Indonesia
NovelToon NovelToon

Jalan Pedang Xiao Chen

Bab 1: Pedang Kayu

​Matahari sore menggantung rendah, membiaskan warna oranye yang tampak seperti darah di atas debu-debu Desa Bambu. Xiao Chen(10 hampir 11 Th) berdiri mematung. Tangannya yang kecil, kasar, dan dipenuhi kapalan karena mencari kayu bakar, memeluk erat sebuah pedang kayu sederhana.

​"Hei, Xiao Chen! Kenapa kau terus membawa kayu rongsokan itu? Kau pikir kau terlihat keren?" Feng Lin melompat turun dari tumpukan peti tua. Wajahnya penuh seringai merendahkan.

​"Ini bukan kayu rongsokan," bisik Xiao Chen, suaranya parau namun tegas. "Seorang Master pedang memberikannya padaku. Ini adalah janji... bahwa aku akan menjadi pendekar hebat yang berdiri di jajaran legenda."

​Hening sejenak. Angin mati. Lalu, tawa meledak memecah kesunyian.

​"Legenda? Hahaha! Kau dengar itu, Feng Lin?" Li Yuan terbahak hingga memegangi perutnya. "Anak orang miskin sepertimu, yang makannya saja dari sisa pasar, ingin jadi pendekar?"

​Feng Lin mendekat, langkahnya sengaja dibuat mengintimidasi. Ia mencondongkan wajahnya tepat di depan Xiao Chen. "Sadar diri, Xiao Chen. Kau bukan hanya miskin. Ayahmu penjudi payah, pemabuk yang bau araknya tercium sampai ujung desa. Dan ibumu? Semua orang tahu dia mulai menjual dirinya di kedai remang-remang demi sekeping koin."

​"Hentikan!" teriak Xiao Chen. Giginya bergemeretak, matanya memanas oleh air mata yang dipaksa tidak jatuh. "Ibuku... dia tidak seperti itu! Dia hanya lelah!"

​"Oh, ya? Aku mendengar orang tuaku bicara. Ibumu wanita murahan," ejek Feng Lin lagi, kali ini dengan dorongan keras di bahu Xiao Chen.

​Xiao Chen bergetar hebat. Amarah dan malu bercampur menjadi satu di dadanya. Namun, ia tidak menyerang. Ia berbalik, memeluk pedangnya lebih erat. "Kalian boleh menghinaku. Kalian boleh menghajarku. Tapi bermimpi menjadi lebih baik itu lebih terhormat... daripada hanya bisa menghina orang lain!"

​"Kau berani mengajariku?!" Feng Lin meledak. Ia berlari dan melayangkan tinju telak ke rahang Xiao Chen.

​Bugh!

​Xiao Chen tersungkur. Debu jalanan masuk ke mulutnya yang berdarah. Namun, hal pertama yang ia pastikan adalah pedang kayunya tidak patah. Ia segera meringkuk, menjadikan punggungnya sebagai perisai.

​"Hajar dia!" perintah Feng Lin.

​Li Yuan dan Shen Yue ragu sejenak. Shen Yue menatap Xiao Chen dengan tatapan iba, namun gertakan Feng Lin membuatnya tak punya pilihan. Mereka mulai menginjak-injak tubuh mungil itu. Awalnya ragu, namun perlahan, ada rasa puas yang aneh saat mereka meluapkan rasa muak atas hidup mereka sendiri kepada Xiao Chen.

​"Ugh... Argh!" Xiao Chen mengerang, namun ia tidak melepaskan pedangnya. Setiap tendangan yang mendarat di rusuknya ia terima demi memastikan kayu itu tetap utuh.

​Setelah merasa puas, Feng Lin meludah ke arah Xiao Chen yang terkapar. "Ingat ini, sampah. Sampai mati pun, kau hanya akan merangkak di tanah!"

​Setelah mereka pergi, Xiao Chen mencoba bernapas. Dadanya sesak. Ia perlahan duduk dan memeriksa pedang kayunya. Ada goresan sedikit, tapi masih utuh. Sebuah senyum tulus merekah di wajahnya yang lebam. "Setidaknya kau aman," bisiknya.

​Perjalanan pulang adalah siksaan lain. Bisik-bisik warga desa seperti sembilu yang menyayat telinganya.

​"Lihat anak si pelacur itu... malang sekali."

"Ayahnya pasti sedang kalah judi lagi hari ini."

​Langkah Xiao Chen terhenti di depan gubuk kayu yang miring. Dari dalam, suara benturan barang pecah terdengar.

​"Wanita sialan! Beraninya kau menjual diri tanpa seizinku! Mana uangnya?!" suara berat ayahnya menggelegar, diikuti suara tamparan yang keras.

​"Aku melakukan ini karena kau sampah!" ibunya berteriak histeris, suaranya pecah oleh tangis. "Aku membencimu! Aku membenci hidup ini! Dan aku membenci anak yang memiliki darahmu!"

​Xiao Chen membeku di ambang pintu. Kalimat terakhir itu menusuk lebih dalam dari tendangan Feng Lin.

Ia memilih duduk di luar, di atas tanah dingin, memeluk lututnya sampai pintu terbanting terbuka. Ibunya keluar dengan pakaian acak-acakan dan wajah sembab.

Wanita itu menatap Xiao Chen sekejap, bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan kebencian murni sebelum berlari pergi entah ke mana.

​Malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, Xiao Chen tidak tidur. Ia pergi ke kebun belakang, mengayunkan pedang kayunya meniru gerakan pendekar dalam dongeng.

​Wush! Wush!

​Ia terjatuh karena lemas. Saat ia terduduk, ia melihat sebuah ranting tua yang dihantam angin kencang. Ranting itu patah dan jatuh ke tanah. Xiao Chen terdiam. Matanya berbinar.

​"Pedang bukan hanya soal kekuatan atau tajamnya besi," gumamnya pelan, sebuah pemikiran yang terlalu dewasa untuk usianya. "Pedang yang kuat... adalah pedang yang tidak pernah menyerah meskipun dunia mencoba mematahkannya."

​Keesokan paginya, Xiao Chen memikul bungkusan kayu kering yang berat. Ia harus menjualnya untuk membeli sedikit bakpao, atau setidaknya agar ayahnya tidak memukulinya lagi. Namun, di tikungan jalan, tiga bayangan menghalangi jalannya.

​"Berhenti! Berikan uangmu!" Feng Lin menghadang dengan wajah masih kesal karena kejadian kemarin.

​"Aku tidak punya uang. Minggirlah, aku harus bekerja," ucap Xiao Chen dingin.

​Feng Lin tidak bicara lagi. Ia menendang tumpukan kayu di punggung Xiao Chen hingga Xiao Chen jatuh tersungkur. Kayu-kayu yang dikumpulkan sejak subuh itu berhamburan.

​"Kau keras kepala ya?" Feng Lin menyambar pedang kayu yang terselip di pinggang Xiao Chen.

​"Jangan! Jangan sentuh itu!" Xiao Chen berteriak, mencoba merangkak maju.

​Feng Lin tertawa jahat. Ia meletakkan pedang kayu itu di atas sebuah batu besar. "Kau ingin jadi pendekar dengan mainan ini?"

​Krak!

​Feng Lin menginjak kayu itu dengan segenap kekuatannya. Pedang kayu pemberian sang Master pedang itu patah menjadi dua. Belum puas, Feng Lin mengambil salah satu potongannya dan memukul-mukulnya ke batu sampai kayu itu hancur menjadi serpihan kecil tak berbentuk.

​Dunia seakan berhenti berputar bagi Xiao Chen. Sesuatu di dalam dadanya meledak. Ia bangkit dengan kecepatan yang tidak terduga, melayangkan tinju dengan seluruh berat badannya ke arah wajah Feng Lin.

​Bugh!

​Feng Lin terpelanting, hidungnya berdarah. "Kau... kau berani?!"

​"Kau boleh menghajarku sampai mati, tapi kau tidak punya hak menghancurkan mimpiku!" Xiao Chen menerjang seperti serigala terluka.

​Namun, kekuatan satu anak lapar tidak sebanding dengan tiga anak lainnya. Xiao Chen segera diringkus, ditekan ke tanah, dan dihajar habis-habisan.

Kali ini lebih brutal. Feng Lin mengambil uang recehan dari saku Xiao Chen, uang hasil kerja kerasnya kemarin dan membuangnya ke tanah sebelum menginjak tangan Xiao Chen.

​"Mimpi? Sampah sepertimu tidak boleh punya mimpi."

​Setelah mereka pergi, Xiao Chen merangkak mendekati serpihan kayunya. Ia memunguti potongan-potongan kecil itu dengan tangan gemetar. Air mata yang sejak kemarin ia tahan, kini tumpah membasahi debu.

​"Maaf... Tuan pendekar... aku tidak bisa menjaganya," isaknya pelan.

​Dengan langkah gontai dan tubuh yang bersimbah darah kering, ia berjalan menjauh dari desa, menuju tepian hutan yang sunyi. Ia tidak ingin pulang ke rumah yang penuh kebencian.

​Di bawah pohon tua, saat sinar matahari terakhir menyentuh bumi, ia melihat sesuatu yang ganjil. Setengah terkubur di bawah akar pohon, ada sebuah benda panjang yang berbalut kain lusuh. Di sampingnya, terdapat sebuah buku tua dengan sampul yang sudah menguning.

​Xiao Chen mendekat, perlahan menyibak kain itu. Sebuah pedang besi yang hitam dan berkarat, namun memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Di sampul buku itu, tertulis huruf kuno yang seolah bergetar saat ia menyentuhnya.

​Xiao Chen tidak tahu... bahwa di titik nadir kehancurannya, dunia baru saja membuka pintu menuju jalan pedang yang sesungguhnya.

Bab 2: Filosofi pedang

​Xiao Chen mengulurkan tangannya yang gemetar. Saat jemarinya yang lecet menyentuh gagang pedang hitam berkarat itu, sebuah sensasi dingin yang tidak wajar merambat cepat, seolah ribuan jarum es menusuk langsung ke sumsum tulangnya.

​Dunia di sekitarnya mendadak senyap. Suara serangga malam, desis angin, bahkan detak jantungnya sendiri seakan berhenti.

Dalam keheningan absolut itu, Xiao Chen merasakan tarikan gravitasi yang aneh. Ia mencoba mengangkat pedang itu, namun rasanya seolah ia mencoba mencabut akar pohon raksasa dari bumi. Beratnya luar biasa.

​Namun, di balik rasa berat dan dingin itu, ada kehangatan yang kontradiktif. Sebuah perasaan familiar yang menyesakkan dada, seolah-olah pedang ini adalah bagian dari tubuhnya yang hilang berabad-abad lalu dan kini baru kembali.

​"Haaah... haaah..." Xiao Chen terengah, melepaskan pegangannya sejenak. "Pedang apa ini? Dan siapa yang meninggalkan buku ini di tempat seperti ini?"

​Ia beralih pada buku kuno yang tergeletak di samping kain pembungkus. Sampulnya kasar, seperti kulit hewan yang sudah mengering selama ratusan tahun.

Saat ia membukanya, ia tidak menemukan diagram teknik bela diri yang rumit atau gambar jurus yang megah. Hanya ada satu baris kalimat di halaman pertama.

​Xiao Chen adalah anak desa yang buta huruf. Pendidikan adalah kemewahan yang hanya dimiliki anak-anak seperti Feng Lin.

Namun, saat matanya menatap goresan tinta itu, kepalanya berdenyut. Suara seorang pria: berat, dalam, dan penuh wibawa bergema di dalam batinnya, membacakan tulisan tersebut:

​"𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗺𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵. 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸𝗮𝗿 𝘀𝗲𝗷𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮."

​Xiao Chen terpaku. Kalimat itu terasa begitu berat, lebih berat dari pedang yang baru saja ia sentuh. Saat ia menutup buku itu, matanya menangkap sebuah simbol kecil di sudut sampul. Sebuah pola garis yang saling mengunci.

​"Tunggu... simbol ini..." Napas Xiao Chen tercekat. Ia teringat pada pedang kayu yang dihancurkan oleh Feng Lin. Di bagian pangkal pedang kayu pemberian kakek misterius itu, ada simbol yang persis sama.

​Kesadaran menghantamnya. Kakek itu bukan sekadar pengembara tua yang lewat. Pedang kayu itu bukan sekadar hadiah. Semuanya telah direncanakan. Tanpa ia ketahui, Jalan ini... sudah disiapkan untuknya.

​Dengan tekad baru yang menyala, Xiao Chen kembali menggenggam pedang hitam itu. Kali ini, ia tidak akan membiarkannya jatuh. Ia mengerahkan seluruh tenaga dari pinggang dan bahunya. Otot-otot lengannya menegang hingga gemetar hebat.

​Sret... Sret...

​Ujung pedang itu terangkat beberapa inci dari tanah. Gesekan antara gagang pedang yang kasar dengan luka di telapak tangannya membuat darah kembali merembes, membasahi besi berkarat itu.

Sakitnya luar biasa, namun setiap kali darahnya menyentuh pedang, Xiao Chen merasakan aliran energi hangat yang samar mengalir masuk ke tubuhnya, memberinya kekuatan tambahan untuk tetap berdiri.

​"Ayo... berdiri!" teriaknya pada diri sendiri.

​Malam semakin larut. Xiao Chen tidak peduli pada rasa lapar atau dingin. Ia mulai mengikuti petunjuk dasar pernapasan dari buku tersebut. Ia duduk bersila, mencoba memfokuskan pikirannya pada aliran udara.

​Satu jam... dua jam... tidak ada yang terjadi.

​Tubuhnya justru terasa semakin pegal. Pikirannya mulai berantakan, dibayangi ketakutan akan amarah ayahnya jika ia tidak pulang. Namun, tepat saat ia hampir menyerah, pada percobaan ke-sembilan puluh sembilan, ia merasakan sesuatu.

​Bukan di udara, tapi di dalam darahnya. Seperti benang-benang cahaya tipis yang mengalir lembut mengikuti detak jantungnya.

Rasa sakit di bahu dan lengannya perlahan memudar, digantikan oleh sensasi kesemutan yang nyaman.

Tanpa ia sadari, darah dari luka tangannya yang menetes ke tanah mulai terbawa angin, menyebarkan aroma amis yang tajam ke dalam kegelapan hutan.

​"Eh, sudah gelap sekali?" Xiao Chen tersentak dari meditasinya. Ia segera merapikan buku dan mencoba membungkus kembali pedang itu. "Gawat, Ayah pasti akan menghajarku jika tahu aku belum sampai rumah."

​Baru saja ia hendak melangkah, bulu kuduknya berdiri. Atmosfer di sekitarnya berubah drastis. Ada bau busuk dan hawa predator yang pekat.

​Grrrr....

​Sebuah geraman rendah datang dari balik semak-semak. Xiao Chen menoleh pelan, dan jantungnya seakan merosot ke perut. Sepasang mata hijau menyala menatapnya dari kegelapan.

Seekor serigala hutan berukuran besar, dengan bulu abu-abu kusam dan taring yang menonjol keluar, perlahan muncul ke area terbuka.

​Serigala itu adalah predator penyendiri yang kelaparan. Aroma darah segar dari tangan Xiao Chen telah menuntunnya ke sini.

​"S-serigala..." Xiao Chen jatuh terduduk. Tubuhnya lumpuh karena ketakutan. Keringat dingin mengucur deras.

​Serigala itu merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menerjang. Dalam detik-detik mencekam itu, bayangan kematian melintas di depan mata Xiao Chen.

Namun, di tengah keputusasaan itu, kalimat dari pedang kayu kembali terngiang: “𝗣𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝘂𝗮𝘁 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝗮𝗵.”

​"Aku... aku tidak boleh mati di sini!" Xiao Chen berteriak, suaranya pecah. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyambar pedang hitamnya.

​Serigala itu menerjang! Wush!

​Xiao Chen mengayunkan pedangnya secara membabi buta. Pedang itu terlalu berat, gerakannya lambat dan kasar. Tebasannya meleset jauh, hanya membelah udara kosong. Namun, berat pedang itu memberikan momentum yang membuat serigala itu sedikit ragu dan melompat mundur.

​Jantung Xiao Chen berdegup kencang seperti genderang perang. Serigala itu kembali menyerang, kali ini lebih cepat.

​Jleb!

​"ARRGHHH!"

​Rahang serigala itu mengunci bahu kiri Xiao Chen. Gigi-gigi tajamnya menembus kulit dan otot. Xiao Chen bisa merasakan tulang bahunya berderit di bawah tekanan gigitan tersebut. Pedang hitamnya terlepas dari genggaman, jatuh ke tanah.

​Dunia seakan berputar. Rasa sakitnya begitu menyiksa hingga Xiao Chen merasa ingin pingsan. Air mata mengalir deras.

Namun, saat serigala itu mulai mengoyak daging bahunya, kemarahan yang murni meledak di dalam diri Xiao Chen. Kemarahan pada nasibnya, pada ayahnya, pada Feng Lin, dan pada kelemahannya sendiri.

​"AAAAA! MATI KAU!"

​Dengan tangan kanannya yang masih bebas, Xiao Chen meraba tanah dan menemukan kembali gagang pedangnya.

Adrenalin membanjiri sistem tubuhnya, membungkam rasa sakit untuk sesaat. Ia mengangkat pedang itu dengan satu tangan, sebuah kekuatan yang seharusnya mustahil bagi anak seusianya dan menghujamkan ujungnya ke arah leher serigala yang masih menggigit bahunya.

​Crash!

​Pedang hitam yang berkarat itu ternyata jauh lebih tajam dari kelihatannya. Besinya merobek bulu tebal dan kulit keras serigala itu. Darah hangat menyembur, membasahi wajah dan tubuh Xiao Chen.

​Serigala itu melengking kesakitan, namun tidak melepaskan gigitannya. Ia justru semakin beringas mengoyak bahu Xiao Chen.

Dalam pergulatan berdarah di atas tanah itu, Xiao Chen tidak menyerah. Ia menekan pedangnya lebih dalam, memutar gagangnya dengan sisa tenaga terakhir.

​"Aku... tidak akan... mati... di tangan binatang seperti mu!"

​Crak!

​Pedang itu akhirnya memutus arteri utama dan sebagian tulang leher sang predator. Serigala itu kejang sejenak, binar di mata hijaunya perlahan meredup, hingga akhirnya tubuh besarnya ambruk menimpa tubuh kecil Xiao Chen.

​Xiao Chen terbaring di bawah bangkai serigala, napasnya pendek-pendek. Bahunya hancur, darahnya mengalir deras menyatu dengan darah binatang itu. Pandangannya mulai memudar, bintang-bintang di langit tampak bergoyang.

​Ia merasa bangga. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melawan balik. Ia menang. Walaupun mungkin ini adalah momen terakhirnya.

​Tepat saat kesadarannya hampir hilang, darah yang membanjiri pedang hitam itu mulai terserap ke dalam pori-pori besi yang berkarat. Karat-karat tersebut rontok satu demi satu, menyingkap permukaan logam hitam legam yang memiliki ukiran rune-rune kuno.

​Rune itu mulai bercahaya merah darah, redup namun mistis.

​Dalam kegelapan batinnya, sebuah suara tua yang sangat kuno, suara yang seolah berasal dari dasar jurang terdalam bergema kuat, menggetarkan jiwanya.

​"Menarik... Benih kecil yang penuh amarah. Katakan padaku, Nak... apakah kau siap memikul dosa dan kemuliaan yang terikat pada pedang ini?"

​Mata Xiao Chen terbuka sedikit, memantulkan cahaya merah dari pedangnya, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap total.

Bab 3: Jalan pedang

​"Dingin... hampa... kenapa di sini begitu gelap?"

​Xiao Chen merasa tubuhnya seolah tidak memiliki berat.

Ia seperti jatuh dari puncak gunung tertinggi, namun bukannya menghantam tanah, ia justru terus tenggelam ke dalam samudra kegelapan yang tak berujung.

Ia mencoba menggerakkan jemarinya, namun ia bahkan tidak bisa merasakan di mana letak tangannya.

​Anehnya, rasa sakit yang seharusnya menyiksa akibat koyakan serigala itu menghilang. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang sunyi. Semakin dalam ia jatuh, semakin ia merasa egonya mulai terkikis, seolah tempat ini ingin menghapus keberadaannya.

​Tepat saat ia merasa akan menghilang, sebuah titik cahaya merah muncul di kejauhan. Cahaya itu tidak hangat, melainkan tajam dan dingin seperti kilatan pedang.

Titik itu membesar, membakar kegelapan, dan memaksa Xiao Chen untuk memejamkan matanya kuat-kuat karena rasa perih yang luar biasa.

​Saat ia memberanikan diri membuka mata, napasnya seolah terhenti.

​Di depannya, berdiri seorang pria berjubah hitam yang megah namun mengerikan.

Sosok itu tidak menapak tanah. Jubahnya yang compang-camping tampak seperti terbuat dari asap hitam yang membara.

Tubuhnya dipenuhi bekas luka lama, dan matanya... sepasang mata merah menyala itu menatap Xiao Chen dengan intimidasi yang bisa membuat jantung orang biasa berhenti berdetak.

​"S-siapa kau?" suara Xiao Chen bergetar hebat. Ia mencoba mundur, namun kehampaan ini menahannya.

​Aura membunuh yang terpancar dari pria itu begitu pekat hingga Xiao Chen merasa seperti melihat kematiannya sendiri diputar berulang-ulang—lehernya tergorok, dadanya tertusuk, tubuhnya hancur.

​Pria itu tetap diam untuk waktu yang terasa seperti selamanya sebelum akhirnya membuka suara. Suaranya bukan berasal dari mulut, melainkan bergema langsung di dalam tengkorak Xiao Chen.

​"Pedang yang kau genggam tadi... namanya telah terhapus dari sejarah yang terang, terkubur dalam sejarah yang berdarah," ucap Roh Pedang itu. "Sudah banyak pemilik sebelumnya mati secara tragis. Pedang itu tidak hanya meminum darah, ia meminum emosi, penyesalan, dan kebencian."

​Xiao Chen menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.

​"Singkatnya," pria itu menghentakkan kakinya ke "lantai" kehampaan, menciptakan riak energi merah yang menyapu seluruh ruang, "pedang ini telah membunuh lebih banyak manusia daripada gabungan korban seluruh perang di dunia ini."

​Riak energi itu mengenai Xiao Chen, dan tiba-tiba, dunia berubah.

​Ia tidak lagi berada di kehampaan. Ia kembali ke gubuk reotnya. Ia melihat ayahnya, Xiao Feng, berdiri dengan wajah merah karena arak, mengangkat tangan kasarnya.

​Plak!

​"Dasar anak tidak berguna! Kau sama saja seperti ibumu! Cepat cari uang lagi atau kau tidur di hutan!"

​Lalu adegan berganti. Ibunya terisak di sudut ruangan, wajahnya lebam. "Ini semua salahmu! Kau suami tidak berguna!" teriak ibunya, sebelum ayahnya kembali melayangkan pukulan.

Ibunya menoleh ke arah Xiao Chen kecil, menatapnya dengan pandangan penuh dendam, seolah kehadiran Xiao Chen adalah kutukan dalam hidupnya.

​Lalu suara-suara warga desa mulai mengepungnya. Feng Lin, Li Yuan, dan warga lainnya menunjuk-nunjuk wajahnya.

​"Anak pembawa sial!"

"Lihat matanya, itu mata anak pelacur!"

"Darah penjudi mengalir di tubuhnya, dia tidak punya masa depan!"

​"Haaah... haaah..." Xiao Chen jatuh berlutut, memegangi kepalanya yang serasa akan pecah. Air matanya jatuh tak terbendung.

Kenangan kelaparan, penghinaan, dan kesepian datang bertubi-tubi seperti kaki raksasa yang mencoba menginjaknya hingga menjadi debu.

​Roh Pedang itu mendekat, bayangannya menutupi tubuh mungil Xiao Chen. "Jika kau memperoleh kekuatan... apakah kau akan membalas semua penghinaan ini? Apakah kau akan membasuh desa itu dengan darah?"

​Pertanyaan itu tenang, namun tajam seperti pisau yang mengorek luka lama.

​Xiao Chen terpaku. Ia merasakan amarah yang murni, kebencian yang mendidih. Ia ingin melihat Feng Lin memohon ampun, ia ingin melihat warga desa ketakutan.

Namun, saat ia melihat telapak tangannya yang masih kecil, ia teringat pada pedang kayu yang hancur itu, simbol mimpinya yang murni.

​Ia tidak ingin menjadi monster seperti ayahnya. Ia tidak ingin menjadi penindas seperti Feng Lin.

​Dengan mata berkaca-kaca namun penuh tekad, Xiao Chen mendongak. "Aku... aku tidak ingin menjadi mereka. Aku hanya ingin menjadi cukup kuat agar tidak ada seorang pun, siapa pun bisa menghancurkan hidupku lagi!"

​Sang Roh Pedang terdiam. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang misterius. "Jawaban yang menarik. Keinginan untuk melindungi diri sendiri seringkali lebih haus darah daripada keinginan untuk membunuh orang lain."

​"Baiklah. Aku menerimamu sebagai tuanku yang baru! Terimalah kontrak ini, Nak!"

​Pria itu mengarahkan jarinya ke kening Xiao Chen. Seketika, simbol-simbol rune kuno yang bercahaya merah muncul di permukaan kulit Xiao Chen.

​"A-apa ini? Panas! Sakit!"

​Xiao Chen berteriak histeris. Ia merasa tubuhnya seperti dibakar hidup-hidup dari dalam.

Darahnya seolah mendidih, dan tulang-tulangnya terasa seperti dipatahkan lalu disusun kembali ratusan kali.

Luka menganga di bahunya menutup secara paksa, meninggalkan bekas luka yang berdenyut dengan energi merah.

​"Kekuatan selalu ada harganya!" Roh Pedang itu berseru di tengah teriakan Xiao Chen. "Pedang ini haus darah. Jika kau kehilangan kendali atas hatimu, pedang ini tidak akan lagi menjadi senjatamu, melainkan penjaramu!"

​Roh Pedang itu mengangkat tangannya, dan kesadaran Xiao Chen ditarik paksa keluar dari ruang tersebut. Sebelum ia benar-benar pergi, ia merasakan sebuah informasi mengalir ke otaknya.

​"Teknik Pedang Tanpa Bentuk: Tebasan Pertama."

​"Ingatlah, Nak... Teknik kuat tanpa hati yang kuat hanya akan melahirkan monster."

​Cuit... Cuit...

​Suara kicauan burung terdengar begitu nyaring, seolah-olah burung itu berkicau tepat di samping telinganya. Xiao Chen tersentak bangun, napasnya memburu.

​Ia melihat langit pagi yang biru cerah. Sinar matahari menerobos celah pepohonan, menyilaukan matanya. Ia segera memeriksa bahunya.

Pakaiannya terkoyak parah, berlumuran darah kering yang menghitam. Namun saat ia menyentuh kulitnya, ia hanya merasakan kulit yang halus namun keras. Luka itu benar-benar hilang.

​"Mimpi?" gumamnya. Namun, saat ia melihat ke samping, bangkai serigala itu masih di sana, kaku dengan leher yang hampir putus.

​Xiao Chen tertegun. Ia menyadari ada yang berbeda. Ia bisa melihat seekor semut yang merayap di batang pohon sepuluh meter darinya dengan sangat jelas.

Ia bisa mendengar gesekan daun di kejauhan dan detak jantung hewan-hewan kecil di semak-semak. Indranya telah berevolusi.

​Saat ia menatap pergelangan tangannya, ia melihat sebuah simbol kecil yang tampak seperti pedang di atas sebuah jalan setapak. Simbol itu bercahaya samar sebelum menghilang di bawah kulitnya.

​"Perutku..." Xiao Chen memegangi perutnya yang keroncongan. Kekuatan tidak bisa menggantikan rasa lapar yang sudah menumpuk sejak kemarin.

​Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki dan percakapan.

​"Hari ini kita harus mendapatkan rusa atau babi gunung, kalau tidak ketua desa akan marah," suara itu terdengar makin dekat.

​Beberapa pria pemburu dari Desa Bambu muncul dari balik semak. Mereka berhenti seketika saat melihat Xiao Chen yang berlumuran darah terduduk di tanah.

​"Eh, bukannya dia anak Xiao Feng?" salah satu pemburu berseru heran. "Nak, kenapa kau penuh darah begini? Apa kau diserang?"

​Mata mereka kemudian tertuju pada bangkai serigala raksasa di belakang Xiao Chen. Mereka membelalak, wajah mereka memucat. "Itu... Serigala Hutan? Tidak mungkin kau yang membunuhnya, kan?"

​Xiao Chen bingung. Ia melirik ke sekeliling, namun pedang hitam dan buku kunonya telah hilang. "Apakah mereka menyatu dengan tubuhku?" pikirnya panik.

​"B-bukan aku, Paman," jawab Xiao Chen cepat, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. "Aku tidak ingat... aku terbangun dan binatang itu sudah mati."

​Para pemburu saling pandang. "Melihat luka di leher serigala itu, itu tebasan pedang yang sangat bersih. Sepertinya ada pendekar pedang yang lewat dan menyelamatkanmu, Nak. Beruntung sekali kau masih hidup."

​Xiao Chen hanya bisa mengangguk lemah. Ia berdiri, merasa tubuhnya jauh lebih ringan dan bertenaga daripada sebelumnya. Ia harus segera pulang sebelum ayahnya mencarinya.

​Saat ia mulai melangkah pergi meninggalkan para pemburu, sebuah suara yang sangat ia kenal kembali bergema di sudut pikirannya, suara Roh Pedang yang dingin.

​"Tiga bulan lagi... Sekte Pedang Langit akan membuka ujian murid baru di atas gunung. Jangan biarkan dirimu membusuk di desa sampah ini lebih lama lagi."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!