bakat Tubuh Roh Es yang muncul sekali dalam seratus tahun. Tetua Besar secara pribadi mengambilnya sebagai murid langsung. Dia ditakdirkan menjadi naga yang membumbung di atas awan Sembilan Langit!"
Zhao Feng berjongkok, menarik rambut Lin Tian hingga pemuda itu meringis tertahan. "Sedangkan kau? Kau hanyalah sampah dengan bakat akar spiritual tingkat rendah. Kau adalah cacing di tanah. Apakah kau pikir seekor cacing berhak menghalangi jalan seekor naga?"
"Dia... adikku!" Lin Tian menggeram, mencoba mengerahkan sisa tenaga untuk memukul wajah arogan di depannya.
Namun, tanpa Dantian, ia hanyalah manusia fana biasa yang terluka parah. Zhao Feng mendengus, melepaskan cengkeramannya, dan menendang dada Lin Tian hingga pemuda itu terpental beberapa meter, terbatuk darah bercampur air lumpur.
Rasa sakit di perut Lin Tian tak terlukiskan. Dantiannya ibarat cawan porselen yang dipukul godam; hancur berkeping-keping. Sedikit energi Qi yang telah ia kumpulkan dengan susah payah selama lima tahun di tahap Pengumpulan Qi Tingkat 3, kini bocor keluar dan menguap bersama udara dingin malam itu. Kesia-siaan merayapi tubuhnya. Di dunia kultivasi ini, tanpa Dantian, seseorang bahkan lebih rendah dari seekor anjing peliharaan sekte.
Tiba-tiba, sebuah suara tua yang membawa tekanan energi spiritual luar biasa menggema dari salah satu paviliun di puncak gunung.
"Murid Luar Lin Tian, berani menentang keputusan Tetua dan membuat kekacauan. Sesuai hukum sekte, Dantiannya dihancurkan! Mengingat masa pengabdiannya, nyawanya akan diampuni. Buang dia ke Tambang Batu Hitam di Lembah Kematian!"
Mendengar vonis itu, bisik-bisik mencemooh mulai terdengar dari para murid luar yang menonton.
"Tambang Batu Hitam? Itu adalah tempat di mana udara beracun menggerogoti paru-paru. Manusia biasa tanpa perlindungan Qi tidak akan bertahan lebih dari sebulan di sana."
"Dia benar-benar sudah tamat."
"Salah sendiri tidak tahu diri. Adik perempuannya akan hidup makmur, sementara dia mencari mati."
Zhao Feng menatap Lin Tian untuk terakhir kalinya dengan tatapan jijik. "Kau dengar itu, Sampah? Nikmatilah sisa hidupmu yang menyedihkan di kegelapan."
Zhao Feng berbalik dan melangkah pergi, diikuti oleh para pengawalnya. Dua orang penjaga penegak hukum sekte berwajah kasar maju, tanpa ampun menyeret tubuh Lin Tian yang setengah sadar menembus hujan badai.
Pandangan Lin Tian mulai mengabur. Dinginnya hujan mulai meresap ke dalam sumsum tulangnya, namun api di dalam dadanya menolak untuk padam. Bayangan senyum adiknya, Lin Xue, terlintas di benaknya. Ia tahu, alasan adiknya dibawa bukanlah semata-mata untuk dijadikan murid. Ada desas-desus gelap tentang petinggi sekte yang menggunakan kultivator bertubuh yin murni sebagai kuali hidup (human cauldron) untuk menerobos batas kultivasi mereka.
Aku tidak boleh mati...
Di tengah guncangan kereta tahanan yang membawanya membelah hutan malam, Lin Tian menggigit bibir bawahnya hingga robek. Rasa anyir darah membuatnya tetap sadar.
Mereka mengira menghancurkan Dantianku berarti menghancurkan masa depanku.
Jari-jemari Lin Tian yang penuh luka dan kapalan mencengkeram lantai kayu kereta yang kasar. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. Di dunia ini, Qi dikumpulkan di Dantian. Itu adalah hukum besi. Jutaan kultivator mengikuti jalan yang sama selama ribuan tahun.
Tetapi jika langit dan bumi menggariskan bahwa tanpa Dantian seseorang adalah sampah, maka Lin Tian bersumpah untuk menentang langit itu.
Jika cawan itu hancur, maka aku akan menjadikan seluruh tubuhku sebagai cawan! Jika udara menolak untuk masuk, maka aku akan menelannya secara paksa!
Udara di Lembah Kematian seberat timah dan berbau seperti belerang busuk. Kabut hijau tipis—miasma beracun alami—terus-menerus merayap di atas tanah yang gersang.
Kereta tahanan berhenti dengan sentakan keras. Lin Tian ditendang keluar oleh penjaga, tubuhnya menghantam tanah berbatu yang dingin. Luka di perutnya, yang baru saja mengering karena udara malam, kembali sobek dan mengeluarkan darah.
"Bangun, babi malang!"
Sebuah cambuk kulit berduri mencambuk punggung Lin Tian, merobek jubah abu-abunya dan meninggalkan bilur berdarah. Di hadapannya berdiri Mandor Tie, seorang pria bertubuh gempal dengan wajah penuh bekas luka, seorang kultivator tahap Pengumpulan Qi Tingkat 5 yang dibuang ke sini karena pelanggaran ringan bertahun-tahun lalu. Di tangannya, sepotong batu hitam pekat memancarkan aura suram.
"Selamat datang di Tambang Batu Hitam. Di sini, status kalian sebagai murid sekte sudah mati. Kalian adalah budak penggali," geram Mandor Tie, matanya menyapu Lin Tian dan beberapa tahanan lain yang gemetar. "Kalian harus menyerahkan sepuluh bongkahan Batu Hitam setiap matahari terbenam. Kurang satu batu, jatah makan kalian dipotong. Kurang tiga batu, kalian tidur di luar barak untuk dihisap kabut beracun. Mengerti?!"
Lin Tian tidak menjawab. Ia hanya menunduk, mengertakkan gigi, dan perlahan bangkit berdiri. Tangannya yang gemetar menerima sebuah beliung tambang berkarat yang dilemparkan penjaga.
Setiap tarikan napas di tempat ini terasa seperti menghirup pecahan kaca. Miasma itu perlahan meracuni paru-paru dan menyumbat sisa-sisa meridian di tubuh Lin Tian. Tanpa Dantian untuk menyaring dan memurnikan racun tersebut, kematian hanyalah masalah waktu. Sebulan? Mungkin dua minggu.
Tanpa membuang tenaga untuk berbicara, Lin Tian menyeret kakinya memasuki terowongan tambang yang gelap gulita. Di dalam, suara dentingan beliung beradu dengan batu terdengar bersahut-sahutan seperti rintihan iblis di neraka. Para budak tambang yang tubuhnya kurus kering bagai tengkorak hidup menatapnya dengan mata kosong.
Lin Tian tahu ia tidak bisa bersaing dengan budak lain di terowongan utama. Tubuhnya terlalu lemah. Jika ia mencoba menambang di sana, batu hasil jerih payahnya pasti akan dirampas oleh penambang yang lebih kuat. Ia harus masuk lebih dalam, ke area terowongan tua yang ditelantarkan karena rawan runtuh.
Semakin dalam ia melangkah, udara semakin tipis dan dingin. Namun anehnya, kabut beracun di sini mulai menipis.
Trak! Trak!
Lin Tian mulai mengayunkan beliungnya ke dinding batu. Setiap ayunan mengirimkan gelombang rasa sakit yang menyengat ke perutnya. Keringat dingin bercucuran di dahinya. Pandangannya berkunang-kunang.
Satu ayunan untuk Lin Xue...
Dua ayunan untuk Zhao Feng...
Tiga ayunan untuk Sekte Awan Hijau yang munafik...
Kebencian menjadi satu-satunya bahan bakar yang menggerakkan otot-ototnya yang mati rasa.
Hingga pada ayunan ke seratus, beliung karatan itu menghantam sesuatu yang keras dengan suara Deng! yang nyaring. Bukan suara batu yang pecah, melainkan logam beradu logam.
Tiba-tiba, retakan panjang menjalar di dinding gua. Sebelum Lin Tian sempat bereaksi, tanah di bawah kakinya runtuh. Ia terperosok ke dalam kegelapan, berguling menuruni lereng batu tajam, sebelum akhirnya terhempas keras di lantai berbatu yang rata.
"Uhuk!" Lin Tian memuntahkan seteguk darah hitam. Seluruh tulangnya serasa remuk.
Ia mencoba mengatur napasnya di tengah kegelapan pekat. Namun, ada yang aneh. Miasma beracun benar-benar lenyap di ruang bawah tanah ini. Sebagai gantinya, udara dipenuhi oleh tekanan energi yang sangat dingin, tajam, dan memotong, seolah-olah ribuan pedang tak kasat mata ditodongkan ke tenggorokannya. Ini adalah Niat Pedang (Sword Intent) yang murni!
Lin Tian merogoh saku jubahnya, mengeluarkan batu pendar kecil—perlengkapan standar para penambang—lalu mengangkatnya.
Cahaya kebiruan dari batu pendar menerangi ruangan rahasia tersebut, mengungkap pemandangan yang membuat napas Lin Tian terhenti.
Di tengah ruangan, duduk bersila sebuah kerangka manusia. Namun, tulang-tulang itu tidak berwarna putih, melainkan abu-abu gelap dengan kilau metalik, menyerupai baja yang ditempa ribuan kali. Di pangkuan kerangka itu, bertumpu sebilah pedang hitam legam yang ujungnya tertancap ke lantai batu. Tidak ada aura dewa atau makhluk mistis; yang ada hanyalah sisa-sisa dari seorang manusia purba yang kehendak bertarungnya menolak untuk memudar meski dagingnya telah membusuk ditelan zaman.
Pandangan Lin Tian beralih ke dinding batu di belakang kerangka tersebut. Di sana, tertulis rentetan aksara kuno yang diukir dalam-dalam. Bukan menggunakan pahat, melainkan diukir langsung menggunakan jari-jari yang diselimuti Niat Pedang!
"Dantian adalah kelemahan fana. Lautan Qi adalah sangkar yang membatasi."
"Aku, Pedang Gila Gu Chen, menghabiskan tiga ratus tahun memutus meridianku dan menghancurkan Dantianku untuk membuktikan satu hal: Tubuh manusia adalah sarung pedang terbaik di bawah kolong langit!"
"Kepada siapa pun yang menemukan makamku. Jika Dantianmu utuh, enyahlah, karena seni ini akan meledakkan tubuhmu berkeping-keping. Namun jika kau adalah manusia cacat yang telah kehilangan segalanya dan menyimpan dendam setinggi langit, maka pelajari Seni Pedang Sembilan Kematian ini."
Mata Lin Tian membelalak. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena kegembiraan yang meledak-ledak. Jantungnya bergemuruh liar.
"Dantian adalah sangkar... Tubuh adalah sarung pedang..." gumam Lin Tian, membaca baris-baris selanjutnya dengan rakus.
Seni Pedang Sembilan Kematian bukanlah teknik untuk menyerap energi spiritual lembut (Qi) alam. Seni ini menuntut praktisinya untuk menyerap energi destruktif, racun, Niat Pedang yang mematikan, atau aura pembunuhan langsung ke dalam daging dan tulang. Memaksa tubuh hancur dan menyusun dirinya kembali menjadi senjata dewa.
Sembilan Kematian. Sembilan siksaan yang melampaui batas kewarasan.
Langkah pertama: Besi Penempa Daging. Menarik Niat Pedang dari lingkungan sekitar untuk menyayat otot dan urat saraf dari dalam, mengubah kelemahan menjadi ketahanan absolut. Jika kemauannya goyah walau sedetik, Niat Pedang itu akan mengiris jantungnya dari dalam.
Bagi orang waras, ini adalah bunuh diri.
Lin Tian menatap perutnya yang berbalut kain bernoda darah, lalu menatap kerangka Gu Chen. Ia membungkuk perlahan, bersujud tiga kali di hadapan sisa-sisa pendekar pedang kuno itu.
"Senior Gu Chen," bisik Lin Tian, suaranya dingin dan stabil. "Junior Lin Tian hari ini mengambil warisanmu. Jika aku gagal dan mati, biarlah tulangku menemani tulangmu di gua tanpa cahaya ini."
Lin Tian duduk bersila dalam posisi teratai. Ia menutup matanya dan mengikuti mantra pernapasan dari ukiran di dinding.
Tidak butuh waktu lama bagi Niat Pedang purba yang memenuhi ruangan itu untuk merespons. Energi tak kasat mata yang setajam silet mulai mengalir perlahan melalui pori-porinya, langsung menuju otot dan meridiannya yang terluka.
ZRAASH!
Lin Tian membuka mulutnya, memekik tanpa suara. Rasanya seolah jutaan semut yang membawa belati kecil merayap di bawah kulitnya, mencincang dagingnya perlahan-lahan. Pembuluh darah di leher dan dahinya menonjol, nyaris pecah. Darah mulai menetes dari hidung, mata, dan telinganya.
Sakit! Sakit yang membuat kematian terasa seperti hadiah yang indah!
Namun di tengah siksaan mengerikan itu, di bawah wajahnya yang berlumuran darah, bibir Lin Tian melengkung membentuk seringai buas.
Biarkan sakit ini menempaku. Biarkan siksaan ini menjadi taringku.
Waktu seakan kehilangan maknanya di dalam gua tanpa cahaya itu. Entah sudah berapa jam atau berapa hari berlalu sejak Lin Tian memulai tahap pertama Seni Pedang Sembilan Kematian.
Di atas lantai batu yang dingin, tubuh pemuda itu tergeletak tak bergerak, diselimuti lapisan tebal kerak berwarna merah kehitaman—campuran dari darah kering, keringat, dan kotoran sumsum tulang yang dipaksa keluar oleh Niat Pedang murni milik Gu Chen.
Krak... krak...
Sebuah suara retakan pelan memecah keheningan. Lapisan kerak di lengan Lin Tian mulai retak dan berjatuhan, memperlihatkan kulit baru yang tidak lagi pucat dan rapuh, melainkan berwarna sedikit keperakan di bawah pendaran redup batu pendar.
Lin Tian membuka matanya. Tidak ada lagi kekeruhan di sana; yang tersisa hanyalah tatapan sedingin mata pedang yang baru diasah. Ia perlahan bangkit dan duduk. Setiap kali persendiannya bergerak, terdengar suara gesekan halus yang anehnya menyerupai bunyi pedang yang ditarik dari sarungnya.
"Sakitnya sudah hilang..." gumam Lin Tian serak. Ia menatap telapak tangannya sendiri.
Dantiannya masih berupa lubang hitam yang hancur, tidak bisa menampung walau setetes pun energi Qi langit dan bumi. Namun, sebagai gantinya, ia bisa merasakan untaian energi yang tajam dan padat mengalir di dalam otot, pembuluh darah, dan sumsum tulangnya. Dagingnya telah menjadi cawan, dan Niat Pedang adalah airnya.
Ia mengepalkan tinjunya dan meninjunya ke udara kosong.
Wush! PAAT!
Udara meledak dengan suara retakan keras. Gelombang kejut kecil tercipta hanya dari kekuatan fisik murni. Lin Tian terkesiap. Tanpa menggunakan setetes Qi pun, kekuatan pukulan ini setara dengan seorang kultivator tahap Pengumpulan Qi Tingkat 2!
"Ini baru tahap awal Besi Penempa Daging... Sungguh seni terlarang yang mengerikan, namun ini adalah satu-satunya jalan bagiku," bisik Lin Tian sambil menatap kerangka Senior Gu Chen dengan penuh rasa hormat.
Ia tahu, perjalanan ini masih sangat panjang. Kekuatannya saat ini tidak ada artinya di mata para tetua Sekte Awan Hijau, apalagi untuk menembus Tanah Suci dan menyelamatkan adiknya, Lin Xue. Ia harus menahan diri, menyembunyikan kekuatannya, dan menggunakan Tambang Batu Hitam ini sebagai tungku tempa pribadinya. Niat pedang di gua ini masih sangat berlimpah, cukup untuk menopang kultivasinya selama beberapa waktu ke depan.
Lin Tian mengumpulkan sisa-sisa kain jubahnya yang robek, membersihkan diri seadanya, lalu menutupi lorong runtuh yang membawanya ke gua rahasia ini dengan tumpukan batu besar. Kekuatan fisiknya yang baru membuatnya bisa mengangkat bongkahan batu seberat ratusan kati dengan mudah.
Setelah memastikan pintu masuknya tersembunyi sempurna, Lin Tian melangkah kembali ke terowongan tambang utama. Ia harus mengumpulkan kuota Batu Hitam sebelum matahari terbenam, atau Mandor Tie akan mulai curiga.
Saat ia menyusuri lorong yang lembap dan dipenuhi miasma beracun, indranya yang kini jauh lebih tajam menangkap suara rintihan tertahan dan suara pukulan keras dari belokan di depan.
Lin Tian mengintip dari balik bayangan. Di sana, seorang pria dewasa bertubuh kurus namun berotot kawat—salah satu budak veteran—sedang menginjak dada seorang remaja laki-laki yang meringkuk di tanah. Di samping mereka, keranjang bambu milik si remaja telah terguling, memuntahkan beberapa bongkah Batu Hitam.
"Serahkan batu-batu itu, bocah cacat! Jika aku tidak memenuhi kuota hari ini, aku akan mati di luar barak!" bentak pria veteran itu, mengangkat beliungnya tinggi-tinggi, bersiap menghantamkannya ke kaki si remaja.
Remaja itu batuk darah, namun tangannya masih berusaha melindungi sisa batu di dekatnya. Wajahnya dipenuhi debu hitam, tetapi kilat keras kepala di matanya terasa sangat familiar bagi Lin Tian.
Lin Tian memicingkan mata. Lin Chen?
Ingatan lama perlahan muncul. Lin Chen adalah sepupu jauh dari cabang keluarga Lin yang miskin. Berbeda dengan Lin Tian yang berhasil masuk ke Sekte Awan Hijau sebagai Murid Luar, Lin Chen hanyalah pelayan sekte. Setahun yang lalu, Lin Chen dituduh mencuri pil spiritual milik seorang Tetua dan dibuang ke Tambang Batu Hitam. Tidak heran ia terlihat sangat kurus dan nyaris seperti mayat hidup; racun miasma telah menggerogotinya selama setahun penuh.
Melihat beliung itu meluncur turun menuju kaki Lin Chen, mata Lin Tian berkilat dingin. Tubuhnya melesat maju seperti bayangan hantu.
BAM!
Sebelum beliung itu menyentuh Lin Chen, tangan Lin Tian telah mencengkeram gagang kayunya dengan erat. Pria veteran itu terbelalak, berusaha menarik senjatanya, namun gagang beliung itu terasa seolah tertanam di dalam bongkahan besi padat. Tak bergeming sedikit pun.
"Kau..." pria itu mendongak, menatap wajah dingin Lin Tian. "Anak baru! Jangan ikut campur urusan—"
KRAK!
Lin Tian meremas tangannya. Gagang beliung yang terbuat dari kayu ulin keras itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu di dalam genggamannya.
Mata pria veteran itu nyaris melompat keluar dari rongganya. Menghancurkan kayu ulin tebal hanya dengan cengkeraman tangan kosong? Tanpa fluktuasi Qi? Monster macam apa ini?!
"Pergi," kata Lin Tian, suaranya datar namun membawa tekanan berat yang membuat dada pria itu sesak.
Tanpa membuang waktu, pria itu melepaskan sisa gagang beliungnya, berbalik, dan lari terbirit-birit menghilang ke dalam kegelapan terowongan.
Lin Tian menghela napas, menetralkan niat membunuh yang sempat melonjak di darahnya, lalu berjongkok. Ia mengulurkan tangan dan menarik Lin Chen hingga duduk.
Lin Chen terbatuk hebat, memegangi dadanya yang memar. Saat ia mendongak dan menatap wajah penolongnya, matanya terbelalak tak percaya.
"Kakak... Kakak Tian? Kenapa kau bisa ada di tempat neraka ini?!" suara Lin Chen serak dan bergetar. Pandangannya turun ke arah perut Lin Tian yang dibalut kain bernoda darah kering. "Dantianmu... mereka menghancurkannya?"
"Ceritanya panjang, Chen," sahut Lin Tian tenang. Ia memunguti bongkahan Batu Hitam yang berserakan dan memasukkannya kembali ke keranjang bambu milik Lin Chen. "Mulai sekarang, kita bertahan hidup bersama di dasar lubang ini."
Lin Chen menundukkan wajahnya, air mata bercampur debu hitam mengalir di pipinya yang cekung. "Tidak ada harapan di sini, Kak Tian. Miasma ini... meridianku sudah tertutup sepenuhnya. Aku bahkan tidak kuat mengayunkan beliung lebih dari sepuluh kali sehari. Aku hanya menjadi beban."
Lin Tian menatap adik sepupunya itu dalam-dalam. Di dunia kultivasi yang kejam ini, ikatan darah adalah hal yang langka dan rapuh, namun Lin Tian tahu betul rasa sakit kehilangan keluarga. Ia tidak akan membiarkan Lin Chen mati membusuk di sini, persis seperti ia menolak membiarkan Lin Xue berakhir menjadi kuali kultivasi di Tanah Suci.
"Duduklah. Serahkan urusan batu kepadaku," ucap Lin Tian tegas. Ia mengambil beliung karatan miliknya sendiri.
Lin Tian berjalan ke arah dinding batu terdekat. Ia menarik napas dalam-dalam. Otot-otot di lengannya menegang, memancarkan kilau keperakan samar di bawah debu. Ia mengayunkan beliung itu bukan dengan teknik, melainkan dengan kebrutalan murni yang didukung oleh otot tempaan Niat Pedang.
DUAAR!
Batu tambang yang terkenal luar biasa keras itu hancur berantakan dalam satu ayunan, meruntuhkan setengah dinding terowongan dan memunculkan lusinan bongkahan Batu Hitam berkualitas tinggi.
Mulut Lin Chen ternganga lebar. Bahkan Mandor Tie yang berada di Pengumpulan Qi Tingkat 5 tidak bisa menghancurkan batu tambang sebrutal itu!
"Kak... Kak Tian, kekuatan fisik apa ini...?"
Lin Tian menoleh ke belakang, menyeka keringat di dahinya, dan memberikan senyum tipis yang memendam tekad ribuan tahun.
"Ini adalah kekuatan orang cacat yang menolak untuk mati, Chen. Ayo, kumpulkan batunya. Sebentar lagi matahari terbenam. Kita harus memberikan 'salam' yang pantas untuk Mandor Tie."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!