Brakkk....
Suara dentuman keras dijalanan mengejutkan semua orang. Kecelakaan tunggal yang terjadi pada sebuah mobil yang hilang kendali menabrak pembatas jalan hingga berguling di aspal. Dalam kondisi mobil terbalik seorang bapak berusaha meraih istri dan kedua anaknya yang terluka parah.
Di luar nampak orang-orang berkerumun panik tanpa ada yang berani membantu sebab bau bensin sudah menguar di udara,mereka takut mobil meledak tiba-tiba. Kebetulan saat itu tim damkar melintas,dan segera mengevakuasi korban.
Sementara itu,di sebuah pabrik makanan ringan seorang gadis tertidur saat menunggu giliran nya mengambil uang pesangon. Dalam tidur nya,gadis itu bermimpi...
"Kalian mau pergi kemana ? "
"Kami mau pergi jauh,kamu jaga diri baik-baik ya...maafin bapak dan juga ibu mu tidak bisa terus mendampingi. Kami yakin kamu gadis kuat bisa menjalani hidup mu dengan baik meski tanpa kami"
"Kenapa bapak ngomong seperti itu ? Sebenarnya bapak ,ibu dan adik-adik mau pergi kemana ? Kapan kembali ?"
Dengan raut sedih,pria itu berkata "Kami tidak akan kembali "
"Di lemari ada uang tabungan bapak dan ibu,gunakan itu untuk keperluan mu. Uang buat bayar kontrakan ada di amplop warna putih berikan itu di tanggal 15 pada Bu Endar. Satu lagi bapak ada rumah peninggalan orang tua bapak di kampung. Pergilah ke sana pinta kuncinya pada Nina,sepupu bapak. Alamatnya ada di kertas dibawah uang tabungan"
Gadis itu terperanjat saat seorang teman nya menepuk pundak nya kencang,saking kaget nya gadis itu sampai terjatuh dari kursi nya.
Bruukkk...
" Aduh ....!" Kejut nya sambil meringis mengusap pant*tnya yang terasa panas setelah terjatuh tadi.
Namun alih-alih membantu,teman nya itu malah menertawakan nya begitu nyaring. Meski begitu gadis itu tidak merasa tersinggung apalagi sampai sakit hati,karena memang mereka sudah terbiasa saling ejek dan menertawakan ketika salah satu mendapat musibah ( jangan ditiru ya,gak baik !)
"Ketawa nya kurang kenceng neng !" ucap gadis itu mencebik sambil bangkit lalu duduk kembali di kursi nya.
"Hahaha...lagian elu malah bisa-bisanya molor sih,heran gue" ucap teman nya tak habis pikir.
"Abis ngantuk banget sih gue,semalam abis begadang nyiapin surat-surat lamaran baru " Jawab gadis itu sambil menekuk wajahnya,tetapi perasaan nya mulai tidak enak.
"Wuiihh...gercep banget ! Baru saja lo kena PHK langung gas saja. Gue dong santai ...." Ucap teman nya sok tenang padahal dia pun sebenarnya sedang bingung untuk mencari kerja kemana lagi setelah di PHK massal.
"Huuuuhhh....gue kan mesti bantu orang tua gue,Lit. Kasihan lihat bapak harus kerja terus jadi driver taksi online sementara kondisi nya sedang tidak baik,aku juga kasihan lihat ibu harus ikut kerja pontang-panting di pasar " Terang gadis itu sambil menghela nafas panjang beberapa kali.
Teman nya memperhatikan raut wajah gadis itu yang tak biasa.
"Kenapa Lu ?" Tanya nya
"Perasaan gue gak enak Lit,tadi gue sempet mimpi ibu ,bapak ,dan adik-adik gue pergi pamitan " Jawab gadis itu kembali mengingat mimpi nya barusan.
"Elah,...ketiduran sampai mimpi pula,mimpi apa kau ?" tanya teman nya dengan logat Batak yang dibuat-buat
"Mereka pamitan mau pergi ,Lit. Apa artinya ya ...?" Gumam gadis itu sambil melamun.
"Itu kan hanya mimpi di siang bolong ,jangan terlalu dipikirkan " ucap teman nya sambil memasukan jari telunjuknya ke dalam hidung lalu dikorek-koreknya lubang hidung nya sampai dia berhasil mendapatkan sebuah benda putih kecoklatan ,lalu dijentikkan hingga terlempar ke lantai.
"Iiiuuhhh....jorok ! Lu jadi cewek kok jorok begitu sih ... gimana......"belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya dering ponsel mengalihkan perhatian nya. Kening nya berkerut.
"Bapak ? Tumben telpon di jam sekarang ,ada apa ya perasaan gue kok gak enak " Gumam gadis itu lalu segera menjawab nya panggilan telpon tersebut.
"Iya pak, assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam. Selamat siang dengan saudari Fitriana ? "
Gadis itu terdiam sejenak,suara yang berbicara itu bukan suara ayahnya ,lantas siapa pria itu ? Mengapa bisa menghubungi nya menggunakan nomor ayah nya ?
"Maaf ,apa betul saya bicara dengan saudari Fitriana ?"tanya pria itu lagi
Fitri terkesiap ," I...iya pak,saya Fitri. Maaf anda siapa ya,kenapa bisa menghubungi saya dengan nomor ayah saya ?" tanya nya
"Saya Dion,dari pihak kepolisian hendak mengabarkan jika pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan mobil dan sekarang kondisinya kritis di rumah sakit "
DEG'
Demi apapun,Fitri merasa jantung nya seakan berhenti berdetak ,bak disambar petir siang bolong mendengar nya,gadis itu mengerjap, seketika jantung nya berdebar keras.
"Anda bohong kan ? " Tanya Fitri dengan suara bergetar ,berharap dia salah mendengar.
"Untuk apa saya berbohong ? Maaf sebaiknya saudari segera datang saja ke rumah sakit!" Ucapan pria yang mengaku pihak kepolisan itu segera mengakhiri panggilan.
Fitri termangu di tempat nya dengan ponsel yang masih berada di telinga nya,air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
"Fit... Lo kenapa ?" tanya Lita,"Siapa yang nelpon ?" Lanjut nya
"Polisi. Katanya bapak kecelakaan kondisinya kritis " Jawab Fitri dengan tatapan kosong sementara air mata terus mengalir. Polisi lupa memberi tahu jika yang kecelakaan tak hanya ayahnya ,entah akan bagaimana reaksi gadis itu jika tahu ibu dan kedua adik nya juga turut menjadi korban.
"Hah ? Yang bener Lu ?!" Seru Lira terkejut
"Gue harus pergi sekarang !" Fitri beranjak menuju pintu ruang HRD
Brakkk....
Pintu terbuka dengan kasar membuat staf HRD terkejut.
"Apa-apaan kamu ? Bikin kaget saja , gimana kalau pintu nya rusak ,emang kamu mau ganti,apa ?" Fitri langsung kena semprot
"Maaf Bu,apa bisa saya ambil sekarang uang pesangon saya ? Saya buru-buru mau ke rumah sakit ,ayah saya kecelakaan" Ucap Fitri mengiba
"Hadeuh...di saat seperti ini masih sempat-sempatnya dia inget uang pesangon" Lirih Lita pelan
"Gak bisa begitu Fitri ,semua harus ada prosedur nya. Tunggu nama kamu dipanggil dulu baru kamu bisa ambil uang pesangon mu. Tunggu giliran saja atau kalau tidak kamu bisa ambil nanti " Ucap staf HRD dengan nada ketus
"Bu,tapi saya butuh uang itu buat biaya administrasi rumah sakit,tolong lah Bu...." Pinta Fitri memelas
Lita yang dari tadi hanya diam saja kini ikut berbicara,"Tolong lah Bu,kasih keringanan ,kalau terjadi sesuatu pada ayah nya Fitri apa ibu mau tanggung jawab ? Kondisi nya kritis loh Bu " ucap nya
Staf HRD menatap tajam Fitri dan Lita ,nafasnya kembang kempis. Terlihat sekali jika dia tengah kesal,tetapi sebelum staf HRD itu kembali berbicara,seorang pria paruh baya masuk segera menengahi.
"Kan saya sudah bilang,jangan dipersulit apalagi dia sangat butuh uang itu "Ucap nya
Staf tersebut terkesiap tak menyangka jika atasan nya akan datang.
"Pak Gunawan..."
"Cepat berikan uang mereka !" Perintah Gunawan dengan sinis
"B...baik pak...." Staf itu segera mencari amplop bernama Fitri dan Lita.
"Ini ambil lah "
"Nah gitu dong , dari tadi kek..." Fitri mencebik
Setelah menerima uang pesangon dan menandatangani berkas sebagai tanda bukti penerimaan,Fitri dan Lita segera pergi ke rumah sakit namun sebelumnya mereka mengucapkan terimakasih pada Gunawan yang sudah membantu nya.
Singkat cerita Fitri dan Lita sudah sampai di rumah sakit,mereka segera diarahkan ke ruang ICU oleh polisi yang berjaga di depan. Sesampainya di ruangan ICU Fitri segera membuka pintu dan langsung masuk setelah meminta izin pada dokter sementara Lita menunggu di luar.
"Bapak...." Lirih Fitri dengan air mata yang sudah menggenang siap meluncur kapan saja.
Ayah nya yang masih diambang kesadaran tersenyum melihat kedatangan putri sulung nya. Kondisi nya yang sudah kritis membuat nya tak mampu berkata-kata,hanya kedipan lemah saja yang mampu berisyarat.
"Bapak....kenapa bisa sampai begini ? Bagaimana semua ini bisa terjadi ?" Tanya Fitri dengan tangis tertahan,suaranya pun nampak bergetar namun air mata nya sudah lolos.
Tak ada jawaban dari ayah nya,namun kedipan matanya yang sangat lemah seolah memberikan jawaban yang Fitri sendiri tak mengerti.
Tiba-tiba suara di monitor membuat Fitri terkejut,tubuh ayah nya mengejang. Dadanya terangkat hingga tak lama kemudian tubuh itu diam dengan mata tertutup. Ayahnya telah menghembuskan nafas terakhirnya setelah akhirnya bertemu dengan putri nya. Rupanya ia tak ingin pergi begitu saja sebelum melihat wajah putri nya.
"BAPAAAAKKKK......!"
Dokter segera memeriksa denyut jantung dan beberapa organ vital lain nya,tetapi ternyata ayahnya Fitri memang telah tiada. Dokter pun segera menutup jenazah ayah Fitri dengan selimut putih. Fitri pun histeris Lita yang diluar segera masuk lalu mencoba menenangkan sahabatnya dengan memeluknya.
Namun kesedihan tak hanya di situ saja, dokter mengatakan jika ibu dan kedua adiknya juga telah tiada dan kini berada di kamar jenazah.
Karena tak kuasa menerima kenyataan pahit itu Fitri akhirnya tak sadarkan diri.
Bruuukkkk......
........
Yasin....
Walqur'aanil hakiim...
Alunan doa Yasin terdengar menggema di dalam rumah duka. Jenazah ayah ,ibu ,dan kedua adik Fitri sudah selesai dikafani dan disholatkan,hanya saja proses pemakaman masih tertunda karena proses penggalian liang lahat yang belum selesai.
Tak jauh dari jenazah ada Fitri yang terus saja menangis meratapi kepergian keluarga nya. Lita disamping nya hanya bisa menguatkan dengan terus mengusap punggung Fitri.
"Sudah jangan terus menangis,kasihan ibu ,bapak dan adik-adik Lo kalau Lo seperti ini terus. Mungkin ini sudah takdir nya, ikhlas kan mereka " Bisik Lita
"Huuuuhhuuuu........tapi kenapa harus seperti ini...gue sudah gak punya siapa-siapa lagi selain mereka " tangis Fitri begitu memilukan
"Sabar Fit,masih ada gue, Lo enggak pernah sendirian,orang tua gue juga pasti gak akan keberatan nampung Lo " Ucap Lita
"Emang gue air hujan ditampung ! Yang bener aje !" Fitri yang tengah menangis sesenggukan setiba-tiba itu protes pada sahabatnya.
"Alhamdulillah....." Lirih Lita
"Lo bersyukur lihat gue jadi Yatim piatu ?" Tatapan tajam Fitri langsung mengarah pada Lita.
"Yeee...bukan itu dodol ! Maksud gue tuh gue bersyukur lihat Lo yang kaya gini gue jadi gak terlalu khawatir,gue takut aja abis ini Lo manjat menara sutet terus terjun tanpa payung " Ujar Lita dengan nada pelan.
"Iman gue gak selemah itu lah ,ngaco saja " Cebik Fitri
Fitri lalu kembali menatap keluarga nya yang sudah terbujur kaku terbungkus kain kafan. Hatinya kembali sakit setelah tadi sedikit terabaikan berkat kelakar sahabatnya. Air matanya kembali mengalir dan tangis nya kembali pecah.
Beberapa saat kemudian, pemakaman selesai. Fitri berada di tengah-tengah makam ayah dan ibunya. Disamping makam ibunya berjajar makan kedua adiknya.
"Bu... Pak...! Jaga diri baik-baik ya disana,jangan marah lagi kalau adik-adik nakal. Aku gak bisa bantu lagi soalnya ,jangan lupa untuk kirim surat setiap Minggu,soalnya kan gak ada sinyal Wifi di tempat baru kalian ,hp juga pasti gak ada. Di sini aku juga akan terus doain kalian biar tenang di sana. Aku janji akan hidup lebih baik meski dunia kadang tak pernah bersahabat " Ucap Fitri lirih sambil terus mengusap papan nisan kedua orangtua nya.
Lita menatap aneh sahabat nya,merasa ada yang janggal dengan ucapan nya.
Fitri lalu beralih ke makam kedua adiknya," Rendi,...Mina....jangan lagi repot kan bapak dan ibu ya,kalian jangan terus berantem kasihan ibu dan bapak ,jadilah anak-anak yang baik, Soleh, Solehah, dan berguna bagi nusa bangsa dan agama " Ucapan Fitri membuat Lita semakin yakin jika ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
"Fit,kita pulang yuk ! Sebentar lagi kayanya mau hujan " Ajak Lita sambil menarik lembut lengan kiri Fitri
Fitri terdiam sejenak,lalu kemudian mengangguk.
"Pak, Bu....aku pulang dulu !" Setelah itu Fitri pun beranjak pergi dengan Lita yang selalu setia di samping nya.
"Ya Allah....jangan sampai dia setres gara-gara ditinggal keluarga nya,dia masih muda masa depan nya masih panjang " Lirih Lita membatin
Sesampainya di rumah, Fitri duduk di lantai yang masih tergelar karpet yang dipinjam kan Bu Endar. Suasana sunyi begitu terasa setelah semua orang benar-benar pergi. Kini hanya ada dirinya dan sahabatnya di sana. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Hingga tiba-tiba saja Fitri teringat akan mimpi nya ketika ketiduran di pabrik. Gadis itu beranjak membuat Lita bingung dengan sikap nya.
"Dia mau kemana ?"pikir nya.
Tak berpikir dua kali,Lita pun mengikuti sahabatnya itu.
"Lo nyari apa,Fit ?" tanya Lita di ambang pintu
"Nyari uang yang dikatakan bapak di mimpi gue " Jawab Fitri tanpa menoleh
"Itu kan mimpi Fit ?" Kening Lira mengernyit ,dalam hati ia berkata ,"Sepertinya udah gak ketolong lagi ini mah,Ya Allah kasihan mana masih muda "
Fitri tak perduli dan terus mencari uang itu di kamar orangtuanya.
"Di mimpi gue bapak juga berpesan gue harus memberikan uang kontrakan pada Bu Endar ,bapak juga mengatakan kalau gue harus pergi ke kampung halaman nya buat ngeliat rumah peninggalan orangtua nya bapak " Jelas Fitri
"Eh...makin parah saja dia " Batin Lita.
Lita mengerjap beberapa kali ," Fit,...itu cuman mimpi loh,mimpi bunga tidur " Ucap Lita hati-hati.
"Tapi gue ngerasa itu nyata banget Lita " Ucap Fitri
Lita hanya bisa menghela nafas melihat sahabatnya itu,sungguh ia merasa iba padanya. Mungkin dalam pikiran nya, sahabatnya itu begitu tertekan dengan kepergian keluarga nya yang sekaligus.
"Fit......"panggil Lita lirih
Sementara itu Fitri terdiam setelah menemukan uang tabungan yang dikatakan ayahnya berserta uang kontrakan di amplop putih dibawahnya.
"Lit,...Lita !" Seru Fitri tanpa menoleh ,tatapan nya terus tertuju pada kedua amplop yang kini ditangan nya.
Fitri lantas membawa nya dan menunjukan pada Lita.
"Eh,...apaan tuh ?" tanya Lita
"Ini yang dikatakan bapak,Lit. Uang tabungan dan uang kontrakan. Nah ini alamat desa yang bapak bilang " Tunjuk Fitri
Seketika mata Lita membelalak,"seriusan Lo ...!" Kata Lita setengah tak percaya.
"Kok bisa mimpi jadi kenyataan...." Heran Lita
....
Singkat cerita,40 hari sudah kepergian kedua orangtuanya,kini Fitri merasa bingung harus bagaimana,dan melakukan apa. Berkas-berkas yang ia persiapkan untuk melamar pekerjaan nyatanya masih menumpuk di meja belajar nya. Sunyi,sepi yang dirasakan gadis itu membuat nya sesak saat kembali teringat kenangan bersama keluarga nya. Apapun yang dia lihat langsung membawanya pada ingatan kebersamaan mereka.
"Ya Allah...kenapa harus begini ? Kenapa Kau ambil mereka semua,kenapa gak disisain satu saja ?" Gumam Fitri mulai ngelantur lagi
"Huuuuuuuuhhhh....." Helaan nafas panjang nya seakan memenuhi ruangan.
Ia teringat jika besok tanggal lima belas dan dia harus segera membayar uang kontrakan. Gegas dia ke kamar nya mengambil amplop putih yang sudah disiapkan mendiang orangtuanya. Tak sengaja dia melihat amplop coklat berisi tabungan orangtuanya,namun fokus nya bukan pada isi amplop tersebut melainkan pada tulisan di sana.
"Kampung Suka Makmur " gumam nya.
....
"Yakin Lo mau pergi ke sana ?" Tanya Lita saat Fitri memberi tahu niat nya,saat ini mereka berada di sebuah taman tak jauh dari tempat tinggal Lita.
"Terus gue gimana ?" tanya Lita lagi
"Ya gak gimana-gimana,Lo kalau mau ikut ,hayuk !" Jawab Fitri
"Gak bisa lah,gue kan baru masuk kerja beberapa hari masa mau minta cuti seenak nya" Ucap Lita
"Siapa yang nyuruh Lo cuti ?" tanya Fitri," Orang gue cuman bilang kalau Lo mau ikut ,hayuk ! Enggak juga gak apa-apa,gue bisa kok pergi sendiri" Ucap Fitri lalu menyeruput minuman kopi kemasan cup.
"Sepertinya gue gak bisa deh,sorry ya ..." Ucap Lita sambil meringis
"Iya gak apa-apa keles,santai saja. Gue ngerti kok " Ucap Fitri
"Tapi emang Lo gak apa-apa pergi sendirian? Kalau ada orang jahat berusaha jahatin Lo gimana ?" Tanya Lita nampak khawatir
"Gue tinggal teriak,apa susah nya. Orang pasti akan bantu " Jawab Fitri begitu yakin
"Gue sih gak yakin orang-orang bakal bantu ya. Sorry to say,sekarang ini sedang marak berita tentang korban yang harusnya mendapat perlindungan dan keadilan justru malah jadi tersangka karena melawan,orang yang mau bantu pun jadi mikir-mikir seribu kali,takut kalau-kalau malah dijadikan tersangka" Ujar Lita
Shhrruuuupppp.....
Fitri menyedot minuman terakhir nya sambil memikirkan apa yang dikatakan sahabat nya.
"Iya juga ya, polisi sekarang malah lebih condong ke penjahat,seolah penjahat itu adalah sesuatu yang mulia. Padahal yang namanya kejahatan ya harus ditindak seadil-adilnya,mau penjahat itu celaka atau sampai tewas saat menjalankan kejahatan nya,anggap saja itu karma atas apa yang dilakukannya, bukannya malah mencari kambing hitam untuk ditersangka kan. Sungguh aneh hukum di negeri ini" ucap Fitri lalu melempar cup plastik bekas minuman nya ke tempat sampah. Akan tetapi entah bagaimana ceritanya cup plastik itu justru kembali kepadanya ,dan tepat mengenai wajah nya.
Tuk....
"ADUH.....!"
.......
.....
Tapi emang Lo gak apa-apa pergi sendirian? Kalau ada orang jahat berusaha jahatin Lo gimana ?" Tanya Lita nampak mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Gue tinggal teriak,apa susah nya. Orang pasti akan bantu " Jawab Fitri begitu yakin
"Gue sih gak yakin orang-orang bakal bantu ya. Sorry to say,sekarang ini sedang marak berita tentang korban yang harusnya mendapat perlindungan dan keadilan justru malah jadi tersangka karena melawan,orang yang mau bantu pun jadi mikir-mikir seribu kali,takut kalau-kalau malah dijadikan tersangka" Ujar Lita
Shhrruuuupppp.....
Fitri menyedot minuman terakhir nya sambil memikirkan apa yang dikatakan sahabat nya.
"Iya juga ya, polisi sekarang aneh malah lebih condong ke penjahat. Padahal yang namanya kejahatan ya harus ditindak seadil-adilnya,mau penjahat itu celaka atau sampai tewas saat menjalankan kejahatan nya,anggap saja itu karma atas apa yang dilakukannya, bukannya malah mencari kambing hitam untuk ditersangka kan. Sungguh aneh hukum di negeri ini" ucap Fitri lalu melempar cup plastik bekas minuman nya ke tempat sampah. Akan tetapi entah bagaimana ceritanya cup plastik itu justru kembali kepadanya ,jatuh tepat mengenai wajah nya.
Tuk....
"ADUH.....!"
Fitri terkejut menatap cup plastik yang tergeletak di tanah dengan raut bingung.
"Kok balik lagi ?" tanya nya pelan.
"Lo lemparnya asal-asalan kali,mungkin kena ujung tempat sampah terus mantul lagi terus kena wajah Lo " Ucap Lita berasumsi.
"Enggak ah,perasaan gue udah bener kok lemparnya ,gue lihat sendiri cup ini masuk tempat sampah tadi " Ucap Fitri kekeuh dengan pendirian nya.
"Ya udah sih ,masukin lagi saja !" Ucap Lita tanpa ingin ambil pusing.
Fitri kembali melempar cup plastik itu,namun lagi dan lagi cup plastik itu kembali padanya.
"Tuh kan,apa gue kata" Ucap Fitri
Gluk'
Lita menelan ludahnya, perasaan nya mulai tak enak," Fit,kita cabut yuk ! Gue jadi takut " Ajak nya.
"Bentar,gue masih penasaran " Fitri kembali melempar cup plastik sampai benar-benar masuk ke dalam tempat sampah ,namun sepersekian detik cup itu melayang dan kembali lagi.
"Tuh kan....ayo pergi !" Lita sudah ketakutan saja,keringat dingin mulai membasahinya.
"Hmm...sepertinya ada yang gak beres ini" Gumam Fitri
"Fit ! Udah yuk ah ,jangan aneh-aneh !" Seru Lita menarik paksa Fitri saat itu hendak pergi mendekati tempat sampah.
Keduanya pun akhirnya pergi meninggalkan taman,tanpa mereka ketahui jika di atas tempat sampah itu terdapat sosok pocong yang sedang duduk menikmati angin sore.
"Dasar anak manusia ! Aku lagi enak duduk malah dilempar sampah,emang aku pocong apaan" ucap pocong itu menggerutu.
.........
Keesokan harinya, Fitri sudah berada di terminal bus. Tas selempang nya sudah nangkring cantik di pundak nya. Setelah membayar uang kontrakan pada Bu Endar,Fitri segera berangkat ke terminal. Ia tak membawa banyak barang hanya satu stel pakaian ganti saja karena memang rencananya dia ingin melihat-lihat rumah yang katanya peninggalan almarhum orangtua mendiang ayah nya. Ia yakin mimpi nya itu bukan sekedar mimpi,melainkan sebuah pesan dari ayahnya.
Lita tak mengantarnya karena gadis itu harus pergi bekerja di pabrik. Fitri menunggu kedatangan bus yang akan membawanya ke kampung halaman sang ayah,namun hingga beberapa jam bus tak kunjung tiba, Fitri pun sudah mulai merasa bosan dan lelah menunggu.
"Ini bus nya mana sih ? Kok gak datang-datang !" Cebik nya kesal," Mana sepi lagi , orang-orang pada kemana bukan nya tadi ramai , kenapa mendadak jadi sepi gini " tambah nya bergumam
Hingga beberapa saat kemudian muncul bus berwarna biru kehijauan dari balik asap di jalanan. Melihat bus tersebut,Fitri merasakan sesuatu yang aneh.
"Perasaan gue gak enak ya...." Gumam nya pelan
Bus itu berhenti tepat di depan Fitri ,seorang kernet turun dan segera berteriak,memanggil calon penumpang nya.
"Ayo...ayo ! Ci manggu, Cisuka,Cinangka,Cibuah Cisalak,Suka Asih ,Suka makmur,suka kamu juga boleh ....ayo...ayo.....!" Teriak si kernet
Fitri mengernyitkan keningnya,merasa ada yang tak benar dengan ucapan kernet itu,namun kebingungan tak hanya disitu , suasana yang tadinya sepi kini berubah ramai. Tiba-tiba sudah banyak saja orang-orang yang mengantri ingin naik bus itu.
"Darimana datangnya mereka ? Kenapa tiba-tiba jadi ramai saja ?" Gumam Fitri bertanya-tanya.
"Suka Asih .... Suka makmur ....!" Teriak kernet membuat Fitri sedikit tersentak kaget ,karena entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja si kernet itu sudah berada di depan nya.
"Mau ke Suka Makmur ?" Tanya kernet,spontan Fitri mengangguk.
"Kebetulan bus ini melewati desa Suka Makmur,ayo naik !" Seakan terhipnotis,Fitri mengikuti si kernet menaiki bus. Fitri duduk di bangku tengah berdampingan dengan seorang nenek.
Awalnya semua nampak biasa,suara obrolan khas ibu-ibu, rengekan anak kecil ,dan suara riuh lainnya. Hingga pada saat melewati area hutan semuanya seketika terdiam. Suasana berubah hening ,tak ada obrolan ,bisikan,rengekan dan suara kernet yang meminta karcis semuanya sirna. Hanya deru mesin bus yang terdengar.
Fitri mengira jika semua penumpang tertidur ,tetapi kesunyian yang tak biasa terasa begitu ganjil baginya. Hingga ia menoleh pada nenek disamping nya.
Deg'
Fitri merasa jantung nya lepas ketika si nenek itu menatap ke arahnya sambil tersenyum penuh misteri. Fitri lalu memutar kepalanya memperhatikan penumpang lainnya. Mereka tidak tidur,tubuhnya tegak namun tatapannya kosong. Wajah mereka pucat ada sedikit lingkaran hitam di matanya.
Fitri bukanlah seorang penakut ,tatapi kali ini rasa takut mulai merayapi hatinya.
"Tak usah takut cu...mereka sudah biasa seperti itu setelah melewati jalan ini" Ucap nenek itu tiba-tiba.
Fitri sontak menoleh,"iya nek" ucap gadis itu sambil meringis senyum.
"Sepertinya kamu mulai lelah,ini makanlah biar tenaga mu bertambah lagi" Nenek itu memberikan lontong dan bakwan yang sudah dingin.
"Eh...gak usah nek ,aku gak lapar kok . Buat nenek saja" bukannya ia tak ingin menghargai si nenek ,tetapi Fitri memang belum merasakan lapar.
"Gak apa-apa,nenek sudah makan. Kamu lebih membutuhkan nya saat ini. Makanlah biar stamina kamu kuat " Ucap si nenek penuh arti.
"Baiklah ,makasih ya nek " Akhirnya dengan rasa enggan karena segan Fitri menerima makanan tersebut, lalu perlahan dimakan nya.
Si nenek tak banyak berbicara lagi,hanya tersenyum lalu kemudian menatap kosong ke arah depan. Ekspresi nya jadi sama seperti para penumpang lain nya. Mendadak suasana dalam bus terasa begitu dingin dan mencekam,tak ada suara apapun bahkan suara deru mesin pun mendadak tak terdengar, Fitri menoleh memperhatikan setiap penumpang.
"Mereka pada kenapa ya,kok pada diem gitu tidur enggak ngomong juga enggak "pikir gadis itu, tapi bulu kuduk nya mulai berdiri.
"Jangan-jangan mereka semua itu setan. Dan bus ini....bus setan seperti di cerita-cerita novel yang lain " Bisik hatinya mulai menerka. Namun meski begitu ia tetap terlihat tenang,seperti tak merasa takut sama sekali,padahal tadi dirinya sempat merasa ketakutan.
"Kalau emang bener ini bus hantu.....seru juga ! Baru pertama juga naik bus hantu,kapan lagi coba bisa naik bus hantu "Celetuk gadis bermata coklat itu sambil tersenyum-senyum.
Aneh memang,tapi begitulah Fitri. Dimana orang-orang pada takut berurusan dengan hal gaib,Fitri justru malah antusias. Fitri juga bukan lah seorang indigo yang dapat melihat dan berinteraksi dengan para hantu,tetapi tanpa disadarinya apa yang ia alami saat ini merupakan titik awal dimana hidupnya akan benar-benar berubah.
Para penumpang yang memang merupakan sosok ghaib mulai merasa resah karena target mereka terlihat biasa-biasa saja. Sampai salah satu dari mereka merasa kesal dan akhirnya mulai menakuti Fitri dengan berjalan perlahan dengan langkah terputus-putus sambil menunduk, rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya,penampilan nya mirip sadako. Tiba-tiba hantu itu sudah ada di depan Fitri namun alih-alih terkejut,Fitri malah memukul kepala hantu itu sampai terdengar bunyi nyaring.
Tuk'
Si hantu terkejut lalu mendongak menatap Fitri dengan tatapan tak percaya.
"Kok sakit ya....." Gumam hantu itu melongo
........
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!