Indonesia
NovelToon NovelToon

Douluo Dalu : Legenda Pemanah Ilahi

Kehidupan yang Membosankan

Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Langit kota dipenuhi awan hitam pekat. Kilatan cahaya dari gedung-gedung tinggi memantul di jalanan basah, sementara suara klakson kendaraan terdengar samar di tengah derasnya hujan malam.

Di lantai dua puluh tiga sebuah gedung perkantoran, seorang pria masih duduk di depan komputer dengan wajah lelah.

Namanya Li Yu’er.

Kemeja putih yang ia kenakan sudah kusut. Dasi hitamnya bahkan telah dilepas dan dilempar sembarangan ke atas meja. Di samping keyboard terdapat dua gelas kopi kosong dan beberapa bungkus makanan instan.

Jam digital di layar monitor menunjukkan pukul 23:57.

Hampir tengah malam.

Namun pekerjaan di layar komputernya masih belum selesai.

“Tch… revisi lagi?”

Li Yu’er mengusap wajahnya perlahan sambil membaca pesan dari atasannya.

“Bagian laporan keuangan kurang rapi. Perbaiki malam ini juga.”

Sudut bibir Li Yu’er berkedut.

Malam ini juga?

Dia bahkan belum makan malam dengan benar.

Namun pada akhirnya ia hanya menghela napas panjang dan kembali mengetik.

Suara keyboard terdengar memenuhi ruangan kantor yang hampir kosong.

Beberapa lampu sudah dimatikan. Hanya area tempat Li Yu’er bekerja yang masih terang.

Beginilah hidupnya selama beberapa tahun terakhir.

Bangun pagi.

Pergi bekerja.

Lembur.

Pulang larut malam.

Tidur beberapa jam.

Lalu mengulang semuanya dari awal.

Kadang Li Yu’er merasa dirinya seperti mesin, bukan manusia.

Tidak ada hal spesial dalam hidupnya.

Tidak punya pacar.

Lingkaran pertemanan kecil.

Tabungan biasa saja.

Bahkan masa mudanya perlahan habis hanya untuk mengejar target perusahaan.

“Kalau tahu begini, dulu aku cari jalan hidup lain aja…”

Li Yu’er bersandar di kursinya sambil menatap langit malam di balik jendela kaca.

Hujan masih turun deras.

Entah kenapa malam ini ia merasa sangat lelah.

Bukan tubuhnya.

Melainkan hatinya.

Ia mengambil ponsel lalu membuka aplikasi novel yang biasa ia baca diam-diam saat istirahat kerja.

Novel favoritnya masih sama.

Douluo Dalu.

Dunia spirit master yang penuh kekuatan fantastis.

Orang-orang bisa terbang.

Menghancurkan gunung.

Membunuh spirit beast ribuan tahun.

Mereka hidup demi menjadi kuat.

Tidak seperti dirinya yang setiap hari hanya berkutat dengan laporan Excel.

Li Yu’er tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.

“Kalau aku hidup di dunia begitu, mungkin hidupku bakal lebih menarik.”

Ia menutup aplikasi novel lalu mematikan komputer.

Pekerjaan akhirnya selesai.

Jam menunjukkan pukul 00:26.

“Pulang…”

Li Yu’er mengambil jaket hitamnya dan berjalan keluar kantor.

Lorong gedung terasa sunyi.

Suara langkah kakinya bergema pelan.

Setelah turun menggunakan lift dan keluar dari gedung, udara dingin langsung menyambut tubuhnya.

Hujan mulai mengecil menjadi gerimis.

Jalanan kota terlihat sepi karena sudah terlalu malam.

Li Yu’er memasukkan kedua tangan ke saku jaket sambil berjalan menuju halte bus di seberang jalan.

Matanya tampak lelah.

Hari ini benar-benar melelahkan.

Saat sedang berjalan, ponselnya tiba-tiba bergetar.

Pesan dari atasannya muncul.

“Besok pagi meeting jam 7. Jangan telat.”

Li Yu’er terdiam beberapa detik.

Lalu tertawa pelan.

Namun tawanya terdengar kosong.

“Kerja, kerja, kerja…”

“Kalau mati besok juga paling perusahaan langsung cari pengganti.”

Ia menggeleng sambil menyimpan kembali ponselnya.

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Li Yu’er mulai menyeberang jalan.

Namun tepat di tengah jalan—

BRAAAAAK!

Suara keras tiba-tiba terdengar dari arah kanan.

Sebuah truk besar meluncur tak terkendali di jalan licin.

Mata Li Yu’er membesar.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Lampu kendaraan yang menyilaukan memenuhi pandangannya.

Suara rem memekakkan telinga.

Tubuhnya membeku.

Dan sedetik kemudian—

DUAAAAR!

Tubuh Li Yu’er terpental beberapa meter.

Rasa sakit luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya.

Pandangan matanya mulai kabur.

Hujan dingin membasahi wajahnya.

Suara orang-orang terdengar samar dari kejauhan.

Namun Li Yu’er tidak bisa mendengar dengan jelas lagi.

Kesadarannya perlahan menghilang.

Dalam detik terakhir sebelum semuanya gelap…

ia hanya berpikir satu hal.

“Ah…”

“Besok masih meeting jam tujuh…”

Lalu dunia berubah gelap gulita.

Entah berapa lama berlalu.

Li Yu’er merasa tubuhnya sangat ringan.

Seolah dirinya melayang di ruang kosong tanpa batas.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada rasa sakit.

Sampai akhirnya—

“Yu’er!”

Suara wanita terdengar samar.

“Yu’er! Bangun!”

Li Yu’er mengernyit.

Kelopak matanya terasa berat.

Namun perlahan ia membuka mata.

Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kayu tua.

“…”

Li Yu’er menatap kosong beberapa saat.

Ruangan sederhana.

Dinding kayu.

Lampu minyak.

Bukan rumah sakit.

Bukan ambulans.

Dan jelas bukan apartemennya.

Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, seorang wanita cantik tiba-tiba memeluknya erat.

“Syukurlah… kamu akhirnya sadar…”

Wanita itu menangis.

Tubuhnya gemetar.

Li Yu’er membeku.

Otaknya belum bisa memproses situasi ini.

Siapa wanita ini?

Di mana dia?

Kenapa tubuhnya terasa sangat kecil?

Li Yu’er perlahan menunduk.

Tangannya…

kecil.

Pendek.

Seperti tangan anak-anak.

Pupil matanya mengecil.

“Apa…?”

Tiba-tiba rasa sakit tajam menusuk kepalanya.

“UGHH!”

Li Yu’er memegangi kepala sambil meringis kesakitan.

Fragmen-fragmen ingatan asing mulai bermunculan di benaknya.

Nama.

Wajah.

Bahasa.

Tempat.

Kehidupan.

Semua bercampur menjadi satu seperti banjir besar.

Beberapa menit kemudian…

napas Li Yu’er menjadi kacau.

Matanya dipenuhi ketidakpercayaan.

Karena ia akhirnya mengerti.

Ia bukan lagi berada di dunia asalnya.

Ia telah bertransmigrasi.

Dan tempat ini…

adalah Benua Douluo.

Tubuh yang ia tempati sekarang juga bernama Li Yu’er.

Anak laki-laki berusia enam tahun dari desa kecil di pinggiran Heaven Dou Empire.

Li Yu’er terdiam lama.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Sebagai penggemar Douluo Dalu, tentu ia tahu dunia seperti apa ini.

Dunia tempat kekuatan adalah segalanya.

Spirit master kuat dapat menentukan hidup dan mati seseorang hanya dengan satu kalimat.

Orang lemah bahkan tidak punya hak memilih nasibnya sendiri.

Namun di saat bersamaan…

napas Li Yu’er perlahan menjadi berat.

Karena ia juga tahu sesuatu yang lebih penting.

Menurut ingatan tubuh ini…

besok adalah hari kebangkitan roh bela dirinya.

Hari yang akan menentukan masa depannya di dunia ini.

Apakah ia akan menjadi orang biasa…

atau melangkah ke dunia para spirit master.

Li Yu’er perlahan mengepalkan tangan kecilnya.

Tatapannya berubah rumit.

Di dunia ini…

tanpa kekuatan, seseorang bahkan tidak memiliki hak untuk hidup dengan tenang.

Dan kali ini—

Li Yu’er tidak ingin menjalani kehidupan membosankan seperti sebelumnya lagi.

Kebangkitan Roh Bela Diri

Pagi hari di Desa Maple terasa sangat tenang.

Kabut tipis masih menyelimuti jalanan kecil desa. Udara pagi yang dingin bercampur aroma kayu dan tanah basah setelah hujan semalam.

Li Yu’er duduk di depan rumah kayu sederhana sambil memandangi langit.

Tatapannya jauh berbeda dibanding anak-anak seusianya.

Tenang.

Terlalu tenang.

Sudah semalaman ia mencoba menerima kenyataan bahwa dirinya benar-benar berpindah ke dunia Douluo Dalu.

Dan semakin ia memikirkan semuanya…

semakin jelas satu hal dalam pikirannya.

Kekuatan.

Di dunia Douluo, hanya orang kuat yang bisa hidup bebas.

Orang lemah hanya akan diinjak.

Li Yu’er menunduk menatap telapak tangannya sendiri.

Tubuh kecil.

Usia enam tahun.

Namun di balik tubuh itu terdapat jiwa pria dewasa dari dunia modern.

“Yu’er!”

Suara lembut seorang wanita membuat lamunannya buyar.

Ibunya berjalan keluar rumah sambil membawa semangkuk sup hangat.

Wajah wanita itu terlihat cantik dan lembut, meskipun pakaian yang dikenakannya sederhana.

Namanya Lin Yue.

Ibu dari tubuh ini.

“Kenapa melamun dari tadi?” tanyanya sambil tersenyum.

Li Yu’er sedikit terdiam sebelum akhirnya menerima mangkuk sup itu.

“Tidak apa-apa, Ibu.”

Lin Yue mengusap kepala Li Yu’er perlahan.

“Hari ini hari penting untukmu. Jangan gugup.”

Li Yu’er mengangguk pelan.

Hari kebangkitan roh bela diri.

Hari yang menentukan masa depan setiap anak di Benua Douluo.

Jika seseorang memiliki roh bela diri bagus dan soul power bawaan tinggi, maka jalan hidupnya akan berubah total.

Namun jika hasilnya buruk…

mereka hanya akan hidup sebagai rakyat biasa sepanjang hidup.

Li Yu’er menarik napas perlahan.

Jujur saja…

ia juga penasaran.

Roh bela diri apa yang akan ia miliki?

Sebagai orang yang mengetahui alur dunia Douluo, Li Yu’er tentu berharap memiliki roh bela diri kuat.

Namun ia juga tahu kenyataan tidak selalu seindah harapan.

Banyak orang lahir dengan roh bela diri sampah.

Cangkul.

Sapu.

Sendok.

Bahkan rumput liar biasa.

Karena itu, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan nasib mereka sebelum proses awakening dilakukan.

“Yu’er! Cepat!”

“Tuan Spirit Master sudah datang!”

Suara beberapa anak terdengar dari kejauhan.

Li Yu’er segera berdiri.

Lin Yue membantu merapikan pakaiannya sambil tersenyum lembut.

“Ayo.”

Li Yu’er mengangguk.

Tak lama kemudian, mereka berjalan menuju aula kecil di tengah desa.

Hari ini seluruh anak usia enam tahun di Desa Maple berkumpul di sana.

Suasana aula cukup ramai.

Anak-anak terlihat gugup sekaligus bersemangat.

Beberapa orang tua juga ikut datang untuk melihat hasil awakening anak mereka.

Di bagian depan aula berdiri seorang pria berjubah putih dengan lambang khusus di dada kirinya.

Spirit Hall.

Tatapan Li Yu’er sedikit berubah.

Simbol itu sangat familiar baginya.

Pria tersebut tampak berusia sekitar tiga puluhan dengan wajah dingin dan aura tenang.

Di sampingnya terdapat bola kristal biru dan enam batu hitam kecil.

“Semua anak berdiri berbaris.”

Suara pria itu terdengar tenang namun tegas.

Aula langsung menjadi sunyi.

Li Yu’er ikut berdiri di antara anak-anak lain.

Pria berjubah putih itu melirik mereka sekilas sebelum berbicara.

“Aku Spirit Grandmaster dari Spirit Hall cabang Kota Luo’an. Kalian bisa memanggilku Master De.”

“Selanjutnya aku akan membantu kalian membangkitkan roh bela diri.”

Anak-anak langsung terlihat gugup.

Beberapa bahkan menelan ludah.

Master De tidak membuang waktu.

Ia segera meletakkan enam batu hitam membentuk lingkaran di lantai.

“Anak pertama. Masuk.”

Seorang anak laki-laki berjalan masuk dengan wajah tegang.

Cahaya samar mulai keluar dari enam batu hitam.

Tak lama kemudian sebuah cangkul tua muncul di tangan anak itu.

“Roh bela diri cangkul. Tidak ada soul power.”

Master De berkata datar.

Anak itu langsung menunduk kecewa.

Proses awakening terus berlanjut.

Sabit.

Tongkat kayu.

Pisau dapur.

Rumput biru.

Hampir semuanya roh bela diri biasa.

Tidak ada yang spesial.

Li Yu’er diam memperhatikan semuanya.

Ia tahu beginilah kenyataan dunia Douluo.

Mayoritas orang hanyalah rakyat biasa.

Spirit master sejati sangat langka.

“Selanjutnya, Li Yu’er.”

Suara Master De membuat aula menjadi tenang.

Li Yu’er perlahan berjalan maju.

Entah kenapa, sejak tadi Master De beberapa kali memperhatikannya.

Mungkin karena aura Li Yu’er terlalu tenang dibanding anak-anak lain.

Li Yu’er berdiri di tengah lingkaran batu hitam.

“Tenangkan pikiranmu,” ucap Master De.

Li Yu’er mengangguk pelan.

Detik berikutnya—

enam batu hitam mulai bersinar terang.

Gelombang energi hangat menyelimuti tubuh Li Yu’er.

Matanya sedikit membesar.

Ia bisa merasakan sesuatu di dalam tubuhnya bergerak.

Seolah ada kekuatan yang selama ini tertidur mulai bangkit.

WHUSHH—

Cahaya biru keperakan tiba-tiba muncul di tangan kanannya.

Seketika suasana aula berubah sunyi.

Sebuah busur panjang indah perlahan terbentuk.

Busur itu berwarna perak gelap dengan ukiran cahaya menyerupai bulan sabit.

Aura dingin namun elegan menyelimuti seluruh ruangan.

Bahkan udara di sekitar terasa sedikit berubah.

Mata Master De langsung membesar.

“Ini…”

Li Yu’er sendiri sedikit terkejut.

Karena busur itu sangat familiar.

Moonlit Arrow.

Roh bela diri yang mirip kemampuan Miya dari Mobile Legends: Bang Bang.

Namun sebelum siapa pun sempat berbicara—

DEG!

Jantung Li Yu’er tiba-tiba berdegup keras.

Sebuah cahaya emas samar muncul sesaat di tubuh kirinya.

Sangat singkat.

Namun Li Yu’er langsung merasakan hawa suci yang luar biasa kuat.

Matanya mengecil.

Roh kedua!

Valkyrie Freya hampir muncul!

Untungnya ia bereaksi cepat.

Li Yu’er segera menekan energi itu kembali ke dalam tubuhnya.

Cahaya emas tadi menghilang seolah tidak pernah ada.

Tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Kecuali…

tatapan Master De sempat berubah sedikit aneh.

Namun pria itu segera mengalihkan perhatiannya pada busur di tangan Li Yu’er.

“Roh bela diri tipe busur…”

“Dan kualitasnya sangat tinggi…”

Master De terlihat serius sekarang.

Ia segera mengambil bola kristal biru.

“Sentuh ini.”

Li Yu’er menarik napas pelan lalu meletakkan tangannya di atas kristal.

Detik berikutnya—

BOOM!

Cahaya biru terang langsung memenuhi seluruh aula.

Kristal di tangan Master De bersinar sangat terang hingga hampir menyilaukan mata semua orang.

Ekspresi pria itu berubah drastis.

“Ini…!”

“Innate full soul power?!”

Genius dari Desa Maple

Cahaya biru dari kristal soul power memenuhi seluruh aula.

Begitu terang hingga beberapa anak refleks menutup mata mereka.

Suasana mendadak menjadi sunyi.

Master De menatap kristal di tangannya dengan ekspresi tidak percaya. Tangannya bahkan sedikit gemetar.

Sebagai Spirit Grandmaster dari cabang Spirit Hall, ia sudah melakukan awakening untuk ratusan anak selama bertahun-tahun.

Namun…

ini pertama kalinya ia melihat cahaya sekuat ini di desa kecil seperti Maple.

“Innate… full soul power…”

Suara Master De terdengar pelan.

Namun seluruh aula tetap bisa mendengarnya dengan jelas.

Seketika keributan pecah.

“Apa maksudnya?”

“Full soul power itu apa?”

“Yu’er jadi spirit master?”

Para penduduk desa mulai saling berbisik dengan wajah terkejut.

Mereka memang rakyat biasa dan tidak terlalu memahami dunia spirit master, tetapi mereka tahu satu hal—

anak dengan bakat tinggi sangat langka.

Li Yu’er sendiri diam berdiri di tengah aula.

Di permukaan, wajahnya tampak tenang.

Namun di dalam hati, ia sedikit terkejut.

Innate full soul power.

Artinya sejak lahir soul power miliknya langsung berada di level sepuluh.

Bakat seperti itu bahkan di dunia asli Douluo termasuk kategori monster.

Namun yang membuat Li Yu’er lebih waspada adalah kejadian tadi.

Roh kedua miliknya hampir muncul.

Untung ia berhasil menekannya tepat waktu.

Kalau tidak…

situasinya bisa menjadi jauh lebih rumit.

Master De menarik napas panjang sebelum akhirnya menatap Li Yu’er sekali lagi.

Tatapannya kini benar-benar berbeda.

Tidak lagi seperti melihat anak desa biasa.

Melainkan seperti menemukan harta berharga.

“Li Yu’er.”

“Ya, Master.”

“Kamu… apakah pernah mempelajari teknik memeditasi soul power sebelumnya?”

Li Yu’er menggeleng.

“Belum pernah.”

Master De terdiam sesaat.

Semakin tinggi bakat seseorang, biasanya semakin sulit menyembunyikan auranya saat awakening. Namun anak di depannya justru terlalu tenang.

Tatapannya stabil.

Napasnya teratur.

Tidak terlihat panik ataupun terlalu bersemangat.

Sulit dipercaya itu adalah reaksi anak usia enam tahun.

Namun pada akhirnya Master De hanya menganggap Li Yu’er memiliki mental yang dewasa.

Ia kembali menatap busur perak di tangan Li Yu’er.

Semakin diperhatikan, semakin luar biasa roh bela diri itu terlihat.

Ukiran bulan sabit di badan busur tampak hidup. Aura dingin yang dipancarkannya juga jauh melampaui roh bela diri biasa.

“Coba tarik talinya,” ucap Master De.

Li Yu’er sedikit mengangguk.

Ia mengangkat busur itu perlahan.

Begitu jari-jarinya menyentuh tali busur—

WHUSSH!

Cahaya biru keperakan berkumpul di udara.

Sebuah panah energi perlahan terbentuk secara otomatis.

Penduduk desa langsung membelalakkan mata.

“Panah cahaya?!”

“Bukannya dia belum punya soul ring?”

Master De juga tampak terkejut.

Biasanya spirit weapon tanpa soul ring tidak akan menunjukkan kemampuan terlalu jelas.

Namun roh bela diri Li Yu’er seolah memiliki spiritualitas tinggi.

Bahkan sebelum benar-benar menjadi spirit master.

Li Yu’er sendiri bisa merasakan sesuatu yang aneh.

Busur itu terasa seperti bagian dari tubuhnya sendiri.

Ia tahu cara menggunakannya secara naluriah.

Seolah kemampuan memanah telah tertanam di jiwanya sejak awal.

Perlahan ia menarik tali busur lebih jauh.

Energi biru di panah itu langsung bergetar hebat.

Aura tajam memenuhi aula.

Bahkan beberapa anak tanpa sadar mundur ketakutan.

Master De segera mengangkat tangan.

“Cukup!”

Li Yu’er langsung melepaskan tali busur.

Panah cahaya menghilang menjadi partikel-partikel kecil.

Master De menatapnya lama.

Lalu akhirnya ia berkata pelan,

“Spirit weapon kelas atas…”

“Dan kemungkinan besar memiliki atribut cahaya atau bulan.”

Li Yu’er pura-pura bingung.

“Atribut bulan?”

Master De mengangguk.

“Setiap roh bela diri memiliki karakteristik unik.”

“Busurmu memberi perasaan dingin seperti cahaya bulan, tetapi di saat yang sama memiliki aura suci yang sangat murni.”

“Tipe seperti ini sangat langka.”

Tatapan Master De semakin serius.

Kalau anak ini dibina dengan benar…

masa depannya tidak akan sederhana.

Bahkan mungkin bisa menjadi Spirit Elder kuat suatu hari nanti.

Di belakang kerumunan, ibu Li Yu’er menutup mulutnya dengan mata memerah.

Ia tidak terlalu mengerti dunia spirit master.

Namun melihat semua orang memandang putranya dengan kagum, hatinya dipenuhi kebanggaan.

“Anakku…”

“Kamu benar-benar berhasil…”

Li Yu’er melirik wanita itu sebentar.

Tatapannya sedikit melunak.

Di kehidupan sebelumnya, ia hampir tidak pernah merasakan kehangatan keluarga.

Namun sekarang…

perasaan itu terasa begitu nyata.

Master De menyimpan kristal biru kembali ke dalam soul tool miliknya.

Lalu ia berbicara dengan suara tenang.

“Li Yu’er memiliki innate full soul power.”

“Mulai hari ini, ia resmi memenuhi syarat menjadi spirit master.”

Keributan langsung memenuhi aula.

Banyak penduduk memandang Li Yu’er dengan iri sekaligus kagum.

Bagi desa kecil seperti Maple, muncul satu spirit master saja sudah cukup untuk dibanggakan.

Apalagi genius dengan innate full soul power.

Master De kemudian melanjutkan,

“Aku akan melaporkan hasil awakening ini ke cabang Spirit Hall Kota Luo’an.”

“Dengan bakat seperti miliknya, Li Yu’er kemungkinan besar akan menerima rekomendasi masuk akademi spirit master.”

Mata beberapa penduduk langsung dipenuhi rasa iri.

Akademi spirit master.

Itu tempat yang bahkan tidak berani mereka bayangkan sebelumnya.

Namun Li Yu’er justru sedikit mengernyit dalam hati.

Ia tahu semakin tinggi bakat yang ia tunjukkan…

semakin besar perhatian yang akan datang.

Dan perhatian di dunia Douluo tidak selalu berarti hal baik.

Terutama karena ia menyimpan rahasia twin martial soul.

Saat memikirkan itu—

DEG!

Sebuah sensasi hangat tiba-tiba muncul di tubuh kirinya lagi.

Li Yu’er langsung menegang.

Samar-samar…

ia bisa melihat bayangan cahaya emas muncul di benaknya.

Sayap.

Tombak.

Dan aura suci yang jauh lebih mengerikan dibanding Moonlit Arrow.

Freya.

Roh kedua itu seolah mencoba bangkit kembali.

Li Yu’er segera menenangkan pikirannya.

Beberapa detik kemudian sensasi itu perlahan menghilang.

Namun keringat dingin sudah muncul di punggungnya.

“Masih belum stabil…”

Ia mengepalkan tangan diam-diam.

Sepertinya karena awakening tadi, roh kedua miliknya ikut terpengaruh.

Kalau terus begini, cepat atau lambat keberadaan Freya akan sulit disembunyikan.

Tatapan Li Yu’er perlahan berubah serius.

Ia harus menjadi lebih kuat secepat mungkin.

Setidaknya cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri.

Karena ia tahu…

begitu rahasia twin martial soul terbongkar—

hidupnya tidak akan pernah tenang lagi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!