Aroma sangit herbal merebus udara.
Sumarni membuka mata. Napasnya tersengal pelan. Langit-langit kamar tidak menampakkan lampu kristal apartemen mewahnya di pusat Sudirman, melainkan kelambu kusam putih tulang yang bergoyang ditiup angin layu. Punggungnya menekan kerasnya kasur kapuk tipis. Hawa dingin merayap tanpa ampun dari lantai tegel abu-abu, menusuk pori-pori kulitnya yang berpeluh.
Lidahnya masih terasa pahit. Pekat dan amis. Seolah tubuh rapuh ini belum selesai mengingat kematian pemilik sebelumnya.
Kilasan memori asing menghantam otaknya tanpa permisi. Tahun 1984. Rumah besar berbau malam batik. Status hina sebagai istri kedua pemilik Pabrik yang dibeli murah untuk satu tujuan: melahirkan anak laki-laki. Lalu, ingatan terakhir yang paling jelas, tubuh ini kejang-kejang di atas lantai, meregang nyawa usai menenggak mangkuk pertama jamu godok semalam.
Perempuan desa yang asli sudah mati. Cangkang kosong ini sekarang diisi oleh jiwa lain. Jiwa seorang mantan CEO yang terbiasa hidup di ujung tanduk, melibas lawan bisnis tanpa belas kasihan.
Suara langkah kaki menggesek lantai mendekat. Pelan, berirama, terukur.
"Sudah bangun, Dik Marni?"
Suara itu mengalun halus. Manis bagai gula jawa, tapi membawa aura sedingin es.
Seorang perempuan paruh baya berdiri anggun di samping dipan. Kebaya kutubaru motif bunga kerinyuh membalut tubuh sintalnya dengan sempurna. Sanggulnya tertata rapi tanpa sehelai rambut pun yang berani keluar dari tempatnya. Bibir berpoles gincu merah bata itu melengkung membentuk senyum keibuan.
Di kedua tangannya bertengger sebuah nampan kayu. Di atasnya, semangkuk keramik putih motif ayam jago mengepulkan uap hitam.
Sulastri. Istri pertama. Nyonya besar di rumah ini.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar." Sulastri meletakkan nampan itu di atas meja kayu kecil di sebelah ranjang. Dia duduk di tepi dipan. Jemarinya yang lentik dan berhias cincin emas besar terulur, menyapu keringat di dahi Sumarni dengan kelembutan yang memuakkan.
"Mas Harjono sampai khawatir semalaman. Katanya kamu tiba-tiba pingsan." Sulastri berdecak pelan, penuh simpati palsu. "Makanya, tubuh itu dijaga. Orang desa memang sering kaget kalau baru pindah ke rumah besar begini. Masuk angin pasti."
Bohong.
Sumarni tidak membalas. Matanya menatap lurus ke wajah perempuan di depannya. Di kehidupan lamanya, dia memimpin rapat dewan direksi yang isinya para serigala berjas mahal. Dia hafal betul anatomi kemunafikan.
Senyum Sulastri terlalu simetris. Suaranya terlalu diatur. Orang yang tulus menolong tidak akan mengunci tatapannya dengan kewaspadaan setajam itu. Tatapan perempuan itu bukan tatapan istri baik-baik. Itu tatapan predator yang takut wilayahnya direbut.
"Mbakyu sudah buatkan jamu godok lagi untukmu." Sulastri mengambil mangkuk dari atas meja. Sendok perak kecil mengaduk cairan hitam pekat di dalamnya, menerbangkan aroma busuk yang memancing rasa mual di perut Sumarni. "Ayo, diminum mumpung hangat."
Ini racun.
Sumarni tahu itu bahkan sebelum mangkuk menyentuh bibirnya.
Otak strategisnya berputar cepat. Fisiknya saat ini lumpuh akibat sisa toksin semalam. Jari-jarinya kaku tersembunyi di balik selimut batik parang. Jantungnya berdebar keras, memompa darah yang terasa berat. Jika dia memberontak sekarang secara membabi buta, tenaganya pasti kalah. Dia butuh momentum.
"Kenapa diam saja, Dik?" Nada suara Sulastri masih mendayu-dayu. Tidak ada tanda-tanda kemarahan. Dia memainkan perannya sebagai kakak madu yang penuh kasih sayang dengan luar biasa sempurna.
"Mbakyu tahu rasanya pahit. Tapi jamu ini resep rahasia keluarga. Biar rahimmu kuat." Sulastri mendekatkan bibir mangkuk ke wajah Sumarni. Uap panasnya menerpa dagu. "Biar Mas Harjono lekas dapat ahli waris laki-laki. Kamu kan dibawa ke sini untuk itu."
Kata-kata itu dirancang untuk merendahkan. Mengingatkan status Sumarni yang tak lebih dari sekadar mesin pencetak anak.
Sumarni menutup rapat bibirnya. Napasnya ditarik perlahan melalui hidung. Mengumpulkan sisa oksigen ke dalam paru-paru.
Melihat respons kaku itu, senyum Sulastri melebar. Ada kilat kepuasan di matanya, menyangka gadis desa ini masih terlalu bodoh dan ketakutan.
"Jangan manja, Dik Marni." Tangan kiri Sulastri yang bebas kini menyentuh rahang Sumarni. Awalnya hanya elusan lembut. Namun sedetik kemudian, jari-jari itu menekan kuat.
Kuku-kuku bercat merah gelap menusuk kulit pipi pucat Sumarni. Rasa sakit menjalar cepat.
"Kamu harus cepat sembuh. Siapa yang mau mengurus Dimas kalau kamu sakit-sakitan begini? Mas Harjono tidak suka perempuan lemah." Suara Sulastri turun satu oktaf. Kelembutannya masih ada, tapi kini bercampur racun ancaman yang mematikan. Sopan, elegan, namun siap mencekik.
"Biar Mbakyu suapi."
Sulastri menyorongkan mangkuk itu lebih dekat. Memaksa ujung keramiknya menabrak bibir bawah Sumarni yang terkatup rapat.
"Buka mulutmu."
Bukan lagi bujukan. Itu perintah mutlak seorang nyonya rumah.
Cairan hitam mendidih tumpah sedikit. Menetes melewati dagu Sumarni, membakar kulit lehernya. Perih. Panas.
Adrenalin meledak di dalam dada Sumarni. Rasa sakit itu menjadi katalis yang membangunkan setiap sel saraf di tubuh rapuhnya.
Lumpuh ini hanya ilusi sisa racun. Dia menolak mati di kamar pengap ini. Dia menolak takluk pada perempuan yang menggunakan kepalsuan sebagai senjata.
Mata Sumarni menajam. Dingin. Kosong dari rasa takut.
Perubahan raut wajah itu tertangkap oleh Sulastri. Untuk sepersekian detik, ada keraguan melintas di mata istri pertama itu. Gadis desa ini seharusnya menangis memohon ampun, bukan menatapnya seolah sedang menghakimi seekor serangga.
"Keras kepala—" desis Sulastri, akhirnya melepaskan topeng ramahnya. Tekanan kukunya di rahang Sumarni makin dalam. Mangkuk di tangan kanannya didorong paksa ke depan.
Tepat di saat itu, lengan kanan Sumarni melesat dari balik selimut.
Tenaga yang dia kerahkan bukan berasal dari otot tubuh yang kurang gizi ini, melainkan dari sisa amarah jiwa modern yang tidak sudi diinjak-injak.
Tangan Sumarni menghantam pergelangan tangan Sulastri dengan telak.
Prang!
Mangkuk keramik bermotif ayam jago itu terlempar ke udara. Menabrak lantai tegel abu-abu dan hancur berkeping-keping. Cairan hitam pekat berbau sangit memercik ke segala arah, menodai ujung kain kebaya mahal milik Sulastri.
Keheningan mutlak menyergap kamar itu. Hanya suara tetesan jamu yang merembes di sela-sela tegel yang terdengar.
Sulastri mematung. Matanya membelalak lebar, menatap noda hitam di kebayanya, lalu beralih ke wajah perempuan di atas ranjang. Rahangnya jatuh. Tidak percaya. Gadis yang semalam sekarat itu baru saja memukul tangannya.
Sumarni menggunakan siku kirinya untuk menopang tubuh. Susah payah, dia mendorong punggungnya menjauhi kasur hingga duduk tegak bersandar pada kepala dipan. Napasnya memburu, dadanya naik turun, tapi postur tubuhnya memancarkan dominasi absolut.
Dia mengangkat tangannya. Menghapus kasar sisa jamu panas yang menetes di lehernya, lalu menatap lurus ke dalam pupil mata Sulastri yang gemetar.
Tatapan itu mengunci sang nyonya rumah. Bukan tatapan gadis desa yang tak berdaya. Itu tatapan seorang penguasa yang baru saja menemukan mangsa pertamanya.
Napas Sulastri tertahan di tenggorokan. Kakinya mundur selangkah tanpa sadar.
Permainan baru saja dimulai.
Pintu jati itu dibanting keras. Suaranya bergema memantul di dinding-dinding kusam.
Sulastri pergi. Langkah kakinya terdengar cepat menjauhi paviliun belakang. Noda hitam jamu merusak kebaya sutranya, membawa lari sisa keangkuhan wanita itu.
Sumarni sendirian.
Tenggorokannya tiba-tiba terbakar. Batuk keras merobek dadanya, memaksa tubuhnya membungkuk. Lendir kehitaman berbau karat besi menetes dari sudut bibirnya, jatuh mengenai selimut motif parang yang menutupi pahanya. Lidahnya kebas. Pahit dan amis darah bercampur menjadi satu.
Tubuh rapuh ini benar-benar menolak mati. Cangkang fisik Sumarni masih berjuang membuang sisa toksin dari tegukan pertama semalam.
Keringat dingin membanjiri dahi. Sumarni menyingkap selimut. Kakinya yang kurus pucat menyentuh lantai tegel abu-abu. Sedingin es. Tidak ada karpet bulu tebal seperti di ruang kerja CEO-nya dulu. Hanya lantai keras berdebu.
Dia butuh air.
Mata Sumarni menyapu ruangan redup itu. Bau kapur barus murahan dan aroma sangit jamu yang tumpah mendominasi udara. Di atas nakas kayu reyot samping ranjang, sebuah kendi tanah liat berdiri diam.
Sumarni menyeret kakinya. Tangannya yang gemetar mencengkeram leher kendi. Dia mengangkatnya, menenggak air putih suam-kuku itu langsung dari bibir kendi. Air membasuh jalur api di tenggorokannya. Napasnya berangsur turun menjadi ritme yang lebih stabil.
Klotak.
Sebuah bunyi benturan kayu halus menghentikan gerakannya.
Sumarni membeku. Telinganya menajam. Bunyi itu berasal dari sudut ruangan, tepat di celah sempit antara bagian bawah lemari pakaian dan dinding.
"Siapa di sana?" Suara Sumarni masih serak. Terdengar mengancam.
Hening.
Di kehidupan lamanya, dia memimpin perusahaan multinasional. Dia tahu cara menghadapi penyusup, pengkhianat, atau musuh dalam selimut. Tangan Sumarni meraba permukaan meja, mencari benda tumpul apa saja. Dia meraih sebuah asbak kayu padat.
Dengan langkah tak bersuara, dia mendekati sudut lemari. Bau debu makin pekat.
Sesuatu meringkuk di celah gelap itu.
Bukan penyusup. Bukan centeng suruhan Sulastri.
Itu seorang anak kecil. Usianya paling baru tiga tahun.
Kaus oblong putihnya menguning, penuh noda tanah di bagian kerah dan lengan. Celana pendek kainnya kebesaran, hanya ditahan oleh gulungan karet gelang di pinggang. Rambutnya lepek menempel di dahi. Bocah itu memeluk lututnya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di sana. Tubuh kurusnya bergetar hebat.
Dimas.
Nama itu meledak di kepala Sumarni. Kepingan memori pemilik tubuh asli kembali mengambil alih. Dimas adalah anak kandung Harjono dari istri pertamanya yang sudah tiada. Pewaris sah pabrik batik ini.
Tapi di rumah ini, statusnya lebih rendah dari anak anjing jalanan. Sulastri membencinya setengah mati. Sedangkan Sumarni yang asli? Perempuan desa itu terlalu sibuk menangisi nasibnya sendiri sebagai istri kedua yang diinjak-injak, hingga membiarkan anak ini berkeliaran seperti hantu tak kasatmata.
Mata bulat Dimas mengintip dari balik lengannya. Sorotnya penuh teror. Tangan mungilnya meremas perutnya yang kempes.
Kruyuk.
Suara perut kosong itu memecah kesunyian. Lantang dan menyedihkan.
Dimas langsung memejamkan mata. Tangan kecilnya naik menutupi kepala, sebuah refleks perlindungan diri. Dia bersiap menerima pukulan, cubitan, atau sapu lidi yang biasa mendarat di tubuhnya setiap kali dia ketahuan menyelinap mencari makanan.
Langkah Sumarni terhenti. Asbak kayu di tangannya perlahan turun.
Di kehidupan masa depannya, Sumarni tidak punya anak. Rahimnya tidak pernah membuahkan kehidupan. Waktunya habis untuk rapat dewan direksi, akuisisi saham, dan menghancurkan rival bisnis. Anak kecil adalah entitas asing yang tidak masuk dalam portofolio hidupnya.
Namun, melihat bahu mungil yang gemetar itu, pertahanan rasionalnya runtuh. Dada Sumarni terasa diremas kuat. Ada perih tajam yang menyengat matanya. Bukan perih karena sisa racun, melainkan murni naluri kemanusiaan. Naluri seorang perempuan.
Sumarni meletakkan asbak itu ke lantai. Dia berjongkok perlahan. Tulang lututnya bergemeretak pelan.
"Kamu lapar?"
Suaranya tidak lagi mengancam. Tidak ada nada tinggi.
Dimas membuka sebelah matanya. Ragu. Takut. Perlahan, dagu kecilnya mengangguk. Gerakan yang sangat rapuh.
Sumarni menoleh ke arah meja bundar kecil di dekat jendela. Ada sebuah tudung saji anyaman bambu kusam di sana. Dia bangkit, berjalan tertatih menghampiri meja itu. Saat tudung saji dibuka, rahang Sumarni mengeras.
Di atas piring seng lecet, hanya ada seporsi nasi dingin yang sudah agak mengering. Sepotong tempe bacem sisa kemarin. Dan sejumput sambal terasi mentah. Tidak ada lauk lain.
Ini sarapan untuk seorang istri pemilik pabrik? Sulastri benar-benar memperlakukan penghuni paviliun ini lebih buruk dari binatang.
Sumarni membawa piring seng itu kembali ke sudut lemari. Dia duduk bersila di atas lantai tegel, tidak peduli kain batiknya kotor. Piring diletakkan di tengah-tengah antara dirinya dan Dimas.
"Sini."
Dimas tidak bergerak. Matanya terpaku pada butiran nasi, tapi ketakutan menahan tubuhnya.
Sumarni mematahkan sedikit ujung tempe, menaruhnya di atas gumpalan nasi, lalu menyodorkannya lebih dekat. "Makan. Kalau perutmu kosong, kamu tidak akan punya tenaga untuk lari dari orang jahat."
Mendengar nada suara yang tidak menghakimi itu, pertahanan Dimas runtuh. Perlahan, bocah itu merangkak keluar dari celah lemari. Tangannya yang mungil dan kotor langsung menyambar nasi.
Dia memasukkan makanan itu ke mulutnya dengan rakus. Terburu-buru. Berantakan. Nasi berjatuhan di dadanya. Dia mengunyah tanpa henti, persis seperti anak kelaparan yang tidak makan berhari-hari.
Sumarni menahan napas. Jemarinya yang dulu terbiasa menandatangani cek miliaran rupiah, kini terulur pelan. Dia mengusap sisa butiran nasi di sudut bibir Dimas. Kulit pipi bocah itu terasa dingin dan kasar.
Satu sentuhan itu membuat Dimas mendongak. Kunyahannya terhenti sejenak.
Untuk pertama kalinya, bocah itu tidak menemukan tatapan jijik atau kasihan yang merendahkan dari ibu tiri barunya. Yang ada di mata Sumarni hanyalah kehangatan pelindung yang kokoh. Seperti perisai baja.
Dimas kembali menunduk, melanjutkan makannya. Kali ini, pundaknya tidak lagi tegang. Dia menggeser tubuh kecilnya, duduk menyandar pada lutut Sumarni. Mencari kehangatan.
Sumarni merapikan poni lepek Dimas. Pikirannya berdengung tajam.
Bocah ini adalah ancaman terbesar bagi takhta Sulastri. Selama Dimas hidup, posisi istri pertama itu tidak akan pernah mutlak. Sulastri sengaja menelantarkannya, membiarkannya mati pelan-pelan tanpa harus mengotori tangannya sendiri secara langsung. Sama liciknya dengan racun jamu itu.
Di kehidupan lalu, Sumarni membangun kerajaan bisnis raksasa dari titik nol. Di tahun 1984 ini, di tengah rumah berisi senyum palsu dan niat membunuh ini, dia akan membangun hal yang sama. Dia akan membangun benteng.
Tidak akan ada yang berani menyentuh bocah ini lagi. Tidak selama Sumarni masih bernapas.
Tiba-tiba, aroma sangit kembali menyerang penciumannya.
Mata Sumarni beralih ke tengah ruangan. Genangan hitam sisa jamu dari mangkuk yang pecah. Cairan itu tidak sekadar tumpah. Busa-buih putih kecil muncul di tepian genangan, bereaksi memakan lapisan nat semen pada lantai tegel.
Jantung Sumarni berdetak lebih cepat.
Racun korosif. Jika Sulastri kembali dengan membawa saksi atau pelayan, perempuan licik itu bisa memutarbalikkan fakta. Dia bisa menuduh Sumarni sengaja merusak obat mahalnya, atau lebih buruk, menemukan bukti racun itu dan melenyapkannya sebelum Sumarni bisa menggunakannya sebagai senjata balik.
Genangan itu harus dibersihkan. Sekarang.
Sumarni baru saja hendak memindahkan kepala Dimas perlahan dari lututnya, ketika rasa sakit yang mendadak meledak di dalam tengkoraknya. Pandangannya berputar. Dunia seakan berhenti bergerak. Suara detak jam dinding mati seketika.
Ting.
Sebuah suara mekanis yang melengking dingin bergema tepat di dalam otaknya. Mustahil. Suara sintetik seperti itu tidak ada di tahun 1984.
[Sistem Istri Ideal Aktif.]
Mata Sumarni membelalak. Pendar biru pucat mendadak muncul di penglihatannya, seperti membelah udara berdebu. Suara lengkingan mekanis itu menggores saraf otaknya, membekukan waktu di dalam paviliun kusam ini.
Huruf-huruf digital tercetak di udara kosong.
[Sistem Istri Ideal Aktif.]
[Misi Pertama: Buang bukti racun tanpa ketahuan.]
[Batas waktu: 5 menit.]
[Hukuman gagal: Kematian Karakter.]
Kematian. Lagi.
Sumarni mendecih. Di kehidupan sebelumnya, dia memimpin rapat pemegang saham dengan ancaman kebangkrutan yang memburu setiap detik. Tenggat waktu adalah makanan sehari-harinya. Angka digital merah berkedip di sudut pandangannya.
04:59.
04:58.
Tek. Tok. Tek.
Bunyi sepatu kulit beradu dengan tegel terdengar dari selasar luar. Berat. Konstan. Berwibawa.
Itu bukan langkah kaki Sulastri yang tergesa-gesa. Itu langkah seorang pria penguasa. Harjono. Tuan Pabrik Batik. Suami dari cangkang rapuh ini.
Waktunya nyaris habis.
Sumarni melempar tubuhnya ke lantai tegel. Dinginnya semen menusuk tulang lututnya. Dia menyambar kain jarik kusam yang tersampir di sandaran kursi rotan. Tangannya bergerak brutal, menyeka genangan cairan hitam yang masih mendesis merusak nat semen.
Panas racun korosif itu menembus kain. Kulit telapak tangannya melepuh. Sumarni menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga asin darah mengecap di lidah. Dia menolak mengeluarkan suara rintihan.
03:45.
Pecahan mangkuk motif ayam jago berserakan. Ujung tajamnya menggores jari telunjuknya saat dia memungut beling itu satu per satu. Darah menetes, menyatu dengan noda jamu. Dia menggulung semua kepingan itu ke dalam jarik kusam rapat-rapat.
Langkah sepatu di luar paviliun makin keras. Jaraknya tidak lebih dari sepuluh meter.
Mata Sumarni menyapu sekeliling. Bawah dipan terlalu mudah diperiksa. Jendela kayu tertutup rapat dari luar. Pandangannya terkunci pada lemari jati raksasa di sudut ruangan.
Dia menyeret kakinya. Pintu lemari ditarik perlahan agar engsel karatatnya tidak berderit. Aroma tajam kapur barus langsung menyengat hidung. Sumarni menjejalkan buntelan jarik itu ke celah paling gelap, tepat di balik tumpukan kebaya lawas yang bau apek. Pintu lemari ditutup kembali.
02:10.
Langkah itu berhenti di depan pintu paviliun. Terdengar ketukan pelan tongkat kayu ke lantai teras.
Sumarni berputar. Dimas masih mematung di dekat kaki meja. Mulut bocah itu sedikit terbuka, ngeri melihat ibu tirinya bergerak beringas seperti orang kesurupan.
Sumarni merenggut lap kecil dari atas nakas. Dia membasahinya dengan sisa air dari kendi tanah liat. Dalam dua langkah lebar, dia meraih bahu kurus Dimas. Lap basah itu digosokkan kasar ke sudut bibir dan dagu sang anak. Remah nasi dan jejak minyak tempe bacem lenyap seketika.
"Duduk di lantai. Menghadap dinding. Tutup mulutmu," bisik Sumarni tajam. Suaranya kering, memerintah tanpa celah bantahan.
Dimas buru-buru memutar tubuhnya. Bocah itu memeluk lutut, meringkuk menghadap tembok kusam. Pundaknya tidak lagi gemetar. Dia tahu perempuan di belakangnya ini bukan lagi ancaman, melainkan tembok pelindungnya.
00:15.
Gagang pintu paviliun ditarik ke bawah. Bunyi logam bergesekan memecah keheningan.
Sumarni melemparkan dirinya kembali ke atas kasur kapuk. Dia menarik selimut motif parang hingga menutupi dada. Kepalanya dijatuhkan ke bantal datar. Napasnya diatur putus-putus. Keringat yang membanjiri pelipisnya menyempurnakan ilusi seorang wanita sakit yang nyaris mati.
00:03.
00:02.
Pintu berderit terbuka.
00:00.
[Misi Selesai.]
[Hadiah: Penawar Racun Tingkat Rendah otomatis disuntikkan.]
Sensasi es seketika menjalar dari ulu hati. Rasa terbakar di tenggorokannya padam. Udara kotor paviliun tiba-tiba terasa segar masuk ke dalam paru-parunya. Kekuatan merayap perlahan ke dalam urat nadi Sumarni.
Tapi ancaman sebenarnya baru saja melangkah masuk.
Siluet tinggi tegap memblokir cahaya matahari sore dari ambang pintu. Bau tembakau cengkih kelas satu dan wangi pomade rambut menendang aroma sangit jamu di udara.
Harjono berdiri di sana. Jas safari abu-abunya tidak memiliki satu pun lipatan kusut. Wajah bersudut tajam itu minim ekspresi. Dingin bak patung pahatan batu. Sorot matanya yang gelap menyapu seluruh penjuru kamar, menilai kerusakan, sebelum akhirnya mengunci sosok Sumarni di atas dipan.
Kepingan memori menyeruak. Di masa lalu, Sumarni asli akan langsung merangkak turun. Dia akan memeluk kaki pria ini. Menangis histeris. Mengemis perlindungan dan mengadukan kelicikan Sulastri dengan air mata bercucuran. Reaksi murahan yang justru membuat Harjono memandangnya rendah bak lintah darat.
Sumarni modern tidak melakukan itu.
Dia hanya menoleh perlahan. Dagunya sedikit terangkat. Matanya membalas tatapan sang Pemilik Pabrik Kretek itu lurus tanpa gentar. Tidak ada air mata. Tidak ada rintihan menyedihkan. Dia menganalisis pria di depannya ini murni sebagai variabel bisnis: sebuah aset yang harus dikendalikan, atau musuh yang harus dihancurkan.
Udara di kamar itu mendadak padat.
Alis tebal Harjono bertaut tipis. Ada riak kebingungan di matanya yang dingin. Dia melangkah masuk, sepatu kulitnya mengetuk lantai.
"Sulastri bilang kamu pingsan. Katanya kamu mengamuk dan menolak pengobatannya." Suara Harjono rendah, bergetar di frekuensi bariton yang menuntut ketaatan.
Sumarni tetap bungkam. Dia membiarkan kesunyian menjadi senjatanya.
Langkah Harjono terhenti tepat di sisi dipan. Matanya yang jeli tiba-tiba turun. Bukan pada wajah Sumarni, melainkan pada tetesan merah pekat di ujung jari telunjuk istrinya itu. Luka gores dari pecahan mangkuk.
Lalu, pandangan pria itu menyapu ke lantai. Tepat pada sisa genangan air kendi yang berantakan di dekat kaki meja. Bukan jamu, hanya air putih. Tapi ada yang salah.
Harjono menunduk. Jari tangannya yang besar menyentuh bercak air di lantai, lalu matanya kembali menatap Sumarni.
"Kalau kamu hanya menolak minum obat," suara Harjono turun menjadi bisikan berbahaya. Matanya menyipit curiga. "Kenapa jarimu berdarah, dan bau kamper di kamar ini tajam sekali?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!